Little Persit

Little Persit
Jarak dan Waktu



Kesibukan Bandara Soetta menyambut Nadia dari perantauannya. Keramaian mengingatkannya bahwa kini ia sedang memijak pulau yang berbeda dari sang suami. Ada perasaan tidak tenang untuk meninggalkan sumber kebahagiaannya tapi melihat Gibran tanpa merasa sakit untuk saat ini bukanlah hal yang mudah. Nadia bukannya tidak bisa memaafkan Omnya itu tapi hatinya terluka dituduh untuk sesuatu yang tidak pernah ia lakukan belum lagi sampai keluar keinginan laki-laki itu menyakiti fisiknya meskipun pada akhirnya dapat di cegah oleh Lucas. Nadia tidak menyangka seseroang yang menjanjikan perlindungan untuknya, seseorang yang akan selalu ia cari dalam kesulitannya adalah orang yang sama yang lagi-lagi menyakitinya. Nadia memutuskan mengambil jarak memastikan bahwa perasaan yang mereka miliki satu sama lain benar-benar cinta bukan semata perasaan nyaman karena terbiasa bersama. Nadia butuh meyakinkan hati bahwa Gibran bisa mencintainya sebagai seorang wanita. Melihat dari perlakuan Gibran selama ini, selain sex tidak ada yang berubah sama sekali. Karena menurutbya di mata Gibran dia tetaplah Nadia yang tidak memiliki hak untuk membela diri. Dia tetaplah Nadia si pembuat onar bukan seorang teman hidup untuk berbagi keluh kesah, suka dan duka.


"NADIAAAA WOIIIIIII!!!"


Nadia yang jalan dengan kepala menunduk, mendongak. Di depannya berdiri tiga sahabatnya dengan banner besar bertuliskan 'WELCOME HOME GIRL'-- yang membuatnya harus menyembunyikan wajah di balik topi brigif Gibran yang ia ambil diam-diam karena teriakan ketiga cewek bar-bar itu yang super toa menarik perhatian orang-orang.


"Gak ada lagi kalimat yang lebih nistain gue? Asem lo pada--Aw awww bayi gue kampreeet." Nadia memukul tiga sahabatnya yang menghimpit calon bayinya. Duh, baru juga nyampe udah rusuh aja.


"Sorry, gak sengaja, Nad." Gendis mengangkat kedua tangannya menjauh.


"Iya, kesenangan kami sisss." Sambung Aleksis merenggangkan pelukannya.


"Beneeeerr...kangen tauuuuuk" Sandra si pipi cabi memeluknya dari belakang.


Nadia memutar bola matanya sebal mendengar pembelaan ketiga cewek bar-bar itu "Bisa aja ni mulut comberan."


"Om Gi mana?" Sandra melepaskan pelukannya di perut Nadia yang celingak-celinguk mencari Om-om favoritnya yang tak kelihatan sejak Nadia keluar.


"Gak ikut. sibuk." Ucap Nadia malas-malas. Gendis yang paling peka menyentuh bahunya.


"Berantem lagi ya?" Tanyanya.


Nadia menghela nafas pendek, "Sejak kapan gue sama Om bisa hidup akur? Gak ada tuh."


"Gak ada tapi sampe hamil gitu. Gimana kalau akur." Cibir Sandra yang langsung mendapat delikan tajam dari Nadia. Sandra menyengir mmengangkat kedua jarinya. Peace.


"Langsung balik nih kita?" Tanya Gendis menyeret koper Nadia diikuti ketiganya.


"Balik ya. Gue capek bangat. Besok ketemu kan?" Nadia melepas topi yang ia pakai lalu menyelipnya dalam tas punggung kecilnya. Wangi Gibran tertinggal semua mencetak senyum miris di wajah Nadia. Baru juga beberapa jam ia sudah rindu saja. Semoga saja ia sanggup, tidak berlari dalam pelukan laki-laki itu dalam waktu dua puluh empat jam ini.


"Kalian gak ada apa-apa kan?" Aleksis yang menyadari kediaman Nadia menegur sahabatnya itu. Nadia tersenyum tipis lalu menggelang. Bagaimanapun ia harus belajar menyelesaikan masalahanya sendiri, sahabat-sahabatnya tak perlu tahu apa yang terjadi dalam rumah tangganya karena Nadia tahu Sandra cs tidak akan segan-segan menyusul Gibran di Papua sana jika tahu apa yang suaminya itu lakukan padanya.


"Gue kecapean aja." Ujarnya bohong. Dielusnya perutnya dengan lembut. Semoga saja perjalanan panjang ini tidak menyakiti calon bayinya.


"Kalau ada apa-apa cerita ke kita. Pasti kita bantuin sebisa mungkin. Iya kan gengs?" Timpal Sandra yang diangguki oleh Gendis dan aleksis. Nadia mengangguk senang.


"Terima kasih. Kalian yang terbaik." Ucap Nadia tulus.


***


Nadia membuka pintu kamar pinknya dengan lesuh. Sahabat-sahabatnya langsung pulang setelah mengantarnya ke rumah besar. Bibik dan Mbak yang sudah tahu kepulangan majikan mereka sudah menyiapkan makan malam untuk Nadia dengan segala pesanan dari Gibran mengenai menu sehat ibu hamil.


"Simpan aja kopernya, Bik. Nanti Nad beresin." Nadia menjatuhkan badannya diatas ranjang empuknya. Lama sekali ia tidak tidur di kamar ini. Kondisinya masih sama, bibik melakukan tugasnya dengan sangat baik. Nadia tersenyum lembut pada foto Bunda dan Ayahnya yang terpasang di dinding kamarnya. Hi Bun, ayah, Nad pulang.


"Non mau diambilin sesuatu?" Tanya Bibik setelah merapikan koper Nadia di dekat lemari.


"Gak usah, Bik. Nad istrahat bentar nanti lanjut mandi." Ucap Nadia melepas sweater di badannya yang lengket. Bibi mengangguk lalu minta izin keluar.


"Bik, tolong suruh mang ya buat beliin Nad susu buat ibu hamil." Pesan Nadia sebelum bibik menutup pintu kamar.


"Baik, Non."


Sepeninggal Bibik, Nadia melepas semua pakaian di badannya menyisakan tangtop dan celana setengah paha. Perutnya sudah membentuk dengan baik. Ia mengangkat tangtopnya untuk melihat langsung bentuk perutnya yang tidak rata lagi. Sebuah senyum sedih terbit di wajahnya. "Maafin Ibu ya dek, udah ngejauhin adek sama ayah. Ibu butuh berpikir jernih. Kalau sama ayah, Ibu gak bisa ngelakuinnya dengan bener. Maafin ya. Ibu janji akan lakuin yang terbaik buat adek."


Setelah bercakap-capak dengan calon bayinya, Nadia lalu beranjak dari ranjangnya. Langkahnya terhenti tepat di depan fotonya bersama Gibran, dimana laki-laki berseragam loreng itu tengah menggendong dirinya yang mengenakan seragam sekolah dasar dengan rambut hitam yang di kuncir dua. Mereka berdua terlihat seperti ayah dan anak yang saling menyanyangi. Hal itu menyentil hati kecil Nadia yang kembali mengingat status mereka sekarang yang kini sedang menanti kelahiran buah cinta--ah tidak, Nadia belum berani menyebut calon bayi mereka sebagai buah dari cinta sebab Nadia masih ragu akan cinta itu sendiri.


"Om, Nad harus apa? Nad bingung sekarang." Dielusnya wajah Gibran dengan penuh perasaan. Jika keadaan terus seperti ini, ia tidak akan sanggup melanjutkannya. Bukan karena dirinya yang takut terluka tapi Gibran, Omnya harus bahagia dan jika itu tidak bersamanya maka Nadia akan belajar untuk rela.


Cinta tak harus saling nemiliki kan?


***


Gibran keluar kamar menentang tas lorengnya. Hari ini ada latihan kebugaran untuk menjaga stamina para tentara yang berjaga di perbatasan dan dia diminta untuk memimpin. Saat akan keluar, ia menoleh ke belakang, biasanya Nadia akan mengikutinya sampai depan pintu lalu meminta di peluk dan akan dibalas istrinya itu dengan ciuman ucapan selamat bekerja. Sekarang rumah terasa kosong tanpa suara ocehan Nadia mengenai banyak hal. Jejak gadis itu bahkan tak tertinggal di rumahnya. Nadia membawa apa saja yang berhubungan dengannya. Hanya beberapa potong pakaian yang tertinggal di lemari membuat Gibran merasa kepergian Nadia tidak sementara. Dan ia tidak siap untuk itu. Nadia harus bersamanya tapi saat istrinya itu meminta waktu dan jarak dengan luka dimatanya, Gibran tak memiliki pilhan lain selain menyetujui.


Gibran kembali kedalam rumah lalu mengambil makanan ikan dan ditaburkannya dalam toples besar Nadia yang diisi oleh tiga ekor c*pang dengan nama yang lucu, Sasa, Gege, dan Ale. Tiga nama yang terilhami dari nama sahabat-sahabat istrinya itu.


"Kalian jangan berantem. Ibu kalian sedang tidak ada."Gibran mengetuk toples kaca itu saat menyadari kebodohannya mengajak ikan bicara. Ia terbiasa melihat Nadia melakukan itu dan mulai terbiasa untuk melakukannya juga. Setelah memberi makan trio cup*ng, Gibran bergegas keluar rumah untuk memulai tugasnya tiga hari ke depan.


"Ibu pulang kampung, Bu. Ada urusan." Jawab Gibran tersenyum tipis.


"Adooh sayang eee. Lama kah? Sa ada buat acara ini tapi tidak ada ibu, peleeee." Bu Katarina berujar kecewa. Ia sudah merencanakan mengajak Nadia mencoba makan sagu dan kuah kuning, pasti tetangganya itu belum pernah mencoba.


"Mengurus sekolahnya, Bu." Ujarnya pendek. Bu Katarina mengangguk maklum.


"Oh begitu. Sa kira Ibu mau pulang lama." Bu katarina manggut-manggut "Eh Silahkan, pak. Lanjut sudah." Bu Katarina mempersilakan Gibran untuk lewat. Laki-laki itu mengangguk samar lalu mengucapkan permisi.


Gibran melanjutkan langkahnya menuju kantor yang tak jauh dari asrama mereka. Ia berhenti saat seseorang berhenti di depannya, Sabrina. Wajah Gibran berubah kaku tiba-tiba.


"Pak Gibran, saya--" Sabrina menyelipkan rambut di belakang telinga dengan gugup. Ini kesempatannya untuk dekat dengan Gibran. Si kecil si*lan itu sudah ditendang jauh.


"Ada apa?" Tanya Gibran dingin. Tatapannya tajam menyorot Sabrina yang tidak ada beban sama sekali setelah mengacaukan rumah tangga oranglain.


"Soal kemarin, saya mau berterima kasih karena bapak sudah membela saya. Saya benar-benar tidak menyangka ibu bisa melakukan itu pada saya padahal saya hanya--"


"Membela? Maaf, tapi saya sama sekali tidak membela anda. Saya hanya khawatir dengan istri saya yang sedang hamil." Ujar Gibran datar. Kesalahannya adalah tidak bisa menahan diri melihat Nadia berlaku kasar karena image Nadia yang sudah di pandang buruk sebagai istri yang berselingkuh akan semakin parah jika ia berkelahi dan mengucapkan kata-kata kasar. Gibran tidak mau itu terjadi.


"Tapi kemarin bapak--"


"Dan tolong jangan menyebar kabar bohong apapun tentang istri saya. Apapun yang anda lakukan, tidak akan pernah mengangkat derajat anda dimata saya." Potong Gibran tajam. Lalu tanpa menunggu, ia bergegas meninggalkan Sabrina yang menatapnya kesal.


"Tunggu saja. Kamu akan menjadi milikku segera." Desis Sabrina, ia menghentakan kaki kesal kembali masuk ke dalam rumahnya.


.


.


.


"Belum ada kabar dari Ibu, Kapten?"


Gibran meneloh pada Robi, nasi bungkus di depannya belum tersentuh sama sekali. Ini hari ketiga Nadia pergi dan belum ada kabarpun yang dari istrinya itu. Selama berada di camp yang ada di sekitaran distrik arimop, lokasi pelatihan, Gibran memantengi terus hpnya, bahkan bisa dibilang membangun tenda di dekat kantor distrik demi menunggu Nadia mengiriminya pesan. Tapi sampai sekarang saat ia akan kembali ke asrama, Nadia sama sekali tidak menelfon, menchat bahkan status di Ig dan WA pun tidak ada. Gibran sudah mengiriminya pesan disetiap akun sosmed Nadia tapi tidak ada respons sama sekali. Chat Wa nya pun tidak di read oleh istrinya.


Gibran menggeleng "Kesalahan saya sangat besar." Ujarnya menghela nafas berat. Ia menjumput nasi di tangannya, akhir-akhir ini ia jarang sekali makan. Semua orang menjadi khawatir termasuk Robi, si junior yang belakangan ini dekat dengannya.


"Ibu mungkin mengurus sesuatu, Kapt." Robi berusaha memberikan pandangan positif. Ia tidak tahu jelas karakter Nadia tapi seperti istri kaptennya itu memiliki gengsi yang tinggi sama persis dengan sang kapten.


"Mungkin. Tapi memberi kabar seharusnya tidaklah mengganggu." Ucap Gibran tersenyum miring. Nadia tidak pernah seperti ini sebelumnya. Sekesal apapun gadis itu padanya tetap akan mengiriminya pesan walaupun itu hanya berupa omelan atau emot mengejek tapi kali ini, apa kesalahannya benar-benar sudah sangat fatal?


"Mungkin Ibu sedang bersama teman atau mungkin--"


Gibran berdiri cepat, ia baru ingat. Teman. Sebuah senyum lega tersungging di wajahnya. Kenapa ia tidak kepikiran soal itu, ada Sandra Cs yang bisa membantunya mengetahui kabar Nadia. Gibran meninggalkan makanannya bergegas ke kantor distrik untuk mencari tahu keberadaan gadis kecilnya. Robi yang melihat antusias kaptennya hanya melongok, Bucin mode on. Batinnya.


Gibran baru akan menghubungi Sandra saat sebuah foto masuk di hpnya.



Do you miss her?


Sebuah pesan singkat menyertai foto Nadia yang tengah berpose menggunakan baju--no bukan baju, kemben-- yang terlihat sanga seksi--what the h*ll??? Apa-apaan ini? Dimana perut istrinya? Ia yakin foto ini foto terbaru melihat dari baju Nadia yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Tentu saja ia tidak akan membiarkan Nadia membeli baj--argh, kain si*lan ini bahkan jika diberi potongan harga seratus persen. Mata Gibran menggelap saat menscroll di bawah dan foto-foto Nadia lainnya di sebuah bangunan asing masuk menyusul dengan pesan yang semakin memprovokasi Gibran.


Om, ada yang CLBK.



Siapa laki-laki ini? Gibran mengepalkan tangannya kesal melihat foto Nadia dengan seragam SMA-nya tampak di rangkul mesra oleh seorang anak laki-laki. CLBK? Heh, my ***. Gibran memukul dipan tempatnya duduk.


BUGH!!


Gibran langsung menekan ikon telfon berwarna hijau, memanggil Sandra. Ponsel salah satu sahabat istrinya itu bunyi tapi tidak diangkat. Gibran semakin kesal setelah mencoba beberapa kali tak ada satupun teman Nadia yang mengangkat telfonnya. Chatnya hanya di read tanpa ada tanda-tanda pesan tersebut akan di balas. Anak-anak nakal!


***