Little Persit

Little Persit
Anak Rantau



"Itu siapa? Kok mukanya kayak nantangin gitu?" Gendis berbisik lirih di telinga Nadia. Mereka sedang bertegur sapa dengan warga lokal yang sedang berkumpul menunggu giliran memeriksakan kesehatan.


"Dokter Valeria. Mukanya emang gitu, biarin aja." Bisik Nadia balik disela obrolannya dengan para enang.


"Mereka yang lo bilang anak rantau?"


Nadia mengangguk, lalu menggeleng "Tapi bukan dia yang mau gue kenalin." Nadia celingak celinguk mencari sosok yang di carinya. Tak lama sosok itu muncul diantara kerumunan. "Nah, itu. Om Robiiii" Panggil Nadia melambaikan tangannya.


Tapi berkat suara toanya, Nadia bukan hanya mengundang Robi melainkan para tenaga medis yang memandang keduanya dengan penasaran, lebih tepatnya kearah Gendis yang merupakan orang baru.


Robi yang sedang bertugas membantu Tim medis melaksanakan tugasnya menghampiri Nadia dan Gendis setelah sebelumnya minta izin pada Valeria.


"Bu Gibran." Sapa Robi ramah. Ia menolah pada Gendis yang mengulas senyum lebar padanya.


"Ini Gendis, sahabat aku Om. Kenalan dong." Nadia mengenalkan dua orang itu dengan antusias.


"Robi." Robi menjabat tangan Gendis.


"Gendis."


"Selamat datang di kampung kami." Ucap Robi melepas genggaman tangan mereka.


"Terima kasih,--" Gendis melirik Nadia, harus dia panggil apa orang ini.


"Bang. Bang Robi." Ujar Robi mengerti arti lirikan itu.


Gendis menyengir, "Ah ya, Bang Robi. Makasih." Gendis menggaruk belakang telinganya malu-malu. Hitam manis gula jawa, batin Gendis setelah menscan Robi. Salah satu kriteria cowok idamannya. Sangat manly dengan kulit coklat hasil terpaan sinar Matahari. Berbeda sekali dengan Dewa yang akan memerah kalau terpapar sibar matahari, kulit putih susu. Tanpa sadar Gendis mulai membandingkan Dewa dengan orang-orang yang ditemuinya. Kira-kira pertanda apakah ini? Semoga saja bukan pertanda si*l.


"Rame bangat ya Om?" Nadia memecah sunyi.


"Ia. Selalunya begini. Warga sangat terbantu dengan adanya Puskesmas keliling." Jelas Robi.


"Keren bangat. Apa gue pindah jurusan aja ya Nad, jadi dokter juga." Celetuk Gendis kagum melihat bagaimana antusiasme masyarakat perbatasan.


"Gak usah macem-macem deh. Lo boleh aja pintar tapi mental lo kan enggak pintar." Timpal Nadia yang paham betul bagaimana jijiannya Gendis terhadap sesuatu yang kotor apalagi dengan darah, bisa-bisa bukannya merawat pasien malah dia yang jadi pasien.


Gendis manyun. Padahal pakai jas putih sangat keren.


"Ngomong-ngomong kalian mau kemana? Pia tidak ikut?" Tanya Robi penasaran melihat Nadia lepas kandang. Terus terang saja Robi tidak siap dikuliti Gibran. Nadia dan Pia adalah paket istimewa yang dijaga Gibran dengan nyawanya. Jangankan diajak jalan, dibantu bawa barang saja ia harus menerima teguran dengan membersihkan lapangan luas seorang diri. Apalagi kalau mereka sampai lecet, mungkin ia tak akan menunggu lama untuk dijadikan dendeng oleh Kaptennya itu.


"Tour kampung, Om kebetulan ada turis dari luar." Gurau Nadia yang langsung mendapat capitan di lengannya dari Gendis. "Pia sama ayahnya, aman." lanjut Nadia enteng. Hari ini ia membebaskan Gibran untuk Pia. Malam nanti gilirannya memiliki Om kecenya itu.


Robi mengangguk paham, "Wah selamat bersenang-senang."


Nadia mengangguk, "Siap."


Robi kemudian meminta izin kembali membantu Valeria dkk. Sementara itu Nadia dan Gendis memutuskan untuk melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat sekitar.


"Orang mana?"


"Siapa? Om Robi?"


Gendis mengangguk.


"Semarang."


"Deket dong."


Nadia mengangguk, "Kenapa? Suka?" Tanya Nadia curiga.


Gendis gelagapan, "Nanya doang gak boleh?"


"Boleh dong. Tapi mending lo jangan coba-coba deh. Ribet ngurusnya."


Gendis meringis, "LDRan nya jauh ya?"


Nadia mengangguk lagi. LDRan yang mereka maksud disini adalah perbedaan keyakinan. Menurut The Girls, LDRan paling jauh adalah berbeda rumah ibadah. Keempatnya sangat menghindari jenia LDRan itu karena selain kesulitan mengurus surat-surat, hal sulit lainnya adalah membuat keluarga tetap hangat sentosa tanpa perpecahan.


***


Nadia dan Gendis kembali ke rumah menjelang siang. Mereka mengakhiri tour dengan menyambangi kantor distrik untuk mengabari dua The girls lainnya mengenai keasikan mereka bersenang-senang di perbatasan sekaligus agar Sandra dan Aleksis tidak mengirim detektif untuk mencari keberadaan Gendis yang hilang.


"Assalamualaikum, Om Giiii, Piaaa, Kami pulang." Nadia membuka pintu diikuti oleh Gendis yang tampak kelelahan setelah berjalan hampir setengah hari.


"Waalaikumsalam." Gibran menjawab dari arah kamar yang di tempati oleh Gendis sementara waktu.


Nadia mengintip di kamar sebentar dan melihat Pia sedang tertidur dengan nyaman dalam balutan hangat selimutnya. Kemudian setelah itu menuju kamar Gendis sementara Gendis sendiri langsung ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


"Om udah beli bola lampunya?" Nadia menghampiri Gibran yang tengah memasang bola lampu dengan berpijak diatas sebuah kursi kayu.


"Hm. Tolong ambilin obeng." Pinta Gibran mengulurkan tangannya.


Nadia menunduk mencari benda yang di minta Gibran. "Ini." Katanya setelah mendapatkan benda yang ia pikir pasti obeng.


Gibran mengambil benda itu tanpa melihatnya namun saat akan menggunakannya ternyata Nadia mengambil benda yang salah. "Ini tang bukan obeng."


Nadia terkesiap, "Oh?"


"Yang ujungnya runcing. Dibawah kursi kayaknya." Ucap Gibran menjelaskan.


Nadia kembali menunduk dan langsung mengambil benda kedua. "Yang ini?"


Gibran mengangguk, "Setelah ini Nad pelajari dulu nama dan bentuk perkakas." Ujar Gibran tertawa renyah.


"Om yang ajarin?" Tanya Nadia bersemangat. Kapan lagi diajari Gibran yang super kece. Meskipun galak tapi tetap yang paling tersayang.


"Youtube."


Nadia mencebik. "Gak usah deh makasih." Tolaknya kecewa. Gibran benar-benar menghindari untuk menjadikannya murid. Mungkin takut mengalami stres karena harus mengajari siswa kelas BK. Padahal Nadia akan sangat patuh jika Gibran yang jadi gurunya setidaknya ia bisa memiliki kisah cinta yang romantis seperti drama jepang yang sering ditontonnya bersama The Girls.


"Sama-sama."


Nadia mendelik sebal, "Jangan nyebelin. Nad jorokin nih kursi Om."


"Kuat emamg?"


"Enggak." Jawab Nadia cepat sembari memeluk kaki Gibran "Nanti jatoh. Nad pegangin ya." lanjutnya memastikan suaminya tetap aman selama bekerja walaupun sebenarnya tidak di butuhkan sama sekali mengingat keseimbangan Gibran yang tak perlu di ragukan lagi.


"Pegangin atau pelukin?" Gibran mengacak rambut Nadia yang tepat berada dibatas perutnya.


Nadia tersenyum, "Dua-duanya." Jawab Nadia lalu tergelak. Modusnya ketahuan rupanya. Lagian jadi Om-om menggiurkan bangat, gimana gak khilaf coba. Jadinya kan Nadia pengen modusin terus. Hehehe.


"Boleh di lepas pegangannya." Ujar Gibran setelah memasang lampu kamar Gendis. Namun Nadia bukannya melonggarkan pelukannya malah semakin erat memeluk Gibran, hangat, nyaman dan bikin ngantuk.


TUK!!!


"AWWW!" Nadia mengelus keningnya yang baru saja disentil oleh Gibran. "Jahat bangat sih. Gak bisa liat orang senang sedikit apah." Omelnya dengan berat hati melepaskan Gibran, Laki-laki tak berperasaan yang sayangnya sangat diidolakannya.


"Biasa aja dong!" Sungut Nadia memukul bahu Gibran yang melewatinya begitu saja. Menyebalkan memang mempunyai suami yang kaku seperti Gibran. Untung sayang. Dan apa memang semua orang yang memiliki suami seorang tentara sama kakunya seperti Gibran? Jika iya, mungkin Nadia harus berkonsultasi pada para persit senior cara menghadapi lelaki semacam ini. Kebiasaan main di hutan sih, jadinya jarang mendapat sentuhan manusiawi. Hadeh.


"Ck. Apaan sih." Gerutuan Nadia berlanjut saat Gibran kembali menyenggolnya saat hendak memindahkan kursi kayu yang tadi di pakainya.


"Sampai kapan berdiri disitu? Bikinin Om teh." Gibran berlalu keluar kamar diikuti tatapan tajam dan kesal Nadia.


"Tumben biasanya juga minta susu."


"Ya udah sini."


"Heh?" Nadia melongok. Tanpa sadar tadi ia menyuarakan isi kepalanya sendiri. Wajahnya langsung manyun. Ia mengarahkan kepalan tangannya kearah Gibran yang menatapnya dengan seringai nakal. Mata kelam itu bahkan tak malu-malu memperhatikannya dari ujung kaki ke ujung kepala dan sempat berlama-lama menatap kearah dadanya yang tampak semakin subur sejak menjalankan program asi eksklusif untuk Pia. Sontak Nadia menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Jaga ya matanya. Dasar Om-om mesum." Nadia menatap Gibran penuh peringatan yang hanya di balas seringai tipis oleh lelaki itu.


"Tapi suka kan." Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan yang keluar dari mulut Gibran untuk meledek Nadia yang sudah semakin memerah antara kesal dan malu. "Udah, cepetan bikinin teh."


Nadia memberenggut lalu dengan tatapan nyalang pada Gibran berjalan menuju tempat menyimpan teh dan gula.


"Mau dibanyakin gak gulanya?"


"Jangan pake gula."


"Kok?"


Gibran menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu itu sembari melipat tangan memperhatikan Nadia. "Kan sudah ada kamu yang manis."


"Dih receh." Nadia membalik badannya memunggungi Gibran dan diam-diam menyembunyikan senyumnya. Dasar lelaki penggoda.


Nadia segera membuat teh sesuai pesanan Gibran tapi tentu saja ditambahkan gula karena sebagaimanapun manisnya seorang Nadia tidak akan bisa membuat rasa pekat teh tiba-tiba menjadi manis. Sungguh kemustahilan dan tentu saja gombalan yang sangat mengusik perasaan anak gadis polos seperti dirinya. Tahan Nad, lelaki itu memang diciptakan untuk menggoda imanmu. Nadia mengusap dadanya mencoba menenangkan diri saat akan menyerahkan secangkir teh untuk Gibran.


"Thank you, Nad."


"Sama-sama." Nadia meletakkan secangkir teh hangat di depan Gibran yang langsung diambil oleh laki-laki itu dan disesap.


"Tuh kan manis." Ujarnya setelah mencecap teh hangat tersebut sembari menatap Nadia yang duduk di depannya.


Nadia memutar bola matanya "Nad pakein gula kalik Om, gak usah garing deh." ia menangkup kedua tangannya diatas meja sembari menunggu Gibran yang kembali meneguk tehnya.


Gibran mengulas senyum tipis, "Gimana jalan-jalannya, senang?"


Nadia mengedikkan bahu, "Nad sih seneng-seneng aja Om, gak tau Gendisnya gimana." Ia melirik kearah kamar mandi dimana suara percikan air berasal. Sahabatnya itu memang tak banyak mengeluh hanya menghkawatirkan kulitnya yang mungkin akan belang sepulangnya dari sini. Panasnya matahari Papua memang tak main-main. "Betewe Om kok gak kepo kenapa Gendis bisa disini? Gak ada gitu mau nanya-nanya Nad?" lanjutnya mengingat Gibran tak begitu ambil pusing dengan yang terjadi sekarang.


"Memangnya ada apa?" Tanya Gibran melirik Nadia dengan ekor matanya.


Nadia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, haruskah ia bertanya pada Gibran? Tapi kan Gendis memintanya untuk merahasiakannya. Rahasia tetap aja rahasia. Nadia menyengir kaku "Gak ada apa-apa sih."


Gibran tersenyum tipis, sejenis senyum yang seharusnya di curigai oleh Nadia tapi istrinya sepertinya sedang asik dengan pikirannya sendiri.


"Pagi, Om."


Nadia menoleh kebelakang dan mendapati gendis tampak segar setelah keluar dari kamar mandi.


"Pagi, Ndis. Gimana? Betah?" Gibran berdiri dan mempersilahkan Gendis untuk duduk di kursinya. Secara otomatis Nadia juga berdiri dan memberikan kursinya pada Gibran.


Gibran mengernyit bingung.


"Duduk." Ucap Nadia menepuk kursi kayu itu. Ia menyengir senang saat Gibran tak banyak tanya dan hanya langsung duduk di kursi tersebut.


"Geser!" Ucap Nadia lagi.


Gibran menghela nafas mengikuti permintaan Nadia untuk berbagi kursi berdua. Ia sudah tahu isi kepala istri kecilnya ini yang tak jauh-jauh dari mepet dengannya.


"Niat bangat lo bikin gue pengen." Gendis sebagai orang ketiga merasa jadi nyamuk sekarang.


"Makanya jangan kelamaan jomlo. Kayak gue nih. Nikah trus punya suami cakep macam ini." Ujar Nadia puas meledek Gendis.


"Dasar nyebelin lo."


"Emang." Nadia memelet. Ia duduk sembari bersandar nyaman di bahu Gibran yang tampak tak terganggu sama sekali dengan keberadaannya.


"Gimana kuliahnya, Ndis?" Tanya Gibran lagi. Tangannya iseng memainkan anak rambut Nadia yang menghalangi pandangannya.


"Lancar Om. Ini lagi liburan aja." Jawab Gendis menyembunyikan fakta bahwa ia sedang dalam usaha kabur dari rumah sekarang. Setidaknya sampai Gibran belum tahu, ia akan menyimpannya seorang diri. Lagipula Dewa sahabat Gibran, tidak nyaman harus menceritakan perjodohannya dengan Om cerewet itu.


"Mami sama papi kamu apa kabar? Sudah lama Om tidak berhubungan dengan mereka."


Nadia dan Gendis saling melirik. Jangan sampai Gibran menelfon ke rumah Gendis, bisa ketahuan nanti aksi kaburnya.


"Baik Om. Mami papi baik. Om dan Nad gimana, gak ada gitu rencana balik ke Ibu kota?" Yes, untung saja otaknya sedang tidak mampet sehingga ada ide untuk mengalihkan topik.


"Gimana Nad, betah gak?" Bukannya menjawab Gibran malah mencolek Nadia, meminta jawaban dari sang istri.


"Nadia sih selama ada bahagia-bahagia aja." Jawab Nadia santai. Sumber bahagianya adalah Gibran dan kini di tambah Navia jadi kalau ia bisa bersama dua orang itu maka ia pasti bahagia. "Tapi pasti akan lebih bahagia kalau kita bisa balik kampung halaman sendiri." Lanjutnya seraya mendongakkan kepala menatap Gibran dari bawah.


"Kamu ini." Gibran mengacak rambut Nadia dengan gemas. "Oh ya kemarin Dewa sem--"


"OM DEWAA???"


Gibran terkejut dengan suara toa Nadia dan Gendis yang bersamaan. Ia mengerutkan kening menatap dua gadis itu bergantian.


"Kalian sangat bersemangat. Ada apa dengan dewa?" Tanya Gibran curiga. Tumben sekali duo biang kerok Nusantara ini tertarik membahas sahabat-sahabat yang kata mereka 'tua-tua keladi' terutama Dewa yang merupakan lawan berat mereka saat adu mulut.


Nadia dan Gendis kembali terdiam, saling melirik dengan wajah panik. M*mpus ketahuan. Batin Nadia melirik kiri kanan panik. Tak jauh beda dengan Gendis yang tampak kebingungan di kursinya.


"Gak apa-apa, Om. Udah lama aja gak denger kabar Om Dewa." Jawab Nadia setelah memeras otak memikirkan alasan yang masuk akal.


"Kemarin dia bukannya baru ngirim kado ya?" Ucap Gibran lagi. Dua gadis di depannya ini sepertinya sedang membuat alasan.


"Hehe Gendis maksudnya Om. Udah lama gak ketemu Om Dewa, Kangen dia. iya kan ndis?" Nadia mengedip memberi kode pada Gendis namun sepertinya otak cerdasnya sedang tidur hingga jawaban yang keluar membuat Nadia rasanya ingin mencekik Gendis.


"Gak. Gue gak kangen. Orang gue lagi kabur dari Om Dewa."


"Kabur?" Gibran menatap Gendis serius dan saat itulah Gendis menyadari kebodohannya.


Anjiiiiiiir kelepasan gue. Gendis menggigit lidahnya panik sementara di depannya Nadia seperti sudah akan menelannya hidup-hidup.


Polos dan b*go bedanya emang cuma setipis kulit bawang, Ndis. Batinnya gemas.


***


Reader maaf ya jarang up, baru selesai penginputan nilai rapor. hehe


semangat membaca.


Btw ada yang mau baca kisah Om Dewa dan Gendis? 😁