Little Persit

Little Persit
Jika harus pisah



Nadia mengucek matanya. Sudah kesekian kalinya ia melakukannya untuk menahan kantuk setelah menunaikan solat subuh. Televisi dibiarkan dalam keadaan bisu agar tidak mengganggu Gibran yang terlelap di depan televisi berbantalkan pahanya. Sesekali ia melarikan jarinya mengusap rambut cepak Gibran yang terasa menusuk-nusuk telapak tangannya. Saat bunyi klakson penjual sayur mulai ramai terdengar, Nadia dengan pelan mengangkat kepala Gibran dan menggantikan pahanya dengan bantal. Ia menengok jam di atas televisi, sudah setengah tujuh pagi, seharusnya toko obat sudah di buka jam segini. setelah mengecek sekali lagi suhu badan Gibran dengan punggung tangannya ia bergegas mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu kamar. Tatapannya ragu melihat kunci mobil dan motor yang diletakkan Gibran diatas meja belajar. Ia menggaruk dagunya yang tak gatal, seharusnya ia tidak melakukan ini karena kalau Gibran tahu ia pasti akan marah besar, ia belum mendapatkan SIM dari Gibran walaupun dari negara ia sudah mengantongi izin. Tentunya ia mendapatkannya dengan cara sembunyi-sembunyi karena Gibran sudah menyiapkan supir untuknya jika ingin kemana-mana tapi Nadia jelas tak akan menyia-nyiakan KTPnya yang sudah legal mengendarai kendaraan untuk menjadi hiasan semata dalam dompetnya.


Setelah menimang beberapa waktu akhirnya Nadia mengambil kunci motor dinas Gibran yang jarang sekali di pakai laki-laki itu. Sebelum keluar rumah ia memastikan terlebih dahulu Gibran bisa mendengarnya atau tidak. Setelah yakin Gibran masih tidur lelap, Nadia akhirnya keluar membawa motor besar yang tersimpan di dekat rumah.


***


Gibran terbangun dari tidurnya beberapa menit setelah Nadia pergi. Ia melihat tv di depannya masih menyala namun tidak ada tanda-tanda Nadia di rumah itu. Gadis itu tidak mungkin berangkat ke sekolah tanpa meminta izinnya, lalu kemana anak itu pagi-pagi begini?! Gibran membuka pintu rumah dan cukup terkejut mendapati pintu tidak terkunci. Ia melihat keluar, beberapa orang sedang berolahraga dan para ibu-ibu tetangga sedang membeli sayur sekaligus menggosipkan tetangganya, seperti itu Nadia menyebut mereka di depannya. Gibran kembali dalam rumah setelah tidak mendapati Nadia disana dan kemudian mengambil hp hendak menelfon gadis itu tapi ternyata hp Nadia ada diatas meja sedang di cash. Perasaan Gibran menjadi tidak tenang saat mendapati kunci diatas meja hanya ada kunci mobil dan motor besarnya sedangkan kunci motor dinasnya tidak ada. Bersamaan dengan itu suara gedoran pintu terdengar dari luar sembari memanggil namanya. Gibran bergegas kearah pintu dan betapa terkejutnya mendapati Nadia yang tampak kacau di bopong oleh Jonathan.


"Nad?" Gibran langsung mengambil alih Nadia dari Jonathan tanpa memperdulikan kondisi fisiknya yang masih lemah, ia memapah Nadia yang menahan sakit akibat kecelakaan yang baru dialaminya.


"Ibu jatoh bang." Jelas Jonathan mengikuti keduanya masuk dalam rumah.


Gibran mendudukan Nadia di kursi memeriksa tubuh gadis itu yang tampak menutup mulut rapat.


"Jatuh gimana?" Tanyanya tidak mengerti.


"Sepertinya rem motor blong." Jelas seorang lagi yang juga ikut mengantarkan Nadia pulang ke rumah. Gibran melihat keluar rumah dan wajahnya mendadak pias mendapati motor yang seharusnya tidak berada disana tampak pecah di beberapa bagian depan.


"Itu motor tidak ada remnya Nadiaaa, kenapa di pake? Kam--Ya Tuhan." Gibran tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nadia. Bisa-bisanya ia mengendarai motor yang selama ini sudah kandangkan dan bahkan remnya sudah tidak berfungsi lagi. Gibran tidak sanggup membayangkan kejadian yang lebih buruk lagi daripada ini. Tiga jahitan di kakinya sepertinya tidak membuat anak bandel di depannya ini kapok.


"Bang, jangan dimarahi kasian ibu." Ujar Jonathan memberanikan diri menyela. Ia tidak tega melihat Nadia yang tampak ketakutan berada dibawah tatapan tajam Gibran yang terkenal sebagai 'Hitler' dimata para juniornya. Badan gadis itu bahkan sampai gemetar, merapat di sandaran kursi.


Gibran lantas menarik nafasnya kasar. Percuma juga marah kalau besok-besok Nadia tetap melakukan hal yang sama. Kekhawatirannya setiap kali jauh dari gadis ini tentu saja bukan tanpa alasan karena setiap tindakan Nadia bisa sangat berakibat buruk baik bagi orang lain maupun bagi gadis itu sendiri. Gibran pikir setelah masuk SMA bisa semakin dewasa mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Memahami setiap maksudnya yang melarang gadis itu melakukan ini itu bukan karena ingin membatasi tapi karena ia khawatir hal buruk terjadi seperti pagi ini contohnya.


"Ambilin obat, Jon."


Tanpa bertanya Jonathan berlalu je ruang tengah mengambil kotak obat yang sudah ia hafal tempatnya.


Gibran mengangkat wajah Nadia, menyelipkan rambut gadis itu di belakang telingannya. Ada luka lebam di atas tulang pipinya yang mulai mengungu. Di keningnya tepat diatas matanya terdapat luka gores yang mungkin saja terkena aspal atau sesuatu benda yang cukup tajam. Sementara siku dan lutut Nadia yang tidak tertutup tampak memerah dan sedikit kotor akibat terserat diatat aspal. Gibran menatap gadis di depannya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kecemasan dan kemarahan disana membuat Nadia semakin menciut di buatnya.


"Ini, bang."


"Thanks, Jon. Kalian berdua boleh pulang. Terima kasih sudah mengantar Nadia."


"Sama-sama, bang. Kabari kalau ada apa-apa."


"Iya."


Gibran mengantar kedua tamunya sampai di depan pintu. Setelah Jonathan dan rekannya pergi, ia menutup pintu dengan rapat.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya datar. Tatapannya tajam pada gadis yang tengah menunduk di depannya. "Sehari saja, Nad, SEHARI. Bisa tidak kamu berhenti membuat ulah? Kenapa makin hari kelakuan kamu makin tidak terkontrol? Membolos, bertengkar, kabur dari rumah, dan sekarang naik motor. Ini isi kepala kamu apa Hah? Om kan sudah bilang, jangan bawa motor, tapi kamu bukannya mendengar malah niat sekali membuat semua orang menjadi repot." gibran menghela nafasnya kasar, kedua tangannya berkacak pinggang.


"Nad cuma--"


"MENJAWAB LAGI!!! Masuk kamar mandi, bersihkan luka kamu!" Perintah Gibran keras membuat nadia langsung bergegas meninggalkan ruangan itu menuju kamar mandi. Lukanya bahkan belum kering dan terasa begitu perih tapi Gibran sama sekali tidak memiliki empati untuknya. Nadia mengapus airmata yang jatuh tanpa disadarinnya di pelupuk matanya. Ia hanya ingin membeli obat untuk Gibran tapi laki-laki itu bahkan tak mau mendengar alasannya kenapa ia nekat keluar rumah mengendarai sepeda motor. Ya lagipula, bukan orang dewasa kalau tidak berlaku sok paling benar dan superior.


"Sssssshhh... " Nadia menggigit bibir bawahnya menahan perih saat air dingin mengenai kulitnya yang terluka menghadirkan rasa yang menyakitkan hingga ketulangnya. Luka yang dialaminya sekarang sebenarnya tak seberapa jika dibandingkan dengan luka yang biasa ia dapat di sekolah setelah bertengkar dengan orang-orang yang menjadi musuhnya. Ia bahkan pernah luka hingga mendapat tiga jahitan di paha nya saat ia mencoba kabur dari kejaran guru piket melewati jendela yang sudah ia pecahkan sebelumnya. Tapi lukanya kali ini benar-benar terasa lebih menyakitkan terlebih karena sikap kejam Gibran pada dirinya.


Setelah membersihkan lukanya dengan air bersih, Nadia beranjak kembali ke ruang tamu untuk mengambil kotak obat tapi ternyata Gibran sudah menunggunya di atas sofa dengan tatapan laser seolah mampu menembus kotak plastik di depannya.


"Duduk!" Gibran menepuk sofa di sampingnya meminta Nadia untuk duduk namun merasa terancam dengan tatapan kelam Gibran, Nadia malah mundur, menghindari jangakuan Gibran.


"Nad bisa sendiri." Tolaknya. Ia berdiri kaki di ujung sofa tak mau melihat Gibran. Lelaki menyebalkan di depannya ini tak memiliki hati sama sekali. Istri kecelakaan bukannya di rawat dengan baik malah di perlakukan semena-mena. Memangnya dia mau mengalami semua ini? Tidak. Nadia membenci darah, jadi kalau bukan karena ketidaksengajaan ia tidak akan mungkin menjadi bodoh dengan menabrakkan diri di trotoar. Ah, dasar kambing si*lan. Seharusnya ia bisa menghindar kalau saja tidak ada kambing yang tiba-tiba menyebrang. Kalau dia sudah sembuh, ia akan pastikan kambing itu berakhir di meja makan.


"Sini!"


"Gak!"


"Nadia!"


"Apa? Nadia bisa sendiri. Sudah cukup Nad merepotkan orang." Nadia membalas tatapan Gibran dengan wajah jutek setengah m*ti. Ia sadar diri, sesadar-sadarnya bahwa dirinya hanyalah manusia tidak berguna yang hanya bisa merepotkan orang lain tapi mendengar itu langsung dari Gibran membuat perasaannya terluka. Mungkin saja Gibran tidak bermaksud mengatakan hal itu tapi tetap saja mendengarnya membuat hatinya tercubit. Ia pun tidak ingin hidup untuk merepotkan siapapun tapi apa yang bisa ia katakan jika takdir berkata demikian. Nadia ingin hidup sebagai gadis remaja normal, memiliki ayah ibu yang melindunginya, menjalani masa sekolah yang menyenangkan, dan menggapai impiannya untuk menjadi seorang penjelajah tapi ia bisa apa saat takdir merampas ayah dan ibunya, ia tak punya kuasa menolak saat diusia mudanya harus mengambil peran sebagai seorang istri parajurit dan akhirnya harus rela melepaskan impiannya menjadi seorang penjelajah. Dulu ia akan mengutuki nasibnya tapi keberadaan Gibran disampingnya mampu meredam semua itu tapi ketika tadi mendengar Gibran mengatakan dirinya merepotkan, jelas mengambil habis semua kepercayaan dirinya.


"Nadia, jangan membuat Om marah. Sini, duduk!"


"Gak perlu. Nad bisa sendiri." Ia menggeleng cepat. "


Merasa kesal dengan kekeras kepalaan Nadia, Gibran lalu menarik paksa gadis itu untuk duduk.


"Jangan keras kepala."


"Ck! Gak mau!" Nadia menepis kasar tangan Gibran yang mencoba mengolesi keningnya dengan obat merah. "NAD GAK MAU!" Ujarnya tajam. Matanya memerah menahan tangis yang siap meledak.


Tidak menghiraukan penolakan gadis itu, Gibran mencapit dagu Nadia dengan jari-jari panjangnya menahannya agar tidak bergerak.


"DIAM!"


"Nad gak ma-hmmmmppp!" Nadia berusaha mencakar badan Gibran yang kini mengunci mulutnya dengan bibirnya, mengais sisa pasokan udara yang tertahan.


Gibran yang kalut tak memperhatikan Nadia hingga tanpa sadar melukai bibir Nadia dengan ciuman kasarnya.


"Hiks Om jahat." Nadia menatap Gibran dengan mata berkaca-kaca saat laki-laki itu melepaskan ciuman kasarnya menciptkan sedikit jarak diantara keduanya.


Gibran mengerjap menyadari tindakannya yang sudah keterlaluan. Kekhawatirannya, ketakutannya, dan kekeraskepalaan Nadia membuat setan di kepalanya bekerja dengan begitu mudah menghancurkan akal sehatnya sehingga lagi-lagi menyakiti gadis itu dengan sikapnya yang berlebihan.


Nadia menyentuh bibirnya yang terasa kebas. Sesuatu yang asin terasa, berasal dari luka kecil dibibirnya karena pagutan Gibran yang terkesan kasar dan terburu-buru.


Gibran lantas melepaskan cengkeramannya lalu membawa gadis itu dalam pelukannya "Sorry. Om nyakitin Nad lagi." Ujarnya menyesal.


"Nad benci Om." Nadia berucap lirih. Tatapannya kosong, hangat yang biasa Gibran tawarkan kini terasa sedikit membuatnya menggigil. Tak pernah sebelumnya ia berpikir Gibran akan melakukan hal sampai sejauh ini padanya. Apa kesalahannya begitu besar sampai ia harus mengalami perlakuan yang buruk ini?


"Nad mau pulang ke rumah besar." Lanjutnya tanpa emosi. Kedua tangannya yang biasa mencengkram kerah baju atau jaket Gibran kini terkulai saling menggenggam dengan erat.


"Tidak ada yang boleh keluar dari rumah ini tanpa izin."


"Nad benci Om. Om dengar itu?"


"Dengar."


Nadia menggigit bibir bawahnya menahan tangis tapi--" Om lepasin Nad. Biarin Nad pergi."


"Tidak ada yang akan pergi Nad." Gibran mengeratkan pelukannya di tubuh ringkih itu.


"Om janji akan jagain Nad tapi hari ini Om nyakitin Nad." Nadia menarik kasar badannya dari kungkungan Gibran yang tidak bersiap sama sekali.


"Nad--" Gibran berdiri hendak meraih Nadia yang berjalan mundur.


"Nad takut sama Om. Nad ngerepotin orang lain terus. Nad gak mau hidup seperti ini. Tolong lepasin, Nad."


"Nad--please, Om khilaf. Om tidak bermaksud--"


"Disini sakit Om." Nadia menunjuk dadanya. Airmatanya mengalir begitu deras "Nad boleh kan ngajuin pendapat? Nad manusia Om bukan boneka kesayangan Om yang bisa Om apain aja. Nad punya perasaan." Ujarnya pilu. Di depannya Gibran tampak diam mendengarkan.


"Nad tersiksa sama Om?" Tanyanya kemudian.


Nadia yang tidak siap mendapat pertanyaan seperti itu diam membisu. Iya tidak tersiksa tapi terkadang ia merasa keberadaannya hanya menjadi masalah untuk Gibran dan benar saja kan, Gibran mengatakannya sendiri bahwa ia harusnya berhenti membuat orang lain repot.


"Ayo jawab! Om akan mengabulkan permintaan Nad." Ujar Gibran datar dan dingin. Gadis di depannya tampak membalas tatapannya gusar. Gibran sudah berjanji membahagiakan Nadia jadi kalau status mereka hanya membuat gadis kecil itu terluka dan merasa buruk, ia akan melepaskannya sebab kebahagiaan Nadia adalah segalanya untuknya. Walaupun pada akhirnya ia harus kehilangan gadis itu sebagai istrinya.


"Nad--"


"Katakan saja. Om janji akan mengabulkan kemauan Nad jika itu yang membuat Nad bahagia."


"Om mau ngelepasin Nad?" Tanya Nadia dengan suara bergetar. Iya berdiri gelisah, membayangkan jauh dari Gibran, apa ia sanggup menjalaninya?!


"Kalau itu yang bisa membuat Nad bahagia."


"Om mau ninggalin Nad?"


Gibran terenyuh, ia menatap lantai keramik dengan banyaknya penyesalan dalam mata itu.


"Kalau Nad bahagia." Katanya mengurai senyum tipis.


Nadia menggeleng "Om udah lama kan nunggu ini? Om mau ninggalin Nad. Nad nyusahin kan Om makanya Om mau lepasin Nad?" Tudingnya.


Gibran mendongak, "Bukannya Nad yang minta?"


"YA TERUS HANYA KARENA NADIA MINTA OM IYAIN GITU AJA?? OM GAK ADA USAHA MAU NAHAN NAD?" Nadia menatap Gibran terluka, "OOOOOM!!!" teriaknnya saat Gibran hanya bergeming di depannya.


"Om tidak akan mempertahankan orang yang tidak mau di pertahankan."


***


Maaf yesss lama, bu guyuuu padat jadwal. hiihiii maafin kealayan ini 😂😂😂