
Gio menyerup segelas kopi hangat di depannya. Tatapannya tak lepas dari Elsa yang tengah gamang dengan keadaan hatinya yang lagi-lagi merindukan suami orang. Ia sudah mulai lelah dengan pembahasan ini tapi mau bagaimana lagi, sebagai seorang sahabat yang terjebak perasaan peduli yang berlebihan, ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menjadi pendengar yang budiman.
"Elsa sakit, kenapa gak ada yang peduli dengan hati Elsa." Elsa menunduk, menghapus sudut matanya yang basah.
"Bukan tidak peduli, Els. Tapi apa yang sudah kamu lakukan itu keterlaluan. Wajar Gibran marah, Nadia istrinya." Ujar Gio tegas. Tenggorokannya sudah seret bukan karena kopi tapi mengucap kalimat yang sama berulang-ulang juga ternyata sama menyakitkannya untuk tenggorokannya.
"Elsa gak salah, Bang? Elsa hanya--" Elsa menangkup wajahnya frustasi. Bukan, bukan ending seperti ini yang ia harapkan. Kebencian Gibran padanya tidak masuk dalam rencananya. Bukan saja Gibran, Gio pun yang selalu berada di pihaknya mulai menyalahkan perasaan cintanya.
"Berhenti Elsa." Ujar Gio lelah. Berapa kali lagi, satu, dua, tiga, atau seribu kali lagi ia harus mengulang ini? Elsa lagi-lagi menutup telinga tak mau mengerti ucapannya.
"Lepaskan Gibran. Biarkan dia bahagia membangun rumah tanggannya." Gio berujar malas. Mengulang kalimat yang sama benar-benar melelahkan. Haruskah ia masa bodoh? Tapi ia peduli dengan wanita muda di depannya ini.
"Lalu Elsa Gimana? Apa Elsa tidak boleh bahagia, Bang? Elsa yang lebih dulu mencintai bang Gibran tapi kenapa Nadia yang miliki abang. Bang Gibran milik Elsa, Bang." Tangis Elsa mulai pecah. Untung saja pengunjung cafe di jam-jam setelah makan siang tidak begitu banyak jadi tidak harus ada yang terganggu dengan jerit tangis Elsa akan kisah cintanya yang tak terbalas.
"Bahagiamu bukan harus bersama Gibran, Els."
"Abang gampang ngomong kayak gitu karena abang gak pernah berada di posisi Elsa."
"Tidak harus berada di posisi kamu untuk paham bahwa perasaan itu tak bisa dipaksakan." Potong Gio cepat. Bukan sekali dua kali ia menghadapi Elsa dan perasaannya yang seperti ini dan sudah berkali-kali juga ia mengatakan hal yang sama pada Elsa tapi sahabatnya ini terlalu bebal untuk menerima kenyataan bahwa Gibran bukanlah untuknya.
"Elsa yakin Bang Gibran memiliki perasaan yang sama untuk Elsa." Elsa menatap Gio penuh tekad. Gio menggeleng, tak habis pikir dengan jalan pikiran Elsa yang tak juga mau mengerti.
"Terserahlah Els. Lagipula apapun yang saya sampaikan tidak bisa juga kamu terima." Ujar Gio akhirnya. Percuma juga berbicara panjang lebar, pada akhirnya Elsa hanya akan menuruti egonya saja.
"Abang tidak peduli lagi sama Elsa. Abang memang gak pernah kan di pihak Elsa?" Elsa menurunkan suaranya mencari simpatik Gio yang ia yakin laki-laki itu akan selalu mendukungnya.
Gio menggeleng pelan, "Abang tidak berpihak pada siapapun. Kamu dan Gibran adalah orang penting untuk hidup saya. kebahagiaan kalian adalah kebahagiaan saya juga tapi kalau kamu sudah salah, abang tidak punya pembenaran untuk itu."
"Apa yang kurang dari Elsa, Bang? Elsa sudah penuhin semua kriteria pendamping bang Gibran." Elsa menangkup wajahnya, menangis sesunggukkan. "Apa Elsa harus mati agar Bang Gibran melihat Elsa?"
"Jaga bicara kamu!"
"Elsa cape, Bang--hiks."
"Maka berhenti. Berhenti membodohi diri sendiri." Gio meluruskan badannya, lelah sekaligus sedih melihat Elsa seperti ini. Mereka akan terus berputar-putar pada pembahasan ini entah sampai berapa lama lagi.
***
"Om kamu belum jemput?"
Nadia mengedikkan bahu tanpa mau repot menoleh pada Wati yang baru datang membawa tumpukan diktat ditangannya. Mahasiswa bureng sudah Si Wati ini, anehnya tiap ujian masih juga keringat dingin padahal ia belajar setiap kesempatan.
"Tidak jadi jalan ya?"
"Jadilah." Ujar Nadia cepat sambil senyum-senyum melihat layar hpnya, foto Gibran dan Navia yang sedang bermain ayunan. Hari ini Gibran berjanji menemaninya belanja, lebih tepatnya sih Nadia yang memaksa ditemani berbelanja keperluan liburan mereka nanti. Nadia sudah memikirkan akan membeli beberapa potong bikini yang akan ia pakai di pantai. Ia akan memastikan liburan kali ini tidak hanya akan menjadi liburan biasa tapi sekaligus menebus honeymoon mereka yang tak pernah terlaksana.
"Saya boleh ikut?" Ujar Wati penuh binar harap.
"Dih apaan, ENGGAK! Mau jadi orang ketiga lo?!"
"Bukan begitu, maksud ak--"
Drrttt....
Nadia berseru senang melihat nama Gibran di layar hpnya.
"Ssshhhht---diem, suami gue nelfon-- assalamualaikum sayangnya Nad? Udah dimana?" Nadia menjepit hp diantara bahu dan telinganya menjauh dari Wati.
"Saya ada kerjaan mendadak. Tidak bisa jemput. Mang akan jemput kamu."
Senyum Nadia langsung luntur mendengar omongan Gibran dibalik telfon, "Kok gitu sih. Nad udah nungguin hampir sejam trus sekarang gak jadi? Gak mau tau, Nad tunggu Om." Ujarnya kesal.
"Kerjaan saya belum jelas selesainya kapan, Nadia. Kamu pulang sama Mang. Nanti saja belanjanya." Suara Gibran terdengar berisik disebrang sana beradu dengan lembaran-lembaran kertas.
"Tapi Nad maunya sekarang. Om udah janji sama Nad." Rengek Nadia menghentakan kaki kesal. Astaga, yang benar saja dong menunggu sampe lumutan tetap tidak bisa liat wajah si doi, rugi!
"Iya tapi kerjaan ini tidak bisa di tunda. Jangan keras kepala. Sudah ya, saya tutup telfonnya."
"Tap--"
Tuuuuuuut!
"Ish! Nyebelin!" Nadia membuang hpnya asal. "Suami gak peka. Nyebelin. Om-om tua. Om Gi reseeeeee!" Nadia mencak-mencak di bawa pohon meluapkan kekesalannya memukuli dedauanan rimbun yang sudah lama belum di pangkas oleh pihak kebersihan kampus. "Kerjaan lagi, kerjaan terus, kerja kerja kerja. Om Gi lagi kerja apa dikerjain sih nyebelin bangat. Udah kayak dijajah aja." Nadia memanyunkan bibirnya. Tidak bisa dibiarkan.
"Kenapa Nadia?" Wati menghampiri Nadia membawa serta hp teman kelasnya itu yang tadi di lempar sang empunya begitu saja.
"Tau ah!" Nadia terduduk di bangku taman dengan kesal. Rencananya yang sudah tersusun rapi sejak semalam harus berantakan karena lagi-lagi Gibran harus mengerjakan tugas dadakan.
"Suami kamu tidak jadi datang?" Tanya Wati hati-hati. Melihat wajah ganas Nadia yang siap melumatkan apapun dihadapannya ia harus menjaga mulutnya supaya tidak menjadi samsak Nadia. Melihat kediaman Nadia berikut wajahnya yang tertekuk masam, dugaannya sudah pasti benar. Suami sahabatnya itu pasti tidak jadi datang.
"Jalan yuk, Nad. Ada diskon buku besar-besaran di Mall." Ajak Wati hati-hati. Sebut saja ia nekat tapi sekali dalam hidupnya ia ingin merasakan hang out bersama teman kuliah. Selama ini tidak ada seorangpun yang menjadi teman jalannya dan sekarang ada Nadia yang boleh ia anggap sebagai teman dekat walaupun sedikit judes tapi Nadia tidak pernah melihatnya dengan sorot mata merendahkan.
"Gak."
"Nadia tunggu!"
"Apa lagi sih Wati? Jangan gangguin gue. Lo gak liat gue lagi murka begini?" Nadia terus jalan mengabaikan wati yang mencoba menyusulnya.
"Hp kamu."
Nadia terus berjalan mengabaikan panggilan-panggilan Wati. Ia kesal, sebal dan semua hal menyebalkan lain sekarang berputar di kepalanya. Dia sudah membayangkan jalan bareng omnya dan tiba-tiba batal begitu saja, apa tidak menyebalkan?
Nadia melirik kiri kanan, tidak ada ojek konvesional sama sekali. Lagian Nadia gilaaa, mana ada ojek di kampus para sultan seperti ini. Saking kesalnya ia bahkan sudah tidak berpikir normal. Ah ya, memang Gibran selalu sukses membuatnya abnormal.
"Nadia?"
Suara lembut itu? Nadia menoleh, alisnya langsung mengeriting melihat siapa orang yang kini berdiri tak jauh darinya sambil tersenyum kecil kearahnya.
"Tante Elsa?" Gumamnya berpikir keras. Ngapain orang ini kesini? Mau labrak gue apa gimana?
Nadia tetap berdiri di tempatnya saat Elsa menghampiri.
"Sudah selesai kuliahnya?" Tanya Elsa masih dengan kelembutannya yang seperti habis menenggak sebotol molto.
Nadia mengangguk kecil. Ia belum menemukan kewarasannya untuk menarik kesimpulan akan keberadaan Elsa di kampusnya.
"Bisa ngobrol sama saya?"
Nadia melirik jam di pergelangannya. Masih jam empat tapi kan ia malas harus menghadapi manusia seperti Elsa. Munafik.
"Sebentar aja. Saya janji." Ujar Elsa lagi saat melihat keraguan diwajah Nadia.
Nadia menghela nafas pendek, "Di depan ada cafe." ucap Nadia yang disambut senyum lebar Elsa. Keduanya berjalan meninggalkan area kampus menuju salah satu kafe hits favorit mahasiswa di kampus Nadia.
"So, ada apa tante ngajak Nadia ngobrol?" Nadia langsung to the point saat mereka sudah duduk disalah satu sudut kafe yang sedikit jauh dari pengunjung lain.
Nadia hampir memutar bola matanya mendengar ucapan Elsa. Wanita anggun di depannya ini terlalu ahli dalam hal bermuka dua. Bisa-bisanya ia masih berusaha sok ramah seperti ini setelah kejadian di pesta itu. Apa tipikal orang munafik memang begini?
"Air mineral sih, tant." Jawab Nadia asal. Ia manusia yang jujur, tidak mau baik didepan, busuk di belakang.
Elsa tersenyum kecil mendengar ucapan Nadia, "Iya sih, lebih sehat. Pintar loh Nad."
Kening Nadia makin mengerut mendengar kalimat Elsa yang seperti sedang berbicara dengan anak kecil.
"Bentar ya, saya pesan dulu." Elsa beranjak dari tempat duduknya menuju meja pemesanan. Kafe ini memang tak menyediakan pelayan yang mencatat pesanan kostumer bahkan ada sistem melayani diri sendiri. Pengunjung diwajibkan mandiri di tempat ini dan menganggap kafe ini senyaman rumah sendiri.
Nadia duduk menyandarkan punggung malas-malasan. Rencana hari ini bersenang-senang bersama Om Gibrannya malah berakhir dengan dia yang terjebak di kafe bersama Elsa, wanita muda yang tergila-gila pada suaminya. Huuuf, kurang drama apa lagi hari ini takdirnya.
"Bentar lagi pesanannya datang." Elsa duduk kembali tak lupa melayangkan senyumnya. Senyum itu selalu berhasil menipu orang. Terlihat tulus tapi siapa sangka dibalik senyum itu ada perasaan tidak baik pada orang lain. Ah mungkin hanya pada Nadia yang beruntung sekali dinikahi lelaki sekeren Gibran.
"Jadi tante mau ngomong apa?" Nadia tidak sabar lagi. Navia lebih berhak mendapatkan waktunya daripada Elsa apalagi kalau omong kosong yang di ucapkannya.
"Soal kejadian di pesta itu saya--" Elsa menjeda kalimatnya menatap Nadia selembut sutra, "tidak menyesal."
WOW! nadia bahkan tak bisa menyembunyikan decakannya, menggelengkan kepala tak percaya. Ada ya manusia seperti ini.
"Gibran tak seharusnya marah padaku hanya karena kamu."
Dih, apaan sih ini orang? Gila apa gimana? Nadia merasa makin membuang waktunya meladeni kegilaan ini.
"Wah gitu ya tan. Suamiku seharusnya applause gitu ya. Oke okee, paham." Nadia manggut-manggut sembari tersenyum lebar yang di paksakan.
"Selama ini Gibran tidak pernah mengabaikan saya tapi setelah ada kamu, dia bahkan tidak mau menyapa saya lagi. Kamu menghancurkan hubungan kami, Nadiaaa." Suara Elsa bergetar, tangisan yang selalu berhasil menipu orang banyak. Airmata buaya ya orang-orang menyebutnya?!
"Tante sendiri yang menghancurkan hubungan tante sama Om Gi. Lagian, Gibran suami saya tante, sudah seharusnya dia berada di pihak saya." Nadia mendelik tak senang. Jangan harap dia tersentuh dengan wajah sedih dan airmata buaya amazon itu, tidak sama sekali. Elsa gila, wanita gila yang seharusnya menemui psikiater bukan dirinya.
"Kamu merebutnya dari saya."
Nadia menggelengkan kepala miris, helaan nafas berat lolos dari mulutnya.
"Om Gi manusia tan, dia bukan barang yang bisa di rebut atau dipindah tangankan. Saya tidak merebutnya dari siapapun."
Elsa menggeleng, "Seharusnya dia menikah dengan saya bukan kamu. Kami memiliki perasaan yang sama. Sebelum kamu hadir, semua baik-baik saja tapi setelah ada kamu, Gibran berubah."
GILA!
Nadia menegakkan punggungnya, "Tante yang tidak sadar diri masih juga menginginkan suami orang. Lagian ya tan, kalau Om Gi cinta sama tante, bukan Nad yang menjadi istrinya tapi tante."
"Itu karena dia balas budi pada keluargamu. Dia tidak mencintaimu, Nadia."
Masih ngotot juga.
Nadia tersenyum kecil, "Balas budi ya?" Nadia menggeleng, "Om Gi bukan laki-laki picik, tan. Dia tidak akan menikahi Nad kalau dia tidak yakin Nad bisa bahagia bersamanya. Om Gi tidak akan menikahi Nad jika hanya untuk membalas budi keluarga Nad. Tante terlalu menilai rendah perasaan Om Gi. Dia tidak akan menikahi wanita yang tidak di cintainya." Nadia berujar selembut mungkin, siapa tau saja Elsa bisa menerima penjelasannya, "Tolong jangan mengusik rumah tangga saya, Tan. Saya suka sama tante, tante orang baik. Jangan membuat keadaan ini makin buruk, tan. Belajarlah menerima kenyataan."
Elsa menggeleng, airmatanya yang menggenang mengalir di pipinya, "Kamu jahat, Nadia. Kamu mengambil Bang Gibranku. Lepaskan dia. Biarkan Bang Gi bersamaku, tolooong." suara mengiba Elsa menarik perhatian beberapa pengunjung. Situasi yang terlihat sekarang seolah Nadia adalah seorang gadis muda yang tengah dilabrak istri sah yang begitu lembut hati. Scene stasiun tv ikan terbang yang akhir-akhir ini ceritanya makin membuat Nadia tak berhenti mengumpat. Dan sekarang pun Nadia rasa-rasanya ingin mengabsen satu persatu penghuni kebun binatang. BANG GIBRANKU? H*ll you! Halu juga ada batasnya.
"Tan, maaf ya, Bang Gibrannya tante itu suami aku, bapaknya anakku. Yang tiap malam tidak bisa tidur sebelum dipuaskan, yang tiap pagi tidak mau bangun sebelum dapat morning kiss. Jadi berhenti deh ngehalu gak jelas gitu. Tante kan pinter tuh, mikir coba modelan Om Gi gitu gimana ceritanya dipaksa-paksa. Tante kenal baik om gi kan? Tau gimana orangnya kan? Jangan ngelak dari kenyataan tan, HE LOVES ME SO MUCH. Gak kebayang lagi gimana cintanya orang itu sama saya. Jadi please tante berhenti jadi aneh gini. Nad ngeri, kasian."
"Bang Gibran milikku, Nad. Tolong jangan ambil dia. Bang Gi satu-satunya hidupku." Elsa berusaha menyentuh tangan Nadia namun dengan cepat Nadia menyembunyjkan tangannya.
"Hih, gila ya." Nadia berdiri cepat, muak melihat Elsa yang bukannya bikin iba malah menjijikkan seperti ini. Mengiba untuk suami orang, astagaaaaaaa harga diri please.
"Saya pamit, Tan." Nadia meninggalkan Elsa yang tertunduk menangis di meja. Demi apapun, Nadia baru liat wanita modelan Elsa yang rela merendahkan dirinya demi laki-laki. Sangat tidak keren. Oke, Gibran memang se-WOW itu tapi ayolaaah, dia suami orang. Suami Nadia Gaudia Rasya. Ck.
Nadia baru saja ingin menghentikan taksi yang lewat di depannya saat tanpa sengaja melihat seseorang yang jadi sumber kegilaan Elsa yang sedang menelfon seseorang di depan gerbang kampusnya.
"Om Gi!"
Laki-laki itu mendongak bersamaan menurunkan hp di telingannya. Gibran bergegas menghampiri Nadia.
"Hp kamu kenapa ditinggal?" Ujarnya setelah berhadapan dengan Nadia.
Nadia tersenyum lebar, ternyata ada hikmahnya juga ia membuang hpnya, "Sengaja biar Om khawatir. Kangen Om Giiii." ia menyeruk masuk dalam pelukan Gibran, "Kangen bangat." lanjutnya lirih.
"Sakit?" Gibran menempelkan pipirnya di kening Nadia, "tidak hangat." ujarnya.
Nadia terkekeh, "Nad sehat, Om. Sehat bangat apalagi udah ketemu vitamin Nad kek gini, makin sehat." dieratkan pelukannya di pinggang Gibran. Wangi laki-lakinya ini tak tertolong lagi, fix membuatnya betah berlama-lama di pelukannya, "Om katanya ada kerja. Kok disini? Kerjaan gimana?"
"Ada di tas. Kita ke Mall?"
Nadia mengangkat wajahnya menatap lelaki berwajah kaku itu, "Beli bikini, boleh?" tanyanya sembari tersenyum manis. Ia tau lelaki ini menentang keras keinginannya memakai bikini dan mengerjai Gibran selalu menyenangkan.
"Tidak boleh." Ujar Gibran cepat, "Beli apa saja tapi tidak untuk pakaian haram itu."
"Eh, Om tau pakaian haram?" Nadia tergelak ringan.
"Tau. Anggota di kantor sering menyebut-nyebut pakaian haram."
"Trus Om liat gambarnya?" Todong Nadia tiba-tiba membayangkan Gibran melihat para model pakaian haram itu yang sexy dan tentu saja ukurannya tidak sebesar bisul miliknya.
"Sedikit." Aku Gibran datar yang sontak membuat mata Nadia membola.
"Jadi bener Om liat? Iiiih gak boleh!" Nadia menjauhkan diri dari Gibran dan menghentakkan kaki kesal. Bagaimana kalau Gibran tidak menginginkannya lagi? Bagaimana kalau Gibran membandingkan punyanya yang sebesar bisul dan punya model sebesar melon? Bagaimana kalau-- Nadia menggeleng cepat, melirik dadanya sendiri, "Punya Nad kecil." cicitnya manyun.
Gibran mengernyit, apa lagi ini?
"Apanya yang kecil?" Tanyanya bingung. Ke-random-an Nadia kadang membuatnya tidak bisa menebak apa yang ada dikepala istri kecilnya itu.
"Dada Nad. Om pasti banding-bandingin kan sama punya model-model itu?"
"Ya Allah, Nadia." Gibran berujar gemas, menarik gadis kecilnya itu dalam pelukan, "Kita tidak akan membahasnya disini kan?"
Nadia mengembungkan pipinya, "Makanya jangan liat gituan lagi."
"Hm. Punya kamu tetap favorit saya." Gumamnya menahan kedutan diujung bibirnya. Ada-ada saja istrinya ini. Gibran mengecup rambut Nadia. Saat ia mengangkat kepala, seseorang keluar dari dalam kafe, "Nad--"
"Hm?"
"Kamu ketemu Dokter Elsa?"
"Hah?" Nadia menarik kepalanya lalu menoleh kebelakang, Elsa berdiri di depan pintu kafe dengan wajahnya yang sembab menatap keduanya.
"Iya, dilabrak ya nama kerennya?"
***
Halo reader, lama ya? Huhuhuuuu maaf ya, tiba2 mood menulis hilang, ini gak tau bisa di lanjut apa gimana tapi author usahakan... doakan author semoga bisa menyelesaikan cerita ini secepatnya. mungkin endingnya dipercepat biar gak ngegantung para reader lagiii 😣