Little Persit

Little Persit
Calon Papa mama yang baik



"Tan, ini benangnya digimanain?" Nadia mencolek bahu Bu Agus yang duduk di sampingnya. Mereka tengah mengikuti pelatihan keterampilan merajut dengan menggunakan benang polly dan jarum rajut.


"Bikin rantai dulu, Dek Nad. Haduh, itu benangnya terhambur lho." Bu Agus menggaruk alisnya yang tebal sebelah melihat gulungan benang terhambur di depan Nadia.


"Bukan Nad loh Tan yang hambur."Ujar Nadia polos.


Bu Agus menghela nafas pendek "Susah bangat sih ngajarin Dek Nadia ini. Gak sanggup saya dek." Bu Agus mengambil gulungan yang masih utuh dan meminta Nadia untuk menggulung benang-benang yang terurai.


"Nad juga gak sanggup, Tan. Kalau bisa Nad di jadi penonton aja."


"Gak bisa dong, Dek. Kan situ ketua kelompoknya."


Iya, gara-gara tante kan. Sungutnya dalam hati. Untung sudah tidak menyebalkan karena kalau masih nyinyir seperti dulu, beuh Nadia colok matanya pakai jarum.


"Ck. susah bangat sih. Tinggal beli doang kan gampang." Sungutnya pelan. Ma*pus aja kalau sampai kedengaran ibu-ibu lain. Apa sih namanya kegiatan yang beginian, life skill atau apa lah ini namanya. Yang pasti Nadia lebih memilih memborong isi toko untuk kelompoknya dari pada berkutat dengan barang-barang ini yang bukan hanya menguras tenaga tapi juga emosinya.


"Udah ah, Tan. Nadia nyerah." Nadia meletakkan benang dan jarum dengan sembarangan. Bu Agus yang sejak tadi berusaha memahami penjelasan instruktur hanya bisa memutar bola matanya. Dasar anak manja, gini aja sudah menyerah.


Kegiatan berakhir setelah dua jam berjalan. Sepanjang kegiatan yang Nadia lakukan hanya menonton. Sesekali ia mengepang benang-benangnya menambah pekerjaan Bu Agus karena harus mengurainya satu-satu lagi.


"Dek Nad harus banyak latihan. Minggu depan kelompok kita yang unjuk aksi pertama."


Nadia mengangguk "Gampang Tante, tinggal beli doang di toko, udah beres." Katanya dengan langkah terseok mengikuti Bu Agus dan beberapa rekan persit lainnya yang berjalan kaki menuju rumah masing-masing.


"Gak bisalah Dek. Kan nyontohin langsung." Ujar Bu Agus keki. Gampang bener orang kaya kalau bicara, cap cip cus langsung beres.


Nadia manyun. Ribat sekali tinggal bawa tas rajut saja.


"Om Gibran tidak jemput Dek?" Tanya Ibu Arya penasaran. Biasanya kan Si Nadia langsung ditungguin sama pangeran bermotornya itu di depan Aula tepat waktu.


"Tidak, Tan. Sibuk berkebun."


"Berkebun?" Bu Agus ikut-ikutan kepo dengan tetangga rumahnya itu.


"Iya, Tan."


"Nanem apa memangnya Dek?" Tanya Ibu Arya lagi. Ya kan ini kerajinan sekali Kapten mereka sampai berkebun segala padahal mah kalau urusan uang banyakan mereka.


"Sayuran. Nad juga gak merhatiin apa aja sayurannya. Katanya biar seger metik di kebun sendiri." Nadia menjelaskan setaunya.


"Wah bagus tuh dek. Kita gak tau kan sayuran yang biasa kita beli sehat apa tidak. Kalau nanem sendiri kan bisa mastiin yak." Bu ketut menimpali. Nadia hanya mengedikkan bahu, selama bukan dia yang di suruh merawat tanamannya, Nadia sih terserah saja. Lagian dia mana tahu membedakan sayuran bagus dan yang tidak bagus.


"Nanti kalau sudah panen, bagi tetangga ya Dek." Bu Agus berujar antusias.


Nadia mengangguk cepat "Gampang, Tan. Nanti Nad bagiin keliling pake gerobak."


"Seriusan, Dek?"


Nadia tertawa hambar "Ya enggaklah, Tan." Keliling pake gerobak, yang benar aja dong. Bisa saingan sama tukang sayur itu sih.


Nadia sampai di rumah setelah hampir setengah jam jalan kaki. Bukan karena jarak tempuhnya yang jauh tapi yang namanya ibu-ibu kalau sudah berkumpul, lebih banyak singgah-singgahnya daripada jalan.


"Assalamualaikum" Nadia berteriak dari pintu depan, menyusul Gibran yang pasti sedang sibuk dikebunnya


"Waalaikumsalam."


Nadia muncul di pintu belakang. Senyumnya langsung mengembang melihat Gibran yang sedang menyemai benih diatas spons yang sudah di potong-potong.


"Gimana kegiatannya?" Tanya Gibran tanpa menoleh pada Nadia.


"Ngebosanin." Jawab Nadia malas. Ia menghampiri Gibran, ikut jongkok di dekat laki-laki itu.


Gibran tersenyum tipis "Selain hura-hura memang apalagi yang gak ngebosanin buat Nad?"


"Om Gibran dong." Ujarnya menyengir lebar "Ya meskipun Om juga banyakan ngebosanin sih tapi masih bisa lah Nad toleransi." Katanya sembari mengelap keringat di dahi Gibran.


"Bersih nggak tuh tangan Nad?"


Nadia mendorong bahu Gibran "Nyebelin. Dibaikin juga." Gerutunya sebal.


"Ganti baju. Minum susu yang ada diatas meja." Ucap Gibran mengabaikan gerutuan Nadia disampingnya.


"Susu pisang?" Tanya Nadia antusias.


Gibran berdecak, "Susu Ibu hamil Nad."


"Rasa pisang?"


"Om gak cobain."


"Yah!" Nadia masuk kembali dalam rumah mengambil susu yang Gibran maksud.


"Makasih Om." Teriak Nadia dari dalam rumah.


"Minumnya sambil duduk."


Nadia terkekeh "Siap, kapten."


Setelah meminum susunya, Nadia masuk dalam kamar untuk mengganti bajunya dengan baju dalam rumah. Dipandanginya perutnya yang mulai mengembung, sebuah senyum tipis mengulas di bibirnya.


"Tumbuh yang sehat ya Adek bayi." Gumamnya mengelus lembut permukaan perutnya. Nadia menurunkan kembali bajunya lalu dengan kedua tangannya sendiri mulai mengepang rambutnya.


.


.


.


"Om liat deh, sepatunya lucu. Baju-bajunya juga." Nadia menunjukkan layar hpnya pada Gibran yang tengah menyiapkan makan malam untuk mereka.


"Bayinya belum kebentuk Nad." Ujar Gibran menjauhkan Nadia dari wajan panas.


"Tapi kan lucu. Bisa disimpan."


"Delapan bulan lagi pasti ada yang lebih lucu." Gibran mengusap puncak kepala Nadia dengan tangannya yang bebas. Tampak sekali keinginan persit kecilnya itu untuk membeli barang-barang untuk calon bayi mereka.


"Nanti kita belanja-belanja ya Om. Nad mau beli yang warna pink semua."


Gibran mengangguk "Yang penting Nad dan Adek bayi sehat-sehat."


Nadia mengangguk lalu seperti kebiasaannya menempeli punggung Gibran selama laki-laki itu memasak.


"Om kira-kira Adek bayinya laki-laki atau perempuan? Kayaknya bagusan cowok deh biar yang jagain Nadia nambah satu lagi. Ada Om Gi, ada Adek bayi. Yakan Om?"


"laki-laki atau perempuan sama saja. Yang penting sehat dan tumbuh jadi anak soleh solehah."


"Kayak Nadia ya?"


Gibran menggeleng pelan. Anak solehah ya? Rasanya mempercayainya terlalu sulit. "Iya." Jawabnya untuk memudahkan segalanya.


"Lama. Perut Nad udah bunyi."


"Kan Om suruh makan roti dulu."


"Gak mau. Maunya makan nasi goreng."


"Nad ngidam?" Tanya Gibran kemudian.


Nadia menggeleng "Mana ada ngidam kayak gini. Tiap malam juga dimasakin nasi goreng kan sama Om."


"Nad mau yang lain?"


"Enggak. Yang ini aja. Dimasakin Om spesial."


Gibran berbalik mengetuk kening Nadia "Kalau dimasakin setiap hari bukan lagi spesial tapi emang tukang masak."


Nadia terkekeh, "Sayang Om Gi banyak banyak."


"Banyak banyak ya?"


Nadia mengangguk "Hu-um."


"Bantuin apa?" Tanya Nadia bersemangat.


Gibran tersenyum datar "Duduk di kursi dengan tenang."


"Siap, kapten."


.


.


.


"Baca!" Gibran meletakkan setumpuk buku dihadapan Nadia yang tengah mengemil sembari menonton acara tv makan-makam favoritnya.


"Buku apaan nih? Baru semua?" Nadia meneliti sampul buku di depannya yang masih terbungkus rapi plastik bening.


"Parenting. Penting untuk Nad dan Om baca."


"Trus, kok cuma Nad yang dikasi?" Tanya Nadia menyingkirkan buku yang menghalangi kakinya.


Gibran duduk di atas sofa sembari membuka sampul buku yang sudah ia siapkan untuk dirinya sendiri.


"Mendirik anak dalam islam." Ucap Nadia mengintip sampul buku yang di pegang Gibran "Kok beda sama Nad?" Nadia mengangkat salah satu buku yang diberikan Gibran dan membaca sampulnya "Menjadi istri yang salehah dan ibu sukses? Apaan nih? Katanya parenting?" kening Nadia mengerut.


"Sebelum belajar jadi ibu, Nad harus terlebih dahulu belajar jadi istri solehah. Pas sama bukunya."


"Aseeeeeem. Jahat bangat mulutnya." Nadia menyandarkan punggungnya di kaki Gibran yang terlipat diatas sofa.


Gibran tertawa renyah "Memang iya kan."


"Jadi maksud Om, Nad gak solehah gitu?"


"Nah, itu tau."


"OOOOOOMMM!!!" Nadia memukuli Gibran dengan buku ditangannya "Rasain nih!"


Gibran terbahak, menahan tangan Nadia "Jangan marah lah. Om kan cuma berbicara kejujuran."


"Bodo amat. Gak ngurus." Nadia hendak pergi dari tempat itu namun langsung ditahan Gibran.


"Jangan ngambek. Adek bayi ikutan ngambek tuh"


"YA MAKANYA JANGAN NYEBELIIIN!" Sungut Nadia, duduk kembali di sofa dekat Gibran.


"Iya, sini Om peluk."


"GAK!"


"Yakin?"


"IYA!!!" Nadia melemparkan tubuhnya dalam dekapan Gibran. Begini nih kalau mulut dan hati tidak kompak.


"Jangan suka kayak gitu. Kalau Om gak sigap, bahaya." Tegur Gibran, merangkul Nadia posesif.


"Yakan Nadia tau kalau Om bisa nangkap." Ujar Nadia menyandarkan punggungnya dengan nyaman di dada bidang Gibran. Keduanya berbaring nyaman diatas sofa dengan Nadia berada dalam pelukan Gibran.


"Om, perut Nad udah berbentuk loh. Kayak kembung gitu."


"Masa? Kok gak kelihatan."


"Beneran Om. Pegang deh." Nadia mengambil tangan Gibran untuk menyentuh perutnya. Ada perasaan hangat saat tangan besar itu mengelus permukaan perutnya yang tak dilapisi apapun.


"Iya kan Om?"


"Iya. Beda sedikit dari yang biasanya." Ucap Gibran. Nadia menahan tangan Gibran yang sudah mulai menyentuh disekitaran perut.


"Stop! Perut aja ya Om jangan mampir kemana-mana." Nadia mengingatkan. Kan biasa Om nya suka khilaf. Awalnya biasa aja lama-lama menyerempet.


"Iya." Gibran mengambil tangan Nadia dan menguncinya dengan satu tangan "Om cuma mau mengecek." Ujarnya kalem sembari kembali menyusupkan tangannya dibalik baju rumahan Nadia.


"Mau mengecek apa?"


Gibran berdeham "Siapa tau aja ada bagian lain yang ikutan kembung." Kata Gibran yang sontak membuat Nadia memekik saat tangan besar itu sudah menangkup dadanya.


"Iseng bangat sih!" Nadia memukul tangan Gibran yang masih nangkring di dadanya. "Sakit." Keluh Nadia.


"Sakit? Bukannya enak?" Gibran menjauhkan tangannya dari dada Nadia menatap khawatir istrinya itu.


"Kayaknya sih karena lagi hamil Om." Ujar Nadia tak yakin. Ia menurunkan bajunya setelah tangan Gibran menjauh.


"Masa sih? Nanti kita tanya dokter kalau gitu." Gibran mengecup rambut Nadia. Tangannya mengalun memberikan kehangatan pada istri dan bayinya.


"Om gak jadi baca buku?"


"Nad mau dibacain buku?" Tanya Gibran balik sembari meraih buku berjudul little soul yang di jangkaunya.


"Mau. Tapi yang bagus ya."


"Siap, Nyah."


***


Gibran menyapu halaman rumah sementara Nadia ditugaskan untuk menyiram tanaman. Subuh tadi selepas solat, Nadia dilarang untuk tidur. Gibran sudah membuat rencana untuk membiasakan Nadia bangun lebih awal dan beraktifitas selepas solat subuh sebagai bagian dari olahraganya walaupun harus dengan sedikit paksaan.


"Om, Nad capek. Udahan ya." Nadia menghela nafas lelah.


Gibran melihat hasil pekerjaan Nadia, baru sebagain kecil tapi katanya sudah capek? Ck. anak kecil ini. "Iya. Simpan saja nanti dilanjutkan. Jangan lupa siapkan sarapan." ujar Gibran sembari melanjutkan pekerjaannya.


"Iya." Nadia meletakkan selang air di rumput lalu masuk dalam rumah. Ini kali pertamanya seorang Nadia Gaudia Rasya sudah sibuk di dapur bahkan saat ayam belum keluar dari kandangnya. Ia harus mencatat hari ini sebagai hari bersejarah dalam hidupnya. Kalau bukan karena ucapan Gibran mengenai kesehatan adek bayi dan dirinya, ia maunya di kamar saja menunggu matahari terbit dengan cerah lalu ia akan mandi dan berangkat ke sekolah seperti biasa. Tapi karena dia sudah bertekat menjadi ibu yang baik maka kemalasan itu harus ditinggalkan pelan-pelan. Ala bisa karena biasa. Begitu kata peribahasa andalan Gibran.


"Om, coklat aja ya" Nadia mengangkat selai coklat menunjukkannya pada Gibran.


"Terserah Nad saja tapi jangan terlalu manis."


Nadia mengangguk. Ia kembali ke dapur untuk melanjutkan kerjaannya.


"Aw!" Nadia meringis saat merasakan perutnya kram. Ia terduduk di lantai, memegang bagian perutnya yang terasa kebas.


"Kenapa Nad?" Gibran muncul membawa bunga hidup dalam toples bening. Ia membantu Nadia untuk duduk di kursi.


"Kram lagi perut Nad?" Tanyanya khawatir.


Nadia mengangguk "Kenapa ya Om. Kok sering bangat kayak gini." Nadia menatap Gibran khawatir. Ia tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungannya. Tapi seringnya ia mengalami kram membuat Nadia mau tidak mau merasa takut akan apa-apa yang mungkin menimpa bayinya.


"Kita ke dokter ya?" Ajak Gibran namun Nadia menolak.


"Kayaknya gak apa-apa deh Om. Soalnya cuman sesekali saja terasa kramnya." Ucap Nadia mencoba meyakinkan Gibran bahwa keadaannya baik-baik saja.


"No. Kita harus periksa. Om ambil telfon dulu mau menelfon dokter."


Nadia menggeleng, menahan tangan Gibran yang hendak meninggalkannya "Jangan Om. Nad baik-baik saja kok." Ia mengelus perutnya yang sudah tidak terasa kram lagi.


"Yakin?"


Nadia mengangguk "Yakin. Om percaya Nad." Kata Nadia menampilkan senyum lembut menenangkan miliknya.


"Kalau Nad merasa tidak sehat nanti Om telfon wali kelas biar Nad istrahat di rumah saja.


"Hari ini Nad ada MID semester Om. Udah gak apa-apa. Kalau masih kram nanti Nad ke klinik langsung." Nadia menangkup tangan Gibran yang tampak belum bisa tenang.


"Nad jaga diri dan Adek bayinya ya."


Nadia mengangguk mantap "Siap, Papanya adek bayi." Gibran tersenyum lega, mencium lama kening Nadia.


"Kalian berdua harus baik-baik saja." Gumamnya.


***