Little Persit

Little Persit
Kembali Kerutinitas



"Huuuum wangiiiiii." Nadia mencium pipi gembul Pia yang menguarkan wangi segar yang menenangkan. Ia baru saja selesai memandikan bayi kecilnya itu dan mendandaninya lalu kemudian memberinya Asi. Salah satu kegiatan yang ternyata sangat menyenangkan.


Seperti biasa sebelum berangkat ke kampus Nadia akan disibukkan dengan mengurus bayi gembulnya mulai dari mencuci pakaian kotor Pia, memandikannya, dan terakhir menyusui bayi gembulnya hingga kembali terlelap. Semua kegiatan itu Nadia lakukan seorang diri karena ia sudah bertekad untuk tidak menggunakan jasa baby sitter dalam mengurus Pia-nya. Kesibukkannya bertambah sejak Gibran kembali ke rumah. Ia menyiapkan keperluan sang suami terlebih saat Gibran sedang dalam masa pemulihan, Nadia memperhatikan baik-baik apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya.


"Pia sama ayah ya. Ibu hari ini kuliah. Pia kalau mau rewel gak apa-apa. Kan ada ayah." Nadia terkekeh geli dengan kalimatnya sendiri apalagi melihat respon Pia yang menyengir lebar. Seharusnya ia memberi wejangan-wejangan mulia pada Pia tapi mengingat Gibran yang sabar sekali sepertinya Pia tetap akan selamat meski rewel dan menyebalkan. By the way Pianya tak pernah menyebalkan. Mungkin gen Gibran terwariskan dengan sempurna padanya.


"Kalau Ayah nakal, laporin sama Ibu. Biar Ibu kecup-kecup supaya diem." Nadia semakin tergelak dengan omongannya sendiri. Dia tidak sedang menyesatkan Pia kan? Ia terus saja mengajak bicara sang putri tanpa menyadari kehadiran Gibran yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dalam diam. Senyum bahagia tak luntur dari wajah lelaki itu sejak memasuki kamar Pia. Ini lah yang tidak mau ia lewatkan. Menyaksikan pemandangan menyenangkan seperti ini setiap hari.


"Wah pesan yang sangat bagus." Gibran mendekat tiba-tiba membuat Nadia terkesiap saat tangan lelaki itu menyusup diantara dua lengannya, memeluknya dari belakang, "Pia tidak mungkin tega sama ayah. Ya kan Dek?" hembusan nafas segarnya menyapu pipi kanan Nadia membuat Ibu muda itu merasakan bulu kuduknya meremang.


"Good morning, sayang."


Cup.


"Morning, ayah." Balas Nadia berusaha meredam rona di pipinya dengan cara memusatkan perhatiannya pada Pia. Jangan terlena Nad, Jangaaaaan. Ia sampai tidak menyadari kehadiran Gibran karena terlalu asik mengajak bicara dan menyusui bayinya.


MENYUSUI????


Nadia gelagapan. Ia menggeliat berusaha melepaskan diri, "Iiiiih Om munduran! Jangan ngintip!" cicitnya. Posisinya sedang sangat rawan karena dadanya terekspos sempurna sebab di lahap Pia dan kini ditatap oleh Girban.


Gibran yang mendapat penolakan tanpa alasan yang diketahuinya ingin protes tapi kemudan sadar apa yang menjadi penyebab Nadia menyuruhnya menjauh adalah dada putih mulus itu. Senyum nakal terbit di wajah gantengnya. Ia paling senang mengerjai Nadia yang sedang malu-malu kucing seperti ini. Biasa Nadia akan agresif tapi ada saat juga gadis nakalnya ini bertingkah layaknya seorang yang belum mengenak sex seperti sekarang contohnya.


"Gak apa-apa. Udah sering liat. Lebih dari sekedar liat malah." Gibran berujar enteng yang malah membuat Nadia semakin malu.


"Iiiiiiih Ooooom." Rengek Nadia seperti anak kecil. Yang benar saja dong di tonton pas menyusui. Walaupun suami tapi tetap saja itu memalukan, "Jauh-jauh deh. Kalau nggak Nad marah nih."


Gibran tertawa renyah dan tanpa Nadia duga lelaki itu memegang dagunya agar ia mendongak, lalu saat itu pula lembab bibir keduanya kembali bertemu. Hanya kecupan ringan tapi tetap mampu membuat Nadia mengerjap sesaat.


"Om tunggu di mobil." Ucap Gibran serak sembari mengusap pipi lembut Nadia yang kemerahan.


Nadia mengangguk kaku, "O-oke." Jawabnya terbata.


"Assalalamualaikum, Pia." Gibran kembali menengok sang putri melalui celah bahu dan leher terbuka Nadia yang kembali memberikan sensasi menggelikan pada ibu muda itu.


"Waalaikumsalam, Ayah." Balas Nadia terdengar seperti cicitan. Ia baru kembali bernafas lega setelah Gibran pergi dari ruangan itu. Suhu udara yang tadinya panas kembali adem. AC sepertinya bukan masalahnya disini.


.


.


.


"Sakit?"


Nadia menggeleng tapi wajahnya masih menunjukkan raut yang sama, manyun.


"Ada apa?" Tanya Gibran lagi sembari tetap memperhatikan lalu lintas padat merayap di depan sementara Nadia gelenjotan di lengannya. Mood sang istri seperti rollcoster, kadang naik kadang turun membuatnya harus ekstra sabar dalam menghadapinya.


"Masih kangen Om." Jawab Nadia menatap penuh harap pada Gibran. Kali aja kan Gibran tiba-tiba membelokkan mobilnya ke tempat lain. Demi apa Nadia masih mau menempeli lelaki itu.


Gibran menggeleng pelan selalu takjub dengan istrinya yang selalu punya cara manis saat membujuk. Tapi Gibran tidak akan luluh, Nadia harus tetap kuliah pagi ini bagaimanapun inginnya ia bersama gadis nakal itu juga.


"Om harusnya jangan nyetir dulu. Ini masih belum bener-bener sembuh." Perhatian Nadia teralih pada bahu kanan Gibran. Luka operasi itu masih basah seperti tadi pagi ia nekat membantu Gibran ganti perban meskipun endingnya harus pusing karena tidak tahan melihat bekas sayatan pisau bedah di bahu sang suami.


"Udah baikan. Sebentar lagi sudah bisa lepas perban." Ucap Gibran menenangkan.


"Bener?"


"Um."


Nadia menghembuskan nafas berat. Percuma saja khawatir pada Gibran nyatanya laki-laki itu tak menganggap luka operasinya patut untuk mendapat perhatian lebih.


"Telfon kalau Nad pulang."


Click. Suara kunci pintu mobil terbuka menandakan keduanya sudah sampai di tempat tujuan. Kampus Nadia masih sepi, terang saja kuliah pagi hanya untuk para mahasiswa baru yang mempunyai jadwal kuliah padat. Sedangkan para angkatan lama kebanyakan kuliah di waktu siang dan sore, enak sekali.


"Belajar yang benar. Di kelas jangan main hp. Kalau ada dosen di dengar jangan sumbat kuping kamu pakai earbuds."


"Om tau semua?" Nadia menganga takjub. Darimana laki-laki ini tau kebiasaannya? Astaga, jangan-jangan ada sisi tv yang di pasang di badannya. Ayo cari, Nad--


"Kebiasan Nad dari dulu begitu." Ujar Gibran malas. Tatapan datarnya ia layangkan pada Nadia yang cengengesan.


"Dosennya ngebosanin." Ucapnya membela diri.


"No excuse, girl." Gibran menepuk puncak kepala Nadia, "Biaya kuliah kamu mahal. Jangan disia-siakan."


Nadia menepis tangan Gibran yang betah di kepalanya, "GG gak bakal bangkrut hanya karena ngebiayain semester Nad. Om, tenang aja." katanya sombong.


Gibran menangkup pipi Nadia dan mendaratkan kecupan di kening gadis yang selalu mendebatnya itu, "Masalahnya kuliah dan biaya hidup Nad lainnya pakai uang dari gaji Om bukan dari GG. Dan gaji seorang tentara biasa seperti Om tidak sanggup membayar double untuk perbaikan nilaimu. Dengar gadis manis?"


Nadia manyun. Bagaimana mungkin ia lupa bahwa si merah putih lah yang memfasilitasinya. Untung saja keinginan belanjanya akhir-akhir ini tersalurkan untuk keperluan pia, baju-baju bayi memang sangat menggemaskan persis Pia-nya.


Nadia mengangguk patuh, "Nad masuk dulu." Nadia mengulurkan tangan menyalami sang suami, "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Balas Gibran sembari merapikan anak rambut Nadia.


Nadia turun dari mobil setelah berpamitan pada Gibran. Wajahnya belum lurus sempurna karena masih kesal tidak diizinkan bolos kelas. Gibran membunyikan klakson saat akan pergi yang hanya dibalas lambaian tangan malas-malas dari Nadia.


"Peka kek." Omel Nadia menghentakkan kaki kesal memandangi mobil yang dibawa Gibran keluar dari Gerbang Fakultas.


"Nadiaaaaaaa"


Ini lagi si Wati. Nadia menarik nafas panjang dan melepaskannya perlahan. Ia tidak boleh stres karena stres akan menyebabkan penuaan dini dan itu sangat buruk.


"Kok kamu baru masuk? Dicariin sama kak Orion."


"Orion siapa?"


Wati menutup mulut syok berlebihan, "Kamu lupa sama kak Orion? Kalau sama saya masih ingat kan?" Wati menunjuk wajahnya sendiri.


Nadia yang tengah lelah batin tak mau ambil pusing dengan kehebohan Wati. Ia melongos begitu saja melewati Wati yang masih setia dengan keterpakuaanya.


"Naaaaad!"


Bodo amat Wati.


Nadia menggegas langkahnya memasuki kelas. Seperti kata Gibran, ia tidak boleh menyia-nyiakan uang semesternya makanya mulai sekarang ia akan menambah resolusi baru yakni mendapat IP sempurna di semester awal.


Nadia memilih tempat paling depan yang paling ujung untuk duduk. Ia tidak boleh ketinggalan materi kali ini. Tekadnya kemarin sudah keren, melindungi dan menjaga nama baik Om Gibrannya dan Gaudia Grup. Ia hanya perlu istuqomah sekarang. Jangan sampai luluh meskipun Diktat kampus yang super tebal di atas mejanya ini sangat memanggil untuk dijadikan bantal empuk.


"Nadia."


Nadia yang baru saja tergoda dengan rayuan Diktat di depannya mengangkat wajah. Wahyu si ketua tingkat menyapa.


"Iya."


Wahyu mengedikkan bahu kebelakang. Nadia mengintip di belakang bahu cowok itu dan mendapati seorang panitia P2KMB melihat kearahnya.


"Dipanggil di sekret HMPS."


Wahyu mengedikkan bahu, "Gue cuman nyampein amanah."


"Gak. Gue kan ada kelas sama Lo." Ujar Nadia enggan beranjak dari tempat duduknya. Lagian urusan apasih sampai mengutus panitia segala?


"Prof Burhan tidak jadi masuk. Cuma ngasi tugas. Makanya baca WA grup." Wahyu sedikit kesal mengatakannya. Aneh sekali cowok-cowok ini. Nadia mencibir, tidak masuk daftar cowok keren sama sekali. Auto blacklist, "Lo buruan gih temuin tuh panitia."


Nadia mendengus kesal. Kalau tau dosennya tidak jadi masuk, dia bisa berlama-lama di rumah. Sarapan bareng Gibran dan Pia trus leha-leha di depan tv menonton kartun favoritnya, si kotak kuning.


"Ada apa kak?" Tanya Nadia setelah berdiri di depan panitia kegiatan kemarin yang menatapnya sengak.


"Dipanggilin dari tadi juga. Jangan ngelunjak! Sok penting!"


"Excuse me?" Nadia mengerutkan kening heran. Apa-apaan sih ni cewek? Ekornya keinjak apa gimana?


"Buruan!" Bentak senior cewek itu lagi.


Nadia yang merasa tak terima langsung bersidekap. Sekedar informasi saja, tidak ada satu orang pun yang berani membentaknya bahkan Gibran sekalipun tak membentaknya untuk alasan yang tidak jelas.


"Kalau gue gak mau gimana?" Tantang Nadia tak mau kalah--tepatnya tak pernah kalah.


"Lo ngebantah? Gak sopan bangat lo ya."


"Lo sopan gak tadi? Ngebentak gue gitu lo ada hak apa?" Maaf Om Gi tapi Nad tidak bisa membiarkan penjajahan terjadi di diri Nad. Sekali lagi ke ruang kemahasiswaan tidak masalah kan? Orang-orang yang tadinya sibuk dengan urusan masing-masing mulai tertarik dengan pembicaraan senio junior itu. Nadia benar-benar punya nyali.


Panitia senior itu menggertakan giginya. Kali pertama ia berhadapan dengan seorang junior yang tingkat keberaniannya tidak diragukan lagi. Sayang sekali ia membenci Nadia yang berpotensi mendominasi perhatian orang-orang melihat wajah dan popularitasnya sebagai junior tercantik diangkatannya.


"Cepat!" Daripada menjadi tontonan, senior Nadia itu akhirnya menurunkan tekanan suaranya.


"Lo aja duluan. Gue liat jalan kalik." Nadia berujar sewot. Kayaknya belajar tenang di kampus ini hanya akan menjadi mustahil bagi Nadia. Mungkin ia harus membicarakan ini dengan Gibran. Sepertinya pindah kampus bisa jadi solusi. Senior cewek itu akhirnya menyerah, meninggalkan Nadia dan keangkuhannya.


Nadia memutar bola mata sebal sebelum akhinya ke Sekret menemui sang maha agung senior kampret.


Hal pertama yang dilihat Nadia saat sampai di depan pintu HMPS adalah aksi suap-suapan dan kecup-kecup basah Orion dan Lalita di kursi ketua. Hebat sekali. Jadi dia di undang hanya untuk melihat orang mesum? Nadia tersenyum sinis yang samar.


"Permisi. Ada Orang?" Disini gue cuma liat monyet soalnya.


Orion yang ogah-ogahan menerima suapan dari sang pacar langsung berdiri tegak saat melihat Nadia muncul di depan pintu. Lalita yang merasa terganggu mendengus sebal. Gadia berkacamata itu menaikan kacamatanya yang melorot.


"Ketok pintu kan bisa." Tegur Orion. Sebenarnya ia hanya tidak nyaman saat Nadia memergokinya bersama Lalita. Well ini aneh tapi ia tidak mau gadis angkuh itu salah paham. Pemikiran yang sangat bodoh.


Nadia mencibir. Gimana gue mau mengetok kalau langsung disuguhin adegan 21+. Batin Nadia sinis. Ini katanya yang otaknya cerdas? Mesum di ruang HMPS? Hih.


"Ngapain manggil gue?" Tanya Nadia to the point. Ia malas saja harus seruangan dengan dua sejoli yang hobi mesum di tempat umum itu.


Orion menoleh pada Lalita yang gelayutan di lengannya, "Ta, gue harus ngurus kegiatan kemarin. Tunggu diluar ya." Pinta Orion lembut.


Lalita meskipun bete hanya bisa mengangguk. Cewek berkacamata itu mengangkat tiga buah buku yang Nadia tebak isinya pasti membosankan seperti orang yang membacanya.


"Jangan lama-lama." Ujar Lalita sebelum kemudian meninggalkan sekret.


Tinggalah Nadia dan Orion di ruangan penuh kursi itu.


"Duduk."


"Gak perlu." Tolak Nadia memilih tetap berdiri. Ia tidak mau memgambil resiko jadi sial gara-gara duduk di kursi bekas tempat mesum.


Orion menatap tak percaya pada kekeraskepalaan junior di depannya ini. Ia mengangkat tangannya seperti orang menyerah, "terserah lo aja."


"Emang." Balas Nadia yang seolah-olah tidak pernah kehabisan kata untuk membalas.


"Kenapa tidak ikut kegiatan kemarin?" Tanya Orion sambil mencuri lirik Nadia yang berdiri malas-malasan di depannyanya.


"Jaga anak."


Alasan ini lagi. Orion sampai pusing kenapa Nadia mengungkapkan alasan-alasan yang tidak penting seperti ini? Apa cewek ini ingin menguji kesabarannya? Baik, ayo kita lihat sampai dimana drama ini berlanjut.


"Suami kamu dimana?"


"Hutan."


See? Orian menipiskan bibir kesal. Cowok bersurai kecoklatan itu melipat kedua tangan diatas meja sembari menatap lurus pada Nadia berusahan mengintimidasinya. Sialnya selama beberapa menit itu juga Nadia balik menatapnya tanpa takut.


"Saya sedang tidak berniat bercanda dengan kamu. Jawab yang benar!" Tuntut Orion mulai kehilangan kontrol dirinya.


"Itu jawaban saya. Terserah kakak mau terima atau tidak." Jawab Nadia tak begitu peduli.


Orion makin kesal. Nadia benar-benar hebat dalam mengacak-ngacak ketenangan orang lain.


"Kamu tidak bisa mendapatkan sertifikat untuk kegiatan kemarin." Ujar Orion setelah berhasil menahan keinginannya menarik kerah baju yang dikenakan Nadia.


Nadia mengangguk, "Tidak masalah."


"Tidak masalah?" Orion memijat pelipisnya yang pening, "Itu untuk keperluan wisuda kamu." terang Orion mencoba membuka pikiran cetek Nadia.


"Gampang. Tinggal ikut yang tahun depan aja." Ucap Nadia enteng. Lagian yang beginian saja kenapa repot sih? Heran bangat, "Ada lagi?"


Orion yang sudah kehabisan peluru berdehem pelan, "Lo gak apa-apa?"


Nadia mengerutkan kening, "Nanya gue?"


"Bukan, tembok. Ya elo lah!" Sembur Orion menahan gemas. Kenapa Nadia hebat sekali mengacaukan pikirannya?


"Gue ok." Jawab Nadia tak mau ambil pusing. Dia sempat memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Orion sedang memperdulikannya tapi itu terlalu mengerikan. Nadia bergidik ngeri tanpa sadar.


"Lo kenapa?"


"Hah?"


"Lo pucat."


Nadia mengedikka bahu, "Ada lagi yang mau diomongin?" tanya Nadia kembali ke topik awal.


Orian menggeleng, "Lo boleh keluar."


"Thanks. Permisi." Nadia keluar dari sekret tanpa basa basi. Berlama-lama bersama Orion hanya membuat ia pusing saja. Lelaki itu terlalu baperan.


Ditempat duduknya Orion menatap Nadia dengan tatapan yang sulit di terjemahkan. Ada keinginan untuk berlama-lama dengan cewek angkuh itu tapi-- Orion tahu Nadia berbeda, cewek itu memiliki harga diri yang tinggi dan sulit untuk dipatahkan.


Orion menggeleng pelan, kembali memusatkan perhatiannya pada lembaran di depannya yang bertuliskan nama Nadia Gaudia Rasya. Yeah, ia rela menyalahgunakan kekuasaannya untuk Nadia tapi cewek itu terlalu bebal bahkan hanya untuk meminta padanya pun cewek itu tak mau.


Orion baru akan merapikan tasnya saat kemudian mendengar keributan diluar ruangan yang meneriakkan nama Nadia.


"Nad--"


***