
"Duduk!"
Biasa aja kali. Gak usah pake tanda seru segala. Nadia melirik Gibran sebal yang berdiri di samping kursi seperti seorang fir'aun yang siap menghukum pancung rakyatnya yang menolak menyembahnya. Nadia duduk di kursi masih dengan menggunakan mukenah lengkap. Kedua tangannya melipat diatas lutut.
"Jadi Nad mau diapain nih?" Tanyanya mendongak. Ia memasang wajah pasrah yang malah terlihat menggemaskan di mata Gibran.
Jangan lengah, Gibran. Gibran mengingatkan dirinya sendiri. Sedikit lengah, introgasi ini akan bubar jalan dan makhluk manis di depannya ini pasti memyorakinya.
Gibran tak langsung berbicara. Ia menyerahkan segelas susu hangat pada sang istri yang diterima dengan suka cita.
"Thanks."
Gluk gluk gluk---
"Gak usah buru-buru." Peringatnya saat Nadia meneguk dengan terburu-buru.
Nadia mengangguk dengan kedua bola mata melirik Gibran diam-diam. Lelaki itu masih menatapnya dengan datar tanpa ekspresi.
"Kenapa sampe sore gini baru pulang? Kalau begini terus kelakuan kamu, tidak ada izin lagi untuk keluar--jangan potong."
Nadia mengatupkan kembali rahangnya saat Gibran menegur untuk tidak memotong ucapannya. Padahal dia cuma mau bilang kalau ini masih siang. Nadia mengangguk patuh.
"Jangan ulangi lagi. Lupa waktu, lupa solat. Gak baik. Dengar Nad?"
"Dengar, Om. Nad keasikan tadi. Lagian kan udah izin." Ujar Nadia membela diri. Pesan bundanya untuk menjadi wanita yang berani menyuarakan isi kepalanya di serap dengan sangat baik.
"Bukan berarti sampe lupa waktu."
Yap. Ini salahnya. Pergi sampai lupa waktu. Nadia diam, tangannya sibuk memelintir ujung mukenahnya untuk mengurai ketegangan yang ia rasakan. Sebucin-bucinnya seorang Gibran, tetap saja mode ganasnya keluar kalau sudah masalah kedisiplinan.
"Iyah."
"Iya apa?"
"Maaf."
"Maaf untuk?"
Nadia menghela nafas sebal. Ada ya manusia kece yang nyebelinnya kayak Om Gi ini. Nadia mau membungkam mulut lelaki di depannya ini pake bibir rasanya. Kalau urusan membuat orang lain keki memang Gibran Al Fateh jagoannya.
"Iya. Nad minta maaf karena pulang telat, lupa waktu, gak bawa hasil buruan. Puas?" Ujar Nadia ketus tapi kemudian secepat itu juga menyesalinya. Ops!
"Puas?"
Nadia menggigit lidahnya. Teks permintaan maaf yang paling salah dan fatal. Seharusnya tidak ada kata yang terakhir itu. Nadia oon.
"Maaf, Om." Cicit Nadia langsung bangkit cepat-cepat memeluk Gibran. "Dimaafin kan?" matanya mengedip manja. Puppy eyes yang amat sangat ampuh untuk menaklukan hati setiap bucin di dunia ini. Tapi sayang sekali Gibran sudah kebal dengan model memohon yang seperti itu.
"Satu bulan kedepan tidak ada izin keluar untuk kamu."
"Tapi Om, Nad--"
"Tidak ada bantahan." Putus Gibran, final. Kedua tangannya saling mengait di belakang punggung Nadia. "Patuh sama suami. Paham?" Lanjutnya sembari melarikan tangannya mencapit hidung Nadia. Wanita pujaannya itu sedang memasang tampang menyedihkan sejagad raya.
"Kasi kompensasi dong Om. Lima belas hari gak apa-apa deh."
"No!"
"Please--"
Gibran menggeleng, "Tidak, Nadia."
Nadia memberenggut sebal. Ia melepas pelukannya dari badan Gibran. "Ya udah."
"Udah apa?"
"Ya udah. Lepasin Nad." Lanjut Nadia keki setengah hati. Maunya sih tetap meluk tapi apa kabar harga diri, hiks.
Gibran menaikan satu alisnya "Yakin mau di lepas?"
"YakinlahCepetanNadcapekpengentiduran." Ujar Nadia cepat tanpa titik koma bahkan spasi. Wajahnya manyun antara kesal dan malu.
"Oh, ya sudah."
Oh ya sudah? Gitu aja? Gak mau maksa atau apa gitu? Nadia mendumel dalam hati. Biasanya juga si Om maksa tapi sekarang malah lempeng dingin nyebelin gini. Dengan berat hati Nadia menjauh dari Gibran. Ia membelakangi laki-laki itu dengan wajah bersungut kesal. Gibran itu gabungan dari tiga hal yang membuat hati seorang Nadia kesal; nyebelin, nyebelin, dan nyebelin. Kalau ada yang tidak menyebalkan dari lelaki manis di depannya ini adalah, wanginya. Ah kalau yang itu adalah bagian favorit Nadia. Sebuah perpaduan wangi parfum segar dan keringat hasil menjaga negara tercinta. Merk parfum yang tidak akan pernah ada duanya di dunia ini.
"Om kok gitu sih? Udah gak sayang Nad ya? Mentang-mentang Nad udah kayak balon hijau siap meletus makanya gak mau peluk lagi. Om kalau mau cantiknya Nad aja bilang. Jangan nyuekin gak jelas gini. Baru juga terlambat sekali udah gini bangat sama Nad." Nadia berbalik kembali pada Gibran. Ia semakin kesal saat melihat laki-laki itu tampak tak merasa bersalah sama sekali.
"Udah ngomongnya?" tanya Gibran dengan suara datar dan wajah tak berekspresi.
Mata Nadia membola. Apaan tuh maksudnya? Asli ya, nyebelin parah."UDAH!!!" Ia baru akan berbalik saat Gibran menariknya cepat hingga badannya terhunyung ke depan menempel di badan sang suami.
"OM APAAN SIH? LEPASIN GAK!" Nadia memberontak minta di lepaskan dari cengkraman kuat namun tak menyakitkan dari Gibran.
"Bukannya pengen di peluk?"
EMANG.
"Dih, enggak ya. Malas bangat. Bilang aja Om mau meluk Nad."
"Gak boleh?"
"YA BOLEH LAAAAH" Ya ampuuuun Nad murahan bangat sih. Nadia menggigit bibir dalam bagian bawahnya. Matanya melirik kiri kanan asal tidak menatap Gibran yang kini tersenyum mengejeknya. Mulut tidak punya harga diri, hiks. "Ma-maksud Nad, i-itu kan h-hak Om." Kampreeet lah, gue jadi gagap gini.
"Hak ya?" Gibran manggut-manggut seolah baru mengetahui fakta itu. Salah satu ujung bibirnya terangkat, jelas sekali bermakna meremehkan di mata Nadia si pemilik harga diri setinggi langit yang kini terjun bebas ke dasar samudra hanya karena ingin di peluk. Nadia sudah bilang kan kalau lelaki di depannya ini menyebalkan?! Bukan hanya menyebalkan tapi super duper bupeeeer menyebalkan. Senyumnya yang sedang mengejek pun tetap saja manis dimata Nadia. Hiks, mungkin disini Nadialah yang bucin akut. Nadia mengenyahkan pikirannya yang iya-iya sebelum tertangkap basah oleh Gibran.
Nadia menggeliat minta di lepaskan "Lepasin Nad." cicitnya pelan. Ia tidak berani melakukan konfrontasi yang selalu berakhir dengan dirinya yang mempermalukan diri sendiri.
Lagi-lagi tanpa pikir panjang Gibran melepaskannya begitu saja. Bahkan lelaki itu mundur selangkah di belakang. Nadia yang melihat itu tentu bukan lagi kesal tapi dihampiri kesedihan. Apa Gibran benar-benar sudah tidak nyaman memeluknya? Nadia menundukkan kepalanya sedih. Mungkin karena perutnya yang besar sehingga ia jadi jelek? Matanya mulai berkaca-kaca tapi tetap menahan diri untuk tidak menanbis.
"Berikan hak Om."
Heh?
"Sini peluk."
Airmata Nadia tak tertahan lagi di ujung kelopaknya, mengalir pelan di pipi mulusnya. Se-sensitif itu seorang ibu hamil bernama Nadia Gaudia Rasya.
Melihat Nadia yang bukannya memeluknya tapi malah menangis, Gibran langsung mengambil langkah untuk memeluk istri kecilnya itu. Ia mengecup kepala Nadia yang dibalut mukenah. "Jangan menangis. Sudah di peluk gini."
"Jangan gituin Nad." Ujar Nadia disela isakannya. Hidungnya memerah karena mencoba menahan tangisannya. Hormon ibu hamil selalu menakutkan. Kesal tapi mau peluk. Kurang menyebalkan apa lagi coba perasaan seperti itu. Ia menanamkan hidungnya di dada Gibran, menghirup sepuasnya wangi Gibran yang tidak ada duanya di dunia. "Om wangi."
"Hm."
"Maafin Nad." Ujarnya lagi sembari mengeratkan pelukannya di pinggang Gibran. Ia menyesal telah membuat pria kesayangannya itu khawatir.
"Nad tau kan, Om hanya punya Nad?"
Nadia mengangguk. "Tau."
"Jangan jauh-jauh dari Om."
Nadia mengangguk lagi. Lelaki dalam pelukannya ini, terlihat tegar tak tergoyahkan tapi sebenarnya dia hanya seorang laki-laki biasa yang memiliki kekhawatiran tersendiri akan kehilangan.
"Nad selalu disini bareng Om Gi." Nadia menyandarkan kepalanya di dada Gibran, mendengar jelas detak jantung laki-laki itu bersahutan.
***
"Om, tolongin Nad." Nadia muncul di depan pintu dapur hanya dengan mengenakan handuk.
Gibran yang tengah memotong kayu bakar di belakang rumah berdecak pelan melihat istrinya dengan santai keluar rumah hanya dengan handuk army setengah paha dan memamerkan bahu mulusnya. Rambut basahnya tergerai bebas membuat ibu hamil itu tampak menggoda. "Masuk."
Nadia kembali ke dalam rumah diikuti oleh Gibran.
"Apa?" Tanya Gibran sembari mengusap keringatnya dengan punggung tangan. Sepagian ini ia sempatkan untuk mengumpulkan kayu bakar dari belakang rumahnya. Sementara Nadia melakukan perawatan kulitnya yang seharian kemarin bermain di bawah sinar matahari langsung.
"Pasangin." Nadia menyerahkan branya pada Gibran. "Tangan Nad gak nyampe." lanjutnya sembari membelakangi Gibran.
Gibran yang taunya hanya melepas barang di tangannya itu mengusap daun telinganya kebingungan. Masalahnya ia tidak pernah belajar memasang bra selama karirya di militer. Dari pada memasang barang sakral seperti ini, ia lebih memilih memasang granat di dasar laut. Keringatan sendiri melihat bentukannya yang mengingatkan ia pada bagian yang-- well biarkan bagian itu tetap jadi rahasianya. "Caranya?"
Nadia menghela nafas lelah, "Dikaitin. Masa gini aja gak bisa sih Om. Giliran ngelepas aja kelakuan udah pro bangat." Sindir Nadia yang membuat wajah Gibran menghangat.
Itu kan insting lelaki. Gibran mengulum senyum. Bagaimana kalau ia menjawab seperti itu, apakah jatahnya akan aman? atau si Nadia manisnya ini malah menutup pabriknya? Ck. Lagian Kalau urusan lepas melepaskan, bahkan dalam gelap pun bisa di lakukannya.
"Dih, ngapain Om senyam senyum? Mikir jorok kan? Colok nih matanya." Nadia mengarahkan dua jarinya seperti ingin mencolok mata Gibran. "Dasar ya laki-laki. Gak bisa ngeliat yang bening dikit."
Gibran menggumam "Milik pribadi ini."
"Om bilang apa?"
"Bukan apa-apa. Ngadep sana." Ujar Gibran menekan pipi Nadia agar menghadap di depannya. Padahal tadi ia hanya berbicara dalam hati tapi ternyata tanpa sadar terucap di bibirnya. Untunglah Nadia tidak mendengarnya. "Angkat tangan."
Nadia dengan patuh mengangkat tangannya dan membiarkan Gibran melarikan tangannya di depan dadanya. Bra hitam yang sangat kontraks dengan kulit putihnya membuat Gibran sedikit pusing. Baru kali ini seorang Kapten yang terkenal mati rasa kehilangan konsentrasi hanya karena secarik kain bermotif polkadot milik seorang remaja tanggung yang telah berhasil mencuri akal sehatnya. Haruskah ia melakukan sedikit kenakalan pada gadis kecilnya ini? Mungkin dengan---
"Awasi tangannya ya Om."
Gibran berdehem. Baru juga mau coba peruntungan, udah ada saja ancaman. Tunggu saja nanti malam, habis kamu sama saya anak manis. Seringai Gibran tak bisa dilihat oleh Nadia. Gadis kecil itu tidak menyadari serigala buas tengah mengincarnya untuk santapan malam.
"Sudah." Ucap Gibran setelah berhasil mengaitkan dua besi kecil yang ternyata semudah melepaskannya. Pantas saja sekali sentak langsung melayang diatas lemari, ternyata memang di rancang sedemikian memudahkan dilepas pada saat-saat yang mendesak.
"Makasih." Nadia berbalik dan berlalu ke kamar begitu saja tanpa memperdulikan Gibran yang dibuat speechless karena Nadia tidak peka terhadap rangsangan. Lelaki itu mengusap wajahnya sembari terkekeh pelan. Dasar anak kecil.
Gibran lantas kembali ke belakang untuk melanjutkan pekerjaannya. Sore ini kantor mereka mendapat undangan dari distrik untuk menghadiri acara penyambutan para tim kesehatan yang akan bertugas di seluruh kampung di distrik tersebut. Jadi ia harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya termaksud mendisiplinkan istrinya yang semalam kembali berulah menjarah dapur para bujangan, kali ini ulat sagu Robi tak bisa diselamatkan karena Nadia benar-benar merengek ingin makan ulat sagu tumis cacah masakan Lukas. Untung saja Robi dan Lukas memberikannya dengan senang hati kalau tidak, mungkin Nadia sudah sakit perut sekarang. Tapi walaupun kedua rekan kerjanya itu ikhlas, Nadia harus tetap bertanggungjawab mengganti menu makan siang Robi dan Lukas.
"Om."
Gibran yang tengah menyusun kayu yang telah ia potong sesuai kebutuhan menjadi rumah kayu menoleh. "Ya?"
"Ada penggaris nggak?"
"Penggaris? Kayaknya ada di tas." Ujar Gibran sembari kembali menyusun kayu bakar yang ternyata cukup untuk sebulan pakai.
"Nad pinjam ya." Ucap Nadia dengan nada ceria. Sangat bersemangat menyiapkan makan siang untuk dua tetangga bujangannya yang tak terurus.
"Jangan sampe patah."
"Siap, Kapten." Teriak Nadia dari dalam rumah. Hari ini ia akan memasak tempe kangkung tumis dan ikan kuah kuning yang pasti akan sangat lezat dan menggugah selera makan. Ia sudah berlatih beberapa kali bersama Gibran dan sekarang dirinya sudah sangat percaya diri untuk turun langsung ke dapur.
Setelah menyusun semua kayu, Gibran menyapu halaman rumah dan memperbaiki tali jemuran yang putus akibat gigitan tikus yang setiap malam berkejaran mencari mangsa bahkan sampai membuat Nadia tidak bisa tidur beberapa malam karena suara-suara tikus seukuran anak kucing berlarian diatas loteng rumah mereka yang terbuat dari seng.
Sementara di dapur Nadia mulai bereksperimen dengan kepercayaan diri penuh. Kali ini ia tidak akan gagal karena selain ingin menyiapkan makan siang yang layak untuk para bujangan tak terurus, ia juga mempertaruhkan nama baiknya sebagai istri idaman. Ia memiliki tiga syarat utama menjadi istri idaman Gibran Al Fateh yaitu pretty, pretty, dan pretty. Selanjutnya untuk syarat pendukung ia masih harus berjuang keras di bidang perdapuran. Gibran benar-benar serius memperhatikan satu bidang itu dan bukan Nadia Gaudia Rasya namanya kalau tidak bisa menyabet status nilai sempurna di bidang tersebut.
"Ngapain Nad?" Gibran muncul di depan pintu dengan wajah dan rambut basah. Jangan lupakan dada polosnya yang dialiri tetesan air dari rambutnya. Sluuuurrrp. Nadia cengengesan.
"Lezat bangat sih Om."
Gibran mendesah pelan. Ditanya apa, jawabnya apa.
"Ngapain?" Ulang Gibran. Di dapur Nadia tengah memotong sayur sembari bersenandung riang.
"Motong sayur lah Om." Jawab Nadia tanpa menghiraukan keberadaan Gibran yang duduk di sampingnya. Ia harus menjaga pandangan kalau tidak menjatuhkan harga dirinya dengan menyerang laki-laki beraroma segar di sampingnya ini.
"Trus penggarisnya buat apa di pegang-pegang?"
"Ini?" Nadia mengangkat penggarisnya. "Buat ngukur kacang panjang biar potongannya sama panjang. Kreatif kan Nad?" Nadia menaik turunkan alisnya bangga.
Gibran yang mendengar penjelasan itu terdiam. Bingung harus menanggapi apa karena Nadianya sangat sangat sangat out of the box. Akhirnya tanpa mengatakan apapun, diraihnya kepala Nadia dan dikecupnya dengan sayang.
"Manis sekali." Ucap Gibran sembari mengacak rambut Nadia.
Mbak Syakila, maaf tidak bisa menjadi sosok ibu yang baik untuk Nad.
***