Little Persit

Little Persit
Para Lelaki



"Om!" Nadia tersenyum lebar menghampiri Gibran dengan plastik bening diisi air, di dalamnya ada dua ekor ikan kecil berwarna orange.


"Dapat dimana?" Gibran rambut lembab Nadia akibat keringat seharian bermain di luar rumah.


"Mbah yang ngasi, Om. Katanya buat kakak cantik." Dio menjawab cepat. Nadia tersenyum lebar, banyak sekali yang menyayanginya disini, sayang sekali ia harus pulang.


Gibran tersenyum tipis "Mau di bawa pulang?"


Nadia mengangguk "Ya dong, Om. Nanti Om beliin akuarium ya buat di asrama."


"Iya."


"Makasih Om."


Di depan mereka ada Elsa yang hanya bisa diam menyaksikan bagaimana sepasang pengantin muda itu saling menatap penuh cinta. Ada retak yang tak terdengar indra namun terasa sekali sakitnya. Elsa memalingkan pandangannya ketempat lain. Kenapa susah sekali melepas Gibran padahal dia tak lagi memiliki kesempatan diantara Bapak dan anak asuh itu. Elsa tersenyum sinis teringat bagaimana Gibran dulu sering menceritakan anak asuhnya yang ternyata ia jadikan istri. Benar-benar ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki yang dicintainya itu.


"Siang ini kita pulang." Ucap Gibran setelah lama memandangi Nadia yang asik bermain dengan ikannya.


"Om aja yang pulang."


Gibran mengelus pipi Nadia yang sekarang duduk melantai di depannya "Nad harus sekolah. Ujian sudah dekat."


"Ck. Belajar lagi." Gerutunya.


"Nad bersenang-senang disini?" Elsa menyela kedua pasangan di depannya.


"Hm." Gumam Nadia malas. Bagaimanapun Ia masih tetap menganggap Elsa sebagai orang yang paling mungkin memgambil Gibran dari sisinya. Masih ada cinta yang banyak dimata Elsa untuk Om Gibrannya, Nadia bisa lihat itu dengan jelas. Dan Nadia tidak akan pernah mengambil risiko untuk itu. Bodohnya dia karena melupakan fakta bahwa Elsa berada di kampung ini. Kalau tidak, kutub utara bisa jadi pilihan yang bagus untuk kabur sekalian berlibur.


"Nadia bisa sering-sering main kesini." Ujar Elsa tak putus asa. Setidaknya jika ada Nadia, kemungkinan untuk bertemu Gibran pun akan semakin sering. Separah itu perasaannya pada Gibran.


"Nanti Nad pikir-pikir." Kata Nadia tak mau ambil pusing terlalu banyak. Lagian ini bukan kampung Elsa, sesuka hatinya ia bisa datang tak perlu dapat ajakan dari Elsa. Insting perempuan memang sangat kuat.


"Dio, mama dimana Dek?" Tanya Gibran, ia bersiap untuk kembali ke kota karena ia harus masuk sore.


"Masih di warung, Om."


"Abang dan Nad sudah mau pulang?" Elsa berdiri dari kursinya. Perempuan berwajah lembut itu masih ingin melihat Gibran lebih lama.


"Iya, Dok. Saya ada dines malam." Gibran sudah mengganti jadwal dinasnya pagi tadi dengan salah rekannya. Ia tahu menjemput Nadia tidak akan semudah mengambil barang lalu pulang. Nadia perlu di jinakkan terlebih dulu, mengikuti semua keinginannya adalah cara yang paling ampuh.


"Nad, ambil barang-barang. Kita sekalian izin pulang sama mama Dio."


"Ikannya?" Nadia mengangkat plastik beningnya. Bahaya kalau di bawa dalam kantong plastik maka Gibran mengambil botol plastik dan menyimpan ikan itu disana. Nadia tersenyum senang, akhirnya ikan-ikan kecilnya bisa di bawa pulang.


***


"Kemarin lo kemana? Jeremi ampe demam saking takutnya ngadepin Om Gi. Kesian gue sama tu anak."


Nadia terkekeh "Si jer, cowok kok banci bangat. Om Gi paling nanya-nanya aja tuh." Nadia mengayunkan kakinya diatas teralis besi atap sekolah tak terlalu peduli dengan kekhawatiran Gendis. Di sampingnya Sandra dan aleksis asik menikmati jajanan dari kantin mewah sekolah.


"Ya kan lo tau gimana si jer. Gak pernah tuh di kerasin di rumahnya." Bela Sandra yang simpatik melihat wajah pucat Jeremi di cafe kemarin setelah bertemu dengan Gibran dan dua sahabat kekarnya.


"Ck biarin lah buat latihan mental." Aleksis tampak cuek menyendok es krim Lapis coklat favoritnya.


"Jeremi kasian tauk, tapi lebih kasihan lagi waktu gue liat mukanya Om Gi. Frustasi bangat gak nemu lo." Ujar Gendis menimpali.


Nadia terkekeh "Biarin. Keterlaluan sih." Seharusnya ia memasang kamera tersembunyi kemarin untuk melihat wajah Om gibrannya. Lagian istri digituin, gak ada aturan bangat. Kalau mau minta jatah bilang baik-baik dong, dia juga pasti dengan senang hati ngasinya. Hihihi.


"Eh, udah pada nemu guru les blum? Gimana kalau kita belajar bareng aja. Nyewanya sama-sama. Soalnya kalau gue sendiri bawaannya ngantuk." Sandra memberi Ide untuk kelancaran les tambahan mereka yang beberapa minggu belakangan ini gagal total. Semua guru les mengangkat bendera putih menghadapi cewek-cewek bar-bar itu.


"Boleh tuh. Gue juga gak sanggup belajar sama Om Gi. Gak konsen gue." Nadia terbahak dengan pengakuannya sendiri. Mau gimana lagi, dia sudah terlanjur merasakan gimana sentuhan Gibran jadi yah begitulah.


"Diiih otak kotor, dasar." Gendis menoyor kepala Nadia diikuti Aleksis dan Sandra.


Nadia mencibir "Makanya nikah. Lo bertiga gak tau sih rasanya di--mpppphhh"


"Diem!" Gendis membekap mulut Nadia kesal. Nadia mengangguk cepat.


"Tangan lo bau terasi kampreet! pueeh" Nadia mengelap mulutnya dengan tisu yang ada di depannya.


"Gue emang habis makan terasi." Ujar Gendis tanpa merasa berdosa.


"Si*lan ni anak." Nadia menjitak kepala Gendis Gemas.


"Eh, Tapi gue heran sama Lo, Nad. Kalau Om Gi lakuin hal kasar kek gitu kenapa lo mudah bangat maafin dia? Seenggaknya kasi pelajaran buat Om Gi supaya gak nyakitin lo lagi dan usaha kabur lo ada faedahnya. Jangan asal di elus kepala lo sama Om Gi langsung deh lo luluh gitu aja."


"Bener ucapan Sandra. Lo jangan gampangan gitu lah. Ngamuk seminggu atau minimal dua hari kek. Ini belum sejam udah luluh aja. Bucin lo parah. Malu-maluin genk." Aleksis menambahkan.


Di pinggiran teralis Nadia hanya tersenyum tipis. Omongan kedua sahabatnya memang benar, seharusnya ia memberi Gibran sedikit pelajaran agar tidak semena-mena lagi padanya tapi ia tidak akan pernah bisa melakukan itu.


"Lo bertiga pernah ngerasa pengen mati aja? Kayak dunia emang gak nyediain tempat buat lo?" Nadia menoleh pada ketiga temannya yang saling memandang bingung.


Nadia terkekeh pelan, "Gue pernah. Saat ayah dan bunda gue pergi untuk selamanya. Dunia gue runtuh. Saat itu anak seusia gue taunya cuma bergantung sama orangtuanya tapi gue, gue nggak punya siapa-siapa. Dan saat semuanya terasa gelap buat gue, Om Gi datang ngulurin tangannya. Meluk gue setiap kali hujan dan petir, Nenangin gue saat gue ketakutan, nguatin gue saat gue bahkan gak ingin hidup lagi." Nadia menatap jauh kearah lapangan. Kenangannya tentang masa lalu bermain di ingatannnya.


"Dia yang ngajarin gue make seragam. Dia yang ngajarin gue ngiket tali sepatu sampe masang pembalutpun dia yang ngajarin gue yang seharunya seorang nyokap yang ngajarin. Om Gi segalanya buat gue. " Nadia menunduk menyeka airmata yang meleleh di pipinya.


"Sorry." Sandra mendekat mendekap Nadia yang menangis sesunggukan. "Maafin kita yang udah salah nangkap sikap lo." Aleksis dan Gendis bergabung, menenangkan Nadia yang terisak.


Bagaimana mungkin ia bisa marah pada lelaki itu setelah semua kebaikan yang Gibran lakukan dalam hidupnya. Akibat nila setitik, rusak susu sebelanga. Istilah itu takkan pernah terjadi dalam hubungan mereka karena semua kebaikan Gibran tak akan pernah luntur dengan kesalahan-kesalahan kecil yang ia lakukan. Nadia tak akan membenci laki-laki itu hanya karena satu kesalahan sebab tujuh belas tahun hidup merasakan kasih sayang Gibran tak akan pernah ia gantikan dengan kemarahannya yang memang ia sendiri yang sebabkan. Kalau ia jadi anak baik, Gibran tak akan berlaku kasar padanya. Seperti itulah hukum berlaku diantara keduanya. Jadi bagaimanapun orang memandangnya, ia tidak akan peduli karena yang mengalami semua kesakitan dalam hidupnya cuma dia seorang dan Gibran, sebanyak apapun laki-laki itu menyakitinya, tetap yang paling menginginkan kebaikan seorang Nadia hanyalah Gibran.


.


.


"Ini tempatnya?" Tanya Nadia pada ketiga sahabatnya yang berdiri disisi kanan dan kirinya. Empat siswa SMA itu kini berdiri di depan sebuah gedung berlantai tiga yang semua dindingnya terbuat dari kaca sehingga memungkinkan aktifitas dalam ruangan terlihat dari luar.


"Keren ya?!" Aleksis mengeluarkan hp dari tasnya lalu mengambil foto selfi dirinya berlatarkan bangunan tersebut.


"Apaan sih selfi mulu." Protes Sandra yang merasa malu karena kini mereka menjadi pusat perhatian orang yang berseliweran keluar masuk gedung tersebut.


"Suka-suka gue. Hp gue, muka gue." Aleksis bersungut kesal.


"Tau nih. Di tempat umum juga." Tambah Gendis yang juga gedek melihat keributan-keributan kecil dua sahabatnya.


"Yuk!" Nadia menarik tangan Aleksis dan Sandra berikut Gendis yang mengekor di belakang.


"Permisi kak, bisa liat brosurnya nggak?" Tanya Nadia pada seorang resepsionis yang umurnya ditaksir tak jauh dari mereka.


"Ah, iya silahkan. Boleh nanya-nanya juga disini." Ujarnya ramah tipikal bagian penjualan dan promosi. Kakak resepsionis tersebut membagikan masing-masing satu brosur pada Nadia dan tiga sahabatnya.


Nadia, Aleksis, Sandra dan Gendis kemudian mencari tempat duduk nyaman untuk mempelajari isi brosur kelas tambahan tersebut.


"Muka ni orang kayak kenal tapi dimana ya?" Nadia memperhatikan dengan seksama foto kecil yang ada di sudut kanan brosur.


"Iya, ganteng bangat." ujar Sandra sembari mengagumi sosok di brosur.


"Gak nyambung lo!" Ucap Nadia kesal. Apa yang di omongin apa yang di bales. Dasar sih cabe-cabean.


"Emang ganteng kok." Timpal Gendis membuat Aleksis dan Nadia memutar bola mata malas. Yang waras yang sabar.


"Eeeh tapi ini orang bukannya yang di klub itu ya?" Aleksis berujar sembari memperhatikan betul-betul gambar tersebut. Nadia, Sandra dan Gendis lalu berebut mengambil brosur yang ada di tangan Aleksis membuat cewek berambut pirang itu menautkan kening heran. Kan brosurnya sama saja.


"Eh bener loh. Ini Om om club. Tuh mukanya, mesum bangat." Sandra menunjuk-nunjuk dengan kesal wajah yang terpampang di brosur.


Nadia menjauhkan tangan Sandra dan menelisik wajah itu. Ia langsung menghela nafas kasar saat tebakan mereka benar. Ini manusia mesum yang hampir mencelakainya. Mamp*s saja orang kek gini masuk dunia pendidikan, pantas banyak kasus sodomi di sekolah. Ckckck.


"Pulang yuk! Gak benar ini tempat." Nadia mencamplok tasnya hendak pergi dari tempat itu sebelum kemudian kakinya membeku mendapati laki-laki yang baru mereka bahas berdiri di depannya dengan smirk menyebalkan.


"Halo Nadia!" Sapanya melambaikan tangan sok akrab.


Nadia memutar bola mata "Gengs, balik sekarang!" Tak memperdulikan sapaan manis laki-laki di depannya, Nadia menyeret tangan sahabat-sahabatnya pergi begitu saja.


"NAD--"


"CK BURU!!!" Nadia terus saja berjalan tak menghiraukan suara-suara di belakangnya.


"NADIA!!!"


"AP-- ASTAGFIRULLAH NGAPAIN LO NGIKUTIN GUE??" Suara pekikan Nadia menggema di seluruh ruangan mengundang semua mata memandang padanya dan seorang laki-laki dewasa yang sedang memamerkan senyum manisnya.


"Nadia yang megang--"


"Dih NAJIS!!!" segera di lepas tangan laki-laki yang sejak tadi di pikirnya adalah tangan salah satu sahabatnya. Dari kejauhan Aleksis, Gendis dan Sandra berlari kecil menyusulnya.


"Nad ngapain sih?" Sandra memegang tangan Nadia, membawa sahabat mereka itu menjauh dari sumber masalah.


Nadia bergegas membuka tasnya mengeluarkan handsanitizer yang selalu ia bawa-bawa dan menyemprotnya di tangan. Kuman kuman kuman. Batinnya bergidik ngeri. Sementera di depannya laki-laki dewasa yang tak lain adalah Lionel hanya mengulas senyum tipis yang menawan.


"Ngapain lo senyam senyum gitu? Lo kira bagus?" Semprot Nadia yang semakin kesal mengingat kekhilafannya. Ngapain dia seret-seret orang mesum, hih.


"Saya senang ketemu Nadia lagi."


"GUE NGGAK!!!" balas Nadia cepat. Ingin rasanya memukul kepala laki-laki di depannya jika saja badannya tidak menjulang seperti tiang listrik. Bukannya tersinggung, Lionel malah tertawa renyah.


"Lucu. Pengen bangat kupelihara."


"SET*N!!!" Nadia berbalik meninggalkan gedung tersebut dan manusia laknat yang masih betah memamerkan senyumnya. Ia bahkan lupa keberadaan tiga sahabatnya yang masih ada disana.


"Markas angkatan udara, mas." Nadia duduk dalam taksi yang kebetulan sekali baru saja menurunkan penumpang. Ia tak berhenti menyumpahi laki-laki yang baru saja menghancurkan mood niat belajarnya.


"Baik, mbak."


Nadia mengurut dada kesal. Di hempaskan punggungnya di sandaran kursi taksi lalu mengeluarkan hp untuk mengirim pesan pada sahabat-sahabatnya. Untung saja dia belum sempat mendaftarkan diri, kalau tidak, apa kabar hidupnya harus bertemu dengan orang mesum itu setiap hari. Setelah mengirimi pesan dalam grup The Girls, ia lalu mengirim pesan singkat pada Gibran.


To. Om Gi.


Otw.


Nadia baru akan memasukan hp dalam tasnya sebelum kemudian sebuah balasan masuk.


From Om Gi


Otw ke?


Nadia mengulum senyum tipis. Otak jahilnya bekerja dengan cepat.


To Om Gi


ke ❤ mu


Nadia terkikik geli membaca ulang balasannya. Gibran pasti kesal melihat balasannya tapi gimana dong, dia suka sekali mengerjai si kanebo kering.


From Om Gi


😑


To Om Gi


😘


Tidak lama kemudian, taksi berhenti tidak jauh dari gerbang kantor Gibran. Sampai sekarang Nadia tidak mengerti kenapa tidak ada angkutan umum atau taksi online yang berhenti di depan kantor tentara tapi yang pasti sejak tau kantor militer, Nadia belum pernah sekalipun melihat ada kendaraan umum yang berhenti di tempat-tempat sejenis itu.


"Makasih, Pak." Nadia turun dari taksi setelah membayar ongkosnya yang ternyata lebih mahal dari ongkos taksi online.


Mata Nadia memincing tatkala dari jauh melihat punggung lebar yang tak di lapisi oleh apapun sedang berdiri di tengah lapangan di hadapan para laki-laki berotot yang juga hanya mengenakan seragam loreng. Apa-apaan ini? Mata Nadia membelalak setelah melihat lebih jelas laki-laki berpunggung lebar, berotot dan berkeringat itu adalah milik Om Gibrannya yang di sekelilingnya ternyata banyak tentara wanita. Nadia mempercepat langkahnya, berlari melewati pos penjagaan begitu saja.


"OM GIIIIIIII!!!"


***