
"Om, Nad kesana ya?" Nadia menunjuk arah lapangan dimana beberapa anak sedang menerbangkan layang-layang.
Gibran mengangguk yang langsung disambut pekikan senang Nadia. Gadis itu berlari kecil menuju lapangan dimana teman-teman barunya sudah menunggu. Gibran menggelang-gelengkan kepala takjub, baru kemarin gadis itu mengatakan tidak menyukai yang namanya kampung tapi lihat sekarang, Nadia seperti anak kecil yang begitu bahagia melihat layangan terbang untuk pertama kalinya dalam dunia nyata. Biasanya ia hanya melihat hal semacam ini melalui televisi atau channel youtube orang-orang tapi sekarang, ia bisa memegang langsung bentuk layang-layang.
"Nad sepertinya betah disini." Elsa datang dengan menghampiri Gibran yang sedang melihat-lihat pemandangan kampung tersebut. Ternyata aslinya tempat ini sangat indah, udaranya bersih dan warganya ramah pada pendatang hanya jalur ke tempat ini saja yang membuat orang berpikir berkali-kali untuk mengunjungi desa secantik ini.
"Kalau sedang mood bagus, Nadia bisa tertawa hanya dengan melihat bentuk awan saja." Ucap Gibran menoleh sebentar kearah dimana Nadia sedang bermain. "Bagaimana observasi awalnya? Dokter sudah memutuskan?" Tanyanya balik.
"Seperti perkiraan awal, tempat ini sangat sesuai dengan materi penelitian saya. Abang bisa menyampaikan ini kan sama papa?" Elsa berucap penuh harap.
Gibran mengulas senyum samar "Sepertinya tempat ini tidak seburuk yang komandan bayangkan."
"It means, Yes, right?" Sebuah pengharapan muncul di wajah Elsa.
Gibran mengangguk "Of course, yes."
Elsa menarik nafas lega "Thank you so much. Abang yang terbaik." Gibran hanya tersenyum kaku mendengar pujian Elsa.
"Sorry." Elsa menyesal akan ucapannya yang membuat Gibran tidak nyaman.
"Eh, guys, pulang kan kita? Keburu hujan lagi." Gio berteriak dari arah balai desa. Sepertinya urusannya di kamar mandi sudah selesai.
"Ok." Elsa mengangkat tangannya membentuk oke.
"Saya susul Nad dulu." Gibran lantas jalan menuju lapangan. Nadia sedang berlari ke ujung lapangan dengan tali layang-layang di tangannya. Gadis itu selalu tau caranya bersenang-senang.
"Nad, pulang!" Gibran menggaruk tengkuknya yang tak gatal, kenapa sekarang ia terlihat seperti seorang yang sedang menyusul anaknya yang bermain layangan di lapangan yah. Ck. Semua karena Nadia, kenapa dia mungil sekali. Pantas saja Dewa menuduhnya pedofil.
Nadia yang sedang asik dengan mainan barunya tak mendengar panggilan Gibran. Ia malah melambaikan tangannya dan terus berlari ke ujung lapangan.
Gibran bersedekap, menunggu Nadia dengan sabar. Mungkin ia harus sering-sering membawa Nadia ke tempat seperti ini supaya bisa lebih sering lagi melihat tawa lepas gadis itu.
Mbak, Bang, Nad sudah semakin dewasa sekarang. Mbak dan abang yang tenang disana.
"Ayo pulang."
"Kok buru-buru sih Om? Nad masih mau main." Nadia menghampiri Gibran dengan wajah tak ikhlas melepas layangannya.
"Keburu hujan." Gibran menyeka peluh di dahi Nadia dengan jari jempolnya.
"Yaaah" Nadia menggumam Lesuh. "Adik-adik, kakak pulang dulu ya. Ini untuk kalian. Di bagi." Nadia mengeluarkan beberapa roti dan susu pisang yang ada dalam ranselnya dan membagikannya pada anak-anak kecil yang mengerubuninya.
"Nanti main lagi ya kak. Kami buatkan layangan besar untuk kakak." Ujar seorang bocah dengan senyum polosnya.
Nadia menoleh pada Gibran meminta kepastian laki-laki itu. Ia tak akan berjanji kalau kemungkinannya memenuhi hanya nol koma sekian persen. Nadia langsung mengangguk senang setelah melihat senyum tipis di wajah Gibran.
"Horeeeee!!!"
Nadia bertos ria dengan anak-anak itu lalu pamit untuk pulang. Langkahnya berlari-lari kecil mengikuti langkah Gibran.
"Om jangan cepat-cepat jal--AW!!!"
"Nad? Ck. tuh jatoh kan." Gibran menghampiri Nadia yang terduduk di tanah basah. Gadis itu terpeleset batu licin yang tidak sengaja ia pilih.
"Om makanya kalau jalan jangan kecepetan." Gerutunya, mendesis menahan nyeri di engkelnya.
"Tahan! Om hitung sampai tiga. Satu du---"
"AWWW!!! OM GIIII! KATANYA SAMPAI TIGAAA?!" nadia memukul bahu Gibran kesal karena membohonginya.
"Emang gitu cara kerjanya." Girban terkekeh lalu dengan mudah membawa gadis itu dalam gendongannya. Nadia refleks mengalungkan tangannya di leher Gibran. Wajah Nadia memerah melihat tatapan lembut Gibran yang tak biasa padanya.
Cup!
"Ck. OM?!" Tegur Nadia melihat sekeliling takut-takut ada yang melihat apa yang baru saja di lakukan Gibran tadi. Laki-laki itu tersenyum menampakkan giginya yang putih dan rapi. Wajah Nadia makin merah, menahan perasaan malu yang menjalar di mukanya. "Maluuuuuu" Cicitnya menyembunyikan wajahnya di dada bidang Gibran, membuat laki-laki yang biasanya tampak kaku itu tergelak.
Gibran dengan langkah ringan menghampiri Elsa dan Gio yang sudah menunggu di depan mobil. Nadia yang ada dalam gendongannya masih juga tak berani menatap wajah Gibran. Sekarang perhatiannya malah teralihkan pada bibir Gibram yang sangat dekat dengannya, lembut dan hangat. Nadia menggigit bibir bawah malu-malu tiap kali mengingat rasa itu.
"Nadia kenapa?" Gio menghampiri keduanya. Tatapannya jatuh pada Nadia yang sedang berada dalam gendongan Gibran dengan celana yang kotor.
"Jatuh." Gibran mendudukan Nadia di jok belakang dibantu Gio membukakan pintu.
"Tidak apa-apa kan?" Elsa mengecek pergelangan kaki Nadia yang membiru. "Ada pereda nyeri di tas Elsa." Elsa lalu mengambil semprotan yang biasa digunakan oleh para atlit saat cedera di lapangan "Kata papa, Elsa butuh bawa-bawa ini karena keseringan memcederai diri sendiri." Elsa terkekeh mengingat pesan papa saat memberikan seprotan itu. Elsa dengan telaten menyemprotkannya di kaki Elsa.
"Makasi Tante." Ucap Nadia saat kakinya terasa lebih baik.
"Sama-sama." Elsa menyimpan kembali semprotannya dalam tas. Lalu ketiga orang dewasa itu masuk dalan mobil.
"Biar saya yang menyetir. Dokter Elsa bisa temani Nad di kursi belakang?"
Elsa yang sempat merasa senang bisa duduk disamping Gibran hanya tersenyum setelah mengangguk samar. Gibran duduk di balik kemudi, disampingnya ada Gio sedangkan di belakang ada Elsa dan Nadia.
.
.
.
"Nad mau apa?" Gibran yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil tergantung di lehernya menghampiri Nadia yang tampak kesulitan berjalan.
"Mandi. Gerah." Nadia meringis mencium bau keringatnya sendiri.
"Bisa?"
Nadia mengangguk "Nyalain shower doang." Ujarnya enteng. Gibran mengangguk lalu membantu Nadia melangkah pelan masuk kamar mandi.
"Thanks Om." Nadia menyimpan handuknya di gantung handuk. Ia hendak menyalakan shower namun karena kakinya masih sakit, ia kesulitan mencapai tombol yang tidak jauh darinya.
"Butuh bantuan?" Gibran yang masih berdiri di depan kamar mandi menatap khawatir gadis kecil yang sok kuat itu.
Nadia meluruhkan bahunya "Tolong nyalalin showernya."
Gibran mengangguk dan tanpa kesulitan menyalakan shower yang langsung mengucurkan air hangat. "Ada lagi yang butuh di bantu?"
Nadia melihat sekelilingnya. Sepertinya semuanya sudah lengkap " Gak Om."
"Yakin?"
Nadia mengagguk. Gibran masih menunggu di depan pintu kamar mandi.
"Gak sekalian dimandiin?"
BRUUK!!!
"OM MESUUUUUUUM!!!" nadia menatap nyalang pintu kamar mandi yang baru saja menyelamatkan Gibran dari timpukan shampo. Nadia mengipasi wajahnya yang menghangat, dasar om-om genit si*lan.
Nadia keluar dari kamar dengan wajah bingung. Dirinya baru saja selesai mandi, saat membuka lemari, ia mengumpat kesal karena kehabisan persediaan pembalut.
"Om?"
Gibran yang sedang mengerjakan sesuatu dengan laptopnya bergumam "Mm?"
"Om?"
"Om ih!"
"Ap-- kok handukan?" Gibran melepas kaca mata anti radiasi menatap datar gadis kecil dengan handuk melilit setengah paha yang tampak 'sesuatu' dimatanya. Ini Nadia, Gi. Gibran memperingatkan dirinya yang akhir-akhir ini mulai memandang Nadia dengan cara yang berbeda.
Nadia menyilangkan tangan di dadanya, menutup kulit mulusnya. Ia hanya mulai tak nyaman di tatap lain oleh Gibran. Jika selama ini ia cuek, itu karena Gibran memperlakukannya seperti anak tapi beberapa waktu ini sudah berbeda, mana ada ayah yang gemar mel*mat bibir anaknya, kecuali kalau keluarga insect, itu baru ada.
"Pembalut Nad habis." Ujar Nad terdengar lirih di telinga Gibran.
"Ya?"
"Pembalut Om." Jelas Nadia.
Gibran diam sesaat, lalu kemudian beranjak dari kursinya. Ia meraih kunci motor yang tergantung di paku dekat pintu kamar. Nadia mundur beberapa langkah agar tidak bersinggungan.
"Om mau kemana?"
"Katanya pembalut Nad habis?!"
Nadia mengangguk "Yang ada sayapnya ya Om."
"Sayap? Kamu mau makan ayam?"
Nadia menghela nafas lelah "Pembalutnya beli yang bersayap." Jelas Nadia keki setengah m*ti.
"Oh ok." Gibran berlalu meninggalkan Nadia yang menahan gugup setengah mati. Padahal selama ini Gibran sudah biasa melihatnya berdarah-darah bahkan mens pertamanya diketahui oleh Gibran saat Nadia baru saja mengikuti Masa orientasi sebagai siswa seragam putih biru. Saat itu Nadia menangis histeris ketika pulang sekolah dan melihat ada noda darah di roknya. Gibran yang saat itu menjemputnya menjelaskan bahwa itu adalah hal normal bagi setiap perempuan dan saat itu pulalah Gibran menjelaskan apa yang harus Nadia hindari terutama masalah pergaulan dengan lawan jenis.
Selama Gibran pergi, Nadia menunggu di kamar sambil memainkan hpnya. Ia mengecek WA dari grup The girls yang sudah lebih dari seratus percakapan belum ia baca. Terakhir kali Nadia membaca WA adalah kemarin malam saat melihat fotonya di jadikan FP oleh Jeremi
The Girls in your Area
NadiaGaudia : ngebahas apa diatas? ghibahin gue kan lo betiga? ๐คจ
AleksisMark : Hmmmm muncul jg lo. Kemane aje neeeng? Kita nyariin lo udah kayak nyariin jarum di tumpukan jerami. susah beneeer.
GendisMahesa : Iya neh.๐ฃ
NadiaGaudia : Abis malam mingguan gue sama Om
AleksisMark : Anjiiiiir yang mainnya ama om om
SandraDara : Woeee om Gibran bukan om-om ya., jan sembarang lu
AleksisMark : Fansnya ngamuukkk tuuuuh. betewe berapa ronde sama Om, Nad?
NadiaGaudia : Brp ronde apaan? yg jelas lu ngomongnya
GendisMahesa : Iya nih si alex, random bangat.
AleksisMark : Ampuuuun dah gue punya sohib lu bedua. Gak paham lagiii.
SandraDara : Tenang leks, gue ngerti kok.
AleksisMark : Ngerti apaan lu,?!
SandraDara : Perlu bangat gue sebutin? Jadi gimana Nad, tahan berapa ronde lu?
Nadia Gaudia : Gue nggak paham lu berdua ngomong apa. Pake bahasa manusia coba supaya gue ngertiii
AleksisMark : Nyerah ah gueeee... lo aja Sand, pen bangat gue gigit bantal.
GendisMahesa : Kotor Leks, jangan jorok deeeh.
AleksisMark : ๐
SandraDara : Jdi Nad, inti pertanyaan Aleksis tdi adalah, Lo udah DITIDURI belum sama om gi? Gue pakein lo kosakata zaman opung gue.
NadiaGaudia : Si*lan ya lu berdua. Emang gue cewek apaan????
SandraDara : Laaah, emang kenapa, suami lu ini kok.
AleksisMark : Udah Sand, sumpaaah gue pen ngunyah ban mobil sekarang. gemesss
NadiaGaudia : Habisnya kalian ngomongnya gak di filter. Om gue laki-laki yang baik ya. Gak mungkin tidurin gue.
AlesksisMark : Lu kan istrinya odoooooool. Laki-laki baik juga kalau udah ada istri pasti di tiduriiin. Gedek gue lama-lama
GendisMahesa : Betul juga sih
SandraDara : Gue terharu, Ndisss, lo udah dewasa sekarang. Nadia noh yang jalan di tempat
GendisMahesa : ๐ค
NadiaGaudia : Kok gue???
AleksisMark : Iyalaah. pokoknya kita tungguin lo buat nyeritain MP sesegera mungkin
SandraDara : MP apaan?
NadiaGaudia : (2)
GendisMahesa : (3)
AleksisMark : Makanan Pendamping. Yaaa MALAM PERTAMA GILAAAAAAAK!
NadiaGaudia : LO YANG GILAAAA!!!
"Aseeem si Aleks. Ngemeng udah kayak kentut aja asal bunyi. Dikira gue --KYAAAAAA!!!"
"Kenapa sih?"
Nadia mengelus dadanya kaget, Gibran tiba-tiba saja sudah ada di depannya. Keasikan berbalas chat Unfaedah sampai tidak menyadari keberadaan Om nya itu.
"Yang ada sayapnya." Gibran menyerahkan lima pack besar pembalut dengan gambar sayap pada nadia. "tipis biar nyaman." lanjutnya.
Nadia mengernyit, detail bangat.
"Makasi."
"Sama-sama."
Nadia berdiri hendak membuka lemari namun kemudian menoleh, Gibran masih di kamar sedangkan memperhatikannya.
"Om ngapain masih disini?"
Tanpa menjawab Gibran langsung keluar kamar. Ditidurin Om Gibran? Nadia bergidik, dicium aja nafasnya sudah ngos-ngosan nanti kalau benar kejadian, dia bisa tidak ya? Haduuh, Nadia memukul kepalanya pelan. Gara-gara duo rese itu dia jadi kepikiran yang iya-iya dengan Gibran. Tapi cepat atau lambat, Gibran pasti meminta haknya. Kalau hari itu tiba, sepertinya Nadia akan pingsan saja supaya pas sadar semuanya sudah kejadian. Tapi--Nadia melirik dadanya yang tak seberapa, Om Gibran masalah tidak ya? Ah, tapi waktu itu Omnya asik aja gituinnya, berarti aman. Nadia menghela nafas frustasi, coba saja sedikit lebih gede.
Sudahlah, disyukuri aja yang sebesar bisul ini.
***
Halooooooooooo...