Little Persit

Little Persit
Suami sayang Istri



Ck. Cinta sih cinta tapi jangan norak juga dong. Tamu dianggurin gak jelas gini. Nadia memutar bola mata sebal melihat pemandangan lovey dovey di depannya. Sabrina dan matanya yang berpendar penuh warna merah muda.


"BALIK YUK, OM. MALES BANGAT DISINI." Nadia berujar dengan volume maksimal yang bisa di dengar hingga sampai ke tetangga sebelah. Sabrina dan Guntur yang tadinya saling menatap malu-malu langsung melepaskan diri, Guntur yang tahu malu dan Sabrina yang tidak tahu malu, sempurna. Nadia ingin rasanya bertepuk tangan jika tangannya sedang tak diamit oleh Gibran.


"Gak bisa ya liat orang seneng." Sabrina memelet sembari merangkul mesra lengan Guntur.


Bukan tidak senang gue, geli aja. Jawab Nadia dalam hati.


Nadia mencibir. Kemarin kemana aja buuuuu. Batinnya gemas.


"Udah Om, tinggalin aja tuh istrinya. Ganti baru." Ujar Nadia enteng sontak mendapat pelototan tajam dari Sabrina.


"Jangan ngomporin laki gue lu!"


"Bodo! Minggir!" Nadia berlenggak melewati Sabrina begitu saja setelah sebelumnya mengangguk sopan pada Guntur yang hanya cengegesan di tempatnya. Sabrina bergegas mengejar Nadia yang masuk dalam rumahnya seperti layaknya pemilik rumah.


"Selamat malam, kapten." Sapa Guntur mempersilahkan Gibran yang sejak tadi hanya diam melihat kelakuan dua perempuan di depannya.


"Selamat malam." Jawab Gibran tak terlalu banyak mengeluarkan energinya. Ia masuk mengikuti Guntur langsung ke ruang tengah.


"Mesen dimana?" Tanya Nadia saat Sabrina membuka tudung saji di depannya. Dendeng rusa yang di tumis, ikan bakar, dan sayur kol tumis, makanan lezat bagi dirinya yang hanya bisa memasak sosis goreng dan telur mata sapi dengan pecahan kuning telur tak sempurna.


"Mesen? Heloooow seorang Sabrina mesan makanan?" Sabrina mengibaskan rambutnya "Masaklaaaah, lu kira ini ibukota bisa mesen makanan seenak hati. Gimana, hebat kan gue? Sabrina dooong." Sabrina menepuk dadanya bangga, di depannya Nadia berlagak ingin muntah. Di puji dikit langsung terbang melalangbuana, jadi males.


"Biasa sih." Ucap Nadia sewot.


Sabrina memelet. "Silahkan di nikmati pak kapten. Hitung-hitung perbaikan gizi." ujarnya sembari melirik jahil Nadia.


Apaan tuh maksudnya? Nadia merutuk dalam hati. Bersihkan hati Nadiaaaaa. Sabaaaaaar. Nadia mengusap dadanya menyabarkan diri. Gak apa-apa Nadia, Gak bisa masak tetap aja jadi kesayangan. Hihihi. Nadia membesarkan hatinya.


"Silahkan, Kapten, Bu." Guntur menengahi keduanya dengan menawarkan sajian di depan mereka. Dua pasang suami istri itu duduk lesehan di depan tv yang sedang menayangkan berita kriminal. Lagi-lagi kriminal. Kesejahteraan menjadi alasan paling banyak terjadinya kriminalitas di negara ini. Katanya keadilan bagi seluruh Indonesia tapi nyatanya yang kaya makin kaya, yang miskin makin melarat.


Banyakin syukur biar Allah tambahin. Kalimat pendek Gibran terlintas di kepalanya. Ia melirik laki-laki yang tidak banyak omong itu. Diam aja udah manis bangat, apalagi kalau sudah berulah, beuh, manisnya nambah-nambah. Nadia mengulum senyum malu-malu. Ini nih yang perlu di karungin, disayangin dan diamanin, terlalu bahaya kalau di lepas bebas di luar, auto jiwa pelakor meronta-ronta.


"Apa?" Tanya Gibran dengan kening terangkat satu saat melihat wajah istrinya tersenyum kearahnya. Nadia menggeleng pelan. Hatinya semakin berbunga saat Gibran mengusap rambutnya lembut. Salah satu perlakuan kecil Gibran yang menurutnya sangat manis. Well, sebenarnya semua perlakuan Gibran sangat spesial bagi seorang Nadia.


"Gimana? Enak nggak?"


Nadia menoleh ke depan hanya untuk melihat Sabrina yang sedang suap-suapan dengan Guntur. Kekehan kecil keluar dari mulutnya. Baguslah kalau kedua sejoli itu sudah saling menyadari perasaan seenggaknya ia tidak perlu lagi korban perasaan harus melihat ular keket yang untungnya sudah jadi mantan ular keket dekat-dekat suaminya.


"The power of love ya Om." Ujarnya mencolek Gibran yang khusyuk menikmati sajian di depannya.


"Um."


Nadia memutar bola mata sebal. Padat, singkat dan menyebalkan. "Bisa kalik panjangan dikit." Sindir Nadia pada lelaki berwajah kaku itu.


"Uuuuuuum"


Asem bener! Untung sayang. Lelaki kaku bin tripleks ini memang kehidupannya sudah terbiasa di hutan jadi pemakluman untuk kemalasannya berbicara bisalah diampuni oleh seorang Nadia.


***


Tingkat kewaspadaan Gibran akan meningkat beberapa level setiap kali Nadia tampak tenang dalam beberapa jam. Seperti sekarang, gadis kecil yang kini tengah mengandung calon anaknya itu tengah duduk nyaman dengan sebuah buku tebal di pangkuannya. Belum lagi earphone yang menyumpal telinganya membuat Gibran semakin waspada sebab Nadia bukanlah tipe wanita melankolis atau yang doyan menggalau seperti wujud gadis berdaster baby pink di depannya ini.


"Are you okey?" Ia melepas earphone di telinga kanan istrinya.


"Ya?" Nadia mendongak tanpa menutup buku yang ada di pangkuannya.


"Kok diem?" Gibran duduk sembari tak lepas menatap Nadia penuh perhatian.


Pertanyaan Gibran mengundang kernyitan di di kening Nadia. "Trus Nad harus ngapain?" Tanyanya bingung. Mereka baru saja pulang dari rumah Guntur dan Sabrina. Seperti biasa Gibran akan sibuk dengan ritualnya sebelum tidur yakni berwudhu dan berganti pakaian sementara istri cantiknya dengan kemalasannya yang semakin parah malah duduk santai tanpa peduli wajahnya berminyak atau berdebu sebab tugas untuk skincare-an sudah diambil alih oleh si Om favorit.


"Tidak biasanya." Lanjut Gibran pelan. Ia mengeluarkan kapas dari bungkusannya. "Ngadep sini." jemari panjangnya menangkup dagu Nadia. Senyum senang tersungging di wajah putih mulusnya.


"Baik bangat sih Omnya Nad ini. Makin sayang deh." Nadia mengelus wajah Gibran dengan punggung tangannya. Bersih dari bulu-bulu, habis cukuran dong kesayangan iniiiii. Nadia menggeram gemas "Pen Nad kantongin."


"Ck. Memangnya Om gorengan mau di kantongin. Awas tangan kamu." Tepisnya lembut jemari lentik nan kecil itu.


"Cieeeee maluuuuu... cieeee... ugh, gemesh bangat Nad." Kejahilan yang mendarah daging dari seorang Nadia hanya seorang Gibran yang sanggup bersabar menerimanya. Lelaki itu tak terganggu sama sekali saat tangan Nadia mengunyel-ngunyel pipinya.


"Udah?" Tanyanya datar.


Nadia si pemegang tambuk kekuasaan di hatinya mengangguk senang "Udah." ia melepaskan tangannya setelah menyempatkan mencapit hidung mancung Gibran."Sayang Om banyak-banyak."


"Hm. Tegakin kepala." Ujar Gibran sembari membasahi kapas dengan cleanser. Nadia dengan patuh mengikuti instruksi Omnya. Senyum tak lepas dari wajahnya. Kebahagiaan yang hakiki bagi seorang istri yang mendapat suami sekece badai Omnya plus sayang istri sepenuh hati. Entah kebaikan apa yang sudah ia lakukan sehingga Allah memberikan sosok Gibran untuknya. Mungkin ini yang Gibran maksud dengan kalimatnya mengenai syukur nikmat. Nadia bersyukur memiliki suami sekeren Omnya, makanya Allah menambahkan nikmatnya dengan cinta yang banyak dari sang suami.


"Ngapain senyum-senyum?" Gibran memincing.


"Senyum kan ibadah. Masa itu aja gak tau sih ganteeeeeng." Balas Nadia penuh godaannya membuat Gibran semakin merona.


"Apaan sih."


Nadia terbahak melihat wajah jutek Gibran. Salah satu wajah andalan kalau sedang merasa malu. Tipe-tipe cowok savage yang menggemaskan.


"Ck. Bersihin sendiri." Gibran hendak beranjak dari kursi kayu itu karena tidak tahan dengan godaan-godaan Nadia tapi tangannya tertahan.


"Jangan rese!" Tuding Gibran.


"Siap, Kapten." Nadia menyengir lebar. Punya suami lewat paruh baya memang gini kalik yak. Rada susah digodain cuma emang asik sih liat mukanya merona. Nadia membatin sembari memperhatikan gerak luwes Gibran yang semakin lincah mengaplikasikan skincare di wajahnya. Semoga kelak gak rebutan skincare ya Allah, bakalan ngeri bangat sih itu.


"Om, mau punya anak berapa?"


"Satu."


"Kok dikit bangat Om. Bagusan selusin gitu loh. Biar keluarga kita rame. Masa satu saja, om gak asik ah."


Gibran menghentikan gerakannya mengusap kapas di bawah mata Nadia. Tatapannya datar pada gadis itu. Helaan nafas berat lolos dari mulutnya. "Om gak mau Nad kesakitan. Ini aja Om udah susah mikirnya." Ia menunduk dalam dengan wajah keruh. "Om tidak butuh apa-apa. Cuma butuh Nad saja."


"O-om--" Nadia menangkup tangan Gibran yang tertahan di udara. Melihat Gibran dengan keadaan hati yang kacau bukanlah sesuatu yang menyenangkan.


"Om tidak tahu harus apa kalau terjadi hal buruk sama Nad. Om sempat menyesali kehadiran adek bayi apalagi setelah Nad keguguran. Om ingin melakukan sesuatu tapi tidak ada yang bisa Om lakuin. Om--"


"Shhhhttt... Jangan kayak gini. Nad baik-baik saja kok Om. Nad akan selalu disini sama Om." Nadia perlahan mengalungkan tangannya di leher Gibran lalu memeluk laki-laki itu erat, "Nad baik-baik saja. Nad janji." Dikecupnya bahu Gibran dengan penuh perasaan. Ia tahu kehilangan tidak hanya tentang dirinya dan bayi mereka yang pertama tapi luka itu juga menghantui Omnya.


"Om cuma punya Nad di dunia ini." Gibran mengeratkan pelukannya di tubuh Nadia. Merasai wangi manis dari gadis miliknya. "Cuma Nad yang saya punya." Ujarnya dengan suara lirih.


Nadia menjauhkan wajahnya dari punggung Gibran tanpa melepas pelukannya. "Jangan menangis." Di hapusnya airmata yang meleleh di sudut mata Gibran.Ya Tuhan, lelakiku. Nadia mengecup mata Gibran bergantian, mengalirkan kehangatan dan ketenangan untuk suaminya itu. Ini kali kedua ia melihat Gibran menangis. Saat malam itu ketika kehilangan bayi mereka dan sekarang.


"Om tidak menangis."


Nadia mengangguk. Iyain aja. Lelaki dan egonya. "Iya, Om gak nangis cuma meneteskan airmata. Udah."


"O-om gak nangis." Ucapnya tegas melepas belitan lengan Nadia di lengannya.


"Iya. Percaya." Selalu saja ingin terlihat superior. Padahal tidak ada UU atau hukum yang melarang seorang laki-laki menangis. Nadia meraih pipi Gibran lalu mengusap basah disana.


"Jangan bahas anak lagi. Lanjutin yang tadi." Ujar Nadia sembari mengambil tangan Gibran yang memegang kapas.


"Udah."


"Hah?" Nadia menatap belakang Gibran yang beranjak masuk dalam kamar. Itu ngambek atau apa? Ia menggaruk pelipisnya yang tak gatal lalu menyusul lelaki baperan itu ke dalam kamar.


"Om marah?" Nadia meringsuk memeluk Gibran dari belakang meski sedikit kesulitan karena perutnya yang mengganjal. "Maafin Nad." Meski tidak tahu dibagian mana kesalahannya tapi meminta maaf tidak ada salahnya apalagi demi memperbaiki mood suami yang berantakan. Gibran sekarang lebih sensitif jika mengenai dirinya. Untuk seorang awam seperti mereka berdua, Nadia mengira-ngira apa mungkin ada yang namanya ngidam part 2?! Karena setahunya, ngidam hanya terjadi di trisemester awal kehamilan. Jadi sekarang apa? Puber part 2?


"Nad janji gak bakal kenapa-kenapa. Nad janji--"


"Jangan kebanyakan janji. Sekalian kalau mau umbar janji Nad ikut pilpres saja." Gibran menggerutu. Sebenarnya sangat tidak cocok dengan badan besarnya tapi ngambek adalah hak segala manusia di muka bumi ini tak terkecuali Om Gibrannya.


"Gak ah. Bagusan jadi ibu dari anak-anak Om. Bisa--Awww Om ih!" Nadia memukul bahu Gibran yang tiba-tiba menggulingkan badannya. "Sakit tauk." Ia memegang keningnya yang terantuk bahu kokoh Gibran.


"Mana yang sakit?" Gibran mendekat, melepas tangan Nadia yang memegang keningnya. Wajah kakunya berubah khawatir dan sarat oleh perasaan bersalah.


"Kening Nad." Nadia melepas tangannya. Bulu matanya bergerak seiring kerdipan saat Gibran meniup keningnya. Padahal tidak sakit loh cuma memang seneng saja di sayang si kanebo kering. Kekehnya dalam hati. Sejenis wanita-wanita yang senang dibelai dan dimanja. Lagipula hanya cewek kelainan yang tidak mau disayang dan dimanja oleh seorang Gibran-Sayang-Al Fateh. Ah, nama tengah yang sangat pas.


"Masih sakit?" Gibran menekan mengusap kening Nadia, memberikan pijatan-pijatan kecil.


Nadia mengangguk namun bibirnya tak bisa menyembunyikan senyumnya "Maafin Nad ya Om. Nad udah gak ngerti perasaan Om."


"Gak ada yang salah. Ayo tidur." Gibran merapikan tempat tidur untuk Nadia. "Mau di peluk?"


Nadia mengangguk, "Di nyanyiin juga."


Gibran menghela nafas pendek lalu mengangguk. Nadia melongok.


"Beneran Om?" Ini keajaiban kedelapan. Seorang Gibran-Sayang-Al Fateh mau menyanyi? Waduuuuuhhh pertanda apa kah ini? Nadia jadi panik sendiri.


"Iya. Kenapa? Gak mau? Ya ud--"


"Eeh eeeeh ma-mau. Mau bangat." Nadia berseru senang lalu membaringkan badannya dalam pelukan Gibran. Kira-kira lagu apa ya? Ck sayang sekali hpnya pake acara lowbat, bisa jadi feed story medsos harusnya. Kejadian langka yang mungkin hanya akan terjadi sekali sepanjang usia bumi.


"Tutup mata." Ujar Gibran yang dengan patuh Nadia laksanakan.


Beberapa menit berlalu tak ada yang bersuara. Saat Nadia hendak menoleh kebelakang, sebuah lagu yang sering sekali Nadia dengarkan di waktu kecilnya mengalun dari bibir Gibran. Nadia sampai tersedak oleh salivanya sendiri saking tak menyangka lagu itu yang akan menemani tidurnya.


"Indonesia tanah airku~~"


Untuk siapapun orang diluar sana. Tolong maklumi lelaki yang sedang bernyanyi untuk istrinya ini adalah lelaki yang hanya menikmati lagu kebangsaan sebagai pengantar setiap kegiatannya. Nadia menggigit bibir menahan tawa agar tak menyembur dari mulutnya.


Dek, ini ayah kamu yang luar biasa spesial. Kita akan mencintainya sampai kapanpun dengan segala hal luar biasa yang dimilikinya.


***



Om Gi baru lepas piket. Di luar rumah boleh aja kapten, dalam rumah tetap aja paling bisa manjain istri.



Nad yang baru ngerayain kelulusan. Di luar boleh aja ketua genk, di dalam rumah tetap yang paling manja sama suami.