
Valeria mengikuti langkah Gibran dengan tatapannya. Ia penasaran apa yang akan dilakukan kapten itu menghampiri Nadia dan Robi, tentu bukan meminta diajari menjadi lelaki manis dan romantis kan? Karena begini pun ia sudah menyukai sosok Gibran yang dingin dan misterius. Valeria membelalakkan matanya saat melihat Gibran dengan santainya menyentuh bahu Nadia meskipun itu karena menaikan lengan sweater untuk menutupi bahu putih ibu hamil itu yang terekspos. Valeria bisa melihat dengan jelas Robi yang nampak tak nyaman di tempatnya berdiri.
"Tu orang gak mungkin naksir bini orang kan?"
"Heh, lo ngomong apa?"
Valeria menoleh dan mendapati salah satu rekannya yang merupakan seorang apoteker bernama Rani berdiri disampingnya membawa air mineral di tangannya.
Valeria menggeleng "Ah enggak." Ia mengalihkan perhatiannya dari tiga orang yang tak jauh berdiri di depannya pada Rani "Kerjaan di dapur udah beres?"
Rani mengangguk, "Beres. Lo dicariin Pak Distrik. Temuin gih."
"Bareng." Ia dan Rani kemudian meninggalkan lapangan distrik untuk ke dalam kantor distrik. Sepanjang perjalanan ia memikirkan kemungkinan Gibran yang menyukai istri orang, tengah hamil besar pula. Bagaiamana pun juga Kapten muda itu harus diselamatkan dari kesesatan.
***
"Dateng juga?"
Hei, sambutan macam apa itu kisanak!
"Datenglah. Kenapa? Gak boleh? Biar Om bisa deket sama tante-tante disini? Mau tebar pesona? Hih!" Nadia mencebik sebal. Kedua tangannya melipat didada. Bibirnya maju beberapa senti pertanda buruk jika saja Gibran lebih peka.
Gibran menghela nafas pendek. Ia menarik kursi plastik yang tak jauh dari tempat mereka berdiri dan menyuruh Nadia duduk.
"Duduk."
Nadia memelet pada Gibran lalu duduk di kursi tersebut. Ia memalingkan wajahnya kearah lain tak mau menatap Gibran yang menurutnya sangat menyebalkan saat di depan umum. Cuek dan tak peduli padanya padahal saat di depan publik beginilah kebucinan seorang Gibran harusnya di tunjukkan agar hama yang bertebaran sadar diri dan menyingkir dari sekitar mereka.
Tanpa kata Gibran langsung mengusap puncak kepala Nadia. Maunya harga diri Nadia menepis tangan itu tapi hatinya menginginkan tangan itu tetap disana.
"Capek?" Tanya Gibran mrmperhatikan sang istri dengan lekat.
Nadia memutar bola mata sebal. Dari tadi kek. Harus bangat ya di buka dengan perdebatan? Ah ya, Love after War kan motto hidup lelaki di depannya ini.
Nadia mengangguk "Pegel but it's ok." Ujarnya menggerakkan kakinya pelan. Jarang berjalan kaki membuat otot-otot kakinya menjadi kaku dan badannya lebih cepat merasa lelah. Selama kehamilannya yang semakin besar, ia menjadi lebih malas beraktivitas padahal Gibran selalu mewanti-wantinya untuk rajin berolahraga atau setidaknya dalam sehari berjalan beberapa langkah meskipun hanya sekedar bolak balik kamar dan ruang tamu.
Gibran mengusap peluh di kening Nadia menggunakan ibu jarinya lalu merapikan anak rambut Nadia yang lepek. "Kenapa gak di rumah saja?"
Nadia menoleh cepat dan menatap Gibran sengit. Siapa tadi yang berkoar-koar mengenai pentingnya memenuhi undangan BAMBAAANK?! Ingin sekali ia teriakan kalimat itu di depan muka Gibran yang tampak tak merasa sama sekali.
"Kenapa? Biar Om bebas ngecengin tante-tante disini? Seneng bangat di godain? Heran deh." Omel Nadia yang terlanjur kesal melihat ada perempuan lain di dekat suaminya. Baru juga dilepas sebentar udah ada jaja laler yang ngincer.
"Kamu kenapa sih? Lapar? Hum?" Gibran menjetik kening Nadia lembut. Nadia yang cemburu selalu saja tampak lucu dimatanya.
"Tau ah! Om minggir deh. Sebel dideketin om-om ganjen. Nanti bayi Nad ketularan lagi, HIH." Nadia bergidik sembari melirik Gibran kesal.
Mengabaikan kecemburuan tak beralasan Nadia, Gibran malah jongkok dan memijat betis Nadia dengan lembut. "Jangan marah-marah nanti cepat tua."
"Om yang tua."
"Oh ya?"
"Iyalah. Gak nyadar diri bangat. Udah tua masih juga ganjen."
"Tua-tua gini juga kamu doyan."
Mata Nadia membola. Satu tangannya cepat-cepat mengunci mulut Gibrab. "Ih mulutnya ya!" Diliriknya sekitar yang untung saja tidak ada orang di dekat mereka.
Gibran menggenggam tangan Nadia dan menjauhkannya dari mulutnya. Dikecupnya jemari itu yang membuat Nadia langsung gelagapan. Biasanya dia yang tidak tahu diri tapi kenapa sekarang Om Gibrannya yang tidak tahu malu?!
"Om apaan sih." Nadia memukul bahu Gibran sembari melarikan pandangannya kearah lain. Jangan sampai ada yang lihat. Wajahnya sudah memerah menahan malu juga kesal pada lelaki di depannya yang bersikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Jangan disini. Masuk di dalam sama ibu-ibu lain." Gibran berdiri sembari mengsuap pipi Nadia dengan punggung tangannya. Nadia mendongak lalu menganggukkan kepala. Kekesalan Nadia tak pernah bertahan lama apalagi kalau Gibran bersikap manis seperti sekarang.
"Om jangan deket-deket perempuan lain. Nad gak suka." Nadia mengayun-ayunkan tangan Gibran dengan manja. "Nad gak suka. Om denger?" Tanyanya pelan namun sarat tuntutan.
"Hum."
Nadia memutar bola mata sebal. "Hum apa?"
"Iya."
"Jangan iya-iya aja. Nad sebel kalau ada tante-tante yang ngedeketin Om. Kalau Nad sebel, adek juga pasti sebel. Kalau Nad dan adek sebel sama Om, Om nanti susah hidupnya." Ujar Nadia panjang lebar.
Gibran mengangguk, "Paham, Nad. Sekarang masuk di dalam." Pinta Gibran sembari membantu Nadia berdiri "Jangan kelelahan."
"Iya ah Bawel." Angguk Nadia lalu kemudian pergi menuju rumah distrik yang tidak jauh dari kantor distrik.
Setelah memastikan Nadia masuk ke dalam rumah, Gibran lanjut menghampiri Robi yang sedang membagi-bagikan minuman.
"Robi!" Panggilnya.
"Ya, kapten." Robi meletakkan dos minuman diatas sebuah akar pohon lalu menghampiri Gibran. "Bagaimana kapten?"
"Pekerjaan kamu sudah selesai?"
Robi menoleh kebelakang untuk melihat dos minuman yang sudah diambil alih oleh rekannya yang lain.
"Siap, selesai kapten."
Gibran mengangguk samar. "Bagus. Sekarang ambil ini dan bersihkan rumput-rumput yang ada dalam tenda dan lanjutkan sampai di halaman kantor Distrik." Ia menyerahkan celurit di tangannya yang diterima Robi dengan wajah tak yakin.
"Kenapa? Tidak sanggup?" Tanya Gibran dingin. Kedua alisnya bertaut menilai Robi dalam tatapan mata tajamnya.
Robi yang di tatap sedemikian dingin hingga hampir membekukannya langsung gelagapan. "Siap, sanggup Kapten." ujarnya cepat. Ia mencoba mengingat dalam hati, entah kesalahan apa yang telah dibuatnya kali ini.
Gibran tersenyum miring."Bagus. Segera selesaikan."
"Siap, Laksanakan."
Gibran berlalu dari hadapan untuk bergabung dengan rekannya yang lain mengerjakan pekerjaan lain. Sementara Robi yang ditinggalkan bersama celurit di tangannya menatap nanar lapangan luas di depannya. Ini bukan kali pertamanya menggunakan celurit tapi ini jelas kali pertamanya ia harus membersihkan lapangan seluas ini seorang diri. Helaan nafas berat lolos dari mulutnya, Gibran sangat menakutkan jika itu berhubungan dengan Nadia. Ia akan lebih berhati-hati di kemudian hari.
***
DUK!
"AW! Jidat gue."
"Sorry sorry, gue nggak-- Nadia?"
Nadia mendongak sembari mengusap keningnya yang tadi terantuk di badan seseorang. Decakan keras keluar dari mulut Nadia.
"Lo lagi, lo lagi. Sial bener hidup gue ketemu lo mulu sih ah." Nadia tak peduli lagi dengan yang namanya tata krama, sopan santun dan segala jenis pelajaran attitude yang di perolehnya selama ini. Kehadiran lelaki bule menyebalkan di depannya membuat hatinya yang tadinya hangat-hangat kesal melihat sejenis kuman menempeli Omnya bertambah derajat panasnya bertemu dengan Lionel, si bule menyebalkan.
"Sambutan yang manis Nadia." Lionel tersenyum lebar. Melihat Nadia di tempat yang tak terduga seperti mendapat penyegar ruangan di tengah teriknya matahari. Namun senyum itu tak bertahan lama saat melihat keadaan Nadia yang tengah hamil besar.
"Lo gak bisa apa jauh-jauh dari radar gue? Gilak ya, gak di jalanan macet, gak di hutan, lo mulu yang nongol. Dosa gue banyak bangat apa gimana sih." Nadia menghembuskan nafas jengah.
Lionel melipat tangan di dada. Perbedaan tinggi badan mereka membuatnya harus menunduk untuk melihat jelas wajah judes Nadia yang selalu terlihat lucu dimatanya. "Bukan dosa Nad tapi berkah melimpah." Ujar Lionel sengaja membuat kesal Nadia.
"Lo mending gak usah ngomong deh kalau cuma nyampah doang. Awas lo, gue mau lewat." Nadia mendorong bahu Lionel yang berdiri menghalangi jalannya masuk kedalam rumah distrik namun badan besar Lionel tak bergeser bahkan seincipun. Nadia berdecak semakin kesal.
"Ck. Minggir gak lo!?" Desis Nadia kesal. Ia menahan suaranya untuk tetap terkontrol karena tak mau menarik perhatian orang-orang.
"Gak." Lionel menggelengkan kepala dengan smirk menyebalkan diwajahnya. "Sebentar. Saya masih pengen liat wajah manis kamu."
"UWEEEEEK Najis!" Nadia berlagak seolah ingin muntah tepat di depan Lionel. "Lo jangan macem-macem ya. Habis lo di gebukin warga kalau gue aduin."
Lionel yang mendengar ancaman yang keluar dari mulut Nadia bukannya takut malah melarikan tangannya hendak mengacak puncak kepala Nadia yang untungnya istri Gibran itu dengan sigap menghindar.
"Lucu bangat Nad. Pengin saya kan--"
"Apa? Ngantongin? Gila lo, dasar psikopat aneh." Potong Nadia cepat. Ia menatap Lionel ngeri.
Lionel terkekeh, "Itu kamu tau. Yuk, ikut!'
"OGAH! musnah lo dari hadapan gue. Anjiiir bangat jadi orang." Nadia melipat tangannya kesal dengan ekspresi siap menguliti Lionel jika lelaki itu mencoba kembali menyentuhnya. Satu-satunya mahkluk berjenis laki-laki yang boleh menyentuhnya hanyalah Omnya, Gibran Al Fateh. Meskipun ia sedang kesal pada suaminya itu sekarang tapi ia harus tetap menjaga diri dari segala jenis makhluk yang berniat menjatuhkan tangan kepadanya.
"Ayolah, sekalian ngajak baby kamu jalan-jalan. Siapa tau nemu tarzan di hutan." Bukannya berhenti, Lionel makin gencar menggoda Nadia. Ia melirik perut Nadia sekilas.
Dengan kedua lengan kecilnya Nadia memeluk perutnya seolah ingin melindunginya dari lelaki menyebalkan di depannya. "Dih, ogah. Lo aja yang ke hutan sekalian bisa silatutahmi sama spesies lo disana. Kali-kali aja nemu monyet betina buat dibawa pulang."
"Ini nih yang buat saya makin suka sama kamu. Lucu." Lionel terkekeh menanggapi omongan asal Nadia. Ia tidak tahu saja kalau Nadia benar-benar mengucapkan kalimat itu murni dari hatinya yang paling dalam. Monyet peliharaan Prada.
Nadia menurunkan tangannya. Ia lelah harus menanggapi manusia mati rasa putus urat malu di depannya ini. Kali pertama ia menemukan jenis manusia seperti Lionel yang makin di tolak, makin memaksakan diri. Sangat disayangkan wajah blasteran, otak hasil reparasi. Ckckck. Nadia berdecak miris dalam hati.
"Lo mendingan kasi gue jalan deh sebelum kesabaran gue habis." Nadia berucap datar. Ia akan menyimpan energinya untuk hal-hal berfaedah lainnya ketimbang hambur-hambur air liur menanggapi kekeraskepalaan lelaki di depannya ini.
"Belum bisa memaafkanku?"
Topik ini lagi. Nadia menghela nafas lelah. Ia mendongak menatap Lionel dengan wajah lelah. "Gue udah maafin lo. Harus berapa kali gue bilang biar otak lo itu nyerap bahasa gue sih."
Lionel mengangguk samar, "I mean, saya mau berteman dengan kamu." Ujarnya lirih.
"Gak. Makasi." Jawab Nadia cepat. Lionel terdiam.
Tanpa menunggu, Nadia memanfaatkan kesempatan itu untuk mendorong Lionel dan akhirnya bisa lolos masuk ke rumah distrik bergabung dengan ibu-ibu lain. Teman? Heh, In your dream.
Lionel yang tersadar akan kepergian Nadia hanya menatap punggung kecil itu menghilang di ruang tengah. Suatu hari Nadia, suatu hari saya pastikan kita akan berteman. Lionel menarik nafas kecil lalu berjalan keluar dengan langkah lebarnya dan tiba-tiba---
BRUUUK!!!!
"****!!!! SIAPA YANG---"
"Maaf, saya tidak lihat."
Lionel memgatupkan rahangnya ketat melihat Gibran yang berdiri di depannya dengan senyum miring andalannya.
"Perlu bantuan?" Gibran mengulurkan tangan pada Lionel yang terduduk diatas ember dalam keadaan basah.
"Tidak perlu." Lionel menepis tangan Gibran yang terulur di depannya. Ia berusaha bangkit namun karena posisinya yang tersedot dalam ember membuat ia kesulitan berdiri.
Sementata itu Gibran si pelaku utama yang meletakan satu ember air bekas pel di depan pintu hanya memperhatikan tanpa niat membantu sama sekali. Tawarannya tadi hanya sekedar basa basi untuk membuat Lionel kesal. Niatnya tadi kebelakang untuk membuang air bekas pel kantor distrik tertahan saat melihat Nadia berdebat kusir dengan Lionel. Tangannya gatal ingin sekali dia sarangkan di wajah Lionel saat laki-laki itu terang-terangan menggoda istrinya tapi melihat Nadia bisa menanganinya sendiri akhirnya ia hanya memberikan penutupan yang menarik untuk lelaki di depannya ini. Lagian berani sekali menggoda istrinya, masih untung air pel yang ada di tangan Gibran bukan air panas atau lahar panas yang tentu saja tak akan segan-segan ia siramkan di wajah pria blasteran di depannya ini.
"Lain kali berhati-hatilah. Gunakan mata untuk melihat jalan bukan memandangi istri orang." Gibran hendak berlalu meninggalkan Lionel saat laki-laki itu sudah hampir berhasil melepaskan diri dari sedotan ember namun sebelum benar-benar pergi, ia sempatkan untuk menendang ember putih tersebut hingga membuat Lionel kembali terduduk namun kali ini bukan dalam ember melainkan diatas lantai basah.
"****!!!!" Maki Lionel. Sementara Gibran dengan santai melambaikan tangannya meninggalkan Lionel dan kesialannya yang lagi-lagi harus masuk dalam ember dan air kotor bekas pel yang menyiprati pakaiannya.
***