Little Persit

Little Persit
Susu pisang spesial ala Nadia



"Jatah cuti belum lo ambil kan? Cuti barengan yuk. Melancong kitaaaah. Rinjani kayaknya bagus." Dewa memutar asbak di depannya sembari satu tangannya sibuk berselancar di dunia maya.


"Wah boleh tuh. Udah lama kan kita gak mendaki?" Vina berujar semangat. Biasanya saat libur mereka akan menyempatkan untuk mendaki atau menginap di pantai berburu sunrise dan sunset.


"Aku sih yes. Ada Prada juga, komplit tinggal nungguin Elsa saja." Gio menambahkan.


"Saya tidak bisa. Nadia sedang menghadapi Ujian Nasiaonal." Ujar Gibran sembari membagikan minuman kaleng pada tamunya.


"Ah bener juga. Si bocah kan gak mungkin lo tinggal yak." Dewa menggaruk rambut cepaknya. Ia baru ingat, Si Gibran sekarang sudah punya ekor.


"Kan bisa di titip di rumahnya, kapt." Prada yang sejak tadi diam membuka suara. Bayangan Gibran dan Nadia diatas sofa menyita habis pikirannya. Si kecil itu ternyata benar-benar mendapatkan pujaan hatinya. Sebuah seringai kesal tersungging di wajahnya. Padahal dia sudah sejauh ini berjuang agar Gibran memandangnya tapi ternyata, saingannya hanya seorang bocah kecil manja yang tidak tau apa-apa selain mengeluh dan merajuk. Seharusnya mudah saja menyingkirkan anak itu dari sisi Gibran.


"Nadia harus di dampingi." Kata Gibran kalem. Ngomong-ngomong kemana anak itu. "Saya ke dalam sebentar." Gibran beranjak dari kursinya untuk mengecek Nadia. Tidak biasanya anak itu anteng sendiri apalagi ada Prada di sekitarnya.


"Nad, kam-- ini untuk apa?" Gibran menghampiri Nadia yang tengah mengupas pisang dan memasukkannya dalam blender.


"Buat tamunya dong, Om." Kata Nadia dengan senyum lebar yang mencurigakan.


"Jangan nakal ya Nad." Gibran memperingatkan. Nadia menggeleng kuat.


"Ck Om nih, bawaannya curigaan mulu sama Nad. Padahal Nad mau jadi tuan rumah yang baik lho."


"Nah, itu yang mencurigakan." Gibran memperhatikan benda-benda diatas meja, siapa tahu saja Nadia menyiapkan bubuk tikus atau sianida untuk meracuni Prada. Otak Nadia kalau ketemu ancaman gak jauh-jauh dengan kejahilan.


"Tuh tuh, apaan tuh maksudnya meriksa-meriksa? Om gak percaya Nad?"


"Gak!"


Asem. Nadia mengulum bibir bawah menahan kesal. Dielusnya dadanya dengan pelan. "Sabar Nad Sabaaar." ujarnya sembari melirik Gibran sebal.


"Jangan bandel." Kata Gibran lagi sebelum meninggalkan Nadia dengan tugas mulianya, memuliakan tamu. Wah, kabar baik yang mencemaskan. Nadia tertawa tanpa suara saat Gibran meninggalkannya seorang diri. Show time!!! He he he.


Gibran kembali ke ruang tamu menemui teman-temannya. Sesekali ia menoleh ke dapur memastikan tak ada hal luar biasa yang Nadia tiba-tiba lakukan. Makin hari keusilan Nadia makin menjadi apalagi kalau ada hubungannya dengan orang-orang yang ia anggap sebagai ancaman. Dia tak akan pernah mengerti kenapa Nadia menganggap wanita-wanita di sekitarnya sebagai ancaman. Istrinya itu terlalu ajaib dan luar biasa dalam menganalisa.


"Kenapa, Bang?" Tanya Vina mengernyit heran melihat gerak gerik Gibran yang tampak waspada.


Gibran menggeleng "Tidak apa-apa." ucapnya mengulas senyum tipis. Semantara itu Prada tak lepas mencuri pandang atasannya. Ini pertama kalinya ia melihat Gibran dengan pakaian rumahan. Tampak sangat mempesona meskipun hanya memakai kaos biasa dan sarung solat. Adem, seperti ubin mesjid. Coba saja--


"Jadi Gimana?"


Prada tersentak oleh suara bass Dewa. Ia menunduk guna mengusir desir yang ada di dalam hatinya.


"Saya cuti selepas Nadia ujian. Sekalian ngajak dia liburan."


"Dimana?"


Semua mata memandang Prada yang melontarkan pertanyaannya dengan cepat.


"Ma-maksud saya, liburannya pasti bagus kalau barengan." Kilahnya.


"Ah iya juga tuh." Vina mengangguk setuju. Prada mengusap dada lega, untung saja tidak ketahuan. Huf, Gibran pasti akan menghindar kalau laki-laki itu tahu niat dalam hatinya.


"Belum jelas juga." Kata Gibran sembari mengambil kaleng minuman di depannya.


"Nad mana, bro? Ajakin gabunglah." Gio melirik ke dalam, tidak ada tanda-tanda sama sekali Nadia akan bergabung dengan mereka. Biasanya istri sahabatnya itu paling senang menghancurkan suasana dengan sikap konyolnya.


"Palingan main sosmed tuh anak. Eh, bro, lo udah lihat IG si bocah? Banyak bener followers-nya. Hati-hati, diambil orang ma*pus lo. hahaha" Dewa tertawa ngakak melihat wajah mendung Gibran.


"Ck ga bakal. Lo gak liat di statusnya, Menikah dengan Gibran Fateh." Timpal Vina sembari menunjukan foto profil Nadia dengan relationship-nya tanda love. Gibran yang melihat hal itu diam-diam mengulum senyum.


"Wah habat juga si Nad. Di akuin juga si Gibran." Gio terkekeh. Jarang-jarang mereka bisa menggoda Gibran seperti ini. Nadia memang topik yang hangat untuk melihat reaksi Gibran yang selalu tampak datar tak berekspresi.


"Selamat malam. Nad datang. Misi-misiiii air panas lewaaat." Nadia dengan langkah hati-hati membawa nampan dengan empat gelas diatasnya berisi miniman berwarna putih tulang.


"Apaan ini Nad?" Tanya Dewa penasaran. Diperhatikannya baik-baik lima gelas yang dibagi-bagikan Nadia.


"Susu pisang, Om. Buatan Nad sendiri. Coba deh." Kata Nadia dengan wajah sumringah. Ia memeluk erat nampannya, duduk menyempil di kursi Gibran.


Gio, Vina dan Prada saling melirik. Gio dan Vina tentu khawatir dengan rasanya karena istri sahabat mereka terkenal dengan ke-nol besarannya dengan urusan dapur sementara Prada, ia curiga dengan gelas yang ada di depannya, bisa saja si kecil nakal ini mengerjainya atau lebih parah lagi meracuninya.


"Kok cuma diliatin? Minum dong." Nadia mengangkat gelas Gibran dan meletakkannya di ujung bibir laki-laki itu. "Om Gi dulu yang coba." ujarnya lembut.


Gibran melirik kiri kanan. Tidak yakin dengan minuman yang sudah di depan mulutnya itu.


"Om gak mau ya? Ya udah Nad--"


"Mau, mau. Sini Om minum." Gibran menarik cepat gelas itu saat melihat wajah murung Nadia.


Gluk gluk gluk!!!


Tiga teguk dan--- Aman. Huuuuf. Gibran menghela nafas lega, ternyata rasanya tidak mengerikan. Di usapnya kening Nadia yang menatapnya takjub.


"Enak." Kata Gibran, menghadirkan senyum manis dibibir merah Nadia.


"Iya dong. Kan buatan Nad." Nadia menepuk dadanya bangga.


Empat orang lainnya di ruang tamu itu menghela nafas lega. Kemudian tanpa pikir panjang mereka meneguk minuman susu pisang yang dibuatkan oleh Nadia. Prada yang mulanya curiga akhirnya mencoba minuman tersebut. Di tegukan pertama, ia merasai benar-benar apakah ada yang salah dengan minuman tersebut tapi ternyata kecurigaannya tidak terbukti. Minuman yang dibuat Nadia memang enak hingga kemudian tegukan terakhir, matanya menangkap benda asing yang seharusnya tidak berada dalam gelasnya.


"Uhuuuuk uhuk uhuk!!!" Prada terbatuk. Matanya membelalak melihat benda yang tidak asing dalam gelapnya.


"Pra, Lo---"


"UWEEEEEEKKK!!! EKOR CICAAAK!!!"


"NADIA!!!"


.


.


"Besok Nad minta maaf sama Lettu Prada. Orang sampe muntah Nad. Keterlaluan kamu."


"Ya kan cuma mainan doang Om. Nad juga udah cuci bersih kok. Tante Pradanya aja yang lebay." Nadia yang sedang di sidang di atas ranjang membela diri. Ada saja jawabannya membalas setiap ucapan Gibran.


Teman-tema Gibran baru saja pulang setelah kejadian ekor cicak yang nyemplung dalam gelas Prada. Tentara wanita itu sampai muntah-muntah akibat keisengan Nadia yang meletakkan ekor cicak mainan dalam gelas susu pisang buatannya.


"Jangan kayak gitu lagi. Gak sopan sama tamu." Tegur Gibran.


"Iya, Om. Nad cuman menyambut Tante Prada kok. Perdana kan main ke rumah. Susu pisangnya juga aman kan?"


Tuk!


Gibran menjentik kening Nadia membuat gadis itu mengaduh berlebihan.


"Jangan lebay."


"Sakit tau Om." Ujarnya mengelus keningnya bekas jentikan jari Gibran.


"Sana cuci muka, sikat gigi." Gibran menarik lembut tangan Nadia menyuruhnya ke kamar mandi. "Besok Nad pel seluruh ruangan. Hukuman karena sudah iseng sama tamu."


"Hhhmmmmmm" Gerutu Nadia. Ia menghentakan kaki kesal masuk ke dalam kamar mandi. Untung cuma ekornya yang dia masukkan, kalau sekalian sama badannya udah habis si tutup panci.


"Daleman kamu jangan di gantung belakang pintu!"


"IYA BAWEL!!!" Nadia menghebuskan nafas kesal. Ngepel lagi ngepel lagi. Ah tapi tidak apa-apalah yang penting malam ini dia puas mengerjai si tante tutup panci. Lagian, berani bener ngelirik suami orang, kayak gak ada cowok single aja di luar sana. Ah iya, cowok single emang banyak, tapi yang kayak Om Gibran kan gak ada duplikatnya. Hihihi.


Nadia kembali dari kamar mandi mendapati Gibran tengah membuka akun IG nya.


"Cieee yang main IG." Ledek Nadia mencolek bahu Gibran. Tumben-tumbenan si Om buka Ig. Biasa juga notif udah ribuan gak di urus sama dia.


"Followers kamu banyak." Komen Gibran, menunjukkan akun IG Nadia yang tengah ia kepoi.


"Gimana ya Om, resiko orang cantik ya gitu." Kata Nadia sombong, sengaja memanas-manasi Gibran. Padahal aslinya Gibran kan yang banyak followers, mulai dari anak SMP puber sampai nenek-nenek gaul juga ada disana.


"Gak di balas DM orang?" Tanya Gibran memberikan ruang untuk Nadia di sampingnya.


"Gak. Capek ngetik." Ujar Nadia mengambil lengan Gibran dan menjadikannya bantal.


"Oh, cuma karena malas ngetik aja. Niatnya mau di balas?" Ujar Gibran sinis. Sudut matanya tajam melirik Nadia.


"Om cemburu?" Tembak Nadia langsung.


"Gak! Biasa saja." Gibran menarik tangannya begitu saja membuat kepala Nadia terantuk di bantal.


"Haduh, biasa aja kok ngegas." Sindir Nadia mencolek dagu Gibran. "Cemburu kan? Hayooo Om ngaku!" goda Nadia memainkan jemarinya di dagu Gibran.


"Apaan sih!" Gibran menangkap tangan Nadia meremasnya pelan. "Tidur!" Titahnya. Nadia memutar bola mata sembari bibir mencebik.


"Tinggal ngaku doang ribet bener." Nadia mengangkat kepalanya, dagunya bertopang di dada Gibran. "Masih ada wangi susu pisangnya." Ujar Nadia mengendus-endus sekitaran mulut Gibran membuat lelaki itu tampak salah tingkah.


"Nad-" Tegurnya. Peringatan pertama untuk si gadis kecilnya.


"Gimana susu pisang buatan Nad, enak?"


Gibran mengangguk sembari menjauhkan wajah Nadia dari jangkauannya. Ini Nadia memang paling bisa kalau urusan memancing.


Gibran menahan kepala Nadia "Jangan mulai." Peringatan kedua. Nadia tersenyum tipis.


"Om ke goda?" Seringai jahil tercetak jelas diwajah Nadia.


"Nad--"


Nadia menghela nafas jengah "Ok fine!" Nadia kembali ke bantalnya sendiri setelah menyempatkan memukul dada Gibran.


"Enak aja Fine." Gibran berujar sinis lalu sedetik kemudian ia menyerang Nadia dengan ciuman bertubi-tubi.


"Hmmmmmpppp--- amphuuun omm." Nadia tergelak saat tangan Gibran menggelitikinya.


"Gak ada ampun-ampun. Terima pembalasan Om."


Dan sepanjang malam itu, Nadia hanya bisa pasrah saat Gibran lagi-lagi menghabisinya.


***


"Ck. Banyak bener merah-merahnya." Nadia menatap miris pantulan dirinya di depan cermin. Ia baru saja selesai mandi dibuat terkejut dengan keadaan hampir sekujur badannya di penuhi memar merah apalagi di sekitaran dada.


Om mau susu spesial.


Satu kalimat itu sukses membuat bulu kuduk Nadia meremang semalaman. Gibran benar-benar mengambil jatahnya semalam. Saat bangun tadi subuh, Nadia bisa merasakan perih di puncak dadanya akibat ulah Gibran yang tidak melepaskannya semalam. Lelaki dewasa itu seperti bayi kelaparan yang menyusu semalaman, bahkan Nadia sampai ketiduran sambil mengeloni bayi besar itu. Huff dua bisulnya ternyata masih di favoritkan si Om.


"Nad jangan lama-lama. Nanti terlambat."


Teriakan Gibran dari luar mendapat balasan cibiran dari Nadia.


"Salah siapa kalau terlambat!? Udah di kasih semalaman masih juga subuh-subuhnya nambah." Gerutu Nadia untungnya tidak sampai kedengaran sampai di luar. Gilak sih Om Gi nya itu, nafsu orangtua apa memang sebesar itu ya? Untung gak sampai di gol-in. Ya lagian gimana mau gol kalau Nadia sedang dalam masa periodenya.


"Lama bangat Nad" Gibran duduk di meja makan dengan setelan lengkapnya.


"Om kok pake ini? Mau ada acara?"


Gibran mengangguk "Pertemuan Se-Indonesia."


"Wuiih rame dong." Nadia duduk di salah satu kursi lalu meraih susu hangatnya.


Gibran mengangguk "Pertemuannya tertutup. Ini banyak bangat Nad-" Gibran menyentuh merah-merah di dada Nadia.


"Iya, nyamuknya ganas bangat semalam. Dada Nad sampe perih." Nadia menangkup buah dadanya sembari menatap Gibran datar.


Gibran tersenyum tipis "Perih bangat ya?"


Pake tanya lagi. Dan apa-apaan tuh senyum mesum? Pengen bangat Nadia karetin tuh bibir pake karet sayur. Sebel bangat.


"Nanti lagi ya." Katanya tanpa dosa.


Kampreeet. Minta lagi. Belum juga hilang perihnya. Dasar laki-laki, gak bisa liat dikit, kalau sudah dikasih nyosornya minta ampun. Dumel Nadia dalam hati.


"Ntar, Nad pikir-pikir dulu." Ujar Nadia mengunyah roti slaynya dengan ganas.


"Jangan manyun. Semalam yang desah-desah keenakan kan Nad jad--"


"Diem atau pabrik susunya Nad tutup." Ujar Nadia membekap mulut Gibran. Astagaaaa di meja makan bahasannya porno bangat. Haduuuh otak sucinya yang tercemar, hiks. Resiko hidup sama orang dewasa ini sih. Belum delapan belas tahun, kelakukan udah 21 plus plus. Huhuhu...


***


Yang semalam habis ngambil jatah 🥛🍌