Little Persit

Little Persit
Masih Anak Sekolah



Nadia berdiri di depan pintu menunggu Gibran memakai tali sepatunya. Hari ini adalah hari pertamanya untuk Ujian Nasional. Semua perlengkapan UN sudah ia siapkan mulai dari pensil 2B, alas kertas jawaban, penghapus dan paling penting otak yang segar.


"Jangan rewel ya, Dek. Ibu mau UN." Nadia berbicara pada calon bayinya dengan lembut. Dielusnya perut ratanya dengan sayang. Dua hari ini ia sering sekali kebelet pipis, bolak balik kamar mandi hanya untuk buang air kecil.


"Adek pintar kan? Bantu Ibu ya Nak." Gibran yang sudah datang selesai menali sepatu bersimpuh di depan perut Nadia, mencium perut Nadia yang masih rata. "Atau Nad mau pakai popok aja? Om sudah beliin semalam."


Nadia menggeleng, "Gak usah Om. Ruangan Nad gak jauh dari toilet. Lagipula adek bayi pasti mengerti kalau Ibunya lagi ujian. Iya kan dek?"


Gibran tersenyum lembut, diusapnya rambut Nadia berkali-kali "Selamat berjuang ya Nad."


Nadia mengangguk "Iya. Om bantu Nad pake doa."


"Pasti."


Kedua pasangan muda itu lalu keluar rumah untuk menyambut pagi mereka yang baru. Nadia dengan Ujian Negaranya dan Gibran dengan tugas Negaranya.


Motor berhenti di depan gerbang sekolah Nadia yang terlihat tenang. Ada dua orang satpam yang berjaga di depan menyambut siswa yang akan mengikuti Ujian Negara.


"Kalau ada apa-apa langsung telfon Om." Gibran mengambil helm yang dipakai Nadia.


"Siap. Bentar, Nad ngaca dulu." Nadia menggeser bada Gibran untuk mengecek penampilannya di spion motor.


"Udah cantik." Ucap Gibran membenarkan poni Nadia.


"Selalu cantik dong Om." Koreksi Nadia.


Gibran mengangguk, "Iya. Selalu cantik." Nadia menyengir lebar. Pagi-pagi sudah dibilang cantik sama suami, nemu dimana nih laki-laki kayak begini, gak ada lagi stoknya. Punya Nadia dong. Batin Nadia senang.


"Salim." Nadia mengulurkan tangannya meminta tangan Gibran. "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam." Gibran memutar balik motornya setelah memastikan masuk ke dalam sekolah dengan aman.


***


Gibran duduk diam mengawasi para Taruna yang sedang mengikuti pelajaran Ketahanan Negara. Salah satu mata pelajaran wajib yang harus mereka kuasa untuk mendapatkan sertifikat kelulusan. Dewa yang bertugas sebagai pembina pengganti berkeliling kelas untuk mengecek pekerjaan para Tarunan.


"Lima menit lagi." Teriak Dewa mengingatkan. Wajah para Taruna mulai keringat dingin. Meskipun hanya tryout tetap saja akan menjadi bahan pertimbangan untuk nilai berikutnya.


Yang pernah berpikir masuk Akmil hanya butuh modal backingan kuat dan uang yang banyak, sebaiknya melihat langsung perjuangan para Taruna yang tidak tidur cukup malamnya dan siangnya di penuhi dengan latihan, latihan, dan latihan.


"Waktu selesai! Kumpulkan!"


"Siap!"


Gibran berdiri di depan menunggu para Taruna mengumpulkan hasil belajar mereka. Setelah kelas ini, Gibran hanya sisa mengisi pengajian di mushola setelah solat ashar. Ia masih bisa memaksimalkan waktunya untuk mengerjakan pekerjaan lain.


"Lo gak jenguk Elsa?"


Gibran yang sedang menunduk menghitung jumlah kertas ditangannya tak menjawab.


"Komandan nyariin lo kemarin. Elsa terus menyebut nama lo." Lanjut Dewa hati-hati.


"Lalu?" Tanya Gibran dingin.


Dewa kebingungan sendiri menjawab, "Ya mungkin lo ada niat gitu untuk menjenguknya." ujarnya tak yakin.


"Nanti diliat." Ucapnya dan berlalu begitu saja meninggalkan Dewa.


Apa salah gue? Lelaki berdarah bali itu meluruh. Seharusnya ia tak mengatakan apapun.


"Kapten, tunggu!" Dewa berlari menyusul Gibran yang telah keluar ruangan terlebih dulu. Langkahnya tergesa menyamai langkah lebar Gibran.


"Sorry, gue gak maksud untuk ikut campur tapi-- Eeets." Dewa menahan langkahnya yang hampir saja menabrak dada Gibran.


"Tolong jangan membahas masalah pribadi di kantor." Ujar Gibran datar lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Gibran melambatkan langkahnya saat melihat Komandannya, yang tak lain papa Elsa berdiri di depan ruangannya. Ia menghela nafas dengan tenang.


"Selamat siang, Komandan." Gibran menghormat pada pimpinannya.


"Selamat siang, Gi. Bisa kita bicara sebentar?"


Gibran mengangguk "Siap. Silahkan komandan." Gibran membuka pintu ruangannya dan mempersilakan papa Elsa masuk dan langsung duduk di kursi kebesarannya.


"Maaf memotong waktu istrahat kamu."


"Tidak apa-apa, Komandan." Gibran masih berdiri tegak di depan mejanya.


"Duduk, Gi. Bisakan kita bahas masalah pribadi sekarang?" Papa Elsa melirik jam di pergelangannya "Sepuluh menit."


"Siap, Bisa, Komandan." Gibran duduk dengan tegap di kursi tamu.


"Ini soal Elsa. Maaf, saya mengerti posisi kamu tapi saya harap, kamu bisa meluangkan waktu untuk sesekali menemui Elsa. Saya sangat malu mengatakan ini sebagai pria beristri tapi sebagai seorang ayah, saya memohon sama kamu untuk berbaik hati pada putri saya. Dia butuh semangat hidup. Bisakan, Gi?"


Gibran tahu betul arti tatapan itu. Jenis tatapan yang tak ingin dibantah oleh siapapun. Gibran menundukkan pandangannya. Pikirannya terbagi-bagi sekarang. Sulitnya memenuhi permintaan orangtua Elsa sama sulitnya dengan menolak permintaan itu. Ia menjadi serba salah sekarang. Nadia, Nadianya sedang dalam masa yang tidak boleh memikirkan beban berat, dan Elsa-- dokter muda itu, apa yang harus ia lakukan sekarang?!


"Siap, bisa Komandan." Jawab Gibran mantap. Papa Elsa mengangguk samar. Ada kelegaan di wajah tua yang mulai keriput itu. Bagi setiap anak perempuan, ayah adalah sosok pahlawan yang akan melakukan apapun untuk kebahagian putrinya meskipun itu mungkin akan menyakiti hati putri-putri yang lain.


***


"Gimana Ujiannya? Lancar?" Gibran menyambut Nadia di depan Gerbang dengan pelukan hangat.


"Alhamdulillah lancar. Tapi gak tau bener apa salah. Hehe"


Gibran menjentik kening Nadia "Kamu ini." Satu kecupan mengikuti jentikan di kening Nadia "Belum makan siang kan?"


Nadia mengangguk, "Om kecepetan datangnya." Gerutu Nadia yang sudah melewatkan menu baru kantin sekolahnya.


"Makan siang sama Om, mau?"


"Mau mau mau."


"Jangan lompat-lompat." Gibran menahan pinggang Nadia yang melompat kegirangan.


"Eh iya. Lupa." Nadia meloloskan tangannya memeluk pinggang Gibran erat. "Om wangi."


"Masa sih."


"Iya seriusan." Nadia tersenyum lebar.


Senyum Gibran mengembang. Ia tak akan pernah mengorbankan senyum Nadia untuk apapun dan siapapun. Kebahagin Nadia adalah prioritas utamanya.


"Nad mau jenguk Dokter Elsa?" Tanya Gibran hati-hati sembari memasangkan helm di kepala Nadia.


"Mau. Kapan?"


"Setelah makan, kita langsung ke rumah sakit. Nad udah bisa kan masuk RS?" Ujar Gibran membantu Nadia naik di jok belakang motor.


Nadia mengangguk "Bisa dong. Tapi Nad masih pakai seragam. Gak apa-apa?"


"Gak apa-apa. Kan Nad masih anak sekolah."


"Iya yak." Nadia terkekeh. Kedua tangannya dj tarik Gibran untuk bertaut memeluk pinggangnya.


"Jangan dilepas." Ujar Gibran. Nadia mengangguk. Gak balakan dong Om. Favorit Nad nih.


Gibran berhenti di depan sebuah restoran yang biasa ia datangani bersama Nadia saat senggang. Pemilik restoran itu adalah salah satu mantan pegawai Gaudia Group yang memilih membangun usaha sendiri setelah mengumpulkan tabungan lebih.


"Mbak Hana!" Nadia berlari kecil menyongsong seorang wanita seumuran Gibran yang tengah berbincang dengan pelanggannya.


"Adeeeeeek, kok lama gak pernah datang sih." Wanita yang di panggil mbak Hana oleh Nadia menyambut Nadia dengan pelukan hangat dan beberapa kecupan di pipinya. "Mbak kangen lho dek."


"Nad juga kangen mbak Hana." Ujar Nadia manja.


Nadia menoleh kebelakang "Lagi nyari parkiran." katanya lalu menggeret Hana setelah wanita berwajah tegas itu menyelesaikan urusannya dengan pelanggannya.


"Gimana? Udah ngisi?"


Nadia mengangguk malu-malu "Udah. Ini ada adek bayinya lho." Ucap Nadia malu-malu.


Hana menutup mulut tak percaya. Ia berkali-kali mengucapkan syukur akan kehamilan Nadia, mantan Bos yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.


"Masya Allah. Di jaga ya dek. Duh, hebat juga Om kamu itu." Hana mencolek pipi Nadia yang tersenyum malu-malu.


"Gimana dong, Mbak, Om Gi gitu sih."


"Gitu gimana?! Bilang saja Nad juga nikmatin kan?" Goda Hana.


Nadia mengangguk cepat, "Awalnya takut Tan tapi kemudian--"


"Assalamualaikum, Han." Gibran duduk bergabung memotong kalimat Nadia.


"Waalaikumsalam Gi. Langsung dari kantor?" Tanya Hana melihat seragam Gibran yang masih lengkap.


"Dari jemput anak sekolah." Gibran mengacak rambut Nadia saat istrinya itu cemberut disebut anak sekolah.


Hana berdecak, "Ck. Lo mah gaya aja. Sok-sokkan manggil Nadia anak sekolah, aslinya lo udah bikin dia bentar lagi punya anak."


Nadia menggerutu sebal "Udah dong jangan panggil Nad anak lagi. Nad bentar lagi punya anak. Masa anak punya anak."


Hana dan Gibran saling melirik. Keduanya lantas tergelak mendengar gerutuan panjang Nadia.


"Baiklah nyonya Gibran. Sekarang mana ikat rambut Nad? Om gerah liat berurai panas-panas gini."


Nadia membuka tasnya dan mengeluarkan karet gelangnya "ini."


Gibran mengambil karet tersebut lalu mulai mengepang rambut Nadia. Hana yang melihat pasangan muda di depannya hanya bisa mengulas senyum bahagia. Akhrinya dua manusia kesepian ini bersatu juga.


"Mbak siapin makan dulu ya. Kalian nyaman-nyamanin aja disini."


"Siap, mbak." Nadia mengangkat jempolnya. "Aw! Jangan ditarik kenceng-kenceng."


"Iya maaf." Gibran mengusap kepala Nadia lembut.


"Solat dulu ya. Nanti setelah itu baru makan." Lanjut Gibran mengingatkan. "Om ke mesjid depan. Nad sama mbak Hana saja."


"Oke."


***


Gibran berjalan di koridor rumah sakit dengan Nadia bergelayut manja di lengannya.


"Tante Elsa sakit apa Om? Kemarin kayaknya baik-baik saja deh pas di-- ops." Nadia menutup mulutnya. Hampir saja ia keceplosan. Diam-diam Nadia melirik Gibran yang sepertinya tidak mendengar ucapannya. Syukurlah.


"Om, Tante Els sakit apa?" Ulang Nadia.


"Kurang tau. Nanti Nad tanya sendiri sama Dokter Elsa."


Nadia mendengus "Gak asik bangat deh Om."Nadia menghentakkan kakinya kesal. Gibran hanya mengedikkan bahu melihat kelakuan Nadia.


"Jangan berisik kalau di rumah sakit." Ucap Gibran mengingatkan. Mereka sudah berdiri di depan pintu ruangan Elsa. Salah satu ruangan VIP dengan perlengkapan lengkap dan mewah. Nadia mengangguk. Gibran lantas melepas lilitan tangan Nadia di lengannya dan gantian menggengam erat jamari istrinya dengan tangan kirinya.


Tok tok tok


"Assalamualaikum."


Ceklek.


"Waalaikumsalam, Bang Gi-- Nad?" Elsa yang semula hanya melihat Gibran muncul di depan pintu langsung muram saat Nadia muncul dengan senyum super lebarnya. Tak hanya Elsa, Mama Elsa pun demikian. Ketua persit Nadia itu memaksakan senyumnya menyambut Gibran dan istrinya, Nadia.


"Maaf kami datang siang-siang." Gibran menyimpan bingkisannya diatas meja.


"Tidak apa-apa, Nak. Terima kasih sudah menjenguk Elsa." Ujar Mama Elsa mengulas senyum tipis. Ia bisa melihat luka dimata putrinya saat memandang dua tangan itu saling bertaut.


"Nad baru dari sekolah?" Tanya Mama Elsa berbasa basi.


Nadia mengangguk, "Iya Tante." Jawabnya pendek.


"Udah mulai UN ya?"


Nadia mengangguk lagi, "Iya tante. Hari pertama."


Mama Elsa mengangguk samar. "Oh ya, silahkan duduk. Saya keluar sebentar. Titip Elsa ya."


Mama Elsa berucap pada Gibran yang diangguki oleh laki-laki itu.


"Gimana keadaan dokter?" Gibran duduk di kursi tunggu pasien dengan Nadia disampingnya.


"Alhamdulillah udah baikan, Bang. Abang dan Nadia apa kabar?" Tanyanya balik.


"Alhamdulillah seperti yang dokter bisa lihat. Nad makin cerewet." Ujarnya berusaha mencairkan suasana tapi yang ada malah tatapan Elsa pada Nadia menajam.


Nadia yang sejak kedatangannya sudah mengunci mulut hanya mendengarkan. Ia harus bersimpati pada orang sakit meskipun sakitnya sakit yang dibuat-buat. Bagiamana mau tidak dibuat-buat jika semuanya berawal dari ketidakterimaan pada kenyataan yang ada bahwa cinta tak selamanya harus memikiki. Elsa terlalu menikmati rasa sakitnya sampai membuat dirinya menjadi sosok yang butuh dikasihani. Nadia sadar, kehadirannya tidak diinginkan oleh Elsa ataupun Mamanya tapi apa pedulinya selama Gibran membutuhkannya.


Obrolan Gibran dan Elsa berlanjut pada pendidikan Elsa, kegiatannya dan masih banyak lagi yang terdengar seperti dongeng pengantar tidur siang ditelinga Nadia. Gadis itu terlelap dibahu Gibran.


"Nad--" Gibran menepuk pelan pipi Nadia namun tak ada respon dari istri kecilnya itu.


"Pindahin di ranjang sebelah, Bang. Tempat mama." Ujar Elsa menunjuk ruangan yang di sekat oleh kain hijau.


"Gak usah dok. Disini saja." Gibran menarik kepala Nadia pelan dan membaringnya di pangkuannya. Rok Nadia yang tersingkap ditutupi dengan tas sekolah gadis itu.


"Nad sangat beruntung."


Gerakan tangan Gibran menutupi paha Nadia terhenti. Sebuah senyum simetris terbit di wajahnya.


"Mungkin karena Nadia pandai bersyukur dengan apa yang dimilikinya." Ujar Gibran tanpa ekspresi. Ia paling tidak senang kalau orang-orang mulai membandingkan hidup mereka dengan Nadia. Mereka tidak tahu saja rasa sakit apa yang telah dilalui gadis kecilnya ini.


"Terima kasih abang sudah peduli sama Elsa. Elsa yakin abang memiliki perasaan itu meskipun sedikit. Elsa mau berjuang untuk--"


"Tolong jangan salah paham, Dok."


"Ya?"


Gibran mendongak, menatap tepat pada Elsa "Jangan salah paham. Kedatangan saya kesini karena saya menghargai Mama dan Papa dokter. Saya juga mengingat pertemanan yang selama ini terjalin erat yang sayangnya Dokter telah nodai dengan perasaan yang salah."


"Perasaan yang salah?" Elsa tercekat.


Gibran mengangguk. Satu tangannya menggengam erat jemari kecil Nadia, memainkan cincin emas yang melingkar di jari manis istrinya.


"Iya. Perasaan yang sangat salah. Saya sudah pernah katakan pada Dokter bahwa sejak dulu hanya ada Nadia. Saya pikir dokter memahami maksud saya tapi sepertinya tidak."


Elsa menyeka airmatanya "But I love you so much. Elsa ingin berjuang. Apa salah kalau Elsa mencintai?"


Gibran menggeleng, "Dokter tidak salah. Perasaan cinta adalah fitra bagi setiap manusia. Yang salah, dokter terlalu memaksakan diri, larut dalam perasaan dokter pada orang yang tidak tepat." Gibran menghela nafas sejenak, "Maaf saya kasar dengan mengatakan ini tapi saya mohon agar dokter berhenti karena sampai kapanpun tidak akan ada tempat untuk dokter. atau wanita manapun." Lanjut Gibran.


"B-bang," Elsa mengiba.


"Dokter wanita yang baik. Tolong jangan memaksa saya untuk memutuskan hubungan baik ini, dengan dokter melakukan hal-hal yang tidak perlu seperti ini. Saya tidak mau Nadia khawatir. Saya sangat memohon. Berhenti lah." Gibran berucap tanpa keraguan. Jika Elsa tak bisa mengerti bahasa lembutnya saat itu, maka hari ini Gibran akan mengatakannya langsung dengan bahasa yang mungkin bisa membuka pikiran dan hatinya lebar-lebar.


***


Huhuuuu selamat membaca readers. 🤗