Little Persit

Little Persit
Istri Sah Gibran Al Fateh



Sudah tiga hari sejak pertengkaran keduanya, Gibran dan Nadia masih belum saling menegur. Tepatnya Nadia yang selalu menghindari Gibran setiap kali tak sengaja mereka bertemu tatap. Nadia masin di dalam rumah hijau, beraktifitas seperti biasa, bangun pagi ke sekolah, sarapan dan pulang sekolah kembali ke rumah begitu seterusnya. Bedanya semua ia lakukan dalam diam. Gibran pun mencoba mengajak Nadia bicara hanya di hari pertama dan setelahnya ia pun akhirnya mengambil langkah yang sama, diam. Hal itu jelas bukan hal sulit bagi Gibran karena ia terbiasa bicara seperlunya berbeda dengan Nadia yang selalu banyak bicara dan saat tiba-tiba ia mogok bicara semua terasa sulit untuknya.


Nadia berdiri di depan pintu kamar memegangi perutnya yang sejak pulang sekolah minta diisi namun karena ada Gibran di dapur gadis itu memilih mengabaikan rasa laparnya. Dan setelah Gibran kembali ke kantornya ia jadi bingung sendiri pasalnya tidak ada makanan apapun di rumah. Sepertinya Gibran lupa atau mungkin juga sengaja tidak menyediakan makanan untuknya.


"Kenapa?"


Nadia langsung menegang, ia pikir Gibran ke kantor ternyata laki-laki itu di ruang tamu membaca buku. Nadia melongos begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Gibran. Ia kembali ke kamar menjatuhkan badannya di atas ranjang bergelung seperti bayi menahan perih di perutnya. Tanpa terasa airmatanya meleleh, ia merasa kesal karena Gibran benar-benar mengacuhkannya sekarang. Bahkan saat laki-laki itu melihatnya kesakitan, ia tidak bertanya lebih lanjut. Argh, dasar Om-om jahat. Seharusnya Om jahat itu yang menderita karena diacuhkan tapi kenapa malah jadi terbalik begini keadaannya. Ia benar-benar butuh laki-laki itu tapi gengsi. Astaga benar kata Aleksis kalau gengsi bisa membunuh seseorang, buktinya sekarang ia sedang sekarat karena kebanyakan gengsi. Om Gibran juga salah, kenapa ia tidak berusaha lebih untuk membujuknya atau melakukan apa supaya ia bisa luluh, ck Nadia benar akan mati kalau keadaanya begini terus.


"Makan." Gibran muncul di depan pintu dengan semangkok bubur hangat di tangannya. Nadia bergeming, berbalik kearah lain. Dalam diam ia merapal doa agar Gibran mau berusaha lebih untuk membujuknya. Lebih baik lagi kalau laki-laki itu menarik ucapannya yang terakhir tiga hari kemarin.


"Saya tidak mau ada yang meninggal karena kelaparan di rumah ini." Ujarnya kejam lalu meninggalkan kamar dan Nadia yang terbengong di tempatnya, dasar manusia kejam. Bahkan kalimat bujukannya terdengar seperti sumpah serapah. Nadia mengintip dibalik helaian rambutnya yang terurai menutupi wajahnya, semangkok bubur diletakan begitu saja di atas meja ditemani dengan segelas susu hangat favoritnya. Tanpa sadar sebuah senyuman terpatri di bibir Nadia.


Dengan lahap ia memakan bubur ayam itu hingga tak tersisa sama sekali. Lalu susu hangat di depannya menyusul mengisi lambungnya. Nadia mengucap syukur setelah lambungnya terisi penuh dan tidak lagi menimbulkan bunyi aneh yang memalukan. Ia mengintip di balik pintu mengecek keberadaan Gibran. Setelah memastikan laki-laki itu tidak ada disana, ia dengan langkah berjinjit menuju dapur membawa serta mangkuk dan gelas susu yang sudah kosong. Suara bunyi-bunyian terdengar dari arah belakang. Seperti biasa sore-sore seperti ini Gibran akan mengurus tanaman sayurannya jika tidak ada kesibukan di kantor atau kegiatan sore lainnya.


Drtttt.... drtt....


Nadia berlari cepat meninggalkan dapur saat hp Gibran bunyi. Ia segera menyembunyikan diri dibelakang pintu mencoba mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Gibran dengan si penelepon. Bodohnya tadi ia tidak sempat mengintip nama si penelepon.


"Berkasnya sudah siap?"


"...."


"Tidak. Saya akan menyelesaikannya dengan mudah."


"...."


"Apa boleh buat, dia ingin lepas maka saya tidak akan menahannya."


"...."


"Ah, iya terima kasih. Besok di pengadilan jam sebelas."


Nadia menutup mulutnya kaget mendengar percakapan Gibran dan seseorang di tempat jauh sana. Berkas? Lepas? Pengadilan? Tiga kata itu berputar di kepalanya membuat spekulasi-spekulasi yang mengantarkannya pada satu kesimpulan, Gibran akan menceraikannya. Suara Nadia tercekat di tenggorokan, gadis remaja itu tampak pias dan tidak bisa berkata-kata lagi, ia terduduk dilantai meratapi nasibnya selanjutnya. Tangis kecil lolos dari bibirnya yang langsung saja dibekap dengan kedua tangannya. Jadi dia akan pisah dengan Om Gibrannya? Cerai? Dia jadi jand-- tangis Nadia semakin kencang kali ini iya tidak menahan diri lagi. Menjadi janda? Pisah dari Gibran? Bagaimana mungkin kehidupan bisa menjadi sekejam ini padanya. Ia bahkan belum delapan belas tahun tapi sudah akan menjadi seorang wanita yang diceraikan. Kenapa tidak sekalian Gibran menguburnya hidup-hidup saja supaya ia tidak perlu mengalami semua ini. Nadia terpekur dengan tangisnya yang semakin tak terkendali.


"Nad, Hei, kenapa hm? Kok nangis? Ada apa?" Gibran bergegas menghampiri Nadia saat mendengar suara tangis gadis itu dari dalam kamar, menyentuh bahunya khawatir.


Nadia menatap Gibran yang jongkok di depannya menatapnya khawatir. Tangis Nadia bukannya reda malah semakin terdengar pilu.


"Hei, heiii, kenapa sih?" Gibran meraih Nadia membawanya berdiri dan duduk di ranjang. "Jangan bikin Om bingung."


Nadia sesunggukan "Om mau Ceraiin Nad? Om mau ninggalin Nad? Nad sendiri Om. Nad tidak punya siapa-siapa lagi selain Om. Jangan lakuin ini sama Nad." Ujarnya begitu menyayat hati. " Maafin Nad. Nad janji tidak akan merepotkan Om lagi tapi jangan lepasin Nad. Nad mohon." Pintanya mengambil tangan besar Gibran menangkupnya walaupun jari-jarinya kalah besar.


"Sssshhttt... Nad jangan menangis. Tidak ada yang mau ninggalin Nadia."


"Om, om janji, jangan lepasin Nad. Nadia janji jadi anak baik, nurut sama Om tapi jangan biarin Nad sendiri lagi--Nad--Nad--" Nadia terbata tak lagi memiliki kalimat untuk mengungkapkan kesedihannya.


Gibran menangkup pipi Nadia, menghapus airmata yang terus mengalir di pipi gadis kecilnya itu "Om tidak akan pernah melepaskan Nad. Nadia milik Om selamanya jadi jangan menangis lagi. Om disini sama Nad." Gibran mengecup kedua mata Nadia, lalu membawa gadis itu dalam pelukannya. Meskipun bingung kenapa tiba-tiba Nadia menangis, ia berusaha memberikan rasa aman untuk persit kecilnya.


"Om janji kan?"


"Iya. Nadia akan selalu sama-sama Om." Jawab Gibran mengangkat wajah Nadia yang basah dan mengecup keningnya cukup lama. Tak cukuk kening gadis itu, bibir Gibran berpindah mengecup kedua pipi Nadia merasai sedikit asin dari airmata yang mengalir disana.


"Om milik Nadia. Akan selamanya sama Nad." Ujarnya lembut lalu penuh perasaan mengecup bibir Nadia dengan hisapan-hisapan lembut. Namun seiring intensitas waktu, ciuman lembut itu berubah menjadi semakin basah dan seperti candu, Gibran tidak bisa menghentikan keinginannya untuk mengecap, merasai lebih banyak dan lebih dalam lagi bibir Nadia. Belum lagi Nadia yang mulai melakukan respon-respon kecil yang terkesan malu-malu namun mampu menghadirkan seulas senyum tipis di bibir Gibran diantara ciuman mereka.


Gibran menghentikkan sejenak kegiatannya mencecap bibir merah kecil itu saat merasakan Nadia mulai kesulitan bernafas. Ia membiarkan gadis itu menghirup udara sebanyak mungkin sebelum kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Tangan Gibran yang bebas tak tinggal diam, menyentuh setiap inci kulit halus nan lembut Nadia, merasakan hangatnya suhu tubuh gadis itu. Tangan kanan Gibran perlahan menyusuri mini set Nadia menyentuh kaitannya dan dengan sekali gerak, membebaskan tonjolan yang terasa lembut ditanganya, meremasnya pelan dan secara bergantian mengulum puncak gadis itu. Nadia bahkan tidak menyadari bagaimana sampai akhirnya ia dalam posisi ini sekarang, terbaring di bawah kungkungan Gibran memamerkan dadanya yang hanya sebesar bisul.


"O-om, Nad--" Ia mulai kembali diserang rasa takut, ini benar-benar sudah jauh tapi apa ia harus meminta Gibran berhenti sedangkan seperti dirinya, ia bisa merasakan Gibran benar-benar menginginkannya sekarang. Otot Liat Gibran yang hanya di balut singlet hitam dan celana pendek setengah paha yang menampilkan otot pahanya yang kuat. Gibran menatap Nadia dalam diam. Kali ini ia harus mandi air es kalau Nadia memintanya berhenti. Wajahnya tampak frustasi tapi tak mungkin juga memaksakan kehendaknya pada Gadis kecil itu.


Dengan sedikit ragu, Nadia mengangkat kepalanya menyentuh lembut bibir Gibran yang terdiam sejak melihat ketakutan dimata Nadia.


"I am ok." Ujarnya menyakinkan Gibran bahwa ia sudah siap menyempurnakan kewajibannya sebagai seorang istri. Nadia bukannya tidak tau bahwa selama ini diam-diam Gibran terbangun tengah malam hanya untuk mengguyur kepalanya dengan air dingin demi menjaga dirinya sampai ia akhirnya benar-benar siap.


Tanpa membuang-membuang waktu Gibran kembali melanjutkan kegiatannya melepas kain yang tersisa dari Nadia dan lalu menyentuh gadis itu dengan penuh perasaan. Baik Nadia maupun dirinya, ini adalah pengalaman pertama mereka dan sebagai orang yang lebih dewasa dan sebagai suami, ia akan memberikan pengalaman paling menyenangkan untuk Nadia tentang hari ini.


Dan saat Nadia akhirnya pertama kali melihat Gibran secara utuh, ia tercekat merasakan takut dan khawatir karena menurut apa yang ia dengar dari cerita teman-temannya yang 'nakal' saat melakukan pertama kali akan terasa sakit dan bisa saja berdarah. Membayangkan kedua hal itu Nadia tidak bisa tidak panik namun dengan sabar Gibran memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya membawa gadis itu melupakan rasa sakitnya dan menikmati apa yang mereka lakukan dalam kamar bernuansa putih pink itu.


Nadia mengejang saat merasakan Gibran mulai menyatukan diri mereka dalam kenikmatan. Yang terasa pertama kali bagi Nadia seperti disayat-sayat silet di seluruh permukaan kulitnya. Perih.


"Eunghhh O-om s-sakiiit." Nadia mencengrkam punggung Gibran saat merasan perih disekujur tubuhnya. Tanpa sadar airmata mengalir dari pelupuk matanya. Gibran menghentikan gerakannya, lalu berpindah mengecup bibir gadis itu memberikan *******-******* lembut mencoba meredakan rasa sakit Nadia. Lalu dengan sekali sentakan, Nadia tak bisa menahan teriakannya yang langsung di bungkam oleh Gibran dengan ciuman panjang. Selanjutnya yang Nadia tau rasa sakit itu perlahan berganti menjadi rasa yang lebin menyenangkan seiring dengan gerakan-gerakan yang Gibran lakukan. Dan sore itu, Nadia bukan lagi gadis kecilnya Om Gibran tapi Istri SAH Kapten Gibran Al Fateh.


***


Nadia membuka matanya tiba-tiba. Ia merutuk karena telah memimpikan hal yang tidak-tidak dengan Gibran. Bagaimana mungkin saat keduanya sedang marahan, ia malah bermimpi melakukan itu dengan Omnya yang well-meskipun tidak seputih kelihatannya tetap saja mustahil orang sedewasa Gibran mau melakukannya dengan anak kecil yang merepotkan. Ia bahkan masih bisa merasakan dengan jelas bagaimana bibir basah Gibran menyentuh setiap inci tubuhnya. Nadia bergidik, mimpi yang sangat aneh. Bahkan sekarang ia bisa merasakan tubuhnya terasa remuk hanya karena mimpi itu. Nadia menghela nafas pendek, menarik selimutnya kembali untuk melanjutkan tidurnya tapi tunggu dulu--ada yang aneh, Nadia perlahan mengangkat selimutnya dan mengintip dibalik selimut loreng itu, bulu kuduknya meremang melihat sebuah lengan kekar yang memeluk perutnya posesif, perutnya yang polos tanpa sehelai benangpun disana, bahkan ia bisa melihat dengan jelas dua buah bisulnya yang tidak tertutupi apa-apa.


"Ya Tuhan!" Nadia mengucap panik. Pelan ia menoleh ke samping kanannya dan betapa terkejutnya mendapati wajah Gibran yang terlelap tenang dengan bahu kekarnya yang terekspos sempurna. Jadi yang tadi bukan mimpi? Jadi yang tadi beneran? Jadi yang tadi--


"KYAAAAAAAA!!!" nadia berteriak histeris yang langsung membangun Gibran.


"Nad, hei!" Gibran menepuk-nepuk pipi Nadia yang masih histeris. Tak mendapatkan respon berarti, Gibran langsung membekap mulut Nadia.


"Sssshhhtt Diam!"


Nadia membelalak, melihat wajah Gibran yang tampak sangat mempesona dengan rambut yang sedikit acak-acakan, ia harus berterima kasih pada siapun yang telah menyebabkan rambut cepak itu sedikit messy.


"Bisa diam?"


Nadia mengangguk, menarik selimutnya yang tersingkap akibat gerakan Gibran. Ia berusaha menarik selimut itu namun kemudian hanya bisa meneguk pasrah saat melihat tatapan Gibran pada salah satu bisulnya yang mengintip dibali selimut.


"O-om?" Panggil Nadia takut-takut.


"Ya?" Gibran menyahut tanpa melepas pandangannya pada bagian tubuh Nadia yang sangat di favoritkannya itu.


"O-om?" Panggil Nadia lagi dengan suara bergetar saat Gibran dengan gerakan pelan menurunkan selimut mereka untuk melihat jelas bagian dada Nadia.


"Nad, lagi ya?"


"Hah? Lagi ap--"


Kalimat Nadia teredam oleh bibir Gibran yang kembali memagut bibir semerah delima itu dengan hisapan-hisapan yang kuat. Nadia hanya bisa kembali melenguh saat Gibran melakukan itu lagi padanya. Nadia yang mengira apa yang ia alami hanya sebatas mimpi kembali meneguk manisnya penyatuan yang ketiga kalinya mereka lakukan sepanjang sore hingga malam ini. Setelah kejadian sore tadi, mereka kembali mengulangnya sebelum tidur dan lagi sekarang sebelum subuh menjemput. Gibran Benar-benar menghabisinya.


***


Permisiiiiii... 🤧


Maafkeuuuun hareudang hareudang...


Om Gi udah on fire 🤯