Little Persit

Little Persit
Menjaga Milik Pribadi



Nadia tertawa lebar memburu Gibran yang berlari bersama Navia. Ketiganya sedang berada di taman memanfaatkan waktu yang ada untuk bersenang-senang. Banyak pasang mata yang melirik kearah mereka yang tampak asik berkejaran di tanah lapang.


"Om Giiiii udaaah jangan lari lagi. Nad capeeek." Nadia berhenti dengan nafas ngos-ngosan sementara tak jauh di depannya Gibran tersenyum menantang untuk kembali mengejarnya dan Pia.


"Ibu cepat nyerah ya, Dek. Tidak keren."


Nadia manyun mendengar ucapan Gibran yang melukai harga dirinya sebagai gadis tangguh yang tidak kenal kata menyerah.


"Ck. Awas ya. Kalau Ibu dapet, kalian berdua bakal habis." Nadia kembali mengejar dan Gibran dengan tenaganya yang masih terisi penuh berlari kecil menghindar bersama Pia yang berada dalam gendongannya tampak sangat bahagia.


"Tung---"


GUBRAAAK!!!


"Awwww!"


"Nad!"


Gibran berbalik dan bergegas menghampiri Nadia yang tersungkur diatas rumput.


"Om Giiiiiii hiks--"


Gibran membantu Nadia duduk dan mengecek lututnya yang tergores oleh kerikil kecil jalur jogging, "Sakit?"


Nadia mengangguk sambil menangis. Pia yang berada dalam gendongan ayahnya bahkan ikut terdiam melihat Ibunya terluka.


"Perih bangat, hiks." Nadia meringis melihat luka memerah di lututnya.


"Ayo, berdiri." Gibran mengerengkuh Nadia dengan tangan kirinya yang bebas lalu membawanya duduk di bangku taman, "Duduk."


Nadia duduk di bangku sedangkan Gibran duduk jongkok memeriksa lututnya, "Tidak apa-apa cuma tergores sedikit." ujarnya menenangkan Nadia yang terus-terusan menangis.


"Perih Om, hiks." Nadia mengusap matanya dengan punggung tangan juga hidungnya yang berair.


"Disebrang jalan ada apotik. Kamu tunggu disini. Saya kesana sebentar sama Pia."


"Ikuuuut."


Gibran menggeleng, "Tidak bisa jalan kan? Disini saja."


"Tapi Nad gak mau ditinggal." Rengek Nadia semakin mengencangkan tangisnya.


"Sama Pia buat temennya." Ujar Gibran lalu menoleh pada bayi kecil yang ya ya ya ya saja, "Adek temani ibu sebentar. Ayah beli obat disebrang jalan-- bisa gendong Pia kan?"


Nadia menggeleng cepat. Manja mode on. Apapun caranya ia harus sama Gibran. Bukan apa-apa, ia jengah saja melihat cewek-cewek dari berbagai generasi melirik Omnya seperti orang kelaparan. Oke deh Om Gi-nya memang keren tapi kan jangan di pandangi terang-terangan juga. Sudah jelas-jelas gendong bayi, masih juga dilirik. Menyebalkan. Nadia manyun semanyun manyunnya. Apalah ia yang sama sekali tidak berwujud wanita dewasa yang harusnya bisa mengusir laler yang berniat memeperi Omnya.


"Lah jadi gimana?" Tanya Gibran bingung. Nadia mengedikkan bahu tidak mau tahu. Diam-diam ia mengintip dibalik bulu mata lebatnya bagaimana Gibran kebingungan. Dia tidak tega sebenarnya tapi mau gimana lagi, aset pribadi harus dijaga ketat


"Ya sudah, sini saya papah." Gibran kembali membantu Nadia berdiri lalu melingkarkan tangannya di pinggang Nadia, "Begini bisa jalan?"


Nadia mengangguk cepat, "Bisaaa." Ucapnya menyembunyikan senyumnya. Gibran memang tak akan pernah tega padanya. Kedua tangannya ia lingkarkan di pinggang laki-laki itu erat. Modus baru yang dipelajarinya dari pengalaman hidup. Gibran hanya akan aman jika dikekepi seperti ini. Tempat umum memang sangat berbahaya buat lelaki bening seperti Omnya, terlalu banyak ulat bulu yang kegatelan. Nadia memelet saat melewati seorang wanita dewasa dengan pakaian ketat atas bawah yang sejak tadi mengedip genit dengan pose murahan terus berusaha menarik perhatian Gibran yang tatapannya lurus pada Nadia.


Punya gue. Weeeek!


"Yakin lututnya sakit?"


"Yakin." Jawab Nadia mantap tak memperdulikan tatapan sanksi Gibran yang melihatnya berjalan dengan santai berbeda dengan sebelumnya saat mereka masih berada di taman. Nadia mengedip pada Pia yang menatapnya berbinar. Ibu hebat kan, Dek? Hihihi.


***


Definisi lelaki idaman itu ya Kapten Gibran--Sayangnya Nad-- Al Fateh. Nama tengahnya bahkan sudah disisipkan oleh Nadia secara tertulis di setiap medsosnya yang selalu meminta konfirmasi mengenai statusnya. Ah sangat disayangkan lelaki sesempurna Omnya ini hanya ada satu di dunia sehingga yang kebagian bahagia paripurna hanya dimiliki oleh Nadia Gaudia Rasya seorang. Lihatlah, lelaki berbadan tegap, berwajah dingin tapi memiliki senyum manis itu begitu luwes memilih bahan makanan yang Nadia saja baru tahu bahwa jahe dan lengkuas itu dua jenis rempah yang berbeda. Di gendongan depannya ada Pia yang asik bertukar pendapat dengannya memilih barang yang terbaik. Sementara Nadia si ibu rumah tangga yang tidak berguna duduk santai di salah satu kursi panjang yang disediakan untuk beristrahat sambil meminum susu pisang yang dibelikan oleh Gibran. Ia tak berhenti mengambil gambar untuk mengabadikan momen manis ayah dan anak itu. Beberapa foto yang sudah Nadia post bahkan mendapatkan banyak love dan banyak komen dengan tagar #Papaidaman #Papakece #Bundadisini dan ada juga yang memakai hastag panjang #Googlecaramenjadikeranjangbelanjaan, sungguh sangat keputusasaan yang hakiki. Nadia menggelengkan kepala miris melihat komen-komen tersebut.


"Ya ampuuuuun jiwa pel*kor gue meronta-ronta. Suami dan ayah idaman bangat."


Nadia yang berniat mengetik komen balasan pada salah satu teman SMA nya menoleh kesumber suara. Disampingnya ada dua orang cewek berpakaian super mini cekikikan melihat kearah dimana Gibran berada sambil sesekali berbisik yang bisa ia dengar dengan jelas.


"Duuuuuh senyumnyaaaa... Mau dong."


Nadia mengerutkan kening tak suka. Dua orang cewek itu jelas membicarakan Om Gi-nya. Tidak bisa dibiarkan. Nadia berdiri dari tempat duduknya, mengambil tas selempangnya lalu dengan gaya anggun melupakan akting sakitnya berjalan kearah Gibran dan Pia.


Senyum jahat Nadia terbit. Ia paling suka nih bagian mematahkan hati wanita-wanita yang memelihara jiwa pelakor di dalamnya.


"Sayaaaaaang masih lama ya?"


Gibran yang sedang membandingkan dua merek kecap yang berbeda melirik Nadia yang gelayutan di lengannya, "Kenapa?" tanya laki-laki itu bingung. Ia memang selalu bingung dengan aksi tiba-tiba sang istri. Tadi merengek tidak bisa jalan tapi sekarang malah sama sekali tidak ada jejak yang menunjukkan gadis nakalnya itu merasakan sakit di kakinya.


"Mau Channel, Gucci trus tadi Cristian louboutin baru aja ngelaunching sepatu baru. Mauuuuuu."


Gibran mengernyit. Ia sama sekali tidak memiliki clue untuk nama-nama yang disebutkan istrinya itu.


"Es krim varian baru?"


Dagu Nadia hampir jatuh menyentuh lantai mendengar pertanyaan polos sang suami. Astaga sejak kapan Channel, Gucci dan CL jualan es krim? Suaminya ini memang sangat memprihatinkan kalau urusan fashion. Untung saja ia memiliki istri yang master dalam urusan barang-barang mewah.


"Tas dan sepatu, Om. Masa gak hafal-hafal sampe sekarang sih. Nad aja mau ngehafalin Undang-undang demi menyesuaikan diri dengan Om. Masa Om merek tas dan sepatu Nad aja gak tau." Nadia sebenarnya sedikit kesal tapi karena ia sedang memerankan tokoh istri yang berbahagia bersama anak dan suaminya maka senyumnya tetap merekah sempurna.


"Menghafal undang-undang sudah selayaknya bagi setiap warga negara Indonesia, Nad." Ujar Gibran santai sembari memasukan kecap dengan merek yang dirawat seperti anak sendiri kedalam keranjang belanjaannya.


"Iiih tetap aja. Pokoknya Nad gak mau tau setelah ini temenin Nad beli sepatu dan tas baru." Tuntut Nadia masih dengan ekspresi yang cerah cemerlang yang dibuat-buat.


"Um."


Nadia melebarkan senyumnya, "Yaudah, mana kissnya?"


"Huh?" Lipatan dikening Gibran makin banyak. Ada-ada saja.


"Kiss?" Nadia memainkan keningnya meminta Gibran segera menyempurnakan drama dadakannya sore ini.


Gibran menghela nafas, tidak ada gunanya membantah, ia menunduk lalu mengecup pipi Nadia.


Cup.


"Puas?"


"Bangat." Nadia memeluk lengan Gibran setelah menyarangkan satu kecupan di pipi gembul Pia yang sabar menghadapi kelakuan sang Ibu.


"Ayo!" Nadia menarik tangan Gibran untuk segera pindah tempat. Tidak baik memberi tontonan pada jomblo nanti kalau baper siapa yang tanggungjawab, yekan?! Nadia dengan seringai puas melewati dua cewek yang wajahnya masam sejak adegan keluarga manis yang ia pertontonkan. Makanya kalau bercita-cita itu yang mulia, jadi dokter atau guru, jangan menumbuh kembangkan jiwa pel*kor. Huh.


Seperti permintaan nyonya Nadia Gaudia Rasya, Gibran kini berada di toko sepatu yang khusus untuk wanita. Lelakinya Nadia itu sangat sabar menunggu bersama bayi kecilnya di pangkuannya. Kalau sudah Nadia yang memilih, maka waktu sejam tak cukup untuknya. Oleh karena banyak waktu yang diperlukan, Gibran memutuskan untuk membuka salah satu aplikasi media sosialnya yang jarang sekali ia buka. Notifikasi bersahutan membombardir hpnya hingga menarik perhatian beberapa pengunjung. Saat membuka berandanya, ia langsung disuguhkan dengan berbagai fotonya yang di tag oleh sang istri. Fotonya saat berbelanja dengan Pia juga salah satu fotonya di taman. Gibran hanya bisa menggelengkan kepala melihat begitu banyak komen yang mengisi kolom komentarnya. Setelah menekan love ia langsung keluar dari medsosnya dan beralih pada tugas negara, mengecek evaluasi latihan terbang semingguan ini. Tipe tentara yang sangat berdedikasi dengan gaji yang pas-pasan kata Nadia. Padahal kursi CEO tersedia untuknya kapanpun ia mau duduk yang pasti dengan penghasilan yang jauh lebih banyak.


"Ayo!"


Setelah hampir dua jam, Nadia akhirnya selesai menetapkan pilihannya. Gibran menutup aplikasi unduh filenya, menyimpan hp dalam kantong jaketnya lalu mengambil alih belanjaan Nadia sedangkan Pia yang lelah bermain dan mengoceh sudah tertidur dalam gendongannya.


"Restoran biasa ya Om. Biar sekalian Nad gantiin pempers Pia."


"Iya."


Keluarga kecil itu pergi kesalah satu restoran yang ada dalam mall tersebut yang menjadi tempat favorit mereka karena family-able. Gibran dan Nadia memilih tempat yang agak di pojokan agar tidak terganggu dengan orang yang berlalu lalang.


"Dek, bangun yuk. Ganti pempers dulu." Nadia mengusap pipi Pia membuat bayi gembul itu mengeliat dan membuka mata bulatnya. Bibirnya cemberut siap menangis tapi Nadia dengan sigap membawanya berdiri, "Cup cup sayangnya Ibu. Jangan nangis dong, ganti pempers bentar aja kok." Ditepuk-tepuknya punggung Pia yang tidak jadi menangis.


"Gak usah, Om. Pesenin aja untuk Nad seperti biasa."


"Oke."


Nadia mengambil tas kecil Pia lalu membawanya ke toilet di tempat Pia bisa gantian dengan bebas.


Nadia mendesah lega saat melihat tidak ada siapapun dalam toilet. Biasanya kalau bepergian seperti ini dan harus mengganti popok Navia, ada saja orang-orang yang nyinyir, protes baulah, apalah. Ada saja kaum yang menyebalkan dimana-mana.


"Sabar ya sayang, bentar aja ini." Nadia membaringkan Pia dipinggiran wastafel yang cukup lebar. Dengan telaten ibu muda itu mengurusi bayinya yang selama ini sama sekali tak pernah dilakukannya. Nadia bisa mengurus Pia setelah Gibran mengajarinya dengan penuh kesabaran. Seiring waktu dan jam terbang yang banyak, Nadia akhirnya bisa mengurus Pia meski tanpa didampingi Gibran.


"Waaah kakak yang hebat ya. Bisa mengurus adiknya."


Nadia meringis. Pernyataan itu lagi. Ia sampai bosan mendengarnya. Kali ini demi kedamaian dan ketenangan batin, ia tidak mengoreksi ucapan Ibu-ibu paruh baya itu. Hanya seulas senyum tipis dengan makna ganda yang terbit diwajahnya.


"Udah berapa tahun, Dek?"


"Delapan bulan, Bu."


"Oh ya? Bongsor ya. Kirain tadi udah satu setengah tahunan." Ujar Ibu-ibu itu heboh.


Nadia meringis, ya gimana gak bongsor bu, kan dirawat dengan baik sama emak dan bapaknya. Batin Nadia. Tak ingin berlama-lama meladeni Ibu tersebut, Nadia buru-buru menyelesaikan urusannya.


"Kami duluan, Bu." Pamit Nadia mengabaikan ibu itu yang hendak mengucapkan sesuatu. Maaf ya, Bu, saya rese kalau sedang lapar. Jadi demi keselamatan bersama, saya undur diri.


Nadia dan Pia kembali kemeja. Sudah terhidang berbagai menu yang mereka pesan.


"Om, Nad di sudut ya. Pia mau Asi."


Gibran yang duduk dibagian sudut yang terhalang oleh dinding berdiri dan membiarkan Nadia duduk disana. Gibran membuka jaketnya lalu menutupi Pia yang sudah PW siap untuk makan malam. Senyum kecilnya merekah melihat Nadia yang tampak telaten mengurus anak mereka. Diusapnya rambut Nadia dengan sayang, "Terima kasih, sayang." kecupan lembut ia daratkan di pelipis Nadia. Bangga dan terharu melihat Nadia yang semuda itu mau mengurus bayinya sendiri. Istrinya itu bahkan tidak takut sama sekali dengan perubahan badannya yang mungkin saja berubah melar setelah melahirkan yang ternyata memang tak merubah bentuk badan kecilnya sama sekali.


"Sama-sama, tapi buat apa ya Om?" Nadia menyelipkan anak rambut dibelakang telinga.


"Terima kasih sudah jadi ibu yang luar biasa untuk Pia dan istri keren untuk saya." Ujar Gibran sambil mengelus kening Nadia.


Nadia mengangguk sembari tersenyum lebar, "Oh itu, sama-sama. Btw tadi Nad pake tiga puluh juta isi si merah putih dan--"


"ASTAGHFIRULLAH."


"Kenapa Om? Tidak apa-apa kan?" Nadia bertanya khawatir.


Tiga puluh juta? Gaji berapa bulan itu? Gibran menangis dalam hati.


"Om?"


Gibran tersadar dari kekagetannya, "Oh tidak apa-apa, sayang. Itu kan punya Nad." Seulas senyum kaku yang dipaksakan menghiasi wajah tampannya. Mau bagaimana lagi kalau nafkah istrinya memang seluar biasa itu. It's okey, Gi. Uang bisa dicari lagi yang penting istri bahagia. Gibran menguatkan dirinya.


"Makasih, Om sayang." Nadia mendekat mengecup pipi Gibran cepat.


"Sama-sama." Gumam Gibran masih begitu berat mengikhlaskannya untuk tas yang hp saja tidak muat di dalamnya.


Keduanya makan dengan tenang dan lahap. Sesekali Gibran menyuapkan lauk pada Nadia yang tidak bebas bergerak karena Pia yang tertidur sambil menyusu.


"Om, masa kemarin Nad di labrak Lalita." Nadia membuka percakapan ditengah-tengah makan malam mereka.


"Dilabrak gimana?"


"Dicegat. Katanya Nad udah bikin orangtuanya susah. Pasti Om Sam yang udah ngelakuin sesuatu kan?"


"Cuma memberi sedikit pelajaran." Ucap Gibran yang sudah tahu masalah kantor. Tangannya terulur membersihkan bibir Nadia yang belepotan saos.


"Gaudia ada kerjasama dengan perusahaan orangtua Lalita?"


"Calon partner tapi tidak jadi. Dibatalkan sama Samuel karena mereka sudah menyakiti bos besar." Terang Gibran tanpa beban. Padahal biasanya laki-laki ini yang menentang campur aduk antara kerjaan dan urusan pribadi tapi kali ini kasusnya lain. Gibran tidak akan bersikap lembut pada siapapun yang membuat Nadianya menangis.


"Gak kasihan?" Tanya Nadia merasa sedikit prihatin pada keadaan Lalita dan keluarganya.


"Setiap tindakan punya akibat, Nad. Mungkin itu akibat dari apa yang telah mereka sebabkan." Lanjut Gibran. Ia sudah menyelesaikan makannya sementara Nadia masih sisa banyak.


"Sebelum ada itikad baik dari mereka, keadaan mereka akan semakin buruk." Lanjut Gibran sambil menyela mulutnya dengan tissue.


"Tapi Nad kasihan lho Om." Ucap Nadia menatap Gibran sendu.


Gibran mengelus pipi Nadia, "Tidak apa-apa. Mereka bukan orang bodoh, tahu apa yang harus dilakukan."


Nadia menghela nafas pelan. Melihat Gibran yang yakin dan teguh dengan pendapatnya membuat Nadia tak bisa berbuat banyak. Jika sudah mode monster seperti ini maka tidak ada celah untuk siapapun yang berurusan dengan Gibran. Lebih baik melihat Gibran mengamuk daripada dia diam karena diamnya Gibran lebih menyeramkan dari seekor harimau yang diinjak ekornya. Nadia melanjutkan makannya, tak berani berkata-kata lagi.


***


"Bentar ya Om ada yang ketinggalan." Nadia berlari kembali ke restoran tak menunggu Gibran merespon. Nadia lupa mengambil pesanan makanan untuk bibik yang sedang sakit di rumah. Nadia bergegas menuju meja yang mereka tempati dan mendapti makanan yang ia bungkus masih disana.


"Alhamdulillah." Nadia mengambil plastik dengan logo restoran tersebut. Saat akan keluar ia mendengar ada ribut-ribut di meja kasir. Nadia kenal suara itu.


"Gue kan sudah bilang kalau makanannya tetap akan gue bayar."


"Tapi mbak, mbak tidak bisa pergi begitu saja. Ini jaminannya ap--"


"Oh my gooooood! Lo ngerti omongan gue nggak sih? Gue akan bayar tapi sebentar."


Nadia mendekat kesumber keributan dan benar saja, suara cempreng itu milik seorang cewek menyebalkan. Lalita.


"Ada apa, Mbak?" Nadia menyela keributan dan saat Lalita menyadari siapa yang datang, ia langsung membuang nafas kasar.


"BUKAN URUSAN LO!"


Nadia berdecak pelan. Sudah susah masih juga sombong. Ini nih tipe manusia miskin yang dibenci Tuhan. Tidak punya apa-apa tapi sombongnya sampai kelangit ketujuh.


"Hih, gue gak ngomong sama lo ya." Balas Nadia sinis.


"Ini mbak, mbaknya tidak bisa ba--"


"GUE BAYAR! NGERTI GAK SIH LO?GUE BAYAR TAPI GAK SEKARANG!" Lalita semakin mennggas membuat pelayan di depannya bungkam. Malu dan sebal yang membuatnya emosi seperti ini. Seorang Lalita tidak bisa membayar makanan di restoran? Oh astaga!


Nadia melirik kartu yang dipegang Lalita. Semua kartu dari berbagai jenis bank yang ada dalam negeri bahkan ada black card juga disana. Tapi kartu sebanyak itu tidak bisa membayar makanannya? Apa semua ini ada hubungannya dengan Gaudia Group?


"Berapa mbak?" Nadia mengeluarkan kartunya yang langsung ditepis Lalita.


"GAK USAH!" pekiknya. Harga diri seorang Lalita memang tak berbeda dengan Nadia. Jenis manusia-manusia yang hidup diatas gengsi selangit.


Nadia menunduk mengambil kartunya yang jatuh dilantai, "Pilihan di tangan lo. Mau gue bayarin atau lo viral gegara gak bisa bayar makanan." tantang Nadia santai.


Lalita yang sudah diujung tanduk mengepalkan tangan kuat-kuat. Tapi sepertinya gengsi sudah membuat mantan pacar Orion itu kehilangan kemampuan berterima kasih.


"SI*LAN!" Lalita mengumpat kesal lalu keluar dari restoran itu meninggalkan Nadia yang menatap prihatin padanya. Ya ampun, untung gue baik.


"Pakai ini aja, Mbak." Nadia menyerahkan kartu merah putihnya pada kasir yang juga kehabisan kata-kata melihat kelakuan salah satu pengunjung restoran mereka.


Mengalah bukan berarti kalah. Ucapan Komandan melintas dikepala Nadia. Dan rasanya melihat Lalita seperti itu lebih memuaskan daripada tamparan kemarin. Nadia tersenyum kecil. Rasakan pembalasanku, Lalita!


***