
"Keluarga Tentara Nasional adalah pengayom dan pelindung bagi rakyat. Jika istri seorang aparat bersikap seperti ini, tentu kredibilitas kita akan dipertanyakan."
Gibran berdiri tegap tatapan lurus kedepan mendengar apa yang ingin diucapkan Komandannya. Sejak memasuki ruangan ini ia sudah menduga bahwa apa yang akan disampaikan oleh sang Komandan pasti ada kaitannya dengan video Nadia di kampus. Gibran belum mengecek kebenarannya tapi yang jelas kekerasan tidak pernah dibenarkan untuk menyelesaikan masalah. Resiko menjadi seorang tentara, apapun yang dilakukan oleh sang istri akan ikut menyeret nama baik sang suami meskipun apa yang terjadi tak ada sangkutpautnya dengan tugas suami. Nadia sepertinya lupa akan hal itu sehingga bertindak implusif tanpa tahu apa yang akan ditanggung oleh Gibran atas masalah tersebut.
Komandan duduk menyanderkan punggung di kursinya dengan santai. Tak ada kemarahan namun ketegangan di ruangan itu begitu kental, "Dengan banyak pertimbangan kami memutuskan untuk menangguhkan Surat Keputusan mengenai penempatan Kapten Gibran menggantikan posisi Kapten Danu sampai masalah ini dinyatakan bersih."
"Siap, Komandan." Lagi dan lagi Gibran sebagai seorang bawahan tak memiliki hak untuk berkata tidak.
Komandan melipat tangan diatas meja. Sangat menyayangkan kejadian yang baru saja terjadi karena diluar sana banyak pihak yang akan menggunakan kesempatan ini untuk menjatuhkan salah satu Kapten terbaik mereka.
"Kapten Gibran boleh pulang cepat. Selesaikan segera masalah ini."
"Siap, Laksanakan."
Gibran menghormat sekali lagi lalu keluar dari ruangan Komandan membawa sepucuk surat teguran di tangannya. Helaan nafas berat lolos begitu saja. Wajahnya datar tanpa ekspresi menandakan begitu banyak hal yang bercokol di kepalanya. Dan kehadiran Elsa di depan ruangannya semakin menambah ketidaknyamanan itu.
"Bang." Elsa memanggil lirih, sarat akan kekhawatiran pada lelaki pujaan hatinya.
Gibran tersenyum dipaksakan, "Bagaimana Dok? Ada yang bisa dibantu?" To the point, Gibran tak punya waktu berlama-lama meladeni Elsa yang makin hari makin sulit diberi tahu. Sudah berapa kali ia menegur Dokter muda ini untuk menjaga batas tapi hasilnya sama saja. Mungkin kah sakit mental yang dialami Elsa ini memang tak bisa disembuhkan?
"Abang gak apa-apa kan? Elsa khawatir sama Abang. Nadia benar-benar keterlaluan."
"Cukup dokter! Sekali lagi, tolong jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga saya." Gibran tidak tahu apa ia sekarang sudah menjadi lelaki brengsek karena membentak wanita atau bagaimana yang pasti ia kesal mendengar Elsa begitu gampangnya menyalahkan Nadia. Mereka bahkan belum tau apa yang sedang terjadi lalu kenapa begitu mudahnya menyalahkan orang lain terlebih itu Nadianya, Ibu dari anaknnya.
"Tapi bang--" Mata Dokter Elsa benar-benar sudah tertutup sehingga tidak lagi bisa melihat betapa Gibran sangat muak saat ini padanya bahkan kuku-kukunya menggenggam sangat erat karena jika terlepas mungkin tembok akan menjadi sasarannya sebab muka Elsa jelas tak mungkin.
"Jika Dokter Elsa menghargai pertemanan ini, tolong tahu batas." Suara Gibran terdengar begitu dingin dan jauh dari kesan ramah, sukses membuat Elsa patah untuk kesekian kalinya.
"Bang, Elsa--" Elsa buru-buru menghapus airmata di pipinya. Tak ingin terlihat lemah tapi lelaki ini kenapa tak juga bisa memahaminya bahwa perasaan yang dimiliki lebih kuat dari perasaan Nadia.
"Maaf, kalau tidak ada yang penting, saya permisi." Gibran masuk kedalam ruangannya begitu saja meninggalkan Elsa yang terpekur di tempatnya. Dokter muda itu meloloskan tangisnya, tak peduli meski beberapa pasang mata kini menatapnya penasaran.
"Elsa cinta sama abang. Elsa peduli sama abang. Tapi kenapa abang seperti ini sama Elsa--hiks." Elsa menangis, memegangi kerudungnya tepat diatas dadanya yang terasa begitu sesak. Kenapa abang tidak bisa melihat cinta Elsa? Apa kurangnya Elsa, Bang? Elsa tak tahu saja, tidak ada yang kurang darinya. Satu-satunya yang kurang dari dokter cantik itu adalah kurang memahami perbedaan antara cinta dan obsesi.
Di dalam ruangan Gibran cepat-cepat membereskan barangnya sembari mengapit hp diantara bahu dan telinganya.
"Assalamualaikum, Bik. Nadia sudah pulang?"
"Waalaikumsalam, belum Pak. Non Nadia tadi sempat menelfon katanya akan terlambat pulangnya. Ada apa, Pak?" Disebrang sana Bibik terdengar khawatir.
"Dia bilang mau kemana, Bik?"
"Tidak tuan. Bibik sudah tanya tapi Ibu langsung menutup telfonnya."
Penjelasan Bibik membuat Gibran menjadi tak tenang. Apapun yang terjadi di kampus sudah pasti bukan perkara ringan sebab Nadia tidak pernah berlaku kasar tanpa alasan yang benar-benar membuatnya naik pitam. Tapi apa?
"Baik, Bik. Pia baik-baik saja kan?"
"Non Pia barusan tidur, Pak." Ucap Bibik.
"Ok. Tolong kabari kalau ada apa-apa baik itu tentang Nadia maupun Pia."
"Baik, Pak."
Gibran mengurut pelipisnya, "Ya sudah bik, saya tutup telfonnya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Pak."
Gibran mengambil kunci mobil dan tasnya lalu keluar dari ruangan. Ia harus mencari Nadia sebelum istrinya itu kembali berbuat nekat. Semoga saja tidak ada aksi kabur-kaburan seperti yang dulu-dulu.
.
.
"Bisa bicara sebentar?"
Orion yang hendak masuk dalam mobilnya sedikit terkejut mendapati seseorang yang baru saja diketahuinya sebagai suami Nadia datang menghampirinya.
"Ada apa?" Tanya Orion. Jelas sekali ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa gadis yang berhasil mengusik tidurnya telah dimiliki oleh orang didepannya ini, pria dewasa minim ekspresi.
"Nadia-- apa yang terjadi?" Tanya Gibran tanpa basa basi.
Orion tersenyum miring, "Kenapa tidak bertanya langsung pada istrimu?"
"Saya butuh mendengar langsung dari saksi mata sehingga kesimpulan yang saya ambil tidak bias." Ujar Gibran tak gentar. Ia tahu pemuda di depannya ini sengaja ingin memojokannya.
"Anda yakin? Bagaimana kalau apa yang saya ucapkan adalah kebohongan?"
Gibran mengedikkan bahu, "Tak masalah. Bahkan jika itu suatu kebohongan tetap harus di dengarkan."
Orion mengatupkan bibirnya. Ini yang tidak ia miliki sebagai seorang lelaki. Tidak seperti lelaki di depannya ini, dirinya cenderung lebih mempercayai apa yang ingin dipercayai ketimbang menanyakan langsung pada yang bersangkutan atau orang yang mungkin lebih mengetahui apa yang sedang terjadi. Contoh nyata adalah tuduhannya pada Nadia yang ia pikir adalah cewek yang tidak benar. Itu semua bisa terjadi hanya karena ia melihat Nadia dipeluk erat oleh seorang lelaki tanpa tahu siapa sebenarnya laki-laki tersebut.
"Nadia hanya membela diri--"Gibran masih menunggu. Orion terlihat menghela nafas berat sebelum kemudian melanjutkan ucapannya, "Lalita berbicara kasar tentang orangtuanya."
"Mantan pacar saya." Aku Orion sedikit tidak nyaman terlebih melihat Gibran menyipitkan mata seolah menginginkan penjelasan yang lebih detail.
Orion berdehem, "Ada sedikit salah paham yang membuat ini sedikit rumit."
"Cemburu maksud kamu?"
Orion mengangguk. Awal mula kekacauan ini karena Lalita menganggap Nadia adalah penyebab hubungan mereka retak. Padahal tanpa kehadiran Nadia pun Orion sudah merasa ada yang salah dengan perasaannya. Selama ini ia bangga telah berhasil memacari seorang cewek paling pintar di Prodinya yang ia pikir memang hanya cewek sepintar Lalita yang pantas untuknya. Memenuhi ego dirinya tanpa mengerti benar-benar bahwa cinta tak perlu alasan untuk jatuh. Seperti perasaannya pada Nadia yang meskipun tak masuk sebagai kriterianya yakni pintar tapi kehadiran Nadia bak air bah dengan apa adanya dirinya berhasil mengusiknya.
"Maaf." Orion menundukkan kepala. Menyesal telah menyeret Nadia dalam masalah seperti ini. Ia tidak menyangka jatuh cinta pada gadis se-special Nadia bisa menjadi kacau begini.
Gibran tak bergeming. Selalu sulit memahami jalan pikiran orang-orang yang mengatasnamakan cinta untuk menyakiti orang lain.
"Hanya itu?"
"Nadia tak terima dan--yeah dia menampar Lalita." Terang Orion.
Gibran menghela nafas berar, ia sudah mendapatkan garis besarnya "Lain kali tegaslah pastikan kamu sudah membereskan masa lalumu sebelum memulai dengan yang baru." Ujarnya. Setelah mengatakan itu, ia pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
Jalanan padat merayap ibu kota menjadi pilihan Nadia menenangkan diri. Hp sengaja ia non aktifkan demi menghindari apapun yang berpotensi semakin membuatnya Kacau. Tentu saja grup Pia. A. G sejati yang paling dihindarinya. Entah kenapa Ibu Ketua begitu sensi padanya. Mereka bahkan baru saling mengenal tapi seolah sudah ada kejadian buruk sebelumnya yang membuat Ibu ketua memiliki dendam kesumat padanya.
Nadia menyusuri trotoar dengan kepala menunduk. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam tapi ia belum berniat untuk pulang ke rumah. Sejak siang tadi ia tidak melakukan apa-apa hanya terus berjalan tanpa memperdulikan panas dan gerimis yang sore tadi turun. Tempat yang ia singgahi hanya masjid untuk melaksanakan kewajibannya selain itu tidak ada, bahkan perutnya yang sudah melakukan aksi protes meminta jatah makan tak dihiraukannya.
Ia berhenti dibawah lampu lalu lintas, menatap kosong sekelilingnya. Hingar bingar jalanan ibu kota tak lantas memperbaiki perasaannya. Ia rindu Bunda dan Ayahnya. Nadia ingin di peluk. Terlalu banyak yang terjadi hari ini yang membuatnya sangat lelah bukan saja fisik tapi terlebih batinnya.
Nadia menengadah menatap langit malam yang sama sekali tak berbintang. Lampu-lampu dari gedung pencakar langit maupun dari lampu jalan seolah menyembunyikan sinar kecil yang dulu sering di pandanginya bersama Bunda dan ayahnya. Sudah lama sekali tapi Nadia tak pernah lupa saat kecil dulu Bundanya sering menyanyikan lagu twinkle twinkle little star untuknya diiringi permainan gitar dari sang ayah. Rasa-rasanya itu seperti mimpi. Terlalu cepat Tuhan mengambil kedua orangtuanya, meninggalkannya seorang diri disaat ia bahkan belum mengerti artinya sendiri.
"Bunda, Ayah, Nad kangen. Nad pengen dipeluk Bunda dan Ayah. Kenapa Bunda dan Ayah perginya cepat? Kenapa Nadia ditinggal, Bun, Yah? Nad--hiks." Nadia menghapus airmata yang mengalir di pipinya. Tak seharusnya ia seperti ini. Ikhlas, kenapa ia susah sekali untuk ikhlas? Ucapan Lalita siang tadi benar-benar meninggalkan bekas di hatinya. Anak yang tidak mendapat didikan? Apa memang ia seburuk itu? Nadia pun tak menginginkan hidup tanpa orangtua tapi apakah lantas ia menjadi buruk lantaran tidak mendapat pendidikan dari orangtuanya? Sikap Lalita hari ini yang berani mengatai Bundanya dengan celaan yang merendahkan apa memang disebabkan karena kelakuannya sendiri yang selalu semaunya?
Maaf Bunda. Maafin Nad.Maafin Nad karena gak jadi anak baik seperti kata Bunda. Nadia menangkup wajah dengan kedua tangannya. Bunyi klakson mobil bersahutan membawa langkahnya pergi menjauh. Ia tidak memiliki tujuan sekarang karena pulang ke rumah hasilnya pun tak akan lebih baik. Mungkin sekarang Gibran sudah menunggunya dengan tatapan kecewa.
Nadia memutuskan untuk istrahat sejenak di bahu jalan dekat taman kota. Tak begitu banyak kendaraan. Hanya orang-orang yang terlihat menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dikasihinya. Disini hanya dia yang sendiri, bingung harus melakukan apa. Nadia menundukan kepala diantara dua lututnya. Dalam kepalanya ia mendengar jelas ucapan Gibran di hari pertama ia menyandang status sebagai istri laki-laki yang akrab disapa Om Gi itu.
Mulai sekarang Nad bukan hanya harus menjaga nama baik Gaudia tapi nama baik Gibran Al Fateh juga, suamimu. Apapun yang kamu lakukan kelak entah itu sesuatu yang baik atau buruk, bukan hanya nama Nadia Gaudia Rasya yang akan disebut tapi namaku juga. Jadi jaga sikapmu. Paham Nad?
Saat itu Nadia tidak memahami kalimat panjang tersebut tapi sekarang ia benar-benar sudah memahaminya. Gara-gara kelakuan bar-barnya, bukan hanya dirinya yang disebut tetapi suaminya juga. Suami yang tidak bisa mendidik istrinya dengan baik. Nadia menutup telingannya tak mau mendengar bisikan-bisikan itu. Ia sempat melihat potongan videonya dan untuk pertama kalinya ia takut melihat kolom komentar sebab banyak hate speech dilayangkan bukan hanya untuk dirinya melainkan untuk Gibran juga. Yang paling parah, orang-orang mulai membawa-bawa statusnya sebagai istri seorang tentara. Nadia khawatir apa yang ia lakukan hari ini bisa mencelakai Gibran tapi mau bagaimana lagi, Nadia tidak bisa diam saja melihat Lalita menghina orang tuanya. Bahkan jika bisa, ia tak hanya akan mengancam Lalita tapi benar-benar menghancurkan mantan kekasih Orion itu.
"Om Gi, maafin Nad." Isakan Nadia terdengar begitu menyesakkan. Gadis malang itu mengusap wajahnya yang sudah basah oleh airmata. Rasa bersalahnya tak terbendung lagi.
"Om Gi--hiks." Nadia memanggil lirih Gibran meskipun ia tahu mustahil lelaki itu mendengarnya.
"Nad sendiri--hiks." Nadia tercekat. Ia mengangkat kepalanya dan betapa terkejutnya ia, tak jauh di depannya berdiri Gibran dengan tatapan dingin dan lelah menyorot padanya.
Nadia berdiri dari duduknya, menatap takut-takut pada Gibran. Ada keinginan untuk lari kedalam pelukan sang suami tapi--, "O-om--" buru-buru menghapus airmata di pipinya. Tatapan Gibran membuatnya menciut. Apa Gibran datang untuk memarahinya? Nadia terdiam. Ia belum siap jika harus menghadapi kemarahan Gibran. Bisakah ia menghilang dulu untuk sementara?
Nadia panik saat Gibran melangkah semakin dekat. Tatapan laki-laki itu belum berubah, masih dingin seolah mampu membekukan apapun terutama dirinya. Gibran semakin dekat dan Nadia tak memiliki tempat untuk melarikan diri. Ia terpojok.
"O-om, Nad--"Airmata Nadia kembali turun. Bibirnya bergetar menahan tangis dan takut.
Gibran hanya beberapa langkah di depannya. Laki-laki itu merentangkan kedua tangannya. Lalu sebuah senyum kecil terulas di bibirnya, "Peluk?" Tawarnya lembut.
Airmata Nadia meluruh, di depannya, lelakinya, rumahnya, menawarkan tempat ternyaman untuknya kembali.
"Om Giiii--hiks." Nadia berlari memeluk Gibran, tempat yang selalu menawarkan kenyamanan Untuknya. Tempat yang selalu membuatnya merasa aman, tempat yang selalu ia rindukan, rumahnya, pelukan Gibran.
"Maaf, Om terlambat." Bisik Gibran ditelinga Nadia.
Nadia menganggguk, menyeruk semakin dalam di dada Gibran, "Om Giii."
"Iya sayang. Ini Om Gi nya Nadia." Gibran mengecup puncak kepala Nadia berkali-kali. Tak hentinya mengucap syukur dalam hati karena bisa menemukan Nadia dalam keadaan baik-baik saja.
"Om Gi--hiks." Hanya nama Gibran yang terus disebut Nadia. Perasaannya ringan seketika. Sesak dan khawatir yang sejak tadi menerornya seolah tak pernah dirasakannya saat merasakan hangat dan nyamannya pelukan Gibran.
"Nad tidak sendiri. Ada saya bersama Nad." Gibran mengetatkan pelukannya pada Nadia. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana Nadia menghadapi beberapa jam ini seorang diri, dijalanan tanpa ada yang bertanya padanya apa ia baik-baik saja atau tidak, "Nad punya saya, jangan pernah berpikir Nad sendiri."
Nadia mengangguk, merengsek didada Gibran, menangis sepuasnya. Setelah begitu banyak hal berat yang terjadi hari ini ia tahu bahwa pelukan lelaki inilah obat dari sesak yang menghimpit dadanya.
"Om Giii."
"Iya, ini Om Gi-nya Nad."
Nadia tersenyum lega disela tangisnya. Selanjutnya ia tak perlu pembelaan dari siapapun lagi sebab cukup Gibran berada disampingnya maka semua pasti akan baik-baik saja.
***
Om Gi saat menemukan Nadia menangis di trotoar. Khawatir dan lega ya Om?