
"Buka mulut."
Nadia menggeleng kencang. Disampingnya Gibran berdiri mengangsurkan satu tablet obat penurun panas dan sebotol air mineral. Laki-laki itu tampak kacau dengan banyak lumpur di seragam lorengnya.
"Nadia, kamu harus minum obat." Gibran berusaha sabar menghadapi sikap kekanakan Nadia setiap kali berhadapan dengan obat.
"Nad udah sembuh Om. Gak panas lagi." Ujar Nadia berusaha terlihat baik-baik saja. Urusan pura-pura oke memang spesialisasinya kaum hawa walaupun sebenarnya sudah berdarah-darah.
Gibran menghela nafas pendek sembari duduk disamping Nadia, "Buka mulut atau?"
Nadia memberenggut siap menangis. Gibran tak pernah punya ampun untuknya. Laki-laki itu selalu sukses mengancamnya. Masih terekam jelas dikepala Nadia bagaimana cara lelaki itu memberinya obat. Puppy eyespun tak pernah sukses meluluhkan ketegasan Gibran disaat-saat seperti ini.
"Kamu tidak mau sembuh? Banyak hal yang bisa Nad bantu kalau sudah sembuh. Selesaikan misi kemanusiaan Nad." Kalimat Gibran memang selalu jauh dari kesan lembut dan membujuk tapi tak pernah gagal masuk dikepala Nadia untuk dicerna. Benar, kedatangannya disini untuk kegiatan sosial membantu orang-orang yang tengah dilanda musibah bukan malah dapat musibah dan jadi orang yang dibantu. Sangan tidak keren Nadia. Untung saja masih hidup kalau tidak, pasti media masa sudah penuh oleh wajahnya.
Nadia menatap laki-laki itu yang juga menatapnya intens, berharap ada keajaiban yang akan merubah pikiran Gibran agar membiarkannya sembuh dengan bantuan alam--mmm maksudnya kekebalan tubuhnya sendiri.
"Nadia tidak suka obat." Ucapnya mengingatkan kembali pada sang suami bahwa dirinya dan obat tidak bisa berada dalam kalimat yang sama tanpa adanya pertentangan.
"Lalu bagaimana kamu bisa sembuh?"
Pertanyaan gampang. Nadia menyandarkan kepalanya kembali sambil berujar lirih "Senyum Om Gi obatnya Nad."
Ck.
Gibrab berdecak pelan. Ada-ada saja remaja jaman sekarang. Pintar sekali mengumbar kata-kata. Apalagi Nadianya ini. Mungkin selama disekolah ia tidak belajar mata pelajaran lain hanya mempelajari bagaimana meluluhkan hatinya.
"Senyum saya tidak bisa bikin kamu sembuh Nadia." Ujarnya datar.
Nadia mengangkat kepalanya, "Bisa kok. Coba deh Om senyum, Nad pasti langsung koprol sampe tenda sebelah." ucapnya mengangguk yakin. Gibran yang mendengarnya malah memasang wajah bosan yang sontak membuat Nadia tergelak. Lucu sekali suaminya ini. Seharusnya mengurai kata-kata manis itu tugasnya lelaki tapi beda cerita kalau dalam kehidupan mereka karena sampai beribu-ribu purnamapun Gibran tidak akan mau seperti Rangga yang memuja Cinta dalam bait kata-kata manis. Gibran terlahir dengan pengaturan kaku otomatis, tak tertolong lagi. Jadilah dunia pernikahan mereka terbalik, Nadia mengambil peran melelehkan kebekuan suaminya itu sedang Gibran hanya harus menyiapkan telinganya dan kesabarannya menerima kerecehan Nadia.
"Sakit kamu makin parah." Ujar Gibran lalu secepat kilat menjejerkan tablet ditangannya kedalam mulut Nadia memanfaatkan keadaan saat ia sedang tertawa dan tanpa sempat dicegah sudah masuk di kerongkongannya.
"Uhukkhmpphh" Gibran langsung membungkan Nadia dengan bibirnya saat melihat istrinya itu hendak memuntahkan obatnya. Beres.
***
"Minum."
Gibran yang sedang membersihkan lumpur di kakinya menoleh ke sumber suara. Senyum tipis terulas di wajahnya mendapati Nadia membawa sebotol minuman di tangannya.
Gibran tak langsung mengambil botol tersebut melainkan mengecek suhu tubuh Nadia dengan punggung tangannya. "Makasih." ucapnya untuk perhatian kecil dan kesehatan Nadia yang berangsur-angsur pulih.
"Nad udah lipet rapi baju Om Gi." Lapornya memamerkan kondisinya yang mulai membaik. Tablet kecil itu memang sangat menolongnya. Coba saja rasanya tidak pahit, mungkin hubungan mereka akan lebih harmonis.
"Makasih." Ujar Gibran lagi sembari mengusap puncak kepala sang istri lembut. Nadia mengangguk senang. Ia duduk disamping Gibran memperhatikan orang-orang yang bahu membahu membangun jembatan darurat. Teman-teman kelasnya pun tampak membantu sebisa mungkin. Senyum Nadia mengembang, pantas saja Omnya betah menjadi seorang tentara ternyata mereka melakukan banyak hal keren bukan hanya menjaga keamanan negara tapi juga turun langsung menyingsingkan lengan baju membantu siapapun yang kesulitan. Oke, Nadia tau ini bagian dari perintah tapi untuk ukuran Gibran yang hanya tinggal mengangguk dan langsung mendapatkan posisi tertinggi di Gaudia Group yang memilih setia pada profesinya sungguh sangat mengagumkan. Tak jarang Nadia melihat orang-orang dari kalangan militer yang melepas jabatan untuk sesuatu yang lebih besar padahal sebenarnya tidak ada pekerjaan besar atau kecil karena selama itu bisa membantu meringankan beban penderitaan orang lain maka itu sangatlah keren.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Nadia mengerjap. Ia tidak sadar ternyata Gibran secepat itu mengalihkan perhatiannya. Nadia membuka telapak tangan Gibran dan meletakkan botol minuman yang dibawanya "Selama ini Nad tidak pernah memikirkan alasan mengapa Nad bisa sesuka ini sama Om Gi dan tidak peduli juga sebenarnya tapi sekarang Nad tau--" Nadia menghembuskan nafas pelan, mengulas senyum tulus "Om Gi itu sederhana." Lanjutnya, kedua tangan saling menggenggam gugup, entah kenapa mungkin karena ini kali pertama ia memikirkan dengan bebar perasaannya "Bahkan cara Om nyayangin Nad juga sederhana. Tidak banyak kata-kata hanya tindakan kecil tapi ngebuat Nad merasa memiliki segalanya."
Gibran yang mendengarnya tertegun. Bukan kali pertama ia mendengar Nadia memproklamirkan perasaannya, setiap pagi ketika membuka mata dan saat malam sebelum menutup mata serta dibanyak kesempatan gadis kecilnya itu tak akan malu-malu mengutarakan rasa cinta dan sayangnya yang banyak-banyak itu. Tapi sekarang rasanya berbeda, Gibran bisa merasakan kegugupan Nadia saat mengutarakan perasaannya.
Gibran membalas senyum Nadia. Ia meneguk air minum di botol itu hingga tandas. Setelahnya kembali menatap jauh kesibukan orang-orang. Beberapa menit keduanya bungkam. Nadiapun memilih diam menikmati kesunyian yang tercipta diantara keduanya. Langit masih mendung, gerimis sesekali masih menyapa dedaunan tapi hati Nadia menghangat. Ia tak pernah meragukan perasaannya sejak dulu sudah memang dimiliki oleh Gibran tapi mungkin inilah yang dirasakan oleh orang-orang saat memutuskan untuk menjalin hubungan. Nadia merasakan perasaannya ini tak asing hanya saja ia baru benar-benar memikirkannya, ia jatuh cinta berkali-kali dan terus menerus pada bapak tentara yang ada disampingnya ini. Wangi keringatnya, tatapan datarnya, pelukan kakunya, usapan lembut di rambutnya dan rasa aman yang selalu dihadirkannya. Ya, Nadia jatuh cinta.
"Kamu sudah dewasa."
Huh?
Nadia mendongak. Gibran tak menoleh padanya tapi kalimat itu jelas untuk dirinya. Gibran tak pernah secara langsung menyebutnya dewasa, malah ia lebih sering mendengar lelaki itu menyebutnya gadis kecil.
"Perasaan memiliki segalanya itu--"
Nadia masih diam, masih menunggu kalimat Gibran selanjutnya.
"Karena kamu memilikiku seutuhnya." Lanjutnya, lalu tanpa kata-kata lagi meninggalkan Nadia untuk bergabung bersama para tetua kampung.
Nadia menatap punggung lebar Gibran. Ya, perasaan mewah ini pasti karena ia memiliki lelaki paket lengkap itu. Nadia tersenyum lebar. Ternyata menyatakan cinta di posko pengungsian tak kalah romantis dari menyatakan cinta di bawah menara eifel. Nadia bisa melihat banyak kembang api yang meletup-letup di langit merah jambunya sekarang.
.
.
.
"Kapten."
"Hm."
"Yakin Ibu dibiarkan sendiri saja?"
Gibran yang tengah menggergaji bambu menghentikan sejenak pekerjaannya, "Kamu mau temani?" Tanyanya sarkas.
Prajurit muda itu menggeleng cepat, "Mana saya berani Kapten."
"Kenapa harus takut?" Tantang Gibran kembali melanjutkan pekerjaannya. Masih banyak hal yang mesti mereka kerjakan dan cuaca hujan cukup menyulitkan pekerjaan mereka.
"Takutlah Kapten. Yang ada belum nyapa udah dapat setriaan aja." Ujar Tentara muda itu. Walaupun tampang dingin, Gibran bukanlah jenis orang yang mudah baper. Para anggotanya sudah terbiasa bercanda disekitarnya bahkan tak jarang menjadikannya sebagai nahan candaan. Gibran tidak marah hanya saja disaat-saat tertentu ia akan mengaja mereka bercanda di lapangan latihan. Dan semua orang di kesatuan setuju bahwa candaan Gibran tidaklah lucu. Boro-boro lucu, yang ada membuat jantung jumplitan.
"Ckckck berani juga tuh anak-anak godain Ibu." Tentara muda itu sengaja mengeraskan suaranya agar didengar oleh Gibran. Selama ini Gibran di kenal sebagai manusia minim ekspresi. Kapten mereka itu bahkan bisa dihitung berapa kali tersenyum dalam sehari. Jangankan tersenyum, marah atau kesal pun tak pernah tergambar jelas di wajahnya. Semua orang penasaran bagaimana wajah sang Kapten saat cemburu, apa persis seperti laki-laki pada umumnya atau malah berubah jadi monster?
Gibran belum juga bergeming. Tak hanya seorang kini ada lagi tentara yang menyetorkan nyawanya pada Gibran dengan menambahkan bumbu penyedap, "Wah cari mati tu bocah pake dekat-dekat Ibu boss."
"Repot, men, cantik begitu."
"Yoi. Muda, cakep, beuuuh idaman."
Gibran yang tadinya tak begitu terusik dengan suara-suara sumbang itu pada akhirnya menoleh juga. Matanya menyipit tajam Orion memperhatikan Nadia yang tengah tertawa. Entah hal apa yang diceritakan pemuda itu sampai membuat Nadianya tertawa selebar itu.
"Lanjutkan!" Gibran meletakkan gergaji begitu saja lalu melangkah tegap dan penuh ancaman diwajah tanpa ekpresinya di tempat sang istri dan para mahasiswa nekat itu.
"Taruhan, lumpur atau kali?" Dua tentara itu saling melirik penuh perhitungan lalu masing-masing mengeluarkan uang merah dari dalam dompet mereka.
"Lumpur"
"Deal." Keduanya sepakat menunggu sanksi apa yang akan didapatkan oleh para mahasiswa itu yang sudah berani mendekati Red Zone Kapten Gibran.
.
.
"Tapi ya Nad, Gue berasa lagi di drama korea kalau liat yang loreng-loreng gini. Ngerasain nggak sih vibe-nya, kejebak ditempat bencana dan aksi heroik. What an apic moment."
Nadia yang sejak tadi hanya menyimak dan ikut tertawa oleh lelucon temannya menelengkan kepala mendengar penuturan Novi, salah satu teman kelasnya penggila drakor, k-pop dan segala berbau korea.
"Emang iya?"
Novi mengangguk cepat. Imajinasinya akhirnya terwujud di dunia nyata, "Kapten Gibran Al Fateh a.k.a Kapten Yoo so-jin made in Nusantara." Sambung Novi, belum habis kekagumannya pada suami Nadia.
Nadia menyengir. Ada-ada saja. By the way semenjak kejadian semalam teman-teman kelasnya tak semenyebalkan seperti kemarin-kemarin. Apa karena dirinya hampir mati makanya mereka merasa perlu melakukan revolusi untuk memperbaiki hubungan?
"Alah manusia plastik jangan bandingin sama yang real." Sambar Ronal yang langsung mendapat pelototan tajam dari Novi. Mengundang war saja manusia satu ini. Apa Ronal tidak tahu bahwa jiwa bar-bar para k-drama maupun k-popers gampang tersulut kalau idolanya sudah disebut plastik?!
"Bilang aja lo sirik karena gak punya idung, kulit gosong jauh dari glowing." Balas Novi menohok.
Nah kan! Nadia menggelengkan kepala lelah.
"Rasis lo ya."
"Bodo amat." Novi memelet.
Eh, tapi ngomong-ngomong dimana Om Gi-nya? Nadia celingukan saat tak melihat keberadaan Gibran diantara para pria berseragam loreng itu.
"Cari siapa?" Tanya Orion yang diam sejak tadi. Cowok ini tumben sekali bergabung dengan para juniornya. Biasanya paling menjunjung senioritas apalagi kalau sudah berada dikampus.
"Bukan siapa-siapa." Bohong Nadia. Kenapa ia harus memberi tahu Orion siapa yang sedang dicarinya. Tidak penting.
"TRUS DOKTER KANG SI CUPU INI? GITU?"
Semua orang terkejut menoleh pada Lalita yang datang-datang langsung melontarkan ujaran kebenciannya. Cewek aneh. Nadia memutar bola mata sebal. Para juniorpun lebih memilih menutup mulut, malas berurusan dengan mulut comberan Lalita. Kaum-kaum yang tidak bisa melihat orang lain hidup tenang sudah si Lalita ini.
"Apaan sih, Ta." Tegur Orion. "Jangan mulai." Ujarnya memperingatkan.
"Gue cuma nanya. GAK BOLEH?" Lalita duduk di batangan kayu itu dengan kasar hingga Nadia yang sudah duduk disana hampir terjengkang yang untungnya sempat ditahan oleh Orion.
"Thanks." Ucap Nadia sembari melepaskan tangan Orion yang menahan punggungnya.
"Kak Orion tidak kalah ganteng. Cocok jadi Kapten Yoo."
Semua orang menoleh ke sumber suara yang juga datang-datang langsung menimpali. Emang tidak ada attitude orang-orang ini. Wati yang selama ini dikenal nempel di ketek Nadia dan tak banyak bertingkah ikut nimbrung dalam obrolan. Bencana semalam benar-benat sudah mengubah banyak hal. Biasanya Wati jadi pendengar tapi sekarang--- nadia mengulas senyum miringnya.
"DIH GAK PANTES BANGAT SI CUPU DIREBUTIN." Lalita berujar sewot.
Nadia yang sebenarnya bukan tipe-tipe yang sabar bangat memilih diam kali ini. Tidak lucu saja bertengkar di tengah orang banyak dimana ada anggota suaminya juga disini. Bisa jadi hot news lagi di kantor nantinya.
"Tapi Nadia memang cantik sih, wajar banyak suka. Sayang saja modelan Nad tidak tergapai oleh rakyat jelata seperti gue." Wawan yang duduk disamping Ronal ikut menimpali, melirik malu-malu pada Nadia yang hanya menaikan satu alisnya. Ada apa dengan orang-orang ini?
"Lo naksir Nadia?" Tanya Ronal tak percaya. Pasalnya si wawan cupu ini nekat juga kalau beneran suka Nadia. Ada Orion disana dan sudah jadi rahasia umum bahwa senior mereka itu memutuskan Lalita karena menyukai istri orang. Gawat.
"Gak berani gue." Cicit wawan melirik takut-takut pada Orion yang menatapnya selidik, "Lagipula Nadia sudah menikah. Nadia bahagia dengan keluarganya." lanjutnya menatap ujung sepatunya. Ini namanya patah sebelum berkembang.
Nadia yang mulai jengah hendak berdiri namun kalimat Wati berikutnya membuatnya membeku.
"Janur kuning yang sudah melengkungkan bisa diluruskan lagi pake setrika."
Bukan hanya Nadia, yang lainpun mengerutkan kening mendengar ucapan Wati. Ini Wati kenapa? Geger otak apa sakit jiwa? Lancang sekali.
"Iya, sebelum nyentuh setrika, muka lo duluan yang gue setrika pake laras." Sambung Nadia tak santai. Si*lan si Wati, ngedoain gue pisah sama Om Gi maksudnya?!
"Nad Maksud sa-"
"DIEM LO!" Bentak Nadia kesal. Baik Orion maupun yang lain sudah bersiap melerai jika pecah perang tapi ternyata Nadia tak melanjutkan kemarahannya. Wanita berwajah cantik itu meninggalkan kerumunan.
"Nadia--" Panggilan Orion tak diabaikan sama sekali.
"Kalian sedang apa disini?"
Perhatian para mahasiswa itu teralihkan oleh kehadiran Gibran. Lalita langsung menyingkir. Lelaki dengan otot lengan tak termaafkan itu melipat kedua tangannya di dada. Orion yang memang tak menutupi ketidaksukaannya juga melipat kedua tangannya menantang.
"Ada urusan apa?" Tak ada gentarnya sama sekali. Gibran tersenyum sinis, punya nyali juga bocah ini. Sayang sekali tatapan semacam itu tak mempan pada seorang Gibran. Ayolah, anak bawang.
"Kalau kedatangan kalian cuma untuk menghabiskan makanan para pengungsi lebih baik nyebur di sungai, pulang." Ujar Gibran datar tanpa ekspresi namun berhasil membuat para pemuda itu kicep. Ini yang bicara seorang Kapten yang terbiasa meneriakan Komando untuk membidik musuh loh, meskipun tidak ada senjata di tangannya tapi kata-katanya cukup tajam mengiris harga diri para anak kota itu.
Orion mendengus. Kedua tangannya mengepal menahan kesal. Kenapa harus Nadia yang dinikahi orang ini?! Sombong, Sok jago, tak berperasaan, jelas saja Nadia tidak akan bahagia.
"Maaf, Pak. Apa yang kami bisa bantu?"
"Kalian yang mengaku laki-laki, bantu warga mengangkut bambu."
"Mengangkut bambu?" Orion, Wawan dan Ronal menoleh kearah tumpukan bambu yang tak jauh dari kali. Bambu-bambu itu diletakan begitu saja diatas lumpur sehingga siapapun yang turun kesana mau tidak mau harus ikutan kotor.
"Kenapa? Kalian bukan laki-laki?"
Wajah Orion memerah. Si*lan juga orang ini. Baru pertama ada orang yang terang-terang menghinannya didepan mukannya. Dengan kesal Orion beranjak dari tempat duduknya, lalu dengan sengaja menubruk bahu Gibran.
"Minggir!"
Sayang sekali, bukannya Gibran yang terpental, malah dirinya sendiri yang terdorong kebelakang.
"Minum susu biar kuat." Ledek Gibran lalu meninggalkan Orion yang mukanya merah padam.
"F**K YOU!"
***