Little Persit

Little Persit
Bunga hidup untuk Om Gi



Nadia berlari kecil melewati halaman rumahnya yang tak seberapa luas. Langkahnya terhenti saat melihat beberapa jenis bunga yang ditanam Gibran mulai bermekaran di taman kecil rumah hijau mereka. Senyum cerahnya tersungging di bibir tipisnya. Sebentar lagi halaman rumahnya akan dipenuhi dengan bunga-bunga cantik yang banyak. Setelah puas menikmati pemandangan cantik itu ia langsung bergegas masuk dalam rumah mendobrak pintu begitu saja.


"Om Giiiiiii" Nadia berlari menerjang Gibran yang tengah duduk di ruang tengah menonton televisi.


"Jangan lari-lari." Tegur Gibran, melepaskan belitan tangan Nadia di lehernya.


Sudah satu minggu ia keluar dari rumah sakit dan sudah seminggu itu juga Nadia kembali beraktifitas normal seperti biasa. Awalnya Nadia tidak mau masuk sekolah, berdalih ingin merawat Gibran di rumah tapi karena Gibran memaksanya akhirnya dengan berat hati ia menuruti perintah suaminya yang belum pulih itu. Untuk ukuran orang yang sempat sekarat, Gibran termasuk pasien yang pemulihannya cukup cepat. Nadia menyewa langsung dokter ahli untuk merawat Gibran memastikan laki-laki itu mendapatkan penanganan terbaik. Money can make it aesier. Begitulah uang bekerja dan Nadia sangat bersyukur ia dilahirkan sebagai bagian dari keluarga besar Gaudia.


"Om sudah makan?" Nadia duduk disamping Gibran menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. Satu kecupan lembut ia layangkan di pipi Gibran yang tampak tirus.


"Sudah. Nad?"


"Sudah dong kan harus minum vitamin." Katanya bangga.


Gibran terkekeh mengacak puncak kepala Nadia "Ganti baju gih. Bau matahari kamunya. Itu sepatunya juga jangan lupa simpan di rak."


Nadia memutar bola mata malas namun tak ayal senyum lebar mengulas di bibirnya. Gibran mulai cerewet dengan aturannya berarti laki-laki ini sudah hampir benar-benar pulih.


"Bentaaar. Nad masih mau meluk om." Nadia mengeratkan belitannya di lengan kanan Gibran. Laki-laki itu terkekeh, mencium punggung tangan Nadia yang menggenggam jari-jarinya erat.


"Gimana adek bayi? Nyusahin Nad?" Tanyanya. Tangan kirinya yang bebas mengelus perut Nadia lembut.


"Enggak, Om. Hari ini Nad gak mual di sekolah. Keren kan?"


"Keren bangat." Gibran mengacungkan jempolnya.


"Tapi Om, perut Nad kok gak besar-besar ya. Biasa aja gitu." Nadia mengungkapkan keheranannya. Bukannya ibu hamil itu perutnya besar ya, kenapa dia biasa saja Malah tetap langsing seperti tidak sedang hamil.


"Belum aja Nad. Baru dua bulan kan."


"Gitu ya? Padahal Nad udah siapin seragam gede buat jaga-jaga." Ujar Nadia membayangkan dirinya dengan seragam ukuran XL yang sudah ia siapkan bersama ketiga sahabatnya dua hari lalu.


"Simpan aja. Nad mandi lah. Supaya seger badannya." Gibran melepaskan belitan Nadia memaksa calon ibu muda itu berdiri.


"Iya ah, Nyebelin bangat deh. Masih mau meluk juga." Ia menghentakkan kaki kesal masuk dalam kamar setelah meletakkan sepatunya dengan rapi di rak sepatu.


"Buku-buku Nad juga di rapiin. Kaos Om yang Nad pake masukin semua ke mesin cuci."


"IYA BAWEL!"


Gibran terkekeh mendengar gerutuan panjang Nadia. Selama berada dalam hutan hampir tiga minggu, gerutuan dan teriakan persit kecilnya itulah yang membuat ia berusaha untuk terus hidup. Keinginan mendengar suara Nad, melihat senyum dan cemberut si kecil itu memberikan ia alasan untuk hidup melawan cuaca yang tak menentu, mencari cara untuk menghindari binatang buas dan harus rela memakan daging ular untuk bertahan hidup. Semua itu dia lakukan demi janjinya untuk pulang menemui Nadia.


Gibran melirik lengan tepat di bawah ketiaknya, ada luka bekas jahitan yang cukup panjang dan dalam. Luka itu ia dapatkan saat melompat keatas pohon menghindari kejaran kucing hutan. Saat itu ia pikir hidupnya akan berakhir namun dalam ketidakberdayaannya bayangan Nadia yang harus kembali merasakan kehilangan yang sama membuat ia berusaha untuk tetap terjaga hingga pada akhirnya Tim Resque menemukannya setelah sekian lama mencari.


"Om mau di masakin sesuatu gak?" Kepala Nadia muncul dari arah dapur.


"Nad bisa masak?"


"Enggak."


"Terus?"


Nadia menyengir lebar "Nanya aja." Ia kembali menghilang masuk ke dalam kamar mandi. Ada-ada saja.


Gibran beranjak dari sofa saat mendengar suara seseorang memberi salam.


"Dokter?"


Elsa tersenyum lembut membawa sekeranjang buah di tangannya.


"Masuk, Dok." Gibran membuka pintu lebar-lebar memberi jalan masuk untuk tamunya.


"Silahkan duduk."


"Terima kasih, bang." Elsa meletakkan keranjang buahnya diatas meja "Untuk abang dan Nad."


"Makasih, Dok."


"Sama-sama. Gimana keadaan abang? Luka-lukanya sudah kering?"


Gibran mengangguk "Sisa yang di punggung Dok. Sepertinya lukanya cukup dalam makanya agak lama penyembuhannya."


"Perbannya sudah di ganti?"


"Belum. Kata dokter sore ini. Mungkin sebentar lagi." Jawab Gibran.


"Atau Elsa aja yang gantiin?"


Gibran menggeleng "Tidak usah, Dok. Terima kasih." Tolak Gibran lembut. Ia tahu dokter Elsa berniat baik untuk menolongnya tapi Gibran tidak mau mengambil resiko melihat Nadia menangis diam-diam semalaman. Ia masih ingat jelas kejadian minggu lalu saat dokter pribadinya berhalangan datang, Elsa yang kebetulan ada disana menawarkan diri untuk membersihkan luka di bagian dada Gibran. Lalu malamnya Gibran mendengar Nadia terisak diam-diam. Gibran baru tau penyebabnya saat ia melihat tatapan tak suka Nadia pada Elsa untuk kedua kalinya saat dokter itu menawarkan diri merawat Gibran. Ternyata hormon kehamilan Nadia membuat gadis kecil itu menjadi lebih sensitif dan keposesifannya meningkat berkali-kali lipat. Bahkan Bibik yang merupakan wanita tua yang sudah lama bersama mereka di minta pulang ke rumah besar pasalnya Gibran lebih banyak tidak memakai bajunya saat di rumah dan Nadia tidak rela berbagi dengan yang lain.


"Nad belum pulang?" Tanya Elsa kemudian.


"Lagi mandi." Jawab Gibran singkat. "saya mengucapkan terima kasih banyak sama dokter dan keluarga karena sudah peduli pada Nadia selama saya tidak ada."


"Jangan sungkan, Bang. Nadia adalah keluarga abang berarti keluarga kami juga." Ucap Elsa tulus. Cintanya pada laki-laki di depannya ini masih sebanyak dulu tapi bagaimanapun menyimpannya, Gibran tetap tidak akan pernah memilihnya terlebih saat ini Nadia sedang mengandung, kemungkinan untuk bersama Gibran semakin tipis. Perlaham ia akan melepas perasaannya. Ia tak bisa menyalahkan Gibran karena laki-laki itu sepertinya memang tak pernah menyimpan perasaan lebih untuknya. Tapi meskipun demikian, Elsa akan tetap membiarkan perasaannya pada Gibran sampai kemudian ada seseorang yang mungkin akan mengajarinya untuk lupa.


"Terima kasih." Ucap Gibran tulus. Gibran tahu betul wanita baik di depannya ini terluka karena dirinya oleh karena itu selain mendoakan kebaikan Nadia dan bayinya, ia selalu menyebut Elsa dalam doanya memintakan pada Allah agar wanita berhati malaikat ini diberikan jodoh yang terbaik sebaik Elsa.


"Ada tante Elsa" Nadia muncul dengan rambut di gulung handuk. Nadia tampak lucu mengenakan baju kaos kebesaran milik Gibran yang hampir menenggelamkan dirinya.


"Iya, Nad apa kabar?" Elsa tersenyum lembut pada istri orang yang dicintainya itu. Ia bisa melihat begitu banyak cinta di mata Gibran untuk Nadia. Tatapan penuh cinta yang tak akan pernah ia dapatkan dari laki-laki itu.


"Baik, Tante." Nadia tersenyum kaku. Ia masih memandang Elsa sebagai saingan beratnya yang sewaktu-waktu akan mengambil Om Gibrannya. Nadia duduk di samping Gibran membawa tangan besar itu dalam kuasanya.


"Adek bayinya?" Tanya Elsa lagi.


"Sehat. Nanti mau di periksa lagi sama dokter" Terang Nadia.


"Alhamdulillah. Tante bawain buah, Nad makan buah yang banyak. Bagus untuk bayinya."


Nadia mengangguk "Makasih tante." ujarnya tulus.


"Sama-sama. Oh ya, Elsa gak bisa lama-lama, sore ini harus balik ke lokasi penelitian." Elsa mengambil tasnya dan menyampirkannya di bahu.


"Iya. Yang kemarin itu."


"Wah seru. Nad pengen kesana lagi. Salamin sama anak-anak ya, Tan."


Elsa mengangguk sembari tersenyum lembut "Pasti. Kalau Nad dan Bang Gibran sempat, main-mainlah kesana." Ajak Elsa yang langsung disambut heboh oleh Nadia.


"Iya ya, Om. Kita main kesana." Nadia mengguncang lengan Gibran.


"Iya, nanti kita kesana kalau kandungan Nad udah kuat."


"Asiiiiiik."


Gibran dan Elsa saling melirik, begitu mudahnya mengubah mood seorang Nadia Gaudia Rasya.


***


Gibran melirik jam yang menempel di dinding untuk kesekian kalinya. Nadia belum juga pulang sejak keluar selesai maghrib tadi. Istrinya itu meminta izin ke tetangga sebelah untuk mengambil perlengkapan rajut yang diberikan oleh Ibu ketua. Gibran mulanya berpikir ia salah mendengar saat Nadia menyebutkan nama Tante Agus pasalnya Gibran tahu betul bagaimana Nadia dan tetangga mereka yang satunya itu dulunya seperti kucing dan tikus tak pernah bisa akur. Tapi tadi Nadia bercerita mengenai Ibu Agus seolah mereka adalah sahabat karib yang berbagi banyak hal bersama. Sepertinya ia sudah melewatkan banyak hal selama berada dalam hutan tapi apapun itu Gibran sangat bersyukur Nadia akhirnya memiliki teman di kesatuannya setidaknya ia tidak akan mendengar lagi Nadia mengeluhkan tetangga yang katanya julid setiap sebelum tidur. Mereka bisa memanfaatkan waktu untuk melakukan hal-hal yang lebih menyenangkan ketimbang membicarakan tetangga mereka. Tapi sedang apa mereka? Kenapa Nadia lama sekali?


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam." Akhirnya pulang juga.


Nadia melongokkan kepala mengintip Gibran.


"Om Gi" Senyum gadis itu terlihat malu-malu. Gibran yang merasa aneh melihat Nadia yang seperti itu beranjak dari tempat duduknya.


"Lama bangat" Ucapnya menghampiri Nadia.


Nadia menyengir lebar. Ia berdiri tegak menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya "Nad punya sesuatu buat Om."


"Apa?" Gibran berdiri hanya selangkah di depan Nadia menatap gadis itu curiga.


"Om tutup mata dong."


"Gak."


Nadia berdecak "Ayolah Om. Om mau lihat kejutannya kan?"


Gibran menggeleng "Palingan kodok yang kamu bilang lucu-lucu itu."


"Ish, bukan kodok yang lucu om tapi keroppi." Protes Nadia tak terima. Ya walaupun inspirasi keroppi dari kodok juga sih tapi tetap aja beda.


"Ya udah apa?"


Nadia menghentakan kaki kesal "Makanya tutup mata."


Gibran mengela nafas pendek "Oke." Ia menutup matanya malas. Palingan Nadia mengerjainya lagi. Apa lagi kali ini, mungkin ulat bulu yang katanya suka teriak pucuk-pucuk atau---


"Taraaaaaaa!"


Gibran membuka matanya. Ia menaikan satu alisnya melihat apa yang sedang di pegang Nadia.


Bunga?


"Suka? Cantik kan? Masih segar-segar lho Om."


Gibran mengambil beberapa tangkai bunga yang ada di tangan Nadia "Bunga siapa yang Nad ambil?" Tanya Gibran yang langsung membuat wajah Nadia cemberut.


"Kok malah nanya itu sih. Kan Nad nanya, Om. Om suka bungannya?"


Gibran mengangguk "Lebih suka lagi kalau bunganya Nad biarkan hidup." Jawab Gibran mengulas senyum tipis.


"Ck. Nyebelin. Padahal Nad udah ambilin yang hidup, biar Om gak dapat bunga plastik palsu lagi." Gerutunya sebal.


Gibran terkekeh "Makasih Nad. Tapi Om sudah punya bunga sendiri. Cantik dan hidup."


Nadia mengernyit. Seingatnya bunga-bunga di halaman depan barusan mau mekar deh, bentukannya juga biasa yah walaupun yang namanya bunga tetap aja cantik sih.


"Mana?"


"Ini." Gibran menarik Nadia dalam pelukannya. Nadia yang tidak berpikir sejauh itu hanya bisa mengulas senyum malu-malu, merasakan pipinya mulai menghangat. Jadi dia bunganya Om Gibran? Kok manis sih.


"Bunga Om paling cantik, hidup dan bisa Om peluk dengan nyaman." Kata Gibran lagi. Ia melepaskan pelukannya pada Nadia lalu mendaratkan kecupan lembut di bibirnya. "Manis lagi." Lanjutnya semakin membuat Nadia tersipu-sipu.


"Asal gak ngoleksi banyak bunga aja." Nadia melarikan tangannya memeluk punggung Gibran. Perasaan hangat menyusup dalam dadanya. Inilah yang ia butuhkan, pelukan hangat dari Gibran yang memberikan kenyamanan yang luar biasa untuk dirinya.


"Gak lah. Om cukup punya satu bunga. Bunga Nadia Gaudia Rasya." Ujarnya mengangkat gadis itu dalam gendongannya. Nadia menahan pekikannnya, mengalungkan lengannya memeluk leher Gibran. Kedua pasang mata itu saling menatap dalam diam. Gibran tersenyum lembut, mendekatkan wajahnya mengecup dengan lembut bibir merah Nadia.


Ciuman keduanya cukup lama. Keduanya saling meluapkan rindu setelah sekian lama tidak bertemu. Nadia mengecup kening Gibran setelah Gibran melepaskan ciuman mereka.


"Kalau Nadia adalah bunganya Om. Nadia pasti bunga yang paling beruntung di dunia ini karena dimiliki seseorang yang hebat seperti Om."


Gibran terkekeh "Lagunya siapa itu?"


"Ish Om Giiiiii!!!" Nadia reflek memukul punggung Gibran membuat laki-laki itu meringis.


"Aduuuh maaf, Om. Gak sengaja." Nadia mengelus punggung Gibran panik. Gerakannya terhenti melihat kilatan jahil di mata Gibran.


"ISSSSH NYEBELIIIIN!"


***


"BUNGAKUUUUUUU!!"


Gibran terduduk mendengar teriakan dari rumah sebelah. Dia tertidur disamping Nadia di depan televisi seusai solat subuh. Teriakan tetangga sebelah benar-benar mengejutkan. Repetan itupun bahkan belum berakhir sampai sekarang, sepertinya Nadia sudah melakukan kesalahan. Ia menatap bunga yang disimpan Nadia dalam toples bening di samping tv. Sebuah helaan nafas pendek keluar dari mulutnya menyadari apa yang sudah terjadi.


"Dasar anak nakal." Ia mengecup pipi Nadia yang terlelap nyaman dengan wajah tak berdosanya. Sebuah senyum tipis tersungging di bibir wanitanya itu. Bunga dalam hidupnya.


***


Jangan di contoh si Nadia ya teman-teman. Kalau mau minta bunga tetangga pastiin udah izin jangan sampai di kutuk jadi bunga bangkai sama yang punya. hihi