Little Persit

Little Persit
Janji yang diingkari



Nadia mengutip kerang-kerang cantik yang bertebaran di bibir pantai. Sesekali ia berlari menghindari kejaran ombak yang hampir membasahi sendal Guccinya. Di tempat yang tak jauh darinya beberapa Ibu lain tampak asik dengan kegiatan masing-masing, ada yang mengurus anak, ada yang berfoto ria dan beberapa sedang menikmati es buah yang Nadia bawa.


"Dek Nadia!"


Nadia memejamkan matanya menahan diri mendengar suara Bu Arta memanggil namanya. Sejak tiba di pantai tadi, Bu Arta mulai menjalankan aksi menjajahnya dengan memerintah ini itu. Mulai dari membersihkan ikan yang berakhir dengan Nadia yang meremukkan ikan-ikan itu hingga ketulangnya, membersihkan sampah daun pisang bekas alas makan mereka hingga bagian mengurus game yang seharusnya menjadi tugas panitia dilimpahkan juga padanya.


"Iya, Bu." Nadia menoleh setelah mengatur wajahnya semanis mungkin.


Bu Arta mendekat dengan senyum sinis tercetak di wajahnya. Nadia yang sudah diperingatkan oleh Gibran untuk banyak bersabar terus merapal kata-kata penguat untuk diberi kesabaran ekstra agar tidak mencakar-cakar senyum Bu Arta yang pasti tidak akan mengantarnya ke ruang BK seperti biasa tapi mungkin kantor persit yang juga akan menyeret nama suaminya.


"Dek Nadia sudah dengar kabar terbaru?"


Nadia mengernyit. Tidak ada kabar yang ia dengar kecuali mungkin kabar terbaru mengenai mayat seorang istri tentara yang hanyut di bawa ombak akibat mulut nyinyirnya.


"Kabar apa ya Tante? Nad sibuk UN minggu ini jadi gak sempat up date." Ujar Nadia menyelipkan helaian rambutnya yang tertiup angin laut dengan gaya anggun. Teriknya sinar matahari kalah panas dengan situasi diantara dua istri tentara itu.


"Denger-denger ada mutasi lho, Dek. Kalau gak salah ke daerah-daerah rawan konflik."


"Mutasi?" Tanya Nadia sedikit tidak paham dengan istilah itu. Yang ia tahu selama ini tentang mutasi hanya terkait virus dan sejenisnya yang selalu sulit ia pahami ketika gurunya atau Gendis jelaskan.


"Ia. Pindah tugas. Kalau gak salah dengar ada nama Pak Gibran lho. Ini kalau gak salah ya dek tapi semoga aja saya yang salah dengar." Bu Arta berbicara dengan nada prihatin yang jelas sekali dibuat-buat.


"Pindah?" Dari sekian panjang kalimat Bu Arta, satu kata itu yang tertangkap indra Nadia. Pindah tugas?


"Iya, pindah. Kasian Pak Gibran. Padahal karirnya sedang bagus-bagusnya tapi gimana ya, Komandan pasti memikirkan keadaan putri kesayangannya."


Putri kesayangan? Elsa?


Nadia blank. Ia belum menemukan benang merah diantara berita mutasi Gibran dan keadaan putri sang Komandan.


"Makanya, Dek. Kita tidak boleh terlalu angkuh. Diatas langit masih ada langit. Akhirnya begini kan. Coba Dek Nadia mengizinkan Pak Gibran menemani Dokter Elsa, kejadiannya pasti tidak begini tapi yah mau gimana lagi nasi sudah jadi bubur. Yang sabar ya dek." Bu Arta mengelus bahu Nadia yang sudah membantu di tempatnya.


Mutasi?


Nadia mengerjap sekali. Ombak laut yang menghantam kakinya tak dirasa lagi. Kabar mutasi itu benar-benar menyita habis pikirannya.


***


"Ini gak bener. Komandan mana bisa ngelakuin ini sama lo? Gak profesional namanya." Dewa membanting surat perintah yang berisi nama-nama perwira yang akan di mutasi diatas meja Gibran. Nama Gibran Al Fateh tertera di barisan paling atas dengan kantor mutasi tertuju Korem Papua.


Gibran yang baru saja menerima surat kepindahannya hanya bisa diam mendengar umpatan-umpatan yang keluar dari mulut Dewa. Sementara di kursi tamu Gio hanya bisa menghela nafas berkali-kali. Siapa yang menyangka ketegasan Gibran pada Elsa berakhir dengan surat mutasi ke tempat jauh.


"Ini tugas. Tak ada hubungannya dengan kejadian kemarin. Komandan orang yang profesional." Tukas Gibran, kedua tangannya bertumpu diatas meja kerjanya. Sebagai seorang prajurit, hal seperti ini sudah biasa terjadi hanya saja baik Gio maupun Dewa langsung menghubungkan ini dengan pertemuannya dengan Elsa terakhir kalinya.


"Jangan naif lo! Jelas ini ada hubungannya dengan Elsa. Gila ya tu cewek, gue pikir hatinya malaikat tapi nyatanya-- Argh!"


"Jangan berprasangka buruk." Gibran menyela. Ia tidak menyalahkan siapapun termasuk Elsa. Yang ia pikirkan saat ini adalah Nadia. Bagaimana ia harus mengatakan ini pada gadis kecilnya itu. Apalagi kondisinya yang sedang hamil.


"Udah! stop belain tuh cewek. Muak gue lama-lama." Dewa menghempaskan punggungnya di sofa dengan kasar. Disampingnya Gio tak begitu banyak berkata-kata. Sama halnya dengan Dewa, sejak mengetahui kabar mutasi Gibran, pikirannya langsung terarah pada kalimat yang pernah di lontarkan oleh Komandannya di rumah sakit beberapa hari yang lalu.


Jika Gibran tidak bisa membantu. Keduanya harus dijauhkan untuk pemulihan Elsa yang lebih cepat.


Ternyata ini arti kalimat tersebut. Gibran kini benar-benar akan jauh. Bukan hanya dari Elsa tapi semua orang yang mengenalnya. Kekuasaan telah menunjukkan taringnya. The power of orang dalam.


"Selanjutnya gimana?" Tanya Gio setelah lama terdiam.


"Perintah adalah perintah." Ujar Gibran tegas. Bagi seorang prajurit, ketika perintah datang maka tidak ada kata tidak bagi mereka. Sumpah setia pada satu perintah telah mereka ikrarkan sejak menerima tanggungjawab sebagai seorang prajurit negara.


"Gimana dengan Nadia?" Tanya Gio, ia paham betul, bukan masalah mutasinya ke Papua yang Gibran pikirkan melainkan Nadia. Bahkan jika surat itu tertuju daerah konflik di timur tengah sana Gibran tak akan pernah ragu untuk berangkat apalagi masih dalam negeri yang masih menggunakan bahasa yang sama.


Gibran menunduk, ia mengusap wajahnya gusar. "Nadia pasti meng---"


BRUUUUK!!!!


"Om Gi!!!!"


Gibran belum sempat bangkit dari kursinya saat Nadia menghambur memeluknya.


"Hei!" Gibran mengelus punggung Nadia yang sesunggukan.


"Om--hiks."


"Udah, jangan nangis. Malu sama Dewa dan Gio." Gibran melepas pelukan Nadia. Menghapus jejak airmata di pipi istrinya.


Nadia melirik ke belakang. Gio dan Dewa sedang memandangnya khawatir. Tapi apa pedulinya, yang ada dipikirannya hanya tentang Gibran yang akan meninggalkannya lagi.


"O-om, ini gak bener kan? Om gak akan ninggalin Nad kan?" Nadia sesunggukan. Hidungnya merah, matanya sembab menunjukkan sudah berapa lama gadis itu menangis.


"Duduk dulu." Gibran membantu Nadia duduk di kursinya. Ia lalu memberikan air minum untuk Nadia agar ia lebih tenang.


"Nad datang dengan siapa?" Tanya Gibran pelan. Ia mengusap rambut Nadia dengan lembut.


"Jangan menangis." Gibran menepuk-nepuk punggung Nadia yang kini tengah memeluk pinggangnya erat.


"Lakuin sesuatu Om. Nad gak mau Om pergi jauh. Nad mau sama-sama Om."


Gibran menghela nafas. Memangnya apa yang bisa ia lakukan. Saat surat perintah sudah datang, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menyanggupi dan melaksanakannya.


Tot tok tok...


"Permisi."


Gibran melepaskan pelukannya pada Nadia saat salah satu staf Komandannya masuk.


"Ada apa?" Tanya Gibran dengan suara rendah.


Staf tersebut menghormat pada Gibran "Selamat siang, Kapten. Komandan menunggu di ruangannya."


Gibran mengangguk, "Baik. Saya segera kesana."


"Siap."


Staf tersebut undur diri meninggalkan empat orang di ruangan itu yang kini saling memandang dalam diam.


"Nad ikut." Nadia membuka suara. Ia harus menghadapi papa Elsa dan menyampaikan keberatannya. Nadia hendak turun dari kursi kebesaran Gibran namun gerakkannya di hentikan oleh Gibran yang berdiri tepat di sampingnya.


"Nad disini sama Gio dan Dewa." Putus Gibran. Ia menoleh pada kedua sahabatnya yang langsung mengerti arti tatapan itu.


"Nad mau ikut! Nad mau ketemu papanya tante El. Apa maksudnya mindahin Om jauh kek gini? Mentang-mentang bos jadi bisa seenaknya? Pasti gegara si Tante. Gak profesional bangat. Nad juga bisa minta Om samuel nemuin KASAU buat nahan Om disini. Kalau perlu nemuin langsung Mentri Pertahanan."


Dewa dan Gio saling melirik. Gila sih kalau sudah koneksi yang turun tangan. Apalah mereka yang hanya pion yang siap pindah sana pindah sini.


"Ngeri juga si Nadia. Segala backing-an di bawa-bawa. Gak tanggung-tanggung KASAU meeen." Bisik Dewa pada Gio yang hanya menanggapinya dengan helaan nafas pendek.


"Bukan hal mustahil Nadia bisa melakukan itu. Gaudia Grup tentu punya koneksi di kalangan elit negara ini." Ujar Gio dengan suara pelan. Dewa manggut-manggut menyetujui.


"Tapi Gibran tidak mungkin setuju melakukannya." Lanjut Gio yang lagi-lagi di tanggapi anggukan makfum oleh Dewa. Siapa yang tidak mengenal Gibran, salah satu prajurit terbaik dengan banyaknya tanda penghargaan yang melekat di seragamnya yang selalu menarik perhatian para petinggi untuk menempatkannya di posisi strategis di kemiliteran tetapi laki-laki itu memilih melakukannya dengan jalur lurus. Buktinya ia bisa sampai di posisinya saat ini tanpa mengandalkan koneksi dan kekuatan orang dalam.


"Nad diam disini. Ini tugas kantor, Nad gak boleh ikut campur." Tukas Gibran mengusap rambut hitam legam Nadia.


"Tapi Om--"


"Percaya sama Om." Gibran meyakinkan gadis keras kepala itu dengan lembut. Melihat keseriusan di wajah Gibran akhirnya dengan berat hati Nadia membiarkan Gibran pergi tanpa dirinya.


.


.


.


"Saya tahu Kapten Gibran memikirkan hal yang sama dengan orang-orang diluar sana tentang mutasi dadakan ini." Papa Elsa memulai ucapannya tanpa basa basi. "Dan saya tidak akan mengelak hal itu. Walaupun mutasi ini sudah terjadwal, saya sendiri yang merekomendasikan nama Kapten untuk mutasi kali ini."


Gibran yang sejak masuk hanya diam mendengarkan, mau tak mau dibuat cukup terkejut dengan kejujuran yang di ucapkan oleh Komandan yang selama ini di hormatinya. Sejak kabar mutasi sampai ketangannya pagi ini, sudah banyak selentingan yang menyebutkan bahwa Komandan sengaja melakukan hal ini karena kecewa pada dirinya yang telah melukai Dokter Elsa. Bahkan kedua sahabatnya yang tak lain sahabat Elsa juga mengatakan hal yang sama. Surat perintah pindah tugas yang Gibran dapatkan bukan karena memang ia layak mendapat mutasi ini tapi karena alasan lain, sebuah alasan pribadi yang mencoreng sumpah seorang prajurit dimana kepentingan negara diatas segalanya.


"Saya memanfaatkan kekuasaan yang saya miliki. Itu kenyataannya. Hal ini jelas salah dan sangat mencoreng profesionalisme saya sebagai seorang pemimpin. Saya sadari itu. Tapi selain sebagai seorang pemimpin dari sebuah kesatuan, saya hanyalah seorang ayah yang sangat mencintai putrinya." Papa Elsa menatap salah satu prajurit kebanggannya itu dengan sorot mata penuh perasaan bersalah. Ia juga tak ingin melakukan hal ini tapi melihat Elsa yang tidak berhenti bersedih pasca kunjungan Gibran dan Nadia siang itu memaksanya untuk melakukan ini. Ia berjanji setelah Elsa benar-benar sehat, ia akan kembali menarik Gibran di kesatuannya.


Gibran mengangguk. Meskipun merasa di dzalimi dengan keputusan yang tidak fair ini, ia tidak memiliki kekuatan apapun untuk melawan. Surat perintah yang di tandatangani oleh pimpinannya dan mendapat tembusan dari Markas besar sudah sampai di mejanya berarti tidak ada jalan lagi baginya selain melaksanakan perintah.


"Mohon izin bicara Komandan."


"Silahkan."


Gibran menegakkan badannya. Surat di depannya yang sudah ditandatangi menjadi objek menarik sejak ia masuk di ruangan tersebut.


"Sebagai seorang prajurit, saya menerima dengan ikhlas tanggungjawab baru ini sebagaimana tugas-tugas yang saya terima sebelumnya. Tetapi--" Gibran menghentikan sejenak kalimatnya. Ia menatap lurus papa Elsa yang juga melakukan hal yang sama. Gibran menghela nafas pendek yang samar sebelum melanjutkan kalimatnya "Sebagai seorang suami yang memiliki keluarga, saya sangat berharap kejadian seperti ini cukup saya saja yang mengalaminya."


Papa Elsa mengangguk samar "Maaf. Mohon maklumi keputusan saya."


Gibran rasanya ingin tertawa sekarang juga. Maklumi? Apa yang bisa ia maklumi dari sikap seorang pemimpin yang seperti ini. Mencampurbaurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Sama sekali bukan sikap seorang pemimpin yang patut untuk di contoh. Bahkan ketika semua orang melakukan sesuatu dengan jabatan yang dimilikinya, Gibran percaya bahwa Papa Elsa tak akan pernah melakukan hal yang demikian. Namun hari ini, segala penilaiannya mengenai profesionalisme Komandannya langsung buyar. Bahkan seorang Nadia yang masih SMA lebih paham menempatkan diri sebagai seorang istri prajurit dan pribadinya sebagai seorang siswa SMA biasa. Sungguh sebuah ironi.


Gibran keluar dari ruangan Komandannya membawa serta surat tugas yang harus ia serahkan di kantor barunya. Langkah kakinya begitu yakin dan tegap. Tak ada sama sekali perasaan ragu di matanya. Perintah telah di turunkan, dan ia akan melaksanakannya sebagai mana semestinya. Beberapa orang yang di temuinya hanya bisa mengucapkan ucapan selamat bertugas seperti yang biasa mereka katakan setiap kali ada pergantian posisi. Kabar dimutasinya seorang Gibran yang datang secara tiba-tiba cukup mengundang kernyitan para staf di kantor tersebut lalu kemudan beberapa kabar berhembus mengenai sebab akibat dari Girban di pindahkan ke tempat yang sangat jauh di ujung timur sana tak bisa dibendung. Mulai dari kecakapan Gibran yang sangat di butuhkan di daerah konflik, Adanya kekuatan orang dalam yang ingin mengambil posisinya hingga kemudian kabar yang sangat kuat mengatakan bahwa kepindahan Gibran ada kaitannya dengan keadaan putri sang Komandan yang saat ini sedang drop. Ucapan Gibran di rumah sakit tentu saja tidak ada yang mendengarnya tetapi kenyataan bahwa Elsa begitu terpukul dengan pernikahan Gibran sudah menjadi rahasia umum. Gibran ingin sekali tidak mempercayai alasan terakhir itu tapi kenyataannya Komandannya sendiri yang mengakui bahwa mutasinya kali ini karena ia telah mengecewakan hati seorang wanita.


Langkah Gibran melambat saat melihat sosok kecil yang sedang menunggunya dengan wajah gusar, Nadianya.


Senyum miris terukir diwajahnya. Lagi-lagi ia harus mengingkari janji yang ia ucapkan pada istrinya itu.


Maaf.


***