
Nadia membuka mata perlahan. Hal pertama yang menyambutnya adalah langit-langit kamar berwarna putih pucat dan bola lampu berwarna kuning redup. Ia menyesuaikan penglihatannya untuk melihat lebih jelas dimana dia berada sekarang.
"Udah bangun?"
Ia menoleh ke asal suara, didepan pintu Gibran berdiri membawa nampan makanan khas rumah sakit. Ah benar, ia di rumah sakit bergerak sekarang. Semalam entah jam berapa ia dibawa ke tempat ini menggunakan mobil jenazah, satu-satunya alat transportasi untuk mengantar jemput pasien dari lima distrik yang berada disekitar rumah sakit tersebut karena kondisinya yang tiba-tiba drop.
Nadia mengangguk kecil. Ia melirik pergelangannya yang di pasangi infus. Pantas saja kebas. Pikirnya. Semalam sepertinya keadaanya memburuk. Seingatnya ia sedang tidur diruangan sempit bersama Gibran yang menungguinya hingga kemudian Maharani serta Ikbal yang tidak memiliki pengetahuan lebih yang dimiliki dokter memutuskan untuk segera membawanya ke Rumah Sakit agar mendapatkan penanganan maksimal saat panas badannya tidak turun-turun. Dua petugas kesehatan itu tak mau mengambil resiko dengan tetap membiarkan Nadia disana tanpa mendapatkan perawatan yang maksimal. Malaria bukanlah sejenis penyakit yang bisa dianggap remeh. Panas tinggi yang dialami pasien bisa berakibat fatal jika sudah menyerang bagian saraf.
Kasus pasien yang hilang kesadaran seperti orang yang kurang waras salah satu penyebabnya adalah penanganan yang terlambat. Nadia mengingat samar-samar ucapan Dokter jaga Rumah Sakit Bergerak saat menyambut mereka di pintu UGD semalam.
"Makan lalu minum obat." Gibran membawa nampan tersebut disisi ranjang. Ia mengecek panas tubuh Nadia dengan punggung tangannya. Ia bisa bernafas lega sekarang, Nadia tak sepanas semalam. Lalu ia membantu Nadia duduk agar mudah mencerna makanan.
"Ikat rambut Nad mana?" Gibran mengumpulkan rambut Nadia dalam genggamannya, merapikan helaian-helaiannya yang mencuat.
Nadia meraba bantal dan menemukan ikat rambut gelang disana.
Gibran mengambil ikat rambut tersebut untuk mengikat rambut sepunggung Nadia yang lepek karena keringat. Ia menyisirnya dengan tangan terlebih dahulu sebelum mengikatnya dengan sempurna. Hasil karya Gibran bahkan lebih rapi dibanding Nadia sendiri karena sejak kecil saat ia memiliki kesempatan dan waktu, Gibran akan mengambil tanggungjawab untuk mengurus Nadia mulai dari membantunya berpakaian hingga bagian menyisir rambut hitam nan panjang milik Nadia. Ia bahkan mengingat dengan baik bagaimana ia menghabiskan hampir seminggu mempelajari model favorit Nadia yaitu rambut kepang milik Elsa karena Nadia akan menolak ke sekolah jika tidak mendapatkan rambut Elsanya. Siapa sangka jika sekarang gadis manjanya itu membenci Elsa hanya karena Dokter Elsa yang menurutnya salah satu penyebab kenapa mereka bisa di tempat ini, jauh dari kehidupan lama mereka.
"Udah." Gibran tersenyum puas melihat hasil pekerjaanya. "Sekarang waktunya makan."
"Nad gak mau bubur. Ancur gitu bentukkannya." Nadia menutup mulut dengan punggung tangan saat Gibran menyodorkan sesendok bubur yang ditaburi bawang goreng diatasnya.
"Bubur kan memang begini, Nadia. Ayo makan."
"Gak. Warnanya pucet. Nad gak suka." Nadia memalingkan wajah kearah lain. Kenapa harus bubur sih?
"Coba saja dulu. Kalau tidak enak nanti diganti yang lain."
"Gak mau. Lagain bubur mulu. Nad kan bukan bayi. Om aja tuh yang makan." Nadia masih enggan menoleh. Dan ngomong-ngomong bukankah laki-laki ini kemarin baru saja mengabaikannya? Mudah sekali bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan Nadia--Huff kenapa mudah sekali luluh oleh lelaki berotak es batu ini. Haruskah ia melakukan pembelasan sekarang? Nadia melirik Gibran dengan ekor matanya, laki-laki itu tampak sayu mungkin karena tidak tidur semalaman karena harus menungguinya.
"Mau cepat sembuh kan?" Tanya Gibran dengan suara berat yang terdengar lelah. Ia belum sempat istrahat setelah seharian kemarin berada di lapangan.
"Mau tapi gak harus nelen bubur juga kan. Nad mau pizza."
Pizza? Oke, Gibran menyerah. Nadia yang sedang sakit selain manjanya overdosis, level menyebalkannya juga bertambah membuat ubun-ubun Gibran siap mengeluarkan asap. Gibran tertawa sumbang, "Pizza ya? Ngayal aja kamu. Cepat makan!" Gibran tak akan kalah. Ia mengambil kembali sendok dan menyodorkan di depan mulut Nadia. Ini soal kesehatan istrinya itu jadi tak masalah baginya jika ia harus menjadi antagonis. Lagipula dalam dongeng yang dibangun oleh kerajaan mimpi Nadia, dia memang tukang sihir pemaksa jadi tidak masalah jika ia mewujudkannya dalan bentuk nyata.
"Gak mauuuu." Rengek Nadia menjauhkan wajahnya dari jangkauan Gibran. Setidaknya ia harus membalas kelakuan Gibran kemarin yang sudah semena-mena mengacaukan harinya dengan kemarahan tak beralasan. Menjadi menyebalkan bukan hal yang sulit, Nadia memang menyebalkan dari sananya. Senyum jahat terkulum di bibir Nadia. Ini namanya pembalasan Jendral!!! Hah adegan memilukan dan heroik dalam satu frame dan scene yang sama.
"Gak mau tau, Nad maunya pizza." Ujar Nadia dengan wajah cemberut. Rona merah mulai kembali menghisi wajah manisnya setelah semalam tersamarkan oleh peluh dan lelah serta rasa panas yang menyiksa.
Yang dikhawatirkan Gibran sekarang adalah-- bagaimana jika ternyata malaria sudah menyerang saraf istrinya. Melihat Nadia seperti ini, mungkin ada salah satu sel saraf yang putus atau terjepit. Nadia benar-benar bertenaga untuk ukuran seseorang yang semalam mengalami demam tinggi.
Gibran menatap Nadia jengah "Jangan aneh-aneh kamu. Mana ada pizza disini. Makan bubur aja."
"Gak mau." Ujar Nadia keras kepala.
"Sup?" Gibran menawarkan sesuatu yang bisa ia usakahan. Setidaknya kalau Nadia ingin sup, ia bisa memasak sup ransum yang masih tersimpan di tasnya.
"Sup apa?"
Gibran tersenyum lega, akhirnya. Ia meletakkan nampan diatas kursi tunggu pasien lalu mengambil ransel yang di letakkan di kaki ranjang. Gibran mengubek-ubek isi tasnya dan mengeluarkan sup mewah para prajurit yang selalu nikmat dimakan ketika hanya monyet atau ular yang menjadi pilihan terakhir untuk di konsumsi.
"Itu supnya?" Nadia yang sejak tadi memperhatikan Gibran mengerutkan kening saat melihat bungkusan berwarna hijau botol. Bukan warna asing sebenarnya karena Gibran punya beberapa yang semacam itu di rumah.
Gibran mengangguk "Tunggu saya panasi dulu." Setelah mengatakan itu Gibran keluar kamar membawa serta nampan sarapan Nadia, tujuannya adalah dapur.
"Permisi, boleh pinjam kompornya?" Gibran menyapa seorang staf rumah sakit yang sepertinya bertugas menjaga dapur.
"Oh--Bo-boleh, Pak." Staf wanita itu tergagap. Peleeee, sa su di surga kah? Kenapa ada malaikat disini?
Gibran tak begitu mengabaikan keberadaan staf tersebut karena setelah mendapatkan izin, ia langsung memanaskan sup instan yang ia bawa. Semoga saja Nadia mau berbaik hati menerima sup ini.
Tak butun waktu lama sup spesial ala militer siap disajikan.
"Terima kasih." Ucap Gibran pada penjaga dapur itu setelah menuang sup tersebut dalam mangkok bersih. Staf yang sejak tadi berdiri bengong gelagapan.
"A-ah ya sama-sama, Pak." Ujarnya tersenyum lebar. Jarang-jarang ada perwujudan malaikat main ke dapur.
Gibran mengangguk kecil lalu meninggalkan dapur, "Mari, Bu."
"Iya, silahkan."
Gibran bergegas keluar dapur membawa mangkok sup yang masih menguarkan asap. Wangi khas sup tersebut mengingatkannya saat-saat ia menjalani pelatihan di kamp militer, wanginya seperti kenangan. Gibran tak dapat untuk tidak tersenyum, saat-saat itu adalah saat yang paling menyenangkan sebelum menyadari bahwa hidup bersama Nadia dengan ikatan pernikahan jauh lebih menyenangkan. Gadis itu membawa warna lain dalam hidupnya selain warna hitam dan putih.
"Nad?" Gibran menghampiri Nadia yang sedang memunggunginya.
"Makan." Gibran membantu Nadia duduk lalu ikutan duduk di sisi ranjang untuk menyuapi Nadia.
Nadia mengintip dalam mangkok yang di bawa Gibran. Ia mengernyit melihat sup tersebut yang sepertinya sangat mengerikan. Ini terlihat seperti muntahan kucing. Nadia menggeleng cepat.
"Gak." Tolaknya cepat.
Gibran menatapnya datar. Ini lebih sulit daripada ujian masuk perwira. Nadia benar-benar terlatih untuk membuatnya kehabisan stok kesabaran.
"Makan atau Om tinggal." Tidak ada pilihan lain. Gibran harus menjalankan strategis satu-satunya, ancaman dan pilihan.
Nadia mendongak menatap Gibran penuh penilaian, "Tinggalin aja. Emang Om tega?" Tantang Nadia. Sekesal apapun Gibran tidak akan mungkin meninggalkannya, ia tahu laki-laki itu hanya sedang mengancamnya.
"Pia sendiri." Ujar Gibran tak memutus kontak mata Nadia.
Nadia terhenyak. Ah ya, Pia. Kenapa ia bisa lupa putrinya itu. "Nad kangen Pia." Ujar Nadia lirih.
Gibran menyembunyikan senyumnya, "Iya, Pia juga pasti rindu Ibunya. Makanya Nad makan supaya minum obat lalu sembuh." Gibran menyodorkan sesendok sup pada Nadia.
Nadia menatap sup tersebut ragu-ragu untuk menerimanya tapi--
"Nah, gini kan pinter." Gibran menyeka sudut bibir Nadia yang baru saja menerima suapannya. Bagaimanapun juga naluri Nadia sebagai ibu pasti mengalahkan kekeraskepalaannya.
Nadia menahan tangan Gibran yang hendak memasukan sesuap lagi "Setelah ini, kita pulang kan Om? Nad mau Pia."
"Tunggu info dari dokter. Kalau Dokter bilang Nad sudah bisa pulang, kita pulang." Ujar Gibran masih menahan tangannya di depan mulut Nadia. "Lagi?"
Nadia membuka mulutnya menerima sup tersebut. Gibran benar, ia harus sembuh untuk Pia. Setelahnya Nadia makan tanpa banyak protes.
"Minum." Gibran menyodorkan botol minuman mineral yang sengaja di pakaikan pipet.
"Makasih." Ujar Nadia menyeka sisa air disudut bibirnya. "Om, Asinya gimana?" Seingatnya semalam ia hanya menyetok dua botol Asi untuk Pia sebelum ia tertidur di samping bayi gembulnya itu sedangkan Pia kuat sekali Asinya.
"Susu formula." Ujar Gibran hati-hati. Ia bahkan tak berani melihat wajah Nadia sekarang.
"Susu formula? Kok dikasi sufor sih om, Pia kan Asi." Suara Nadia meninggi. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin memastikan Pia hanya mengonsunsi Asi murni darinya tapi sekarang dengan enteng Gibran mengatakan bahwa Pia diberi sufor.
Gibran menghela nafas pendek. Ia tahu Nadia akan seperti ini tapi mereka tidak punya pilihan lain. Gibran tidak mungkin membiarkan Navia Asi saat kondisi Nadia seperti ini yang tengah mengonsumsi obat-obatan. Lebih tidak mungkin lagi ia mengambil Asi Nadia saat istrinya itu sedang sangat lemah. Ia tidak mungkin menyedot sendiri kan? Walaupun Gibran tentu tak masalah melakukan itu.
"Pia harus makan. Om gak punya pilihan lain. Maafin Om." Gibran mendekat hendak menyentuh pipi basah Nadia namun ditepis begitu saja.
"Nad mau sendiri. Om keluar gih." Nadia berbaring memunggungi Gibran. Perasaan kecewa menyusup dalam dadanya. Bukan pada Gibran tetapi pada dirinya sendiri yang sudah gagal menjadi ibu yang baik untuk Pia. Dek, maafin Ibu ya. Nadia menyeka sudut matanya yang berair. Tidak sadar sejak kapan ia menjadi lebih sensitif seperti ini. Tapi ia benar-benar butuh menenangkan diri sekarang. Nadia baru melepas tangisnya setelah mendengar langkah Gibran menjauh.
***
Gibran kembali ke kamar Nadia setelah meninggalkan istrinya itu hampir sejam. Ia menyempatkan pulang menengok Pia srmbari memberi waktu Nadia untuk sendiri. Ia tahu Nadia sedang down saat ini. Impian gadis itu untuk memberikan Asi pada Pia tanpa susu formula sudah dicetuskan sejak lama. Gibran sudah berjanji untuk mendukungnya tapi sekarang dia sendirlah yang mengacaukannya. Tapi apa ia punya pilihan lain? Bagi orang lain Nadia mungkin terkesan berlebihan tapi bagi Gibran yang melihat bagaimana Nadia berusaha keras memenuhi impiannya memberikan yang terbaik untuk Pia dengan Asi eksklusif, apa yang dirasakan Nadia sekarang tidaklah berlebihan. Istrinya itu bahkan rela makan sayuran yang selama ini tak bisa diterima lehernya demi menghasilkan Asi yang banyak. Sayur katuk yang bahkan baunya bisa membuat ia merasa mual dan pusing sekarang menjadi menu sayur wajib untuk Nadia hanya demi memiliki Asi yang lancar.
Gibran mengusap lembut punggung Nadia. Istrinya itu belum berhenti menangis sejak tadi. "Maaf kan saya, Nad. Pia butuh makan. Dengan kondisi Nad yang seperti ini, tidak mungkin Pia Asi."
Nadia bergetar sesunggukan. Ia tak mengucapkan apa-apa tapi mendengar semuanya. Tidak seharusnya ia marah pada Gibran--salah ia tidak marah pada suaminya itu tapi hanya kecewa dengan keadaan saat ini.
"Nad bukan Ibu yang baik, hiks." Nadia berujar lirih diantara isakannya. Perasaan bersalah tak juga membaik.
"No, Pia beruntung punya Ibu sehebat Nad. You are the best mom in the world." Bantah Gibran menekan pelan bahu Nadia, menguatkannya.
"Tapi Nad udah gagal--hiks. Nad gak bisa ngasi yang terbaik buat Pia."
"Liat, Om." Gibran menarik bahu Nadia hingga menoleh padanya. Mata Nadia sembab dan bengkak. "Nad sudah memberikan yang terbaik pada Pia. Pia pasti sedih melihat Ibunya seperti ini. She loves you so much, so do I. Jadi jangan menangis lagi. You are the best."
"Hiks--" Nadia buru-buru menghapus ujung matanya.
"Jangan menangis." Gibran menarik pelan badan Nadia, membawanya dalam pelukan hangat yang menenangkan, "Nad ibu yang hebat."
Tangis Nadia pecah. Ia menangis sepuanya dalam pelukan Gibran, melepaskan segala kerisauan dan kekecewaannya. Ia mungkin berencana tapi Tuhan punya rencanaNya sendiri. Hari ini dirinya sudah gagal menjaga ibu yang baik untuk Pia tapi kesempatan untuk mencoba akan ada lagi kan?
"Maafin Nad ya Om, Hiks. Nad--"
"Shhhhhttt, udah." Gibran mengusap rambut belakang Nadia dengan lembut. Ini bukan kesalahan Nadia. Jika bukan karena dirinya yang sudah mengabaikan Nadia, mungkin istrinya itu tidak akan berpikiran berat hingga kemudian menjadi salah satu penyebab sakitnya. Seharusnya ia bisa bersikap lebih baik lagi bukan malah menjadi brengsek dengan mengabaikannya.
Maaf, sayang. Maaf sudah membuat kamu seperti ini.
***