Little Persit

Little Persit
Kemerdekaan Tak Abadi



Nadia tidak bisa berhenti tersenyum sejak subuh tadi. Bahkan saat Pia rewel susah di tebak inginnya Ibu muda itu masih bisa tersenyum lebar. Biasanya kalau Pia sudah seperti ini ia pun akan ikut menangis bersama si putri gembul tapi karena dia sedang bahagia maka tangisan Pia yang tak kunjung berhenti tak begitu mengusiknya.


"Nad, kok Pia dibiarkan menangis?" Gibran yang baru pulang dari jogging tergopoh menghampiri keduanya yang tengah duduk di taman belakang. Dipikirnya terjadi sesuatu dengan anak mereka dan tidak ada Nadia yang melihatnya ternyata istri yang terlihat santai dengan dress rumahannya itu sedang menggendong Pia.


"Gak apa-apa, Om. Pia lagi olahraga jantung. Kata Bu bidan bayi menangis pagi-pagi itu bagus." Jelas Nadia enteng.


"Emang iya?" Gibran yang tidak punya pengetahuan tentang bayi bertanya sangsi.


"Iya kali."


"Lho?" Gibran menggelengkan kepala heran. Istrinya ini ada-ada saja. Dia yang menjawab dia juga yang tidak yakin. Lelaki yang mengenakan jaket bumper itu mengambil Pia dari gendongan sang Ibu yang masih juga tersenyum cerah. Bahkan cerahnya langit Ibukota pagi ini kalah oleh senyumannya.


"Kamu aneh. Sakit?" Gibran meletakkan punggung tangannya dikening Nadia. Heran saja melihat Nadia berbunga-bunga seperti ini sementara Pia sedang menangis dan lagi ia melupakan janjinya untuk jogging bersama. Bukankah gadis nakalnya ini harusnya mengamuk? Atau ini cara lain sang istri mengekspresikan kemarahannya? Kalau ia, berarti dia dalam masalah besar sekarang.


"Om tebak dong ini hari apa?" Tanya Nadia bergelayut manja di lengan berotot Gibran.


"Minggu." Jawab Gibran tanpa berpikir. Nadia manggut-manggut dengan senyum yang semakin lebar. Aneh.


"Seratus buat Om sayang. Hari ini hari minggu sekaligus hari kemerdekaan Nad." Ujar Nadia menampuk kedua tangannya bahagia. Gibran dan Pia saling melirik. Sejak kapan gadis cantiknya ini terjajah?


"Oh." Ujar Gibran akhirnya. Pia yang sudah berhenti menangis mengerjap memandang ayahnya yang mulai kembali memasang wajah santai mendengar penuturan Ibunya.


"Oh?" Nadia melipat tangan kesal sembari menatap Gibran tak terima. "Gak mau nanya-nanya Nad merdeka untuk apa?"


"Tidak perlu. Yang penting Nad sudah merdeka, saya turut bahagia. Iya kan Pia?" Gibran mencolek pipi gembul Pia yang memamerkan gusinya seolah menyetujui apapun yang diucapkan ayahnya.


"Ck. Nanya dong Om, nanya. Gak asik bangat." Omel Nadia kembali menyelipkan tangannya di lengan Gibran. Kepalanya ia sandarkan di bahu laki-laki itu sementara bibirnya mengerucut. Penasaran kek, apa kek. Sungutnya dalam hati.


"Memangnya merdeka dari apa?"


"Huuummm" Nadia menjentikkan jari, senyumnya kembali terulas, "Merdeka dari tante-tante rese penghuni penjara tanpa teralis. Keren kan?"


"Saya tidak mengerti." Ucap Gibran bingung. Baru kali ini ia tidak memahami bahasa persatuan negera tercintanya meskipun Nadia mengucapkannya dengan jelas, "Penjara tanpa teralis?"


Nadia mengangguk semangat, "Hu-um. Asrama, itu kan kayak penjara. Gak ada teralis tapi Nad gak bebas ngapa-ngapain. Mau karaoke aja gak bisa. Ada aja yang julid. Walaupun gak semuanya sih tapi tetap aja Nad gak bisa hidup dibawah tekanan seperti itu terus. Nad bisa tua mendadak." Jelas Nadia panjang kali lebar, "Huhuuuuu untung Om gak di batalyon lagi. Nad gak perlu deh tinggal di asrama."


"Jadi selama ini Nad tersiksa tinggal di asrama?"


"Dikit." Jawab Nadia jujur. Ia tak mau menyangkal fakta bahwa terlepas dari kekompakan dan kekeluargaannya, hidup diasrama tetap saja punya dramanya sendiri terlebih dengan adanya beberapa jenis orang yang tidak bisa hidup tenang tanpa mengomentari urusan orang lain. Tentu saja Nadia senang bisa mengenal ibu-ibu diasrama yang baik tapi lebih senang lagi jika ia tak perlu mendengar komentar sinis tentang dirinya yang tidak becus menjadi seorang istri. Oh Tuhaaan, itu sangat menyebalkan.


"Kenapa tidak pernah bilang?" Tanya Gibran serius.


"Karena Nad bukan tukang ngadu. Lagian kalaupun Nad ngadu emang Om mau ngapain? Minta surat pindah? Atau demo sama atasan?" Nadia berujar kesal. Tentu saja Gibran hanya akan menepuk kepalanya dan berkata, sabar Nad ini ujian.


"Tidaklah."


Tuh kan!


***


Well, sepertinya kata merdeka jauh dari hidup seorang Nadia. Bebas dari asrama tidak berarti bebas dari pertemuan ibu-ibu berseragam lavender ini. Oh My God, terkadang Nadia berharap jadi ibu rumah tangga saja setidaknya ia hanya perlu mengunjungi pasar ikan bukan pertemuan seperti ini.


"Ibu Gibran, mohon partisipasinya dalam kegiatan rutin ini. Kami mengerti status ibu sebagai seorang mahasiswi yang memiliki tugas setiap hari tapi bukan berarti Ibu bisa mengabaikan tugas-tugas dari sini. Ibu-ibu lain disini juga punya urusan lain tapi tetap bisa hadir di pertemuan pekanan. Tolong jangan ulangi lagi atau terpaksa kami akan menghubungi Pak Gibran."


Astaga astaga astagaaaaa... Demi tuan crab yang lebih mencintai uang daripada hidupnya, tolonglaaah ini hari pertamanya bergabung pasca kepindahan Gibran tapi sudah ada saja drama baru.


"Bu Gibran dengar saya?"


"Siap, dengar."


"Baik. Silahkan bergabung dengan kelompok."


"Siap, laksanakan."


Nadia keluar dari ruangan ibu ketua sembari mengusap keningnya yang berpeluh. Tadi itu benar-benar menegangkan. Ia hanya tidak datang di pertemuan pertama tapi sudah mendapatkan teguran seperti ini. Alasannya pun kuat, mengikuti kuliah wajib yang bisa menolongnya di ujian semester. Lagian ia sudah diizinkan tapi kenapa Ibu ketua bersikap seolah-olah ia alpa tanpa izin? Benar-benar drama yang tak berkesudahan. Sudahlah, just enjoy the trouble, Nad. Life must go on. Yeah, semangat! Nadia mengepalkan tangannya ke udara lalu bergegas kembali bergabung dengan ibu-ibu lain.


"Selamat sore, ibu-ibu." Sapa Nadia ramah. Empat orang ibu-ibu yang menjadi kelompoknya yang tengah asik bergosip menoleh padanya. Keempatnya tersenyum hangat.


"Selamat sore, Ibu Gibran. Silahkan duduk."


"Terima kasih." Nadia duduk disalah satu kursi kosong yang memang disediakan untuknya, "Maaf saya terlambat. Tadi dipanggil Ibu ketua."


"Tidak apa-apa, Bu. Dimaklumi. Oh ya, saya Sartika, istri lettu Irwan." Ibu berkacamata yang duduk disamping kanannya mengenalkan diri, "Senang bertemu dengan istri Kapten Gibran yang legendaris itu." candanya.


Nadia menyengir, ramah. Batinnya menyemangati, "Nadia. Istri Kapten Gibran. Mohon bimbingannya." Ucap Nadia menyambut uluran tangan Ibu Irwan.


"Saya meliza, istri Lettu Pomad."


"Nadia." Sambut Nadia pada wanita berambut sebahu kecoklatan yang khas dengan logat bataknya.


"Dian, Istri Sertu Jefri."


"Nadia." Senyum Nadia semakin lebar saat Ibu Jefri tersenyum lembut menampakkan lesung pipinya. Manis.


"Dara. Istri Lettu Salman."


"Nadia."


Fix, Nadia suka empat ibu-ibu ini. Kesan pertama mereka cukup baik. Setidaknya senyum sinis Ibu Ketua terobati dengan keramahan empat anggota kelompoknya ini. Oke, tidak buruk.


"Selamat sore semuanya."


"Selamat sore."


Senyum Nadia luntur seketika. Ibu Ketua masuk dalam ruangan dengan langkah tegak khas istri seorang tentara. Sanggulnya rapi tapi gagal cantik karena bibirnya sama sekali tidak dihiasi senyum ramah. Nadia menghela nasaf pelan, ia tidak mau mendapat amukan kedua kalinya karena alasan yang dibuat-buat.


"Hari ini kita kedatangan anggota baru. Seharusnya dari minggu lalu tapi karena sibuk--" Ibu Ketua melirik Nadia dengan senyum lurus menekankan kata sibuk secara berlebihan, "makanya baru bisa hadir. Bukan begitu ibu Gibran?"


Nadia terkesiap. Gue lagi?


"Siap, benar." Jawab Nadia cepat. Dia sudah tahu rumusnya, pimpinan selalu benar.


"Silahkan perkenalkan diri di depan."


Nadia si ketua genk bar-bar tidak pernah gentar dengan yang namanya perundungan. well ini bisa menjadi salah satu jenis perundungan yang dilakukan dengan cara bermartabat. Sulit dipercaya Nadia kembali pada lingkaran setan ini.


"Izin memperkenalkan diri. Nama lengkap saya Nadia Gaudia Rasya. Istri dari Kapten Gibran Al Fateh, pindahan dari Batalyon 723 Cendrawasih. Terima kasih."


"NRP?"


"Ya?"


"NRP?" Ulang Ibu Ketua dengan senyum yang lebih lebar, jenis senyum puas melihat Nadia terjebak.


Mampoooos, gue lupa lagi NRP Om Gi. Nadia mengutuk otak cantiknya yang bisa-bisanya lupa hal penting ini.


"NRP Mmm--" Nadia bergumam tidak jelas. Berharap tiba-tiba ada hujan badai yang mengangkat atap bangunan ini dan mereka bubar jalan.


"Ibu-ibu, lihatlah! Ini contoh yang sangat tidak terpuji. Bagaimana mungkin seorang istri melupakan NRP suaminya? Sangat sulit di percaya. Memalukan!"


Nadia menunduk dalam. Oke ini salahnya karena tidak melakukan persiapan dini sebelum datang ke sarang macan lavender tapi kan dia tidak sengaja lupa. Lama tidak diminta menyebut NRP suami membuatnya sedikit terlena.


"Bagaimana menurut Ibu Gibran? Apa hal seperti ini dibenarkan?"


"Siap, salah." Nadia mendongak dengan punggung tegap. Pantang bagi seorang istri prajurit meluruhkan badan. Terlebih dirinya adalah istri dari seorang Kapten Gibran Al Fateh. Nadia menatap mantap ke depan. Tidak apa-apa salah, asal tidak keterusan.


"Kembali ke tempat."


"Siap, laksanakan."Nadia menarik nafas dan menghembuskannya dengan pelan. Hari yang berat.


"Sabar."


Pertemuan sore itu berlanjut hingga jam setengah enam. Nadia keluar ruang pertemuan beriringan dengan Bu Salman dan Bu Jefri sementara Bu Irwan dan Bu Pomad sudah dijemput lebih awal.


"Ibu ketua ada masalah kali ya? Tumben sekali auranya kelam." Bu Salman memulai obrolan.


"Aura kelam gimana Bu Salman?" Tanya Bu Jefri tidak paham.


Nadia yang mendengar cukup terhibur mendengar pilihan kata Bu salman tentang Ibu Ketua mereka. Kelam, suram dan horor, tambahnya dalam hati.


"PMS?" Bu Salman menambahkan.


Nadia sebagai orang baru tak memiliki pendapat sebab ini kali pertamanya bertemu Ibu Ketua. Ia tidak tahu apakah sebelumnya Ibu Ketua ini memang sudah ganas atau hanya pada dirinya saja.


"Oh itu. Entahlah, Bu. Mungkin ada masalah keluarga. Tau sendiri kan Pak Danki sedang terseret kasus."


Kasus? Nadia memasang telinga baik-baik. Salah satu yang keren dari sebuah pertemuan adalah adanya info-info penting untuk disimak. Menambah wawasan pelajaran hidup lah yah. Alaaah bilang aja memang lo hobi ngeghibah, Nad. Hati kecil Nadia yang masih putih mencibir.


"Bisa jadi." Timpal Bu Salman manggut-manggut.


"Memangnya kasus apa, Bu?" Tanya Nadia setengah berbisik.


"Itu lho Bu, Pak-- Eh, itu Pak Gibran bukan?" Bu Salman menunjuk kearah parkiran dimana Gibran telah menunggu diatas motor gedenya. Seketika Nadia lupa niatnya menggali informasi.


"Maaf ya Bu Salman, Bu Jefri. Saya duluan."


"Iya, Bu Gibran. Tidak apa-apa. Jemputan kami juga sudah otewe." Ujar Bu Salman yang diangguki Bu Jefri.


"Saya pamit ya, assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Bu." Jawab Bu Salman dan Bu Jefri berbarengan.


Nadia mengangkat sedikit rok selututnya lalu berlari kecil menghampiri Gibran.


"Gak usah lari-lari." Sambut Gibran berdiri menangkap Nadia yang melompat untuk memeluknya. Istrinya ini memang tidak memilih tempat untuk bermanja padanya. Tidak peduli masih banyak pasang mata yang melihatnya, ia tetap bersikap apa adanya.


"Lama nunggu?" Nadia mengecup punggung tangan Gibran yang dibalas kecupan sayang di rambutnya oleh Gibran.


"Setengah jam yang lalu."


"Haduh kacian cayangnya Nad. Makasih ya udah nungguin." Nadia tersenyum geli melihat Gibran menatap datar padanya. Susah memang modelan Nadia yang super atraktif dihadapkan dengan Gibran si papan setrikaan.


"Mau langsung pulang atau?" Gibran duduk diatas motor disusul oleh Nadia.


"Langsung pulang aja. Nad capek. Besok kuliah pagi." Kata Nadia sambil memperbaiki posisi duduknya agar lebih nyaman, "Kenapa gak pake mobil aja?" Tanyanya saat merasakan rok yang ia kenakan menyulitkannya bergerak.


"Lagi di servis. Atau Nad naik Grab aja?"


"Gak. Sama Om aja. Nad bisa tetap meluk kok." Selepas kalimatnya Nadia langsung merebahkan kepalanya di punggung Gibran meski sedikit tidak nyaman karena helm yang ia kenakan.


"Pegangan kuat." Gibran menarik tangan Nadia untuk melingkari perutnya.


"Rok Nad keangkat." Keluh Nadia, tak nyaman rok pendeknya tidak menutup sempurna lututnya.


Gibran menoleh kebelakang untuk mengecek situasi Nadia. Dan benar saja, rok istrinya yang terangkat memamerkan tungkainya yang jenjang. Berdecak pelan, Gibran melepas jaket yang ia kenakan.


"Tutup kaki kamu."


"Gimana caranya?" Tanya Nadia bingung. Berpegangan saja ia kesulitan apalagi sekarang harus menahan jaket untuk menutupi kakinya.


Gibran turun dari motor begitupun Nadia. Ia kemudian mengikatkan jaket miliknya di pinggang Nadia. Terlihat kelegaan diwajahnya saat melihat jaket miliknya menutup kaki Nadia sempurna.


"Ayo." Gibran sudah kembali duduk diatas motor. Tangannya terulur kesamping untuk menjadi penahan Nadia yang berusaha naik diatas motor.


"Maghriban dijalan aja ya Om. Takutnya kena macet." Ujar Nadia setelah duduk dengan baik. Gibran mengangguk setuju. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan pulang.


***


"Nad ada telfon?"


Nadia yang tengah sibuk mengetik mengangkat kepalanya dari layar laptop, "Siapa Om?"


"Nomor baru."


"Oh. Biarin aja. Gak kenal."


Gibran yang memiliki ingatan kuat tahu betul nomor tersebut yang juga mengirimi pesan pada Nadia beberapa waktu lalu menimbang untuk mengangkat nomor baru itu atau tidak. Setidaknya ia bisa tahu siapa yang sedang berusaha mengakrabkan diri dengan sang istri. Karena jika Nadia, istrinya itu tidak akan segan untuk langsung menghapus atau memblokirnya. Nadia se-simple itu.


"Yakin? Mungkin saja penting dari kampus." Ujar Gibran sembari menatap nomor tersebut.


"Gak mungkin Om. Kalau info kampus paling lewat grup kelas." Terang Nadia sembari melanjutkan ketikannya. Gibran mengangguk setuju. Akhirnya ia membiarkan saja hp itu terus bunyi. Nadia tidak terganggu jadi tidak masalah. Anggap saja backsound untuk menemani Nadia belajar.


"Mau susu?"


"Susu pisang?"


Gibran mengangguk meskipun tadinya ia menawarkan susu biasa, "Iya."


"Boleh." Nadia menjawab tanpa menoleh.


Gibran kemudian keluar kamar untuk membuat susu pisang kesukaan sang istri.


"Bapak perlu sesuatu?" Tanya Bibik saat mendapati majikannya berada di dapur.


"Mau bikin susu pisang untuk Nad. Pisangnya masih ada kan, Bik?"


"Ada Pak didalam kulkas. Biar saya saja yang buat. Nanti saya antar dikamar Non Nadia."


Gibran menggeleng, "Tidak usah, Bik. Terima kasih. Bibik istrahat saja." Tolak Gibran mengeluarkan satu buah pisang dari dalam kulkas.


"Baik, Pak." Bibik kembali ke kamarnya setelah menyiapkan blender untuk Gibran.


Gibran masuk ke dalam kamar membawa segelas susu pisang ditangannya. Nadia masih dalam posisi yang sama mengetik dengan serius. Kacamata anti radiasi terpasang cantik di hidung mancungnya.


"Minum." Gibran menyerahkan gelas susu tersebut pada sang istri. Nadia menoleh dan langsung tersenyum lebar saat mencium aroma pisang dan susu yang menyatu dalam gelas yang dipegang Gibran.


"Makasih sayang." Ujar Nadia setelah meneguk susu tersebut hingga setengah gelas.


"Makasih saja?" Tanya Gibran menyeka sudut bibir Nadia yang meninggalkan setetes susu pisang.


Nadia menyipit, seulas senyum menggoda terbit diwajahnya, "Deketan sini." Ucapnya menarik kaos depan Gibran. Lelaki itu lantas menunduk dan---


Cup.


"Makasih ayahnya Pia, sayangnya Nad. Baik bangat deh." Nadia mengusap pipi Gibran lembut.


Senyum Gibran merekah, "Manis. Lagi ya." lalu tanpa menunggu persetujuan Nadia, Gibran menautkan kembali bibir mereka. Ia tidak akan pernah puas dengan satu kali kecupan. Nadia terlalu manis untuk dilewatkan. Disisi lain Nadia hanya bisa pasrah merelakan waktunya.


Udahlah, begadang lagi gue malam ini.


***


Thank you ya buat readers yang udah ngingetin kalau ada kesalahan di tulisan author. Author berusaha memperbaiki. selebihya kalau kisahnya terkesan drama, emang ini drama hasil halu author jd maklumi. 🤣


Betewe ini Om Gi lagi Nungguin istri tersayang. Makasih loh yang udah nemuin gambar ini. hihihihiii...


Cakep ya suami orang... 😆