Little Persit

Little Persit
Lidah Tetangga



"Ih masa ya suami keluar tugas, istrinya keluyuran belanja gak jelas gitu. Mana perginya sama laki-laki lain, kan kasian suaminya."


"Peleeee ibuuu, betul kah? Dunia so makin tajungkir yaiiii"


"Sepupunya bede' katanya."


"Sepupu opo?! Sepupu yok ndak ada mesra-mesra begitu."


"Cukup joo. Orang depu urusan itu. Selesaikan saja tugas masinh-masing. Ibu ketua so tunggu ini barang."


"Lo sih pake ngundurin diri jadi ketua. Ribet kan." Sabrina menyenggol tangan Nadia.


Nadia mencibir. Siapa yang selama ini paling sering membantah idenya?


Suasana ini sudah biasa Nadia dapati disetiap perkumpulan. Mau perkumpulan Osis, perkumpulan cheers, arisan ibu-ibu dan kemudian giat seperti ini juga masih tetap ada omongan mengenai salah satu anggota yang absen. Ibaratnya di depan manis, dibelakang sinis. Tipikal lingkungan toxic yang tidak baik untuk kesehatan mental dan tentunya merugikan tabungan akhirat.


"Tante-tante gak boleh ngomong gitu. Emang mau di omongin di belakang? Gak menutup kemungkinan tante-tante yang dateng sekarang pas absen gak diomongin nantinya." Nadia bergidik sembari melirik ibu-ibu yang kini menatapnya masam. Dia bicara kenyataan karena bahkan dirinyapun tidak yakin tidak menjadi sumber gosip saat ia absen dalam perkumpulan. Bedanya adalah seorang Nadia bukan tipe baperan yang apa-apa dimasukin medsos. Big No! Sangat tidak berkelas. Iri tanda tak mampu, salah satu motto hidup yang membuat ia tetap berkelas dengan mengabaikan gonggongan guk guk. Lagian siapa lagi sih yang jadi sasaran kali ini? Nadia sudah mengabsen satu persatu anggota dan sepertinya lengkap semua.


"Itu sudaaaah. Dong pu mulut ini trada dijaga sekali. Su cape bilang trada yang mo dengar. Sa pu kepala sampe rasa mo pica." Ibu Katarina menambahkan. Nadia mengangguk-anggukan kepala sepakat. Sebenarnya ia ingin sekali menyumbat telinganya dengan sesuatu supaya tidak mendengar gosip-gosip seperti ini tapi sayangnya akan menjadi salah satu sorotan para tetua karena adab kesopanan yang dilanggar.


"Lebih baik tante-tante cepetin kerjaannya biar pulang gak kemalaman." Ucap Nadia lagi. Mau tidak mau rekan-rekannya melakukan hal yang sama. Lagian, hobi kok ngegibahin orang. Auto rugi dunia akhirat kata Om Gibrannya.


"Ibu Gibran selalu paling ingin cepat pulang. Pasti mau sayang-sayangan ya sama bapak?! Hayo ngaku." Sabrina si petasan tukang kompor mengedip genit. Memang tidak lengkap harinya tanpa menjahili Nadia.


"Iya dong tante. Namanya juga masih baru. Maklumin aja sih." Balas Nadia pongah. Bukan Nadia Gaudia Rasya kalau harus mati gaya untuk urusan semacam ini.


"Iyo ji yang masih muda. Harus mi kita sering-sering itu Ibu karena dekat mi lahiran." Timpal Tania tersenyum penuh arti.


"Sering-sering ngapain, Tan?" Tanya Nadia bingung. Otaknya yang hanya beberapa pentium tidak memahami obrolan para ibu-ibu yang lebih sering memakai kata ini itu sebagai kata ganti suatu benda atau perkara. Ibu-ibu di sekitarnya saling berbisik sambil terkekeh tanpa Nadia tahu bagian mana yang lucu dari pertanyaannya tadi. Aneh.


"Peleee sayang eee... tanya sudah ko pu paitua. Bapa su paham itu."


Nadia sanksi karena selain senjata dan peluru serta strategi perang, Gibran tidak tahu banyak mengenai wanita apalagi yang berhubungan dengan kehamilan, bisa dibilang Gibran Nol besar. Ah tapi kan lelaki itu sudah hidup lebih lama dari dirinya harusnya lebih tahu tentang dunia dan segala obrolannya.


"Betul itu. Istilahnya cari jalan." Tambah Bu Tejo tersenyum penuh arti disambut ibu-ibu lain yang tak kalah menyebalkan. Apalagi namanya kalau bukan MENYEBALKAN bermain kode-kodean di depan korban. Daripada memikirkan tetangganya yang penuh rahasia dan istilah, Nadia melanjutkan kesibukannya menempeli bunga. Nanti lah ia tanyakan pada Om tampannya.


***


"Om Giiiiii.... Om dim-- ngapain? Kok basah-basah gini." Nadia melongokkan kepala dan mendapati Gibran tengah berdiri di dalam kamar mandi dalam keadaan basah kuyub. Seragam lorengnya masih lengkap hanya saja celanannya sudah di gulung setengah betis dan lengan bajunya sudah di gulung sampai siku.


"Baru pulang?"


Pertanyaan dijawab pertanyaan, hebat sekali. Nadia memutar bola mata sebal.


"Hu-um. Kok gak jemput?"


"Sekalian Nad olahraga." Jawabnya singkat tanpa menoleh pada sumber suara.


"Om ngap--"


"Licin." Gibran menahan Nadia tetap di luar. Persit kecilnya itu melongokkan kepala ingin melihat apa yang sedang di lakukan oleh suaminya sampai sesibuk ini bahkan tanpa melepas seragamnya.


"Wastafel?" Nadia mendongak menatap Gibran dengan wajah cengok. Wastafel darurat yang dirangkai dari loyang ukuran sedang yang sengaja di lubangi dan disambungkan dengan kran.


"Kalau cuci muka tidak susah lagi." Jelas Gibran sembari mengacak rambut Nadia.


"Kan ada Om yang bantuin."


"Kalau gak ada Om." Ucap Gibran lagi lalu mengajak Nadia menjauh dari sana. Selain berwudhu sepertinya sehari semalam saat ia tidak ada, istri kecilnya ini tidak mencuci muka sama sekali.


"Jadi basah gini kan. Nad bantuin." Tanpa menunggu persetujuan Gibran, Nadia dengan lincah membuka kancing seragam laki-laki itu. Salah satu kegiatan favoritnya, melucuti pakaian si Om favorit. Ya Allah otak gue makin mesum aja. Nadia meneguk salivanya saat dada bidang Gibran terpampang di depan wajahnya. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan Nadiaaaaa. Sluuurp!


Dilain pihak Gibran berkacak pinggang memperhatikan cara kerja Nadia yang semakin lancar melepas kancing "Makin lincah." Ujar Gibran dengan seringai tipis.


Nadia tersenyum malu-malu. Kebiasaan latihan hampir setiap hari apalagi kalau mode on fire, udah paling menantang bagian lepas kancing. Nadia terkikik dalam hati.


"Om mau makan malam apa? Biar Nad buatin."


"Apa aja asal--tangan Nad di jaga. Masih sore." Gibran meremas jemari Nadia yang iseng mengusap dadanya. Nadia memberenggut, diraba doang elaaah.


"PELIT!" Nadia melepaskan tangannya dari kungkungan tangan besar Gibran lalu berlalu dari hadapan suaminya itu sembari menghentakkan kaki kesal. "AWAAAS AJA NANTI MALAM ADA YANG MINTA. NAD BUATIN SUSU KAMBING." Teriakan Nadia dari arah kamar menggelegar di ruangan itu.


Gibran terkekeh, menyusul Nadia ke kamar. Dilihatnya istrinya itu sedang duduk di kursi kerjanya dengan tatapan nyalang kearahnya. Kedua tangannya bersidekap diatas dada, kedua pipi meronanya mengembung sempurna membuat Gibran harus berusaha keras untuk tidak melangkah menggigit pipi yang semakin gembul itu. Menggemaskan.


"Gak mau bantuin?"


MAU!!!


"NGGAK!!!" Nadia memalingkan wajahnya dari pemandangan menggoda di depannya. Gibran berdiri di depan lemari sembari melepas kancing seragamnya yang tersisa dengan gaya slow motion. Memang dasar etaaang, senang sekali menggoda iman seorang gadis remaja seperti dirinya. Gue kan lemaaaah. Nadia menggigit bibir menahan keinginannya menerjang Gibran. Dasar hormon si*lan.


Gibran manggut-manggut. Sengaja melepaskan baju seragamnya saja tanpa berniat mengambil baju ganti. Celana lorengnya bergantung di pinggang menampilkan jalur V yang menggunggah selera seorang Nadia. Memang sengaja mengerjai Nadia yang ia tahu gadis kecilnya itu selama masa kehamilan nafsunya menjadi-jadi. Kuatkan Nad ya Allah, hiks. Nadia menggelengkan kepala menepis imajinasi kotor yang sudah mengendap dalam kepalanya. Berat bangat cobaan Nad. Nadis mengusap keningnya yang mulai berkeringat.


"EH MAU NGAPAIN?" Nadia berteriak panik melihat Gibran yang hendak melepas kancing celananya.


"Gantian lah." Jawab Gibran enteng.


"YA JANGAN DISINI JUGA DONG OM. Gak liat apa ada anak dibawah umur. Gak sadar sikon amat." Dumelnya antara ingin memalingkan wajah atau menikmati sajian nikmat di depannya.


"Cih anak dibawah umur." Gibran berdecih pelan. Anak dibawah umur yang bisa Membangkitkan sisi liarnya, hebat sekali. Tatapannya tak lepas dari Nadia yang pura-pura memperhatikan kuku-kuku tangannya. "Katanya mau masak?"


Gibran kemudian membelakangi Nadia untuk mengambil kaos rumahannya. Cukup mengerjai si kecilnya hari ini.


"Nad kesel. Gak mau ngapa-ngapain." Ujar Nadia masih dengan mode samar ingin menerjang, punggungnya itu loh, nyaman bangat buat nyender. Nadia mengembungkan pipinya menahan keinginan untuk berlari memeluk punggung kokoh itu.


"Ck, bukan istri solehah."


Gibran menoleh setelah mengenakan baju kaosnya. Tangannya bersidekap sembari menyandarkan badan besarnya di lemari kayu. Tatapannya datar pada Nadia. Sedang gadisnya itu membalas dengan tatapan tak terima.


"Sering ngambek, keras kepala, malas-malasan ibadah, bicara kotor, trus apa lagi ah ini--suka mikir jorok. Mmm--" Gibran melirik tangan Nadia yang kini membekap mulutnya. Cepat juga gerakkannya. Gibran mengulum senyum.


"Udah dong Om, dosa Nad jangan diabsenin gitu. Kasian malaikat yang nyatet, pegal ntar tangannya." Mohon Nadia memasang puppy eyes-nya. Senyum manis ala kucing minta di elus adalah bagian yang menjadi andalannya untuk menaklukan hati si Om kece badai.


Gibran menjauhkan tangan Nadia dari bibirnya namun tidak melepaskannya. "Sayang dulu."


"Dari dulu udah sayang. Sayangnya banyak-banyak lagi." Ucap Nadia dengan pasti.


Gibran menggeleng lalu menyodorkan pipinya, "A brain-wash kiss."


"Hah?" Nadia melongok "Jenis ciuman apaan tuh, Nad baru denger."


Gibran meraih tangan Nadia agar lebih merapat padanya. Kedua tangan gadis itu ia letakkan di dada bidangnya. Hal di tunggu-tunggu Nadia sejak tadi tapi masalahnya sekarang Nadia sedang blank karena di tatap sedemikian dalam dan panas oleh si kaku sehingga keinginannya yang tadi menggebu-gebu hanya jadi sekedar narasi dalam kepalanya.


"Ciuman pencuci otak agar melupakan dosa-dosa Nad." Terang Gibran diiringi senyum mematikan. Lelaki Racun duniaaaa~~


"Nad gak tau." Nad menggelengkan kepala pelan. Yang ia tahu cuma ciuman selamat pagi dan ciuman yang pas mau gituan.


Gibran terkekeh. Sangat menggemaskan melihat wajah bingung Nadia. Ia hanya mengerjai gadis kecilnya itu yang ternyata ditanggapi serius. Gibran melepas tangannya dari pinggang Nadia setelah menyarangkan satu ciuman panjang dibibir merah itu.


Nadia terpaku. Apalagi saat Gibran menjilat bibir bawahnya. Ia sadar dari keterpakuannya saat mendengar suara peralatan dapur bersahutan.


Nadia mengerjap, di depannya sudah tidak ada Gibran. "Gue kan lagi ngambek tadi."


Brain-wash Kiss si*lan.


***


"Ck. Duduk aja gak bisa?"


Nadia menggeleng, menyerahkan cucian pada Gibran yang menatapnya dengan helaan nafas lelah. Lelaki itu sedang menjemur cucian dan Nadia seperti biasa mengikuti dimanapun kakinya melangkah.


"Nih." Nadia kesulitan mengangkat celanan loreng Gibran yang perasan airnya masih banyak.


"Berat Nad. Duduk!" Gibran mengambil ember cuciannya menjauhkannya dari jangkauan Nadia.


Nadia menghela nafas pendek. Ia berjalan menuju bangku panjang yang ada di samping jemuran. Bangku panjang yang Nadia gunakan sebagai pijakan saat mau mrngambil cucian yang dijemur tinggi. Senyum Gibran mengembang melihat Nadia duduk dengan kaki diayunkan sembari mengelus-elus perut besarnya. Pemandangan yang selalu hadir dalam mimpi terliarnya, melihat Nadia mengandung anaknya yang kini menjadi kenyataan. Meskipun cara mendapatkan Nadia terkesan memaksa tapi ia tidak menyesali hal itu sama sekali. Memiliki Nadia sebagai istrinya sudah yang paling benar.


"Sudah hubungi kampus?" Tanya Gibran memecah kediaman keduanya.


"Om Sam yang urus. Udah beres." Jawab Nadia tanpa mengalihkan tatapannya dari perut besarnya.


"Tetap sama Om kan disini? Atau mau balik dulu?" Lanjut Gibran membentangkan satu potong dress Nadia yang tersisa dalam ember.


"Disini aja sama Om. Tapi lahirannya Gimana Om? Ke kota atau bidan distrik aja?"


"Kota. Om gak mau ngambil resiko." Gibran mengusap peluh di kening Nadia. Gadis itu kemudian melarikan tangannya untuk memeluk pinggang Gibran yang berdiri tepat di depannya.


"Nad bahagia. Nad bersyukur di jodohkan Allah dengan lelaki sehebat Om. Kalau Bunda dan ayah masih ada, Nad mau bilang terima kasih banyak-banyak karena sudah membawa Om dalam keluarga Gaudia. Nad sayang bangat sama Om. Terima kasih sudah sayang dan mau menjaga Nad sampai sekarang."


"Pernyataan cinta yang sangat panjang. I Love you too." Gibran tersenyum tipis di puncak kepala Nadia.


"Nad bukan bilang cinta tadi. Jangan ge-er." Protes Nadia sambil mengeratkan belitannya di pinggang Gibran. Lelaki ini adalah miliknya.


"Baiklah. Maafkan saya yang GR ini. Sekarang ayo masuk dalam rumah." Gibran mengamit tangan Nadia dan membawanya masuk dalam rumah.


"Om--"


"Hm."


Nadia mengikuti Gibran duduk di kursi panjang. Suaminya itu meneguk segelas air putih yang sengaja Nadia letakkan di bawah kaki meja agar dingin. Nadia sudah lama ingin membeli kulkas tapi keadaan listrik yang masih sering padam daripada menyala, membuat ia mengurungkan niatnya.


"Apa?" Tanya Gibran setelah menghabiskan air putih di gelasnya.


"Kata tante-tante kita harus sering itu karena Nad sudah dekat lahiran."


"Itu apa?"


Nadia mengedikkan bahu. "Gak tau. Kata Ibu katty suruh tanya Om pasti Om tau."


"Om gak tau." Ujar Gibran sembari mengelap keringat dengan ibu jarinya.


Nadia mengangguk "Nad udah tebak itu. Tapi penasaran aja siapa tau aja Om tau apa yang mereka maksud. Katanya sih untuk buat jalan. Nad gak ngerti." ucapnya sekena pemahamannya.


"Buat jalan?" Gibran membeo.


"Hu-um." Angguk Nadia.


Gibran lantas menghembuskan nafas pelan saat kemudian mulai memahami apa yang dimaksud Nadia. Senyum kecil terlukis di ujing bibirnya.


"Bener. Kita harus sering-sering melakukannya."


"Om udah ngerti. Emang ngelakuin apa, Om?"


Gibran menarik Nadia lalu membisikkan kata yang selanjutnya membuat Gibran menutup telinga rapat-rapat.


"MESUUUUUUUUM!!!"


***