Little Persit

Little Persit
Hati yang Om Gi sakiti



"Om, kok sabun Nad cepet bangat habisnya. Om pake ya? Om kan ada sabun sendiri." Nadia muncul di pintu kamar mandi sambil misuh-misuh. Ia sedang terburu-buru mau mencari bahan praktek bersama teman kelompoknya tapi saat mau mandi, sabun yang biasa ia pakai sudah habis padahal ia baru saja membelinya minggu lalu.


"Beli baru aja Nad. Sabunnya Om pakai buat mandiin puppy."


"Ya salaaam. Puppy bisa mati om sabunin gitu. Lagian Disabunin gimanapun ayam tetep aja bau ayam gak mungkin jadi wangi kasturi." Ujar Nadia kesal. Tatapannya jatuh pada puppy yang tampak memprihatinkan dengan pita baru yang menyekek lehernya. Gibran sangat totalitas mendandani anak ayam yang malang itu. Sabar puppy, beberapa bulan lagi hari kebebasanmu akan datang.


"Puppy senang bisa berendam di bath up. Iya kan puppy?" Ujar Gibran mengelus kepala puppy yang kini mata kecilnya berkaca-kaca.


"Bath up? Om mandiim puppy di bath up? Astaga Om--ugh!" Nadia menghentakkan kakinya kesal. Bath up nya dipakein buat mandiin puppy? Ya Allah, Untung saja ia belum berendam semingguan ini kalau tidak, sudah pasti kulitnya akan gatal-gatal gara-gara satu bath up sama si puppy.


"Jangan marah-marah nanti cepat tua." Teriak Gibran dari arah luar. Nadia memutar bola matanya. Om yang tua!


Nadia menatap nanar botol sabunnya, sabun limited edition yang ia buru sejak berbulan-bulan lamanya sampai harus mantengin situs belanja setiap hari harus berakhir jadi bekasan mandi si puppy. Ingin rasanya Nadia memaki tapi apalah daya bab akhlak pada suami sudah diajarkan oleh guru ngajinya. Nadia menghela nafas pendek, sudahlah, sabun sudah menjadi comberan mau diapain lagi.


.


.


.


"Kok lama? Kelayapan dimana?"


Nadia menekan kesalnya hingga titik terdalam. Baru juga sampe rumah, belum sempat nafas, udah di berondol aja sama pertanyaan.


Nadia menyalami tangan Gibran yang tengah berdiri di depan pintu dengan wajah datar. "Assalamualaikum, Om." Sapa Nadia mengabaikan omelan Gibran.


Lama apanya, ia hanya pergi dua jam itupun selama diluar Gibran terus saja menerornya dengan telfon dan bunyi chat beruntun memintanya untuk cepat pulang.


"Waalaikumsalam." Gibran merentangkan tangannya menunggu Nadia memeluknya. "kangen." katanya saat Nadia sudah berada dalam pelukannya.


Astaga bambaaaankk! Nadia menghela nafas pasrah menerima perlakuan Gibran. Ternyata Gibran yang bucin bukan tipe idealnya. Ia mengusap wajah kasar. Sampai kapan semua ini berakhir, ia sudah tidak tahan lagi. Hiks.


"Iya. Pelukannya di dalam aja Om. Kaki Nad pegal." Ujar Nadia memohon. Ia benar-benar letih, wajah kusutnya seperti baju yang tidak disetrika.


Gibran mengangguk lalu menggiring Nadia yang ada dalam pelukannya masuk ke ruang tengah. Keduanya duduk diatas sofa dengan Gibran yang tak melepas sedetikpun belitannya.


"Om, Nad haus. Ambil minum dulu ya." ujar Nadia meminta izin. Lehernya terasa kering, makin kering mendapati Gibran menempelinya seperti ulat keket.


"Ikut." Gibran berdiri mendahului Nadia dan mengulurkan tangannya "Ayo. Om juga haus."


Nadia melongok. Parah. Gibran benar-benar bukan Gibran yang biasanya. Nadia menduga-duga bagaimana kelak anak mereka kalau bapaknya mengidam seperti ini.


"Om duduk aja, nanti Nad yang ambilin." Saran Nadia karena berjalan dalam kungkungan badan besar Gibran bukanlah hal yang mudah.


"Barengan." Ujar Gibran ngeyel.


Baiklah. Nadia menghela nafas pendek. Entah sudah berapa kali ia melakukannya yang pasti, perubahan Gibran bukan hanya menguras kesabarannya tapi juga tenaganya.


Nadia menyambut uluran tangan Gibran lalu mengikuti langkah lebar lelaki yang hanya memakai celana pendek dan kaos singlet itu ke dapur.


"Wow, susunya banyak bangat Om. Kapan beli?" Nadia mengerjap berkali-kali melihat susu ibu hamil dalam dos besar yang ada diatas meja. Bisa di minum ibu hamil sekampung ini sih.


"Tadi Om titip sama adik-adik." Jelas Gibran. Titip? Nadia mencibir, palingan juga itu om-om di suruh sama paduka Gibran Al Fateh. Titip disini bukan titip dalam artian sebenarnya karena titipnya Gibran pada adik tingkatnya jelas berisi perintah tidak resmi tapi sama wajibnya untuk dilaksanakan.


"Nad rajin minum susu ya biar Nad dan adek kuat." Kata Gibran yang mulai menuangkan susu ibu hamil dalam gelas besar. Nadia mengangguk Susu adalah minuman favoritnya jadi bukan hal susah kalau hanya sekadar minum susu ibu hamil siang malam.


"Om mau apa biar Nad ambilin." Nadia cepat-cepat menyilangkan tangannya di dada saat Gibran menatap kearah bagian favoritnya itu.


"Gak ada ya Om malam ini. Nad mau istrahat."


Gibran cemberut. Tapi tak bisa memaksa Nadia yang kelihatannya benar-benar kelelahan.


"Oke. Nad aman malam ini."


Nadia menghela nafas lega, yang penting malam ini selamat. Batin Nadia.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Gibran dan Nadia saling melirik.


"Om ada janji sama seseorang malam ini?" Tanya Nadia sembari dengan pelan melepaskan jemari Gibran dari pinggangnya.


Gibran menggeleng. "Mungkin tetangga." Ucapnya menangkap Nadia lagi yang sempat meloloskan diri.


"Biar Nad liat." Kata Nadia menawarkan diri dengan cepat. Berharap yang muncul adalah teman-teman Gibran yang membawa tugas kantor atau setidaknya mengajak Omnya itu cerita sementara ia memulihkan tenaga raga dan jiwanya. Nadia melepaskan dirinya dengan gesit saat Gibran lengah lalu melipir ke ruang tamu untuk membuka pintu.


"Waalaikumsa-- tante?"


"Hai Nadia."


Nadia menarik nafas pelan, "Hm. Ada apa, tan?" Nadia melipat tangannya di dada. Di depannya ada Prada yang berdiri sok lugu memegang bingkisan buah-buahan di tangannya. Oke, Nadia berharap ada tamu yang bisa meloloskannya dari Gibran tapi tentu saja Prada tidak masuk dalam hitungan.


"Jenguk Kapten." Kata Prada sembari menyelipkan rambutnya dibelakang telinga sok imut. Haduh, gak cocok tan, lebih imut si puppy kemana-mana.


"Om gi seh-- Ck, ini lagi satu." Nadia berdecak melihat kakak Prada keluar dari mobil.


"Hai cantik."


Nadia berlagak muntah mendengar sapaan dari manusia mesum yang menyusul di belakang prada. Kakak adik yang menyebalkan.


"Kita gak dibiarin masuk nih?" Tanya Lionel sok asik.


ENGGAK!!!


"Silahkan masuk." Nadia menyingkir dari pintu membiarkan para tamunya masuk.


"Nad sendiri?" Tanya Lionel dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya. Disampingnya Prada melirik sang kakak yang sok akrab dengan istri Kapten pujaannya.


"Bertiga kan sama lo dan tante." Ujar Nadia ketus. Ia tidak mengenal tatakrama kalau sudah berurusan dengan Lionel sebab pertemuan pertama mereka sudah menjelaskan bahwa Lionel bukan sosok orang yang layak mendapat hormatnya.


"Bisa aja jawabnya. Saya makin suka." Ujar Lionel tak menutup-nutupi ketertarikannya pada Nadia.


"Maaf sekali, saya tidak suka manusia otak kotor. Bentar, Nad panggilin Om Gi." Nadia berlalu dari hadapan tamunya untuk memanggil Gibran.


"Om, ada tante Prada sama monyetnya."


Nadia mengangguk, "Iya. Cek aja di depan. Monyetnya gede bangat sebelas dua belas dengan gorila, kalau senyum makin nyeremin." Jelas Nadia yang membuat Gibran malah bingung.


"Oke. Habisin susunya, Om ke depan." Ujar Gibran menyerahkan gelas susu Nadia.


"Pakai baju yang sopan, celananya juga di ganti." Nadia mengingatkan sebelum Gibran menemui tamunya. Menang banyak si tante tutup panci nemu pemandangan lezat Om Gi nya yang seperti itu.


"Baju kaos Om yang ada gambar ayamnya mana? Om mau pake itu." Teriak Gibran melongokkan kepalanya di pintu kamar. Akhir-akhir ini Gibran sangat terobsesi dengan ayam apalagi yang baru netas, ia paling gemas melihatnya geol-geol.


" Ambil aja yang lain Om yang itu udah bolong. Udah Nad jadiin lap kotoran Si puppy." Ucap Nadia menyusul Gibran di kamar.


"Tapi Om maunya yang itu. Ada gambar ayamnya."


Pake mangkok gambar ayam mau? Batin Nadia kesal.


Nadia menghembuskan nafas berat, "Pake yang ada aja ya Om, Nad beneran udah musnahin tuh baju." Aku Nadia sembari memilihkan baju kaos lain untuk Gibran.


"Ini aja gimana?" Nadia mengangkat salah satu baju yang ia belikan secara online untuk Gibran.


"Gak, Om gak suka huruf F nya." Tolak Gibran menepis baju tersebut.


Nadia melongok, gara-gara huruf F nya doang? Padahal huruf F bukan berarti artinya F*ck. Ya Tuhaaaan, panjangkan batas sabar Nad. Nadia menutup matanya menahan diri untuk tidak mengumpat.


"Ini aja gimana? Gak ada apa-apanya." Nadia kembali mengambil satu kaos berwarna hitam.


"Ck, bosan. Warnanya hitam, suram."


Nadia melongok. Fix, ia menyerah.


"Ya udah pilih sendiri. Nad gak tau mana kesukaan Om." Nadia menyingkir dari depan lemari memberikan Gibran ruang untuk mengambil kaos pilihannya. Kalau dia yang dibiarkan memilih, sampai besok pagi juga urusannya belum kelar. Tamu auto menginap.


"Nad gak tau kesukaan Om?" Tanya Gibran sembari mengacak-acak isi lemari."


"Gak." Jawab Nadia cepat. Ia menjatuhkan dirinya diatas ranjang sembari membuka WA grup kelas yang sudah ramai sejak siang. Apalagi yang dibahas kalau bukan piknik sehari mereka. Paling banyak isi pesannya membahas vila mana yang terbaik untuk di sewa. Belum lagi ada yang menyarankan liburan LN yang Nadia rasa sel otaknya tidak bekerja dengan baik. Sehari mau di pakai liburan ke LN sama saja bohong. Kalau cuma negara tetangga, Nadia tidak perlu menunggu sampai kelas tiga untuk berkunjung kesana, sehari bolak-balikpun bisa.


"Bener?"


Nadia mendongak, "Apa yang bener?' Tanyanya balik, di depannya Gibran sudah memakai baju kaos yang sama yang ia tawarkan pertama kalinya, memang dasar niatnya mau mengerjainya saja ini Om-om. Untung ganteng.


"Bener gak tau kesukaan Om?"


Nadia menggeleng. Lagipula penting sekali hal itu dibahas sekarang saat dua tamu mereka sudah menunggu di depan?!


"Nadia."


"Hum?" Nadia mengernyit.


"Nadia kesukaan Om." Ulang Gibran sembari mengulas senyum malu-malu.


Astaga astaga astagaaaaa pengen nyubit pipinyaaaa. Baru pertama kalinya Nadia melihat jenis senyum Gibran yang satu ini, seperti seorang remaja yang baru saja mengungkapkan cintanya pada seseorang yang sudah lama di sukainya.


"Nadia?" Tanya Nadia dengan bibir menahan senyum.


Gibran mengangguk cepat, lalu bergegas keluar dari kamar sembari menangkup kedua pipinya.


Itu Om Gi nya kan bukan jin genit? Iiiiih gemesh bangat. Nadia meletakkan hpnya begitu saja lalu menyusul Gibran keluar kamar.


"Lettu Prada, and--"


"Lionel." Lionel kembali mengenalkan namanya pada Kapten adiknya padahal tadi pagi ia sudah mengenalkan diri juga.


Mana monyetnya? Gibran menghela nafas pendek. Ada-ada saja tuh anak.


"Ah, ya. Pak Lionel. Ada keperluan apa ya?" Tanya Gibran to the point. Ia tidak ingin berlama-lama menjamu tamu saat ada wanita cantiknya dalam rumah yang bisa ia ajak bersenang-senang. Lagipula tumben sekali Lettu Prada membawa serta kakaknya ke rumahnya. Gibran menatap Lionel tak santai. Biar bagaimanapun ada kejadian yang tak menyenangkan yang pernah terjadi diantara mereka sebelumnya.


"Kami dengar kapten sedang sakit. Makanya kami datang jenguk." Prada menjawab. Ia menyerahkan bingkisan buah yang ia pangku.


"Oh, terima kasih tapi sebenarnya tidak perlu repot-repot." Ucap Gibran meletakkan bingkisan tersebut diatas meja. Wajah Prada yang tadinya penuh senyum berubah murung. Lionel yang melihat itu mengelus lembut punggung tangan adiknya.


"Bapak sudah ke dokter?" Tanya Lionel mengalihkan perasaan sedih adiknya.


"Sudah. Bukan apa-apa. Hanya ngidam biasa."


"Ngidam? Bapak hamil?" Tanya Prada syok. Lionel pun tak kalah bingungnya dengan kalimat Gibran.


Gibran tersenyum tipis "Istri saya tapi saya dapat bagian ngidamnya." Ujar Gibran merasa konyol dengan apa yang terjadi padanya sekarang.


"Nad--"


"NADIA HAMIL?"


Prada melirik kakaknya yang baru saja memuntahkan kalimat anehnya. Apa urusannya kan? Batin Prada.


Tak berbeda dengan Prada, Gibran pun melihat ada ketidaksesuian dari kalimat yang keluar mulut kakak asistennya itu. Kenapa dia yang syok? Gibran menatap Lionel penuh penilaian.


"Ada masalah?" Tanya Gibran dengan nada tak suka.


Lionel yang baru menyadari kesalahannya langsung mengatupkan rahang, "Maaf, saya tidak bermaksud apa-apa." Hanya saja Nadia seharusnya tidak hamil dengan anda. Lanjutnya dalam hati.


Gibran mengetatkan rahangnya. Tak perlu dikatakan, ia sudah tahu laki-laki di depannya ini menginginkan istrinya tapi tentu saja Nadianya bukan barang yang bisa dimiliki siapapun. Nadia hanya miliknya, sejak dulu, sekarang ataupun Nanti.


"Selamat kapt." Sela Prada lirih. Bibirnya tampak bergetar namun masih bisa di samarkan oleh senyum yang biasa terpatri di wajahnya.


"Terima kasih." Ucap Gibran singkat.


Sementara itu di balik tembok, Nadia duduk tenang menikmati tontonan yang akhir-akhir ini sering sekali muncul sebagai meme di medsos. Lagu Soundtracknya sangat menyayat hati, persis dengan filmnya yang suka sekali menayangkan betapa menderitanya menjadi seorang istri. Sepertinya bapak sutradara perlu melihat dirinya, hidupnya sangat menyenangkan memiliki suami yang hanya memandang padanya tak peduli berapapun wanita yang menyukainya, tak peduli secantik apapun wanita di luar sana. Om Gibrannya yang terbaik.


Nadia yang mendengar jelas percakapan orang-orang di ruang tengah berbaik hati menambah volume suara televisi yang sedang memutar lagu berurair airmata itu untuk mengiringi patah hati Prada yang hatinya sudah di sakiti oleh berita baik dari Gibran. How pity. Huhuhu


Kumenangiiiiiiis~~~


***


Milik Om Gibran, dulu, sekarang dan nanti.