Little Persit

Little Persit
Berburu peradaban



Nadia bergerak gelisah dalam pelukan Gibran. sekitar tengah malam ia terbangun dengan keadaan lampu yang belum menyala. Kata petugas pos jaga, ada pohon tumbang yang memutus kabel listrik tak jauh dari asrama mereka. Sementara mesin yang biasa di pakai di asrama sedang rusak. Nadia yang tadi mendengar obrolan Omnya dan petugas tersebut sampai tak habis pikir dengan mesin yang rusak bersamaan seolah menyambut kedatangan mereka.


"Om--" Nadia menusuk-nusuk dada Gibran yang hanya dilapisi dalaman putih dengan telunjuknya, mencoba membangunkan lelaki yang terlelap dengan nyaman itu.


"Kenapa?" Gibran membuka mata menyesuaikan dengan temaram sinar cahaya bulan yang masuk lewat celah-celah dinding kayu rumah mereka. Suara serak-serak bangun tidur Gibran selalu terdengar seksi di telinga Nadia. Renyah seperti biskuit yang biasa ia celup-celup dalam gelas susunya.


"Nad pengen pipis. Gak berani sendiri." Ucap Nadia lirih sementara jarinya masih terus aktif menusuk-nusuk dada berotot itu. Dada empuk dan berotot Gibran ternyata sangat nyaman dan menggemaskan membuat jarinya timbul tenggelem.


"Om temani." Gibran bangun sembari membantu Nadia untuk duduk. Gibran langsung paham mengapa Nadia membangunkannya, jenis suami pengertian dan tentu saja siaga. Sudah pasti kalau bayi mereka lahir, Nadia tidak perlu susah-susah membangunkan Gibran untuk gantian mengurus susu dan popok bayi.


Nadia turun dari ranjang di tuntun oleh Gibran "Gelap bangat Om. Nad gak bisa liat apapun." Nadia mengencangkan pegangannya di lengan Gibran. Saat tidur Gibran sengaja memadamkan lilin karena khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Tidak ada yang tahu tiba-tiba cicak adu lari atau adu otot lalu menabrak lilin dengan sengaja and the rest is a story.


"Sebentar, Om ambil hp dulu." Gibran baru akan menggapai meja kecil saat Nadia menahan tangannya.


"Hp kan lobet Om. Kita gak ada ngecas tadi." Ujar Nadia mengingatkan. Mereka tidak berpikir akan ada kejadian mati lampu seperti ini makanya tidak menyiapkan apapun untuk penerangan. Lagipula di zaman pasca orde baru ini seharusnya sudah tidak ada lagi masyarakat indonesia yang mengalami yang namanya padam lampu. Tapi boro-boro mau tidak ada padam lampu, yang belum memiliki aliran listrikpun masih ada, itu kata Ibu-ibu pada Nadia mengenai kondisi bumi cendrawasi itu. Miris sekali. Sepertinya ia perlu membahas hal ini dengan om Samuel siapa tahu saja ada jalan untuk mengusahakan lampu bagi warga yang belum beruntung itu.


"Nad tunggu disini. Om ambil korek api di dapur."


"Gak mau. Nad mau ikut Om."


Gibran menghela nafas pendek, "Ok. Hati-hati langkahnya nanti kesandung."


"Om tuntun makanya, Aw!"


"Ck, baru di bilangi!" Gibran menahan pinggang Nadia yang hampir saja nyunsep di karpet.


"YA NAD KAN GAK PUNYA MATA KUCING OM. MANA NAD LIHAT!"


"Jangan teriak-teriak."


Nadia mendengus sebal, dia yang mulai dia yang protes. "Om pelan-pelan makanya." Nadia mencengkeram lengan Gibran menahan dirinya untuk kembali berdiri. Gibran merangkul Nadia dengan satu tangannya sedangkan tangan lainnya meraba dinding menuju dapur.


"Nad gak pindahin korek kan?" Tanya Gibran saat keduanya sudah sampai di dapur dan ia tak menemukan korek di tempat seharusnya.


"Gak Om. Nad kan belum bisa nyalain." Jawab Nadia yang sampai saat ini belum lulus belajar menyalakan korek api.


"Nad tunggu disini, Om cari korek dulu."


"Cepetan Om, Nad udah gak tahan lagi." Ujar Nadia berdiri gelisah menahan hasrat yang tak tertahankan lagi. Resiko ibu hamil, Nadia jadi sering sekali buang air kecil. Untungnya ada Gibran yang selalu menamaninya ke kamar mandi seberapa seringpun ia terbangun. Tipe suami idaman yang stoknya mungkin sudah habis di dunia ini. Rejeki wanita solehah memang tidak akan kemana.


Setelah menemukan korek api, Gibran lalu menyalakan lilin yang tinggal setengah batang dan menemani Nadia di depan pintu kamar mandi.


"Di dalam gelap, Om." Lapor Nadia membuka pintu kamar mandi yang tadinya ia tutup.


"Om masuk?" Tanya Gibran menaikan Satu alisnya.


Nadia menggaruk dagunya bingung. Yekali kan masuk dalam kamar mandi sama suami, walaupun sudah pernah buka-bukaan tapi tetap saja malu. "Lilinnya aja." Ucap Nadia akhirnya.


"Disimpan dimana?" Tanya Gibran. Tidak ada sama sekali tempat untuk menyimpan sesuatu dalam kamar mandi. Gibran sudah mewanti-wanti Nadia untuk tidak meletakkan apapun selain peralatan mandi mengingat ruangan itu sangat sempit. Gibran tersenyum geli melihat wajah istrinya. Mikir keras, Nak.


"Om buka pintunya ya." Ujar Gibran akhirnya saat melihat wajah frustasi Nadia.


"Gak boleh ngintip." Nadia memperingatkan.


"Gak bakal. Om udah puas ngel--"


BRAKK!!!


Gibran terkekeh pelan, lucu sekali Nadianya.


***


Wah bener-bener planet lain tempat ini. Mau mengirim chat saja susahnya minta ampun. Nadia terus membatin sembari tangan yang memegang hp ia gerak-gerakkan keatas berusaha menangkap jaringan yang larinya entah kemana.


Saat ini Nadia tengah berada di halaman rumah tepatnya di bawah pohon mangga yang cukup rindang. Gibran seperti biasa masuk kantor sekaligus mengecek gudang senjata sebagaimana tugasnya sekarang. Nadia yang ingin berkirim kabar dengan sahabat-sahabatnya sudah hampir setengah jam mengelilingi halaman mendeteksi spot mana yang kira-kira bisa mendapatkan jaringan internet namun belum ada hasil. Seperti terjebak di dunia lain, Nadia merasa hidupnya terputus dari dunia luar, ia tidak bisa melakukan apapun dengan benda pipih ditangannya padahal ia sudah ingin sekali membagikan momen-momen pertamanya berada di tempat baru pada sahabat-sahabatnya.


"Selamat pagi, Ibu."


Nadia menurunkan tangannya saat Robi menyapa, "Selamat pagi, Om." Nadia meringis menyadari tingkah bodohnya yang melompat-lompat kecil seolah jaringan sesuatu yang bisa ditangkap seperti kupu-kupu.


"Ibu cari jaringan?"


Nadia mengangguk b*doh. Robi yang melihat hal itu mengulum senyum. Wanita di depannya ini bukan hanya lucu tapi juga menggemaskan.


"Kalau disini tidak ada, Bu. Kalau mau, di kantor distrik di sebrang jalan sana yang jaringannya lancar. Ada juga di kantor bapak tapi kalau jarak, lebih dekat yang di sebrang jalan." Jelas Robi.


"Disebrang jalan ya, Pak? Kantor yang ada hutannya itu?" Tanya Nadia karena yang ia lihat hanya ada satu bangunan di sebrang jalan yang di kelilingi oleh tanaman kayu putih.


Robi mengangguk, "Iya, Bu. Biasa rame disitu tapi kalau pagi begini pasti sepi. Lebih cepat lagi internetannya." Tukasnya.


Nadia mengangguk-ngangguk. Boleh juga sih tapi kan itu hutan, kalau ada onyet atau oink-oink kan serem. Nadia menimang ragu-ragu. Kalau menunggu Gibran, sudah pasti sore baru bisa pergi dan tentu saja suaminya itu tak akan mengizinkannya keluar di sore hari.


"Kalau Ibu takut, mari saya temani. Kebetulan saya mau memancing di kali kecil di dekat situ."


Nadia menyengir, "Tidak merepotkan Om?"


Robi menggeleng, "Tidak, Bu. Tidak sama sekali."


Nadia lalu berseru senang, Yes "Sebentar ya Om, Nad ambil sweater dulu."


"Iya, Bu silahkan." Robi menggelengkan kepala takjub melihat istri Kaptennya, benar-benar masih kecil.


"Ayo, Om." Nadia melangkah ringan mengikuti Gibran yang berjalan di depannya. Laki-laki itu membawa toples kecil yang Nadia tebak isinya sudah pasti cacing-cacing menggelikan untuk umpannya. Selain itu ada juga beberapa toples kosong yang Nadia tidak tahu diperuntukkan untuk apa.


"Om sudah berapa lama tugas disini?" Nadia yang tidak biasa dengan kesenyapan membuka pembicaraan. Sepertinya tentara di depannya ini tipe laki-laki yang tidak biasa berbasa-basi.


"Sudah setahun, Bu."


Wow, lama juga. "Om betah?" Tanya Nadia lagi. Siapa tahu saja ia bisa minta tips dan trik sebagai newbe di tempat ini semacam ini dari seorang pendatang seperti Robi.


"Alhamdulillah dibetah-betahin, Bu. Namanya juga tugas dan kewajiban, harus di laksanakan. Ibu, gimana? Kerasan? Sepertinya betah ya, Bu kan ada bapak." Canda Robi.


Nadia mengangguk ragu, "Seperti kata Om, dibetah-betahin. Sebagai istri kan harus ikut kemana suami pergi. Nad ingat tuh waktu siapin nikah kompi, ditanya siap ikut suami ke tempat manapun, Nad bilang siap." Ujarnya, mengingat lagi saat-saat berat itu. Kalau cuma siap-siapnya sih dia bisa tapi kalau pimpinan yang mesti ditemui susah ketemunya, beuh, Nadia rasanya ingin menggorok leher sendiri, mau nikah aja ribetnya ampun-ampunan belum lagi kalau bertemu istri pimpinan yang menyebalkan, haduh auto koprol belakang. Untunglah ia punya Om nya yang sabar sekali dan selalu ikhlas menerima semua amukan dan kekesalannya. Bahkan saat di timpuki tas oleh Nadia gara-gata diminta mengulang berkali-kali, suaminya itu diam saja. Mengingat kebar-bar-nya waktu itu, sepertinya ia harus minta ampun pada suaminya sebelum dikutuk jadi patung seperti roro jongrang.


"Ibu hebat sekali. Masih muda tapi sudah berpikir se-dewasa ini." Puji Robi tulus.


Nadia meringis, ia bukannya dewasa tapi memang semenjak menikah dengan Gibran dan melewati banyak hal bersama, dia jadi susah untuk jauh-jauh dengan suaminya itu. Jadi kalau hanya menyebrang pulau, bukan hal sulit untuknya selama ada Gibran bersamanya.


"Ini tempatnya, Bu. Hati-hati rumputnya licin. Sini payungnya saya pegangkan." Robi berjalan lebih dulu sembari menunggu Nadia melewati turunan yang sedikit curam.


Nadia menyerahkan payungnya pada Robi lalu duduk dengan hati-hati untuk mulai jalan duduk. The girls harus melihat perjuangannya melewati semua ini hanya untuk menyapa mereka. Bahkan benteng takeshi kurang menantang jika dibandingkan dengan jalur yang harus di lewatinya.


Nadia berseru heboh saat sampai disebuah dipan-dipan, bunyi notif pesan masuk bersahutan masuk berebutan dalam hpnya, Alhamdulillah peradaban. Nadia cengengesan melihat ratusan chat masuk yang belum terbaca, banyak sekali yang merindukannya.


Nadia membuka grup utama. Ia terkekeh melihat banyaknya emot airmata berderai dalam grup chat tersebut, sahabat-sahabat bang*atnya, hiks.


The Girls In your Area


SandraDara : Tega lo yah ninggalin kita-kita tanpa permisi, dasar jelangkuuung😭😭😭😭


AleksMark : Nadia kampreeeeet bukan sahabat gueeee 😭😭😭😭


GendisMahesa : Safe flight Nad, Om Gi, maaf gak ngantar 😒


SandraDara : Jahat lo. Kenapa gak ngabariiin?? Nadia etaaaaang 😀😭😭😭


GendisMahesa : Lo oke kan? Lo dapat makan kan? mau kita kirimin? Kirim alamat 😞😭😭😭


AleksisMark : Lo gak mati kaaan? Naaaad woeeeew!!! Kita susulin nih! 😭😭😭


SandraDara : Awas aja Om Gi gak ngurus lo. Gue bubarin fanbasenya 😑


AleksiMark : @SandraDara lo yakin?


SandraDara : Enggak. Om giiiiii 😭😭😭


AleksisMark : πŸ˜’


GendisMahesa : Sehat ya Nad, jaga ponakan dan Om kami πŸ˜‡


SandraDara : Kebalik


AleksisMark : (2)


SandraDara : Naaaaaadddd . mane loo??? 😭😭😭


AleksiMark : Sehat-sehat ya sayang. Doa kami bersamamu 😭


GendisMahesa : Kalau dapat jaringan, kabari kami secepatnya. πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Bibir Nadia tersenyum sedih membaca pesan dari sahabat-sahabatnya. Dia sangat merindukan tiga cewek bar-bar itu. Selalu ada yang akan di korbankan, Nadia mengusap airmata yang mengalir di pipinya. Jika bisa, ia ingin seperti dulu, bersama Gibran tanpa harus jauh dari sahabat-sahabatnya tapi hidup selalu tentang membuat pilihan dan Gibran akan selalu menjadi pilihan utamanya.


"Ibu gak apa-apa?"


Nadia terlonjak, ia baru sadar masih ada Robi ditempat itu. Ia menggelengkan kepala.


"Gak apa-apa, Om. Biasa kangen." Akunya jujur.


Robi tersenyum maklum, "Wajar, Bu. Namanya juga masih awal-awal. Tapi Insya Allah pelan-pelan ibu akan terbiasa dengan ini semua. Lagian kadang jarak dibutuhkan Bu, supaya saat bertemu nanti Ibu bisa merasakan bagaimana nikmatnya rindu. Bisa lebih menghargai keberadaan orang-orang disekitar Ibu."


Nadia menyipit, senyum jenaka terbit di wajahnya "Om ternyata cerewet juga ya. Nad kira cumanya ngejawab doang." kekehan kecil mengikut dibelakang kalimatnya.


Robi yang baru sadar sudah mengatakan banyak hal langsung mengatupkan rahangnya, sebuah senyum malu-malu tersinggung di sudut bibirnya. "Maafkan saya, Bu."


Nadia menggeleng cepat, "Gak apa-apa, Om. Nad senang ada teman bicara. Kalau ngangguk dan ngejawab pendek kayak tadi doang Nad nya jadi sungkan buat ngerocos. Takut Om kabur hehe."


Robi terkekeh, sebuah lesung pipi samar tercetak di pipi tirusnya "Ibu jangan sungkan-sungkan sama saya. Insya Allah saya akan bantu Ibu dan Bapak kalau ada yang dibutuhkan."


Nadia mengangguk, "Terima kasih, Om." Ucapnya tulus. Untuk pertama kalinya Nadia merasa nyaman berbicara dengan laki-laki lain selain Omnya. Robi memiliki aura seorang kakak yang penyayang. Mungkin karena laki-laki itu memiliki seorang adik yang seumuran dengannya.


"Kalau begitu saya memancing dulu ya, Bu. Tidak jauh. Di bawah pohon besar itu." Tunjuk Robi pada salah satu pohon kayu putih yang tak jauh dari tempatnya duduk.


Nadia mengangguk, "Silahkan, Om. Cari ikannya yang banyak."


Robi menghormat "Siap, laksanakan."


Keduanya tertawa bersama tanpa menyadari keberadaan seseorang yang menatap keduanya dengan ekspresi tak terbaca.


***