Little Persit

Little Persit
Pesona gadis muda



"Ngelamun?"


Nadia tersentak saat dua lengan kekar Gibran memeluknya dari belakang.


"Pia gak bakal di lempar dalam kolam kan Om? Gak di cekek kan?" Tak seperti kalimat yang penuh kekhawatiran, nada suara Nadia terdengar santai. Ia tengah menatap keluar melalui dinding kaca yang menghadap langsung taman belakang dan kolam renang. Disana teman-teman Gibran sedang bermain bersama Pia. Elsa bahkan tampak sangat luwes menggendong Pia. Sementara di kursi panjang terdengar sesekali gerutuan Gendis disambut gelak tawa Sandra dan Aleksis karena ulah Dewa.


"Dokter Elsa sedang menjalani pengobatan. Insya Allah Pia gak apa-apa." Jelas Gibran menumpukan dagu diatas kepala Nadia. Perbedaan tinggi badan yang mencolok membuat Nadia tampak sangat mungil dalam dekapan badan besar Gibran.


"Kok Om tau? Perhatian bangat kayaknya."


"Gio yang bilang."


"Mereka deket?"


Gibran mengedikkan bahu tak tahu. Lebih tepatnya tak pernah mau ingin tahu. Gibran paling anti mengorek privasi seseorang meskipun itu sahabatnya.


"Komandan--" Gibran menjeda kalimatnya, Ia tahu Nadia paling sensitif mengenai Komandannya itu tapi ia harus tahu apa yang telah terjadi "Nad yang melakukannya?" Lanjut Gibran setelah beberapa detik terdiam.


Nadia tak langsung menjawab. Tatapannya masih belum lepas mengawasi Pia. Sebagai seorang Ibu, Ia tak bisa selega Gibran melepas Pia bersama Elsa setelah melihat sendiri bagaimana labilnya emosi Dokter cantik itu.


"Nad tidak akan pernah memaksa Om untuk menggunakan nama Gaudia demi kepentingan pribadi tapi Om gak bisa menahan Nad untuk tidak melakukannya pada orang lain--" Nadia menghela nafas sejenak, "Om dan Pia segalanya bagi Nad. Tidak boleh ada yang menyakiti kalian." ucapnya dingin.


Gibran mengangguk. Dikecupnya rambut Nadia lama. Ia tahu Nadia bukan anak remaja biasa yang hidup untuk mencari jati diri, merasakan cinta-cintaan atau bersenang-senang di usianya. Gadis itu meskipun bandel dan sedikit keras kepala, tahu tanggungjawabnya sebagai seorang pewaris sebuah perusahaan raksasa dan tahu persis bagaimana nama tengahnya mampu melakukan apa saja untuk melancarkan keinginannya. Tapi Gibran yang hidup sebagai orangtua walinya bertahun-tahun tak ingin Nadianya menjadi seorang yang kejam dan kesepian. Ia mau Nadia hidup sebagaimana seorang remaja pada umumnya oleh karena itu ia rela membagi dirinya menjadi penanggungjawab Gaudia hingga saatnya nanti Nadia siap untuk kembali di posisinya.


"Saya harap ini yang terakhir kalinya." Gibran membalik badan Nadia menghadapnya, di usapnya pipi lembut itu penuh perasaan, "Bisa kan?"


"GAK!" Nadia menepis tangan Gibran, mengalihkan wajahnya kearah lain. Tatapannya datar dan dingin.


Gibran menghela nafas pendek, "Nad tidak suka kan orang-orang menggunakan kekuasaan untuk kepentingan pribadi?" Ia paham alasan Nadia melakukan semua itu tapi Gibran tidak mau Nadia tenggelam semakin dalam dengan dendamnya. Nadianya harus tumbuh menjadi gadis yang disegani tanpa harus menindas orang lain.


Nadia diam. Gibran anggap itu sebagai jawaban ia.


"Maka jangan menjadi seperti mereka. Jangan mengotori hati Nad dengan membalas orang-orang itu. Nadianya Om Gi beda. Nad punya hati yang baik dan pemaaf. Iya kan?" Gibran memegang kedua sisi wajah Nadia agar kembali menatap padanya. "Ini terakhir kalinya ya" Pinta Gibran lembut.


"Gak janji." Jawab Nadia ketus. Ia masih belum mau menatap lelaki di depannya. Kesal karena Gibran bukannya mendukung apa yang dia lakukan malah memintanya berhenti.


Gibran menarik nafas dalam. Diraihnya Nadia dalam pelukannya "Saya percaya Nad." ucapnya dengan suara lirih.


"Kenapa sih Om jadi orang baik bangat? Udah dijahatin juga." Gerutu Nadia yang teredam di dada Gibran. Ia kesal karena lagi-lagi Gibran berhasil meluluhkan hatinya.


"Karena perempuan baik hanya untuk lelaki baik. Makanya saya berusaha menjadi orang baik agar bisa bersama perempuan baik seperti Nad." Jawab Gibran yang bukan hanya membuat Nadia bungkam tetapi sekali lagi membuat gadis itu jatuh cinta untuk kesekian kalinya pada lelaki itu.


"Pia pasti bangga memiliki Ibu sehebat Nad. Mau memaafkan meskipun mampu membalas."


Nadia mengangguk. Meskipun ia masih jauh dari kata baik tapi ia akan belajar, untuk Pia, untuk Gibran dan tentu saja untuk dirinya sendiri, "Terima kasih sudah mengingatkan Nad." Ucapnya lirih.


"Sama-sama sayang."


***


KRIIIIIK


KRIK


KRIK


KRIK


KRIIUK!


"Bisa nggak sih pelanin dikit tuh bunyi? Lo ngunyah keripik apa tripleks? Berisik amat."


Nadia melirik pada Aleksis yang tengah menegur Gendis. Dua sahabatnya itu sejak tadi seperti Tom dan Jerry ribut untuk alasan tidak penting, Dewa contohnya.


"Kalau kesel, samperin. Jorokin ke kolam." Sandra bukannya meredam suhu yang siap meledak malah semakin mengipasi. Di depan mereka Dewa si playboy kampung sedang menebar pesona pada Vina si sad girl yang sedang butuh di hibur. Masalahnya disini adalah Gendis yang entah kenapa berubah menjadi menyebalkan hanya karena melihat Dewa mengacak rambut bob Vina.


"Jangan dikipasin gitu apinya, San, ntar kebakar rumah gue." Celetuk Nadia mengulum senyum tipis melihat Gendis manyun. Ia kembali pada keasikannya membaca majalah bisnis. Makin ramai saja pengusaha yang menjadi seleb yang di puja dimana-mana. CEO bukan lagi pria berambut putih, berkacamata dan berperut besar melainkan para pria muda berwajah adonis yang jika di jejer di atas catwalk maka pensiunlah para model pria.


"Jangan pada rese deh. Balik nih gue." Ancam Gendis yang tidak berefek pada ketiga sahabatnya.


"Kalau cinta langsung aja Ndis. Gak perlu gedein gengsi. Kayak Gue nih, Om Gi gak gue lepasin sejak gue tau tu Om-om udah sah jadi milik gue."


"Itu karena lo ganjen dan Om Gi yang layak dipepet." Sambar Sandra si ketua club Gibran lovers.


"Jadi menurut lo Om Dewa gak layak?-kriiik" Tanya Aleksis sembari mengunyah kerupuk keju yang ada di dalam toples di pangkuan Gendis.


"Tanya Gendis coba?" Ujar Sandra.


Gendis mendengus sebal, "Gak sama sekali." Jawab Gendis cepat.


"Ya udah, berarti santai aja. Gak usah panas gitu." Aleksi si mulut mercon. Bagus sekali memanasi Gendis si polos yang sedang tersesat.


"Gue biasa aja." Elak Gendis melarikan pandangan ke tempat lain. Yang semalam itu gak apa-apa kan yah? Gendis menggigit bibir bawah gelisah. Apa ia harus bertanya pada ketiga sahabatnya?


"Heh! Jangan ngelamun lo. Kesambet penghuni kolam gue abis lo." Nadia menyikut lengan Gendis yang terbengong.


Gendis menarik nafas pendek lalu menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu Nadia.


"Lo ada mau diceritain?" Tanya Aleksis, yang paling peka, yang paling menyebalkan.


"Mumpung lagi lengkap nih kita." Tambah Sandra.


Gendis menggeleng. Mungkin bukan sekarang. Bahaya kalau ketiga sahabatnya sampai tau kejadian semalam, bisa habis Dewa.


Nadia mengusap rambut Gendis dengan tangannya yang bebas, "Kalau ada apa-apa jangan sungkan. Tell us. Solusi mungkin gak dapet tapi seenggaknya lo dapet pelukan dari tiga gadis cantik ini. Iya gak Girls?"


"Yoi." Jawab Sandra dan Aleksis berbarengan.


"Hm?"


Gendis menatap Nadia serius "Lo kan bukan gadis lagi."


Seketika tawa Sandra dan Aleksis pecah, menarik perhatian orang-orang dewasa di taman itu. Sementara Nadia, wajahnya sudah merah menahan malu dan kesal.


"SANA LO NYANDER DIBAHU JALAN. NYEBELIN!"


***


Pukul tujuh lewat, selepas shalat Isya Nadia sudah mulai bersiap-siap untuk acara dinner romantisnya bersama Gibran. Ia tidak berhenti tersenyum sejak pagi tadi sampai-sampai penjual koran keliling yang mengira sedang di senyumi pun terperosok dalam got karena terpesona oleh senyum gadis cantik pemilik rumah gedongan langganannya.


Hal pertama yang Nadia siapkan adalah stok ASI untuk Pia yang malam ini terpaksa di titip bersama bibik. Setelah itu mengecek gaun yang baru diantarkan sore tadi. Senyumnya semakin lebar kala mendapati Gibran yang juga tengah bersiap-siap. Lelaki itu tampak gagah dalam balutan kemeja hitam dengan motif etnik di bagian dada.


"Lho, belum siap-siap?" Gibran melirik jam di pergelangannya, setengah delapan malam.


Nadia menyengir lebar, menghampiri Gibran yang menatapnya dengan alis bertaut.


"Kalau bisa ya Om. Ini kalau bisa-- Nad rasanya pengen nyimpen Om di kamar aja. Gak rela diliatin perempuan-perempuan diluar sana. Sumpah, Om gantengnya nambah banyak malam ini. Efek bahagia bakalan makan malam romantis sama Nad kali ya." Nadia bermonolog sembari tangan tak tinggal diam menelusuri badan tegap itu mulai dari dada lalu memutar kebelakang. Perfecto!


Gibran sigap menahan tangan Nadia saat gadis nakal yang masih mengenakan bathrob itu hendak menarik kepalanya mendekat. Agresif dan bersemangat, kurang keren apalagi istrinya ini.


"Mau candle light dinner atau di kamar aja. Saya ngikut." Ujar Gibran tersenyum miring.


Nadia memberenggut, melepaskan tangannya kesal "Cium dikit doang elah." ia menghentakan kaki kesal menuju wardrobe yang ada di balik pintu kaca dekat kamar mandi.


Gibran menggeleng pelan. Senyumnya mengembang memandang pintu dimana Nadia menghilang "Jangan lama-lama ntar lilinnya habis." Ujarnya memastikan Nadia mendengarnya. Ia memutuskan menunggu di kamar Pia. Bayi mungilnya itu pasti sudah tidur cantik.


Gibran membuka pintu dan mendapati bibik yang baru saja menyelimuti Pia.


"Pia udah tidur, Bik?"


"Iya, tuan. Baru saja." Jawab Bibik yang baru saja selesai dengan tugas barunya yang menyenangkan "Saya ke dapur sebentar, tuan."


"Iya, Bik."


Gibran mendekat kearah ranjang Pia, "Jangan rewel ya Dek. Ayah mau pacaran dulu sama Ibu." tangannya terulur mengelus pipi gembul Navia. Sama seperti Ibunya, Naviapun sangat lengket padanya. Selama dua hari ini Pia banyak bersamanya, membuat Nadia protes karena Gibran pilih kasih. Kadang Gibran tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan kepala cantik Nadia, cemburu dengan anaknya sendiri, lucu sekali.


Setelah puas berlama-lama memandangi wajah putri kecilnya yang hampir mengambil seluruh bagian Nadia, ia memutuskan kembali ke kamar, mengecek persiapan Nadia.


Gibran terpaku di depan pintu sekat antara kamar mereka dan Pia saat melihat pemandangan di depannya.


"Gimana? Cantik gak?" Nadia mengangkat sedikit gaunnya lalu berputar seperti seorang model profesional.


Gibran menelan saliva susah payah. Nadia benar-benar luar biasa. Tidak ada jejak gadis berusia belasan disana. Yang ada hanya seorang wanita cantik yang dibalut gaun mewah yang sedikit membuat kerongkongan Gibran kering dengan potongan rendah leher gaun itu dan belahannya yang melewati lutut Nadia, memamerkan kaki jenjang nan mulusnya. Gibran mengerjap. Tidak, ini terlalu berbahaya.


"Gak ada gaun lain?" Alih-alih menjawab Gibran malah menanyakan satu hal yang langsung membuat Nadia sebal.


Nadia yang tadinya mengumbar senyum menawan langsung memasang wajah datar "Ini gaun terbaik dari yang terbaik, Om. Di desain oleh seorang profesional dan semua dibuat dengan tangan, bukan mesin." Jelas Nadia jengkel. Ayolah, ia sudah memesan khusus, jangan sampai gagal di pakai.


Gibran mengangguk, "Setuju. Tapi ini terlalu berbahaya. You look so sexy. I mean--yeah ini menggoda." Ujar Gibran susah payah. Hei, dia lelaki normal, wajar kalau terusik dengan pemandangan di depannya ini. Bagaimana kalau tangannya tidak bisa dikontrol, pasti kulit putih mulus itu menyenangkan saat bertemu telapak tangannya. Atau bahu telanjang itu, bagaimana kalau Gibran tergiur untuk menyesap wangi disana, tenggelam dan lupa semuanya? Dan sumber kehidupan bayi kecilnya itu, apakah ia bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya? Memintanya? Oh My--Gibran please, waraslah dude. Gibran berdehem untuk menetralisir perasaannya yang tiba-tiba saja merasa gerah padahal ada AC di kamar itu.


Nadia yang tadinya manyun langsung tersenyum malu-malu, "Menurut Om gitu?"


Gibran mengangguk cepat. Dengan gerakan lambat namun pasti mendekati sumber pahala itu. Kedua tangan besarnya mengambil lengan kecil Nadia dan dikalungkan di lehernya setelah itu ia memegang pinggang Nadia hati-hati seolah Nadia adalah sebuah porselin yang tidak boleh pecah.


"Cantik sekali." Puji Gibran menatap mata Nadia yang harus mendongak. "Dan menggoda." lanjutnya. Tangan besar itu dengan hati-hati mengelus punggung yang hampir tidak mendapat jatah kain.


Cup.


Satu ciuman basah menyapa bahu terbuka Nadia mengirim perasaan yang Nadia sudah tak asing lagi. Ada gairah dimata Gibran dan Nadia menyukainya. Bukankah ini berarti dia benar-benar kelemahan lelaki manis ini?


"Wangi." Kecupan kedua berpindah di leher Nadia, tepat di bawah telinganya.


Nadia tersenyum cantik tanpa mengatakan apapun. Menikmati bagaimana Gibran begitu memujanya.


"Manis seperti biasa." Gibran tersenyum kecil diatas bibir Nadia setelah mendaratkan kecupan disana. Ringan, seperti bulu ayam tapi mampu membuat Nadia meremang. Wangi lipstik yang Nadia pakai beradu dengan wangi segar nafas Gibran.


"Candle light dinnernya gak boleh batal." Dalam sisa-sisa kewarasannya Nadia mengutarakan isi kepalanya. Ia tidak mau makan malam romantis yang sudah dibayangkan sejak lama harus gagal karena gaun cantik ini. Tidak boleh.


"Sayang sekali. Padahal Om tak masalah disini." Ujar Gibran mengusap bibir bawah Nadia yang tampak penuh. Ia harus menahan diri. Makan malam harus terlaksana. Setelah makan malam dengan lilin-lilin barulah dipikirkan selanjutnya, apakah di hotel atau rumah. Kedengarannya tetap menyenangkan selama itu bersama si cantiknya ini.


Nadia terkekeh, memukul pelan bahu Gibran "Om jangan mudah tergoda dong. Nad padahal cuma diem aja tadi."


"Diemnya kamu ternyata berbahaya." Gibran menyelipkan anak rambut dibelakang telinga Nadia, berusaha meredam keinginannya untuk menarik Nadia diatas ranjang, menyentuh wanitanya itu sepuasnya.


"Berangkat sekarang?" Tanya Nadia. Kedua tangannya berpegangan dibahu Gibran.


Gibran mengangguk dengan berat hati, "Ayo kita jaga lilin."


"Candle light dinner, Om." Ralat Nadia.


"Iya, Ngepet hati kamu kan?"


"Dih!"


***


Ini gimana Om Gi gak heuredang cobak ckckck.



Om Gi sebelum pesona Nadia menyerang.