Little Persit

Little Persit
Hari yang Sibuk



"Huuuuuuf" Nadia membuang nafas penjang melihat isi lemarinya yang hampir setengahnya sudah tidak terisi. Sesuai ucapannya, Gibran benar-benar menyeleksi isi lemarinya. Tak ada lagi celana pendek di bagian pakaian untuk keluar rumah. Semua sudah di pindahkan Gibran dibagian lemari pakaian dalam kamar. Terlalu rajin untuk ukuran lelaki yang double job.


"Ayah kamu, Dek. Ibu gak ngerti lagi udah." Nadia menutup lemarinya, memelas pada Navia yang memandanginya dengan mata bulat hitamnya. Bayi gembulnya itu tertawa riang sembari menggoyang-goyangkan kedua kaki dan tangannya. Wajah melas Nadia langsung berganti tawa gemas melihat buah hatinya yang bergerak makin lincah dalam kereta-keretanya. Nadia berlutut didepan kereta Pia, mengunyel-ngunyel pipi gembul putrinya.


"Coba adek udah besar, ibukan jadi punya sekutu."


Navia makin bersemangat menggerak-gerakkan tangannya berusaha mencapai wajah Ibunya saat Nadia berbicara. Sepertinya Pia sudah tidak sabar untuk segera bisa berbicara dan menanggapi setiap ucapan Ibunya.


"Adek, di pihak ibu kan? Ayah tuh nyebelin, masa baju kesayangan Ibu dipindahin semua kan-- Awww Om lepasiiiiiiiin!!!"


Nadia terperanjat saat Gibran tiba-tiba databg mengangkatnya seperti sekarung beras membuat dunia Nadia berputar.


"Ngomong apa tadi? Nyari sekutu? Hm?" Gibran memukul pantat Nadia membuat Ibu satu anak itu membelalak.


"Iiiiiih jangan sentuh Nad!"


"Oh jangan ya?!" Bukannya berhenti, Gibran malah membanting Nadia diatas ranjang dan menyerang titik-titik sensitif gadis muda itu.


Nadia yang tidak tahan digelitiki menggelinjing berusaha lolos dari jari-jari nakal sang suami "Ampuuuuuuun hahahaaaa" Saat ia mendapat sedikit celah,Nadia berlari keujung ranjang.


Gibran yang masih berada dibawah langsung melompat diatas ranjang, menatap Nadia dengan kesepuluh jari bergerak-gerak seperti mau menggeliriki "Sekutu ya? Hm? Dasar gadis-gadis nakal."


Gibran bergerak dengan seringai mengancan dan---HAP!!!


"Kyaaaaaa ampuuuuuun" Nadia berteriak heboh diantara derai tawa saat Gibran kembali berhasil menguasainya, "Piaaaaaa tolongin Ibuuuu!!!"


Gibran menatap penuh seringai nakal pada Nadia yang sudah terpojok tidak bisa kemana-mana dalam kungkungannya. Diatas keretanya Navia melompat-lompat bersemangat melihat kedua orangtuanya yang sedang berkejaran.


Gibran menoleh sekilas pada Pia lalu mengedip, "Mau adek kan Pia?"


Mendengar kalimat provokatif itu Nadia menggeleng keras, berusaha meloloskan diri, "Jangan mau Piaaaaa... Jangaaaan!" Nadia tak bisa menahan tawanya saat Gibran kembali menggelitikinya.


"Ampun gak?"


"Gak!"


"Ooh baiklah--"


"Ok, ok, ampuuun. Nad kalah." Nadia menahan tangan Gibran yang sudah kemana-mana. Ini bisa bahaya kalau tidak dihentikan. Auto nonton 21+ keatas Navia.


Gibran tersenyum penuh kemenangan, "Bagus. Sebagai pihak yang kalah. Kamu ikuti semua kemauan saya."


"Hah?" Nadia menggeleng kencang saat melihat seringai nakal Gibran yang tertuju pada bibirnya. Ia menutup bibirnya dengan kedua tangan, "Gak boleh, ada Pia."


Gibran sekali lagi menoleh kebelakang, kedua alisnya naik turun sembari menyeringai saat melihat putri mereka sedang memain-mainkan gantungan kunci lemari Nadia.


"Pia lagi sibuk sama tikus-tikus kamu."


Hello kitty sejak kapan jadi tikus sih?


Nadia mendesah putus apa. Ya ampun dek, belum juga jadi sekutu udah membelot aja.


"Kiss me!"


"No!" Tolak Nadia cepat.


Gibran memincing, "Are you sure?"


"Yap."


Gibran mengangguk, "Fine, let me kiss you dan kamu akan lupa caranya naf--"


Cup.


"Udah." Nadia menyengir.


Gibran menggeleng, tatapannya terlihat sangat well--ini seperti terlihat akan berakhir dengan keramas malam-malam.


"Tidak ada rasanya." Ucap Gibran serak, "Biasanya strawberry, kadang-kadang cherry and--" Gibran sengaja menggantung kalimatnya menatap Nadia kelam.


Gluk!


Mati gue! Nadia mengerjap.


"And-- mostly sweeter than sugar."


Eh anjiiiiiiir itu bibir apa es campur?!


Nadia menggigit bibir gugup. Please bangat lah, ini Om Gi loh yang lagi ngegombal plus ngerayu-rayu. Jiwa murahannya meronta-ronta minta dilepaskan dan menghadiahi si keren itu dengan strawberry, cherry, lemon dan mungkin sumber nutrisi Navia sedikit tak masalah.


"Jangan di gigit." Gibran mengusap bibir bawah Nadia dengan ibu jarinya. Semoga saja Nadia masih nafas sekarang. Huhuhu jantung gueeee.


Nadia diam saat Gibran bergerak semakin dekat dengan tatapan tak lepas dari bibirnya. Nadia tau sulit menolak keinginan Gibran karena nyatanya dia juga menginginkannya. Berada dalam kuasa Gibran tidak buruk sama sekali. Sebagai seorang lelaki yang nama tengahnya 'suci', lelaki itu terlalu paham urusan membuai dan memberi pengalaman luar biasa pada malam-malam Nadia.


Nadia menutup mata saat keduanya hampir tak berjarak lagi. Helaan nafas mereka saling menyapu wajah menghadirkan sensasi yang menyenangkan dan kemudian sedikit lagi keduanya tak berjarak tiba-tiba---


Bruk Bruk!!!


Baik Nadia maupun Gibran langsung menoleh ke sumber suara. Tepat di samping ranjang sepasang mata bulat menatap keduanya dengan polos, keretanya terantuk-antuk dinakas dan itulah bunyi-bunyian yang membuyarkan suasana panas diantara manusia yang diselimuti gairah itu. Nadia dan Gibran sesaat saling menatap lalu kemudian tawa mereka pecah.


Oke, jadi gini rasanya kepergok lagi mesum?!


***


"Bisa kali lo gak usah ganjen di depan kita-kita. Polusi untuk jiwa gue tau nggak."


"Iya nih, nyesel gue kesini."


Nadia memutar bola matanya malas, kedua manusia di depannya itu terlalu berlebihan "Gue salim suami aja lo berdua udah mupeng gitu gimana kalau lo liat Om Gi lagi manja-manja sama gue? Salto lu berdua?" ujarnya sewot.


Sandra dan Aleksis mencibir. Dua sahabatnya itu hari ini sengaja jauh-jauh pulang ke tanah air untuk menghadiri acara pernikahan Gendis yang begitu mendadak. Mereka bahkan mengambil tiket di hari keberangkatan karena info dadakan yang mereka terima dari Gendis. Untuk acara itulah mereka bertiga berkumpul membahas tentang gaun dan segala macam perintilan sebagai bridesmaid. Nadia bahkan melewatkan satu hari kesibukannya menyiapkan kedatangan ibu KSAU demi meluangkan waktu bertemu dua sahabatnya itu.


"Udah deh, daripada baper mikirin keharmonisan rumah tangga gue, mending pikirin deh warna apa dressnya? Gue pokoknya mau yang ada indonesia-indonesianya karena Gendis make pakaian adat bali."


"Yaudah, pake adat aja gimana? Samaan sama Gendis." Usul Sandra yang langsung mendapat gelengan dari dua sahabatnya.


"Gak mau ribet gue. Tau sendiri kan gue udah ada anak, ngelonin, kadang nyusuin belum lagi kalau bapaknya juga mau." Nadia menyengir polos melihat tatapan jijik dua sahabatnya.


"Najisin lo!" Sentak keduanya keki setengah mati.


Nadia tergelak, "Biasa aja. Udah aktivitas wajib gue tuh." ujarnya santai makin memanasi dua sahabatnya.


Sandra dan Aleksis kompak melempar Nadia dengan barang apapun yang ada didekat mereka. Nadia makin terbahak, sudah lama sekali mereka berkumpul seperti ini. Sayang sekali Gendis tidak bisa bergabung karena sudah mulai di pingit, kalau tidak, mereka bisa mengenang lagi saat-saat SMA dulu, berkumpul, menghabiskan malam dengan bergosip dan berselancar mencari barang-barang unlimited.


"Serius dong ah. Keburu Pia bangun." Aleksis menyerut minuman di depannya.


"Jadi?" Sandra melirik dua sahabatnya, "Kalau di modif gimana? Tradisional modern gitu." Ujar Sandra masih berusaha. Sudah lama sekali ia membayangkan dirinya memakai sanggul kerajaan, pasti sangat keren.


"Oke sih." Nadia mengangguk setelah menimang sesaat.


"Jangan adat deh. Jangan sampe ngalahin hebohnya Gendis. She is the queen disana. Apalagi bawa pasangan kan, pasti timpang bangat kalau kita ngadat, mereka enggak." terang Aleksis, "Ya kan?"


"Emang lo punya pasangan?" Nadia dan Sandra bertanya kompak, dan langsung terbahak melihat wajah manyun Aleksis.


"Jahat bangat sih lo berdua." Omelnya sebal. Punya sohib semodelan mereka memang menyebalkan, "Bukannya ngusahain partner gue malah ngeledek."


"Dih siapa yang ngeledek sih, kita nanya kalik."


"Iya, pertanyaan lo berdua itu ngeledek." Aleksis melempar kedua sahabatnya dengan bantal sofa. Sandra dan Nadia tertawa puas melihat wajah tertekuk Aleksis. Seluruh dunia juga tau kalau Aleksis ini omongannya saja yang sudah kemana-mana tapi tidak berhasil dalam urusan asmara. Ada saja ganjalannya, perbedaan keyakinan yang paling sering.


"Ya udah batik aja. Lokal but umum juga dipake." Putus Sandra dan kali ini langsung dapat anggukan dari Nadia dan Aleksis.


Pertemuan pagi itu akhirnya berlanjut sampai sore karena ketiganya menghabiskan waktu memilih kain batik kualitas terbaik dan menghubungi desainer yang akan merancang gaun mereka. Endingnya mereka melakukan VC dengan calon pengantin dan berakhir Gendis terisak karena melewatkan waktu bersama ketiga sahabatnya sebab dikurung oleh sang mami dengan dalih pingitan agar dua calon pengantin itu saling merindukan. Mami Gendis tidak tau saja, ketimbang rindu, Gendis lebih ingin mencekik Dewa karena telah menjebaknya dalam pernikahan tak direncanakan ini.


***


Satu hari sebelum hari pernikahan Gendis, Nadia menjadi ketua panitia dari persiapan penyambutan ibu KSAU baru di kantor mereka. Dihari yang sama juga Nadia harus melewatkan ujian semesternya dan harus merelakan dirinya mengikuti mata kuliah yang sama di semester depannya lagi. Semua itu Nadia jalani dengan hati lapang dan ikhlas sebelum kemudian Ibu Ketua mengacaukan moodnya.


"Itu kenapa makanannya belum datang? Acara sudah mau mulai dan semua belum beres. Apa-apaan ini Bu Gibran?"


Nadia yang tadi sedang menata air minum di atas meja tamu mencoba menahan kesabarannya yang tinggal seujung kuku. Nadia sudah mengatakannya berulang bahwa pihak ketring sedang di jalan, sedikit terlambat karena terjebak macet tapi Ibu Ketua di depannya tak juga berhenti bicara.


"Perjalanan? Bagaimana anda mengatur kegiatan ini kenapa terlambat seperti ini? Keluarga TNI terkenal dengan kedisiplinannya dan anada Bu Gibran berhasil mencoreng wajah instansi."


Oh My... Nadia ingin menangis sekarang. Seingatnya pihak ketring yang ia pilih ini hasil rekomendasi dari Ibu ketua dan sekarang? Nadia mengingatkan dirinya untuk bersabar.


"ANDA BISA KERJA TIDAK???"


Nadia tersentak. Begitupun ibu-ibu yang kebetulan ada ditempat itu ikut-ikutan menoleh.


Nadia mengusap dadanya, demi apapun ia tidak bisa sabar lagi.


"Siap salah, Bu."


Nadia menunduk. Ia sudah belajar banyak bagaimana menjadi istri seorang tentara. Tidak ada pembelaan jika atasan sudah berkoar-koar. Ambil cepatnya saja yaitu 'siap, salah.' Nadia ingin menggigit lidahnya karena berat untuk mengaku salah untuk sesuatu yang tidak layak yang membuatnya dibentak-bentak dihadapan banyak orang seperti ini.


"Tangani secepatnya!"


"Siap."


Nadia menghela nafas panjang setelah Ibu Ketua pergi dari hadapannya. Berat sekali hari ini. Bolehkah Nadia menangis sebentar?


"Ibu Gibran?"


"Ya?" Nadia mendongak, tak jauh darinya ibu Jefri tampak panik. Entah apa lagi sekarang. Nadia menghampiri Ibu Jefri setelah meletakkan air mineral terakhir.


"Gawat, Bu."


"Gawat apa?"


Ibu Jefri menarik Nadia kesebuah ruangan yang disiapkan sebagai ruang penyimpanan.


"Liat, Bu. Yang datang cuma snack semua."


Nadia memijat pelipisnya, "Kok bisa. Mana pihak ketringnya?"


"Masih di depan, Bu. Masih nurunin yang lainnya."


Nadia bergegas langsung menghampiri mobil ketring yang tadi terlambat datang, menemui pegawai ketring itu.


"Mbak, ini menu utamanya mana ya? Kok snack saja?" Tanya Nadia tanpa basi. Undangan sudah berdatangan dan Nadia tak mau makin mendapat masalah hanya karena keterlambatan ini.


"Menu utama tidak ada, Bu. Dibatalkan."


"Dibatalkan gimana? Kan saya sudah pesan. menu utama dan snacknya, gimana sih mbak." Nadia mulai kesal. Kenapa masalah ada terus sih?


"Ibu Ketua sendiri yang batalkan kemarin sore, Bu. Katanya tidak jadi mesan menu utama, yang ini saja dibawa."


Ya Tuhaaaaaan!!!


"Yakin itu Ibu Ketua?"


"Yakin, Bu. Kan beliau sendiri yang langsung ke kami." Terang pegawai ketring itu tenang, berbanding terbalik dengan Nadia yang sudah hampir botak mengetahui fakta baru ini. Ada-ada saja ujiannya.


"Baik, terima kasih ya." Nadia meninggalkan pegawai ketring itu. Untuk apa bingung jika memang ini perintah yang diatas. Mungkin saja acaranya tidak sampai siang jadi tidak akan ada acara makan berat.


"Gimana, Bu?" Tanya bu jefri cemas.


"Pesanannya dibatalkan Ibu ketua. Tidak apa-apa, mungkin saja acaranya tidak sampe siang." Jelas Nadia sembari mengelap peluh dikeningnya.


Nadia dan Ibu Jefri kemudian kembali ke tenda bergabung dengan ibu-ibu yang lain serta para undangan. Acara hari ini tidak hanya dihadiri oleh ibu-ibu saja karena bapak KSAU ternyata akan hadir juga untuk mengenalkan diri secara langsung kepada istri-istri para pasukan yang berada dibawah Komandonya.


"Loh, Nadia kan?"


Nadia yang hendak duduk langsung berdiri tegak. Ia menatap bingung wanita yang baru dilihatnya itu.


"Iya. Ibu kenal saya?"


"Kenal dong, sayang. Ini Oma Sukma, sahabat Oma kamu."


Nadia menggeleng, tidak mengingat apapun.


"Oma Diana?" Tanya Nadia memastikan. Oma Diana adalah Ibu dari Mamanya, istri dari Gauhari, kakeknya pemilik Gaudia Grup, Gauhari Diana.


"Wajar sayang. Kita ketemunya udah lama bangat. Duduk di depan yuk, Oma mau cerita-cerita sama kamu. Kangen bangat. Udah gede loh. Gak nyangka nikahnya sama Gibran. Oma senang dengernya."


Nadia meringis. Ya ampun, dia sama sekali tidak memiliki ingatan tentang ibu-ibu ini.


"Saya--"


"Selamat pagi, Bu Bambang."


"Selamat pagi." Sapa Oma sukma ramah pada Ibu Ketua. Nadia yang sadar posisinya, langsung bergerak hendak melipir ketempat lain namun sebuah tangan mencekalnya.


"Duduk sama Oma yuk."


Nadia melirik pada Ibu Ketua yang tampak bingung melihat mereka. Sama bingungnya dengan Nadia sekarang yang tidak tau harus berbuat apa.


"Suami kamu juga datang kan? Oma sudah lama tidak bertemu dia. Makin gagah pasti." Oma Sukma sepertinya korban Gibran juga, ibu-ibu ini masih ingat saja cowok ganteng.


"Iya, Bu." Nadia mengangguk saja. Tidak tau juga Gibran ada diacara ini atau tidak. Ia tidak sempat bertanya juga.


"Ibu Gibran, tolong siapkan kudapannya ya." Ibu Ketua memutus obrolan dua orang beda generasi itu.


"Ah ya, siap." Nadia melirik tangannya yang masih ditahan oleh Oma sukma, "Maaf, Bu saya harus mengurus yang lain."


"Oh begitu? Ok ok, nanti setelah acara ini selesai, temui Oma ya?" Ujar Oma sukma tersenyum hangat.


Nadia mengangguk, "I-iya Oma." Jawabnya lalu pergi dari tempat itu. Nadia tidak tahan dengan suhu disekitar Ibu Ketua, panaaas.


.


.


.


Nadia hampir tidak berkedip melihat pemandangan di depannya. Ia baru tahu bahwa ibu-ibu yang mengaku sahabat Omanya itu adalah istri dari KSAU setelah diperkenalkan secara resmi. Jadi tadi ia bicara santai dengan istri dari orang nomor satu di kesatuan ini? Oh my God!


Ibu Bambang aka Ibu Sukma memberikan beberapa pengarahan dalam pidatonya setelah sebelumnya mengenalkan dirinya. Disamping Ibu KSAU ada Ibu Ketua yang duduk elegan seperti biasa. Namun sesekali ibu itu melirik sinis kearahanya tanpa alasan yang Nadia ketahui.


Setelah Ibu KSAU memberikan pidato, acara di tutup dengan doa dan istrahat. Nadia yang menjadi ketua panitia memantau pekerjaan teman-temannya. Mereka membawa makanan kecil yang sudah ditata sedemikian cantik itu diatas meja. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah hari, seharusnya ada makan siang seperti rencana awal tapi karena Ibu Ketua membatalkan pesanan, jadinya hanya acara makan kudapan yang tersedia saja.


"Nad?"


Nadia menolah, disana ada Gibran membawa makan siang untuknya, "Makan siang. Jangan telat makan." ucapnya menyerahkan sebuah paper bag, setelah itu langsung pergi.


Nadia mengintip isi paper bag tersebut dan langsung berbinar saat melihat isinya adalah sushi dari restoran favoritnya. Nadia menoleh kearah dimana pergi dan mendapati punggung laki-laki itu yang sedang berbicara dengan rekan-rekannya. Tanpa pikir panjang Nadia berlari menyusulnya lalu---


"Om Giiii tengkyuuuuu" Nadia memeluk Gibran dari belakang, mengecup punggung laki-laki itu berkali-kali.


Gibran memutar badannya menghadap Nadia, "Sama-sama, Nad." ujar laki-laki itu lembut tanpa merasa malu dengan keberadaan teman-temannya yang menatapnya cengok. Ini pemandangan langka yang hampir mustahil disaksikan, seorang Gibran jadi begitu sangat hangat pada seorang wanita. Yeah, istrinya memang tapi tetap saja orang-orang merasa takjub melihat sisi Gibran yang satu ini.


"Ya udah, Nad kebelakang dulu ya. Om juga jangan lupa makan. Sini Nad peluk dulu." Nadia kembali memeluk Gibran yang dibalas usapan lembut dirambutnya oleh lelakinya itu. Setelah itu Nadia mengangguk samar pada rekan-rekan Gibran yang hening menyaksikan adegan tidak masuk akal itu.


"Wow Kapten Gibran!" Goda rekan-rekan Gibran selepas Nadia pergi. Gibran tak bereaksi banyak hanya menyunggingkan senyum tipis menanggapi guyonan mereka.


Nadia baru kembali dari menemui Gibran dan sudah disambut oleh Ibu Ketua dengan wajah merah padam. Drama apa lagi ini?


Nadia menghampiri Ibu Salman dan Ibu Jefri yang tampak diam di tempat. Ada apa? Tanya Nadia dengan lirikan matanya.


Ibu salman dan Ibu Jefri menggeleng. Mereka juga baru datang dan sudah ada Ibu Ketua di ruang penyimpanan.


"APA-APAAN INI BU GIBRAN?"


Ya?


Nadia cengok, apa lagi sih?!


***