
Pagi-pagi sekali Nadia sudah grasak grusuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Gibran sebelum ia berangkat tugas selama tiga hari untuk pengamanan pertemuan para gubernur kota-kota besar di dunia. Roti selai coklat dan susu hangat ia siapkan diatas meja sembari menunggu Gibran selesai menyiapkan segala keperluannya.
"Nad berani sendiri?"
Nadia yang sedang menatap meja meletakkan piring begitu saja saat Gibran muncul sembari berusaha memasang dasinya.
"Biar Nad yang pakein." Sejak kecil ia sudah berangan-angan jika menikah nanti setiap pagi akan memasang dasi untuk suaminya seperti yang biasa bunda lakukan. Siapa yang menduga jika ia berjodoh dengan seseorang yang tidak butuh dasi ke kantor, hanya butun modal skill mengancingkan baju saja.
"Bisa?" Gibran tersenyum geli melihat Nadia yang sedikit kesulitan menggapai lehernya.
"Hap!"
Nadia terkesiap saat Gibran mengangkat tubuhnya tanpa kesulitan sama sekali. Senyumnya terkulum saat jarak wajahnya dengan Gibran begitu dekat. Ia sampai bisa menghirup aroma mint nafas Girban yang menyapu permukaan pipinya.
"Silahkan nyonya Gibran."
Nadia terkekeh. Dengan malu-malu memasang dasi Gibran tanpa kesulitan lagi. Pipinya menghangat menyadari tatapan Gibran yang tak lepas darinya.
"Om jangan liatin Nad."
"Kenapa? Istri Om ini."
"Ya tapikan--isssh Om! Dasinya gak kepasang bener nih." Nadia menjauhkan pipinya dari serangan-serangan kecil Gibran.
"Makanya konsen dong." Ujar Gibran terkekeh.
"Om yang gangguin." Nadia berucap sebal. Gimana mau konsen coba kalau godaan senikmat ini ada di depan mata.
"Wangi bangat Nad. Om jadi pengen bawa kamu." Gibran mengendus-endus leher Nadia membuat gadis itu jengah setengah mati.
"Om nanti terlamb-- astagaaaaa!" Nadia menepuk kening Gibran. "Diem gak!?"
Gibran tertawa renyah "Siap, cantiq." ia diam menuruti permintaan nyonyanya. Kalau bukan karena ia harus segera berangkat, Nadia di pagi hari selalu terlihat lezat, seolah minta disantap.
"Awas kamu kalau sampe Om nemu foto aneh-aneh di pantai."
Nadia mendelik, "Memangnya Nad berani? Enggak!"
"Gitu dong. Nad punya Om, gak boleh ada yang lirik." Ujar Gibran menurunkan Nadia yang sudah selesai memasang dasinya dengan rapi.
Nadia tersenyum puas melihat hasil karyanya. Tidak sia-sia ia berlatih sejak kecil dari bundanya, akhirnya mimpi untuk memasangkan dasi suaminya tercapai juga.
"Udah ganteng." Ujar Nadia bangga. Ia mengibas kemeja Gibran pelan, sentuhan akhir yang biasa bundanya lakukan.
"Morning Kiss?" Gibran memonyongkan bibirnya.
Cup.
"Udah." Nadia tersenyum lembut, mengusap pipi Gibran "Selamat bertugas, kapten. Pulang dengan sehat dan selamat." ucapnya sepenuh hati.
"Insya Allah. Nad juga liburannya jangan aneh-aneh. Ingat, ada dedek bayi disini." Balas Gibran mengelus lembut perut Nadia.
"Siap, kapten." Ujar Nadia sembari menghormat. "Sarapan dulu dong. Nad udah buatin spesial."
"Pake telor?"
Nadia mengangguk "Yup benar sekali bapak. Nad goreng rotinya pake telor sesuai resep youtube."
"Wah, sangat spesial. Makasih, Nad. Sini peluk dulu." Gibran merentangkan tangannya yang langsung disambut hangat Nadia. Pelukan Gibran akan selalu menjadi pelukan paling hangat dan menenangkan sepanjang hidupnya. Kelak dedek bayinya juga akan merasakan bahagianya memikiki ayah seorang Gibran Al Fateh. Lelaki terhebat yang Tuhan sudah kirimkan dalam hidupnya. Alhamdulillah Allah maha baik.
***
"Lo betiga ngapain bawa-bawa bantal? Di vila kehabisan bantal apa gimana? Ya Tuhaaaan." Nadia menghela nafas melihat kelakuan tiga sahabatnya yang menenteng bantal masing-masing. "Kita gak nginap juga." Lanjutnya mengurut kening yang tiba-tiba pusing melihat kehebohan ketiga sahabatnya.
"Ck. Ini bukan buat kita-kita tapi buat lo." Sandra yang bantalnya paling besar menjawab.
"Buat gue? Buat apaan? Aneh-aneh aja deh." Nadia duduk di salah satu bangku taman sekolah. Jam karet para panitia benar-benar menyebalkan. Padahal ia sudah buru-buru datang sampai lupa menyapa si puppy ternyata panitia masih belum muncul batang hidungnya.
"Buat ngeganjal tempat duduk lo lah. Ini ya, menurut google, ibu yang sedang hamil muda harus berhati-hati dengan benturan karena janinnya masih rentan cedera. Gituuu." Jelas Aleksis si dokter google.
"Iya Nad. Kita gak mau ya sampe dedek bayi kenapa-kenapa lagi. Sedih tauk." Tambah Gendis yang ikut duduk disampingnya.
"Haduuuuh, rempong bangat lu betiga." Nadia melipat tangannya di dada menatap ketiga sahabatnya bergantian. Sandra, Gendis dan Aleksis tampak tak bisa berkata-kata.
Senyum haru terbit di wajah Nadia "Makasih. Gue seneng bangat lo bertiga sepeduli ini sama gue. Thank you so much." Ucapnya datang dari dasar hatinya yang terdalam.
Sandra, Gendis, Aleksis saling melirik, ketiganya lalu berhambur memeluk Nadia. "Sama-sama." Ujar mereka serentak.
"Saya gak diajak?"
Nadia dan The Girls mengurai pelukan hanya untuk melihat wujud orang yang minta digilas truk.
Lionel.
"Lo lagi, lo lagi. Heran deh, manusia mesum kenapa ada dimana-mana sih?! Haduh." Nadia menggerutu. Ketiga sahabatnya tak kalah sebalnya. Muka sih boleh ganteng, tapi buat apa kalau kelakuan minus.
"Om ngapain sih kesini? Ini sekolah loh Om bukan Club. Salah alamat atau buta peta nih?" Sindir Sandra.
"Iya nih, nambah polusi aja deh." Sambung Aleksis.
"Bener bangat. Atau Om ada cabe di sekolah kita? Yang mana biar kita cariin supaya om cepat pergi dari sini." Gendis tak mau ketinggalan melayangkan kekesalannya. Mereka hampir saja kehilangan Nadia gara-gara otak mesum orang di depan mereka ini.
"Saya kan ikut Nadia kesini. Iya kan Nad?"
"How cute." Gumam Lionel menyeringai. Benar sekali dugaannya, Nusantara High School adalah sekolah Nadia. Tidak sia-sia ia mengeluarkan uang banyak untuk mensponsori liburan kali ini, Ia bisa seharian bersama Gadis kecilnya yang menggemaskan.
"Selamat Pagi, Mr. Lionel. Terima kasih sudah meluangkan waktunya untuk bersenang-senang dengan sekolah kami."
"Ah ya, selamat pagi, pak. Saya juga berterima kasih sudah diizinkan bergabung dengan sekolah hebat ini. Sepertinya kita bisa membicarakan kegiatan lainnya setelah acara ini." Lionel menyalami kepala sekolah Nusantara High School. Niatnya menawarkan kerjasama tryout dengan sekolah besar ini ternyata mendapat bonus bisa bersama Nadia dalam sehari. Jika ia tahu Nadia di sekolah ini, ia tak akan segan-segan menawarkan liburan seminggu di pulaunya agar bisa lebih lama berada disekitar Nadia. Sebut saja dia gila tapi Nadia memang pantas untuk digilai. Tidak heran Gibran yang dijuluki manusia es bisa mencair dihadapan Nadia, She is so special and of course, dia akan mengambil gadis itu dari siapapun dan dengan cara apapun.
.
.
.
Nadia menyandarkan kepalanya di jendela bus. Perjalanan yang mereka akan tempuh tak terlalu jauh. Hanya butuh beberapa menit sebelum kemudian sampai di pelabuhan untuk menyebrang dengan menggunak spit sampai ke pulau tujuan.
"Nad,-" Gendis yang duduk disamping kanan Nadia mencolek Nadia diam-diam.
Nadia menoleh "Apa?"
Gendis memberi kode untuk melihat di depannya.
Kampreeet! Nadia mengumpat dalam hati. Di depannya Lionel memandanginya sambil tersenyum tipis. Seharusnya ia naik mobil saja tadi bersama Jeremi. Niatnya mau menghindari ocehan Jerami, malah ia berakhir se-bus sama manusia mesum yang menyebalkan. Ck, kenapa juga sekolah harus menyewa bus yang duduknya saling berhadapan begini. Bukannya penumpang happy, yang ada ia bisa mual-mual jika terus melihat wajah mesum Lionel.
"Ngapain lo liat-liat? Gue semprot cabe juga tu mata." Nadia membuka tasnya cepat lalu mengeluarkan botol kecil berwarna hitam yang biasa di pakai para petugas keamanan untuk melumpuhkan musuh. Kata Gibran buat jaga-jaga kalau ada yang berani meliriknya.
Lionel mengulum senyum tipis. Ancamannya bisa saja si cantik.
"Nad gak mungkin Teg--Ouchhh!!"
Syuuut Syuuut!!!
"Rasain!" Nadia bertepuk senang, puas melihat Lionel menahan perih. "Semprot cabe lho itu. Pedes pedes deh lo. Nadia di nantangin, heh!"
Lionel mengaduh kepedasan. Beberapa siswa yang duduk tak jauh dari mereka hanya bisa menggelengkan kepala, tak bisa melakukan apa-apa untuk menghadapi The girls, apalagi Nadia sang Leader, cari masalah namanya kalau berurusan sama empat cewek itu. Nadia dan Gendis beranjak dari tempat duduk mereka, meminta ganti posisi dengan dua cewek yang duduk berhadapan dengan Aleksis dan Sandra.
"Ada apaan?" Tanya Sandra yang tidak tahu jelas apa yang terjadi di bagian belakang.
"Biasalah. Manusia mesum kena azab." Ujar Nadia santai. Disampingnya Gendis tampak khawatir akan pembalasan yang mungkin akan dilakukan oleh Lionel.
"Gak apa-apa nih?" Tanya Gendis panik.
Nadia mengibaskan tangannya "Gak apa-apa. Biarin aja. Salah dia sendiri punya mata gak bisa di jaga."
Gendis menghela nafas. Baiklah. Lagipula siapa yang berani mengusik Nadia. Ia pun mau menjadi saksi untuk Nadia kalau sampai Lionel membawa ini kejalur hukum. Perlakukan tidak menyenangkan sanksinya tak main-main apalagi jika di tuntut dengan pelecehan pada anak di bawah umur, auto kena pasal berlapis si manusia mesum.
Tak lama kemudian, bus yang mereka kendarai berhenti di depan pelabuhan. Nadia, Gendis, Sandra dan Aleksis turun dari bus dan langsung masuk dalam spit yang sudah di tentukan sebelumnya.
"Kita pisah nih?" Tanya Nadia saat ketiganya harus berpisah kapal.
Gendis mengangguk lemah "Iya nih, bete. Mana sekapal lagi sama para Ceriwis. Budeg gue bisa-bisa." Gendis berujar nelangsa.
"Tenang, ada di ucup. Minta aja bacain ayat kursi biar setan-setan di kapal lo minggat semua." Ujar Sandra terbahak.
"Cieee yang sekapal sama pak Justin. Suit suiiit."
"Bacot lu, leks!" Sandra berujar sebal.
Aleksis dan Gendis langsung bertos ria. Sementara Nadia hanya bisa menghela nafas pasrah dengan keabsuran ketiga sahabatnya. Sandra giliran menggoda orang lain sudah paling semangat, bagian dia yang dicie-cie langsung sewot. Manusia kardus dasar. Nadia menggelengkan kepala heran. Punya sahabat gak ada satupun yang beres.
"Udah ah. Gue masuk duluan." Nadia meninggalkan tiga sahabatnya untuk masuk dalam spit yang cukup nyaman. Ralat, sangat nyaman untuk berlayar. Keningnya mengerut saat tak mendapati satupun yang menyusul masuk dalam kapal. Nadia mengintip di jendela. Beberapa kapal mulai berlayar meninggalkan pelabuhan. Nadia baru akan turun dari kapal saat pintu tiba-tiba tertutup.
"Apa-apaan nih?" Nadia menatap pintu kapal dengan kesal. Ia kembali melongokkan kepala di jendela, semua kapal yang ke pulau bersamanya sudah berangkat duluan. Kapal yang ia naiki pun mulai bergerak. Perasaan Nadia mulai tak enak. Ia membuka tasnya cepat untuk mengambil semprot cabenya. Tidak mungkin kan ia terjebak drama penculikan? Nadia melirik kanan dan kiri, lautan bebas bersambung dengan langit biru. Sebuah pemandangan yang sangat indah jika saja keadaannya tak seaneh ini. Kenapa ia terjebak di kapal seorang diri.
"Hai Nadia!"
"Astagfirullah!" Nadia hampir saja terjengkang jika tidak ada tangan yang menahan pinggangnya.
Syuuut!!!
"Awww!!!"
"JANGAN SENTUH GUE!!" Nadia memasang kuda-kuda dengan tangan yang siap menyemprot seseorang di depannya, manusia mesum, Lionel.
"L-lo-- argh!" Lionel masuk ke dalam salah satu ruangan di dalam kapal yang Nadia tebak sebagai toilet.
Cepat-cepat Nadia mengaktifkan GPS hpnya, jaga-jaga jangan sampai Lionel berniat buruk padanya sehingga siapapun bisa melacak keberadaannya dengan bantuan GPS. Tak jauh dari tempatnya berdiri beberapa baju pelampung tergantung rapi didalam lemari. Nadia mengambil salah satu baju tersebut dan mengenakannya dengan cepat. Setelah bajunya terpasang dengan sempurna, ia mengambil KTP dalam dompetnya dan memasukkan dalam kantong bajunya. Setidaknya kalau ia hilang dalam lautan dan mukanya tidak teridentifikasi, ia berharap Gibran bisa menemukan KTP nya dan menguburkannya dengan layak.
"Eh, lo mau ngapain? Nad--stay there!!!" Lionel berujar panik saat keluar dari Toilet mendapati Nadia berdiri di bibir kapal, mengambil ancang-ancang untuk melompat.
"Kalau Lo mendekat, gue lompat." Ancam Nadia tak main-main. Ia lebih baik mati daripada harus diapa-apakan oleh manusia mesum seperti Lionel. Bayangan Lionel yang hampir saja mencelakainya di club dulu menjadi trauma Nadia. Seringai menakutkan Lionel, langkah berat lionel dan bau alkohol saat itu seperti kaset rusak memutar di kepalanya membuat Nadia gemetaran.
"Nad, Please. Jangan nekat." Lionel hendak mendekat tapi kaki Nadia yang satunya siap melompat menghentikan langkahnya.
"Ok, Fine. Saya jauh-jauh dari kamu but please, jangan coba-coba melompat." Pinta Lionel. Ia tak habis pikir Nadia bisa berpikiran sejauh ini untuk menjauhinya. Ia tak memiliki niat sama sekali untuk menyakiti gadis di depannya ini. Niatnya sekapal dengan Nadia hanya agar ia memiliki waktu lebih untuk berdua dengan gadis kecil yang mengusik ketenangannya ini.
"Lima meter." Ujar Nadia.
"W-what? Lima meter? Nad, kapalnya kecil mana bisa se-- oke oke, fine. Lima meter." Lionel langsung mundur saat melihat Nadia melepas satu pegangan tangannya dari teralis kapal.
"Jangan muncul di depan Gue." Teriak Nadia beradu debur ombak. Lionel mengangguk. Laki-laki itu mundur dengan pelan, lalu masuk dalam kabin kapal. Sementara Nadia akhirnya bisa bernasaf dengan lega. Ia duduk dengan hati-hati di bibir kapal. Ia tak peduli lagi dengan panas matahari yang menyengat kulitnya, ia akan tetap di posisinya sampai kapal ini berlabuh di tempat tujuan.
***