
Valeria memperhatikan sosok yang berada tak jauh dari tempatnya duduk dengan penuh penilaian. Nadia, Ibu hamil yang ia curigai menjalin hubungan dengan lelaki pujaannya tengah asik mengobrol akrab dengan dua orang warga lokal. Tak jauh dari Nadia, Gibran bersama beberapa orang tentara yang membantu renovasi rumah dinas yang akan mereka tempati sedang membuat jendela baru yang akan di pasang menggantikan jendela lama yang sudah rusak. Valeria memperhatikan keduanya dengan seksama, memikirkan hal apa yang mungkin menarik dari seorang Nadia yang membuat Gibran, seorang kapten tampan mau terlibat affair dengan wanita muda itu. Oke, Nadia memang cantik bahkan dengan wajah tanpa polesan auranya sebagai seseorang dengan kehidupan bak putri raja memancar kuat dari dirinya membuat orang-orang akan langsung menebak bagaimana kehidupan seorang Nadia yang pasti dikelilingi dengan kemewahan. Valeria bukanlah seseorang yang buta akan fashion dan merk ternama dari sebuah brand. Hidupnya sebagai seorang wanita metropolitan yang tak memiliki kekurangan pada bagian finansial membuatnya bisa mengenali dengan baik mana barang asli atau mana yang tiruan, dan ia yakin dengan pasti bahwa apa yang dikenakan Nadia meksipun potongannya sederhana, harganya tidaklah sederhana dan tentu saja barang asli. Tapi apa mungkin harta bisa membuat seorang Gibran jadi bodoh? Kalau ia perhatikan, Gibran bukan juga orang yang kekurangan harta apalagi dengan pangkatnya sekarang, tentu saja gajinya tak sama dengan tentara baru bergaris merah. Lalu apa? Valeria memijit hidungnya. Baru kali ini ia sangat penasaran dengan urusan asmara orang lain. Ah tentu saja ia penasaran karena satu-satunya orang yang berhasil membuatnya berdebar terlibat di dalamnya.
"Pak Robi, minumnya." Valeria memutuskan untuk menghampiri Robi yang tengah menambal lantai semen yang sudah pecah-pecah dengan yang baru.
"Terima kasih, Dok." Robi menghentikan sejenak pekerjaannya untuk meneguk minuman mineral yang diberikan oleh Valeria.
"Sama-sama, Pak. Kami seharusnya yang mengucapkan terima kasih karena bapak-bapak sudah membantu renovasi rumah ini."
"Tidak perlu sungkan, Dok. Ini sudah bagian dari tugas kami disini, memberikan pertolongan dan bantuan pada masyarakat." Robi mengulas senyum tipis yang begitu cocok di wajah ramahnya. Valeria menjadi semakin kasihan karena lelaki sebaik Robi telah dikhianati.
"Ngomong-ngomong bapak sudah berapa lama tugas disini? Melihat interaksi bapak dengan warga sepertinya sudah sangat akrab." Maksud Valeria adalah untuk mengetahui sejak kapan pasangan muda ini berada di tempat ini untuk mengukur sudah sejauh mana hubungan terlarang antara Nadia dan Gibran. Durasi waktu biasanya menentukan kuat lemahnya suatu hubungan.
"Delapan bulan, Dok, belum terlalu lama."
"Tapi betah ya Pak, maksud saya dengan keadaan disini yang serba kekurangan."
Robi mengangguk tipis seraya mengulas senyum tipis "Iya, Alhamdulillah betah, Dok. Biasanya yang paling sulit tantangannya bagi yang masih muda-muda seperti dokter dan teman-teman dokter adalah sulitnya akses internet yang menghubungkan dengan dunia luar. Semoga dokter dan tim juga betah disini." Ucapnya tulus.
"Aamin. Pasti betah, Pak, buktinya Bu Nadia betah, pasti kami juga bisa bertahan." Ujar Valeria sengaja mengungkit Nadia. Ia harus mengorek info sebanyak mungkin mengenai Nadia sebelum memutuskan apa yang harus ia lakukan.
"Ah benar juga. Dia paling muda diantara para pendatang lainnya tapi sudah yang paling legowo menerima keadaan." Ujar Robi mengungkapkan ketakjubannya akan sosok Nadia yang bisa bertahan tanpa mengeluh di tempat itu.
Ah finally topik ini datang juga. Valeria tak bisa menyembunyikan ketertarikannya untuk membahas Nadia pada sumbernya langsung.
"Bu Nadia usianya berapa Pak? Seperti masih muda sekali. Bahkan terlihat lebih muda dari kami disini."
"Tujuh belas tahun."
"TUJUH BELAS TAHUN?" Teriak Valeria tak percaya. Ia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan saat menyadari tatapan orang-orang yang ada disekitar situ menatapnya penuh atensi "Ma-maaf." Ujarnya lirih menggigit bibir bawahnya menahan malu. Didepannya Robi malah terkekeh.
"Maaf, Pak." Katanya lagi teruntuk pada Robi karena telah berteriak di depannya.
Robi menggeleng pelan "Tidak apa-apa, Dok. Bukan Dokter orang pertama." ucapnya menahan tawa.
Valeria mengusap telinganya salah tingkah "Saya hanya tidak menyangka, Pak. Bu Nadia masih semuda itu tapi sudah menyandang status sebagai calon ibu." Valeria tersenyum yang malah terlihat seperti ringisan.
"Iya, dia masih sangat muda." Ulang Robi dengan pikiran berandai-andai tentang Nadia.
"Bu Nadia dekat ya Pak sama bapak-bapak tentara disini?" Mata Valeria melirik kearah dimana Nadia berada dan cukup terkejut melihat Gibran dengan santainya menyelipkan anak rambut di belakang telinga Nadia tanpa merasa canggung sama sekali. "Bu Nadia sepertinya melebur dengan baik dengan rekan-rekan suamimya." lanjutnya tanpa memutus kontak pada dua orang itu.
"Iya, Dok. Bu Nadia baik dan menyenangkan. Mudah disukai." Ujar Robi tersenyum kecil. Salah satunya adalah dirinya. Ia sangat menyukai Nadia tapi harus menahan untuk tetap berpikir normal dan lurus, mengingatkan diri dengan baik bahwa Gadis manis itu telah dimiliki.
Valeria yang mendengar kalimat itu hanya menarik nafas pelan. Bapak tentara di depannya ini sepertinya masih belum menyadari keakraban yang tak wajar antara istrinya dan Kaptenya sendiri, sungguh sebuah ironi.
***
"Om, liat deh, Nad punya sesuatu yang keren."
Gibran yang tengah memantau pekerjaan dua orang rekannya menoleh, dan mendapati sang istri tengah memamerkan tas nokennya dengan wajah sumringah.
"Hm"
Gitu doang? Mendapat respon menyebalkan seperti itu langsung membuat senyum sumringah Nadia menjadi tekukan masam "Bisa kalik bilang WOW!" ucapnya sebal. Laki-lakinya ini benar-benar minus dalam hal menyenangkan hati orang. Untung Nadia sabar.
"Wow" Ucap Gibran sesuai permintaan Nadia. Tapi sayang sekali tidak dengan nada datar itu yang Nadia mau. Akhirnya karena kesal Nadia melempar sendalnya hingga mengenai punggung Gibran.
Bugh!
"Nyebelin." Gerutu Nadia kesal. Gibran yang mendapat serangan mendadak dari istrinya tak bergeming. Menganggap angin lalu kelakuan Nadia dan fokus memperhatikan pekerjaan dua rekannya.
Nadia yang semakin kesal dengan kelakuan Gibran yang sama sekali tak menyenangkan dengan susah payah berdiri dari tempat duduknya bersama dua orang enang yang sudah pergi terlebih dulu. Ia menghampiri Gibran dan menarik ujung kaos lelaki itu kesal.
"Om Gi!" Sentaknya
"Um." Gibran menyahut tanpa menoleh pada sang istri. "Gus, sisanya di potong saja langsung supaya mudah di pasang." istruksinya pada Gustam, salah satu tentara muda yang belum lama pindah tugas di tempat itu.
"Baik, suh."
"Om Giiiii" Nadia mulai merengek. Tangannya tak tinggal diam menarik-narik ujung kaos Gibran, berusaha menarik perhatiannya.
"Ada apa?" Gibran menoleh, ia mendapati wajah tertekuk Nadia. Istrinya itu tampak lucu dengan baju balon yang membuatnya mengembang mengemaskan. "Sendalnya kenapa di lepas, ck." Gibran duduk jongkok setelah mengambil sendal Nadia lalu memasangkannya. "Batunya tajam-tajam gini."
"Habis om nyebelin, Nad panggil-panggilin nggak di sahutin." Ujarnya kesal. Ia menunduk memperhatikan Gibran yang berusaha memasang tali-tali sendal gunungnya. Kedua tangannya bertumpu di bahu Gibran.
"Mau apa?" Tanya Gibran setelah memasang sendal Nadia dengan benar. Ia mengusap kaki Nadia yang tampak lebih gemuk dari biasanya.
"Nad punya ini." Pamernya, seketika melupakan kekesalannya pada Gibran.
"Bagus. Dapat dimana?
"Enang kasi. Katanya buat kenang-kenangan. Warisan budaya dunia loh, Om. Keren bangat kan?"
Gibran mengangguk, mengusap peluh di dahi Nadia "Iya." Sesingkat itu jawabannya. "Nad duduk di tempat teduh, jangan panas-panasan."
"Gak mau. Nad mau liatin Om disini."
"Kalau gitu jangan terlalu dekat nanti kenapa potongan kayu." Dibawanya Nadia untuk duduk diatas sebuah gundukan tanah dibawah sebuah pohon kecil. "Tunggu disini."
Nadia hendak menolak tapi melihat wajah Gibran yang tak menerima penolakan akhirnya ia mengangguk dengan terpaksa. "Pinjam hp."
"Buat apa?" Gibran mengeluarkan hp dari kantong celananya lalu menyerahkannya pada Nadia.
"Buat main game." Ia menerima hp tersebut dengan senyum lebar "Polanya?"
"Pola N."
"Sip." Nadia menggerakan jarinya sesuai perunjuk Gibran. Salah satu yang tidak berubah sejak mereka sebelum menikah sampai sekarang adalah bahwa Hp tetap menjadi privacy yang tidak boleh saling mengusik satu sama lain. Oleh karena itu baik Gibran maupun Nadia tidak saling mengetahui isi hp.
Saat kunci terbuka, senyum cerah terbit di wajah Nadia. Ia menyengir lebar pada Gibran saat melihat foto di wallpaper lelaki itu adalah foto dirinya yang sedang berada di sekolah dengan memakai seragam batiknya. Walaupun ia berharap Gibran memasang fotonya yang sedang cantik dengan make up flawless, tetap saja tidak mengurangi kebahagiaannya mengetahui bahwa tiap kali Gibran membuka hp maka wajah dirinya dululah yang akan ia lihat.
"Mau foto baru nggak Om?" Nadia menaik turunkan alisnya menggoda Gibran yang sama sekali tak terganggu dengan itu.
"Tidak. Terima kasih." Jawab Gibran tak berminat. Baginya yang ini juga tetap yang paling cantik. Nadia tampak kelihatan lebih seksi dengan kacamata bacanya dan rambut acak-acakan miliknya.
"Ck. Ya udah." Nadia mengedikkan bahu acuh lalu mulai mengotak-atik hp Gibran mencari game yang dia inginkan. Hanya game, karena itu redaksi izinnya sejak awal.
Setelah memastikan Nadia duduk anteng di tempatnya, Gibran kembali bergabung dengan teman-temannya untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda. Masih ada beberapa yang mereka perlu selesaikan, salah satunya membuat dapur darurat untuk para tim medis pakai selama tinggal di Distrik mereka.
"Angkat, bawa ke rumah." Ujar Gibran lalu kedua rekannya mengangkat jendela tersebut yang tidak terlalu berat karena terbuat dari tripleks diikuti Gibran dengan membawa alat-alat tukang yang telah mereka pakai.
BRAKK!!
"AWWW!!!"
Gibran yang tidak membawa beban berat bergegas menghampiri Rani yang terpelanting oleh potongan kayu sisa perbaikan pintu.
"Anda tidak apa-apa?"
Rani yang tadinya tak merasa sakit sama sekali langsung mengaduh kesakitan. "Ouch, sakit bangat." ringisan-ringisan berlebihan terlontar dari mulutnya.
Gibran lantas membantunya berdiri, "Biar saya yang bawa." Ia mengambil alih dua ember kosong yang dibawa oleh Rani.
"Terima kasih, Pak. Maaf merepotkan." Ujar Maharani sembari menyelipkan anak rambut dibelakang telingannya dengan gaya yang dibuat seanggun dan senatural mungkin.
"Ya." Jawaban singkat dari Gibran cukup membuatnya terkesima. Tidak ada basa basi sama sekali dari bapak tentara di depannya ini. Padahal biasanya dengan wajah lugu bin polosnya, Rani begitu mudah memikat orang untuk peduli padanya. Maharani mengakui dirinya sebagai cewek yang memperdaya orang-orang dengan wajah polosnya. Dan sepanjang sepak terjangnya, ia belum pernah mengalami kegagalan dan memainkan peran sebagai cewek polos nan lugu yang tak berdaya. Kali ini pun pasti akan sama.
Rani berjalan mengikuti Gibran yang sama sekali tak berniat untuk memapahnya. Ya dia tidak sakit tapi aktingnya sebagai orang yang kesakitan layak mendapat piala oscar.
"Lo kenapa?" Valeria menyambut di depan pintu dengan tatapan tak suka. Terlebih saat Rani dengan terang-terangan memulai perang mendekati Gibran dengan caranya yang biasa.
Rani melihat sikunya, "Gue jatuh." Berbeda dengan nada kalimatnya yang terdengar rapuh dan sedih, bibir Rani mengembangkan senyum lebar yang mengerikan. Ia menunjuk Gibran dengan lirikan matanya. "Baik dan tampan." ujarnya pelan, yang hanya bisa di dengar Valeria.
Valeria menggeram kesal, "Gue gak akan biarin lo menang hari ini."
Rani mengedikkan bahu, "Liat saja nanti."
"Ini ember anda. Lain kali hati-hati." Gibran mendekat menyimpan ember di dekat kaki rani.
"Iya, terima kasih banyak, Pak." Balas Rani dengan senyum lugunya. Setelah itu Gibran langsung bergabung dengan rekan-rekanna.
"See?" Rani menyenggol lengan Valeria yang berdiri masam di sampingnya "Baru sekali tapi hasilnya tidak buruk." ujarnya memancing kekesalan Valeria. Senyum kemenangan terbit di wajahnya membuat Valeria semakin muak. Akhirnya dengan hentakan kaki kesal, Valeria meninggalkan rumah dinas untuk keluar mencari angin segar.
Valeria bergerak ragu-ragu menghampiri Nadia saat melihat punggung wanita, kekasih diam-diamnya Gibran tengah duduk-duduk selonjoran di bawah sebuah pohon kecil yang cukup rindang.
"Selamat sore, Bu Nadia."
Praaang!!!
"Ckkk anjiiir Nabrak!" Nadia mengumpat kesal. Cacingnya yang sudah raksasa menabrak dinding karena di kagetkan oleh kehadiran Valeria.
"Sorry, saya tidak sengaja." Valeria mengucap menyesal.
Nadia yang tersadar telah mengucapkan bad words langsung menutup mulutnya, astaga jangan denger Nak, Ibu khilaf. Ucapnya dalam hati sembari mengelus-elus perut besarnya. Ia menoleh pada Valeria yang sudah mengambil tempat di sampingnya tanpa permisi.
"Boleh saya duduk disini?"
Izinnya terlambat. Sahut Nadia dalam hati dengan perasaan dongkol. Cacing-cacingnya... hiks.
"Silahkan." Mulut dan hati memang sulit untuk di sinkronkan. Nadia merutuk dalam hati. Ia sudah sangat pandai bersikap manis dan ini sangat bukan dirinya.
"Ibu Nadia sendiri saja?"
Pertanyaan bod*h.Sudah liat sendiri masih juga bertanya. Oh ya Tuhan, dirinya sudah keterlaluan sinis tak berdasar hari ini. Nadia mengusap dadanya memberi sabar untuk dirinya.
"Tadinya sendiri, sekarang berdua sama Dokter." Jawab Nadia setelah mematikan hp Gibran dan menyimpannya dalam saku rajut yang dia kenakan.
Valeria tersenyum mendengar ucapan Nadia. Netranya menelisik dengan seksama penampilan Nadia yang menguarkan wangi segar dari bedak bayi yang lembut. Bedak bayi? Valeria menghela nafas pendek, jadi Nadia tipe gadis yang tetap kece meski hanya menabur bedak bayi? Wah wah wah, selera Gibran ternyata yang tipe loly lucu seperti ini. Sayang sekali milik orang. Gibran harus membuka matanya lebar-lebar melihat kenyataan di depannya bahwa Nadia dan Robi adalah pasangan.
"Ibu tidak bosan disini?"
"Bosan. Pengen pulang dan tidur" Jawab Nadia jujur. Biar cepet, batinnya.
"Perlu saya panggil pak Robi?"
Nadia mengernyit, kenapa Pak robi?
"Untuk?" Tanya Nadia menggantung.
"Mengantar Ibu pulang." Jawab Valeria dengan kernyitan bingang, memangnya mau apa lagi.
Nadia menggeleng, "Gak usah, Dok. Nanti sama Om Gi saja." tolak Nadia cepat. Apa-apaan coba. Bisa di gantung sama Gibran dia kalau ketahuan pulang bersama Robi.
"Tapi Pak Gibran kan--"
"Om Giiiiii!" Nadia memanggil Gibran yang kebetulan sekali berdiri di luar seorang diri. Gibran menoleh lalu menghampiri Nadia dan Valeria.
"Nad mau pulang."
"Sekarang?"
Nadia mengangguk. Gibran lantas masuk kembali dalam rumah untuk berpamitan pada rekan-rekannya.
Valeria yang sudah tidak tahan dengan kedzoliman yang ada di depannya menggertakan Gigi. Ini bukan hanya tentang Robi tapi tentang perasaannya juga. Ia tidak tahan melihat Gibran bermain api dengan istri orang. Masih ada dirinya yang single yang tak kalah cantik. Kalau hanya untuk menabur bedak bayi, ia rela membuang semua make up nya dan menggantinya dengan make up milik bayi jika perlu.
"Ibu seharusnya tidak menyakiti Pak Robi yang sudah sangat baik sama Ibu. Dikhianati itu sakit, Bu."
Nadia melongok, wanita di depannya ini bicara apa? Nadia tidak mengerti sama sekali padahal Valeria berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Nadia hanya bingung.
"Siapa yang menghianati Om Robi?"
"Pak Robi mungkin tidak tahu bu, tapi saya melihat semuanya."
Nadia semakin bingung, "Maksud Dokter apa? Saya tidak mengerti sama sekali arah pembicaraan ini."
Valeria menghela nafas kasar. Ia paling benci tipe sok polos seperti Maharani dan ternyata Nadia juga memainkan peran yang sama, hebat sekali.
"Ibu Nadia ada affair kan sama Pak Gibran?"
"WHAAAAT???"
***