
Nadia terbangun, merasakan sekujur tubuhnya remuk dan bagian intimnya terasa ngilu dan sedikit perih. Tatapannya menatap lurus langit-langit kamar yang temaram. Sebuah lengan kokoh diatas perutnya menyadarkan dirinya bahwa yang semalam benar-benar sudah kejadian. Tak tanggung-tanggung mereka melakukannya sampai beberapa kali. Sepertinya tidak mendapatkan pelampiasan beberapa waktu membuat laki-laki itu kehilangan kontrol. Nadia mengusap lengan Gibran yang memeluk perutnya erat. Omnya itu tidur dengan nyaman setelah mendapatkan pelepasannya berkali-kali. Nadia bahkan masih bisa mengingat jelas bagaimana bibir yang tak pernah menyentuh nikotin itu mencecap setiap inci kulitnya tanpa meninggalkan satu bagianpun bahkan semalam Nadia dibuat panik saat Gibran tak merasa jijik sama sekali melakukan itu di bagian intimnya. Bulu kuduk Nadia meremang mengingat bagaimana laki-laki itu memberikan pengalaman yang tidak pernah Nadia bayangkan sebelumnya akan mengalaminya.
"Hai," Suara serak Gibran menyapa indra pendengaran Nadia. "Jam berapa?" Tanyanya sembari menyerukkan kepalanya di leher Nadia, mengecup lama bagian cerukan di tulang selangka wanitanya itu.
"Setengah empat." Ujar Nadia menjauhkan sedikit wajah Gibran yang menggelitik lehernya.
"Om nyakitin Nad?" Tanyanya sembari mengeratkan pelukannya pada Nadia.
Nadia menggeleng "Kalau Nad hamil gimana Om?"
Gibran menghela nafas pendek, "Kita akan menghadapinya bersama." Ujarnya. Semalam ia tidak sempat memikirkan untuk memakai pengaman. Semuanya terjadi begitu saja dan tak bisa dihentikan oleh keduanya. Baik dirinya maupun Nadia tidak bisa menahan gejolak itu sehingga mengabaikan saran dokter, mereka melakukannya. Seharusnya ia lebih bisa menahan diri tapi siapa yang bisa tahan melihat sesuatu yang halal di depannya sedang menunggu untuk direngguh.
"Semuanya pasti baik-baik saja kan Om? Nad kan kuat." Nadia berbalik menyamping, membalas tatapan lembut Gibran padanya.
"Iya, Nad kuat. Pasti bisa jadi ibu yang hebat." Gibran mengecup kening Nadia lama. "Om perlu minta maaf nggak?"
Nadia menggeleng "Nggak usah Om." katanya, menyeruk mencari kehangatan pada Gibran. "Om semalam ngapain Nad sih? Itu apa gak jijik atau gimana?"
Gibran terkekeh "Kenapa? Nad mau lagi?"
IYA!
"Enggak. Nad cuma nanya." Ujar Nadia menggigit bibir bawah dengan gugup. Sensasinya memang beda tapi kan-- hih!!
Gibran mengulum senyumnya "Ayo tidur lagi."
"Kan masuk subuh."
"Jadi Nad mau ngapain?"
"Mmm-- YAK!!! O-ommppphhh"
"Once more. Biar genap."
Aseem si Om.
***
"Habis ngapain lo semalem? Ampe ketiduran di kelas, gak malu lo sama masa depan lo?" Sandra menjitak kepala Nadia yang lagi-lagi tertidur di meja kantin. Semalan ia begadang, sampe sebelum subuh dan lanjut setelah subuh, benar-benar tenaga kuda si Om. Tapi dianya juga mampu lho, hebat emang si Nad. Nadia terkekeh pelan sembari memejamkan matanya menikmati kesunyian tanpa adanya gangguan adik kelas dan para haters. See, UN memang sehebat itu membuat sekolah yang biasanya ada-ada saja siswanya yang berulah menjadi lebih tenang dan terkendali. Nadia jadi rindu hatersnya. Huhu kapan lagi mereka bisa meramaikan ruang BK ya?!
"Halo Nadia."
Apes. Baru juga mendapatkan ketenangan, si Jeremi sudah muncul saja.
"Jangan berisik jer, otak gue laki korslet gak bisa diajak damai."
"L-lo sakit? Sakit apa? Gue antar ke dokter mau?"
Nadia menggerem. Tolong siapapun singkirkan cowok cantik ini.
"Iya, Nad sakit denger lo ngoceh." Sandra menjawab. Ia juga sedang malas dengar ocehan, Ujian sekolah cukup membuatnya kelabakan, bukan karena dia rajin bangat mau bureng alias buru rengking, masalahnya uang jajannya terancam di potong kalau hasil ujiannya tidak memuaskan orangtuanya. Padahal dia sudah merencanakan liburan di paris, huhuhu.
"Lo jubir Nadia atau emang pengen bangat ngajak gue ngomong? Sorry ye Sand, gue gak doyan cewek macho."
Sandra menggeram.
Bruk!!!
"Si*lan!!! Ngatain gue macho, lo itu banci kaleng."
Jeremi melotot tajam "Lo mau bukti gue laki atau banci? Sini lo!!!" Jeremi hendak menarik tangan Sandra namun seseorang menahannya.
"Jangan ribut di tempat makan."
Suara itu? Nadia mendongak dan mendapati penjaga perpus bermata segaris sedang mencekal pergelangan jeremi.
Pak Junae--
"Pak Justin!" Gumam Sandra.
Nah, Justin. Nadia menumpukkan kedua lengannya diatas meja lalu meletakkan dagunya disana. Tontonan menarik.
"Bapak gak usah ikut campur!" Jeremi berusaha melepaskan cekalan justin di tangannya. Ckck siswa jaman sekarang gak ada sopan-sopannya sama orangtua, tidak seperti dirinya yang sopan sekali sama Omnya. Nadia mengomentari dalam hati.
"Lepaskan tangan kamu dari dia." Justin tak gentar meskipun di depannya seorang salah satu ahli waris yang tidak pernah sama sekali ada yang berani mengusiknya di sekolah bahkan kepala sekolah sekalipun. Backingan-nya kuat nih, batin Nadia lagi.
Jeremi menggeleng "Gak! Urusan gue sama ni cewek belum selesai."
Justin tersenyum miring "Urusan kita juga belum selesai!"
Wah, jago juga si Sandra, direbutin lho. Iseng Nadia mengambil hpnya lalu merekam adegan yang pasti laku keras di kelas. Dua cowok kece sedang memperebutkan cewek cantik otak setengah. Nadia terbahak memikirkan caption yang tepat untuk videonya. Eh, ngomong-ngomong si Sandra kenapa jadi batu gitu? Dikutuk sama emaknya atau gimana tuh? Nadia menurunkan hpnya mempause video rekamannya, menatap sahabatnya dengan kening bertaut. Waduh kampreeet, merona lho si ganjen. Nadia menutup mulut dengan tangannya, menahan tawanya yang siap menyembur. Mampuuus tuh cewek, kemakan omongannya dong. Nadia dengan cepat mengganti mode video menjadi kamera dan--
Click. Sempurna.
Nadia baru akan memulai videonya kembali saat melihat Jeremi melepaskan cekalannya dengan kasar "Awas lo!!" Tudingnya di wajah Justin yang terlihat tidak terganggu sama sekali. Pak guru bermata segaris itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Sandra yang terpaku di tempatnya dan Nadia yang masih setia menonton.
"Cieeeee!"
Sandra mengerjap, ia lantas menggaruk tengkuknya salah tingkah "Cie apaan lo?"
"Dih sewot. Biasa aja sis." Nadia memelet lalu mengangkat hpnya dan menunjukkan hasil karyanya. "Ada yang diam-diam suka dooong."
"GILAAAAK! HAPUS GAK?!"
"GAK! weeeeek!!!" Nadia bergerak cepat menghindar namun baru saja melangkah ia langsung meringis--
Ah, gara-gara si Om, dia jadi susah begini. Ngilu anjiiiiiir!!!
***
"Muka kamu kenapa banyak lipstiknya?" Gibran menyambut Nadia di depan pintu mobil dengan kening mengerut. Wajah cantik Nadia di penuhi coretan abstrak lipstik belum lagi rambutnya yang dikuncir aneh. "Habis main drama?"
Gara-gara Om. Batinnya kesal. Kalau karena ia tidak susah gerak, mana mungkin si Sandra menangkapnya, sampe pembalasannya ini dong di bikin video aneh. Kampreeet memang punya sahabat gila.
"Dicoretin Sandra." Lapor Nadia, kedua tangannya menyusup di pinggang Gibran yang tengah bertolak tangan. Laki-laki berseragam loreng itu tersenyum tipis.
"Masih sempat main juga." Ujarnya lirih. Untuk orang-orang yang sedang menghadapi ujian, Nadia dan teman-temannya sepertinya tetap tahu caranya bersenang-senang.
"Om kok wangi cewek sih? Habis mejeng dimana?" Nadia mengendus badan Gibran curiga.
Tuk!
"Aw!" Nadia memegang kening yang dijitak oleh Gibran.
"Tadi pagi yang bilang Om butuh sentuhan wangi perempuan supaya gak ada laler siapa? Lupa?" Tanyanya gemas.
"Masuk!" Gibran membuka pintu mobil lalu menahan bungkai pintu dengan tangannya agar Nadia tidak terantuk.
"Makasih Om." Nadia duduk tenang, menunggu Omnya masuk dalam mobil.
Cup!
"Makasih sudah jemput Nad." Nadia menyengir lebar.
"Sama-sama. Pipi satunya lagi biar adil." Gibran menggeser wajahnya agar lebih dekat dengan Nadia.
Cup!
"Udah. Let's go!"
Gibran dan Nadia meninggalkan pelataran Sekolah menuju jalan besar. Jalanan kota sedikit lengang di jam-jam seperti ini. Orang-orang belum pulang kantor dan sekolah normalnya belum pulang kecuali kakak kelas yang ujian sekolah.
"Nad mengantuk?" Tanya Gibran melihat Nadia yang sedikit terantuk saat ia mengerem di lampu merah.
Nadia mengangguk "Om ngajak begadang semalem." katanya dengan suara menahan kantuk.
Gibran mengacak rambut lembut Nadia "Maaf." ujarnya lalu mengatur Sandaran kursi agar Nadia bisa tidur dengan nyaman. "Tidur yang nyenyak." lanjutnya sembari melayangkan kecupan singkat di kening Nadia.
Nadia mengangguk lalu memposisikan dirinya agar tertidur dengan nyaman. Ia benar-benar mengantuk setelah aktifitas malam mereka yang panjang. Sepertinya ia harus membuat jadwal untuk mengatur waktu mereka agar dia tidak perlu ketiduran di sekolah. Tapi boro-boro mau mengatur jadwal, Gibran kalau sudah On fire, bahkan meja makan pun bisa dijadiin spot untuk gituan. Untung saja ada dirinya yang waras, kalau enggak, bisa-bisa patah punggung itu sih. Lantunan musik akustik dari radio yang di stel oleh Gibran mengantarkan tidur Nadia semakin lelap.
Nadia membuka mata saat mendengar pintu mobil di buka. Ia mengerjap, mengucek mata pelan, mereka sudah sampai di rumah ternyata. Nadia melirik jam tangannya, ia tertidur hampir dua puluh menit, sepertinya Gibran sengaja membawa mobilnya pelan agar ia tidak terganggu.
Nadia turun dari mobil, rasa kantuknya hilang seketika saat mendapati Lettu Prada berdiri di depan rumah dengan senyum sungkan yang dibuat-buat. Nadia menghela nafas jengah. Ini tentara satu gimana ceritanya bisa lolos tes psikologi sih?! Sepertinya otaknya ada gangguan nih sampai-sampai tidak ada malunya sama sekali mengusik hidup orang lain. Setaunya tante Vina keren dan berwibawa sebagai tentara wanita, lha ini kenapa kayak cabe-cabean gak jelas. Sepertinya sogokannya lumayan nih sampai lulus tes. Nadia mengomel dalam hati. Menyebalkan.
"Selamat siang, kapten."
"Selamat siang." Nadia membalas hormat Prada dengan anggukan.
"Maaf kapten, ada yang saya ingin tanyakan tentang laporan."
Etdaaah! Kantor bisa kalik. Nadia memutar bola mata malas. Alasan aja ini orang.
"Oh iya, silahkan." Gibran jalan duluan untuk membuka pintu di susul Prada di belakangnya dan kemudian menyusul Nadia. Huh, ingin sekali rasanya ia timpuk rambut panci di depannya dengan sepatu. Siapa tahu saja saraf malunya bisa kembali tersambung.
"Silahkan masuk." Gibran mempersilakan tamunya masuk. Sedangkan Nadia si tuan rumah melongos masuk begitu saja dengan hentakan kaki kesal.
"Maaf kapten, saya mengganggu." Ujar Prada tak enak padahal dia puas sekali melihat wajah jutek istri sang kapten.
"Om, Nad lapeeeeer" Teriakan Nadia dari dapur diabaikan begitu saja oleh Gibran. Ia tahu anak itu hanya beralasan saja. Siapa yang bisa lupa kegemaran Nadia menghabiskan uang jajannya di kantin sekolah rasa resto bintang sepuluh itu.
"Bagian mana yang mau di tanyakan?"
Prada buru-buru membuka laptopnya lalu menunjukkannya pada Gibran "Ini, kapten."
"Ini kan sudah saya jelaskan semalam." Ujar Gibran dengan suara berat.
Prada menggigit bibir panik. Astaga, iya yah. Niatnya cuma mau bikin alasan saja tapi--
"Perhatikan baik-baik penjelasan saya. Saya tidak suka menerangkan berulang-ulang." Cukup Nadia yang membuatnya pusing dengan belajar, jangan di tambah asisten yang seharusnya meringankan pekerjaannya.
"Siap, salah."
Gibran menghela nafas lelah. Kalau untuk di kantor, sudah lama ia mendisiplinkan Lettu Prada. Walaupun Prada anak seorang berpengaruh, Gibran tidak menerima kelalaian, kecerobohan, dan kebodohan. Lettu Prada jelas bukan orang yang akan ia loloskan begitu saja dari teguran.
"Saya jelaskan sekali lagi. Perhatikan."
"Siap, kapten!"
Nadia yang diam-diam menguping di ruang tengah terkikik geli. "Mamam tuh keganasan Kapten Gibran." Gumamnya menahan diri untuk tidak meneriakkan kalimat tersebut.
Nadia cepat-cepat berlari ke sofa saat mendengar Prada pamitan. Gadis itu pura-pura nonton dengan tenang.
"Tante Prada sudah balik Om?"
Gibran mengangguk samar. Ia melapaskan kancing-kancing seragamnya yang terlihat seperti slow motion dimata Nadia. We-O-We. Ia tak akan pernah bosan melihat si keren itu berseliweran di depannya.
"Nad masak gih! Om belum makan."
"Heh? Belum makan?" Tanya Nadia. Gadis itu belum mengganti seragamnya. Tadi ia hanya mencuci mukanya dan buru-buru menguping pembicaraan Gibran dan Prada. Tante tentara centil itu benar-benar melelahkan dirinya. Ia jadi penasaran apa yang memotivasi Prada melakukan semua hal yang mencoreng kekerenan seorang wanita tentara dimatanya. Apa cintanya sehebat itu?
"Mie telor gak apa-apa?" Tanya Nadia tidak yakin Gibran akan membiarkan micin itu masuk dalam tubuhnya.
"Gak apa-apa."
Heh?
"Beneran?" Tanya Nadia memastikan.
Gibran mengangguk "Hati-hati nyalain kompor." Ia lalu masuk ke dalam kamar meninggalkan Nadia seorang diri terjebak dengan alam liarnya, Masakin suami pulang kerja. Wuhuuuuu
Nadia bergegas ke dapur dan menyiapkan segala kebutuhan untuk membuat mie spesial, pake telur. Ini bagian, favoritnya, menghancurkan mie dalam plastiknya.
Kreesshh kreeeesssh kreessshhh
"Aw! O-om--" Nadia melengkungkan tubuhnya saat Gibran memeluknya dari belakang.
"Om suka wangi keringat Nad." Satu tangan Gibran yang bebas mengelus paha Nadia dibalik rok abu-abunya. Sedangkan bibirnya tidak meninggalkan tengkuk Nadia, menghirup wangi keringat Nadia yang lembut.
"Om katanya lapar." Cicit Nadia berusaha menjauhkan tangan Gibran yang bermain di dadanya.
"Salah Nad kenapa bikin Om begini."
Lha? Nadia melongok. Dia cuma mau masak mie telor lho, gak ngapa-ngapain.
"Salah Nad kenapa makin--"
"AW!!! Jangan digigit!!!" Nadia meringis menyentuh tengkuknya yang di gigit oleh Gibran.
"Salah Nad semua."
Hah?
Salah siapa???
***
Udah kalik Om, Nad dibiarin istrahat sebentar. jangan dikerjain terus 👉👈🙄