
"Non yakin mau ke sekolah seperti ini? Gak apa-apa?"
Nadia menoleh kebelakang mendapati bibik menatapnya penuh pertimbangan.
"Gak apa-apa, Bik. Aman Insya Allah."
"Tapi kehamilan Non udah kentara? Nanti kalau orang-orang lihat gimana?"
"Ya gak gimana-gimana, Bik. Punya suami ini kok. Lagian udah mau pengumuman juga. Gak ngefek sama sekolah." Ucap Nadia yakin. Ia menyisir rambut dengan jari-jarinya. Perutnya yang membesar tampak kentara dilihat. Nadia mengambil sweater rajut yang ia letakkan diatas ranjang lalu memakainya. Tidak lupa menyemprotkan parfum kesukaannya di kedua pergelangan tangan.
"Hati-hati ya Non. Kalau ada yang iseng, biarin aja. Takut bayinya kenapa-kenapa."
Nadia terkekeh, "Bibik takut Nad berantem? Gak usah khawatir bik, Nad punya tiga pengawal di sekolah. Ganas semua." Ucap Nadia teringat tiga sahabatnya yang siap tempur untuk menjaganya.
Bibik mengangguk, "Pokoknya Non jaga diri. Maaf bibik gak bisa nemanin kelulusan Non. Keponakan bibik butuh bibik di rumah sakit."
"Gak apa-apa kok, Bik. Nad udah biasa kek gini." Ucap Nadia mengulas senyum tipis yang semua orang juga tahu kepedihan di dalam kalimatnya.
"Bapak gak bisa pulang ya Non??" Tanya bibik memastikan sekali lagi. Meskipun sudah berkali-kali Nadia memberitahukan bahwa Gibran tak akan kembali untuk kelulusannya kali ini.
Nadia menggeleng, "Enggak, Bik." Ujar Nadia lirih.
"Yang sabar ya, Non."
Nadia mengangguk. Memang ia bisa apalagi selain sabar. Nadia mengambil tas dan handphonenya lalu bergegas turun ke bawah. Ia tidak boleh tertambat di hari terakhirnya mengenakan seragam putih abu-abunya. Untuk hari ini ia sudah belajar keras sampai berdarah-darah, semoga saja hasilnya memuaskan.
***
Seperti dugaan bibik, kehadiran Nadia di sekolah dengan perut besarnya menjadi pusat perhatian semua orang tak terkecuali guru-guru yang tidak mengetahui status pernikahan Nadia. Banyak perbincangan mengenai dirinya. Desas desus dirinya yang hamil di luar nikah akibat pergaulan bebas, dan pernikahan bisnis seperti berita yang beredar dikalangan kaum pebisnis tentang kerjasama hingga sampai pada pernikahan. Meskipun banyak mata yang menatap sinis, dan mulut yang mencemooh tapi tak ada satupun yang berani melakukan konfrontasi langsung pada Nadia. Sepak terjang Nadia sebagai ratu sekolah bersama tiga orang sahabatnya menjadi perhitungan tersendiri bagi siswa maupun guru di Nusantara memlih tutup mulut dan hanya berani menggosip di belakang seperti biasa, chicken.
Nadia berjalan dengan percaya diri menuju kelasnya. Tiga sahabatnya mungkin saja sudah datang mengingat dirinyalah yang masuk gerbang di detik-detik terakhir. Saat melewati kerumunan siswi yang sedang berbisik-bisik sambil mencuri lirik kearahnya, Nadia menegakkan kepalanya dengan tegak dan dengan gayanya yang penuh percaya diri mengibaskan rambut hitam bergelombangnya kebekalang.
"Permisi, ibu hamil mau lewat." Katanya dengan senyum merekah khas miliknya.
Para siswi tersebut langsung menyingkir. sebagian pura-pura tidak terjadi apa-apa karena kalau sampai Nadia merespon hal ini dengan serius, bukan saja mereka yang akan mendapat masalah tetap keluarga dan perusahaan mereka akan ikut terseret.
Nadia mengulas senyum mengerikan saat melewati satu orang siswi yang sepertinya tak takut sama sekali dengan Nadia. Senyumnya mencemooh menatap Nadia dari ujung kaki keujung kepala.
"Ada masalah?" Tanya Nadia dengan kedua tangan terlihat di dada, menambah kesan arogan yang selalu memicu terjadinya perkelahian.
"Little b*tch." Ujar siswa berambut blonde itu tanpa rasa takut. Dari tatan matanya jelas sekali menghakimi Nadia.
"Wow!" nadia bertepuk tangan, melirik nametag siswi tersebut, "Gitu dong Regina. Show off! Tunjukin diri lo yang sebenarnya." Nadia tersenyum sinis. Jadi cewek ini yang akhirnya berani mengungkapkan jati dirinya di depan umum. "Gue suka keberanian lo tapi sebaiknya tarik kata-kata lo sebelum gue buat lo sekeluarga jadi pengemis dan lo nya gak ada pilihan lain selain menjadi seorang b*tch untuk bertahan hidup." Nadia menepuk bahu Regina dengan lembut, tatapannya jelas mengancam. "Apa kabar INside? Udah gak butuh Gaudia buat ngejualin lemarinya?"
Regina tersentak. INside adalah nama perusahaan keluarganya yang bergerak dalam bidang furniture. "M-maksud lo apa?" Tanyanya terbata.
Nadia tertawa ringan "Ya siapa tau aja lemari udah gak ada yang beli, bisa kali dijadiin kayu bakar aja." Ucap Nadia santai penuh dengan ancaman.
Regina menggeleng, "So-sorry, gue--"
Tap tap tap.
Nadia menepuk bahu Regina tiga kali, "Hapus foto gue kalau lo nggak mau jadi gembel." Ujarnya tajam tepat di telinga Regina. Siswi itu cepat-cepat mengeluarkan hpnya dan langsung menghapus foto Nadia yang diam-diam diambilnya.
"Gue udah hapus." Ujarnya menunjukkan layar hpnya. Nadia tersenyum lebar dengan polos.
"Makasih. You are very kind." Setelah mengucapkan itu, Nadia melanjutkan langkahnya menuju kelas. Orang-orang yang melihat kejadian tadi pura-pura tidak melihat apapun, menghindari Nadia lebih bijak saat ini.
"Hello fel--"
"NADIAAAAAAAA"
Nadia yang baru mau menyapa tiga sahabatnya jadi menyesal cepat-cepat masuk dalam kelas, "Berisik, Jer." Ujarnya malas. Jeremi dengan mata berkaca-kaca menghampiri Nadia yang ada di depan pintu kelas.
"Siapa yang lakuin ini sama lo Nad? Ngomong sama gue, siapa?! Biar gue seret ke penjara sekalian."
"Kalau dia kabur. Biarin gue yang tanggung jawab Nad, biarin gue yang jadi bapak dari anak lo." Jeremi memegang tangan Nadia dengan wajah prihatin.
Nadia menghempaskan tangan Jeremi "No, thanks Jer. Bapak anak ini mau tanggungjawab. Jadi lo tenang aja."Nadia berujar malas. Jadi bapaknya? Haduh, itu sih nambahin kerjaan gue, ngurus dua anak kecil sekaligus.
"Siapa bapaknya? Gue kenal? Siapa laki-laki brengsek itu? Katakan Nad!" Jeremi mengguncang bahu Nadia, drama.
Nadia mendengus, "Udah ya Jer. Gue mau duduk. Jangan nyusahin gue." Nadia meninggalkan Jeremi dan menghampiri ketiga sahabatnya yang asik tertawa menyaksikan drama musikal pagi ini, si*lan ni orang-orang.
"Puas lo pake?! Kasian tuh anak. Diemin gih!" Nadia mendorong Sandra untuk menghampiri Jeremi yang terisak, Ya Allah anak orang diapain, kasian bener. Nadia menggelengkan kepala pelan. Gendis dan Aleksis langsung terbahak melihat Jeremi menjatuhkan kepalanya di bahu Sandra, menangis sejadi-jadinya. Ya Tuhan.
.
.
.
"Yeeeeee selamat ya untuk kita berempat. Akhirnya gue bisa pake bebas rapi. WELCOME FREEDOOOOOOM!!!"
Nadia menutup telinganya dari mulut toa Sandra yang merayakan kebebasannya dari putih abu-abu yang selama ini ia rasa seperti belenggu keeksisannya di dunia fashion.
"Puji Tuhan gue senang bangat. Akhirnya bisa lulus meskipun nilai gue harus merangkak sampai di titik batas KKM." Aleksis berujar haru, mengusap sudut matanya yang basah. "Selamat ya Ndis, lo yang terbaik. Nomor satu booooo." Lanjutnya memeluk Gendis yang cengar cengir diliputi kebahagiaan.
Gendis mengangguk, "sama-sama. Ini sebagai bukti gue ke orang-orang kalau sahabatan sama lo bertiga gak ngubah gue jadi bandel dan b*go."
Sandra mendelik, "Lo mau katain kita bandel dan b*go?" Kedua tangannya mencapit pipi Gendis yang menyengir lebar.
"Peka bangat sih lo."Kekeh Gendis yang langsung mendapat tabokan dari Aleks dan Sandra. Ketiganya tiba-tiba terdiam melihat Nadia yang tak bersemangat sama sekali.
"Lo kok sedih Nad? Lo urutan sepuluh loh. Keajaiban." Sandra melepas tangannya dari pipi Gendis lalu menangkup tangan Nadia yang banyak diam hari ini.
"G-gue cuma sedih aja kita harus pisah-pisah." Ujar Nadia lirih. Kepalanya menunduk hingga meloloskan airmata di sudut matanya.
Sandra, Aleksis dan Gendis saling melirik. Mereka lupa kenyataan ini. Gendis menerima beasiswa ke Standfort univeristy, Aleksis sedang mengusahakan tes masuk perguruan tinggi dalam negeri sementara Sandra sudah mendaftarkan dirinya di salah satu universitas di paris untuk bidang fashion. Dan Nadia, Ia berhasil di terima bebas tes di Universitas Indonesia seperti impiannya.
"Kita masih bisa kontek-kontekkan kok. Ya kan Gaes?" Aleksis memeluk lengan Nadia. Diantara mereka bertiga memang Nadia yang paling sensitif akan perpisahan. Bukannya mereka tidak sedih harus berpisah tapi Nadia yang notabenenya tidak memiliki keluarga merasa perpisahan akan selalu membuatnya kehilangan.
"Iya. Saat ketemu Nanti, adek bayi pasti udah nambah adek. Bisa punya aunti cantik-cantik." Tambah Gendis menghapus airmata di pipi Nadia.
Nadia mengangguk cepat, "Maafin gue. Gue udah rusak momen bahagia ini tapi gue beneran sedih bangat."
Sandra menggeleng, "Kita juga ngerasain yang lo rasain Nad. Berat bangat harus pisah sama kalian tapi silaturrahmi kita akan tetap terjaga. Gue jamin itu." Aleksis dan Gendis mengangguk mengiyakan. Keempatnya kemudian berpelukan dan menumpahkan tangis haru.
Setelah pengumunan selesai dan acara haru biru itu selesai. Tiba saatnya setiap siswa menyambut orangtua dan kerabat dekat mereka yang akan ikut merayakan kebahagian kelulusan seratus persen siswa Nusantara High School. Tampak haru dan tawa mengisi lapangan upacara bendera pagi itu. Sandra, Gendis, dan Aleksis sudah berpencar menemui orangtua mereka masing-masing. Dari kejauhan Nadia hanya bisa memandang orang-orang disekelilingnya yang disambut bahagia oleh orangtua maupun saudara mereka, bahkan mami Jeremi membuat heboh dengan mendatangkan empat truk es krim untuk merayakan kelulusan anak kesayangannya.
Nadia menjauh, mengambil tempat duduk di tempat yang tidak terlalu ramai. Seperti tahun sebelumnya, lagi-lagi ia sendiri. Tidak ada siapapun yang ikut bahagia atau menangis haru untuk dirinya. Nadia buru-buru menghapus airmata di pipinya dengan punggung tangan. Melihat teman-temannya bersama orangtuanya membuat ia rindu dengan Ayah dan Bundanya.
"Ayah, Bunda, Nad sudah lulus SMA. Ayah dan Bunda senang kan diatas sana?" Nadia menggumam lirih. Dadanya terasa sesak menghimpit. Disaat orang-orang bersama orang tersayang, ia lagi-lagi sendiri merayakan kelulusannya. Dielusnya perutnya dengan sayang, "Dek, Ibu lulus. Adek senang nggak? Ibu senang dek. Ibu bahagia tapi Ibu sendiri. Jangan tinggalin Ibu ya, Dek. Jangan biarin Ibu sendiri, hiks." Nadia mengusap wajahnya yang berurai airmata. Om Gi, Nad Sendiri. Nadia menoleh kearah gerbang sekolah. Apa yang lo harapin Nad? Tidak ada siapa-siapa disana. Nadia terkekeh miris. Biasanya di detik-detik terakhir, Gibran akan tergopoh menghampirinya dengan sebuket bunga di tangannya. Wajah laki-laki itu akan di penuhi peluh namun senyum tipis di bibirnya tak akan bisa membohongi siapapun kalau ia bahagia untuk Nadianya. Nadia menunduk, Gibran tak mungkin datang, sudah dua minggu dan tidak ada kabar apapun dari suaminya itu.
Daripada sesak melihat pemandangan di depannya. Nadia memutuskan untuk keliling mengenang hari-harinya di sekolah. Ia menjelajahi setiap ruangan yang akan selalu menjadi masa-masa terindahnya. Tembok pelarian yang biasa ia dan ketiga sahabatnya lewati saat membolos menjadi tujuan utamanya. Kemudian setelah puas melihat tembok di bawah pohon besar itu, ia beralih ke ruangan laboratorium yang hampir tak sengaja dibakarnya saat praktek kimia lalu, perpustakaan. Nadia tersenyum tipis mengingat salah satu spot favoritnya untuk tidur saat pelajaran olahraga. Nadia berjalan di salah satu bangku kosong tempat ia biasa kabur dan tertidur. Dari tempat itu ia bisa melihat lapangan upacara dengan bebas. Situasi diluar masih rame seperti tadi. Banyak mobil mewah dan karangan bunga ucapan selamat dari banyak pihak. Sekolahnya dihuni oleh siswa siswi kalangan atas dan pebisnis, kesempatan yang sangat bagus untuk mengambil simpati dengan mengirimkan karangan bunga yang paling mahal dan indah.
Nadia tersenyum kecut. Ia bisa melihat karangan bunga dari Gaudia Group untuk mengucapkan selamat padanya dengan desain paling menonjol. Samuel tentu tidak akan membuat malu Gaudia Group dengan mengirim karangan bunga sekelas ucapan belasungkawa. Nadia mendapatkan yang terbaik tapi sayangnya Nadia tidak butuh semua itu. Ia tidak butuh karangan bunga atau hadiah diacara kelulusannya. Ia hanya butuh seseorang yang peduli padanya, yang mengucapkan sepatah kata mengenai dirinya yang sudah melakukan yang terbaik. You did your best Nadia. Hanya sepenggal kalimat semacam itu tapi sepertinya hal itu hanya akan tetap menjadi impian yang tak akan pernah terwujud. Lelah dengan semua keriuhan dan sesak di dadanya, Nadia membaringkan kepalanya diatas meja. Ia butuh beberapa menit untuk istrahat. Tangannya menyentuh perutnya, mengusap lembut teman satu-satunya yang menemaninya, Dek, tetap sama Ibu. Ibu tidak mau sendiri.
Nadia terbangun setelah beberapa menit sempat tertidur. Ia mengambil hp yang sejak tadi bergetar. Sebuah pengingat yang mencibut hatinya, Nadia's Day, tulis dilayar hpnya. Itu adalah alarm yang sengaja ia tulis untuk mengingatkan dirinya menagih hadiah dari Gibran. Nadia mematikan alarm tersebut dan terkejut saat melihat keluar tidak ada lagi keramaian. Hanya ada beberapa orang petugas yang tampak membersihkan karangan bunga dan sampah lain yang berserakan di halaman sekolah. Nadia bergegas keluar dari perpus, untungnya ia tidak terkunci di dalam. Selain alarm banyak pesan dari sahabat-sahabatnya yang mencarinya. Nadia cepat membalas chat tersebut dan mengabarkan jika dirinya baik-baik saja. Setelah membalas pesan, Nadia bergegas masuk dalam lift menuju lantai tiga dimana kelasnya berada.
Saat keluar dari lift, hanya sunyi yang menyambutnya. Nadia bahkan bisa mendengar suara nafasnya bersahutan dengan suara sepatunya di lorong panjang itu.
Saat hendak masuk di dalam kelas, Nadia tertegun di tempatnya. Ada seseorang yang tengah berdiri memunggunginya. Seorang laki-laki pemilik bahu lebar yang ia kenal dengan baik. Nadia menahan degup jantung dan suaranya yang tercekat di tenggorokan.
"O-om Gi?"
***