Little Persit

Little Persit
Milikku



PLAK!!!


"Aw!!"


"Ops!" Nadia menutup mulutnya menahan tawa melihat Sabrina jatuh tergelincir, makanya terlalu ganjen sama laki orang sih.


Gibran yang sedang menimba air dalam sumur bergegas menghampiri Sabrina yang terpelanting di belakangnya namun gerakkannya yang ingin menolong Sabrina di halangi oleh Nadia.


"Biar Nad aja Om." Cegat Nadia, menahan tangan Omnya. Yakali nyentuh barang haram, batin Nadia. "Ayo, Bu. Nad bantu. Lain kali hati-hati, Bu Guntur, licin loh." Ujarnya setengah mati menahan tawa melihat wajah masam Sabrina. Azab tetangga yang suka menggoda suami tetangganya.


"Ah iya, Bu, sendalnya patah."


Nah, kan. Gaya sih. Ke tempat licin pake sendal tinggi, auto nyunseplah. Nadia menggelengkan kepala prihatin. Ada-ada saja.


"Di lepas sendalnya, Bu. Biar Nad bantu jalan." Nadia memegang lengan Sabrina diikuti oleh Gibran yang tampak khawatir istrinya yang sedang hamil menjadi tumpuan.


"Makasih, Bu Gibran." Sabrina mengelus pant*tnya yang habis mencium tanah air akibat kecerobohan dan kelakuannya yang tidak benar. Apa-apaan maksudnya menyamperi suami orang, dikagetin dong sama Nad, Nadia terkikik geli. Benar-benar tontonan menarik. Tadi niatnya kebelakang mencari suaminya mengajaknya pulang tapi ternyata di dekat suaminya ada ulat keket yang hampir saja menempeli Omnya lancang. Haduh, pelakor jaman sekarang makin parah, punya suami masih ngejar suami orang, kena deh azabnya.


"Ya Allah, Bu Guntur kenapa? Kotor bangat loh." Bu Tejo tergopoh menghampir salah satu tetangga mereka yang penuh dengan lumpur. "Kasian sekali gaunnya." Hebat sekali bu Tejo, tetangga jatuh bukan orangnya yang dikasihani tapi gaunnya. Nadia menggelengkan kepala takjub, tetangga ajaib. Nadia menyerahkan Bu Guntur pada tetangga lain lalu ia menghampiri Gibran yang menatapnya khawatir.


"Are you ok?"


"I am ok." Nadia menyelipkan tangannya di pinggang Gibran, memeluknya erat. Hampir saja Omnya di apa-apain. Nadia akan mematahkan tangan Sabrina kalau berani menyentuh Omnya sedikit saja.


"Bu Guntur bagaimana?"


"Baik-baik saja kayaknya. Palingan butuh mandi aja tuh." Jawab Nadia tak peduli. Kekesalannya pada Sabrina sudah mencapai ubun-ubun, sedikit lagi ia akan meledak dan Sabrina akan menanggung akibatnya untuk itu.


"Om angkat air sebentar, kita pulang." Ucap Gibran lalu kembali kebelakang untuk mengangkat air yang sudah diisi dalam penampungan air. Sementara itu Nadia menghampiri Sabrina yang sedang dikelilingi oleh tetangga-tetangganya menanyakan kronologis kejadian dan ada juga tanpa menertawai keadaan Sabrina yang dipenuhi dengan lumpur.


"Ibu sih, sudah tahu licin pake ngotot mau ngangkat air."


"Saya kan nggak enak Bu, masa ngebiarin kapten angkat air sendiri. Kan kami tuan rumahnya." Sabrina membela diri. Sedangkan Nadia yang tahu persis niat Sabrina ke sumur mencibir. Kedua tangan Nadia melipat di dada memperhatikan dengan seksama bagaimana Sabrina membuat cerita dan alasan-alasannya. Sungguh kasihan sekali Pak Guntur dikhianati oleh istri semacam Sabrina padahal Nadia yakin laki-laki itu sangat baik dan juga ramah pada semua orang.


"Apa ji. Dikastau, keras kepala sekali. Na rasa mi." Bu Tania yang sepertinya menyimpan dendam tersendiri pada Sabrina berucap lirih. Drama bertetangga yang selalu membuat Nadia pusing, itulah kenapa kadang memiliki rumah dengan tembok tinggi sangat diperlukan bukan hanya untuk menghalau pencuri tapi juga bisa memutus omongan orang disekitar rumah mengenai keadaan penghuni rumah.


"Pulang?" Gibran menghampiri Nadia, merangkul bahu kecil istrinya posesif.


Nadia mengangguk, mengambil tangan Gibran di bahunya dan menyelipkan jari-jarinya diantara sela jari panjang Gibran.


"Ibu-ibu, kami pamit duluan. Bu Sabrina semoga gak ada yang luka." Ujar Nadia pada para tetangganya.


"Iya bu, terima kasih sudah menolong saya." Ucap Sabrina melirik Gibran yang tak mengalihkan pandangannya dari Nadia, bikin iri saja, hiks.


"Sama-sama. Ibu semua, kami pamit." Nadia menganggukkan kepala samar pada tetangga-tetangganya lalu mengikuti langkah Gibran meninggalkan rumah itu. Gibran mengambil bagian berpamitan pada bapak-bapak tentara yang sedang main kartu sementara Guntur sendiri belum kelihatan sejak tadi.


Sepanjang jalan menuju rumah, Nadia terus memikirkan kejadian di rumah Sabrina. Ia tidak menduga Sabrina akan melakukan sejauh itu pada suaminya. Nadia sudah pernah melihat Elsa yang menginginkan suaminya tapi tidak pernah melakukan hal-hal seperti berusaha menggoda atau menyentuh, begitu pula Prada yang jelas sekali menyukai Gibran tapi tak pernah sekalipun melakukan hal sampai serendah itu untuk mendapatkan suaminya. Tapi Sabrina, Nadia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana perempuan itu berniat memeluk Gibran dari belakang, kenapa bisa semurah itu perasaan seorang wanita padahal ada seseorang yang mencintainya dengan tulus.


"Kok diem?" Gibran melepas tautan jari mereka, merengkuh Nadia dalam peluk hangatnya.


"Gak apa-apa." Nadia mengaitkan kedua lengannya melingkari pinggang suaminya. Perasaan takut yang mungkin akan terjadi pada suaminya bermunculan. Ia yakin Sabrina masih akan melanjutkan keinginannya pada Gibran dan wanita itu, Nadia tidak bisa menggambarkan tapi kenekatan Sabrina membuat Nadia lebih waspada apalagi Sabrina wanita cantik yang pasti mudah sekali menarik perhatian laki-laki. Dan yang namanya laki-laki jika diberi umpan pasti tergoda juga. Tapi Gibran tak akan semurah itu kan?


"Jangan banyak mikir." Gibran mengecup kening Nadia, berusaha mengurai kecemasan sang istri.


.


.


.


"Belum tidur?" Gibran masuk dalam kamar dan mendapati Nadia duduk bengong diatas ranjang. Istrinya itu tampak memikirkan sesuatu dilihat dari kernyitan di keningnya. "Ada apa?" Tanyanya sembari mengusap kerutan tersebut dengan ibu jarinya.


Nadia menggelang, ia mengambil lengan Gibran untuk dijadikan bantal, "Om--"


"Hm?"


Nadia menaikan pandangannya ke wajah Gibran, "Om suka cewek seperti apa?"


"Cewek seperti apa?" Gibran mengernyit, membalas tatapan Gibran. Nadia mengangguk. Lengan kecilnya memeluk pinggang Gibran, mendaratkan kepalanya di dada suami membuatnya bisa mendengar dengan jelas debar jantung laki-laki itu.


"Seperti Nadia." Ucapnya kemudian.


"Om yakin?"


Gibran mengangguk, "Sangat yakin. Memangnya kenapa?"


Nadia menggeleng. Ia hanya ingin tahu wanita seperti apa yang diinginkan Gibran tapi sepertinya memang dirinyalah yang Omnya mau. Senyum lebar menghias di wajahnya saat Gibran mendaratkan kecupan di bibirnya.


"Lagi." Pinta Nadia membuat Gibran terkekeh. Wangi segar nafas Gibran memanjakan pernafasannya membuatnya tidak tahan untuk tidak menciumi bibir tebal itu berkali-kali.


"Nad--hmmphh" Gibran membuka mulut yang malah menjadi jalan Nadia memperdalam ciumannya. Seorang Nadia yang awalnya tak bisa membedakan ciuman dan kecupan sekarang menjadi seorang good kisser. Gibran tersenyum disela-sela pertautan mereka, memikirkan sudah begitu jauh ia mengubah gadis kecilnya menjadi seorang wanita seutuhnya. Nadia menghembuskan nafas ngos-ngosan setelah melepaskan tautan bibir mereka. Matanya berkabut, memandangi Gibran yang terbaring di bawahnya. Bibir basah laki-laki itu membuatnya lagi-lagi ingin merasai setiap inci benda kenyal itu. Nadia dengan cepat kembali menyatukan bibir mereka dengan kedua tangan diselipkan di belakang leher Gibran yang mengambil inisiatif untuk duduk demi memudahkan istrinya yang sedang hamil muda mendapatkan kepuasaannya. Benar kata dokter, hasrat seorang wanita bisa sangat tinggi saat sedang hamil. Gibran mengerang saat gerakan Nadia diatas pangkuannya membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Gibran memutus ciuman keduanya, menahan wajah Nadia dengan kening saling menempel dan nafas memburu. Gibran bisa melihat dengan jelas kabut gairah di wajah Nadia dan dirinya pun tak memungkiri jika ia menginginkan istrinya.


"Nad, kalau gak berhenti sekarang Om gak akan bisa menahan diri lagi." Ujar Gibran lirih memperingatkan istrinya.


.


.


.


Gibran bangun tepat pukul setengah lima. seperti sudah ada alarm yang mengingatkan untuk terbangun di waktu tersebut. Disampingnya Nadia bergelung dalam hangat selimutnya yang menutupi setengah badannya menampilkan punggung telanjang gadis itu. Ia meringis mendapati tanda merah di beberapa bagian punggung Nadia hasil kerjaannya semalam. Bukan hanya Nadia yang merindukannya, ia pun sangat merindukan menyentuh gadis itu sehingga membuatnya sedikit lupa diri jika saja perut buncit Nadia tidak mengingatkannya akan keberadaan calon bayi mereka.


Gibran menaikkan selimut Nadia yang tersingkap setelah sebelumnya mengecup punggung lembut itu.


"Eung--" Nadia menggeliat, kepalanya menoleh kebelakang dan mendapati wajah suaminya begitu dekat, tengah tersenyum padanya.


"Om nyakitin Nad?' Tanya Gibran dengan suara serak. Nadia menggeleng, sedikit tidak nyaman tapi dia baik-baik saja.


"I am ok." Nadia menarik Gibran agar kembali baring di sampingnya. "Disini dulu." Ucap Nadia membawa tangan Gibran untuk menyentuh perutnya, nyaman.


"Hai dek, sehat kan di perut ibu?" Gibran mengelus perut Nadia sembari mengajak bayi nya berbicara.


"Sehat, Ayah hehe." Nadia terkekeh setelah menirukan suara bayi kecilnya. Gibran tersenyum kecil, memindahkan tangannya mengusap rambut Nadia lembut. Nadia yang dulunya dianggap anak kini akan memiliki anak dari dirinya. Perbedaan umur yang cukup jauh diantara mereka tak menjadi penghalang keduanya untuk mewujudkan pernikahan yang saling menyayangi dan penuh dengan cinta.


"Jaga kesehatan. Jangan stres." Ujar Gibran berbisik ditelinga Nadia.


"Om juga. Jaga kesehatan biar bisa ngejagain Adek dan Nad." Nadia merapatkan tubuh di dada telanjang Gibran. Hangat badan lelaki itu mampu menggantikan hangatnya selimut lorengnya.


"Iya. Doain Om supaya selamat dalam tugas."


"Selalu Nad doain yang terbaik buat Om, buat diri Nad dan buat adek juga." Ucap Nadia menyelipkan jemarinya diantara jemari Gibran yang tengah mengelus-elus perutnya.


Tak peduli sehebat apa godaan yang datang, Nadia yakin dan percaya bahwa Gibran hanyalah miliknya seorang dan tak ada satu orangpun yang bisa mengambilnya dari sisinya.


***


Nadia melihat jemuran di depannya dengan mata berkaca-kaca. Ia baru saja selesai menjemur tapi kemudian pakaian yang susah-susah ia cuci harus kotor lagi karena tali jemuran dari tali rafia tak mampu menopang pakaian-pakaian Gibran yang tebal.


"Hiks, Oooom, hiks." Nadia terduduk menatap nanar hasil kerja kerasnnya yang sia-sia. Ia ingin marah tapi mau marah sama siapa, salahkan dirinya yang bod*h sekali tidak bisa mengira-ngira kekuatan tali jemuran darurat yang Gibran pasang. Kata Gibran jemuran itu hanya untuk dalaman saja tapi karena ia terlalu keras kepala dan sok tahu, jadilah jamuran itu dipakai untuk menjemur baju dines yang pagi tadi di cuci oleh laki-laki itu.


Nad duduk aja. Nanti Om pulang buat jemur.


Itu kalimat yang Gibran ucapkan saat Nadia mengantarnya di depan pintu pagi tadi. Tapi kemudian karena merasa ingin membantu yang ujung-ujungnya malah menyusahkan Gibran membuat persit kecil itu berkecil hati, kecewa pada dirinya sendiri.


"Om giiiiii, hiks." Nadia terus saja menangis. Ia capek, lelah dan kesal bersamaan. Ia sudah berusaha keras membilas cucian, memerasnya dengan sekuat tenaga tapi kemudian harus seperti ini jadinya.


"Loh, Ibu kenapa?" Nadia mendongak, di depannya ada Robi dan Lucas yang tampak khawatir menatap padanya. Kedua tentara itu memegang wadah penampung air di kedua tangan mereka.


"Hiks, Oooom" Ditanya seperti itu membuat Nadia semakin menangis. Lucas dan Robi saling memandang dengan kening berkerut.


"Cerita sudah. Biar kami bantu." Lucas jongkok disamping Nadia diikuti oleh Robi. Tampang Nadia benar-benar kacau. Lebih menyakitkan melihat tali jemuran putus saat cucian masih basah-basahnya ketimbang diputuskan pacar saat masih sayang-sayangnya. Hiks, sakit bangat. Nadia mengusap airmata yang mengalur di pipinya. Menatap bergantian dua tentara di depannya bergantian.


"Jemuran Nad putus Om, hiks." Tunjuknya di samping rumah dimana pakaian-pakaian itu teronggok begitu saja diatas tanah.


Lucas dan Robi yang paham betul rasa sakit dan kesal yang dirasakan Nadia langsung menghela nafas pelan.


"Ibu tenang ya. Kami bantu." Robi baru akan melarikan tangannya di rambut Nadia saat sebuah kesadaran menghantamnya, milik orang. Ia meringis pelan, hampir saja ia menyerahkan nyawanya di tangan sang Kapten. Tapi Nadia memang sangat menggemaskan, seolah memanggil setiap orang yang melihatnya untuk melindunginya dari apapun yang bisa menyakitinya.


"Dibantu Gimana Om? Itu jemurannya udah putus. Baju-bajunya juga udah kotor lagi, hiks." Nadia mengucek hidungnya yang mengeluarkan air bersamaan dengan airmatanya.


"Ibu tenang sudah. Nanti kami berdua urus ibu pu masalah." Lucas berdiri dan sama seperti Robi, ia pun hampir menarik tangan Nadia membantunya untuk berdiri sebelum kemudian teringat tatapan tajam kaptennya yang siap menguliti siapapun yang menyentuh istrinya. "Ibu tunggu disini sama Om Robi, sa ke rumah dulu ambil tali baru." Ujar Lucas menepuk bahu Robi. Setelah mengucapkan itu, Lucas bergegas kembali ke rumahnya yang ada di barisan belakang asrama.


Sepeninggal Lucas, Robi langsung mengambil inisiatif untuk memungut pakaian-pakaian tersebut dan memasukkannya di dalam loyang yang ada disamping Nadia.


"Om mau ngapain?" Tanya Nadia saat melihat Robi membawa pakaian-pakaian itu kebelakang.


"Mau dibawa di sumur. Harus Dibilas ulang,Bu supaya bersih." Jelasnya yang hanya mendapat anggukan paham dari Nadia.


"Nad ikut." Nadia berjalan mengekor di belakang Robi menuju sumur yang memang di pakai untuk umum. "Om ini--Ya Allah." Nadia berpegangan di lengan Robi. Ia hampir saja terjatuh karena tidak memperhatikan langkahnya yang menginjak batu berlumut.


"Hati-hati, Bu." Robi memegang kedua lengan Nadia dan memantu Ibu yang sedang hamil muda itu untuk melangkah di tempat aman.


"Makas--"


"NADIA!!!!"


Kedua orang di sumur itu menoleh dan langsung bertatapan dengan mata tajam Gibran yang menyorot mereka berdua.


"Om Gi, Nad--"


Nadia mengatupkan kedua bibirnya saat Gibran pergi begitu saja dengan ekspresi yang mengerikan. Sementara Robi yang menyadari apa yang sedang terjadi menelan salivanya dengan sulit, tamat riwayatku.


***