
"Lo ngapain senyum-senyum gak jelas gitu. Nyeremin bangat, hih." Nadia bergidik ngeri melihat senyum Sandra yang selalu diumbarnya beberapa hari ini. Jenis senyum licik yang membuat semua orang menaruh curiga termasuk Nadia yang kerap kali mendapat kejutan dari kelakuan Sandra.
"Lo habis ngejailin siapa? Awas ya lo kalau gue dijadiin korban." Aleksis menunjuk Sandra penuh ancaman.
Sandra yang sedang berada diatas awan tertawa nyaring. Ditatapnya satu persatu sahabatnya lalu berhenti lama pada Nadia. "Tunggu kejutan dari gue. Lo pasti seneng bangat dan gak bakal berhenti ngucapin makasi." Ujarnya sombong. Gendis yang sedang membaca novel yang baru saja di belinya mengangkat kepalanya.
"Kejutan lo beda tipis sama ngerjain. Sama-sama nyusahin orang." Ucap Gendis sembari menyerut jus alpukat kesukaannya.
"Lo anak kecil, diem deh." Sandra menepuk bahu Gendis yang duduk disamping kanannya. Matanya berpendar geli melihat wajah kesal Nadia yang sudah menduga kejutan itu pasti jatuh padanya. Sandra nyebelin.
"Btw si Vano beneran suka bangat loh sama lo. Gak takut dilihat Om Gi tuh foto?" Tanya Aleksis.
Nadia menggeleng, "Gak peduli gue. Gue pergi udah tiga hari gak ada dicariin sama tu Om-om." Nadia menyedot tetes terakhir jus pisang susu yang tersisa di gelasnya. Dihempaskan punggungnya disandaran kursi kafe yang terbuat dari bahan empuk yang nyaman.
"Lo kan yang gak ngangkat telfon, gak bales chat, kenapa Om Gi yang lo salahin?" Ujar Gendis membela Gibran. Setahunya Nadia yang selalu mengabaikan suaminya tiba giliran diabaikan malah protes.
"Yakan tapi---" Nadia menghela nafas berat. tapikan tetap aja. Lanjutnya dalam hati dengan kesal.
"Lo mau disusulin, gitu?" Tebak Aleksis tepat. Nadia yang sudah menceritakan garis besar masalahnya terkecuali bagian Gibran yang hampir memukulnya mengangguk samar.
"Ye gile luuuu!!! Suami lo bukan CEO pemilik perusahaan kayak lo yang seenak jidatnya ninggalin tugas. Tau diri Lu!" Sandra menoyor bahu Nadia sebal. "Persit apaan lu, gak ngerti tugas suami."
"Ck, sok tau lo. Kan bisa cuti atau apa kek." Nadia membela diri. Sandra mendecih, mencubit gemas lengan Nadia. Punya sahabat kok egoisnya gini amat yak. Bawaan ari-ari gini kalik ya.
"Jangan kelamaan masang gengsi Nad. Lo tau kan lelaki itu kalau udah capek, harga dirinya di lukai, kelar hidup lo. Bisa jadi janda muda. Mana yang ngincer suami lo lusinan gitu lagi." Ucap Gendis menatap Nadia serius.
Aleksis dan sandra mengangguk.
"Bener, Nad. Lagian ngapain sih lo gengsi-gengsian gitu, capek hati sendiri kan lo?!" Tambah Sandra
Nadia menunduk masam, "Lo bertiga gak ada di posisi gue. Gue pengen dicintai Om Gi. Gue--"
"Cinta apaan lagi sih yang lo cari? Lo udah dapatin semuanya dari dia. Bahkan sampe sp*rmanya juga udah ngebentuk dalam rahim lo." potong Aleksis cepat. Ia menghentikan ucapannya saat Nadia, Sandra dan gendia menatapnya horor, "Kenapa? Gak salah ngomong kan gue?" tanyanya tanpa merasa berdosa.
"Bahasa lo di filter. Sp*rma-sp*rma, di dengar KPI di sensor mulut lo." Ujar Sandra senewen.
"Lah, apa masalahnya? Bener ini guenya." Aleksis si otak kotor tak mau disalahkan.
"Pilihan kata lo kampreeet!!!" Semprot Sandra. Beberapa pengunjung kafe mulai melirik pada keempat remaja cantik bin bar-bar itu.
"Udah, lu berdua gelut dah sekarang. Banyak ya nontonin." Gendis menatap kedua sahabatnya dengan malas lalu beralih pada Nadia "Lo gak boleh egois Nad. Sekarang bukan hanya lo tapi ada bayi lo yang butuh ayahnya."
Nadia terpaku. Apa memang dirinya yang terlalu berlebihan? Cinta? Apa gue butuh kalimat itu? Nadia mengelus perutnya diam-diam.
"Gue gak tau, Ndis. Gue pengen dicintai Om Gi. Tapi sepertinya sulit untuk mencintai orang seperti gue." Nadia menghapus sudut matanya yang berair.
Aleksis yang sudah menghentikan konfrontasinya dengan Sandra tertegun melihat Nadia menangis. "Sorry bukan maksud gue nyepelein perasaan lo tapi lo gak butuh kata cinta. Semua yang Om Gibran lakuin sama lo adalah bentuk cintanya. Gak semua orang bisa dengan gamblang mengungkapkan perasaanya apalagi sejenis Om lo yang tiap hari mainnya sama senjata."
"Benar Nad. Lo bisa liat cinta yang banyak dimata Om Gi. Kata tak menjamin rasa, Nad." Sambung Sandra sembari mengusap lengan Nadia.
Nadia mengangguk. Mungkin memang dia yang terlalu nerlebihan.
Setelah obrolan panjang mengenai banyak hal yang dilewatkan seperginya ia ke Papua, mereka memutuskan untuk pergi ke salon. Sebelum itu Nadia pamit ke toilet. Ibu hamil memang memiliki kebiasaan aneh, sering sekali buang air kecil.
Nadia membasuh wajahnya di wastafel, memandangi wajah kuyunya. Semalam ia tidak bisa tidur dengan nyenyak. Gibran terus saja menelfon dan mengiriminya banyak chat. Nadia yang tahu kondisi jaringan distrik bisa memastikan laki-laki itu pasti bermalam di luar, banyak nyamuk dan-- Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Maafin Nad, Om.
"Egois!"
Nadia baru akan meninggalkan toilet saat suara seseorang yang tak asing menyapa telinganya. Nadia menoleh, Elsa berdiri dengan tangan terlipat menatapnya sinis. Sudah pakai jilbab lagi rupanya.
"Saya tahu kamu masih anak-anak tapi seharusnya umur tidak membuatmu seenaknya seperti ini."
"Maksud tante apa?"
"Bang Gibran. Dia harus mengalami semua ini hanya untuk seorang anak kecil egois yang hanya mementingkan egonya. Kehadiran kamu di hidup Bang Gibran hanyalah beban. Bang Gibran berusaha dan belajar keras untuk mencapai impiannya menjadi yang terbaik tapi hanya karena seorang gadis kecil ia harus dipindahkan dengan jabatan yang tak seberapa. Kamu harusnya tau diri." Desis Elsa di akhir kalimatnya.
Nadia tersenyum tipis, "Tau diri? Saya tau diri tante. Saya tau diri saya sebagai istri Om Gibran. Tapi tante? Tante tau diri nggak menginginkan suami orang? Ngaca tan, dibelakang tante ada kaca besar." Balas Nadia menunjuk kaca toilet yang tepat berada dibelakang Elsa.
"Ckckck. Kasihan sekali Bang Gibran. Menikahi anak kecil yang memahami kalimat saya saja tidak bisa." Elsa berdecak prihatin. Mengulas senyum tipis meremehkan. "Harusnya tanya baik-baik hatimu Nadia. Apa benar Bang Gibran menganggapmu sebagai seorang istri? Apa benar yang Bang Gibran lakukan selama ini bukan karena kasihan? Kamu mengenal Bang Gibran dengan baik seharusnya kamu tahu persis bagaimana laki-laki itu."
"Kalau Om Gi tidak menginginkan Nad, gak mungkin ada bayi di perut Nad." Ujar Nadia percaya diri. Senyumnya memudar mendengar tawa mengejek Elsa.
"Kamu hamil? Oh iya ya." Elsa menatap perut Nadia dengan senyum meremehkan yang tak lepas dari bibirnya. "Tapi lo harus tau Nadia--" Elsa menjeda kalimatnya, memandangi Nadia dari ujung kaki ke ujung kepala, "Tanpa cinta pun seorang laki-laki masih tetap bisa melakukan hal itu pada wanita manapun. Termasuk pada gadis kecil sepertimu yang segar dan masih sangat penasaran. Mungkin Bang Gibran hanya mau membuka segel kamu dan--"
PLAAAK!!!
"Jaga mulut tante!!"
Elsa memegangi pipinya yang baru saja mendapat cap tangan dari Nadia. Ia tersenyum pongah, "KENAPA? SAYA BENAR KAN?" Elsa tertawa jahat melihat wajah merah padam Nadia. Ia melangkah mendekati Nadia, menyentuh ujung rambut gadis itu yang langsung di tepis kasar oleh yang punya.
Sepeninggal Elsa, Nadia langsung terduduk dilantai. Sebuah kesadaran baru mengguncang perasaannya. Mungkin saja Elsa benar tapi apa mungkin Gibran setega itu padanya? Gibran menyayanginya, Om Gibrannya menyayanginya. Nadia tertunduk dengan bahu bergetar. Gadis kecil itu menangis dalam diam. Om Gi menyayangi Nad kan?
***
"Sekarang!!!"
Dor Dor Dor!!
Suara tembakan bersahutan dilapangan tembak tempat para prajurit berlatih. Gibran yang berdiri sebagai pelatih menyentak satu persatu anggota dibawah pelatihannya dengan latihan yang tidak ada putus-putusnya. Kepergian Nadia mengembalikan julukan lamanya di lapangan, 'Pelatih Iblis'. Tak ada tanda-tanda laki-laki itu akan mengakhiri 'siksaannya' pada para garis merah membuat beberapa pelatih dari kompi lain hanya bisa menggelengkan kepala.
"Konsentrasi! Bidik sasaran yang tepat! Dibunuh atau membunuh!" Teriaknya menggunakan pengeras suara. Letusan peluru seperti hujan menyasar para prajurit yang sedang berjuang melewati besi berduri yang dibuat khusus melatih kecepatan dan ketangkasan sementara Gibran sendiri berdiri dengan memegang senjata tanpa henti mengomando.
"Itu siapa?" Tanya seseorang yang kebetulan melihat dari jauh latihan tersebut. Kedua telinganya di tutup earphone agar tidak mengalami cacat pendengaran.
"Kapten Gibran Al Fateh. Pindahan dari kota besar. Dia yang terbaik." Ujar seorang laki-laki beruban namun masih gagah dengan seragan lorengnya.
"Lalu kenapa disini?" Tanya lelaki berpakaian santai itu.
"Banyak rumor yang beredar tapi tidak ada yang tahu kebenarannya dengan pasti." Ujar si tentara, sebuah senyum penuh kecurigaan terbit di wajah keriputnya "Sepertinya Anda sangat tertarik dengan Kapten Gibran. Saling mengenal?"
Lelaki itu mengulas senyum tipis, "Saya mengenal istrinya." Ujarnya dengan penuh makna. Tentara tersebut mengangguk paham. Setelah percakapan itu mereka memisahkan diri.
Gibran melepas earphone yang menutup telinganya. Setelah meletakan semua peralatan latihan di tempat semula, ia berjalan menuju satu pos. Langkahnya melambat melihat seorang lelaki tak asing berdiri tak jauh di depannya. Lelaki tersebut membungkukkan badannya sebagai sapaan. Gibran menghela nafas pendek. Dunia benar-benar sempit.
"Selamat siang, Kapten." Sapa lelaki itu dengan senyum tipis tak pudar dari wajahnya.
"Selamat siang, Pak Lionel." Gibran menyambut uluran tangan Lionel. Ada apa kakak Lettu Prada di tempat seperti ini?
"Senang bertemu dengan kapten di tempat ini. Apa kabar Nadia?"
Gibran terkekeh sinis. Pertanyaan macam apa itu, menanyakan istri orang dengan terang-terangan. Seperti lelaki di depannya ini perlu mencoba arena tembak untuk mengaktifkan kembali urat malunya.
"Baik." Jawab Gibran singkat. Menyukai istri orang harusnya tidak perlu seterus terang ini tapi yah dunia sudah terbolak balik sekarang. Orang tidak menjunjung tinggi rasa malu lagi.
"Saya belum minta maaf untuk pertemuan terakhir kami yang kurang menyenangkan. Tolong sampaikan maaf saya. Nadia sepertinya belum bisa memaafkan saya. Saya sangat keterlaluan waktu itu."
Kedua tangan Gibran yang ada dalam kantong celananya mengepal kuat. "Apa yang terjadi? Kesalahan apa yang sudah anda lakukan pasa istri saya?" Gibran berujar tajam.
Lionel mengernyitkan kening lalu sebuah senyum tipis terukir di bibirnya, "Ah maaf, sepertinya Nadia tidak ingin anda tahu. Jadi--" Lionel melihat Gibran penuh pertimbangan. Ada kepuasaan melihat wajah tak senang suami si gadis kecil favoritnya dan ini sangat menyenangkan.
"Katakan!" Desis Gibran yang hanya di tanggapi kekehan ringan oleh Lionel.
"Jangan terlalu tegang Kapten. Istri anda seorang yang teguh pendirian, setia dan tentu saja sangat cantik." Lionel menepuk lengan berkeringat Gibran, bergerak hendak pergi dari tempat tersebut namun sebelum benar-benar pergi, ia berhenti tepat di samping Gibran "Jaga baik-baik istri anda atau saya akan datang untuk merebutnya." Ujarnya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Gibran yang terpaku dengan wajah kaku. Si*l!!
***
"Non, udah nangisnya. Kasihan adeknya, pasti sedih kalau Non menangis terus." Bibik mengelus rambut Nadia yang belum berhenti menangis sejak sore tadi. Sepulangnya dari jalan bersama sahabat-sahabatnya beberapa hari lalu, Nadia terus mengurung diri dalam kamar. Ia bahkan tak pernah mau diajak jalan oleh sehabat-sahabatnya. Ucapan Elsa benar-benar mengusik perasaannya.
"Bik, Nad gak layak disayangi ya, hiks? Kenapa nasib Nad begini, Bik. Nad anak baik kok tapi kenapa Allah ngambil ayah bunda Nad cepet bangat. Nad gak punya siapa-siapa yang bisa ngebela Nad, Bik. Nad sendiri, hiks." Nadia membenamkan kepalanya dalam batal empuknya yang sudah basah.
Bibik menepuk pundak majikannya lembut "Tidak boleh bicara seperti itu Non. Itu namanya Non menyalahkan Allah dan itu tidak boleh Non. Sebagai manusia tugas kita hanya bersabar dan bersyukur saat di timpa musibah. Non punya bapak yang selalu ada untuk Non."
Nadia menggeleng, "Om Gi tidak sayang Nad, Bik. Nad hanya bisa menyulitkan Om Gi. Nad gak penting buat Om Gi, hiks. Nad hanya barang milik Om Gi, Nad--hiks."
"Astagfirullah Non. Jangan bicara seperti itu. Bapak sayang sama Non. Bapak rela melakukan apapun untuk Non bahkan merelakan be--" Bibik menutup mulutnya yang hampir keceplosan. Nadia yang menyadari ucapan bibik langsung bangun.
"Merelakan apa Bik?" Tanya Nadia dengan wajah menuntut jawaban. Bibik menggigit bibirnya panik, ia harus jawab apa sekarang. Astaga, mulut comel. Bibik mengutuk dirinya sendiri yang sudah keceplosan.
"Bik, jawab!!! Om Gi merelakan apa?" Nadia menggenggam tangan bibik tak sabar. "Katakan bik. Apa yang bibik maksud tadi?"
Bibik menelan salivanya susah payah. "Ah itu Non. Maksud Bibik, Bapak sudah merelakan dirinya pindah jauh demi menjaga perasaan Non. Iya, itu--" Bibik menyengir meyakinkan.
Nadia menatap bibik selidik, "Bibik bohong kan? Bukan itu kan yang bibik maksud?" Ujar Nadia tak percaya dengan penjelasan bibik.
Bibik menggeleng, "Itu Non. Itu yang bibik maksud." Bibik mengangkat tangannya di depan dada untuk meyakinkan Nadia.
Nadia menyipit, "Bener, Bik?"
Bibik mengangguk cepat "Benar Non. Itu maksud bibik bukan yang lain."
Nadia menghela nafas pendek lalu menjatuhkan dirinya lagi diatas bantal "Om melakukan banyak hal untuk Nad. Semua pasti tulus kan, Bik?" Ujar Nadia lirih.
Bibik yang tidak paham inti pokok omongan majikannya mengangguk saja "Iya Non. Bapak tulus sama Non."
Kalau tulus sayang, seharunya Gibran tak berhenti mencoba untuk menghubunginya. Sudah lewat satu minggu dan belum ada lagi panggilan atau chat setelah malam itu. Mungkin Gibran sudah melupakannya. Tak menginginkan dirinya lagi, seperti kata Elsa, Gibran sudah mendapatkan segalanya milik Nadia, termaksud hatinya.
***