Little Persit

Little Persit
Kawasan Wajib Lapor



Gibran mengambil hpnya yang bergetar diatas dashboard mobil yang ia kendarai. Ditengah padatnya kendaraan berlalu lalang, lelaki yang mengenakan kemeja dinasnya itu tersenyum kecil melihat layar hpnya. Sebuah pesan masuk dari sang istri. Nama baru lagi.


From Sayangnya Om Gi ❤


Obatnya jgn lupa diminum ya sayang.


To Sayangnya Om Gi ❤


👌


From Sayangnya Om Gi ❤


No pict. hoax loh, sayangku.


Gibran terkekeh. Ada-ada saja istrinya ini. Ia melirik keluar jendela, masih beberapa menit lagi sebelum lampu lalu lintas berubah hijau. Ia lantas mengambil sebuah botol kecil dalam kotak yang dibawa dari rumah lalu mengatur posisi untuk menunjukan bukti pada istri super cantiknya.


To Sayangnya Om Gi ❤



From Sayangnya Om Gi ❤


Good boy.


Gibran mengulum senyum tipis, meletakkan hpnya kembali diatas dashboard untuk melanjutkan perjalanan saat klakson kendaraan lain mulai bersahutan tak sabaran.


Ditempat lain Nadia tampak tersenyum puas memandangi layar hpnya mengabaikan tatapan tak sehat dari orang-orang yang melewatinya. Sejak turun dari mobil yang dibawa Mang, tatapan seolah jijik itu tak berhenti mengiringi langkahnya melewati lorong kampus. Hanya saja Nadia yang terlahir dengan tingkat kepercayaan diri yang akut dan masa bodoh yang menggunung menganggap itu hanyalah bagian dari keseharian orang-orang yang hatinya busuk yang selalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Lagipula wajar saja wanita cantik menjadi pusat perhatian kan?


"Nadia...Nadia...Nadiaaa!"


Wati yang berisik!


"Iya wati? Bisa gak sih lo manggil nama gue santai dikit? Berasa lagi diburu rentenir gue." Nadia mengibas rambut hitamnya sebal. Pagi-pagi Wati sudah mengacaukan moodnya.


Wati yang sudah terbiasa dengan pribadi Nadia yang ketus tapi baik hati menggeleng cepat, "Tidak bisa. Ini gawat!"


"Hem" Nadia berdehem tak peduli. Ia kembali memandangi layar hpnya dimana wajah tampan sang suami terpampang. kece bener suami gue.


"Nad, kamu dengar aku kan?"


Jadi pengen nyipok.


"Beritanya heboh se-fakultas."


Pengen peluk juga.


"Nad!"


Nadia menatap Wati jengah, "Apa sih Wati?" Helaan nafas jengah lolos dari mulutnya. Ia memasukan hp dalam tas sambil merutuk, "Diem deh gue mau belajar." lalu mengelurkan bukunya membolak balik halaman berusaha konsentrasi diiringi ocehan Wati yang tak berujung.


"Liat ini!" Wati menunjukkan layar hpnya menghalangi pandangan Nadia dari tulisan-tulisan kecil yang sedang berusaha dipahaminya.


Nadia melirik sebentar. Website resmi Fakultas yang banyak diisi oleh berita-berita mengenai UKT dan sejenisnya. Tidak menarik sama sekali.


"Udah. Sekarang minggirin deh. Gue mau belajar biar pinter." Kata Nadia menepis tangan Wati yang menghalanginya.


Wati mengerutkan kening. Ia melihat lagi layar hpnya yang sedang menampilkan berita hot kampus pagi ini.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Tidak."


"Tapi forum--"


Nadia menoleh pada Wati dengan tatatan lelah, "Mending lo belajar deh. Bu Rosa suka rese kalau ada mahasiswanya yang bengong pas ditanyain."


Wati mengerjap, gadis cantik di depannya ini benar tidak apa-apa?


"Tapi Nad---"


"Shhhht... Nih sarapan roti dulu biar mulut lo gak ngoceh mulu." Nadia mengambil roti isi coklat yang masih terbungkus dari dalam tasnya, "Susu juga biar sehat." tambahnya meletakkan sekotak susu rasa pisang favoritnya.


Wati diam. Nadia tau saja kalau dirinya belum sarapan, "Terima kasih, Nad." Ucapnya senang. Ia mengabaikan bunyi notifikasi yang bersahutan. Sepertinya ia tidak perlu mengkhawatirkan Nadia sebab cewek cantik ini terlalu kuat untuk digoyahkan.


"Hmmm." Gumam Nadia kembali berkutat dengan tulisan-tulisan di depannya meskipun sebenarnya matanya terasa berat melihat tulisan sebesar semut itu.


***


Nadia selesai mata kuliah kedua tepat jam sebelas siang. Ia memasukkan buku-bukunya dalam tas dan beberapa lembar tugas yang sudah di jilid rapi yang harus dikumpulkan jam dua siang nanti.


"Nad mau kemana?" Wati bertanya saat melihat Nadia beranjak dari kursinya.


"Bukan urusan lo."


"Saya boleh ikut?"


Nadia tak menjawab dan itu artinya, yes. Wati buru-buru memasukkan peralatan kuliahnya dalam tas lalu bergegas mengikuti Nadia keluar kelas.


"Nad tung--"


BUK!!!


Wati mengusap hidungnya yang menubruk punggung Nadia. Didepan mereka ada Orion yang menatap Nadia dengan sorot yang--khawatir?


"Lo... gak apa-apa?"


Nadia melipat tangannya di dada, "Emang gue harus apa-apa?" Hari ini orang-orang semakin sibuk ingin tahu kabar orang lain termasuk lelaki blasteran di depannya ini.


Orion terlihat salah tingkah. Cowok itu mengusap tengkuknya salah tingkah, "Gue cuman--"


"Gue baik-baik aja. Permisi." Nadia melongos melewati Orion yang seperti kehabisan kata-kata.


"Gue percaya sama Lo, Nad!"


Langkah Nadia terhenti, percaya? Ia menoleh pada Orion dengan kening bertaut. Lelaki itu tersenyum lembut. Fix, ini aneh.


"Maksud lo?" Tanya Nadia bingung. Ia bahkan tidak meminta cowok itu mempercayainya atau apalah itu.


"Apapun yang orang-orang bilang tentang Lo, gue percaya lo pasti punya alasan ngelakuin itu." Orion tampak tak nyaman mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Sorry tapi gue nggak ngerti lo ngomong apa." Ujar Nadia lalu berbalik melanjutkan niatnya mencari makan siang.


"Nad, kamu belum baca beritanya ya?" Tanya Wati tergopoh mengikuti langkah lebar Nadia.


"Berita tentang kamu yang jadi simpanan Om-om." Lanjut Wati lalu menggigit lidahnya saat Nadia menatapnya horor.


"WHAAAAT?" Seketika Nadia menoleh tak percaya dengan info yang baru saja di dengarnya.


"Gue simpenan Om-om?" Tanyanya memastikan pendengarannya tidak keliru.


Wati mengangguk polos. Cewek jelmaan sanchai itu mengeluarkan hpnya dari tas membuka website kampus dan menunjukkannya pada Nadia.


Nadia mengernyit melihat fotonya dan Gibran disebuah antrian pembelian tiket bioskop. Nadia tahu persis kejadian itu dimana ia bertemu Orion dan Lalita. Jelas salah satu dari mereka tersangkanya. Nadia menggelengkan kepala tak menyangka. Tapi sejurus kemudian ia mengingat pesan Gibran untuk tidak memperdulikan pendapat orang-orang tentang dirinya. Ia rasa tidak ada kewajiban untuknya menjelaskan pada setiap orang tentang urusan pribadinya. Akhirnya ia memilih abai. Tidak penting memperdulikan komen natizen. Selama keluarganya tidak apa-apa, maka tidak ada masalah sama sekali.


"Nad, kamu tidak apa-apa kan?"


Nadia mengembalikkan hp Wati sembari mengedikkan bahu cuek.


"Gue mau ke kantin. Lo mau ikut?"


Wati mengangguk, "Mau." Senyumnya merekah sempurna karena akhirnya Nadia bertanya padanya. Nadia lantas melenggak pergi menuju kantin dimana para natizen sudah menunggunya dengan beragam komentar yang menyebalkan.


"Astaga padahal cantik loh!"


"Itu orangnya? Kok mau ya jadi simpenan?"


"Alah udah gue duga dari dulu. Modelan dia emang berbakat jadi simpenan."


"Pantas sih barangnya branded semua peliharaan sih."


"Udah, ngapain sih ngurusin dia?"


"Ya ampuuuun gak ada malu apa gimana ya?"


Desas desus itu terdengar dengan jelas di kupingnya Nadia. Si cantik itu melangkah dengan penuh percaya diri diantara orang-orang yang sedang membicarakannya. Tak ada sama sekali yang berusaha menutup mulut melihat objek yang menjadi topik hangat memasuki kantin kampus, malah semakin ramai yang memperhatikan.


"Susu pisang dan roti bakar rasa keju, bu." Ucap Nadia pada Ibu kantin yang sepertinya tahu gosip yang sedang merebak terlihat dari caranya tersenyum dan menatap Nadia.


"Roti coklat satu dan air putih." Sambung Wati menambah pesanan.


"Baik, kak. Nanti kami antar ke meja kakak berdua." Ujar Ibu kantin seraya mengingatkan pelayannya


Nadia memilih salah satu bangku yang berada di pojok yang kebetulan belum ada orangnya. Tatapan orang-orang masih tertuju padanya tapi dengan santai Nadia berlenggok melewati mereka dengan senyum angkuh miliknya. Wati si Gadis berambut lurus bak iklan shampo itu tampak terganggu dengan tatatap orang-orang pada mereka. Ia melirik Nadia yang asik dengan hpnya.


Drt... drt...


From Om Gi sayang ❤



Senyum Nadia merekah. Ia mengetik balasan untuk sang suami yang tumben sekali berinisiatif mengiriminya bukti seperti ini.


To Om Gi sayang ❤


Abisin ya sayang.


From Om Gi sayang❤


Dagingnya alot, nasinya gak mateng, sayurnya asin but I love you so much.


Nadia memberenggut tapi sebenarnya ada yang menggembuk-gebuk hatinya sekarang. Ia berdebar. Ini kali pertama Gibran mengirimkannya ungkapan cinta semanis ini walaupun diawali dengan kalimat-kalimat kejujuran mengenai skill memasaknya yang bukannya membaik tapi sepertinya makin parah.


To Om Gi sayang❤


Parah bangat ya? Gak usah dimakan aja kalau gitu ntar Om sakit 😣


From Om Gi sayang❤


Sdh habis.


To Om Gi sayang❤


Maafin ya. Nad akan berlatih lagi. 🙇‍♀


From Om Gi sayang❤


💪


To Om Gi sayang❤


🤗 Nad love you too, Om.


From Om Gi sayang❤


Laporan selesai.


To Om Gi sayang❤


Laporan diterima. Jangan lupa jemput Nad.


Tak ada balasan tapi dua centang biru sudah cukup untuknya. Memangnya balasan apalagi yang bisa diharapkan dari kanebo kering kesayangannya itu?! Nadia menurunkan hpnya dari hadapannya saat pesanannya datang. Ia baru menyadari keberadaan Wati yang duduk di depannya menatapnya intens.


"Lo ngapapain liatin gue kayak gitu?"


"Kamu cantik."


"NAJIS WATI!" Gidik Nadia ngeri. Jangan bilang wati ini diam-diam adalah kaum luth yang tersamarkan? Bukankah itu sangat mengerikan?


"Saya serius. Kamu kok bisa cantik begini Nad?" Nada penuh kekagaman Wati belum berubah, "Saya iri." cicitnya diakhir kalimat.


Nadia mengibaskan rambutnya dengan gaya anggun menggeleng tak habis pikir. Wati cantik, terlepas dari sikapnya yang suka SKSD dan berisik, Nadia tidak masalah diekori oleh cewek ini. Hanya saja Nadia sebal dengan pernyataan-pernyataan Wati yang selalu merendahkan dirinya sendiri. Bagaimana orang lain tidak tertarik membullynya, dia saja sudah membully diri sendiri.


"Lo baiknya sering-sering bersyukur deh Wati. Liat semua hal baik dari diri lo. Jangan suka bandingin sama orang lain apalagi itu gue. Gue gak suka." Nadia berujar tegas sebelum mulai makan pesanan di depannya.


Wati manyun, "Kamu kan tidak pernah berada di posisiku, Nad. Mana pernah kamu merasakan di tatap jijik sama orang-orang."


Nadia melirik Wati datar, "Gue gak perlu ada di posisi lo buat tau seberapa gak bersyukurnya lo dengan otak cerdas lo, wajah mulus lo dan dua orangtua yang sayang sama lo."


"Kamu tau?"


Nadia mengedikkan bahu acuh. Bukannya ia kepo sama kehidupan wati tapi di nomor kontak di grub milik cewek itu ada foto wati dan dua orang yang Nadia tebak sebagai ayah dan ibunya tersenyum lebar ke kamera.


"Tapi kamu kan kaya Nad."


Nadia makin jengah. Ia meneguk minuman pesanannya dalam tegukan banyak dan langsung melemparnya ke tong sampah yang tak jauh dari tempat duduknya.


"Gue selesai." Nadia beranjak dari tempat duduknya tak peduli pada wati yang belum menyentuh makanannya sama sekali. Nadia selalu mempunyai alasan untuk merasa bersyukur memiliki tiga sahabat bar-barnya. Mereka berbeda, memang terlahir dari keluarga kaya raya tapi tidak satupun dari mereka yang selalu memasukan harta kedalam obrolan mereka. Siapa yang uangnya paling banyak, siapa yang fansnya paling banyak atau siapa yang paling pintar diantara mereka berempat tak seperti Wati yang selalu membanding-bandingkan. Mereka bersahabat seperti orang lain, saling mendukung dan tak pernah merendahkan siapapun. Terlepas dari kelakukan mereka yang terkenal biang rusuh dan pembully di Nusantara, nyatanya mereka tak pernah membully orang-orang karena mereka miskin atau bodoh. Selalu ada sebab dan akibat dan kebanyakan karena beberapa anak merasa iri pada mereka berempat dan selalu memulai gara-gara. Tentu saja Nadia dan ketiga sahabatnya itu tak terima namanya penindasan. Membela diri, itu yang selalu mereka katakan tapi satupun yang mau percaya.


Drt... drt...


Nadia baru akan menitip tasnya di penitipan mushola Fakultas saat sebuah pesan masuk.


From Om Gi sayang ❤


Sy plng telat. Minta jemput Mang.


Nadia hanya membacanya lalu memasukan kembali hp dalam tas kemudian pergi berwudhu setelah menitip tasnya pada petugas jaga.


***


Pukul lima sore Nadia sudah selesai kuliah. Ia berjalan di koridor kelas seorang diri. Tak ada satu orangpun yang mengajaknya bicara. Ada yang sungkan dan ada juga yang tidak mau terseret gosip yang sedang menimpa cewek cantik itu. Hebatnya Nadia tak pernah merasa buruk untuk itu. Ia tak pernah menginginkan teman yang terpaksa menerimanya.


"Lo mau pulang?"


Nadia yang sedang membalas pesan Mang yang mengabarkan keberadaannya mendongak dan mendapati Orion berdiri di depannya. Nadia menengok kiri kanan lalu kebelakang.


"Lo ngomong sama gue?"


Orion mengangguk, selalu kesal dengan Nadia yang tak menganggapnya nyata.


"Iya, gue mau pulang." Jawab Nadia sembari melirik jam di pergelangannya, sudah sangat sore menunggu Mang di bengkel. Nadia mengernyit melihat Orion yang masih berdiri menghalangi jalannya, "Gue mau lewat." ucapnya pada Orion yang sedang termangu. Bukannya apa-apa, Nadia hanya sedang lelah untuk mendengar cibiran dan lirikan tajam dari orang-orang yang melihatnya bersama Orion.


"Pulang sama siapa?"


"Bukan urusan lo." Jawab Nadia tak peduli, ia melenggang melewati Orion namun kemudian terhenti saat lengannya tertahan.


"Gue an---"


"SAYANG!"


Nadia menghempaskan tangan Orion yang mencekalnya. Suara Lalita memggema di koridor.


"Ngapin disini? Sama cewek gak bener ini lagi." Rajukan dan kekesalan Lalita tertangkap jelas di telinga Nadia, "Dia mau godaan kamu juga?"


"Jaga ucapan kamu!" Tekan Orion berharap Nadia tak mendengarnya tapi sayang sekali senyum sinis Nadia pertanda tak baik.


"Well well well...cewek baik-baik yang suka mesum di tempat umum--" Nadia tersenyum mencemooh, "Sorry aja sih, lo sendiri tau selera gue gimana kan? OM-OM!" Ujar Nadia menekan kata Om-om dengan jelas tepat di depan wajah Lalita. Kerenan Om Gi kemana-mana keleees.


Lalita tersenyum miring, "Denger sendiri kan sayang? Dia sukanya emang sama Om-om, suami orang." ucap Lalita dengan nada merendahkan.


Wajah Orion mengeras. Tatapannya tak beralih dari Nadia yang tampak santai saja mendengar tuduhan Lalita. Sebenarnya apa yang ia harapkan? Nadia menyangkal hal itu? Kenapa cewek seperti Nadia memilih seorang lelaki bersuami sedangkan diluar masih banyak cowok single yang tentu saja tak kalah kerennya, seperti dia contohnya. Egonya tersentil. Kali pertama ia sulit menghadapi seorang gadis. Lalita dulu meskipun jutek tapi ia tak berusaha keras untuk mendapatkan gadis pintar itu. Tapi Nadia--


"Ta, lo bisa diem gak? Ini kampus!" Desis Orion kesal. Nadia sama sekali tak menunjukkan perubahan raut wajah, tetap angkuh seperti biasan.


"Kenapa? Emang gitu kenyataannya kok." Lalita melipat tangan kesal. Bisa-bisanya Orion lebih membela Nadia dibandingkan dirinya.


"Yatapi gak gi---"


"Sayang--"


Nadia yang baru akan memesan taksi menoleh keasal suara. Senyumnya langsung merekah lebar melihat sosok sang kekasih yang tampak gagah dengan setelan lengkapnya dan sebuah kacamata gelap menghiasi hidung mancungnya.


"Ooooom!" Nadia bergegas menghampiri Gibran, memeluk laki-laki itu dengan manja, "Kok gak bilang-bilang datengnya?" ucapnya menghirup wangi Gibran sudah seperti candunya. Ibunya Pia itu bahkan tak peduli tatapan orang-orang yang tertuju padanya dan Gibran. Tidak sedikit yang terpesona dengan ketampanan pria dewasa yang Nadia panggil Om itu.


"Mang telfon." Ujar Gibran mengacak rambut belakang Nadia lembut, "Teman kamu?"


"Siapa?" Nadia menoleh kebelakang, mendapati Lalita dan Orion yang menatap kearah mereka dengan tatapan berbeda.


Nadia mengedikkan bahu, "Bukan. Pulang yuk."


Gibran mengangguk, ia membuka kacamatanya untuk melihat lebih jelas cowok yang kedua tangannya sedang mengepal kuat, lalu sekali lagi ia memberikan tontonan gratis untuk pemuda yang diam-diam menyukai istrinya itu.


Cup.


"Ayo."


Nadia memegang bibirnya yang baru saja dikecup Gibran. Ya ampuuuuun di depan umum loh. Nadia mengulum senyum tipis dalam rengkuhan Gibran, ia melangkah ringan mengimbangi langkah Gibran meninggalkan kampus.


***


Orion apa gak minder liat Omnya Nad ya?