
Oke, mari lupakan tentang Bengawan Solo yang tidak sengaja mampir di acara dinner romantis dan membuat jiwa nasionalisme yang mendengarnya membara. Juga maafkan film pemberontakan sadis itu karena Nadia memaklumi Om kece badainya ini lahir terlalu cepat dan menjalani hidup yang terhormat sebagai seorang tentara kebanggan bangsa bukan sebagai seorang remaja cemen yang menghabiskan sisa harinya membuat baper anak gadis orang. Jadi sekali lagi jika lelaki itu memutar film yang serupa misalnya wiro sableng, maka Nadia seperti malam itu akan tetap melapangkan dada bertahan menemaninya menghabiskan sekaleng cola dan popcorn rasa keju favoritnya hingga tulisan end muncul di layar. Mau bagaimana lagi jika Gibran jauh dari sentuhan romantisme kawula muda di zamannya. Bukankah Nadia harusnya bersyukur lelaki itu mungkin saja tak pernah nonton bioskop dengan couple set karena alih-alih membayar tiket dan popcorn, pria kecenya itu pasti lebih memilih menonton layar tancap legenda gunung merapi bersama para lelaki mengenaskan lainnya yang juga menghabiskan masa mudanya menjadi seorang patriot di bumi pertiwi ini dibanding menggaet seorang gadis berambut sebahu dengan rok bunga-bunga selututnya. Membayangkan betapa lugu dan murninya masa remaja Gibran, Nadia tak bisa menahan senyumnya untuk tidak semakin lebar. Ah sebentar-- bagian murninya tidak termasuk karena majalah bergambar para wanita tak tahu malu dengan setelan jaring-jaring ikan menempel di badan sudah pasti mengotori kepala Gibran muda. Oh sama sekali tidak terpuji, wahai pemuda.
"Kenapa ngeliatin?" Gibran yang sejak tadi konsentrasi dengan jalanan padat merayap di depannya melirik Nadia yang terus saja memandanginya.
"Pengen aja."
Jawaban macam apa itu?! Gibran mencebik, yang benar saja lah di baperin anak kecil meskipun Nadia tak bisa lagi disebut anak kecil setelah banyak adegan dewasa yang mereka lakukan bersama.
"Jam berapa pulang? Mau di jemput?"
"Nanti Nad kabari. Betewe Om,--"
"Hm?"
Nadia meluruskan badannya menghadap Gibran sebelum mengajukan pertanyaan yang tiba-tiba membuatnya penasaran, "Waktu Om seumuran Nad, Om beneran gak pernah jatuh cinta--maksud Nad, ayolaaah Om ganteng, baik hati meskipun irit ngomong tapi masa sih gak ada gitu yang buat Om tiba-tiba mikir, ah gue suka nih cewek. Pasti pernah kan?!" Nadia menatap penasaran. Harusnya normal bagi cowok di usia remaja merasakan benih-benih cinta monyet yang membuat tidur tak lena, makan tak enak karena pengennya cuma ketemu doi.
"Pernah."
"HAH?GIMANA-GIMANA???" inilah Nadia, tiba giliran Gibran mengaku malah dia yang tidak rela. SIAPA CEWEK ITUUUU??? Nadia memasang telinga baik-baik.
"Kenapa kaget gitu?" Gibran melirik Nadia dengan alis terangkat satu.
"Gak. Nad biasa aja." Kilah Nadia sembari berdeham menetralisir rasa hangat-hangat membakar dalam hatinya. Kenapa juga gue pake nanya? Jadi kesel sendiri kan gue, huh!
"Jadi siapa orangnya? Kenapa Nad gak dikenalin?" Tanya Nadia beruntun setelah berhasil meredam gejolak dalam hatinya.
"Buat apa?" Tanya Gibran balik sembari tersenyum mengejek. Jelas sekali gadis manis dengan wajah sok tegar disampingnya ini sedang cemburu.
Mau Nad ajak ngopi-ngopi sianida. Batin Nadia dongkol. Beruntung sekali cewek itu mendapatkan perhatian Om Gibrannya.
"Pengen tau aja." Jawab Nadia sok tidak peduli. Aslinya dalam hati sudah memikirkan banyak cara untuk menggeprek cewek yang sialnya maha beruntung itu.
Gibran terdiam. Membiarkan Nadia menunggu dengan pikiran-pikiran liar yang sudah pasti sudah menginvasi isi kepalanya.
Gerbang kampus sudah di depan mata tapi Gibran tidak ada tanda-tanda sama sekali mau membuka mulut mengenai identitas cewek itu. dia bisa mati penasaran kalau tidak tau siapa cewek itu.
"Om, jawab! Siapa tuh cewek?" Rengek Nadia tak sabar. Di guncang-guncangnya bahu Gibran, tak lagi peduli dengan motto hidupnya tentang pride, pride and pride. Ia penasaran. Sangat penasaran.
Gibran tersenyum tipis hampir tak kentara. Tapi Nadia menangkapnya seperti jenis senyuman yang meremehkan.
Gibran menarik tuas di sebelah kirinya dan bunyi klik menandakan saatnya untuk Nadia turun, "Sampai." Ujarnya sembari menghela nafas lega. Seolah ini kali pertamanya ia membawa mobil dan akhirnya bisa selamat mengantarkan sang majikan ke tempat tujuan.
Nadia manyun. Bagaimana ia bisa melalui hari ini dengan lancar jika dikepalanya hanya dipenuhi dengan rasa penasaran akan cewek itu dan Gibran?! Hufff!
"Tidak mau turun?" Tegur Gibran lagi. Lelaki itu bahkan sudah berada di luar mobil. Nadia menggerutu sebal. Ia mengambil tasnya serampangan lalu keluar menyusul Gibran.
"Telfon kalau mau pulang. Setelah ini saya ke kantor." Ujar Gibran mengingatkan. Tangan kanannya yang bebas merapikan anak rambut Nadia yang menutupi sebagian wajah cantiknya, "Jangan bikin ulah. Mengerti Ibu Nadia?"
Nadia yang masih sebal karena dibuat penasaran oleh Gibran mengangguk tak ikhlas. Padahal lelaki ini cukup menjawab pertanyaannya semua langsung beres. Tak akan ada lagi kedongkolan di hati. Benar begitu Nad? Nadia meringis tak yakin dengan dirinya sendiri. Menyadari semua tak akan kembali seperti semula jika Gibran menyebutkan siapa cewek itu, ia jadi menyesali pertanyaannya sendiri.
"Masuklah." Gibran menyentuh bahu Nadia saat gadis di depannya itu tak juga beranjak dari tempatnya berdiri.
Nadia mengangguk lagi. Kali ini ia tak sesemangat tadi pagi saat Gibran mengatakan mau mengantarnya ke kampus untuk daftar ulang serta mengikuti kuliah umum perdananya.
Saat Nadia hendak berlalu dari hadapannya, Gibran yang menyadari mood Nadia tak sebagus tadi langsung menahan lengan kecil itu.
"Apa?" Tanya Nadia dengan suara lelah.
Girban menyentuh kening Nadia dengan punggung tangannya "Tidak panas."
Nadia yang mengira Gibran menahannya untuk memberitahunya tentang cewek yang membuat darah mudanya meletup-meletup langsung menepis tangan Gibran.
"Apaan sih?! Nad sehat." Ujarnya sedikit sewot.
Benar kan? Mahasiswa cantik ini sedang kesal. Akhirnya karena tak ingin drama ini berkepanjangan, Gibran memutuskan untuk menghentikan niatnya untuk mengusik Nadia.
"Sini, peluk." Diraihnya Nadia dalam pelukannya yang tidak mendapat penolakan sama sekali dari pemilik tubuh semampai itu, "Hanya ada satu gadis yang membuat saya berpikir bukan hanya memacarinya tapi menjadikannya pendamping hidup di dunia dan di surga--" Gibran menghentikan sejenak kalimatnya saat merasakan Nadia menegang dan hendak melakukan pemberontakan. Di dekapnya lebih kuat gadis beraroma segar itu "Dan gadis itu sekarang berada dalam pelukan saya. Menjadi istri dan Ibu dari anak saya." Lanjutnya sembari mencium sisi kepala Nadia penuh perasaan.
Nadia yang mendengar itu kali ini benar-benar melepaskan diri dari Gibran, menatap penuh curiga.
"Jangan bohong deh, Om. Nad masih bayi waktu Om dapet mimpi basah pertama. Jadi gak mungkin Nad kecuali kalau Om udah deg-degan aja ngeliat bayi selucu Nad. Dan itu jelas impossible." Ujar Nadia cepat. Yang sedikit pintarlah harusnya kalau lelaki ini mau membohonginya. Cewek itu sudah pasti bukan dirinya.
"Bagaimana kalau ucapan Nad tadi benar adanya?"
Eh, gimana-gimana?
"Nadia Gaudia Rasya. Saat nama itu pertama kali meluncur dari mulut saya, saat itulah saya menyertakan doa pada Allah agar kelak hanya nama itu yang akan kusebut saat melafadzkan ijab qabul di depan walinya."
"HAH????"
Dan untuk pertama kalinya di depan umum, di depan jalan, dan di depan banyak pasang mata yang melirik, Gibran menciumnya. Bukan ciuman liar seperti saat mereka di dalam kamar atau tempat-tempat private lainnya yang membuat Nadia kehabisan nafas atau mendesah menjijikn tapi ciuman manis yang boleh Nadia beri nilai TAK TERHINGGA.
***
Nadia tidak berhenti tersenyum sembari memegangi bibirnya saat melewati lorong panjang dan menaiki beberapa anak tangga kampus yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu menjadi seorang sarjana muda. Ia tak menghiraukan orang-orang yang meliriknya penasaran sebab dikepalanya hanya ada ungkapan cinta dan ciuman manis lelakinya itu. Ya ampun, Nad sungguh beruntung hidupmu, Nak. Dicintai sampai sebucin itu bahkan sebelum ari-ari lo lepas, yuhuuuuuu.
"Pamer ah!" Nadia mengeluarkan ponsel dari tasnya dan cekrek! Satu foto dirinya yang sedang cantik dan bahagia terpampang jelas di layar hp. Segera saja ia membuka akun sosmednya dan tak menunggu lama, foto cantik itu sudah terupload dengan caption yang akan mengguncang para fansnya.
I love you, Om 😘
Hanya empat kata yang ditambahkan satu emot provokatif tak lupa men-tag ig Gibran yang sudah jadi sarang laba-laba saking lamanya tak dijamah oleh pemiliknya dan segera saja langsung diserbu oleh para natizen, the power of Om Gi, hebat sekali.
"Hai, mau daftar ulang juga?"
Nadia yang sedang asik membaca komentar rakyat ig yang sedang berdarah-darah mengangkat kepalanya. Di depannya seorang cewek yang mungkin seumurannya dengan setelah khas ala-ala sanchai meteor garden yang minta di bully tersenyum manis padanya.
"Lo nanya gue?" Nadia menunjuk wajahnya sendiri. Well, khas Nadia yang jauh dari kata ramah dan tergapai.
Cewek itu mengangguk cepat, "Saya Wati, biasa di panggil Ati." tangannya terulur di depan Nadia.
"Wati?" Nadia mengernyit. Masih ada nama itu di zaman yang serba canggih ini? Bukankah harusnya sudah lulus bersama Budi, Iwan dan Wawan? Eh?
"Iya, Wati. Nama kamu siapa?"
Nadia mengerjap takjub. Oke Wati, "Nadia." ucap Nadia menyambut uluran tangan di depannya dengan ragu-ragu. Biasanya yang tampang baik-baik begini, aslinya psikopat jadi Nad, lo harus waspada. Nadia mengingatkan dirinya. Netflix benar-benar sudah membentuknya menjadi manusia yang curigaan. Tapi masalahnya joker terlalu lucu untuk menjadi seorang psikopat. Bukankah cewek se-lugu Wati bisa jadi lebih parah lagi?
"Nadia mau daftar ulang juga?"
Menurut lo aja Watiii. Nadia mengangguk kecil sembari tersenyum canggung, lebih tepatnya meringis.
"Sama-sama, yuk. Saya juga mau daftar ulang." Ujar Wati mengabaikan tampang tak bersahabat Nadia.
"Oh oke." Nadia berjalan bersisian dengan Wati menuju satu ruangan yang di depannya sedang dikerubuni seperti laler mengerubuni kotoran. Kalaupun Wati mau macam-macam, setidaknya tidak di depan orang banyak kan?
"Nad Jurusan Manajemen bisnis juga?"
"Um." Jawab Nadia singkat tapi setelah melihat wajah Wati yang minta di tanya balik ia langsung berdeham, "Lo?"
Wajah Wati sumringah, "Saya juga. Wah semoga saja kita sekelas ya." ucapnya kelewat bersemangat.
Mereka bergabung dengan mahasiswa lainnya yang juga memiliki urusan yang sama, daftar ulang. Padahal sudah dilakukan secara online tapi ada beberapa mahasiswa senior yang datang dari zaman purba yang menganggap daftar ulang secara manual masih dibutuhkan untuk mengajarkan para mahasiswa baru artinya sebuah perjuangan menunggu nomor antrian di panggil. Sangat kreatif sekali.
Tak seperti Wati yang rajin mengajak berkenalan orang-orang disekitarnya, Nadia memilih mengalihkan perhatiannya dengan berselancar di dunia maya menyapa para gadis bar-bar yang sudah kembali ke habitatnya, Sandra ke paris, Aleksis ke salah satu universitas cabang singapura dan Gendis dengan kesibukan barunya meloloskan diri dari Dewa sembari menunggu jadwal kuliahnya di mulia.
The Girls in Your Area
SandraDara : Tebak dong gue ketemu siapa di eifel?
AleksisMark : Pandu
GendisMahesa : (2)
NadiaGaudia : (3)
SandraDara : Anjiiiiiir lo betiga masang cctv dibadan gue ya? Kok tau sih?! Gak asik ah.
Nadia terkekeh, bagaimana tidak ditahu kalau mantan terindah Sandra itu jelas-jelas memamerkan tiket pesawat liburannya bersama sang calon istri disemua medsosnya.
NadiaGaudia : Lo mending buka IG mantan kampret lo itu deh sebelum GR dan jatoh di dalam septic tank.
AleksisMark : Doi honeymoon ciiiiiin 🤣
GendisMahesa : Papan Duduk itu udah merit? Kok gak ngundang sih? Padahal teman TK gue tuh.
AleksisMark : Gak harus nikah buat honeymoon Gendis sayang.
SandraDara : Lo gak tau ya Ndis kalau test drive sebelum nikah lagi trend sekarang?
GendisMahesa : Maksudnya Pandu mau ngajarin calon istrinya nyetir di paris? Jauh amat.
SandraDara : Udah ya gaes gue sebel nih kalau Gendis udah lemot gini. Gue mau ngerecokin doi dulu siapa tau aja putus. Yuhuuuu
AleksisMark : Gilak!
NadiaGaudia : Sarap!
GendisMahesa : Gue gak ngerti.
AleksisMarak : Nad, jelasin!
NadiaGaudia : Ogah. Kesabaran gue setipis kulit bawang. Takut darah tinggi gue.
SandraDara : Biar gue aja. Ndis, pandu mau coba dulu calonnya, mau cek layak apa enggak buat ngelahirin anaknya.
GendisMahesa : Caranya?
AleksisMark : TIDUR BERSAMA SAMBIL GITU-GITUAN! AWAS AJA YA LO NDIS KALO SAMPE TIDUR BARENG OM DEWA SEBELUM NIKAH. GUE MUTILASI LO!
NadiaGaudia : Anjiiiir capslocknya jebol 😆
Tanpa mereka ketahui, di suatu tempat di sudut bumi yang lain Gendis sudah keringat dingin setelah membaca chat itu.
"Nad--Nadia!"
"Ya?" Nadia mengangkat kepalanya. Wati menunjuk loket di depan.
"Giliran kamu."
"Oh--ok." Tanpa melirik kiri kanan, Nadia melangkah penuh percaya diri menuju loket untuk mengurus daftar ulang yang entah apa faedahnya dilakukan berkali-kali.
"Nama?"
"Nadia Gaudia Rasya."
"Jurusan?"
"Manajemen Bisnis."
"Jenis kelamin?"
"YA?" Nadia melongok. Orang di depannya ini minus apa b*go? Kurang jelas apa lagi wujudnya coba.
"Lo gak budek kan? Jenis kelamin?" Ulang panitia penerima tersebut.
Nadia menyempatkan membaca papan nama yang melekat di almamater pria itu, Orion. Nama sih seratus, mulutnya yang nol besar.
"Perempuan." Jawab Nadia setelah menekan dalam-dalam kekesalannya. Well, drama perkuliahan.
"Status?"
"Ya?" Nadia kembali melihat isi dari kolom-kolom yang sudah di tulisnya. Tidak ada pertanyaan sejenis itu disana. Apa-apan ini?
"Mahasiswa." Jawab Nadia dengan kening terangkat satu. Bukan jamannya lagi modus kampungan seperti ini.
Pria itu membalas tatapannya tak kalah menantang. Setelah keduanya saling melempar tatapan tajam Pria itu mengalah.
"Silahkan kembali."
Nadia mengangguk, "Thanks." Lalu tanpa menunggu, Ia langsung meninggalkan tempat itu mengabaikan panggilan Wati. Selanjutnya Auditorium untuk mengikuti kuliah umum.
Rumah besar~
Nadia menekan ikon hijau setelah menemukan nomor telfon rumahnya.
"Assalamualaikum, Bik. Pia gimana? Rewel?"
"Waalaikumsalam, Non. Alhamdulillah Non Pia anteng, Non. Non Nadia kuliah saja yang tenang. Kalau ada apa-apa nanti saya telfon." Ujar bibik dibalik telfon.
Nadia mengangguk lega, "Alhamdulillah. Makasih ya, Bik. Jangan lupa pempers Pia diganti."
"Iya, Non."
"Sudah ya Bik, Nad kuliah dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah menutup telfon, Nadia melangkah ringan menuju lokasi kuliah umum.
Hari ini pasti akan sangat lama.
***
Ini nih yang mengguncang negeri IG