
Nadia kembali ke tenda setelah selesai bersih-bersih. Namun saat memasuki tenda sudah tidak ada siapapun dan kantong makanan pun sudah kosong. Nadia memegang perutnya. Perjalanan panjang dan melelahkan membuat perutnya kosong. Nadia memeriksa dos minuman dan hanya bisa menghela kasar, bahkan minuman pun tidak disisakan untuknya.
"Lapar bangat gue." Keluhnya memengang perutnya. Tidak ada pilihan lain, ia harus mencari keluar mungkin makanan siap saji untuk para pengungsi masih ada. Meminta satu tidak akan masalah kan?
Nadia hendak keluar tenda namun langkahnya terhenti oleh sosok jakung di depannya.
"Makan siang." Orion mengulurkan satu kotak makanan dan satu botol minuman mineral. Nadia akan melewatinya begitu saja namun lengannya keburu dicekal, "Ambil!"
Nadia mendengus sebal menepis cekalan Orion di lengan atas. Bisa-bisa disuruh mandi tujuh kali kalau ketahuan Gibran. Lagian kenapa harus Orion sih yang membawakan makanannya. Bisa kan dititipkan saja. Terlalu banyak pasang mata yang menanti gosip baru tentangnya.
"Thanks." Nadia mengambil makanan di tangan Orion lalu pergi keluar tenda yang sudah disambut tatapan tak suka dari beberapa cewek. Nadia menghela nafas lelah. Sepertinya nafas saja sudah salah dimata orang-orang ini tapi apa pedulinya, mereka hanya kaum kurang kerjaan yang sibuk mengomentari hidup orang lain.
"Sabar ya Nad."
Nadia yang hendak memasukan makanan dalam mulutnya menoleh pada Wati yang datang-datang sudah tampak muram.
"Gue selalu sabar. Jadi please lo kemana kek, biarin gue makan." Ujarnya sembari memasukan satu suapan dalam mulutnya.
"Orang-orang membicarakan kamu dan Kak Orion."
Gue gak peduli.
"Kata mereka kamu tidak tau diri. Sudah menikah tapi masih kegatalan sama cowok orang."
Bodo amat.
"Kata mereka suami kamu menyuap mak--"
"BRENGS*K!!"
Wati terlonjak kaget melihat meja kayu sudah terbalik ditendang oleh Nadia.
"Setan mana tuh yang mulutnya minta di jahit?" Nadia menggulung lengan bajunya menarik Wati agar berdiri, "Bawa gue sama manusia dakjal itu." wajah Nadia memerah siap mematahkan apapun. Berani sekali membawa-bawa nama suaminya. Nyuap? Yang benar saja dong, semua pencapaian suaminya karena kerja kerasnya sendiri.
"SIAPA ORANGNYA WATI?" geram Nadia tak sabar.
Wati yang ketakutan hampir menangis, "Na-Nad, sa-saya---"
"Saya apa hah? Bawa gue sama tuh setan? Bosan idup apa gimana?" Nadia menyeret Wati namun seseorang melepas cengkramannya.
"Jangan buat keributan disini."
Orion lagi, orion lagi. Nadia mulai muak melihat wajah cowok satu ini. Dilempar ke mars bisa kalik ya.
"Lo jangan ikut campur." Nadia menunjuk wajah Orion. Siapapun tidak akan ada yang bisa menahannya menguliti manusia yang sudah menghina Om Gibrannya. Dia bisa tahan semua hinaan tapi tidak bisa diam saja kalau sudah mengenai suami dan anaknya.
"Oke, sorry. Lo bisa ngurus ini nanti. Orang-orang sedang ngeliatin lo. Kita disini bawa nama baik kampus." Jelas Orion mencoba menenangkan Nadia dari apapun yang sudah membakar ubun-ubun cewek manis itu.
Nadia mendengus kasar. "Lo punya utang sama gue." ujarnya pada Wati yang sudah berkaca-kaca. Tanpa kata lagi, Nadia pergi meninggalkan makan siangnya begitu saja. Ia sudah tidak mood makan nasi, makan orang baru bisa kenyang.
Nadia memutuskan kebelakang tenda. Ia menarik nafas berkali-kali guna meredam amarahnya. Matanya memerah menahan amarah yang siap meledak-ledak. Ia selalu tak tahan mendengar omongan buruk tentang Om Gibrannya karena yang tahu semua tentang laki-laki itu hanya dirinya. Ikut misi perdamaian PBB di Afrika, menjejaki hampir seluruh titik perbatasan di negeri ini, mengikuti hampir semua operasi berbahaya baik dalam negeri maupun dari luar, meninggalkan keluarganya, hampir kehilangan nyawa di medan perang, semua hal berbahaya sudah dilewatinya dan para manusia-manusia mulut septic tank itu dengan entengnya menyebar fitnah kalau semua pencapaian Gibran saat ini hanya karena hasil menyuap. Hebat sekali. Nadia tersenyum sarkas. Airmata meleleh di pipinya. Gibran tak pantas mendapatkan hate commen hanya karena ia memperistri Nadia. Hanya karena mereka membenci dirinya lalu Gibran dibawa-bawa.
"Minum."
Nadia memalingkan wajahnya di tempat lain ketika Orion datang dengan sebotol minuman mineralnya.
"Sorry bukan maksud gue ikut campur tapi lo ingat kan, terakhir kali kejadian seperti ini, suami lo ikut terseret." Orion duduk diatas batang kayu mati menemani Nadia yang masih setiap memalingkan wajahnya.
"Resiko sebagai istri seorang prajurit, apapun yang lo lakukan, efeknya sama suami lo juga."
Nadia mencebik sebal. Semua omongan Orion benar dan dia benci itu. Ia benci tidak bisa melakukan apa-apa untuk membela suaminya.
"Minumlah." Orion kembali mengulurkan botol di tangannya dan kali ini Nadia tidak menolak. Orion tersenyum tipis.
"Maaf untuk kejadian waktu itu."
Nadia menenggak minumannya, "Gue udah lupa. Gak usah minta maaf." ujarnya menutup botol minuman di tangannya.
Orion mengulum senyumnya. Nadia cewek yang baik, pantas saja ia jatuh cinta, sayang sekali sudah jadi milik orang.
"Gue bisa jadi teman lo kan?"
Nadia mendelik, "Ngelunjak." semburnya meninggalkan Orion yang hanya bisa meringis. Mahal. Nadia sangat mahal. Dan laki-laki paling suka mengejar yang tak terkejar seperti wanita cantik itu. Termasuk seorang Orion.
.
.
.
Sepanjang hari hujan terus mengguyur. Bahkan sampai malam pun belum juga ada tanda-tanda hujan akan reda. Penduduk mulai khawatir dengan ancaman banjir yang bisa datang kapan saja. Belum lagi tanah longsor susulan. Konstruksi tanah yang tidak stabil membuat tempat itu kapan saja bisa kembali di landa tanah longsor. Nadia yang memiliki trauma akan hujan dan petir memilih menutup telinganya dengan headset menyetel musik dengan volume keras agar tidak mendengar bunyi guntur dan kilat. Jaket Gibran memeluk dirinya hangat seperti pelukan pemiliknya meskipun tetap saja rasanya masih belum seaman saat berada dalam pelukan sang suami.
"Lo sakit?"
Nadia memilih diam saat Lalita menegurnya. Malas sekali menyahuti si tukang dendam seperti Lalita. Ia pikir posisinya di sudut tenda sudah cukup melindunginya dari tatapan siapapun ternyata mata Lalita terlalu jeli untuk mendeteksi keberadaannya.
Lalita masih menatapnya dengan selidik. Senyum evil terbit di bibirnya, "Lo takut hujan." itu bukan lagi pertanyaan tapi Lalita seratus persen yakin Nadia punya masalah dengan hujan dan paketannya.
"Gak usah gangguin gue bisa?" Nadia menatap Lalita tajam. Keringat dingin mulai menguncur di pelipisnya. Hujan bukannya mereda malah semakin deras menambah kepanikannya.
Lalita yang tadinya puas melihat wajah pucat pasi Nadia berubah khawatir. Ia memegang kening Nadia yang langsung di tepis kasar.
"Jangan sentuh gue!"
"Lo sakit." Ujar Lalita tajam. Ia berlalu dari tempat itu kemudian tak berapa lama kembali lagi membawa minuman hangat dan selimut tebal.
"Tiduran." Lalita menunjuk brankar kosong.
Nadia abai, "Gak usah ngurusin gue."
"Jangan bebal jadi cewek. Gue juga males ngurusin lo kalau sakit lo ini gak bakalan nyusahin semua orang disini." Lalita menarik lengan Nadia dan mendorongnya pelan agar segera baring.
Nadia diam. Pasrah dengan apa yang dilakukan Lalita. Ia juga merasakan ada yang tidak beres dengan dirinya. Ia meneguk minuman tersebut lalu tiduran memeluk dirinya. Selimut yang dibawa Lalita membantu menghangatkannya.
"Nurut! Jangan nyusahin." Ujar Lalita sebelum meninggalkan Nadia yang sudah menutup matanya rapat-rapat. Ternyata trauma itu masih belum sembuh. Nadia hanya merasa aman karena ada Gibran selama ini yang selalu memeluknya saat hujan. Tapi sekarang tidak ada Gibran dan itu artinya ia harus merasakan ketakutan sepanjang malam.
Nadia berusaha memikirkan hal-hal menyenangkan untuk mengalihkan ketakutannya akan bunyi guntur dan kilat yang saling menyambar. Suara air hujan jatuh diatas tenda makin menyemarakkan malam horor Nadia. Ia merapalkan kata-kata penenang hingga kemudian entah berapa lama ia akhirnya jatuh tertidur.
***
"Lapor, Kapten." Seorang anggota masuk memotong penjelasan Gibran.
Gibran yang sedang menjelaskan mendongak, "Ada apa?"
Prajurit tersebut meminta tamunya masuk, "Tim rescue meminta bertemu."
"Oh iya, silahkan." Gibran beranjak dari tempatnya menyalami seorang pimpinan regu penyelamat yang basah kuyub. Hujan melanda daerah tersebut sejak mereka sampai di tempat itu.
"Selamat malam kapten. Maaf kami menginterupsi."
"Iya, tidak apa-apa." Gibran mempersilahkan tamunya untuk duduk, "Ada yang bisa kami bantu?"
"Disebrang sungai ada satu kampung terisolir akibat tanah longsor dan sore tadi kami mendapat kabar kalau tempat itu sedang dilanda hujan deras. Kami khawatir akan ada longsor susulan. Selain membahayakan para penduduk setempat, kami juga mendapat laporan bahwa ada organisasi kampus yang juga ada di lokasi. Kami butuh segera melakukan evakuasi tapi tenaga terbatas. Tim lain sedang menyusul."
"Organisasi kampus?" Gibran langsung teringat akan Nadia. Ia tidak sempat menanyakan lokasi tepatnya kampus Nadia melakukan aksi sosial tapi-- tiba-tiba saja Gibran merasakan perasaan tidak enak.
"Iya, para mahasiswa yang sedang bakti sosial."
Penjelasan terakhir pemimpin tim penyelamat tersebut membuat Gibran buru-buru mengambil hpnya. Ia berusaha menghubungi Nadia tapi tanda silang merah di sudut hpnya hanya bisa membuatnya menggeram tertahan. Tidak ada jaringan komunikasi.
"Jaringan di tempat ini memang akan terputus saat hujan kapten." Jelas ketua tim itu. Gibran melihat keluar tenda.
"Kapteeeen!"
Suara ribut-ribut diluar menarik Gibran dan orang-orang dalam tenda untuk keluar.
"Lapor kapten. Sungai meluap dan--"
Gibran tak menunggu penjelasan lebih lanjut karena kini langkahnya berlari menuju jembatan rusak untuk melihat langsung keadaan di lapangan.
"Astaghfirullah." Gibran panik melihat air sungai seperti air bah meluap menyapu daratan rendah disekitarnya. Ia langsung mengingat Nadia dan teman-temannya. Apapun yang berada di daerah itu sekarang sedang dalam bahaya. Segera saja ia menggerakan pasukannya untuk melakukan penyelamatan.
"OPERASI DARURAT!"
***
"Ronal, evakuasi teman-teman ke dataran tinggi. Yang lain bantu gue evakuasi warga. Utamakan anak-anak dan Lansia." Orion yang mendapat laporan meluapnya sungai dari penduduk langsung mengarahkan panitia dan peserta untuk segera mengungsi di tempat yang lebih tinggi serta menyelamatkan barang-barang yang sekiranya bisa diangkut.
"Yon, ini gimana? Tenda tidak bisa diselamatkan. Aliran air semakin dekat lokasi pengungsian." Lalita tampak sangat panik melaporkan kondisi mereka.
Orian mengusap wajahnya panik. Ia tidak bisa melakukan panggilan pada tim penyelamat karena jaringan yang terputus.
"Utamakan keselamatan diri. Pastikan semua peserta dan panitia ada di lokasi yang aman." Orion berlari diantara kegaduhan. Semua orang panik. Anak-anak menangis begitupun para wanita berusaha menyelamatkan diri. Sementara para lelaki berusaha menyelamatkan barang-barang kebutuhan hidup.
"Kak, longsor." Teriak Ronal dari kejauhan. Hujan semakin deras membuat keadaan semakin berbahaya.
"Cek semua orang. Jangan ada yang tertinggal." Teriak Orion lagi sembari membantu seorang ibu yang tengah hamil tua. Suara tangisan orang-orang bersahutan dengan suara guntur dan sambaran petir.
Tak lama suara air terdengar dari kejauhan. Orion berteriak untuk segera berlari ke tempat yang lebih tinggi.
"Semuanya kedaratan tinggi!" Orion mempercepat langkahnya dan hanya dalam hitungan dekat air menyapu tenda pengungsian. Semua orang menangis histeris lalu kemudian suara pekikan wati membuat semua orang menjadi panik.
"NADIA. MANA NADIA?"
Orion tersentak. Nadia? Ia melihat sekitarnya dan benar saja, diantara semua wajah panik itu ia tak mendapati Nadia disana.
"Ya Tuhan, Nadia tidur di tenda." Suara panik Lalita membuat keadaan menjadi kacau.
"NADIAAAAA" Orion berlari keujung bukit tempat mereka mengungsi. Dalam kegelapan dan suara hujan serta banjir membuatnya kesulitan.
"Nak Orion. Kita harus melakukan sesuatu." Kepala kampung menghampiri Orion bersama beberapa pemuda.
"Ya Tuhan, Nadiaaaa" Orion berteriak frustasi. Teman-teman kelas Nadiapun sama paniknya. Lalita sudah sesunggukan. Ia teringat Nadia yang sakit, yang masih beradu mulut dengannya.
"Yon, lakukan Sesuatu. Nadia--" Lalita mengguncang bahu Orion yang sama kalutnya.
"Tali. Ambil tali." Orion berteriak meminta tali dan semua orang berusaha mendapatkan tali.
"Talinya terlalu kecil. Tidak cukup kuat menahan badan orang dewasa." Kepala kampung memperingatkan saat Orion mengikat dirinya dengan tali.
Tapi tak mau mendengar, Orion tetap mengikat tali itu di badannya, "Nak Orion. Ini berbahaya. Talinya tidak akan kuat menahan tekanan air."
"SAYA TIDAK PEDULI PAK. TEMAN SAYA DALAM BAHAYA." Teriak Orion. Tak lagi memperhatikan sopan santun. Pikirannya hanya satu, menyelamatkan Nadia.
"Yon, jangan. Bahaya. Kita butuh tali yang lebih kuat. Tunggu!" Cegah Lalita saat Orion akan menceburkan diri dalam air.
"NADIA TIDAK BISA MENUNGGU!" bentak Orion. Air terus mengalir dan suara gemuruh tanah jatuh makin membuat suasana mencekam.
"Kak, tim rescue!" Teriakan Ronal dari belakang menahan Orion. Dalam kegelapan beberapa orang berompi orange berlarian menghampiri mereka selain itu ada pula sosok yang tak asing lagi yang juga berlari dalam keremangan. Gibran.
Lalita yang melihat kedatangan Gibran langsung menghampirinya, "Pak, Nadia pak. Nadia."
Gibran yang masih berusaha tenang langsung berlari ke tempat dimana Orion sedang berusaha untuk turun dibawah.
"MANA NADIA?" Gibran mencengkram bahu Orion yang sudah sangat kacau.
"Nadia dibawah." Ujar Orion yang membuat Gibran seketika menegang. Nadia bawah? Nadianya?
"TALI, MANA TALI?" Gibran tanpa pikir panjang mengikat badannya dengan tali yang dibawa oleh tim rescue.
"Pak kita harus menung--"
"ISTRI SAYA DALAM BAHAYA!" bentak Gibran saat ketua tim hendak menahannya. Medan terlalu berbahaya dan Gibran tidak tahu bagaimana keadaan dibawa sana.
"Nad, bertahan sayang." Gibran mengusap wajahnya lalu tanpa pikir panjang ia langsung menceburkan diri dalam air.
Di tempat lain, Nadia sedang berusaha bertahan. Memeluk erat sebuah galon kosong, mengaitkan badannya disebuah ranting pohon. Suara hujan membuatnya gemetar, belum lagi aliran air yang merendam setengah badannya.
"Ayo, Nad. Lo bisa. Lo kuat." Nadia menangis menyemangati dirinya. Pohon disampingnya tercabut dan terbawa arus air. Nadia semakin panik, ia mulai merasakan sesak saat melihat kilatan di langit yang kembali mengingatkannya pada kedua orangtuanya. "Ayah, Bundaaaa, Nad takuuut. Hiks. Ya Allah Nad takut, tolong Nad." Nadis terus memeluk erat galon dengan tangan kirinya sedang tangan kanannya berpegangan erat pada ranting pohon. Bayangan Pia dan Gibran muncul saat ia mulai merasa lelah bertahan.
"Nad gadis Om yang kuat. Om percaya sama Nadia." Suara Gibran seperti nyata membisik jelas ditelingannya. Nadia yang kelelahan perlahan menutup mata.
"Om Giiii, Nad lelaaah" Ujarnya lalu kemudian ia merasakan badannya melayang dan ringan terbawa oleh aliran air. Yang terakhir di dengarnya adalah suara manis Gibran memanggil namanya. Sebuah senyum terukir diwajahnya, setidaknya diakhir hidupnya suara Omnyalah yang menemaninya.
***