
"Sayang, ini Om. Ayo buka mata." Bisik Gibran lembut sembari berlutut di lantai dekat ranjang menciumi punggung tangan Nadia.
"Om Giiii" Nadia terus memanggil nama Gibran ditengah-tengah rintihannya menahan sakit. Ini benar-benar sakit. Nadia merasa mules yang sangat menyakitkan. Airmata tak tertahan mengalir dari sudut matanya.
"Om di samping Nad." Gibran bergantian mencium punggung tangan juga kening Nadia berusaha mengantarkan rasa aman untuk istri kecilnya itu. Gibran sangat takut. Diluar kebiasaannya yang tak mengenal rasa takut akan sesuatu yang buruk, setiap hal yang menyangkut Nadia membuat dia menjadi berbeda.
Nadia membuka matanya, bernafas dengan susah payah "Sa---khiiit" Rintihnya menoleh pada Gibran. Peluh mengaliri seluruh badannya.
"Iya sayang, Sakit tapi Nad tahan ya. Untuk adek bayi, untuk Om." Mata Gibran mulai berkaca-kaca. Bayangan buruk akan kondisi Nadia bermain di kepalanya seperti kaset rusak.
"Bu, berkuat ya bu. Sudah bukaan tujuh." Bidan di samping Nadia memberi tahu.
"Nad pasti bisa. Nad gadisnya Om yang hebat." Gibran terus memberikan keyakinan-keyakinan pada Nadia. "Jangan takut. Om temani Nad."
Nadia terisak. Badannya seperti akan diremukkan dalam satu sentuhan. Bayangan Bundanya melintas, Nadia bisa melihat dengan jelas senyum lembutnya. Bunda, maafin Nad, maafin Nad yang bandel bangat. Bunda, ini sakit bangat. Nadia merintih sesak di dadanya mengingat kedua orangtuanya. Seorang ibu mempertaruhkan nyawanya demi nyawa yang lain, layak rasanya menempati posisi mulia baik di dunia maupun di surga.
"Saya hitung sampai tiga ya, Bu, lalu berkuat."
Nadia menarik nafas lalu menghembuskannya dengan serampangan "Hof hof hooof"
"Satuuuuuu, duaaaaa, tiiiiigaaaa berkuat Bu Nadia."
"Arghhhhhh.... "
"Ayo bu sedikit lagi."
Nadia menggeleng. Ia tidak kuat lagi. Nafasnya terputus-putus. Pandangannya mulai berkunang-kunang dan langit-langit puskesmas seolah akan terbalik.
"Ayo, Bu, sedikit lagi. Tetap sadar Bu Nadiaaa. Ayo pasti bisa." Bidan terus saja memberi semangat pada Nadia yang tampaknya sudah kehabisan tenaga.
Gibran mulai panik. Mata Nadia akan tertutup, cepat-cepat di kecupnya kedua bola mata Nadia membisikkan kata-kata penguat "Nad, ayo sayang. Nadia pasti bisa. Mau ketemu adek bayi kan? Jangan tidur, please." Gibran menciumi seluruh wajah Nadia yang pucat pasi. Keringat membajiri badan hingga membuat semua pakaian Nadia basah kuyub.
"O-om, N-nad gak khuat." Nadia berujar dengan nafas lemah.
Gibran menggeleng kuat, "Bisa, Nad. Nad kuat."
"Ibu, kalungkan tangannya di leher bapak. Berpegangan disana yang kuat. Saya hitung lagi ya, Bu, satuuuuu--"
"Nghhhhhhhh"
"Duaaaaaa"
"Nghhhhhhhhh"
"Tiiiigaaaaaa"
"Nghhhhhhhhhh"
"Ayo, Bu Nadia, kepalanya sudah kelihatan. Tarik nafas lagi hembuskan."
"Suuus---" Nadia menggeleng kuat. Dia sudah tidak sanggup lagi.
"Pak, miringkan badannya!"
Gibran lantas dengan cepat menarik Nadia untuk menyamping. Kedua tangan Nadia di kalungkan di lehernya, "Nad, Nad bisa. Om nungguin Nad disini." Setetes bening mengalir di sudut matanya. Nadia melihat semuanya dengan jelas, bagaimana Gibran menangis untuknya, khawatir akan dirinya.
"Bu Nadia. Sekali lagi ya Bu. Satuuu--"
"Arggggggghhh!!!"
Blussssh!!!!
Bunyi air tumpah diiringi suara tangisan bayi mengisi ruangan berukuran tak terlalu luas itu bersahutan dengan ucapan takbir dan syukur dari mulut Gibran.
"Allahu akbar. walhamdulillah." Gibran menciumi puncak kepala Nadia berkali-kali "Selamat sayang." Bisiknya haru. Senyum kecil terukir di wajah letih Nadia.
"Bayinya perempuan Pak, Bu, selamat ya, sangat cantik." Ujar Bu Bidan tersenyum lebar.
Gibran mengusap sudut mata dengan punggung tangannya lalu menatap Nadia dengan bangga, "Dia pasti cantik seperti Ibunya."
Nadia mengangguk kecil. Disampingnya Gibran terus menciumi tangannya sembari tak berhenti mengucap syukur pada yang maha kuasa. Airmatanya tak ditahan sama sekali. Ia tidak peduli dianggap cengeng atau banci karena ketakutannya akan Nadia benar-benar sangat layak. Dokter sudah memperingatkan kemungkinan pendarahan hebat pasca melahirkan tapi melihat keadaan Nadia, ia benar-benar sangat bersyukur karena Allah sudah memberikan kekuatan kepada gadis kecilnya itu untuk melahirkan normal.
Nadia tersenyum lemah. Rasa lelah membuat ia tidak kuat untuk terus membuka mata "Om, Nad ngantuk." ujarnya lirih
Gibran panik "Suster, istri saya--" ucapannya menggantung.
Bidan yang sedang membungkus bayi dengan kain lembut lantas menyerahkan bayi tersebut pada Gibran "Tidak apa-apa, Pak. Ibu hanya lelah. Bayinya boleh di iqamatkan." Ujar Bidan, kemudian mendekati Nadia setelah menyerahkan bayi kecil itu pada ayahnya. Di tepuknya pipi Nadia pelan namun cukup mampu membuat Nadia tetap terjaga, "Tetap sadar ya Bu, kita bersihkan dulu."
Sementara itu Gibran menatap bayi kecilnya dengan penuh haru. Di kecupnya bayi kecil itu lalu mulai melantunkan iqamat di dekat telingannya. Bayi tersebut tampak sangat tenang dalam buaian ayahnya, seolah meresapi lantunan kalimat-kalimat Allah yang memenuhi ruangan tersebut.
Gibran kembali menyarangkan ciuman selamat datang setelah selesai melantunkan bacaan kalimat tasbihnya. Dia sekarang officially seorang ayah.
"Say hi to ibu." Ujar Gibran mendekatkan bayi itu pada Nadia.
Nadia tersenyum lembut. Airmata menetes di pipinya melihat buah cintanya bersama Gibran yang sudah ditunggui selama sebulan akhirnya hadir di dunia dengan sehat dan selamat.
"Selamat datang di dunia adek bayi. Ini Ibu." Ujarnya lirih diantara isakannya. Ia tidak percaya dirinya bisa melahirkan bayi sehat dengan cara normal. Ia sudah membayangkan sebelumnya perutnya di belah dan melewatkan nikmatnya melahirkan normal tapi ternyata Tuhan berencana lain. Kehamilannya yang rawan masih bisa di lewati dengan kelahiran normal.
Gibran meletakkan bayi kecil mereka di samping Nadia yang masih sangat lemah. "Cantik bangat kayak Nad." Puji Gibran mengecup kening Nadia dengan sayang. "Sangat cantik persis Ibunya." tambahnya dengan senyum cerah penuh kelegaan. Nadia menunduk untuk mengecup bayinya di bantu oleh Gibran.
"Jadi anak solehah ya sayang." Ucap Nadia penuh harapan dan doa.
Pasangan orangtua muda itu larut dalam euforia kebahagiaan sampai-sampai tidak menyadari keberadaan seseorang yang berdiri terpaku di depan pintu yang tertutup. Valeria menatap pemandangan di depannya dengan perasaan campur aduk, patah hati dan juga malu secara bersamaan. Bisa-bisanya dia bodoh tidak menyadari kalau Gibran lah suami Nadia bukan Robi seperti sangkaannya. Jika sudah begini, apa yang harus dia lakukan sementara kalau mengingat kejadian tempo hari bersama Nadia, ia telah di permainkan. Bagaimana ia menghadapi Nadia kelak? Valeria menghembuskan nafas pelan, lebih dari perasaan malu, patah hati adalah penyebab yang mendominasi sesak yang dirasakannya. Ia di tolak bahkan sebelum berjuang.
Untuk mengurangi sesak di dadanya dari pemandangan keluarga kecil bahagia di depannya, ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu. Anehnya, meskipun telah nyata Gibran adalah milik orang lain, perasaan itu tidak juga terasa salah. Untuk pertama kalinya ia merasakan patah yang benar-benar patah.
Arghhhhhhhh!!!
Valeria menoleh kebelakang saat mendengar suara teriakan Nadia dari dalam disusul dengan kata-kata manis yang diucapkan oleh Gibran, lelaki yang telah mematahkan hatinya.
Menyukai suami orang, apakah ia melanggar hukum?
***
"Nanti setiap pagi dan sore ibu mandi air panas ya, Pak. Airnya benar-benar panas, jangan hangat. Siapkan juga kain atau apapun untuk melilit perut Ibu. Nanti bayinya biar kami yang datang untuk memandikannya."
Gibran mengangguk mendengar penjelasan Bidan dengan penuh perhatian. Mereka sudah kembali ke rumah setelah empat jam berada di puskesmas.
"Jangan yang bersantan atau yang pedas ya, Pak. sebaiknya yang bening-bening saja agar Asinya lancar."
Gibran mengangguk lagi. Disampingnya Nadia tampak asik mengelus-elus pipi bayi kecil mereka. Gibran tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya, diusapnya rambut Nadia dengan sayang.
"Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, kami permisi, Pak." Bidan dan seorang suster pamit undur diri. Melihat sikap manis Gibran membuat dua wanita muda itu envy. Dalam diam ternyata laki-laki sedingin Kapten di depan mereka ini sangat lembut dan perhatian pada anak dan istrinya. Nadia benar-benar beruntung.
"Oh, baik suster. Terima kasih banyak." Gibran berdiri hendak mengantar tamunya. "Om ke depan sebentar."
Nadia mengangguk, tak lupa mengucapkan terima kasih pada Bidan dan suster yang telah membantu persalinannya.
Setelah mengantar Bidan dan suster sampai di depan pintu, Gibran kembali masuk kedalam kamar menemui anak dan istrinya.
"Lucu ya Om, pipinya gembul."
Gibran mengangguk, "Persis Nad waktu bayi dulu." Ujarnya, menatap penuh cinta pada bayi kecil yang sedang terbaring di samping ibunya.
Nadia menoleh dengan wajah tak percaya, "Emang iya, Om? Nad segembul ini juga?"
"Iya. Om dulu suka uyel-uyel pipi Nad kayak gini." Gibran menangkup pipi Nadia dan menguyel-uyelnya.
"Ish, Om mah--" Nadia memberenggut sebal.
Gibran melepaskan tangannya berikut tawanya "Lucu."
"Lucu apaan." Gerutu Nadia. Iya lantas memperhatikan penampilan Gibran yang masih lengkap dengan seragamnya. Sejak tadi bersama suaminya itu, tidak disadarinya Gibran masih mengenakan pakaian kantor lengkap. "Om kok udah pulang? Biasanya nanti lepas maghrib baru sampai."
Gibran duduk di pinggir ranjang sembari melarikan tangannya mengelus lembut rambut Nadia. "Kegiatannya di tunda. Ada kunjungan dadakan dari Jakarta. Alhamdulillah Allah ngasi jalan buat Om temenin Nad melewati semua ini." Ujar Gibran penuh syukur. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau dia tidak pulang dan ikut berjalan-jalan di kota bersama dengan rekannya yang lain. Dia sudah diajak untuk bergabung tapi keinginannya untuk pulang lebih besar ternyata itu firasat yang tak disadarinya mengenai kelahiran anak mereka.
Nadia manggut-manggut. Ia menangkap keberadaan koper persiapannya yang tak tersentuh sama sekali di dekat jendela. Mereka sudah menyiapkan segalanya untuk kelahirannya. Kelegaan dan syukur memenuhi perasaan Nadia. Rasa takut melahirkan yang selama ini ia simpan sendiri ternyata tak terbukti. Ia bangga pada dirinya yang sudah memberikan perjuangan terhebatnya untuk sebuah kehidupan baru, bayi kecil mereka.
Nadia menunduk kearah Gibran yang masih setiap menciumi tangannya kala teringat sesuatu. "Om udah punya nama untuk adek bayi?"
Gibran mengangkat kepalanya lalu menatap lama pada buah hatinya, sebuah senyum kecil melengkung di bibirnya. "Navia. Ayara. Gibran." ucapnya dengan penuh perasaan "Suka?"
Nadia terdiam sebentar, seolah berusaha teringat sesuatu. "Kok Navia nya mirip Nadia Om? Gak bakal ketukar tuh?" Mereka bahkan berbagi huruf yang sama, menyisakan D dan V sebagai pembeda.
"Saya suka. Nama Nadia juga dari Om." Jelas Gibran yang membuat Nadia tidak bisa untuk tidak terkejut. Ini fakta baru yang diketahui oleh Nadia. Namanya yang selama ini menjadi identitasnya ternyata pemberian dari suaminya sendiri.
"Pantas gak keren." Celetuk Nadia dibarengi senyum kecil di bibirnya. Selama ini ia selalu bertanya-tanya kenapa orangtuanya memberi nama yang sedikit pasaran dan terdengar sangat biasa beda dengan Aleksis, Sandra bahkan Gendis yang keren didengar ternyata yang memberikannya adalah seorang Gibran Al Fateh si pria old style. Tapi, Nadia suka apalagi jika Gibran yang menyebutnya. Sangat manis.
"Gak suka?"
"Suka. Suka bangat. Artinya apa?"
Gibran menggaruk belakang telingannya, kebiasaannya kalau merasa malu. Nadia menyipit, selalu penasaran jika Gibran sudah bertingkah menggemaskan seperti itu.
"Apa?" Tuntut Nadia tak sabar.
"Gak ada--"
"IH!!" Nadia memukul lengan Gibran gemas. "Om masa ngasi nama gak ada artinya sih."
Gibran berdehem, "Ya gak ada. Kalau penasaran Nad cari tau sendiri saja." ujarnya melarikan pandangannya ke tempat lain. Wajah Gibran merona mengundang kernyitan Nadia.
"Dih, wajahnya merah." Nadia mencolek pipi Gibran yang tersipu.
"Ck." Gibran menjauhkan tangan Nadia dari wajahnya. "Om mau mandi." Gibran berdiri cepat dan tanpa bicara lagi langsung keluar kamar.
Nadia mengerutkan dahi, menoleh pada putri kecilnya, "Dih kenapa tuh ayah kamu, Dek?" Dibelainya kepala bayinya yang dipakaikan penutup kepala dengan sayang. Senyum kecil terbit di wajahnya, menatap sang putri dengan penuh cinta "Halo, Navia Ayara Gibran, selamat datang di dunia."
***
"Minum"
Valeria menoleh, Rani datang bersama segelas kopi susu sachet yang diseduhnya sendiri.
"Thanks." Ucap Valeria tersenyum kecil. Wangi kopi bercampur susu menguar memanjakan penciuman keduanya.
"Patah hati lo?" Rani si wajah lugu sebenarnya adalah pribadi yang to the point. Keterusterangannya tersamarkan oleh wajahnya yang polos. Disampingnya Valeria tersenyum miring.
"Emang lo enggak?"
Rani terkekeh, "Nyeri sih tapi sedikit. Cukup di sembuhin dengan melihat lo patah hati."
Valeria mendelik. Asem bangat ni anak. "Bahagia bangat lo liat gue kek gini?"
Rani mengangguk tanpa berpikir seolah memang itu yang ada dikepalanya setiap waktu. Valeria semakin kesal dibuatnya.
"Kampret bangat lo jadi orang."
"Samalah kayak lo." Balas Rani lalu beberapa detik kemudian tawanya pecah. Ia sampai memukul-mukul meja untuk menambah semarak suasana.
"Lo!" Valeria menahan geramannya.
"Udah, lo jangan bete. Ngeri gue liat wajah nelangsa lo. Pengen gue kubur rasanya." Tukas Rani setelah tawanya reda.
Valeria membelalak, "SETAAAN!!!"
Maharani kembali memuncratkan tawanya mengabaikan wajah masam dan jengkel Valeria.
"Se-setan-setannya gue, gue gak sampai mikir buat ngerecokin rumah tangga orang."
Valeria tertegun, kedua tangannya saling meremas kuat mendengar penuturan Rani. Apa wajahnya sejelas itu untuk dibaca?
"Jatuh cinta jangan sampai membuat lo jadi picik. Cukup gue, jangan orang lain." Setelah mengatakan itu, Rani beranjak meninggalkan Valeria seorang diri.
Kenapa cinta pertama gue harus gugur sebelum berkembang? Valeria menangkup wajahnya dengan kedua tangan. Ini kali pertamanya ia merasakan perasaan spesial pada seorang laki-laki. Tapi sekalinya jatuh, kenapa harus pada orang yang sudah dimiliki?!
***
Guys readerkuuuuu maaf bangat kalau feel pas nadia lahirin gak dapet bangat coz author belum ada pengamanan kesana hihihiii... maklumi yaaaa.
Katakan Halo pada anggota club baru kita, Navia Ayara Gibran, si anak kolong.