
"GAK USAH BALIK NAD BILANG! OM JAUH-JAUH DARI NAD! OM PERGI!-- hiks." Nadia naik diatas ranjang hingga badannya menumbuk dinding ranjang queen size miliknya. Bantal-bantal sudah bertebaran di lantai dekat kaki Gibran yang masih berdiri kaku di depan pintu dengan mimik wajah penuh sesal.
"Maafkan saya, Nad. Saya salah."
"EMANG! EMANG OM SALAH! OM JAHAT TAU NGGAK? OM NINGGALIN NAD SENDIRI. OM TUH INGAT ADA NAD GAK SIH DI DUNIA INI?" Nadia meraih lampu tidur berbentuk hello kitty diatas nakas bersiap melempar lagi saat melihat Gibran hendak mendekat.
"Ingat, Om ingat ada Nad dan Pia disini." Gibran berdiri ditempatnya berujar lembut, tak lagi mencoba mendekat. Dia yang salah dalam hal ini jadi sewajarnya Nadia marah padanya.Yang aneh jika kesayangannya itu menerimanya dengan tangan terbuka, "Ada alasan kenapa saya tidak bisa menghubungi Nad. Nad mau dengar penjelas--?"
"GAK! JELASIN SANA SAMA TEMBOK." Potong Nadia cepat sembari menutup kedua telinganya dengan tangan. Tangisannya kembali terdengar bersahutan dengan helaan nafas terburu karena sejak tadi gadis kesayangannya Gibran itu mengambil nada paling tinggi saat berbicara.
Gibran menghela nafas pelan. Ia mengusap wajahnya gusar. Daun pintu dengan ukiran khas dayak yang baru saja di bobolnya seolah mengejek dirinya yang kehabisan akal untuk membujuk Nadia. Istrinya itu benar-benar berniat membuat permintaan maaf Gibran berjalan tidak mudah. Saat ia menyusul tadi, kamar di kunci dari dalam oleh Nadia baik pintu utama kamar maupun connecting door yang menghubungkan kamar mereka dan kamar Pia. Belum lagi serangan Nadia dengan berbagai jenis barang di kamarnya mulai dari bantal, buku-buku dan segala jenis boneka berwarna merah muda dan kini lampu kamar yang kemungkinan bisa menambah luka di badannya.
"Nad tidak merindukan Om?" Tanya Gibran berusaha mencari celah.
Rindu.
"GAK!"
"Nad tidak senang Om pulang?"
Senang bangat.
"GAK!" Nadia menghapus kasar ingusnya dengan punggung tangan, bodo amat lah yah dengan kebersihan, ia sedang kesal maksimal sekarang.
Gibran mengangguk paham, "Nad tidak mau memaafkan Om?" Tanya Gibran dengan suara rendah dan lirih.
Nadia terdiam. Batinnya berperang antara menghampiri Gibran dan mendengarkan penjelasan suaminya itu atau tetap bertahan meluapkan amarahnya yang masih tersisa banyak. Dua minggu ini bukan hanya rindu yang menumpuk tapi kesal pun tumbuh subur kapan-kapan menunggu Gibran kembali untuk ia muntahkan. Dan saat laki-laki itu akhirnya ada di depannya, ada saja sisi dirinya yang murahan meronta-ronta untuk melemparkan diri dalam pelukan dada bidang lelaki berseragam loreng-loreng itu. Gibran terlalu meresahkan dengan mata sayu dan senyum getirnya. Nadia lemah ya Allah--- eh jangan dong Nad. Peperangan batin selalu saja menyebalkan.
"Om dimaafkan atau tidak?" Tanya Gibran lagi. Tatapannya lurus kearah Nadia yang sudah mulai goyah. Yah, semurahan itu memang Nadia Gaudia Rasya. Nadia mencebik sebal.
"Gak."
"Bener?"
"Bener."
"Yakin?"
"Eng---" Nadia menggigit bibir dengan kening bertaut dan tatapan mata tak tenang. Melihat itu Gibran mengulum senyum dan diam-diam menghembuskan nafas lega. Nadianya memang lucu bahkan dalam keadaanya yang tengah kesal-kesalnya seperti ini.
"--yakin." Cicit Nadia tak yakin. Apa benar ia tidak mau memaafkan laki-laki yang sangat dirindukannya ini? Merasa sebentar lagi akan kalah, Nadia buru-buru menarik selimut dan menutupi dirinya sepenuhnya "BODO! NAD GAK PEDULI!" teriaknya teredam dalam selimut pink lembutnya.
Kali ini Gibran tak lagi menahan kedutan di kedua ujung bibirnya. Haru dan bahagia melihat Nadia dalam keadaan baik-baik saja dan selalu mencintainya seperti ini membuat hatinya menghangat serta maafnya yang begitu banyak untuknya. Saya janji Nad, mulai sekarang saya akan selalu menemani Nad dan Pia. Dengan langkah pelan namun pasti, ia melangkah menghampiri Nadia. Gibran duduk disisi ranjang tepat didekat Nadia yang masih menyembunyikan dirinya.
"Sayang--" Gibran mengulurkan tangan mengusap kepala Nadia yang dilapisi oleh selimut tebal. Ada gerakan menghindar dari Nadia tapi sepertinya tak benar-benar mencoba menghindar, "Maafin Om, sayang. Om salah karena tidak mengabari Nad. Tapi semua ada alasannya. Kalau Nad sudah siap, Nanti kita ngobrol ya?!" Gibran berujar lembut sembari mengelus kepala Nadia hati-hati.
Tak ada gerakan berarti dari gadis nakalnya Gibran itu. Ia menikmati bagaimana tangan lebar Gibran mengusap kepalanya dengan penuh perasaan. Hal kecil tapi selalu menjadi perlakukan favoritnya dari lelaki itu. Nadia selalu merasa disayangi setiap kali Gibran mengusap kepalanya lembut seperti ini. Seperti usapan lembut tangan seorang ayah pada anak gadisnya. Seperti ayahnya, ah tiba-tiba jadi rindu gini kan.
"Saya akan menunggu sampai Nad mau memberi maaf." Ujar Gibran kali ini bukan sekedar mengusap kepala sang kesayangan tapi badannya ikut merengsek naik diatas tempat tidur dan berbaring menyamping di samping Nadia memeluk tubuh kecil itu yang untungnya tanpa mendapat penolakan.
"Saya sangat merindukan kamu, Nad. Rindu sekali." Ucapnya penuh perasaan, "Terima kasih sudah menjadi istri dan ibu yang hebat." lanjut Gibran sembari mengecup bagian kepala Nadia. Bayangan akan rasa sakit yang menghujam dadanya dan ketakutan akan kemungkinan meninggalkan Nadia dan Pia didunia ini begitu sangat mengganggunya. Gibran bukan takut mati karena bagi seorang tentara sepertinya kematian adalah bagian dari atribut mereka di tempat kerja, kapanpun entah peluru, mesiu atau granat akan merenggut hidup mereka. Yang ia takutkan adalah meninggalkan Nadia dan Pia berdua. Apa yang akan dilakukan dua gadisnya itu jika ia tidak ada?! Gibran tak sanggup meski hanya berandai-andai.
"Maaf--- Maafkan saya." Gibran merapatkan diri di tubuh Nadia yang membeku dalam bungkusan selimut. Gibran bisa mendengar tangisan tertahan Nadia yang sesekali menarik ingusnya. Gibran sadar dirinya sudah melakukan kesalahan jadi daripada memaksa Nadia untuk memaafkannya, ia memilih bersabar membiarkan gadisnya itu meluapkan semua amarah dan kekesalannya. Ia tahu Nadia sudah memaafkannya tapi gengsi seorang wanita yang merasa tersakitilah yang membuat gadis manis dalam rengkuhannya ini tetap bungkam.
***
Nadia terbangun berbantalkan lengan kekar Gibran. Wajahnya tepat berada di depan dada lelaki itu yang masih tertutup oleh seragam kebesarannya. Seingatnya ia sedang marah pada pemilik pelukan hangat ini dan sedang menghindar dengan harga dirinya yang tinggi sebagai pihak yang tersakiti tapi kenapa sekarang ia malah berada dalam pelukan nyamannya? Nadia melirik tangan Gibran yang memeluk pinggangnya erat. Ia mengangkat tangan itu pelan-pelan untuk semakin di eratkan padanya. Nadia suka, suka seperti ini. Bangun tidur di lengan Gibran dan mendapatkan ciuman selamat pagi yang manis. Tapi sebagai istri seorang abdi negara hal kecil yang manis itu sulit sekali ia dapatkan. Bisa mendapat kabar dari sang pujaan hati saja sulit sekali apalagi hal-hal lainnya.
Nadia melirik jam yang mengganting didinding kamarnya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Dua jam mereka tertidur dengan posisi enak seperti ini. Kembali pada sosok Gibran yang tengah memeluknya, Nadia menggeliat bergerak keatas hingga wajahnya tepat dihadapan wajah Gibran. Lelaki itu tertidur dengan nyenyak, tak terganggu sama sekali meskipun Nadia bergerak gelisah. Perjalanan sepertinya menguras habis tenaganya ditambah lagi menghadapi kemarahan Nadia. Dua hal yang patut dijadikan alasan untuknya yang tertidur sampai sesore ini.
Nadia melarikan telunjuknya menyentuh bawah mata Gibran. Sejak bertemu laki-laki itu beberapa jam lalu, ia sudah menyadari kantung mata Gibran yang tak seperti biasanya. Sedikit membengkak seolah laki-lakinya itu terlalu lama tidur atau menutup mata sehingga tampak sayu seperti itu. Kulit wajahnya pun sedikit pucat tak seperti biasanya dimana ketika laki-laki itu pulang dari bertugas maka coklat eksotis akan memanjakan mata para gadis yang melihatnya. Ditatapnya lamat-lamat wajah Gibran lalu dengan kesadaran penuh Nadia menipiskan jarak diantara mereka.
Cup.
Nadia mendaratkan kecupan ringan di kening Gibran yang semakin jelas garis kerutan di dahinya yang selama ini samar, "Selamat datang kembali sayang." bisiknya lirih. Satu tetes bening dari sudut matanya jatuh tanpa diminta. Kerinduan yang teramat sangat kembali terobati dengan hadirnya Gibran disisinya. Meskipun sehari, seminggu atau mungkin sebulan lagi laki-laki itu akan pergi lagi meninggalkannya dan Pia dengan kerinduan yang sama menyiksa, tetap saja ia bahagia. Bisakah ia menyimpan lelaki ini dalam kantongnya? Agar bisa ia bawa kemana-mana dan saat rindu, dirinya cukup melihat isi kantongnya dimana Gibran berada.
"Om baik-baik aja kan dua minggu ini? Nad khawatir bangat sama Om. Nad takut kalau--hiks." Nadia buru-buru menutup mulutnya tak mau Gibran mendengarnya menangis. Diusapnya pipi basahnya dengan lengan baju miliknya. Takut, ya takutlah yang mendominasi perasaannya dua minggu ini. Nadia takut jika laki-laki tidak pulang lagi. Takut jika Gibran yang menemuinya hanyalah nama. Ya Tuhan, memikirkannya saja sudah membuat merinding. Gibrannya, kesayangannya, Nadia mengusap airmatanya yang terus mengalir. Dan sekarang ia bisa lega, kekasih hatinya sudah kembali dengan selamat tanpa kekurangan satu pun.
"Makasih karena Om udah pulang. Nad juga rindu, Om. Rindu banyak-banyak. Kayaknya Nad bisa mati kalau Om sampe kenapa-kenapa. Jangan gini lagi ya Om, Nad beneran takut." Nadia mengusap lembut pipi Gibran dengan ringan, takut membangunkan Gibran yang sedang terlelap.
Cup.
Nadia kembali mengecup Gibran, kali ini kedua mata laki-laki itu yang masih memejam, "Nad sayang Om banyak-banyak." tutupnya lalu merapatkan diri pada Gibran, menyerukkan wajahnya di leher laki-laki itu.
Gibran yang ternyata sudah terjaga sebelum Nadia terbangun tak bisa menahan liquid menggenang di pelupuk matanya. Betapa Nadianya begitu tersiksa menanggung rindu selama ini. Maaf Nad, maaf. Dihirupnya wangi rambut Nadia penuh perasaan. Alhamdulillah ya Allah, terima kasih untuk kesempatan mencintai gadis kecil ini. Terima kasih karena telah menjodohkan hamba dengan gadis luar biasa ini.
.
.
.
"Kenapa Nad?"
Nadia tersentak, mampus ketahuan. Nadia menarik diri untuk kembali bersembunyi dibalik keramik besar menggigit ujung-ujung kukunya. Ibu muda itu baru selesai mandi dan hendak menyusui Navia tapi ternyata ada Gibran di kamar Pia. Sebagai gadis muda yang menjunjung tinggi gengsi hingga ke langit ketujuh pantang untuknya memulai obrolan. Ia masih kesal walaupun sisa setetes lagi.
"Nad--" Panggil Gibran lagi sembari menahan senyumnya. Sejak tadi ia mengetahui keberadaan Nadia yang mengintip dibelakang mereka tapi gadis pemilik Gaudia Grup itu memang mewarisi harga diri seorang Gaudia yang selangit.
"Pia katanya haus." Ujar Gibran lagi tanpa mengalihkan tatapannya sang bayi mungil yang terlihat sangat bahagia di pangkuan ayahnya, "Pia kasi tau ibu dong supaya maafin ayah. Ayah kangen pengen meluk Ibu."
"Bilang sama Ibu kalau Ayah sayangnya juga banyak-banyak."
Dih, gombal.
"Ibu itu udaranya ayah."
Jijiiiik.
"Ayah cinta sama Ibunya Pia."
Fix, Om Gi kesurupan.
Nadia keluar dari persembunyian tak lupa memasang wajah galak yang dipaksakan. Kedua tangannya melipat angkuh.
"Jangan di denger, Dek. Bohong tuh. Udaranya apaan, ditinggal lama masi juga hidup kan." Nadia berujar sebal. Ia mendudukan pantatnya di sofa panjang yang memang disediakan untuk tempatnya menyusui. Kedua kaki jenjangnya saling menumpu dengan tatapan tajam terarah pada Gibran yang malah menatap balik memasang wajah penuh senyum. Manis bangat pengen icip, eh. Nadia tanpa sadar memukul kepalanya sendiri yang sudah berani berpikir yang iya-iya.
"Masya Allah cantik sekali ibunya Pia. Pasti wangi tuh." Tatapan penuh pemujaaan Gibran layangkan pada istri cantiknya yang sedang duduk menyandar dilengan sofa yang mereka duduki bertiga, "Menurut Pia, ayah dikasih gak yak buat nyium?" Tanya Gibran lagi pada bayi kecilnya yang terus saja menyengir, menikmati perang manis ayah dan Ibunya.
"Gak dikasilah." Nadia menjawab sinis. Ia menegakkan badannya sengaja merapat ke lengan kekar Gibran--memang penggoda ulung.
Gibran mengumpat diujung tenggorokannya saat dua benda kenyal itu menyentuh lengannya yang tak tertutupi apa-apa. Tahan Gibran, tahaaaaan.
"Puasa setahun kali aja dosa-dosanya yang udah ningglin istri dan anak terampuni--fuuuuh"
Gibran memejamkan mata saat Nadia dengan jahil meniup telingannya yang super sensitif. Tahan Gi, tahaaaan. Gibran terus mensugesti dirinya untuk tidak menyerang Nadia yang memang sepertinya berniat menyiksanya dengan kemeja kebesaran yang menenggelamkan badan kecilnya-- Ya Tuhan, ini halal kan buat di elus? Gibran salah fokus pada paha mulus Nadia yang tidak tertutupi ujung kemejanya. Apa-apaan anak ini hanya memakai dalaman?!!!! Gibran meneguk salivanya susah payah. Ayolah jangan menuduhnya mesum atau pervent, hidup dihutan selama dua minggu dengan berbagai hal yang dihadapi tanpa sempat menyapa istri apalagi yang bisa diharapkan? Terlebih ia sudah merasakan betapa nikmatnya menyentuh gadis nakalnya ini, mohon maaf saja Gibran lelaki normal bukan malaikat tanpa nafsu. Jadi mari saling memaklumi.
Nadia yang sebenarnya tidak berniat menggoda siapapun seakan mendapat angin segar melihat tatapan gelap Gibran yang menyorot padanya seolah siap menerkam. Show time, Om Gi!
"Atau dua tahun?" Kali ini Nadia menumpu tangan kanannya dibahu Gibran. Keningnya mengerut saat mendengar desisan tertahan Gibran. Bukan desis menahan sesuatu kehal-hal yang iya-iya tapi seperti ringisan kesakitan. Ia tidak salah dengar kan? Karena perasaanya tiba-tiba menjadi tidak tenang. Nadia buru-buru bergerak memegang ujung kaos Gibran hendak membukanya.
"Eh, Nad--jan-ngan, ada Pia." Tahan Gibran. Dia mau sih, sangat mau tapi jangan pas Pia melek juga dong. Ya Allah, Nad-- gibran menggeleng panik. Kasian anak mereka yang belum cukup setahun sudah harus melihat ayahnya di perk*sa sang Ibu. Haduh!
Nadia mencebik kesal karena Gibran menahannya, "Apaan sih? Buka nggak?" Paksa Nadia menarik ujung kaos Gibran keatas.
"Iy-iya tapi sebentar. Ada pia--pia." Jelas Gibran seolah Nadia tidak melihat bayi gembul itu yang cekikikan melihat kekonyolan ayah dan ibunya.
"Ya gak apa-apa. Pia gak ngerti ini kok." Nadia berujar tak sabar. Kesal dengan Gibran yang tak mau bekerja sama.
"Iya tapi Nad--"
"BUKA NGGAK?" pekik Nadia mulai kehilangan kesabaran. Terlebih saat melihat bahu kanan Gibran yang tampak lebih menggembung dari bahu kirinya. Kenapa ia tidak menyadarinya tadi? Ah ya, seragam Gibran cukup tebal dan lagi ia sedang mode kesal beberapa waktu lalu.
Gibran mengerjap. Beneran disini? Tapi Pia? Gibran menoleh pada Navia dengan perasaan bersalah. Sumpah, Dek. Ini maunya Ibu. Ayah cuma mau nyenengin ibu aja. Ayah pria baik-baik kok.
"Om Gi!" Teriak Nadia mulai kesal Astaga, kenapa laki-laki ini?
Dimata Gibran, Nadia seperti tidak menganggap keberadaan Pia diantara mereka. Apa Nadia memang sudah sangat merindukannya ya? Ya Tuhan, istri kecilnya ini ternyata punya nafsu tinggi juga. Salahkan dirinya yang rajin sekali mengajarkan hal-hal 21+ pada gadis remaja ini. Bang Randi, Mbak Syakilla, maafkan saya sudah mengotori otak polos anak kalian.
"Saya pindahkan Pia dulu di boxnya." Ujar Gibran berusaha tenang.
Nadia melirik Pia sekilas lalu mengangguk. Helaan nafasnya memburu dengan tak sabaran.
Gibran menghembuskan nafas lega. Ia berjalan menuju box bayi tempat Pia tidur dan meletakkan bayi itu di dalam.
"Pia, tutup telinga ya Nak." Bisik Gibran sebelum kemudian mengecup pipi Navia dan meninggalkan bayi itu dengan perasaan bersalah. Mau bagaimana lagi kalau emaknya si bayi sedang on fire, tentu saja ia akan menyambutnya dengan suka cita. Akhirnya tidak perlu nunggu sebulan, Gi.
Gibran mendekat pada Nadia yang menunggu dengan tidak sabaran.
"Nad gimana ka--"
Buk!
Gibran terduduk diatas sofa karena tak siap dengan dorongan Nadia. Ia kelimpungan saat Nadia mencoba membuka baju kaosnya dengan tak sabaran.
"N-nad-- dikamar aja. Di-disini---"
"I-ini kenapa?"
"Hah?" Gibran kehilangan orientasinya. Nadia tiba-tiba menjauh dengan badan gemetar menatap ke bahu kanannya.
Bahu kanan?
Gibran terbelalak. Ia baru sadar kalau-- "Nad, ini gak apa-apa." ujar Gibran tercekat. Kenapa ia bisa lupa.
"O-om luka?" Tatapan Nadia mengembun. Lilitan kain kasa dibahu Gibran jelas bukan karena lelaki itu sedang berusaha menjadi mumi atau mau ajang keren-kerenan karena ringisan laki-laki itu kala ia kembali menyentuh bahu tegap itu sudah menjawab semua.
Nadia mundur perlahan lalu kemudian berlari meninggalkan Gibran yang tak kalah terperangahnya.
"Nad--"
***
Ibu Nadia yang nackaaal.