
"Sweater Nad mana?"
"Gak usah Om, panas."
Gibran yang tadinya sudah di luar, kembali masuk dalam rumah melewati Nadia yang hanya mengikuti dengan matanya. Apa lagi? Nadia mengedikkan bahu, mengenakan sepatu converse miliknya yang menjadi satu-satunya alas kaki yang Gibran izinkan untuk ia pakai. Katakan goodbye pada wedges dan segala jenis sendal dan sepatu yang bertumit karena sejak kehamilannya, Gibran akan dengan senang hati menjadikan barang-barang itu sebagai rongsokan.
"Pake!"
Nadia memutar bola mata melihat Gibran menyodorkan sweater kedodoran miliknya. "Gak mau. Panas."
"Tidak ada penolakan. Pake! Baju kamu apa gak ada yang normalan sedikit? Lubangnya ada dimana-mana. Ini baju apa saringan santan kelapa?" Omel Gibran sembari memakaikan sweater di tubuh Nadia. "Ini lagi, suka sekali pamer bahu."
Nadia melipat bibir kesal. Dasar ya manusia jaman purba, gak ngerti fashion. Baju semahal dan se-in ini dibilang saringan kelapa. Kalau mau pamer bahu kenapa? Iri? Mau juga? Tentu saja kalimat panjang itu hanya sampai di ujung tenggorokannya. Nadia masih mau mengamankan telinganya dari omelan panjang si Om kesayangan. Kalau urusan begini saja panjang bangat ngomongnya kayak rel kereta. Giliran ngomong manis bisanya cuma ha, hum gak jelas. Untung sayang bangat. Nadia masih merutuk apalagi memandangi penampilannya dengan resleting jaket hingga leher. Sempurna, Nadia si orang-orangan sawah.
"Ayo!" Gibran menarik tangan Nadia yang malas-malasan melangkah. Alis Nadia bertaut dengan wajah tertekuk masam mengikuti langkah Gibran menuju mobil yang di rental dari warga sekitar. Penampilannya yang sudah ia tata sedemikian rupa sepagian ini dengan entengnya di balut sweater oleh suami over protective-nya ini. Sampai sekarang Nadia belum menemukan alasan keposesifan Gibran pada dirinya semenjak hamil. Siapa sih yang tertarik sama ibu hamil seperti dirinya? Orang juga mikir kalau mau godain ibu hamil apalagi ada lelaki semodelan Gibran disampingnya. Orang hilang akal juga bakalan atur jarak aman demi keselamatan jiwa dan raga.
"Pakai celana panjang aja gimana?"
Nadia menatap Gibran tak percaya. Mereka sudah duduk di mobil dan laki-laki ini masih membahas kostum? Ya salaaaaam. Gibran masih menatapnya penuh pertimbangan. Tangannya terulur untuk menurunkan dress Nadia yang sedikit tersingkap sebatas lutut. LUTUUUUUUT!!! nadia rasanya ingin koprol saja sekarang. Masih sopan bangat loh ini.
"Jalan yuk Om. Ntar kejebak lumpur loh. Tuh awannya tebel." Nadia menangkup tangan Gibran, mengecupnya lembut. "Dress Nad aman kok." Lanjutnya disertai senyum yang terlihat seperti ringisan. Helaan nafas kasar lolos dari mulut Gibran.
"Sepulang dari dokter, ingatkan Om untuk bersih-bersih lemari."
"Ya?"
BRUUUUUUUUM!
.
.
.
Gibran tersenyum lembut memandangi sosok cantik yang tengah terlelap di sampingnya. Sudah setengah jam mereka berada di depan klinik dokter kandungan. Ia menunggu Nadia terbangun. Sepanjang jalan istrinya itu tak berhenti menggerutu karena fashionnya yang katanya acak-acakkan hanya karena dirinya yang menambahkan sweater ditubuh mungilnya. Gadis kecilnya ini tidak tahu saja betapa menawannya ia dengan perut besarnya. Gibran setuju sekali dengan perkataan orang-orang mengenai seorang wanita yang tambah mempesona dan beraura ketika hamil karena Nadianya berkali-kali lipat cantiknya dengan keberadaan calon bayi mereka dalam perutnya.
"Eung--" Nadia menggeliat. Ia membuka mata pelan dan langsung mendapat pemandangan segar tepat di depannya. "Hai ganteng. Muaaach" Satu kecupan ringan ia berikan pada lelaki beraroma segar itu. Gibran tersenyum tipis sembari mencubit pelan pipi Nadia.
"Ayo turun." Ujarnya tanpa menunggu nyawa Nadia terkumpul. Benar-benar lelaki pujaan. Sapa balik kek, apa kek.
"Halo Nadia cantik. Gitu aja gak bisa." Dumel Nadia dengan suara pelan. Tentu saja tanpa sepengetahuan Gibran yang sudah lebih dulu turun dari mobil. Kalau ada lomba the coolest man of the year, Nadia akan mendaftarkan Gibran, pasti juara satu.
Nadia turun dari mobil dibantu oleh Gibran. Cuaca yang tadinya berawan kini panas cerah. Jika begini terus ia tidak perlu jauh-jauh ke Hawai untuk berjemur karena kulitnya sudah sangat keren eksotis dengan matahari di timur indonesia ini yang hanya sejengkap tangan dari kepala.
"Yakin dokternya ada Om? Sepi bangat udah kayak kuburan." Nadia mengikuti langkah Gibran masuk dalam lingkungan yang menurutnya akan sangat cocok untuk syuting film horor minus daun-daunan kering yang bertebaran. Seharusnya mereka ke rumah sakit tapi karena hari libur, Gibran meminta sang dokter secara pribadi untuk memeriksakan kehamilan Nadia. Susah mengatur jam luang untuk dirinya yang selalu memiliki jadwal padat bahkan di hari sabtu.
Gibran mengetuk salah satu pintu yang terpisah dari rumah utama yang bertuliskan DOKTER YOVITA di depan pintunya.
Tok tok tok!
Ceklek.
"Selamat pagi, suster." Sapa Gibran pada seorang berpakaian khas suster di depannya.
Suster itu tersenyum ramah pada mereka. "Selamat pagi, bapak. Bapak Gibran dan Ibu Nadia?"
Gibran mengangguk "Iya suster."
"Silahkan masuk. Dokter Yo sudah menunggu di dalam."
"Terima kasih suster." Gibran mengamit tangan Nadia mengikuti suster masuk kedalam salah satu ruangan lain yang di sekat oleh kain putih. Nadia tersenyum tak nyaman saat seorang ibu hamil yang baru selesai memeriksakan diri menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala. Genggaman Nadia di tangan Gibran mengerat, sudah tak asing lagi tatapan semacam itu ia dapatkan dari orang-orang. Bahkan di kota besar asalnya yang terkenal dengan individualisnya yang tinggi ia masih mendapat tatapan penghakiman semacam ini seolah mengatainya 'Little *****' atau sejenis tuduhan lain 'sex bebas'. Orang-orang seakan abai dengan keberadaan Gibran sebagai suaminya, bapak dari calon bayinya. Tetap saja yang salah adalah gadis muda seperti dirinya yang hamil dalam usia muda.
"Selamat pagi, bapak, ibu. Silahkan duduk."
"Selamat pagi, Dokter."
Nadia yang baru tersadar dari pikiran liarnya mengangguk kaku. Gibran duduk disampingnya dengan tenang. Ini kali kedua Nadia memeriksakan kandungannya.
"Ibu Nadia apa kabar? Kandungannya aman kah?"
"Aman dokter."
"Puji Tuhan. Susu dan vitaminnya di minun toh?"
Nadia menoleh pada Gibran. Susu sih selalu dia minum tapi kalau vitamin---
"Vitaminnya kadang-kadang Dokter." Akunya jujur. Disampingnya Gibran tak membantu sama sekali. Memang salahnya karena sering sekali ngeyel kalau disuruh minum vitamin.
Dokter Yovita menggeleng pelan, "Aduh ibu, vitamin harus diminum. Ibu pu kandungan itu rentan. Harus dikuatkan. Ibu sering oleng ka tidak?"
"Kadang-kadang Dokter."
"Ada masalah Dok?" Gibran menimpali. Selama ini Nadia tidak pernah mengeluhkan rasa sakitnya. Gibran menoleh pada Nadia yang menundukkan kepalanya dengan kedua jari saling meremas.
"Begini bapak. Ibu masih muda sekali. Dia pu badan ini belum siap untuk hamil. Salah satu yang rentan terjadi adalah anemia oleh sebab itu sa su kasi vitamin tambah darah sama ibu supaya diminum teratur. Sebaiknya di kontrol baik-baik ya bapak. Ini untuk keselamatan ibu dan anak." Jelas Dokter Yovita sembari menatap bergantian pada Nadia dan Gibran.
"Baik dokter. saya akan lebih memperhatikan istri saya lagi." Ujar Gibran. Ia menoleh pada Nadia "Dengar Nad?"
Nadia mengangguk, "Iya, Om." Jawabnya pelan. Dokter Yovita menggelengkan kepala.
"Jangan iya-iya saja Bu Nadia. Ibu harus jaga Ibu pu diri dan anak Ibu. Mengerti?"
"Mari saya periksa." Dokter Yovita berdiri menuju brangkar pasien diikuti oleh Nadia dan Gibran. Melihat brangkar pasien yang cukup tinggi, Gibran langsung mengambil inisiatif menggendong Nadia dan membaringkannya disana.
"Ibu pu suami ini sudah yang terbaik. Jaga diri supaya dia pu hati juga tenang." Dokter Yovita menasehati. Hatinya menghangat melihat pasangan muda di depannya. Sangat jarang laki-laki seperti calon bapak di depannya ini. Biasanya para suami hanya akan mengantar istri mereka sampai di depan pintu bahkan biasanya pasien yang datang memeriksakan kandungannya tak jarang ada yang datang sendirian sedangkan Gibran, meski banyak diam tetap saja ia akan paling tanggap jika ada masalah atau sesuatu yang berkaitan dengan kehamilan Nadia.
Nadia tersenyum tipis. Dirinya memang sangat beruntung dianugerahi suami seperti Gibran. Meskipun kadang menyebalkan dengan sikap dingin dan malas bicaranya, tapi Nadia selalu mendapatkan perlakukan terbaik dari lelaki kakunya ini. "Om Gi memang yang terbaik Dok." Ujar Nadia bangga. Dokter Yovita mengangguk menyetujui. Sedangkan Gibran yang berdiri di dekat kepala Nadia hanya diam tak menimpali.
"Bajunya saya singkap ya Bu." Dokter Yovita menyentuh ujung dress Nadia namun tangannya langsung di tahan oleh yang empunya. Nadia melirik Gibran tak nyaman.
Dokter Yovita berdecak pelan, "Pele Ibuuu. Ibu su habis sama bapak masih juga malu."
Nadia meringis tapi tetap tak membiarkan Dokter Yovita menyingkap dressnya jika masih ada Gibran di ruangan itu.
"Om tunggu diluar aja." Ujar Nadia pada Gibran yang sejak tadi khusyuk menunggui Nadia.
"Kenapa?"
"Nad mau di periksa. Malu."
Gibran menghela nafas pelan "Kenapa harus malu. Saya suami kamu."
Nadia menggeleng "Tetap aja. Ayo dong Om, nanti kelamaan disini." pinta Nadia tak sabar.
"Gak. Saya bisa disini kan Dok?" Gibran beralih pada Dokter Yo yang menikmati tontonan pasangan di depannya.
"Bisa toh. Tapi lebih baik bapak tutup mata kalau mau ini cepat selesai. Istri bapak terlalu pemalu." Ujar Dokter Yovita terkekeh ringan.
Nadia mengangguk menyetujui. "Please." Ia menangkupkan tangan di dada. Gibran akhirnya mengalah. Ia mengangguk lalu berjalan ke kursi duduk disana dengan tenang. Nadia akhirnya bisa bernafas dengan lega.
"Silahkan Dok." Ucap Gibran kemudian.
Dokter Yovita kemudian melanjutkan tugasnya untuk mengecek kesehatan Ibu dan kandungannya. Setelah beberapa waktu, pemeriksaan selesai dilakukan. Nadia menurunkan dressnya.
"Gimana Dok?" Nadia bangun dibantu oleh Gibran yang langsung bergerak cepat mendekati brangkar.
"Semuanya sehat. Ibu Minum terus susu dan vitaminnya semoga semuanya lancar sampai hari persalinan."
"Iya Dokter. Saya akan rajin minum vitaminnya." Nadia duduk kembali di kursi dibantu oleh Gibran.
"Itu bagus. Ibu su dewasa toh. Sebentar lagi akan punya anak. Harus lebih bisa menjaga diri. Bapak juga harus terus mendukung istri. Di usia Ibu Nadia ini, resiko mengalami depresi pasca melahirkan sangat besar. Jika tidak ada dukungan dari keluarga, Ah sudaaaah, gawat urusan."
"Depresi Dok? Baby blues?" Tanya Nadia. Meskipun belum melihat langsung bagaimana seorang ibu terkena sindrom itu, medsos dan google sudah banyak menjelaskan.
"Baby blues dia serang satu atau dua minggu saja Ibu. Kalau Depreasi ini durasinya lebih panjang lagi. Tapi Ibu tenang sudah. Ibu pu paitua ini dia pu nilai seratus mengurus istri. Iya toh bapak?" Dokter Yo menoleh pada Gibran. Laki-laki itu mengangguk meski tak begitu paham dengan dua istilah itu.
"Satu lagi. Ini penting juga untuk ibu dan bapak."
"Apa itu Dokter?"
"Posisi ****."
Gibran dan Nadia saling melirik. Wajah keduanya memerah terutama Gibran yang telinganya kentara sekali berubah warna kalau sedang malu. Belum lagi Dokter Yovita yang membahasakannya tanpa filter semakin membuat keduanya canggung.
Dokter Yovita tersenyum tipis melihat perubahan ekspresi dua orang muda di depannya ini. Menurut sebagian orang membicarakan seperti ini cukup tabu tapi tetap sangat penting untuk dibahas.
"Jangan sampai membahayakan kandungan Ibu Nadia. Bapak dan Ibu bisa cari-cari di internet posisi yang aman untuk berhubungan saat hamil besar seperti ini. Bisa toh bapak?"
Gibran menggaruk tengkuknya salah tingkah "Bisa Dokter."
Disampingnya Nadia mengipasi wajah dengan tangan. Saking gugupnya, AC di ruangan itu sampai tak terasa olehnya.Ya ampun, ginian juga ampe dibahas loh.
***
"Vitamin?"
"Cek."
"Susu?"
"Cek."
Nadia menyengir saat Gibran menatapnya datar. Sejak pulang dari memeriksakan Nadia di dokter, sikap disiplin Gibran makin menjadi. Suaminya itu bahkan rela pulang kantor hanya untuk memastikan Nadia rutin meminum vitaminnya. Kalau susu Gibran tak perlu khawatir karena Nadia sangat menyukai minuman berwarna putih itu.
"Om balik lagi?"
"Iya. Nad istirahat." Gibran mengecup kening Nadia lalu mengambil topi rimbanya. "Jangan mandi terlalu sore. Pake baju hangat. Lotion nyamuknya juga jangan lupa dipakai. Dan paling penting, jangan banyak tidur. Banyakin gerak dan itu--"
"Om udah catat semua semalam." Potong Nadia sambil mengangkat buku diatas meja. List dengan judul KATA DOKTER ada sepanjang baris buku menuliskan apa yang harus dan tidak boleh Nadia lakukan. Lengkap tanpa melewatkan satupun tips dan nasehat dari google yang di upload oleh para ahli berikut dengan penjelasan-penjelasan hasil buruannya di youtube. Kata Dokter Yovita, nilai Gibran adalah seratus tapi bagi Nadia, Gibran tak ternilai kalau sudah urusan perhatian dan protektifnya.
Gibran mengangguk. "Om jalan. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Nadia mengikuti Gibran sampai di depan pintu. Tak lupa diciumnya tangan suaminya itu. "Hati-hati."
Gibran mengangguk. Ia mengacak pelan rambut Nadia "Jangan nakal."
"Siap, kapten." Ujar Nadia sembari menghormat. Sepeninggal Gibran, Nadia kembali masuk dalam rumah. Ia menatap nanar buku catatan yang teronggok diatas meja. Tiga bulan terasa lebih lama dengan banyaknya aturan baru ini. Nadia menghela nafas panjang, Kata dokter Ibu hamil tidak boleh stres. Baiklaaah mari lupakan semua aturan ini.
Selamat tinggal KATA DOKTER, sampai ketemu lagi dalam bentuk daur ulang yang lebih baik.
***