Little Persit

Little Persit
Badai Tak Terduga



"Nad, saya pulangnya terlambat." Gibran muncul dari ruang tengah sembari mengenakan jam tangannya.


Nadia yang sedang mengepang rambutnya menoleh cepat, "Yah, kok gitu sih Om. Kan udah janji mau ngajarin Nad masak."


"Om lupa harus ngecek gudang hari ini. Mau buat pelaporan." Gibran menyentuh bahu Nadia, mengusapnya lembut.


Nadia manyun. Padahal ia sudah mempersiapka diri untuk hari ini. Kemarin masakannya mendapat nilai lima dari Gibran. "Udah janji loh. Nanti jadi utang. Gak enak tau berutang sama Gaudia. Ditagih terus."


Gibran mengangguk, "Iya, Nadia. Nanti dilunasin utangnya. Itu air rendaman cuciannya di tumpah ya nanti bau."


"Tumpah doang? Nad jemur ya?"


Gibran berpikir sejenak. Melihat kondisi Nadia sekarang ia sedikit khawatir membiarkan istrinya itu beraktifitas.


"Nad hati-hati kok. Tenang aja."


"Yakin bisa?" Tanya Gibran sanksi.


Nadia menggangguk cepat, "Om bisa ngandelin Nad." Nadia menepuk dadanya jumawa.


Setelah menimang sebentar, akhirnya Giban mengangguk, "Oke tapi hati-hati."


"Siap, Kapten." Nadia mengangkat tangannya ala militer. "Salim dulu." Nadia mengulurkan tangannya meminta tangan Gibran untuk ia salami "Assalamualaikum selamat bekerja Kapten."


"Waalaikusalam. Um, jaga diri di rumah."


Nadia mengangguk. Ia mengikuti langkah Gibran ke depan, mengantar suaminya di depan pintu.


"Kunci pintunya kalau Nad mau tidur atau keluar. Kalau mau main ke distrik, ajak anak-anak jangan Robi atau Lucas." Pesan Gibran sebelum meninggalkan rumah. Nadia mengangguk.


"Om udah ngomong itu banyak kali. Nad udah hafal."


Gibran menarik kepala Nadia dan mengecup kening gadis itu seperti kebiasaannya "Gak usah di hafal. Cukup pahami." diusapnya rambut Nadia lembut.


Nadia mengangguk, "Siap, Kapten. Udah, silahkan kapten jalan. Nanti terlambat." ujar Nadia mendorong pelan punggung Gibran.


"Mm. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati." Nadia melambaikan tangan hingga Gibran hilang dari pandangannya. Sepeninggal suaminya, Nadia masuk kedalam rumah untuk melanjutkan aktifitasnya. Sebelum melaksanakan list pertamanya untuk membilas cucian, Nadia menyempatkan mengisi ulang baterai hpnya. Dengan kondisi listrik yang lebih sering padam dari pada menyala, Nadia harus rajin-rajin mencash hpnya.


Tok tok tok...


"Selamat pagi, Ibu Gibran." Nadia melirik kearah pintu. Dari suaranya itu sudah pasti Bu katarina. Nadia bergegas membuka pintu tidak ingin membuat tamunya menunggu lama.


"Selamat Pagi, Bu katty." Nadia tersenyum lebar pada tetangga lima langkahnya itu. "Kok pagi bangat, Bu? Tumben." Nadia menyidik penampilan Bu Katarina yang sudah sangat rapi dengan setelannya.


"Ibu Margareth sakit. Dia pu kaki tidak bisa digerakan. Pelee sa kasian yai. Ibu ikut sudah. Kita ada rame ini."


Bu Margareth? Nadia belum pernah melihat ibu itu sebelumnya hanya sempat mendengar kabarnya yang sering sakit-sakitan.


"Tapi saya belum siap-siap, Bu. Gak apa-apa di tungguin?"


"Ck. Ibu su cantik. Tra perlu lagi ganti-ganti. Begini sudah." Ujar Bu Katarina.


Nadia menilik penampilannya, dress putih polos tepat dibawah lutut. Sepertinya cukup sopan dipakai keluar rumah. "Tunggu sebentar ya Bu. Saya ambil sweater dulu."


"Ambil sudah."


Nadia bergegas masuk kembali dalam rumah dan mengambil sweater kebesaran milik Gibran. Wangi seperti Om Gi. Batin Nadia tersenyum sembari mengenakan sweater tersebut.


"Ayo, Bu." Nadia membawa rambut yang di kepang melewati bahu membuat dia tampak seperti gadis desa yang lugu. Tak lupa ia menutup pintu seperti pesan Omnya


.


.


.


"Ini bu Gibran ya? Cantik loh. Masih muda." Ibu Margareth berujar ramah diatas kursi rodanya.


"Iya, Bu. Maaf baru datang jenguk." Ucap Nadia mengulas senyum tipis. Ia meletakkan bingkisan yang ia bawa diatas meja. Ia membeli dijalan saat dalam perjalanan menuju rumah bu Margareth. "Sedikit dari saya, Bu. Maaf tadi gak tau mau bawa apa jadinya ini yang saya bawa." Ujar Nadia tak enak. Seharusnya ia bisa membawa sesuatu yang lebih spesial lagi tapi karena keterbatasan barang jadi ia membawa apa yang ada saja.


Saat Nadia merasa tak enak dengan buah tangan yang menurutnya tak seberapa, ibu-ibu di ruang tamu kecil itu saling melirik dan melepas senyum canggung. Sedikit menurut Nadia adalah sangat banyak dimata mereka. Bagaimana mungkin satu paket panci mahal yang biasanya di kadokan untuk sebuah acara pernikahan seharga lima ratusan ribu itu dibilang sedikit oleh persit kecil ini. Biasanya mereka harus menyicil atau arisan untuk mendapatkan barang sejenis itu. Bahkan tadi Nadia sampai mau membeli kulkas untuk Bu Margareth, katanya untuk menyimpan makanan supaya tahan lama tapi di cegah Bu Katarina mengingat dialah yang harus mengangkut barang tersebut. Orang kaya yang dermawan.


"Ini udah banyak bangat loh, Bu. Jadi repot-repot. Eh, ini saya panggilnya Ibu atau apa ya? Seumuran anak soalnya." Bu Margareth terkekeh dengan ucapannya sendiri. Ibu Persit asal Malang itu memang yang paling senior diantara mereka semua makanya ia cukup disegani dikalangan anggota persit lainnya belum lagi kebaikan hatinya yang membuat Ibu-ibu menyanyanginya meskipun masih ada juga beberapa yang nyinyir di belakang mengenai kehidupan rumah tangga mereka terutama tentang perbedaan usia Bu Margareth dengan suaminya yang lebih muda sepuluh tahun. Padahal cinta mana pernah memandang umur, seperti Nadia dan Gibran misalnya.


Nadia tersenyum kecil, "Senyamannya Ibu saja."


"Ck panggil ibu dong, Bu Margareth. Biarpun usianya masih muda tetap saja sudah menikah. Cuman ya saya herannya Ibu Gibran ini kenapa buru-buru menikah padahal masih cantik, sekolah belum selesai apalagi uang juga banyak, malah hamil lagi sekarang. Saya jadi kasihan sama Pak Gibran, pasti akan repot mengurus dua anak kecil sekaligus. Eh, jangan tersinggung loh Bu Gibran, saya hanya prihatin gitu loh." Sabrina berujar sok manis.


Prihatin? Duh, ada juga gue yang prihatin dengan jiwa lo yang sakit. Dumel Nadia dalam hati. Niatnya sudah diluruskan tadi, hati juga sudah di setel sabar tapi memang tetangganya yang satu ini ada saja bahasanya yang bikin orang naik darah.


"Iya, Ya, Bu. Masih muda, kandungannya tidak ada ji masalah?" Bu Tania yang sedang mengunyah bolu sarang semut menambahkan. Umur muda Nadia jelas menjadi perhatian bagi seorang lulusan kesehatan sepertinya.


Nadia menggeleng, "Alhamdulillah aman aja." Ucapnya yang sebenarnya paling malas kalau sudah diungkit masalah pribadinya.


"Tapi Bu, baiknya kehamilan ditunda dulu lah. Kalau begitu kan repot." Sabrina masih melanjutkan nyinyirannya.


Situ yang repot. Repot di hati. Jawab Nadia dalam hati.


"Pelee Tuhan su kasih harus disyukuri. Iya toh Ibu Gibran?" Bu Katarina yang duduk samping kanan Nadia tak tahan juga lama-lama mendengat nyinyiran Sabrina soal Nadia apalagi soal wewenang Tuhan yang dipertanyakan oleh seorang hamba.


"Iya, Bu." Angguk Nadia tak terlalu mengambil pusing omongan Sabrina. Kebiasaan manusia yang suka iri dengan rejeki orang memang begitu. Mau diapain juga tetap saja tidak senang melihat orang lain bahagia.


Bu Margareth tersenyum lembut "Puji Tuhan. Saya ikut senang mendengar kebahagiaan Ibu dan bapak. Jadi, Ibu su menetap disini toh?"


"Ibu Gibran sepertinya tidak betah disini, Bu. maklumlah kampung, mana bisa dibandingin dengan ibu kota." Sabrina melirik Nadia dengan senyum mencemooh yang menyebalkan.


Nadia yang dari tadi diuji kesabarannya mengatupkan rahang. Bu Guntur dengan sok tahunya menimpali, memberikan jawaban yang membuat Nadia ingin sekali menimpuk kepala ibu satu itu dengan panci yang tak jauh darinya agat otaknya bisa di servis seluruhnya. Tetangga rese, dasar.


"Tidak apa-apa, Bu Guntur. Bu Gibran na urus ji sekolahnya." Timpal Bu Tania cepat. Ia yang merupakan seorang lulusan perawat sangat senang jika memiliki teman bicara orang berpendidikan. Selama ini ia hanya bergaul dengan Sabrina seorang lulusan SMA yang mungkin kebanyak dandan di sekolah akhirnya asal lulus saja tanpa membawa ilmu sedikit pun di dunia luar.


"Itu sudah. Sekolah penting yo. Ibu Guntur stop sudah bicara begitu."


"Lagian Bu Gibran pasti dapat izin langsung dari Bu Ketua. Ya kan Bu?" Sambung Bu Margareth lagi.


Nadia yang mendapat pembelaan dari teman-teman persit lainnya tersenyum mengangguki. Dalam hati menyoraki Sabrina yang kini menunjukkan wajah masamnya.


"Enak dong Bu Gibran bisa keluar terus. Sedangkan kita harus terus di asrama. Ini kan ibu ketua pilih kasih namanya."


"Peleeee Ibu Guntur kuliah sudah. Nanti izin juga sama Ibu Ketua. Pu repot apa eee." Bu Katarina berujar sewot. Dari tadi sepertinya bukan hanya Nadia yang terusik dengan omongan Bu Guntur melainkan ibu-ibu lain juga yang selalu dapat nyinyiran dari tetangga mereka yang satu ini.


"Memangnya kita masih bisa kuliah Bu? Ku kira lewat mi ki umur ta." Ibu dari makasar menimpali membuat Bu Guntur makin manyun. Bukannya mendapat sekutu dari Ibu-ibu lain yang notabenenya sudah lama mengenalnya, Sabrina malah diserang dari berbagai penjuru.


Sementara Nadia tak berkomentar banyak. Ia sudah belajar dari kesalahan sebelumnya kalau omongan Sabrina dibalas, orangnya makin semangat mengeluarkan kata-kata jahatnya.


"Sudah, kita kan disini mau jenguk ibu Margareth toh? Kenapa malah ribut." Bu Tejo sebagai tim netral menengahi. Biar bagaimanapun Sabrina adalah teman sepergaulannya dalam mengomentari para tetangga jika mereka hanya berdua saja jadi ia harus menjaga agar posisinya tetap netral.


Sedangkan bagi Nadia, ia tidak terlalu peduli kubu yang terbentuk diantara para tetangga selama bukan kehidupannya yang diusik.


***


"Kamu yakin tidak ada yang masuk gudang?"


"Siap yakin, Kapten." Tentara muda di depan Gibran tampak pucat pasi dengan keringat mengalir di pelipisnya.


Gibran mengusap dagunya gusar. Ia baru saja menerima kabar dari tentara di depannya mengenai hilangnya beberapa butir peluru jenis 5.50 NATO di gudang persenjataan yang dijaga ketat oleh dua orang tentara yang piket.


"Mana teman jaga kamu?"


"Siap izin ke kamar mandi, Kapten."


"Panggil!"


"Siap, Laksanakan."


Gibran beranjak dari kursinya lalu berjalan menuju gudang dimana peluru-peluru itu disimpan. Dari jarak ruangan dan gudang tidak terlalu jauh, hanya berjalan melewati beberapa kantor staf lainnya dan ruangan serba tertutup itu bisa langsung dilihat. Biasanya akan ada dua orang yang berjaga di depan pintu gudang seperti kali ini.


"Hormat, kapten!"


"Ya. Buka pintunya."


Salah satu prajurit membuka gembok yang cukup besar itu. Setelah berhasil, Girban masuk ke dalam ruangan besar yang di penuhi dengan perlengkapan perang termasuk berbagai jenis senjata dengan ukuran bervariasi dan peluru berbagai jenis yang memang disiapkan demi ketahanan negara.


Gibran menuju tempat dimana peluru itu di letakkan. Ada tiga butir peluru yang hilang dengan jenis yang sama. Kehilangan beberapa bahkan sebutir peluru saja merupakan kelalaian yang besar bagi setiap penjaga tak terkecuali Gibran sebagai penanggungjawab perawatan gudang. Jelas saja kredibilitasnya sebagai seorang prajurit akan di pertanyakan. Tapi bukan itu yang Gibran pikirkan, Sebab yang penting dari masalah ini adalah kekhawatiran adanya penyusup dari luar. Belum lagi peluru tersebut bisa jadi di pakai untuk melakukan upaya kejahatan di luar sana. Helaan nafas Gibran terdengar berat di ruangan yang dipenuhi dengan persediaan senjata itu.


Siapa yang ambil?


Gibran berkeliling dalam gudang, mengecek adakah yang hilang selain tiga peluru yang di laporkan. Seharusnya bukan hanya peluru yang hilang jika memang si penyusup berniat mencuri-- tapi tiga peluru? Untuk apa? Setelah memastikan tidak ada lagi yang kurang, Gibran memutuskan keluar dari tempat itu. Saat akan keluar dari gudang, netra kelam Gibran menangkap sebuah benda asing yang tak seharusnya ada di ruangan itu. Gibran mengambil benda tersebut menggunakan sapu tangan miliknya dan membungkusnya dalam sebuah kantong plastik yang ia dapatkan di ruangan itu. Gibran cepat-cepat menyimpan benda tersebut dalam kantong celanannya saat mendengar langkah kaki bersahutan mendekat. Dua orang yang bertugas saat kejadian menghampiri Gibran.


"Ikut ke ruangan!" Gibran berlalu dari tempat itu untuk kembali ke ruangan diikuti oleh dua orang tentara yang wajah keduanya sudah seperti lembaran kertas, putih pucat.


"Kalian meninggalkan gudang tanpa penjagaan?" Tanya Gibran dengan suara berat.


Dua orang tentara itu menggeleng, "Siap, tidak, kapten."


"Coba ingat baik-baik. Masalah ini tidak akan selesai jika kalian menutupi kebenaran dari saya."


Kedua tentara di depan Gibran saling melirik.


"JAWAB!!!"


BRUK!!!


"Siap salah kapten."


Kedua tangan Gibran yang memukul meja bertumpu disana. Matanya gelap, tak berkedip menatap satu persatu dua prajurit muda di depannya.


"SALAH APA? KATAKAN!!!"


"Siap salah kapten. Bapak Bendahara meminta tolong membeli nota di depan." Ujar salah satu tentara yang tadi memanggil rekannya di kamar mandi.


"KAMU???" Tunjuk Gibran pada seorangnya lagi.


"Siap salah kapten. Saya kebelakang. Perut sakit sejak semalam." Akunya dengan tangan keringat dingin.


"JADI KALIAN MELALAIKAN TUGAS?"


"SIAP SALAH!"


"Dua puluh putaran. SEKARANG!"


"SIAP LAKSANAKAN!"


Gibran menggenggan benda yang ditemukannya tadi dibalik kantong celananya. Entah apa motif pelaku melakukan ini? Tapi apapun itu, Gibran butuh menyelidiki ini dengan hati-hati untuk mengungkap apa sebenarnya terjadi karena semua ini pasti akan menyangkut nama baik seseorang.


***