
Gibran mengoles handbody di atas sebuah tissue. Sepatu laras hitamnya tampak mengkilap setelah menghabiskan hampir setengah handbody yang di beli di kios depan. Nadia sudah menawarkan handbody miliknya tapi sebagai satu-satunya yang paham lelahnya mencari uang, Gibran berpikir dua kali untuk menggunakan handbody dengan harga hampir jutaan itu. Disampingnya Nadia tengah membuat pita-pita lucu hasil belajarnya di giat persit yang lama. Sesekali ia akan mencocokkan pita buatannya di rambut cepak Gibran yang ikhlas saja di terima oleh laki-laki berwajah datar itu.
"Udah dibalikin panci bu katty?" Gibran melirik Nadia yang tengah menggunting flanel dengan telaten. Senyum tipis tersungging di wajahnya, setidaknya Nadia pandai membuat kerajinan tangan. Ada nilai plusnya lah di hadapan ibu-ibu lain.
"Udah, --Cieee ngapain tuh senyum-senyum? Suka ya sama Nad?" Nadia terkekeh menyentuh lesung pipi Gibran yang kedapatan sedang menatapnya dengan senyum kecil di ujung bibirnya. Gibran langsung mengembalikan ekspresinya semula.
"Dih gengsi jangan di gede-gedein Om. Udah mau punya anak ini." Nadia semakin bersemangat menggoda Gibran saat laki-laki berdehem dengan wajah merona. "Ya ampuuun Om. Kenapa sih ganteng bangat? Nad jadi lemaaaah."
Puk!
Gibran menepuk tangan Nadia yang mampir di wajahnya "Tangan Nad kotor."
Nadia mencibir, diraihnya wajah Gibran cepat dan mendaratkan satu kecupan dibibir laki-laki yang hanya bisa berpasrah dengan apa yang dilakukan istrinya.
"Nah, makin ganteng deh. Bibir merah-merah seksi loh Om." Nadia menyentuh bibir Gibran yang ditempeli lipstiknya. Gibran menghela nafas panjang, ini lah rasanya menikah sama ABG, rasanya nano-nano. Paling asik kalau anaknya lagi mode bahagia apalagi dapat yang lugu-lugu polos menggemaskan seperti Nadia, bawaannya pengen di kurung di kamar. Tapi kalau sudah dalam mode angry bird, semua yang tidak mungkin dilakukan jadi mungkin seperti Nadia yang sering sekali kabur ke tempat-tempat tak terduga.
"Eits! Jangan di hapus." Nadia menahan tangan Gibran yang hendak mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Nad mau abadiin dulu." Nadia mengambil hp disampingnya lalu menarik tangan Gibran.
Cekrek!
"Nah, ini bagus." Nadia menggumam senang melihat hasil jepretannya. Foto dirinya dan Gibran yang menatapnya datar. "Besok temenin Nad ke distrik ya Om, mau upload di IG. Sekalian mau tandain Om Gi supaya para fans garis keras mundur alon-alon. Oke?"
Gibran mengangguk. Apa ia punya pilihan lain?
Nadia tersenyum senang. Orang pertama yang perlu diingatkan adalah dokter Elsa, menyusul Lettu Prada dan tentu saja para kloningan mereka.
"Selamat Sore, Bapak, Ibu."
Nadia mendongak. Nah kalau yang ini enaknya diapain ya?! Wajah Nadia langsung berubah flat melihat sosok sok kecantikan di depannya. Diam-diam ia melirik Gibran disampingnya yang tampak tak menggubris kehadiran Sabrina, si ulat keket.
"Tuh Om, fansnya." Nadia berujar sinis. Suaranya tak besar namun terdengar jelas oleh Gibran.
Gibran mengangkat kepalanya sekilas lalu kembali sibuk dengan sepatunya, tak peduli "Teman persit kamu tuh. Temuin." Ujarnya masa bod*h. Lha, sejak kapan dia temenan sama ulat keket? Nadia mendelik, namun tak ayal berdiri juga dari tempatnya menghampiri Sabrina di depan pagar.
"Sore tante. Ada yang bisa dibantu?" Pintar sekali Nadia, manajemen emosi yang luar biasa. Coba saja tidak diingatkan Gibran tentang memaafkan, sudah di lempar wajah Sabrina dengan sepatu laras Gibran biar tambah jontor bibirnya. Sok seksi bangat.
"Ah tidak, Bu. Kangen aja sama Ibu. Udah lama bangat gak ketemu. Besok Ikut giat persit kan, Bu? Ada kerja bakti."
Udah tau. Batin Nadia. Lagian dalam rumah ada suaminya, adalah yang bagiin info. Alasan aja ini sih buat ngedipin suami orang. Untung sekali lah suaminya berwajah tripleks, senyum sama istri aja irit apalagi sama istri orang. Mengingat fitnah yang di lontarkan Sabrina mengenai kebersamaan dengan suaminya, lidah Nadia jadi sangat gatal untuk mengeluarkan segala umpatannya di depan wanita tak tahu diri ini.
"Oh iya. Om Gi sudah bilang." Jawab Nadia datar. Malas bermanis-manis di depan orang yang sudah ketahuan belangnya.
Sabrina mengangguk dengan senyum sebal, "Oh gitu ya, Bu." Diliriknya Gibran yang tampak tak peduli sama sekali dengan keberadaanya padahal ia sudah full make up untuk pertemuan kali ini setelah pertemuan terakhir mereka di jalan saat itu. Setelah kejadian di jalan itu, Gibran seolah sengaja menghindarinya bahkan jejak Sabrina pun seakan-akan ditandai laki-laki itu untuk di hindari. Akhirnya setelah sekian waktu, ada alasan untuk melihat wajah ganteng si kapten.
"Ada lagi? Saya sibuk soalnya." Nadia berujar datar. Kedua tangannya bersidekap.
Sabrina yang melihat penolakan itu langsung muram. Si kecil pengganggu! "Tidak, Bu. Itu saja. Mari."
"Mm."
Nadia melayangkankan tinjunya saat Sabrina berlalu. Dasar ya, belum juga insaf. Punya suami baik gak di syukuri. Diceraiin mamp*s lu!
Nadia menghentakan kaki kesal menghampiri Gibran. "Ada ya Om perempuan seperti itu. Gak bersyukur bangat jadi istri. Masih aja mepetin suami orang."
Gibran melirik Nadia yang asik mengomel. Kekesalan Nadia sangat beralasan tapi Gibran tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan keinginan orang. Yang terpenting ia sudah memperingatkan tetangganya itu tapi kalau masih mengusik ketenangan istrinya, ia tidak memiliki pilihan lain selain melayangkan teguran keras.
"Doain aja semoga terbuka hatinya untuk tobat." Gibran mengusap puncak kepala Nadia lembut.
"Gak. Nad doain semoga nyemplung ke neraka. Gedek bangat Nad."
Gibran terkekeh, "Jangan gitu. Boleh benci kelakuannya tapi jangan sampai memupuk benci ke orangnya."
"Belain aja terus!"
"Bukan Om bela. Om hanya tidak mau Nad memelihara kebencian di hati Nad. Nadianya Om Gi gadis berhati lembut. Tetap seperti itu." Tangan Gibran berpindah mengusap bahu Nadia.
Nadia menghela nafas panjang, kalau sudah seperti ini dia tidak punya alasan lagi untuk kesal. Punya suami baik-baik begini emang bawaannya jadi solehah juga. Masya Allah kan ya.
"Lanjutin lagi pita-pitanya."
Nadia mengangguk. Benar sih kata Omnya, daripada stres mikirin para ulat keket mendingan melakukan hal positif.
***
"Om giiiii."
"Hm."
"Ngadep sini."
"Apa?"
"ISH! NGADEP NAD!"
"Iy---Astagfirullah Nad, itu mukanya kenapa sayang?"
Nadia yang sedang memegang sepiring Ubi bakar langsung manyun. Kenapa yang di komentari mukanya sih? Kan mau pamer ubi bakar. "Ish, Om. Jangan salah fokus dong. Liat nih yang di tangan Nad. Jangan di muka Nad." Nadia berujar kesal.
Gibran yang tadi tengah membaca buku dengan bantuan penerangan dari lilin memghampiri istrinya. "Iya Nad, ubi bakar tapi--" Gibran menghapus arang diujung bibir Nadia. Arang mencoreng hampir seluruh wajah Nadia.
Mendengar kata spesial langsung saja membuat Gibran waspada dan benar sekali "Nad, ini telur mata sapinya kenapa ikut?"
"Kan Nad udah bilang Om. Ubi bakar spesial. Pake telor dong. Gimana sih." Jelas Nadia sok yang paling paham urusan masakan.
Gibran mengurut keningnya yang tiba-tiba pusing, "Duduk dulu." Gibran menggiring ibu hamil kesayangannya itu untuk duduk di kursi kayu reot peninggalan para senior yang menempati rumah tua itu.
"Cobain dong!"
Gibran menatap ngeri makanan di piring Nadia. Lalu bergantian mendongak melihat wajah penuh harap istrinya. Ya Allah, semoga ia tidak muntah di depan Nadia. Pinta Gibran dalam hati. Hati istrinya itu pasti akan terluka jika ia memuntahkan masakan yang sudah dibuat Nadia dengan susah payah sampai-sampai membuat wajah putih mulusnya jadi dekil dengan coretan arang dimana-mana.
"Nad udah coba?" Tanya Gibran selidik.
Nadia menggeleng, "Spesial Nad buatin buat Om. Sisa satu juga. Buat Om aja." ucapnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.
"Bagi aja gimana?"
"Bagi? Gak apa-apa?"
Gibran menggeleng cepat, "Tidak apa-apa."
Nadia mengangguk lalu mempersilahkan Gibran untuk memotong Ubi bakar hasil jarahannya di kebun Robi dan Lucas.
"Cuci tangan dulu. Liat tangan Nad." Gibran mengangkat kedua tangan Nadia dan menunjukkannya pada yang empunya.
"Igh, jorok bangat." Nadia hendak melap tangan penuh arang di baju miliknya namun ditahan oleh Gibran.
"Pake air." Gibran membawa Nadia berdiri menuju kamar mandi. Nadia duduk diatas bangku kecil yang biasa di pakai duduk oleh Gibran saat mencuci pakaian. "Sekalian muka Nad juga."
Nadia mengangguk, "Facewash Nad yang pink." ucapnya pada Gibran yang sudah mengangkat kondisioner Nadia. Laki-laki memang tidak bisa diharapkan kalau urusan skincare. Tapi Om Gibrannya Nadia mulus bangat loh mukanya walaupun cuma pakai sabun batangan doang. Nadia memperhatikan seksama wajah Gibran yang hampir tidak memiliki pori.
"Kenapa liat-liat?" Tegur Gibran menjauhkan wajahnya dari tatapan mesum Nadia.
"Om beneran pake sabun batang doang? Itu mukanya bisa bikin laler kepleset loh Om. Mulus bener."
"Air wudhu." Gibran berujar datar sembari memencet facewash Nadia yang baru dibeli kemarin dulu.
"Pret lah. Emang Om doang yang berwudhu. Nad juga kalik tapi gak ada tuh muka Nad gak diincer jerawat. Apalagi pas mau M. Stres bangat gak sih Om. Pas lagi pengen-pengennya tampil cantik malah jerawat hadir tanpa diinginkan. Untung sekarang udah jarang muncul tuh jerawat. Nad kan--"
"Nanti lanjutin curhatnya. Deketan sini." Gibran menarik wajah Nadia agar lebih muda diolesi krim pencuci wajah.
"Makin lincah aja si Om." Nadia terkekeh, mengusap wajah Gibran yang sedang berkonsentrasi membasuh wajahnya dengan berbagai produk yang tidak dipahami laki-laki itu.
"Diem atau Om tinggal." Ancam Gibran menahan tangan Nadia yang iseng mencubit pipinya.
"Iya ah. Sensi bangat jadi cowok." Nadia menutup mulut dan matanya membiarkan laki-laki itu melakukan tugas tambahannya akhir-akhir ini, membantu ibu hamil skincare-an.
Sementara itu Gibran tersenyum tipis melihat Nadia yang tampak pasrah menunggu dirinya menyelesaikan rutinitasnya yang baru. Sengaja ia melama-lamakan mengusap pipi Nadia yang sangat halus saat di sentuh, seperti pantat bayi yang menggemaskan. Jerawat? Sepanjang umurnya melihat Nadia bertumbuh dan berkembang, tidak pernah sekalipun ia melihat wajah Nadia di tumbuhi jerawat. Yang ada hanya beberapa kali bekas gigitan nyamuk yang mungkin disangkakan Nadia sebagai jerawat nakal.
"Om tadi Bu Katty marah-marah sama suaminya. Cuma gara-gara shampo doang loh Om yang lupa ditelungkupin. Katanya sih bakalan nyusahin yang mandi berikutnya. Nad gak ngerti pas Bu katty curhat. Ya udah Nad manggut-manggut aja." Nadia membuka matanya dan langsung disuguhkan tawa renyah Gibran. Ih, manis bener lah suami gue.
"Kok om ketawa sih?"
Gibran berdehem menyamarkan tawanya, "Gak apa-apa." ia membantu Nadia berdiri. Disekanya wajah Nadia dengan handuk kecil milik istrinya. Nadia mana tahu hal-hal seperti yang dialami Bu katty dan keluarganya. Seorang Nadia Gaudia Rasya, tidak akan pernah mengenal istilah menelungkupkan botol shampo yang sudah sekarat demi mendapatkan tetes-tetes terakhir isi botol, tidak akan tahu juga rasanya mengisi botol shampo dengan air apalagi sampai menggunting ujung pasta gigi atau facewash untuk mengambil bagian-bagian ekornya. Semua itu hanya dirasakan oleh orang-orang yang tahu betapa sayangnya bagian yang tersisa di dalam kemasan, entah itu shampo, sabun atau benda-benda lainnya.
Keduanya kembali ke ruang tengah. Gibran kembali di suguhkan penampakan ubi bakar yang di lapisi oleh telur mata sapi yang bentukkannya sudah tak terdefinisikan lagi apalagi warnanya yang kini hitam-hitam tidak jelas.
"Nad masih mau coba?" Tanya Gibran berharap ada cahaya terang yang mengetuk isi kepala istrinya yang ajaib ini.
Nadia mengangguk "Iya dong Om. Percobaan perdana Nad nih. Lain kali sagu bakar spesial. Pasti enak."
Gibran mengangguk-anggukan kelapa, biarkan sajalah yang penting istrinya happy.
"Ya udah, cobain. Nanti berikutnya Om."
Nadia mengangguk cepat namun saat ubi itu tepat di depan mulutnya ia langsung ragu apalagi melihat telor mata sapi setengah matang buatannya sudah meleber kemana-mana.
"Om aja." Nadia mendorong tangan Gibran ke mulut pemiliknya.
Gibran menahan tangan Nadia, menangkup keduanya hanya dengan tangan kirinya. "Nad dulu. Kalau Nad cocok. Om mau coba."
Nadia meringis. Melihat hasil kerja kerasnya memiliki nilai estetika nol membuat ia berkecil hati. Walaupun buatannya tapi kan tetap saja, mungkin benar ucapan Gibran kalau ia lebih baik tidak terlalu memaksakan diri.
"Om--" Nadia mendongak. Ia menggelengkan kepalanya, "Nad gak mau coba. Kita buang aja ya Om. Nanti Nad belajar dulu baru masakin Om lagi."
Gibran melihat raut sedih di wajah Nadia langsung mengambil piring tersebut, "Ini untuk Om kan?"
Nadia mengangguk pelan, kepalanya tertunduk. Merasa menjadi istri paling buruk sejagat raya.
"Sini Nad bu--Om kok dimakan sih? Kan--" Nadia terkejut saat mengangkat kepala Gibran sudah memakan setengah ubi bakar spesial buatannya.
"Makasih. Baik bangat udah buatin Om." Ujar Gibran tulus. Makanan seaneh apapun di hutan ia bisa makan apalagi ini buatan istrinya yang dibuat spesial untuk dirinya. Ia pasti akan menghargainya.
"Om--hiks."
Lah, malah nangis.
***