
Bela Negara sudah berakhir sejak seminggu lalu namun eufhorianya masih terasa sampai sekarang. Terlebih website kampus yang makin ramai dengan foto-toto kece para pria gagah berbaju loreng yang berjejer menggeser popularitas cowok-cowok yang ada di univeritas itu. Yang membuat Nadia oleng adalah wajah Gibran yang menjadi topik utama pembahasan dengan judul yang tidak berlebihan sebenarnya jika saja tidak dibumbui dengan kisah asmara Gibran yang tentu saja hanya sebuah karangan bebas hasil imajinasi liar para penulis artikel. INI DIA KRITERIA WANITA IDAMAN KAPTEN GANTENG YANG DIGILAI PARA MAHASISWA. Sebuah judul yang sangat menjebak karena didalamnya tak ada info penting selain foto-foto Gibran hasil jepretan tim pubdekdok saat kegiatan bela negara berlangsung.
Tak hanya kabar tentang Gibran, kabar tentang Nadia yang seorang sugar baby pun semakin santer terdengar hampir disetiap obrolan para manusia-manusia yang katanya intelek tapi doyan mengonsumsi berita hoax. Bahkan ada lagi yang lebih parah menuduh Nadia sebagai kupu-kupu malam. Tak habis disana, Nadia bahkan mendapatkan ancaman tak langsung karena dianggap sebagai penyebab renggangnya hubungan Orion dan Lalita. Yap, bukan rahasia lagi kalau cewek pintar kesayangan para dosen itu kini sedang break dengan kekasihnya, Orion si most wanted se-fakultas atau mungkin se-universitas yang jelas cowok blasteran itu selalu masuk sebagai nomor satu dalam sebuah ajang tak resmi kampus yang mengurutkan para cowok ganteng berbakat dalam website kampus dengan judul pencarian The hottest men of the year.
Nadia tak masalah. Yah, walaupun sedikit jengah dengan tatapan orang-orang padanya tapi tak cukup mempengaruhi kehidupan kampusnya yang tenang dan damai sampai kemudian hal itu menyentuh kehidupannya sebagai istri dari seorang prajurit.
"Ibu sudah mencoreng nama instansi ini!"
Suara menggema Ibu Ketua luruh bersama setetes airmata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata Nadia. Masih dengan pakaian kampusnya ia mendapat panggilan darurat dari Ibu Ketua setelah Grup yang bernama Pia A.G Sejati ramai oleh berita tentangnya yang sama sekali tak benar. Beritanya bukan tentang Nadia dan Gibran tapi tentang Nadia yang merebut suami orang. Headline dengan tulisan besar dan di bold TUJUH FOTO MAHASISWA CANTIK YANG TERCIDUK KENCAN DENGAN SUAMI ORANG. FOTO YANG KETUJUH BIKIN GELENG-GELENG KEPALA, berhasil menjebaknya menjadi istri prajurit terburuk. Apalagi foto yang di upload adalah fotonya dan Gibran dengan wajah lelaki itu sengaja di blurd. Sungguh sangat niat memfitnah dan lebih parahnya lagi ia tidak diberi kesempatan menjelaskan apalagi membela diri.
"Terpaksa kami akan sampaikan ini pada atasan Pak Gibran."
Nadia mendongak. Tidak, Gibran tidak boleh tahu masalah ini. Sejujurnya ini hanyalah masalah sepele dan Gibran yang sudah sangat sibuk tak perlu disangkutpautkan dengan masalah receh seperti ini.
"Izin Bu, sa---"
"Tidak. Ibu tidak diizinkan bicara. Sekarang silahkan keluar." Ibu Ketua memotong cepat.
Nadia menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Matanya basah oleh airmata kekesalan bukan takut apalagi sedih mendapat fitnah Ini. Langkahnya terayun cepat dengan tujuan utama kampus untuk menemui Divisi Publikasi dan Dokumentasi yang memiliki tanggungjawab penuh akan setiap berita yang terbit di website.
Drt... drt...
Nama Aleksis, Gendis dan sandra muncul di layar hpnya.
Nadia menyentuh ikon video dan muncullah wajah ketiga sahabatnya dengan latar yang berbeda, Sandra dan Gendis yang sedang berada di benua lain tampak temaram dengan bantuan lampu kamar sedangkan Aleksis yang sedang di singapura tampak sedang duduk di sebuah cafeshop.
"Hello, girls." Sapa Nadia ceria.
"Heh, siapa si kampret yang berani ngefitnah lo? Kasi tau namanya ke gue!" Sandra yang terlebih dulu menyapa dengan sangat ramah.
Nadia mendengus. Dasar Sandra.
"Wah bener-bener tu Orang ya. Gue punya teman jurusan IT. Kirim IG nya cobak biar gue suruh tuh akunnya di obrak-abrik." Sambung Aleksis yang tampak sama kesalnya.
Nadia menghela nafas pendek. Airmatanya jatuh begitu saja, rindu dengan ketiga sahabatnya.
"Gue bisa ngadepin ini." Jawabnya tersendat. Ketiga cewek di layar hpnya itu diam. Mereka jarang melihat Nadia menangis untuk urusan pergaulannya tapi hari ini--
"Jangan nangis lo!" Sentak Sandra yang bangun dari posisi baringnya.
"Gue balik sekarang!" Aleksis bersiap mengetik sesuatu sebelum kemudian Gendis bersuara.
"Girls, kalem dong. Gak berkelas bangat gak sih marah-marah gini? Udah gak ada guru BK yang bakalan sibuk ngurusin kita, so please kita selesaikan ini dengan cara yang elegant."
"Maksud lo?" Sandra dan Aleksis bersuara berbarengan sedangkan Nadia masih setia menyimak.
"Adalah. Lo bertiga tunggu hasilnya aja. Gue jamin kolom komentar website kampus Nad bakalan jebol." Ujar Gendis yakin.
"Yakin lo? Kalau nggak biar gue yang turun tangan." Tanya Sandra masih belum yakin. Pasalnya yang sedang berkata-kata ini adalah Gendis, si polos yang kadang menyebalkan.
"Ck percaya gue deh." Terang Gendis bersemangat.
"Ogah!" Sandra dan Aleksis berujar bersama.
Nadia terkekeh, harusnya ia ceritakan ini sejak awal pada ketiga sahabatnya setidaknya ada orang-orang yang mendukungnya. Bukannya mau menyembunyikan hal ini dari Gibran tapi sebagai orang yang sudah memiliki KTP artinya sudah legal dan masuk dalam UU, ia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Thanks ya girls untuk dukungannya."
"Dih, bahasa lo mulia bangat." Sandra si julid terkekeh.
"Iya, merinding gue." Aleksis menambahkan.
"Gengs, Nad cuma ngomong makasih loh."
Semua orang juga tau keleeeees. Batin Nadia, Sandra dan Aleksis. Sahabat mereka yang satunya ini memang butuh pemakluman yang tinggi.
"Ya udah, gue tutup ya. Mau ngeberesin ini dulu." Ucapnya menutup panggilan video tersebut setelah berpamitan pada ketika sahabatnya. Ia melanjutkan niatnya ke divisi pubdekdok untuk menuntut pertanggungjawaban.
Nadia melangkah mantap menuju satu bangunan yang merupakan kantor para mahasiswa yang terdiri dari beberapa divisi. Langkahnya terhenti mendengar Wati memanggilnya.
"Nad tunggu!"
"Apa? Gue buru-buru harus ke divisi pubdekdok."
"Ngapain?" Tanya Wati dengan nafas ngos-ngosan
Masih nanya lagi ni anak?
"Temuin ketua divisilah. Sementang gue gak protes bukan berarti selamanya gue akan diem." Nadia mulai kesal, "Minggir lo!" Nadia mendorong bahu Wati yang menghalangi jalannya. Terserah saja orang mau menilainya kasar, nama baiknya memang sudah bubar jalan kan?
Wati berlari mengejar Nadia, "Jam segini kantor tutup, Nad."
Nadia menghentikan langkahnya, "Tutup gimana? Orang-orangnya kabur apa gimana?" Nadia menggulung lengan kemejanya sebatas siku siap untuk menghajar siapapun yang ditemuinya.
"Hari jumat kan cuma setengah hari saja bukanya." Jelas Wati menahan lengan Nadia, "Kalau ada keperluan sama tim pubdekdok mending langsung temuin Kak lita. Dia ketuanya." Lanjutnya sedikit ngeri melihat wajah marah Nadia. Tidak marah saja sudah jutek apalagi dalam mode angry bird begini. Hih.
"Dia ketuanya?" Ulang Nadia memperjelas.
"Hu-um. Sejak periode kemarin."
Wajah Nadia mengeras, "Si*lan tu orang. Pantas aja berita kek gini lolos sensor. Ketuanya si cewek culun itu." Nadia mengepalkan kedua tangannya. Pantas saja berita ini begitu sangat memojokkannya ternyata dalangnya Lalita, cewek yang akhir-akhir ini suka mencari gara-gara dengannya. Tanduk di kepala Nadia semakin bercabang. Tanpa menunggu lagi, ia berlari menyusuri lorong kampus mencari sosok Lalita. Banyak pasang mata yang melihatnya penasaran tapi Nadia tak peduli, sebab urusannya adalah Lalita Gunawan, si kacamata tebal bermuka dua.
Senyum mengerikan Nadia terbit saat melihat sosok yang dicarinya tengah bersantai di bangku taman bersama dua orang temannya. Nadia baru akan menghampiri Lalita saat lengannya di tahan.
"Nad--" Orion menyebut namanya lirih.
Nadia menghembuskan nafas kasar sembari menghempaskan tangan Orion yang menahannya, "Apa lagi sih?"
"Ini bener?" Suara Orion terdengar bergetar dan gusar.
"Bener apanya?" Nadia bersidekap tak sabaran. Tangannya sudah gatal ingin menarik rambut Lalita.
"Lo udah--- nikah?"
Nadia mengernyit, apa lagi ini? Tapi mengingat ini kesempatan ia memperjelas statusnya, Nadia mengangguk, "Tau dari mana lo?"
Bahu Orion meluruh, "Jadi bener yang di bilang laki-laki di ruang kesehatan kemarin kalau lo istrinya?"
Nadia makin tidak paham. Memangnya kapan Gibran mengakui status mereka terang-terangan? Apa saja yang sudah terjadi saat ia pingsan tempo hari?
"Iya." Jawab Nadia. Meskipun tidak tahu pasti apa yang sudah terjadi ia tidak punya alasan untuk menyangkal fakta itu. Lebih banyak yang tahu, lebih baik.
Bunyi notifikasi yang berturut-turut memecah kesunyian diantara keduanya. Nadia membuka layar hpnya saat melihat banyak pesan masuk yang muncul di pop up.
Sebuah foto yang menampilkan dirinya dan Gibran tengah menjalani nikah kompi dengan dua pasangan lainnya muncul di website kampus dengan judul besar KAPTEN GIBRAN AL FATEH RESMI MENIKAHI KEKASIHNYA NADIA GAUDIA RASYA. Nadia sempat dibuat kaget tapi tak lama karena muncul chat dari para sahabatnya serentak mengirimkannya emoticon LOL seolah puas dengan apa yang sudah mereka lakukan. Tak hanya foto-foto nikah kompi, ada juga foto buku nikah Nadia dan beberapa foto mereka saat akad nikah yang terhambur disetiap halaman website. Seperti kata Gendis, kolom komentar jebol oleh komen natizen kampus yang tiba-tiba menjadikan hari ini sebagai hari patah hati se-universitas.
Nadia tersenyum puas. Beban yang ditanggungnya selama ini akhirnya bisa lepas. Thanks to the girls yang sudah membuatnya lebih mudah.
"Nad, gue--" Orion menghentikan ucapannya saat melihat sosok Lalita dan dua temannya mendekat.
Nadia menghadap penuh pada Lalita, tersenyum miring, "cewek rendahan yang digilai cowok lo? Ops---" Nadia menutup mulutnya pura-pura terkejut, "Mantan cowok ya namanya?" lanjutnya tak peduli Orion mendengarkannya sekarang. Memang seperti itu kenyataannya, Orion mengakui sendiri kalau sedang bimbang akan kehadiran Nadia dan memutuskan untuk menjauh sementara dari Lalita.
"Sekarang karena lo udah tahu yang sebenarnya, gue mau beritanya lo hapus sebelum gue laporin ini pada pihak kampus sebagai kasus pencemaran nama baik." Nadia menurunkan tekanan suaranya. Sebenarnya ia tidak memiliki masalah dengan Lalita tapi gadis yang katanya pintar ini yang selalu mencari gara-gara.
Lalita menggertakan gigi-giginya. Senyum mencela tersungging di wajahnya, "Well tapi wajar sih ya sukanya ngerusakin hubungan orang, gak di didik sih sama orangtuanya? Eh, atau malah nyokapnya juga kayak gitu, wanita mu-ra-han--"
PLAK!
"JAGA MULUT LO B*TCH!" Nadia menarik kerah baju Lalita tak peduli Orion dan dua teman Lalita terpekik kaget, "Jangan pernah ngomong rendah tentang nyokap gue atau nggak lo akan liat sendiri kehancuran hidup lo." Suara Nadia bergetar penuh amarah, matanya memerah.
"Le-phaas!"
"Nadia!" Orion berusahan melepas cengkraman tangan Nadia pada Lalita namun gadis yang tengah diselimuti amarah itu tak bergeming. Lalita bahkan sudah menangis karena merasa sesak dan takut. Keributan dan pekikan orang-orang turut meramaikan suasana.
"Nad--" Panggil Orion lebih lembut.
Nadia menekan amarahnya kuat-kuat. Ia tak masalah jika direndahkan selama tidak menyentuh fisiknya tapi tidak jika hinaan itu dilontarkan pada kedua orangtuanya. Bunda Syakila dan Papa Randy adalah orangtua terbaik. Tidak ada satu orang pun yang berhak mencela mereka.
"Ini peringatan pertama buat lo!" Ancam Nadia lalu menghempaskan Lalita yang langsung ditangkap oleh Orion. Nadia pergi dari tempat itu dengan dada bergetar hebat.
***
"Bang."
"Hm."
"Ada yang nyariin tuh?"
"Saya sedang sibuk." Gibran tak mengangkat wajahnya dari layar laptop. Laporan, laporan dan laporan. Sebenarnya ia lebih senang latihan lapangan tapi tugas baru ini butuh perhatiannya.
"Liat dulu bang!" Ujar salah satu juniornya yang tengah asik menyerut jus jeruk.Dua orang berpakaian loreng itu memang sedang bersantai di sebuah gazebo di kantor mereka. Waktu istrahat yang seharusnya Gibran isi dengan istrahat malah harus digunakan untuk bekerja.
Gibran mengangkat wajahnya lalu sebuah senyum samar terulas.
"Assalamualaikum, Bang Gibran."
"Waalaikumsalam Dokter Elsa. Siang sekali." Sapa Gibran basa basi.
Elsa tersenyum lembut, melirik teman Gibran yang mencuri dengar keduanya.
"Bang, saya bayar ini dulu." Junior Gibran yang sadar diri pamit pergi.
Gibran yang sebenarnya ingin melarang hanya menelan kalimatnya kembali saat Elsa duduk manis di depannya.
"Abang sibuk ya?"
"Biasalah Dok." Jawab Gibran seperti biasa dengan tampang datar tak bersahabatnya.
"Elsa boleh disini sebentar. Nungguin Dokter Hanum." Izin Elsa hati-hati. Ia tidak boleh agresif menghadapi Gibran.
Gibran mengangguk. Dokter Hanum adalah dokter senior di kesatuan mereka yang juga merupakan sahabat Mama Elsa, sama-sama istri Prajurit, "Silahkan, Dok." Ucap Gibran kembali menghadap laptopnya, "Maaf saya masih ada kerjaan."
Elsa mengangguk, "Silahkan, Bang." Dokter berwajah lembut itu duduk tenang memperhatikan Gibran yang bekerja dengan serius. Ia meraba hatinya yang masih dan selalu merasakan debaran untuk lelaki di depannya ini. Entah sampai kapan perasaan ini terus bercokol di hatinya. Elsa sama sekali tak masalah mencintai Gibran seperti ini tapi menjadi masalah saat ia harus mendapatkan penolakan yang tak ada habisnya dari laki-laki ini dan melihat Nadia bahagia bersama sang pujaan hati.
Sekitar lima belas menit, Gibran telah selesai dengan kerjaannya. Ia menutup laptop lalu berdiri hendak pergi saat menyadari keberadaan Elsa yang sempat ia lupakan.
"Lho, Dokter masih disini?" Tanyanya sedikit merasa bersalah. Bisa-bisanya ia mengabaikan seorang kenalan begitu saja.
Elsa mengangguk sembari tersenyum kecil, "Saking seriusnya ya bang sampai lupa ada Elsa disini."
"Oh, itu--- Maaf." Ucapnta tak enak.
"Tidak apa-apa, Bang. Elsa tidak sepenting itu untuk mendapatkan perhatian abang."
"Maaf kalau Dokter tersinggung dengan sikap saya." Gibran duduk kembali di tempat duduknya tadi menghadirkan seulas senyum bahagia di bibir Dokter cantik itu.
"Bagaimana kabar Nadia dan Pia, Bang? Nad pasti senang abang akhirnya disini lagi." Elsa juga senang, Bang.
"Alhandulillah mereka sehat." Jawab Gibran singkat. Tidak ada yang namanya bertanya balik karena lelaki berwajah kaku itu memang tak pandai membangun sebuah obrolan. Untunglah ia mendapatkan istri seperti Nadia yang tidak segan-segan mengungkapkan perasaannya. Jika perempuan lain, Gibran tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya harus menghadapi jenis makhluk yang apa-apa dibuat rumit.
"Elsa senang ab--"
"Dokter Elsa, maaf lama." Seorang wanita seumuran mama Elsa menghampiri mereka dengan langkah lebar, "Oh, ada kapten Gibran ternyata."
"Selamat siang, Dok." Sapa Gibran ramah.
"Selamat siang, ayah muda. Selamat ya untuk kehadiran bayi Kapten. Maaf belum sempat berkunjung."
"Terima kasih, Dok. Tidak apa-apa, bisa dimaklumi." Ujar Gibran tersenyum tipis.
Dokter Hanum mengangguk, turut senang mengetahui salah satu kebangaan ditempat itu akhirnya menjadi seorang ayah.
"Berangkat sekarang Dokter Els?"
Elsa mengangguk, "Ayo, Dok."
Dokter berpenampilan bersahaja itu menepuk keningnya, "Kunci mobil saya tertinggal di ruangan suami. Tunggu sebentar." Dokter Hanum bergegas kembali ke ruangan suaminya.
Baik Gibran maupun Elsa hanya bisa tertawa kecil melihat salah satu Dokter senior itu mengangkat roknya saat berlari.
"Dokter Hanum sangat beruntung bisa menikah dengan pria yang sangat mencintainya." Elsa tersenyum sedih melihat punggung Dokter Hanum menjauh. Ia melirik Gibran namun laki-laki itu tak bergeming, tak mendengar atau mungkin memilih abai.
"BANG!" Junior Gibran yang tadi ke kantin berlari kecil menghampirinya dengan wajah sedikit tegang.
"Ada apa?"
"Liat ini!" Ia menunjukkan layar hpnya yang sedang menayangkan secara live pertengkaran dua orang wanita muda dan seorang pemuda yang coba melerai. Awalnya Gibran tak sabar sebelum kemudian menyadari siapa salah satu wanita muda itu.
"Ini Ibu kan, Bang?"
Gibran terdiam. Astaga, apalagi ini Nadia?!
Elsa yang masih di tempat itu langsung melihat layar hp tersebut dan hanya bisa menutup mulutnya saat seorang gadis muda yang sangat ia kenali menampar seorang wanita muda lainnya ditengah keramaian.
"Bang, ini--"
"Selamat siang, Kapten. Kapten di panggil ke ruang Komandan sekarang juga."
Gibran menghela nafas gusar lalu mengikuti sang ajudan menuju ruangan Komandan.
***
SELAMAT MEMBACA READERS.
AUTHOR SUKA SEKALI BACA KOMENan kalian KARENA BISA MENYUNTIK SEMANGAT MENULIS., JADI JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK YA. INI KALI PERTAMA AUTHOR NGAREP BACA JEJAK KARENA TERNYATA JEJAK DARI READERS BEREFEK PADA KEINGINAN AUTHOR UNTUK CEPAT-CEPAT UP 🤣
Salam sayang dari author yang baperan. ❤