Little Persit

Little Persit
Ujian bersama



"Nad di jemput jam berapa?"


"Nanti Nad chat Om kalau udah kelar. Soalnya gak tau ujiannya lama atau nggak."


"Bukannya pakai waktu ya?"


Nadia nyengir "Pake sih Om tapi biasanya ada aja kejadian luar biasa kalau musim ujian kek gini."


"Kejadian luar biasa?"


Nadia mengangguk "Hu-um. Banyak jalan menuju roma. Banyak cara lulus ujian. Nah cara-cara itu yang perlu diberesin dulu sama guru-guru." ujarnya terkikik geli membayangkan bagaimana dulu kakak kelasnya menghancurkan hari pertama ujian selama satu jam karena banyaknya cara yang mereka lakukan buat lolos. Cewek-ceweknya bahkan sampai menyelipkan catatan kecil di tempat-tempat rawan.


"Nad bersih??"


"Om mau cek?"


Gibran menggeleng "Om percaya Nad. Habisin sarapannya."


"Siap kapten."


Gibran beranjak dari kursinya untuk mengambil tas besar yang sudah ia siapkan semalam.


"Om tugas keluar lagi?" Tanya Nadia menyusul dibelakang Gibran.


"Cuma latihan saja."


"Kok tasnya besar bangat?"


Gibran mengangguk "Kan latihan perang. Tasnya tentara mana ada isinya seringan tas Nad. Peluru, granat, berat itu jadi harus dibiasain." Lagian Tas gucci yang isinya make up itu mana bisa di bandingkan dengan tas lorengnya yang beratnya naudzubillah.


"Semangat ya Om." Ujar Nadia menepuk pundak Gibran yang tengah memakai sepatu lapangannya.


"Nad juga." Balas Gibran singkat.


"Tepukin pundak Nad juga dong biar samaan."


Gibran mengangguk "Menunduk." Nadia dengan patuh langsung membungkukan badannya tapi bukannya tepukan di bahu ia dapatkan melainkan kecupan panjang di bibirnya.


"Ish! Modus aja nih si Om. Liptin Nad pindah tuh sama Om." Nadia melarikan jemarinya menyeka merah-merah mengkilap yang menempel di sudut bibir Gibran "Udah" ujarnya puas melihat hasil kerja jemarinya.


"Makasi."


"Sama-sama. Ayo! Nanti Nad terlambat terus di jemur lagi."


"Salah Nad kenapa lambat bangat makannya."


"Siapa tadi subuh yang nahan Nad di kamar?


Gibran terkekeh "Berangkat!"


***


"Lo ada senjata rahasia nggak?" Bisik Aleksis di telinga Nadia.


"Gak. Gak berani. Om Gi bilang percaya sama gue. Gak mungkin gue macem-macem."


"Ck. Penakut lo."


"Emang lo berani ngadepin Om Gibran?"


"Nggak."


Nadia mencibir "Makanya."


"Kalian ngapain sih bisik-bisik? Jan bikin gue penasaran." Sandra yang duduk tak jauh dari Nadia dan Aleksis menimpali.


"Biasa, secret weapon. lo ada?" Ujar Nadia dengan gerak bibirnya.


"Gue ada tapi kedapatan sama penjaga perpus. Lagian tu orang udah kayak tim disipliner aja main sita hasil kerja keras gue semalaman." Sandra bersungut sebal pasalnya semalam ia tidur nanti jam tigaan demi membuat catatan-catatan kecil sebesar kutu untuk ujiannya tapi malah kedapatan duluan sama si kutu buku itu, "dasar manusia pra sejarah emang tu orang."


"Hati-hati. Jatuh cinta tau rasa lo!" Nadia terkekeh melihat wajah mual Sandra.


"Amit-amit bukan selera gue."


"Biasanya kan omongan suka nyerang tuanya balik, Sand." Tambah Aleksis membuat Sandra semakin bergidik ngeri.


"Si*lan! lo berdua nyumpahin gue?" Ujarnya sebal.


"IYA!" Nadia terbahak melihat Sandra mengerucutkan bibirnya. Dasar si sandra, gak sadar auto falling in love tuh sama si kacamata.


Keriuhan tiga cewek bar-bar itu di interupsi oleh kehadiran guru yang siap dengan sepaket soalnya. Sayang sekali Gendis dapat di kelas lain, sahabat mereka yang cerdas itu buru-buru diselamatkan oleh guru biar tidak tercemar kegaduhan tiga sahabat laknatnya.


Ujian selesai tepat jam sebelas siang. Nadia memutuskan menunggu Gibran yang katanya akan menjemputnya untuk makan siang bersama. Ah kebetulan sekali ia mau memamerkan ujiannya hari ini yang berjalan tanpa ada kecurangan. Padahal kelas benar-benar gaduh dengan aksi bisik-bisik dan lempar kertas jawaban antara satu dengan yang lain.


"Om giiii!!!" Nadia berlari menyosong Gibran yang berdiri tak jauh darinya. Senyum laki-laki itu mengembang melihat Nadia berlari kearahnya.


"Jangan lari-lari." Gibran menepuk puncak kepala Nadia yang melingkarkan tangan manja disekeliling pinggangnya. Nadia menyengir lebar.


"Kangen."


"Baru juga pisah tadi pagi."


"Tetap aja. Ih ini kenapa kegores? Ini juga memar." Nadia meringis melihat wajah dan lecet di siku Gibran.


"Biasa." Ujar Gibran cuek lalu mengamit tangan Nadia ke parkiran.


"Motor siapa nih?" Tanya Nadia melihat motor matic yang akan mereka kendarai.


"Adek-adek di kantor."


"Cewek?"


Gibran mengangguk sembari memakaikan helm pada Nadia yang mulai menunjukkan wajah masam.


"Jangan cemberut."


"Abisnya--"


"Mau makan gak?"


Nadia mengangguk cepat "Mau."


"Ya udah jangan murung gitu mukanya."


"Nad cemburu tauk!"


Gibran menghembuskan nafas pendek "Jangan cemburuan. Gak baik."


"Makanya jangan deket-deket cewek lain."


Tidak akan beres sih ini kalau Nadia belum juga diikuti maunya. "Oke."


"Gitu dong. Lagian heran bangat Nad, yang suka om gak ada habisnya."Gerutunya menekan cemburunya dalam-dalam. Apalah dia yang masih anak sekolah ini. Rasanya ia tidak sabar untuk segera ganti seragam jadi bebas rapi.


Gibran terkekeh "Resiko orang ganteng."


"Dih Narsis."


"Kan Nad yang ajarin."


"Au ah! Buru! Nad laper."


"Siap nyonya."


***


"Tadi siapa? Kok akrab? Sok manis bangat lagi ngomongnya. Bikin bete aja." Nadia memutar pasta di sendoknya dengan wajah tertekuk masam. Di depannya Gibran makan dengan tenang tanpa terusik dengan kebetean Nadia yang sepertinya sudah masa periodenya


"Kawan SMP." Ujar Gibran sembari mengelap sudut bibir Nadia yang belepotan saos pasta.


"Awas saja kalau reuni. Nad colok mata Om pake garpu." Ancam Nadia mengarahkan garpunya kearah Gibran.


"Tega?" Tanya Gibran dengan senyum terkulum.


Nadia menggeleng "Ya makanyaaaa--"


"Makanya apa sih Nadnya Om Giiii, hm?"


Nadia yang tidak bisa dimanisin langsung saja mesem-mesem tidak jelas. Nadnya Om Gi? "Apaan deh." Gerutunya menghalau rona di pipinya padahal aslinya kesenangan tuh.


Gibran terkekeh "Cepat makannya. Om harus kembali ke lapangan."


"Nad ikut ya." Pinta Nadia dengan mata mengerjap lucu siapa tahu saja Gibran luluh kali ini. Sudah lama sekali ia ingin melihat bagaimana Gibran di lapangan. Pasti keren sekali dengan baju seragam lorengnya berlari di bawah hujan peluru sembari menembak. Wuhuuuu seperti drama-drama korea yang biasa di tonton Sandra dan Aleksis.


Gibran menggeleng "Nad di rumah aja." Yah, masih juga batu.


"Sepi tauk, Om, di rumah sendiri." Ujar Nadia sedih.


"Malas ah Om, mereka suka rese."


"Rese gimana?" Gibran yang sudah menyelesaikan makannya menunggu Nadia dengan sabar yang masih juga belum menyentuh sesendok pastanya.


"Rese pokoknya. Om gak bakalan ngerti." Kebanyakan ngeresein Om Gibrannya. Duh, ini cemburu memang menguras hati. Hiks.


"Nonton tv atau karaokean. Terserah Nad mau apa."


"Mau Om aja."


"Gak bisa dong cantik. Buruan makan. Om mau solat dulu"


Nadia yang lagi-lagi mendengar kata-kata luar biasa dari mulut manis Gibran hanya bisa melongo. Akhir-akhir ini si kanebo kering sudah lebih cair mengungkapkan isi hatinya. Padahal Gibran sudah melihatnya cantik sejak dalam bentuk zigot tapi baru sekarang bilangnya, Pasti ada maunya.


"Om solat dulu. Nad tunggu disini." Ujar Gibran beranjak dari kursinya.


"Jangan lupa doain Nad biar jadi cewek pinter."


"Salehah, Nad."


"Yap apapun itu."


.


.


.


"suit suiiiiit" Nadia bersiul menggoda Gibran yang tengah melakukan push up di ruang tengah. Punggung telanjang Gibran tampak mengkilap dengan titik-titik keringat dari kulit coklatnya. Sangat lezat. Sluuuurp. Coba saja Gibran sedang tidak dalam mode sabar, sudah Nadia sikat dari tadi tu orang. Tapi demi kemaslahatan bersama, Nadia akan bekerjasama mengurangi ujian Gibran. Bahkan Nadia sekarang tidak mengenakan lagi baju-baju yang kata Gibran kekurangan bahan sampai kemudian waktunya tepat.


"Sudah mandi?" Tanya Gibran menjumput rambut basah Nadia yang duduk jongkok di depannya.


"Iya dong. Om jangan mulai. Nad kalau udah mode siap tempur, batal tuh puasanya." Berbalik dengan ucapannya, Nadia malah sengaja mengibas-ngibaskan rambutnya dengan cara seksi.


"Om gak puasa." Ujar Gibran mengulum senyum tipis.


"Ya teroooos kata dokter kan gak boleh"


"Gak boleh apa?"


Nadia memutar bola mata sebal. Selalu saja laki-laki yang menyebalkan ini "Bodo amat ah. Nadia gak tanggungjawab ya Om kalau Om endingnya mandi es batu lagi."


Kali ini Gibran benar-benar terbahak "Nad tau?"


"Iyalah. Tuh kotak es masih di kamar mandi jadi perahunya bebek-bebek Nad."


"Ya udah, sini cium." Gibran mengarahkan pipinya pada Nadia.


"Gak mau!"


"Oh--"


Cup.


Gibran menyipit "Itu ciuman? Kok gak berasa?"


"Hehe nanti kepanjangan Omnya yang ribet sendiri." Nadia beranjak untuk duduk di sofa sementara Gibran kembali melanjutkan aktifitasnya.


"Ujiannya lancar?"


"Bangat, Om. Nad gak nyontek lho padahal banyak yang nawarin."


"Bagus." Ujar Gibran bangga.


"Om jangan lupa ya janjinya."


"Janji apa?" Tanya Gibran pura-pura. Wajah Nadia sudah memberenggut saja mendengar Gibran yang melupakan janjinya.


"Itu loh makan malam berdua."


"Oh itu--" Gibran mengangguk kecil.


"Cowok itu yang di pegang omongannya om, jadi gak boleh tuh ingkar janji apalagi pura-pura lupa nanti jadi banci." Nadia bergidik. Membayangkan Om kecenya tiba-tiba melambai, lebih mengerikan daripada melihat cewek cantik dengan lidah bercabang.


"Iya Nadia." Gibran menghampiri Nadia mengacak rambut basah istrinya.


"Ish jangan diberantakin. Bau keringat, mandi sana!"


"Yakin bau?"


"Iya." Iya tapi pipinya malah menempel di perut kotak-kotak Gibran. "Perutnya ngotak bangat Om. Sering ngemil batako ya? " Nadia terkikik sembari tangan iseng membuat pola-pola lingkaran di perut Gibran.


"Ngemilin kamu." Kata Gibran tak segan menyarangkan ******* di bibir Nadia.


"Nghhh--- Omhh, susah nafas."


"Manis." Kata Gibran mengelus bibir basah Nadia.


"Mandi sana!" Nadia mendorong punggung tegap Gibran menjauh darinya. Ini sih bukannya Gibran yang kegoda tapi dia. Ujian bangat memang punya Om-om kece. Pantas saja cewek-cewek jaman now sukanya sugar daddy bahkan si Cantika yang pintar begitu jadi **** jadi simpanan Om-om. Duh amit-amit deh Omnya pelihara cabe-cabean. Untung Nadia bukan cabe. Lagian mana ada cabe-cabean secantik dirinya. Kata Gibran, Nadia cantiq, pake q lho saking uwunya.


Nadia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sembari mengelus dada lega. Apalah ujian berat ini, Nadia harus kuat demi keselamatan bersama.


"Nad, sham--"


"WOWwwww!!!" Nadia mengerjap, baru juga diniatkan, ujian udah datang aja. Gadis berwajah manis itu membelalak terang melihat wujud pahatan-pahatan sempurna di depannya, Gibran dengan santai melenggak di depannya hanya dengan memakai celana pendek setengah paha, astagaaaaaaa apa-apaan ini pemirsaaaah?!


Gibran yang menyadari arah tatapan Nadia langsung gelagapan menyembunyikan badannya di balik tembok. "Anak ini." Gumamnya gemas.


Di atas sofa Nadia cengengesan karena baru saja mendapatkan vitamin mata. Body nya Om itu lho, minta bangat di serang apalagi muka kanebo keringnya yang malu-malu gemesin. Huhuhu Om-om gemeeesh.


"Shampo Om mana?"


"Shampo yang mana?" Nadia beranjak dari sofa lalu dengan langkah pelan dan muka pengen mendekati Gibran yang malah seperti anak kecil yang terpojok di sudut kulkas dan tembok.


"Mau apa?" Tanya Gibran dengan kedua tangan menyilang di dada. Lucu bangat lho minta bangat dielusin.


"Mau apa yaaaaaa" Goda Nadia menaik turunkan alisnya, memindai Gibran dari ujung rambut ke ujung kepala. Nikmat mana yang engkau dustakan Nadiaaaa. sluuuurp!!!


"Jangan macam-macam Nad!"


Nadia menggeleng pelan dengan kedua tangan merentang seolah meminta Gibran kecil mendekat, hayoook dek Gibran, kemari, kemari.


"Sini dong sama kakak Nad." Nadia mendekat dan-- "Hap! Lalu di tangkap!" Nadia berhasil memerangkap Gibran dalam kungkungan badan kecilnya.


"Nad, minggir!"


"Gak mau. Nad maunya disini aja sama Om." Nadia mencubit pipi Gibran gemash "Ucuuul bangat sih Om."


"Nad?" Gibran memincing mencoba menakuti Nadia tapi ngomong-ngomong Gibran lupa atau bagaimana, sejak kapan Nadia mempan di takuti.


"Iyaaaaaa" Jawaban panjang yang menyebalkan di telinga Gibran. Bisa-bisanya anak kecil memojokannya.


"Minggir atau--"


"Atau apa?" Nadia melarikan telunjuknya menyentuh pelipis lalu turun ke pipi dan berakhir di dagu pria berotot itu. Matanya mengerling nakal membuat Gibran semakin terpojokan layaknya anak gadis yang sedang diserang oleh pemuda mesum.


"Atau--"


"KYAAAAAAAAA!!!! OOOOM LEPASIN NAAAAD!!!"


"Habis kamu!!'


Dengan lengan kokohnya Gibran mudah saja mengangkat badan Nadia, siap meluncurkannya seperti pesawat-pesawat kertas. Mata Nadia membulat sempurna saat Gibran membawanya melewati pintu belakang.


"Oooom jangaaaan!!! Pleaseeee, ampuuuuun. Nad minta maaf, oke-- Nad gak lagi-lagi--"


"Siapa yang ngajarin Nad begitu, hm!? Siapa???" Gibran menahan Nadia tepat di bibir kolam hitam asrama. Sekali dorong, badan kecil itu akan kembali merasakan dingin dan bau pekat kolam asrama.


"Nad becanda aja Om-- please, ampuuuun." Teriaknya diselingi tawa karena Gibran kini menggelitikinya.


"Anak nakal kamu ya--"


Nadia menggeleng kuat, tangannya yang bebas mengalun di leher Gibran dengan erat.


"Becanda om, becandaaaa!!!"


"Bercandaan Nad gak--"


BYUUUUUUUURRRRRR!!!!


Welcome to kolam asrama, Om Gi.


***