Little Persit

Little Persit
Antara Sayang dan cinta



"Dek Nad ini kenapa? Dari tadi ngelamun udah kayak ayam sakit. Kenapa? Gak dikasi jajan sama Om Gibrannya? Ck udah tenang saja bentar lagi si merah putih isi ulang. Denger-denger remon besok pagi keluar loh dek." Bu Agus terkekeh dengan mata berbinar terang.


Nadia yang sedang berkutat dengan kegalauannya sepanjang hari ini menoleh dengan kening mengerut "Remon siapa, Tante? Nad gak kenal?" Boro-boro kenal si remon-remon itu, cinta pertama Omnya saja dia gak tau. Ah kampreeet tuh cinta pertama. Mau bahagia aja susahnya minta ampun.Huhu


Bu Agus melongo "Dek Nad gak tau Remon?" tanyanya dengan wajah khas ibu-ibu yang baru saja mendapatkan sebuah gosip hits.


Nadia menggeleng b*go "Nggak. siapa sih? Pimpinan baru?" Tanya balik sembari menggunting-gunting pola yang sudah di gambar bu Agus sebelumnya.


Bu Agus menghela frustasi "Ck Bagaimana sih Dek, masa gak tau remon."


Ya gimana. Emang penting bangat tuh orang? Nadia mengabaikan wajah tak percaya Bu agus. Ia kembali sibuk dengan pola-pola flanel di depannya. Pekerjaan harus cepat selesai kalau mau cepat pulang. Tulang-tulangnya serasa mau patah dari sekolah tidak istrahat lanjut ikut pelatihan keterampilan di asrama sebagai bagian dari rutinitasnya sebagai seorang persit.


Nadia menyandarkan punggungnya di dinding saat merasakan kebas dan nyeri bersamaan. Sudah terlalu lama ia duduk, bahkan pantatnya terasa panas. Tidak adil sekali Gibran padanya, dia yang harus menjalani semua ini tapi di hati laki-laki itu hanya ada cinta pertamanya. Sumpah, kalau Nadia tahu siapa itu cinta pertama, beuh sudah dia ajak gelud dari kemarin-kemarin.


"Dek, lemnya tuh!" Bu Agus cepat mengambil lem tembak yang di pegang Nadia sebelum mencelakai tetangganya itu.


"Dek Nadia lho--" Bu Agus menggelengkan kepala pusing. Punya tetangga cantik seharian ini bawaannya galau, tidak konsentrasi, bikin orang lain khawatir saja.


Nadia meringis. Hampir saja ia mencelakai dirinya gara-gara kebanyakan melamun. Lama-lama ia stres juga memikirkan ini sendiri.


"Saya ke kamar mandi dulu ya Tant." Nadia beranjak dari ruangan Aula yang cukup luas lalu pergi menjauh dari keriuhan ibu-ibu yang kelihatan menikmati pelatihan hari ini.


Nadia baru akan masuk kamar mandi sebelum kemudian satu sosok menyebalkan datang mendekat dengan senyum tipis yang menyebalkan. Arg, semua hal dari Tante satu ini memang menyebalkan. Nadia mengibaskan rambut hitamnya dengan anggun.


"Halo Nadia."


"Hai Tante Prada." Sambut Nadia dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. Mau bagaimana lagi, peringatan Gibran tentang menjadi gadis baik-baik sudah tertanam dalam kepalanya. Ah, iya, harus kah ia minta maaf untuk kejadian semalam? Hum, sepertinya tidak perlu.


Nadia berlalu masuk ke dalam toilet diikuti Prada di belakangnya. Sejujurnya Nadia tidak ada sama sekali niat untuk ke kamar mandi tapi ia butuh mencunci wajahnya untuk meredam kepenatan yang bercokol di kepalanya.


"Sepertinya ada yang sedang Nad pikirkan."


Sok tahu! Nadia melirik sebal bayangan Prada yang tengah mencuci tangannya.


"Ah masa sih Tante?" Balas Nadia sembari mengecek pori-pori kulitnya melalui cermin kamar mandi yang sebenarnya tidak di perlukan sama sekali. Hanya untuk membuatnya tidak kelihatan jobless di kamar mandi.


"Iya, mungkin tentang kapten." Ujar Prada sok manis. Yaelah si tutup panci, masih aja usaha.


"Biasa aja sih Tante. Semalam Om Gi masih se-hot biasanya." Anjiiiir gak nyambung tapi sudahlah, memangnya Nadia pikir. Nadia memoles liptin di bibir merahnya sengaja memonyong-monyongkan bibirnya untuk tampak seksi dan tentu saja memanasi Prada dengan--Aha, masih ada memar merahnya yang tertinggal. Mungkin masih bisa dimanfaatkan untuk membasmi hama. Diam-diam Nadia mengecek di bagian tulang selangkanya dan Wow, rejeki, masih ada dong bukti keganasan Gibran. Untung aja tuh Om lagi fire on firenya, Nadia dengan gaya casual mengibaskan rambutnya ke belakang dan dengan sengaja menarik sedikit kerah bajunya untuk memamerkan bekas-bekas keganasan Gibran pada Tante Prada yang sepertinya belum juga bangun dari kehaluannya.


"Ck, gerah bangat sih." Ucap Nadia mengibas-ngibaskan kerah bajunya dengan sengaja. Dia melirik Prada dengan ekor matanya, si tante tutup panci sedikit lagi akan masuk jebakan dan-- yeah, got it loser! Nadia tersenyum puas setelah melihat wajah masam Prada dari pantulan bayangan cermin.


"Tante gak kepanasan?" Tanya Nadia dengan mode super ramah yang memuakkan. Ia menoleh pada Prada dengan wajah lugunya.


Prada tersenyum miring. Lalu tanpa Nadia duga-duga tentara wanita berparas ayu itu dengan sengaja menyemprotkan air keran pada Nadia.


Byuuuuur!!!


"Oops Sorry! Gak sengaja."


GAK SENGAJA? Nadia menganga tak percaya. Gak sengaja katanya? WOW. Nadia baru akan membalas saat sebuah ketukan pintu menginterupsi keduanya.


"Dek Nad di dalam? Om gibrannya sudah menunggu."


Nadia menggertakan giginya menahan amarahnya yang sudah sampai ke ubun-ubun.


"Duh, maaf loh Nad. Gak apa-apa kan?" Kata Prada sama sekali tak menunjukan penyesalan di wajahnya.


Nadia menepis tangan Prada dengan kasar "Oh, gak apa-apa kok tante." Lalu dengan cepat ia membuka tutup kran yang kebetulan sekali sudah cacat, mengarah langsung pada Prada dan--


BYUUUUR!!!


"Ops! Sengaja!" Nadia tersenyum sinis lalu melenggak santai keluar dari kamar mandi meninggalkan Prada yang menggeram kesal menyebut namanya. Pembalasan selalu lebih kejam, Lettu.


"Loh, basah Dek? Krannya bocor atau gimana?" Bu Agus akan masuk mengecek dalam kamar mandi namun di halangi oleh Nadia.


"Gak usah tan. Tadi gak sengaja mau ngusir kecoak pake aer, eh kena deh." Ujarnya bohong.


"Ada kecoak? Wah perlu di beliin kapur barus itu dek."


Nadia mengangguk "Bener, Tan. Ayo tan, Om Gibran udah nunggu kan?"


"Ah iya. Ayo dek."


Nadia dan Bu Agus meninggalkan kamar mandi dan tentu saja Prada yang basah kuyub. Dalam hati Nadia tertawa puas telah membalas si tante rambut tutup panci. Ah well, mungkin si cinta pertama perlu juga ia beri pelajaran.


Nadia menghampiri Gibran yang tengah mengobrol dengan beberapa rekan sesama tentara yang juga menjemput istrinya. Laki-laki itu tampak akrab mengobrol diatas motor. Tatapan laki-laki itu menajam melihat istrinya datang-datang sudah basah di beberapa bagian.


"Kenapa?" Tanya Gibran memegang helaian rambut Nadia yang basah. Belum lagi Nadia menjawab, Gibran cepat-cepat melepas kaos luarnya lalu menyampirkannya di badan Nadia.


"Apaan sih Om?!" Nadia meringis tak enak dengan perlakuan Gibran di depan rekan-rekannya.


Gibran tak menyahut, tangannya sibuk menutupi sesuatu yang tak boleh dilihat oleh orang lain. Nadia menunduk dan langsung meringis melihat bajunya yang transparan mencetak dalamannya dengan jelas. Astaga kemeja putih ada saja ulahnya.


"Tadi gak sengaja di kamar mandi--"


"Kita pulang." Kata Gibran, mengambil tangan Nadia untuk menahan baju kaosnya agar tetap melekat di badannya. Nadia mengangguk patuh. Dia juga sudah sangat kedinginan.


"Bro, kami duluan." Gibran berpamitan pada teman-temannya lalu menarik pelan tangan Nadia untuk duduk di belakangnya. "Pegangan."


Satu tangan Nadia yang bebas melingkar di perut kotak-kotak Gibran. Wajahnya menghangat saat beberapa rekan sesama persit tersenyum penuh maksud padanya.


***


Gibran duduk diatas sofa tempat Nadia menyandarkan punggungnya. Dua tangan besarnya mengusap-usap rambut lembut Nadia.


"Ada masalah di sekolah?" Tanya Gibran berusaha menarik perhatian Nadia dengan memberikan kecupan-kecupan ringan di kepalanya.


Nadia menggeleng "Nad gak apa-apa, Om." ujarnya. Ia mengeluarkan tangannya dari bungkusan selimut untuk mengambil toples keripik yang ada di atas meja. Nadia menoleh saat tangannya tak juga menggapai toples tersebut padahal hanya beberapa jengkal dari jangkauannya.


Ia menghela nafas pendek menyadari Gibranlah yang mengambil toples tersebut.


Gibran mengernyit saat Nadia tak melakukan apa-apa untuk mendapatkan keinginannya. Biasanya Nadia akan merengek atau setidaknya melakukan sedikit usaha untuk mendapatkan keinginannya.


"Di Aula ada masalah?" Tanya Gibran lagi. Nadia tak akan diam seperti ini jika semuanya baik-baik saja. Nadia menggeleng, Prada mungkin termasuk masalah tapi satu-satunya yang mengganggu pikirannya hanyalah keberadaan si cinta pertama. Nadia menghela nafas kasar ketika lagi-lagi ia terjebak dengan perasaannya sendiri. Ia tidak menyukai keadaan seperti ini tapi tidak tahu juga harus melakukan apa agar hal ini tidak mengusiknya.


Nadia mendongak. Gibran tampak menunggunya untuk mengatakan sesuatu. Nadia lantas mengambil tangan Gibran menangkup tangan besar itu di wajahnya. Tentu saja Gibran semakin dibuat berpikir dengan sikap Nadia yang tiba-tiba melankolis.


"Om, Nad--" Nadia tercekat. Kalimatnya seperti tertahan di ujung tenggorokannya. Apa ia tidak keterlaluan mengatakan hal ini?


Gibran turun dari sofa lalu ikut duduk melantai disamping Nadia "Ada apa?" Tanyanya lembut. Tangannya yang bebas mengusap rambut Nadia dengan penuh perhatian. Dulu, ayah atau bundanya yang selalu melakukan ini padanya. Bertanya mengenai kesulitannya, memberitahu hal yang harus ia lakukan dan tentu saja memberikan kenyamanan untuknya. Dan sekarang, dua orang itu menjelma dalam wujud seorang Gibran Al Fateh. Kalau ia meminta sesuatu pada Gibran, tidakkah itu seperti dirinya begitu serakah? Tidak cukupkah dengan Gibran hanya ada disisinya? Sekarang ia mau meminta lebih?


"Om-- hiks." Nadia cepat-cepat menghapus airmatanya yang ternyata sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Nad, are you ok? Nad mau bilang apa hm?" Gibran bertanya khawatir. Ada apa sebenarnya dengan Nadia?


Nadia mengecup punggung tangan Gibran cukup lama. Hal itu membuat Gibran tertegun belum lagi airmata Nadia yang tidak juga berhenti mengalir.


"Ma-maafin Nad ta-tapi--hiks" Nadia menatap Gibran dengan penuh pengharapan.


"Apa?" Tanya Gibran merangkum pipi Nadia dengan satu tangannya. Ia pernah menghadapi kemarahan Nadia, ia pernah menghadapi kenakalan Nadia, pernah juga menghadapi Nadia yang menangis histeris tapi ini kali pertamanya menghadapi Nadia yang tampak rapuh dan muram dalam satu waktu.


Nadia sekali lagi menghapus airmatanya dengan selimut yang membungkus tubuhnya, "Nad tahu Nad sudah mendapat banyak hal dari Om. Gak terhitung lagi pemberian Om pada Nad tapi--Nad mau minta satu lagi-hiks."


Gibran mengangguk "Apa saja. Apa saja Om akan berikan." Kata Gibran cepat. Kira-kira apa yang diinginkan gadia ini sampai membuat ia muram dalam beberapa hari belakangan ini. Bahkan tanpa meminta pun Gibran akan berikan apapun pada Nadia. Gibran menarik Nadia dalam pelukannya namun gadis itu menahannya.


"Jangan marah sama Nad." Kata Nadia menatap Gibran sungguh-sungguh.


Gibran menggeleng "Tidak akan. Katakan apa mau Nad."


Nadia terdiam sebentar, ia sebenarnya tidak yakin untuk mengatakannya. Tapi ia tak akan pernah tenang sebelum mengatakan hal ini pada Gibran. Terserah jika orang-orang mengatakannya tak tahu diri. Banyak mau dan serakah tapi yang satu ini, bisakah Gibran memberikannya untu dia?


"Nad mau apa?" Tanya Gibran lembut.


Nadia menunduk, kedua tangannya menangkup tangan besar Gibran dengan kuat. "Nad mau cintanya Om Gibran."


"Ya?" Gibran membeo.


Nadia mendongak hanya untuk melihat wajah melongo Gibran.


"Cintai Nad sebagai wanitanya Om."


"Ma-maksud Nad?" Gibran benar-benar blank sekarang. Mencintai Nadia sebagai wanitanya? Apa maksudnya itu?


Nadia mengusap pipinya yang basah "Nad tau, Om masih belum melupakan cinta pertama Om. Nad minta maaf kalau Nad minta banyak dari Om tapi bisa nggak Nadia dicintai sebanyak Om mencintai cinta pertama Om?" Pintanya serius.


Gibran menahan kedutan di bibirnya. Ia mengacak puncak kepala Nadia dengan gemas. Jadi kediaman Nadia beberapa hari belakangan ini karena cinta pertamanya? Ya Tuhan Nadia, lucu sekali anak ini.


"Nad mau cintanya Om?" Tanya Gibran dengan senyum tertahan.


Nadia mengangguk ragu-ragu "Nad sedih tiap kali ingat kalau Om Gi gak cinta sama Nad. Disini sesak." Nadia menunjuk tepat di hatinya. "Mulanya Nad gak peduli tapi semakin kesini Nad semakin kepikiran. Nad mau cintanya Om Gi." Ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi kenapa?" Tanya Gibran penasaran. Ia heran dengan cara pikir perempuan, kenapa perkara cinta bisa seribet ini. Bukankah ia sudah menunjukkannya selama ini? Masih belum cukup membuktikan juga ternyata.


"Nad sadar diri cuma jadi bagian tanggungjawab Om. Semua yang Om lakuin selama ini buat Nad karena rasa tanggungjawab Om. Nad ngaku, Nad gak tau diri tapi Nad juga ingin dicintai sebagai wanita." Jawaban Nadia membuat Gibran tertegun.


"Om melakukan semua ini bukan semata karena tanggungjawab Om sama Nadia tapi lebih dari itu karena Om sayang sama Nadia.


"Cuma sayang kan? Nad juga sayang sama Bibik, The girls, bahkan sama kucing tetangga Nad juga sayang." Bantah Nadia. Kalau untuk rasa sayang, Nadia tak akan pernah meragukan Gibran tapi sayang dan cinta jelas dua hal yang berbeda.


"Om punya cinta pertama di hati Om. Lalu Nadia dimana? Nad gak cuma disayang sama Om. Nad mau cintanya Om Gi." Lanjut Nadia dengan suara bergetar.


"Oke."


"O-oke? Oke--what?" Tanya Nadia tak mengerti.


Gibran melepaskan kungkungan tangan Nadia. Ganti menangkup dua tangan kecil dan halus itu dalam kuasanya.


"Om ngasi cinta Om buat Nad, tapi Om juga minta hal yang sama dari Nad." Ujar Gibran menatap dalam-dalam mata hitam Nadia. "Cintai Om sebanyak Om mencintai Nad-"


Nadia mengerjap "Sebanyak apa?" Tanyanya lirih.


Gibran tersenyum tipis, sangat tipis, "Hanya Nad yang bisa merasakannya."


Lalu seiring kekosongan di ruangan itu, suara televisi memeceh sunyi, bersamaan dengan bibir Gibran yang menyapu lembut kening Nadia mengantarkan perasaannya untuk gadis kecilnya.


"Nad wanitanya Gibran."


Sebuah kehangatan baru menyapa relung hati Nadia. Cinta. Ia mendapatkan cintanya Gibran.


***


Hadeeeeh efek jomblo menahun, udah gak tau caranya bilang cinta. padahal cukup bilang i love you, urusan kelar.


hah sudahlah segaring itu ucapan cinta Nadia pada Gibran. padahal mau bikin romantis tapi malah jatuhnya kayak lawak bangat. ucapan cinta apaan nih 😪