
"Nad--"
Hal pertama yang Orion liat saat keluar ruangan adalah Nadia yang tersungkur dalam keadaan tidak sadar diri dikerubuni orang-orang. Tak jauh dari sana berdiri Lalita yang tampak syok menatap kearah Nadia.
"Minggir... minggir... Nad--" Panggil Orion membalik wajah Nadia dan kekhawatirannya bertambah saat melihat kening Nadia yang sobek akibat membentur lantai cukup keras.
"Nad, hei! Wake up!" Orion menepuk-nepuk pipi Nadia tapi tidak ada pergerakan dari juniornya itu. Tanpa pikir panjang ia meletakkan tangan di bawah lutut dan leher Nadia. Dengan sekali sentakan ia menggendong Nadia dan bergegas membawanya di ruangan kesehatan.
"Please, Nad. Open your eyes!" Orion mempercepat langkahnya sembari sesekali memanggil nama Nadia. Entah apa yang terjadi di luar tadi tapi dia tidak akan membiarkan siapapun yang telah melukai Nadia hidup tenang.
"Dok, tolong." Orion membaringkan Nadia diatas brangkar pasien diikuti oleh Dokter.
"Dia kenapa?"
"Jatuh, Dok." Orion berdiri disamping Nadia saat junior pembantah itu diperiksa dokter.
"Gimana keadaannya, Dok?" Tanya Orion sarat oleh kekhawatiran disana.
"Untungnya hanya kulit luarnya yang sobek. Dia kurang darah. Kemungkinan kurang istrahat." Jelas Dokter setelah melakukan pemeriksaan.
"Tidak ada yang serius kan Dok?"
"Tidak. Saya hanya akan mengobati luka di keningnya. Sebentar lagi dia akan siuman."
Orion mendesah lega. Ia tak hentinya mengucap syukur. Hal itu tak luput dari perhatian Dokter yang menjaga di ruang kesehatan itu.
"Sepertinya dia orang yang spesial. Pacar?"
"Hah?" Orion mengerjap lalu kemudian menggeleng ragu. Cowok itu tidak memungkiri bahwa Nadia bukan hanya sekedar junior keras kepala lagi. Entah bagaimana caranya cewek ini mencuri satu ruang dihatinya yang membuat ia tidak bisa untuk tidak memikirkannya. Bahkan seminggu kemarin tanpa melihat Nadia seperti ada yang kurang tapi tidak tahu apakah itu.
"Saya akan resepkan obat penambah darah. Nanti sampaikan padanya." Ucap Dokter saat melihat kediaman Orion. Cowok itu mengangguk, mengikut ke meja dokter.
Orion kembali menghampiri Nadia setelah mengambil resep dari dokter. Di tatapnya lamat-lamat wajah Nadia yang pucat. Keningnya sudah dibalut perban oleh dokter. Jarinya bergerak pelan menyentuh anak rambut Nadia dan menyelipkankan dibelakang telinga.
"Nadia Gaudia Rasya." Lirihnya pelan. Orion pertama kali bertemu gadis ini di sebuah lorong restoran berbintang lima. Gadis cantik yang sempat membuatnya tak mampu berkedip selama beberapa menit karena pesonanya. Dengan sengaja ia mengusik gadis cantik itu hanya untuk melihat lebih dekat dan dia berhasil. Sayang sekali pelukan mesra seorang lelaki dewasa pada gadis itu membuatnya patah hati disaat itu juga. Siapa sangka kemudian mereka bertemu lagi. Apakah ini yang namanya semesta berkonspirasi? Bodohnya meski tahu gadis manis di depannya ini menjalin hubungan terlarang dengan seorang lelaki beristri, tetap saja ia tidak bisa mengenyahkan bayangan Nadia dalam kepalanya. Bahkan Lalita tak lagi semenarik dulu. Gadis pintar seperti Lalita memang tipenya tapi ternyata gadis bodoh seperti Nadia pun tak kalah menyenangkan.
"Sayang, a-aku--"
Orion menoleh. Dibelakangnya berdiri Lalita yang tampak kebingungan mau mengatakan sesuatu. Orion langsung paham situasinya. Apalagi Lalita berada di TKP.
"Ikut gue!" Ia menarik tangan Lalita keluar ruang rawat.
"Sayang--" Cicit Lalita melihat kemarahan di wajah Orion.
Orion melepaskan tangan "Sejak kapan kamu jadi bar-bar seperti ini? Bahaya Ta! Kalau Nadia kenapa-kenapa gimana? Mau tanggung jawab?"
Lalita menautkan jari-jarinya gugup, "A-aku gak niat nyelakain dia. Dia cuma kesandung dikit tapi emang dasarnya dia lemah akhirnya jatoh." Jelas Lalita masih juga menyelipkan Nada kekesalannya pada kalimatnya.
"Ya ngapain pake di cekal? Mau jadi preman kampus?"
Lalita mendongak tak terima, "Sayang ngebelain dia? Aku kan udah bilang gak sengaja!" Lalita mulai menaikan nada suaranya. Ia benci disalahkan apalagi gara-gara gadis bodoh itu.
"Gue gak nyalahin sama sekali. Cuma ngasi tau kalau yang lo lakuin itu gak benar, litaaaa." Orion menekan setiap kata yang diucapkannya. Cewek kenapa selalu memusingkan sih?
"Aku gak sengaja, oke?! Kata dokter dia emang KD kan? Ya udah berarti bukan salah aku." Lalita bebal, sama bebalnya dengan Nadia cuma gadis berkacamata ini tak bisa menyadari kesalahannya. Beda dengan Nadia yang mau belajar dan meminta maaf jika benar ia terbukti salah.
Orion menggelengkan kepala tak habis pikir. Kemana lalita yang berkelas? Yang lemah lembut dan manis?
"Lebih baik lo pulang. Tidak ada kelas kan?" Orion menurunkan tekanannya. Percuma berdebat dengan Lalita, pacarnya ini tidak akan pernah menyadari kekeliruannya.
"Anterin."
"Gak bisa. Gue harus nunggu dia sadar."
"Kamu mentingin dia dari pada aku?" Tanya Lalita mulai emosi. Selama ini Orion tak pernah menolak permintaannya tapi hanya karena Nadia lelaki itu mengabaikannya. Si*lan.
"Bukan gitu tapi---"
"Permisi, ruangan kesehatan dimana ya?"
Baik Orion maupun Lalita, keduanya terpaku melihat kehadiran seorang yang tak asing lagi.
"Anda siapa?" Tanya Orion berpura-pura tidak tahu. Jelas sugar daddy ini mau menemui Nadia.
"Saya mau menemui Nadia. Katanya dia sekarang di ruangan kesehatan." Ujar lelaki itu yang tak lain adalah Gibran.
"Keluarga atau apa?" Orion menatap selidik. Kalau cuman pria br*ngsek, mending pergi sebelum gue hancurin muka datar lo.
"Saya su--"
"Om Gi."
Gibran menoleh kesumber suara. Di depan pintu Nadia menatap lemah padanya.
"Hei, kok bangun?" Gibran bergegas menghampiri Nadia dan memapahnya.
"Nad pusing." Keluh Nadia, menyandarkan badan sepenuhnya pada Gibran, "Mau pulaaang." ucapnya lemah.
Gibran mengangguk, "Kita pulang." Tanpa kesulitan, Gibran sudah memindahkan Nadia dalam gendongannya, "Tas Nad mana?"
Nadia melihat kedalam ruangan, "Diatas meja."
Gibran kemudian masuk kembali dalam ruang kesehatan untuk mengambil tas Nadia dengan Nadia yang betah dalam rangkulan sang suami.
"Ini saja?"
"Iya."
Gibran lantas membawa Nadia keluar ruang rawat dan langsung di hadang oleh Orion yang belum terima lelaki berwajah dingin itu membawa Nadia seenaknya.
"Nad biar gue yang antar."
Gibran menatap Orion datar, apa urusan pemuda ini dengan istrinya?
"Tidak, terima kasih. Dia urusan saya sekarang."
"Saya yang membawanya kesini."
Gibran tersenyum tipis yang lebih mirip seringai berbahaya, "Anda pamrih?"
Orion terdiam. Bukan itu maksudnya tapi-- "Jauhi Nadia!" Orion bahkan tak lagi memperdulikan keberadaan Lalita disampingnya. Sudah terlanjur basah, ia akan menyelam sekalian, "Anda tidak layak dengannya. Lelaki bersuami yang menghianati istrinya dan memanfaatkan gadis polos."
Gibran kali ini benar-benar tersenyum, jenis senyum meremehkan dan mengasihani. Mungkin pemuda ini salah satu yang Nadia maksud yang sering menyalahpahaminya.
"Oh ya? Jadi siapa yang pantas untuk gadis polos ini?" Tatapan Gibran menajam, "Kamu?"
"I--" Orion hendak membalas namun dokter datang menginterupsi.
"Loh, pasien saya mau dibawa kemana?"
Gibran beralih pada dokter, menyunggingkan senyum tipis, "Maaf Dokter, saya membawa pasien anda tanpa izin."
Dokter mengangguk, memperhatikan Gibran dari ujung kaki hingga ujung kepala, "Anda siapanya pasien?"
"Saya suaminya." Jawab Gibran tegas, jelas, padat dan terpercaya. Gibran bisa menyadari keterkejutan tiga orang yang ada di lorong kesehatan itu.
"Jangan ngaku-ngaku!"
Suara sinis itu bukan suara dokter melainkan Orion yang menatapnya tajam dan tak terima. Bisa-bisanya si brengsek ini mengakui Nadia sebagai istrinya.
Gibran menghela nafas samar. Melelahkan menjelaskan pada orang yang menutup mata dan menyangkal kebenaran.
"Saya akan membawa istri saya, Dok. Apapun yang terjadi pada pasien akan menjadi tanggungjawab saya." Ujar Gibran mengabaikan Orion. Ia tidak memiliki urusan dengan pemuda ini. Lebih baik ia membawa Nadia pulang ke rumah untuk istrahat.
"Baiklah. Usahakan pasien beristrahat yang cukup." Beda dengan Orion, Dokter bisa menyadari interaksi keduanya sebagai sepasang kekasih.
"Terima kasih, Dok. Permisi."
"Silahkan."
Tanpa menunggu Gibran langsung membawa Nadia pergi. Sebelum benar-benar hilang di belokan koridor, ia menoleh kebelakang dan mendapati pemuda itu masih belum bergerak, memandangi mereka dengan kedua tangan mengepal dan tatapan tajam menghunus. Sebagai penutup, Gibran berbaik hati menunjukan sedikit status kepemilikannya. Kecupan ringan ia layangkan dikening Nadia cukup lama, memastikan dua anak muda itu melihat apa yang ia lakukan.
She is mine, boy!
.
.
.
Si*lan tuh cewek. Besok gue bales lo! Sungutnya kesal sembari berusaha duduk.
"Udah baikan?"
Nadia menyandarkan punggungnyu dikepala ranjang, "Om yang jemput Nad?"
"Iya. Ada yang sakit?" Gibran duduk disamping Nadia membawa segelas air putih, "minum yang banyak."
"Makasih." Ucap Nadia mengambil gelas besar ditangan Gibran dan meminum isinya hingga tandas.
"Maaf, gara-gara Om Nad sakit."
Nadia menggeleng, "Bukan gara-gara Om. Tapi tuh si senior. Berani bangat nyegat Nad? Belum liat Nad ngamuk kali."
Gibran tersenyum kecil, mengusap pipi Nadia yang sedikit pucat, "Nad pasti kurang istrahat karena mengurusi Pia sendiri kan?"
"Eh?" Nadia terdiam melihat wajah bersalah Gibran. Ditangkupnya tangan besar Gibran yang masih betah di pipinya.
"Gak kok. Ini bukan salah Om. Emang udah tugas Nad kan sebagai ibu buat ngeja dan ngurus Pia."
"Dan tugas Om sebagai suami menjaga dan mendampingi istri dan anaknya." Sambung Gibran masih berkutat dengan perasaan bersalahnya.
Nadia menggeleng, ia beringsut kedepan, menyandarkan kepalanya di dada Gibran, "Om tuh akhir-akhir ini udah banyak omong dan kalimatnya selalu nyebelin."
"Maaf."
"Jangan pernah salahin diri Om gi. Biar Nad yang nyalahin Om Gi. Itu tugas Nad."
Gibran memeluk Nadia erat, "Nad bebas nyalahin Om. Jangan sakit. Nanti Om dan Pia tidak ada yang urus."
"Ini bentar lagi sembuh kok. Kan ada vitaminnya Nad."
Gibran mengangkat wajah dari bahu Nadia, "Vitamin?" Tanyanya bingung. Setahunya Nadia paling malas mengonsumsi vitamin jenis apapun.
Nadia mengangguk, "Om vitaminnya Nad. Selama ada Om disamping Nad, Nad pasti sehat wal afiat." ucapnya dengan suara lembut nan manja.
Gibran yang tadinya bingung tak bisa menahan senyumnya, "Nad udaranya Om Gi."
"Kalau itu boong bangat Om."
"Saya tidak bohong. Saya sulit bernafas kalau jauh dari Nad."
Nadia tertawa, "Belajar ngegombal dimana sih? Temenan sama Dilan ya?"
"Dilan siapa?"
"Pacar Milea."
"Teman Nad? Kok saya tidak tau? Teman dari mana?" Gibran makin bingung. Nama-nama itu asing ditelinganya.
Nadia menghembuskan nafas lelah. Susah kalau tidak sefrekuensi apalagi beda zaman dan beda tontonan. Mana kenal suaminya itu dengan pangeran bermotor tua anak milenial, taunya paling hitler atau titisannya.
"Lupain. Nad cuma ngomong asal aja tadi." Ujar Nadia kembali bersandar di dada Gibran. Wangi Gibran sangat menenangkan. Nadia sangat suka.
"Jangan kecapean. Istrahat yang cukup."
"Iya."
"Kalau capek, istrahat. Atau Nad mau nambah asisten? At---"
Cup.
"Udah, Nad gak apa-apa. Kecapean doang gak sampe kena kanker stadium empat." Nad melepaskan belitannya di pinggang Gibran, "Nad mau mandi. Gerah." Badanya terasa sangat lengket. Berapa lama ia tidur? Nadia melihat jam di dinding, hampir seharian ternyata.
"Mau dimindiin?"
"Dih modus."
Gibran terkekeh, mengunyel-ngunyel pipi Nadia, "Gak apa-apa. Sama istri sendiri."
"Nad-nya yang kenapa-kenapa. Om kan suka gitu, bilangnya cuma mandi doang tapi malah nambah aktivitas."
"Tapi Nad suka juga kan??"
"Ih enggak ya. Udah awas!" Nadia mendorong badan Gibran lalu berlari dalam kamar mandi.
Gibran yang melihat aksi melarikan diri Nadia hanya tersenyum kecil. Ia memandangi pintu kamar mandi dengan perasaan bersalah. Sedikit banyak, dialah yang membuat Nadia sampai sakit begitu. Coba saja ia lebih perhatian, mungkin Nadia tidak seperti ini, drop karena kurang istrahat.
***
Gibran sedang membaca laporan keuangan perusahaan saat sebuah pesan masuk di hp sang istri. Ia melirik sekilas dan melihat nomor baru masuk beruntun. Nadia belum kembali dari kamar Pia. Istrinya itu terkadang ketiduran di kamar Pia saat menyusui sang anak. Gibran biasanya yang menggendongnya untuk kembali ke kamar mereka sendiri.
"Hoaam" Nadia keluar dari connecting door sambil menguap lebar. Wajahnya tampak sangat kuyu menahan kantuk.
"Pia udah tidur?"
"Hu-um. Om kenapa belum tidur? Udah jam sebelas." Ujar Nadia setelah melirik jam di depannya. Ibu muda itu tampak sangat lucu dengan piyama motif pororon tanpa lengan yang hanya setengah paha.
"Ada laporan yang harus di selesaikan."
"Om Sam belum balik dari singapore?"
"Belum. Nad tidur duluan saja. Ini masih banyak."
Nadia yang tadinya duduk dipinggir ranjang beranjak menghampiri Gibran. Ia memeluk leher laki-laki itu dari belakang, "Maunya dipeluk Om bobonya."
"Manja."
"Gak apa-apa. Kan manjanya sama Om doang." Nadia melepas kalungan lengannya di leher Gibran lalu tanpa bisa di cegah ia menyusup diantara lengan Gibran untuk duduk dipangkuan laki-laki itu, mengangkangi kedua paha liat milik Gibran.
"Nad, ini gimana Om baca laporannya?" Tegur Gibran tak berdaya. Wangi lembut Nadia menyapa indranya membuat ia sedikit terlena.
"Gak mau tau. Pokoknya Nad mau disini melukin Om." Ucap Nadia memeluk Gibran dengan erat.
Gibran si lelaki normal dengan iman yang selalu menipis setebal kulit bawang tiap kali Nadia berulah meloloskan nafasnya kasar. Benda kenyal milik Nadia yang menjadi favoritnya menempel di dadanya. Hitung-hitungannya tentang keuangan perusahaan langsung buyar. Ini tidak bisa dibiarkan. Gibran berusaha mengumpulkan kembali akal sehatnya. Salahkan dirinya yang terlalu memuja gadis nakal yang anteng di pangkuannya ini.
"Bahaya Nad." Ucap Gibran lirih. Nafasnya tercekat saat Nadia memperbaiki posisinya, mencari posisi nyaman.
"Udah, jangan rese. Baca aja laporannya. Nad gak bakal gangguin." Nadia berujar lemah diantara sisa kesadarannya. Selain sebagai Vitamin, pelukan Gibran juga ternyata bisa jadi obat tidur yang manjur, hangat seperti memeluk teddy bear.
"Nad sangat mengganggu." Suara Gibran memberat dan rendah. Akal sehatnya tercecer kemana-mana tiap kali gadis nakal itu bergerak. Ini reaksi normal, Gibran berusaha menghibur dirinya. Setiap lelaki normal pasti akan kelimpungan seperti dirinya kan? Apalagi ada wanita muda bertubuh sintal dan beraroma lembut yang tengah duduk nyaman diatas pangkuan, halal untuk diapa-apakan.
"Om diem, Nad mau tidur." Protes Nadia yang merasa kenyamanannya terganggu. Ia memperbaiki posisinya agar lebih nyaman tapi kemudian sesuatu mengusiknya.
"O-om?" Nadia mengangkat wajahnya menatap Gibran ragu-ragu. Lelaki di depannya itu tampak kacau dan kelam.
"Y-ya?"
"I-ini a-apa?" Nadia tergagap, tidak berani melihat sesuatu dibawah perut Gibran yang tengah dipegangnya.
Gibran menelan salivanya gugup, "I-itu---" Gibran menggeleng pelan dengan wajah mirip maling yang tertangkap basah mencuri kolor anak gadis.
Wajah Nadia tiba-tiba berubah horor lalu--
"HIIIIH TIANG BENDERANYA OM TEGAK!!!"
Jeritan Nadia menggema dikamar itu. Sementara Gibran hanya bisa menyengir kaku, mengusap leher belakangnya salah tingkah.
Ini bukan tiang bendera Nad tapi moncong tank.
***
Hai hai readeeeeers yang sering nanyain Dewa dan Gendis, sabar yaaaa mereka punya lapak sendiri. Kalau Nad dan Om Gi say bye-bye, mereka langsung gelar lapak. Om Gi dan Nad bentar lagi nih... ikutin terus ya.
Dan yang pengen kenalan sama Senior kampretnya Nadia, yuk mendekaaat.
Perkenalkan, Orion yang mulai oleng ke junior bebalnya sedang ngambek sama Lalita si pinter yang suka iri hati.