
The Girls In Your Area
AleksisMark : Otw rumah hijau
SandraDara : (2)
GendisMahesa : (3)
NadiaGaudia : Otw Mars. Gak usah lo semua main ke rumah gue. Rusuhhh
SandraDara : Sahabat apaan lo? mentang-mentang Om Gi balik lo lupa kulit
GendisMahesa : Ngomong yang jls San, gue gak paham
SandraDara : Kelaut aja main sama patrick
AleksisMark : Lo bedua yang minggir. Gue di jalan ni. Awas aja kalo telat
NadiaGaudia :Ngerusuhin hidup gue aja bisanya.
SandraDara : See u at home babe
GendisMahesa : (2)
AleksisMark : (3)
NadiaGaudia : RIP malam minggu gue hiks
Nadia meletakan hpnya di atas karpet begitu saja. Baru juga mau berduaan suami udah ada calon perusuh.
"Nad tolong ambilin buku Om di atas meja."
"Buku apa?"
"Yang sampul biru."
Nadia beranjak dari sofa menuju kamar untuk mencari buku yang dimaksud Gibran.
"Yang ini?"
"Iya. Thank you."
"Hm"
Gibran memperhatikan Nadia yang menekuk wajahnya masam "Kenapa?"
Nadia menggeleng "Gak apa-apa. Om kok udah kerja aja. Kan masih sakit."
"Om udah sembuh. Nad kenapa?"
"Malam mingguan dong Om. Masa Nad gak diajak jalan sih."
"Bukannya teman-teman Nad mau kesini?"
Nadia menegakkan tubuhnya menatap curiga Gibran "Om tau?"
Gibran mengedikan bahu "Tuh ada chatnya Sandra."
"Wah parah si Sandra, Om gue di pepet juga." Nadia mengambil hp Gibran lalu menblokir nomor sahabatnya itu. Ya siapa tau aja kan si Sandra tiba-tiba bercita-cita jadi pelakor, Om Gi harus diamanin.
"Gak sekalian nomor Ibu komandan?"
"Emang boleh?"
Gibran menghela nafas jengah "Mending Nad cuci muka trus pake baju yang layak."
"Ini layak, Om. Gak ngerti fashion bangat." Gerutu Nadia namun tapi tetap melakukan apa yang diucapkan Gibran. Emang dasarnya dia udah takluk aja sama si Om.
"Spadaaaaaaaa anybody homeeeeee??!"
Gibran baru saja akan membuka pintu sebelum kemudian Nadia mendahuluinya.
"Om mending cemong-cemongin dulu tuh muka. jangan ganteng bangat." Ujarnya lalu melongos mengabaikan wajah cengok Gibran. Entah Gadis dari planet mana yang dinikahinya ini. Ah dia lupa, pewaris Gaudia Group yang tak pernah salah selamanya.
"NGAP--eeeh ada Om bertiga juga?" Nadia mengerjap lucu melihat enam orang tamu yang tak diinginkan di depan rumahnya menatapnya dengan ekspresi yang sama, MINTA DI USIR.
"Silahkan masuuuuk" Nadia membuka pintu lebar-lebar mempersilahkan para tamunya untuk masuk dalam rumah sederhana mereka. Tatapannya tajam menyorot ketiga sahabatnya yang melongos santai ke ruang tengah.
"Selamat malam Om Giiiiii. Makin yahuuud aja."
Nadia memutar bola mata sebal mendengar sapaan ketiga sahabatnya. Belum lagi respon manis yang diberikan Gibran membuat kepalanya makin mendidih.
"Selamat malam." Manis sekali kan?
"Hei, bro. Maaf nih kami mampir gak bilang-bilang. Niatnya mau ngasi kejutan, eh ketemu tiga bocah ini di depan."
"Enak aja bocah. Om tuh muka tua."
Dewa menggigit lidah kesal mendengar balasan salah satu bocah yang harusnya cantik tapi karena mulut merconnya jadi minus di mata dewa. Ia makin kesal mendengar dua orang yang sudah seperti saudaranya terbahak. Emang para manusia laknat lah mereka.
"Leks, yang sopan ngomongnya sama orang tua."
"Aseeeeem orang tua." Jonathan tak peduli lagi dengan statusnya sebagai junior, ia tertawa puas melihat wajah masam Dewa yang siap menguliti Gendis.
"Nad, teman kamu gak ada yang beneran dikit?" Adu dewa pada tuan rumah yang tampak posesif menempeli Gibran yang tengah menyusun kertas-kertas di depannya.
"Tuh yang adem." Tunjuk Nadia pada Sandra yang membuat Dewa malah bergidik ngeri pasalnya saat ini Sandra tengah mengedip-ngedip genit pada Gio yang terlihat sangat tidak nyaman duduk di pandangi seintens itu oleh seorang gadis cantik yang aneh.
"Ma*puuuus salah momen kita, bray." Sikut Dewa pada Jonathan.
Jonathan terkekeh. Dia sih tidak masalah karena teman-teman Nadia seperti hiburan baru untuknya setelah semingguan berkumpul bersama orang-orang kaku.
"Ini untuk Ibu dan bang kapten." Jonathan menyerahkan bingkisan berisi beberapa jenis roti dan pisang susu pada Nadia.
"Makasi, Om. Panggil Nad aja." Kata Nadia mengambil bingkisan tersebut dan langsung membongkarnya. Aleksis yang juga baru ingat dengan bawaannya langsung menyerahkannya pada Nadia.
"Untuk Om Gibran. Kata Nad Om gak terlalu suka yang manis makanya Aleks bawain yang rasa keju."
"Terima kasih, Aleks." Ucap Gibran, tak sengaja melirik teman-temannya yang tampak speechless melihat bingkisan super mahal yang diimpor langsung dari belanda.
"Gilak, si bocil bawa bingkisan seharga gaji gue sebulan." Celetuk Dewa yang disambut kekehan oleh kedua orang disampingnya.
"Gaji Om segitu doang? Ih, kok mau sih padahal kerjanya kan taruhan nyawa." Sandra menimpali.
"Namanya passion, ya kan Om?" Imbuh Gendis, mengambil sepotong roti yang dibawa oleh Jonathan.
"Iya kayak Om Gue. Yang penting Om Gi bahagia gue ikhlasin kerja kek gini." Sambung Nadia menyerukan badannya di dada Gibran. Laki-laki itu tersenyum lembut mengacak puncak kepala Nadia. Sementara enam pasang mata lainnya saling melirik menahan cibiran. Yang katanya ikhlas suaminya jadi tentara, tapi pas Gibran hilang kemarin dulu sampai sumpah-sumpah mau menuntut petinggi-petinggi Gibran di kesatuan gara-gara Om nya hilang.
"Jangan bikin gue pengen dong, Nad, Om. Mami belum ngizinin nikah nih." Gerutu Sandra yang jelas envy melihat pasangan lovey dovey di depannya.
"Dih anak kecil mikirin nikah. Tugas sekolah noh pikirin." Dewa yang memang paling senang adu mulut tak tinggal diam.
"Om tuh, nikah gih sebelum pedangnya karatan." Balas Sandra memeletkan lidah melihat mata melotot Dewa diiringi tawa membahana di ruangan itu.
"Ikan bakar saja. Kata dokter bagus buat sembuhin luka." Katanya melirik bahunya yang masih di perban.
"Emang Nad aja gak cukup nyembuhin luka Om?" Tanya Nadia dengan suara manja yang dibuat-buat.
"Gak sama sekali." Jawab Gibran tanpa perasaan. Punya suami modelan Gibran memang harus memperbanyak sabar. Niatnya mau manis-manisin malah di panas-panasin, auto kesal si Nadia.
.
.
.
"Tuan rumah duduk aja. Biar saya yang cuci piringnya. Bang dewa, bang Gio, biar Saya saja yang beresin sisanya." Jonathan menahan Gibran dan dua seniornya yang hendak membawa piring kotor ke dapur. Mereka baru saja selesai makan dan seperti biasa, para tentara super mandiri itu tanpa diminta langsung membersihkan tempat makan mereka. Berbanding terbalik dengan para gadis kaya yang biasa di layani, seperti biasa langsung meninggalkan tempat makan dan sibuk di depan tv. Beda halnya dengan Nadia yang akhir-akhir ini sering membantu Gibran terlebih saat suaminya itu sakit, ia mulai paham apa yang harus ia lakukan setelah acara makan selesai apalagi ia sebagai tuan rumah yang paling tahu keadaan rumah.
"Makasih, Jon."
"Alah palingan pencitraan sama para bocil kan lu." Dewa meninju pelan lengan Jonathan.
"Ngeri saya bang sama mereka. Takut gak sanggup ngasi makan." Jonathan tertawa renyah menanggapi candaan seniornya. Dilihat dari sudut manapun, ia tak memiliki kemampuan untuk menyetarai gaya hidup hedon kaum borjuis seperti sahabat-sahabat Nadia. Berbeda dengan Gibran yang merupakan seorang Kapten berprestasi dan jabatan yang tinggi, dirinya hanya lah seorang pemuda miskin yang bercita-cita menjadi seorang tentara demi membantu adik-adiknya melanjutkan sekolah. Keluarganya di toraja bukanlah keluarga berpunya, ibu dan bapaknya hanyalah peternak **** itupun milik tetangga.
"Sini Om biar Aleks bantu." Aleksi datang menghampiri Jonathan mengambil dua gelas di tangan pemuda itu yang tampak kesulitan membawanya.
"Bisa?"
"Ck. cuma bawa gelas doang." Ujar Aleksis mengikuti Jonathan masuk ke dapur.
"Om, biar besok pagi aja Nad cuci." Tegur Nadia saat melihat Jonathan mengambil spoons cuci piring.
"Gak apa-apa, Nad. Gak banyak kok." Ujar Jonathan tersenyum lembut. Disampingnya ada aleksis yang menontonnya sembari mengunyah apel.
"Bantuin!" Bisik Nadia pada Aleksis. Aleksis melirik kuku-kukunya yang baru tiga hari lalu di menipedi.
"Big No. Ntar kuku gue patah."
"Malu lo jadi cewek. Masa kalah sama cowok." Nadia memanasi. Dia tahu betul tipe sahabatnya ini tak pernah mau dibandingkan dengan orang lain.
"Idih, gue bisa ya."
Nah kan?! Nadia terkekeh jahat meninggalkan dua orang itu di dapur.
"Obatnya, Om." Nadia menyerahkan dua pil pada Gibran beserta air putihnya.
"Makasih."
Nadia mengangguk senang. Bisa membantu Gibran dengan hal-hal seperti ini saja dia sudah bangga setidaknya ia bisa berguna untuk meringankan kesulitan Omnya. Nadia sudah bertekad akan menjadi kaki dan tangan Gibran sampai laki-laki itu benar-benar pulih.
"Gimana latihannya, lancar?" Tanya Gibran pada Gio dan Dewa.
"Lancar. Kami nungguin lo balik." Gio mengambil gelas ditangan Gibran setelah ia selesai minum obat.
"Sekalian kenalan sama anak-anak baru. Masih enak di senyumin pake laras"
" Ada-ada saja." Gibran terkekeh. Ia menoleh pada Nadia yang sedang asik bercengkrama dengan dua sahabatnya. Kebiasaan para remaja zaman sekarang, tidak bisa melihat cowok-cowok cantik bermata sipit tanpa histeris.
"Lo tahan ngadepin empat bocah rusuh begini?"
Gibran menggaruk tengkuknya yang tidak gatal "Udah biasa."
"Gue bisa gila kalau tiap hari seperti ini." Ujar Dewa bergidik. Gibran terkekeh, perhatiannya jatuh pada sosok Gio yang tampak asik menikmati nyanyian Nadia dan dua temannya yang sudah mengubah ruangan tersebut menjadi tempat karaoke dadakan. Dewa menatap Gio ngeri. Rekan seperjuangannya yang biasanya paling anti keributan malah ikut larut dalam keseruan tiga bocah di depannya. Benar-benar pesona para daun muda sangat mengkhawatirkan.
"Bro, lo yakin si Nad bisa jad Ibu? Tu anak masih kecil, anak kecil lu suruh jaga anak kecil gimana ceritanya coba."
Gibran terdiam. Sebenarnya ia juga ragu dengan keadaan Nadia yang hamil di usia muda seperti ini. Tapi mau bagaimana lagi kalau Allah sudah memberikan kepercayaan kepada mereka untuk memiliki anak. Salahnya juga yang tidak bisa menahan diri atau setidaknya ia bisa memakai pengaman untuk mencegah kehamilan dini Nadia. Hamil di usia muda sangat rawan untuk keselamatan calon ibu dan bayinya. Memikirkannya saja sudah membuat ia khawatir. Belum lagi Nadia terkadang lupa dengan keadaannya yang tengah berbadan dua, ia masih suka lari-lari dan bersikap sembarangan. Jika Gibran lepas memantaunya, entah apa yang akan terjadi dengan kehamilan anak itu.
"Nad, jangan lompat-lompat" Tegur Gibran. Menarik Nadia agar duduk disampingnya. "Kasian bayinya."
Nadia menepuk jidatnya "Maaf Om, Nad lupa."
Gibran mengulas senyum getir. Diusapnya peluh di pelipis istrinya. Sementara Dewa yang melihat hal itu hanya bisa meringis. Ini yang dia maksud, Nadia masih terlalu kekanakan untuk tahu mana yang bahaya dan tidak untuk dirinya dan bayinya.
***
"Om, perut Nad kram."
"Kram?" Gibran meletakkan selang air begitu saja dan menghampiri Nadia yang tengah meringis memegang perutnya. "Duduk dulu biar Om telfon dokter." Katanya menggiring Nadia duduk di kursi ruang tamu. Gibran segera mengambil hpnya lalu menelfon Dokter.
"O-oom Shhhhh" Nadia meringis kesakitan menahan ngilu diseputaran perutnya.
Gibran duduk di samping Nadia mengelus perut Nadia lembut. Satu tangannya memegang telfon menghubungi dokter.
"Halo, Dok, bisa segera ke rumah? Ibu kesakitan."
"..."
"Terima kasih dok, kami tunggu." Gibran menutup telfonnya lalu beralih pada Nadia.
"Sakit sekali?"
Nadia mengangguk, "Adek bayinya gak akan apa-apa kan Om?" matanya mulai memanas memikirkan bayi yang ada dalam perutnya.
Gibran menggeleng "Adek bayinya baik-baik saja." Dia sendiri tidak tahu pasti tapi semoga saja tidak ada yang buruk pada Nadia maupun bayinya. Bagaimanapun ia menginginkan keduanya dalam keadaan baik-baik saja.
"Om, Nad berdarah." Nadia berucap gemetar. "Om, adek bayinya gak akan apa-apa kan?" Teringat bagaimana ucapan dokter tentang kehamilannya yang rawan keguguran membuat ketakutannya semakin menjadi.
"Berdarah?"
"Celana Nad tadi ada darahnya." Jelas Nadia yang membuat Gibran langsung panik. Ia berlari kedalam rumah mengambil kunci mobil juga jaket Nadia. Ia harus segera membawa Nadia ke klinik karena kalau menunggu Dokter takutnya ada hal buruk yang terjadi.
"Pakai jaketnya." Gibran bergegas memakaikan Nadia jaket lalu membawanya dalam gendongan.
Gibran baru saja akan memasukan Nadia dalam mobil sebelum akhirnya dokter tiba.
"Dok."
"Bawa ke dalam."
Gibran menutup kembali pintu mobil lalu bergegas membawa Nadia masuk ke dalam kamar.
"Nad berdarah, Dok." Ujar Gibran khawatir. Dokter mengeluarkan stetoskopnya dan meletakkannya di perut Nadia.
"Bayinya tidak apa-apa kan, Dok?" Tanya Nadia khawatir.
Dokter melepaskan stetoskop di telinganya lalu tersenyum lembut pada Nadia "Hanya flek biasa. Nad harus lebih berhati-hati lagi kalau mau bayinya baik-baik saja." Pesan Dokter.
"Tapi kenapa sampai seperti ini, Dok?" Tanya Gibran kemudian.
"Seperti yang saya katakan, kandungan Nad sangat rawan, sedikit goncangan atau ada makanan yang tidak sesuai, maka akan membahayakan bayi. Untungnya saat ini bayi kalian masih bertahan tapi kalau masih terus ada flek, maka kemungkinan bayi tidak bisa lahir dengan normal." Terang dokter pada sepasang suami istri yang tampak syok mendengarnya.
***
Nadia is back. Bayinya sering sakit nih. Semoga gak kenapa-kenapa ya guys.