
Nadia membuka matanya pelan saat sinar matahari dari jendela kamarnya menyorot masuk melewati gorden. Wangi bedak bayi menguar menariknya untuk mengendus mencari sumber wangi bunga itu. Nadia tersenyum lebar masih melihat punggung tegap membelakanginya. My best sandaran ever. Ia memeluk punggung itu menghirup wangi segar bercampur wangi bayi yang menyenangkan di indranya. My favorite.
"Selamat pagi."
Suara berat itu makin melebarkan senyum bodoh Nadia. Nikmat bangat nggak sih pagi-pagi udah disuguhin punggung sandarable gini?! Nikmat Nad, Nikmat. Nadia mengeratkan pelukannya
"Capeeee" keluhnya manja sembari mendusel-dusel punggung kokoh itu dengan hidungnya, "Wangi bangat sih sayang." Ia menyembunyikan wajahnya di punggung Gibran.
"Bubububu... "
Nadia yang sedang menikmati wangi segar Gibran sontak matanya terbuka mendengar bayi mengomel. Senyumnya melebar, "Ampun deh, udah ada aja yang monopoli kesayanganku."
Gibran tersenyum tipis, "Ibu bangun terlambat ya Dek. Pemalas."
"Salah siapa?"
"Bubububu"
Nadia merengut tak terima, "Enak aja. Salah ayah tau." Nadia menyusup dibawah ketiak Gibran dan melihat langsung kecekatan sang suami mengurus bayi gembulnya yang baru selesai mandi. "Jangan belain ayah ya mentang-mentang dimandiin. Ibu nih udah ngasi susu tiap hari." Godanya pada sang putri yang berceloteh senang berusaha meraih ayahnya. Ciri-ciri posesif akut. Bakal saingan berat Nadia dikemudian hari.
Nadia memeluk perut Gibran dan berujar posesif "Ini Om Aku." pamernya pada Navia yang hanya bisa menggerakkan kedua tangan dan kakinya hendak meraih rambut terurai sang ibu. "Mau jambak maksudnya?!"Nadia tertawa puas, "Gak bisaaa weeek" Godanya semakin menjadi-jadi. Piapun tak mau kalah menggenggam tangan ayahnya dengan posesif.
"Yayayaaaa"
"No. Ini Omnya Ibu."
"Yayayaa"
"Punya Ibu."
Gibran hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Nadia yang berebut kasih sayang dengan anaknya sendiri. Benar-benar gadis ajaibnya ini.
"Yayayaa" Pia bergerak makin lincah mengundang gelak tawa Nadia dan senyum cerah Gibran.
"Piaaaa liat Ibu!" Nadia mengecup rahang Gibran bertubi-tubi sengaja menggoda bayi gembulnya yang mulai mengamuk, "Punya Ibuuuu" Nadia memeletkan lidahnya yang sontak saja memecah tangisan Navia.
Gibran menghela nafas keras, menatap Nadia penuh tuduhan.
Nadia memelet, "Emang punya aku kok." Ujarnya lalu menyengir lebar.
Gibran mengacak rambut istrinya, "Nakal." Ia mengangkat Pia dan menepuk-nepuk punggungnya, "Tidak sayang. Ini ayahnya pia." hiburnya pada sang buah hati sontak saja menghentikan tangisan bayi gembul itu.
"Yayayaaayaaaa"
"Iya, anak ayah." Ulang Gibran mencium wajah Navia. Sementara Nadia tiba-tiba saja merasa seperti remah-remah rengginan. Orang ketiga ya Nad?! Namun tak ayal senyum bahagia mengembang di wajahnya. Pemandangan ini yang selalu ia rindukan saat jauh dari rumah, melihat Gibran dan Navia begitu manis.
"Anak Ibu juga." Ucap Nadia memeluk keduanya dengan lengan-lengan rampingnya.
Cup.
"Gadis nakal." Balas Gibran, melabuhkan kecupan sayang dikening sang istri. Kalau sudah begini, rasanya Nadia mau di kamar saja sepanjang hari menghabiskan waktu bersama dua malaikatnya.
.
.
Tidak ada yang Nadia lebih sukai dari aroma roti di pagi hari dan wangi segar sang suami. Si Om kesayangannya itu seperti biasa di waktu senggangnya di habiskan untuk mengurus dirinya dan Navia. Kebiasaan itu seperti sudah mendarah daging, sulit untuk ditinggalkan. Merawat Nadia seperti sudah menjadi rutinitasnya.
Gibran menatap Nadia dengan kening terangkat satu saat mendapati istrinya itu masih dengan wajah ngantuknya duduk diatas pantri menontonnya menyiapkan sarapan. Hari ini mereka meluaskan Bibik, Mbak dan Mang untuk menikmati liburan. Ketiganya diberi waktu seminggu berlibur bersama keluarga di villa milik Nadia yang ada di daerah anyer.
"Cuci muka." Perintah Gibran, meletakkan dua roti bakar lapis disamping Nadia.
Nadia menggeleng, kedua tangannya terulur hendak memeluk Gibran namun laki-laki itu dengan sigap menghindar. "Cuci muka." Ulangnya.
"Gendong." Rengek Nadia manja sembari mengulurkan tangan.
Gibran menggelengkan kepala, sudah menjadi ibu tapi manjanya Nadia bukannya turun level malah makin meningkat. Untung sayang.
"Pia mana?" Tanya Gibran. Helaan nafasnya lolos begitu saja melihat penampilan sang istri yang hanya mengenakan kemejanya yang hanya dikancing satu hingga menampakan dadanya yang tak sebisul dulu. Tangan Gibran bergerak pasti mengancingkan baju istrinya itu sementara pemilik dada itu hanya memperhatikan dengan wajah tak berdosanya. Pagi-pagi sudah menggoda iman saja.
"Pia nonton, Nad laper." lapornya menatap Gibran dengan puppy eyes. Tangannya terkulai dikedua sisi badannya.
"Cuci muka dulu lalu sarapan." Gibran menyelipkan anak rambut Nadia dibelakang telingannya, menatap jelas wajah mulus yang selalu mampu menggodanya itu.
"Malas gerak. Nad lemes." Adunya sembari menyandarkan kepala di dada Gibran yang berdiri diantara kedua kakinya.
"Cape bangat ya?" Tanya Gibran sedikit merasa bersalah karena semalam menggempur gadis kecilnya ini habis-habisan. Nadia menggeleng.
"Gak capek bangat cuma lagi pengen males aja." Aku Nadia menyengir mendengar dengusan samar sang suami.
"Yakin bisa ngurusin Pia sendiri? Nad bolos aja gimana?" Tanya Nadia tak yakin meninggalkan Pia dan Gibran berdua, "Pia gak gampang loh Om." tambahnya mengingatkan.
Gibran mengapit ketiak Nadia, mengangkatnya seperti anak kecil, "Saya sudah pernah mengurus yang lebih sulit." jawabnya sembari mendudukan Nadia di kursi makan, "Sudah terlatih." lanjutnya mencolek hidung Nadia yang paham betul siapa yang ia maksud.
"Nad anteng kok." Nadia membela diri.
"Iya, anteng sampe pengasuh kamu milih resign semua." Sindir Gibran sambil lalu.
Nadia manyun tapi kemudian langsung tersenyum lebar saat Gibran meletakkan roti bakar di depannya, tak lupa segelas susu pisang. "Thank you sayang."
"Um."
Cup.
Nadia kembali duduk setelah mengecup ringan pipi Gibran. Lelaki itu mengacak rambutnya lembut sambil lalu.
Nadia menyantap sarapannya dengan hati ceria. Rasa coklat yang menyatu dalam lapisan roti membuat paginya makin nikmat, belum lagi segelas susu pisang disetiap tegukannya seperti cinta yang sangat manis. Alhamdulillah, terima kasih Tuhan untuk semua ini. Nadia merasakan hatinya menghangat. Tuhan tak benar-benar meninggalkannya seorang diri. Setelah semua kehilangan yang ia alami, Tuhan menggantinya dengan hal yang tak kalah luar biasanya.
"Makannya jangan sambil melamun." Tegur Gibran datang bersama Pia dalam gendongannya.
Nadia menyengir, "Nad lagi bersyukur Om bukan melamun." seteguk terakhir susu pisang mengakhiri sarapannya.
"Kalau bersyukur sholatnya harus tepat waktu terutama subuh, banyak kecolongan kamu." Gibran mengingatkan. Nadia memang paling susah bangun subuh, setelah sholatpun akan kembali tidur kalau lolos dari pengawasan Gibran.
"Siap Kapten." Ucap Nadia mengangkat tangannya seperti seorang prajurit. Gadis kecilnya Gibran ini memang tak pernah lupa punya sosok Kapten dalam rumahnya. "Nad mandi dulu. Dah, Pia." Ia beranjak dari kursinya menciup pipi Pia yang duduk anteng dalam gendongan sang suami, lalu "Morning kiss." Ia mencuri kecupan di bibir Gibran dan melarikan diri sebelum Gibran memulai ceramahnya.
***
Gibran memarkirkan mobilnya di depan sebuah pusat perbelanjaan yang tak jauh dari kampus sang istri. Setelah drama berkepanjangan Nadia diatas mobil akhirnya istrinya yang sedikit bandel itu mau masuk kuliah dengan syarat Gibran harus mengajaknya jalan sepuasnya saat weekend nanti.
Gibran menoleh ke belakang melihat sang putri yang duduk anteng di kursinya, "Main atau belanja?" Tanya yang dijawab tawa lucu oleh buah hatinya, "Ngopi? Ok, ngopi." Gibran keluar dari mobil lalu membuka pintu belakang mengeluarkan Pia dari dalam mobil. Bayinya itu tampak menggemaskan dengan rambut ikalnya yang di urai begitu saja.
"Let's go, baby girl."
Ayah dan anak itu masuk kedalam dan langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang menatapnya penuh rasa kagum dan iri. Beberapa ibu-ibu dan bahkan para wanita muda dan remaja perempuan terang-terangan melirik pada Gibran dan Navia seolah kedua orang itu adalah selebritis yang kesasar di mall. Gibran berjalan menuju sebuah cafe diikuti tatapan memuja kaum hawa yang mungkin tengah membayangkan menjadi istri dari lelaki berwajah dingin itu. Seorang lelaki keren sedang menggendong anak perempuannya, betapa idaman para kaum hawa untuk memiliki lelaki semacam itu. Siapapun istri orang ini, pasti menggenggam dunia dalam tangannya.
Gibran mengambil tempat duduk yang berada di pojokan. Ia sengaja agar melindungi Pia dari tatapan orang-orang. Tidak bisa dihindari ketertarikan orang pada gadis kecilnya yang mungkin saja akan menjadi penyakit mata yang membahayakan keselamatan Navia.
"Permisi, Pak, ini daftar menunya."
"Oh ya." Gibran memilih-milih menu sedangkn pelayan di depannya menahan senyumnya agar tidak berteriak berada di dekat lelaki langka itu. Melihat seorang bapak yang telaten mengurus anak adalah hal yang tak biasa. Belum lagi bapaknya sangat tampan, benar-benar menjadi sumber kehaluan para wanita yang hanya bisa menghayalkan memiliki lelaki seperti Gibran.
"Latte dan cinnamon rollnya, mbak."
"Itu saja?"
"Ya." Gibran menyerahkan buku menunya pada pelayan tersebut.
Gibran menoleh pada Pia lalu tersenyum, "Tidak, terima kasih."
Pelayan itu mengangguk lalu undur diri. Tak lupa menyempatkan melirik sekali lagi makhluk terbaik ciptaan Tuhan yang mampir di cafe mereka. Benar-benar ayah idaman.
Sepeninggal pelayan itu Gibran mengambil salah satu buku di bawah meja yang memang sengaja di sediakan untuk para pengunjung cafe. Ia mengambil buku cerita bergambar yang dikhususkan anak-anak.
"Mau dengar cerita?" Tanyanya pada sang putri yang sejak tadi hanya memandangi ayahnya, terpesona.
"Yayayaaaa"
"Iya, ayah bacakan untuk Pia." Gibran mengangkat Navia dan mendudukannya diatas paha. Ia membuka buku tersebut dan mulai membaca untuk sang anak.
Tak lama pelayan tadi datang membawa pesanan Gibran.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Pak. Ada lagi yang bapak butuhkan?" Tanya pelannya itu harap-harap mau. Butuh Ibu dari anak bapak mungkin? Eh.
"Tidak, Mbak. Terima kasih." Tolak Gibran sopan.
"Kami punya menu andalan pasti bapak suka." Pelayan itu belum menyerah.
Gibran menggeleng, "Terima kasih, Mbak. Ini saja."
"Atau bapak mau coba banana cake, in--"
Gibran mulai jengah, "Tidak, mbak. Terima kasih." Ujarnya masih berusaha sabar.
Mbak pelayan itu langsung muram. Tak ada celah untuk menggaet si bapak tampan rupanya. Pasti istrinya galak.
"Putri bapak lucu, jadi pengen peluk bapaknya."
BYUUUUUURRRR
Semua mata menoleh pada sumber kegaduhan. Gibran buru-buru mengambil tissue membersihkan mulutnya yang baru saja menyemprotkan minum yang diteguknya di wajah pelayan itu.
"Maaf, Mbak." Ujarnya menyesal meski diucapkan dengan nada datar.
Pelayan itu meringis, menahan malu juga kekesalan karena wajah cantiknya di semprot dengan kopi, "Tidak apa-apa, Pak. Saya permisi." Pelayan itu buru-buru undur diri sementara Gibran menatap datar punggung wanita itu. Mulut di jaga! Belum ketemu pawangnya sih. Habis lah kalau Nadia ada disana dan mendengar omongan pelayan itu, meskipun candaan tapi tetap saja tidak akan suka. Paling-paling cinnamon rollnya yang melayang kewajah pelayan itu, lebih parah lagi cafe ini bisa ditutup.
"Bububuuuu"
"Shhhhhht, jangan bilang-bilang Ibu." Diusapnya rambut sang putri lalu keduanya melanjutkan menikmati waktu berdua mereka.
***
Dikampus Nadia baru saja memfotokopi materi dari dosen di koperasi. Beberapa orang meliriknya lalu saling berbisik. Apalagi kalau bukan membicarakan dirinya dan suami kecenya serta Orion yang memutuskan kekasihnya hanya untuk seorang wanita beristri. Manusia-manusia melelahkan. Nadia mengedikkan bahu tak peduli melewati tiga orang mahasiswi yang menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Suaminya keren bangat. Gue udah liat. Gila sih, cewek b*go gini dipilih."
"Biasalah, hartanya kan banyak. Laki-laki itu pasti morotin doang. Gak ada yang tau kan dia punya sugar baby diluar sana. Tampang kece gitu sekali kedip juga langsung ada.
Gue juga gak bakal nolak diajakin mojok."
"Si*lan lo.Tapi emang sih. Keren bangat sumpah, gue udah ngikutin IG nya. Dengar-dengar mereka nikah terpaksa. Biasalah jodoh-jodohan gak jelas gitu. Rumor dari sumber yang terpercaya, suaminya nikahin tu cewek biar mulus aja jalannya di militer. Tentara kan suaminya."
"Eh masa sih, emang si--"
BRAK!!!
Saru buah toples permen di depan kasir menggelinding di kaki tiga mahasiswi itu yang kini wajah ketiganya sudah memucat.
"NGOMONG DEPAN GUE LO BETIGA!" Nadia melipat tangan di depan dada menatap garang ketiganya. Para pengunjung koperasi mulai memusatkan perhatian pada pertengkaran terhebat abad ini.
"BAC*T LO BERTIGA MAU GUE SEKOLAHIN LAGI, HAH?! Ngomong gak ada filter." Nadia berdecak marah. Tidak tahan lagi dengan orang-orang kepo yang lisannya digunakan untuk mengurusi kehidupan orang lain.
"Ka-kami bicara kenyataan." Ujar salah seorang mahasiswi memberanikan diri meskipun sebenarnya badannya sudah gemetar. Kasus Lalita masih hangat di perbincangkan bagaimana seorang Nadia memaksa Lalita yang notabenenya orang terpandang melakukan klarifikasi pers secara terbuka. Apa kabar dengan mereka yang masih harus meminta orang tua untuk membayar kos-kosan?! Matilah.
"LANCANG BANGAT LO NGOMONG KENYATAAN. LO KENAL GUE? KENAL KELUARGA GUE?" Nadia belum menurunkan intonasi bicaranya. Bodo amatlah banyak yang liat, selama ia tidak melakukan kesalahan, pantang untuk mundur dari medan pertempuran.
"Wati yang bilang semuanya."
"SI*LAN!" Nadia mendengar nama itu disebutkan langsung meraih lembaran fotokopian diatas meja kasir lalu meletakan uang merah selembar.
"JAGA TUH BAC*T!" Nadia keluar dari koperasi setelah memberi peringatan kepada ketiga mahasiswi itu. Tujuannya sekarang adalah menyeret cewek culun itu dan menggantungnya diatap kampus.
Nadia melangkah cepat menuju tempat dimana Wati biasa mangkal. Perpustakaan. Belum juga sampai di perpustakaan, dari jauh Ia sudah melihat Wati tengah berbicara dengan Lalita. Sepertinya cewek berkacamata mantan Orion itu baru saja melakukan obrolan serius terlihat dari wajah tak santai Lalita dan wajah tak berdosa milik si Wati munafik.
Nadia mengikat rambutnya tinggi dengan gelang karet di tangannya. Ia sudah siap menguliti si Wati.
"WATI!" panggilnya.
Wati yang melihat kedatangan Nadia langsung tersenyum lega. Ia membungkuk sopan meninggalkan Lalita yang menatapnya jijik.
"Nadia, untung kamu datang kalau tidak--" Wati yang mendapati wajah tak bersahabat Nadia langsung mengatupkan rahangnya.
"Ngapain lo sama dia?" Nadia memulai introgasinya. Bagaimanapun ia harus mencabut hama sampai ke akar-akarnya. Kalau Wati punya sekutu, maka bom akan diledakan pada keduanya.
"Saya dengar dari teman-teman kalau Kak Lalita menyebar gosip tentang kamu dan suami kamu, Nad."
Nadia tersenyum sinis, "Oh ya? Trus apa urusan lo nemuin dia? Lo mau jadi sok pahlawan di keluarga gue? Lo siapa?"
"Kamu kok bicara begitu. Kita kan teman." Ujar Wati sedih. Beberapa orang yang mendengar percakapan keduanya mulai kasihan padanya. Semua orang di kampus ini menganggap Wati terlalu baik untuk Nadia. Wati sering diperlakukan tidak baik oleh Nadia dan gadis itu masih bertahan. Semua orang memandang buruk pada Nadia karena menganggap gadis itu sombong.
"Teman? Gue gak butuh teman munafik kayak lo. Lo temenan sana sama dakjal."
"Nadia, kamu kok jahat? Saya membela kamu. Kak Lita menyebar gosip kalau suami kamu tukang porotin gadis kaya dan menyuap untuk posisinya." Airmata Wati mulai mengalir dan makin banyak yang simpatik padanya. Beberapa orang bahkan terang-terangan memintanya untuk mengabaikan Nadia si gadis sombong. Tapi Nadia bahkan tidak peduli. Ia tidak pernah peduli anggapan orang terhadapnya. Masih banyak manusia waras di luar sana yang menilai bukan dari tampilan luar.
"BULLSH*T WATI! LO ORANGNYA! LO YANG NYEBAR SEMUA KEBOHONGAN TENTANG KELUARGA GUE. LO!" Nadia menuding Wati mendorong-dorong bahunya.
"Nad, saya tidak mungkin melakukannya. Itu fitnah." Wati menutup wajahnya dengan kedua tangan, "Kak Lita yang melakukannya."
Nadia menggeleng sinis. Makin mantap saja ekting gadis munafik satu ini.
"Gak usah lo fitnah orang lain. Gue dengar semuanya omongan lo di tenda. Gue dengar semua gimana lo ngarang cerita tentang gue dan keluarga gue. Jadi stop nyuci mulut lo pake air gula. Gue gak butuh manusia munafik macam lo jadi teman gue. Gue gak butuh uler macam lo di hidup gue. MATI AJA LO!" Nadia mendorong Wati lalu pergi dari tempat itu. Ia belum puas sebenarnya sebelum mengacak-acak mulut Wati tapi dampak besar yang akan di timbulkan bukan hanya pada dirinya tapi pada Gibran dan pekerjaannya juga. Nasib istri prajurit.
"Nadia, tunggu! Dengarkan penjelasan saya." Wati belum menyerah, ia berlari mengejar Nadia dan langsung menghadang di depannya, "Nadia, saya tidak mungkin melakukan itu. Kak Lita yang menyuruh saya untuk membuat cerita. Kak Lita--"
"CUKUP!" Nadia menahan tangannya di depan wajah Wati, "Lo mendingan menyingkir dari hadapan gue. Muak gue liat muka munafik lo itu." Nadia akan pergi namun langkahnya terhenti sejenak, "Dan lo gak usah fitnah siapapun. Lalita bukan pengecut kayak lo. Kalau dia mau ngancurin gue, dia gak perlu nyerang dari belakang. Dia orang yang akan berani nantang gue langsung. Jadi stop, ngarang skenario sebelum kesabaran gue habis. Lo mending jauh-jauh dari gue kalau masih mau lanjut kuliah." Ia pergi dari hadapan Wati yang kini menatap datar padanya.
"Kamu harusnya belum tau semuanya, Nadia." Senyum tipis di wajah polos Wati tampak menakutkan. Ada banyak hal buruk yang tergambar dari bola matanya.
***
Minta di paketin ke kantor ayah biar sama ayah trus.
Ibu mode ganas pun tetap aja cantik.
Gimana gak digombalin cobak kalau ayahnya ganteng gini.