Little Persit

Little Persit
Kumat



Nadia berkali-kali menghela nafas lelah lalu menghembuskannya. Sudah dua jam lebih ia harus menanggung beban berat di punggungnya yang di tempeli oleh gorila kesayangannya sementara ia mengerjakan tugas kuliahnya. Gibran memang aneh lagi akhir-akhir ini dan bertanya apa yang sedang terjadi hanya akan menambah panjang kerewelan suaminya itu. Nadia bahkan berpikir jangan-jangan Gibran ketempelan jin penunggu pohon mahoni di depan kantornya? Iiih ngeriii.


"Om pindah kamar yuk. Nad temenin." Nadia melepas lengan Gibran yang memeluk perut ratanya erat. Demi apa ini sangat berat meskipun ia menyukai pelukan suaminya tetap saja dalam keadaan otak sedang berusaha memecahkan masalah rupiah yang anjlok diatas kertas, tangan suaminya tak kalah sibuk menjelajahi setiap jengkal isi piyamanya.


"Bukannya kamu ada tugas?"


EMANG TAPI TANGAN BAPAK JUGA GAK BERHENTI NUGAS GIMANA COBA!!!


"Udah mau kelar kok, dikit lagi. Nad temenin ke kamar ya." Ujar Nadia sekali lagi seperti seorang ibu yang tengah membujuk balitanya yang sedang mode manja. Nggak apa-apalah gantian si Om yang manja. Biasa kan dia yang berulah.


"Saya tidak akan ditinggal seperti tadi kan?"


"Ninggalin gimana sih Om, Nad cuma nugas tadi. Katanya Nad harus rajin kuliah, giliran Nad rajin malah Omnya kek gini." Nadia balas merajuk, biasanya Omnya langsung kalah telak kalau begini. Ya siapa tau aja kali ini juga begitu. Lagian gimana mau menyelesaikan tugas kalau dipepet sama manusia ganteng seperti ini. Hawannya kan jadi panas-panas mendebarkan gimana gitu.


"Yakan kamu bisa cepat pulang." Si bapak Kapten kembali bersuara. Tak mau kalah pemirsah. Skill berundingnya memang tak usah diragukan lagi. Otomatis lawan kalah.


Nadia memutar bola mata "Bentar doang, lagian Nad gak ninggalin loh." Ujarnya membela diri. Entah apa lagi yang menimpa suaminya ini, tidak biasanya sakit panas membuatnya manja setengah mamp*s seperti ini. Apa jiwanya ketuker ya? "Lagian Om juga ditemenin tante Elsa kan." membalik keadaan salah satu jurus andalan Nadia menghadapi Gibran. Lelaki ini selalu menghindari perdebatan tak berarti.


"Mulai lagi." Gibran berujar jengah. Ya gimana nggak mulai kalau bayangan tentang Elsa yang menempeli suaminya seperti baliho caleg ada dimana-mana berputar dikepalanya.


"Gimana gak mulai, om keliatan nikmatin gitu. Seneng?" Nadia tertawa dalam hati. Bentar lagi medan pertempuran akan dimenangkannya.


"Kamu senang tidak saya peluk?" Balas Gibran dengan kening terangkat satu.


"Seneng sih--"


"Kok jawabnya ragu-ragu? Kamu bosan sama saya?"


Hah? Gimana? Nadia meneleng bengong.


"Kamu sudah tidak menginginkan saya lagi kan?"


Loh?


"Kamu sebenarnya mulai malas sama saya kan?"


Duh, ini gimana sih kok jadi panjang. Nadia menggaruk belakang telinganya. Kenapa jadi drama king gini si Om.


"O-om gak gitu, Nad--"


"Yasudahlah, jangan pedulikan saya lagi. Kamu sudah tidak sayang sama saya makanya saya ditinggal-tinggal."


"Eh kok--" Nad menganga saat Gibran beranjak dari tempat duduknya lalu keluar kamar begitu saja.


BAAAM!!!


Nadia berjengit kaget ketika pintu di tutup kasar "Kenapa sih?" Nadia menggumam sendiri menatap pintu, "Apa gue hamil ya?" Ia meraba perut ratanya, "Biasanya laki gue aneh kalau udah dua garis." Ah ya ampuuuun pusing. Nadia menghempaskan punggungnya di sandaran kursi. Matanya terpaku pada tumpukan kertas di depannya, masih banyak tugas dan Omnya lagi kumat. Arghhhh!!! Bodolah!!! Nadia beranjak dari kursinya lalu berlari menyusul keluar kamar, "Sayaaaaaaang."


Nadia ke ruang tengah namun tidak menemukan suaminya disana.


"Hilang kemana om gue?" Ia mencari-cari ke dapur tapi nihil. Tidak ada Gibran disana atau siapapun. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua belas. Semua orang di rumah pasti sudah tidur hanya Nadia dan Gibran saja yang masih melek menciptakan skenario drama picisan yang memusingkan.


"Sayaaaang" Panggil Nadia melihat keluar jendela yang menghadap taman. Sepi. Nadia memeluk dirinya sendiri saat angin malam membelai kulitnya yang tak tertutup sempurna. Suasana taman di malam hari ternyata sangat bagus. Lampu-lampu taman yang di pasang di bawah pohon terlihat memancarkan cahaya kuning yang aestetik. Nadia baru benar-benar memperhatikannya sekarang.


"Masuk!"


Nadia menoleh kesamping kanan saat mendengar suara bariton Gibran. Laki-laki yang dicari-carinya itu sedang berdiri menyandarkan punggung di dinding menghadap taman.


Nadia tersenyum lega. Rupanya si kesayangan banyak-banyak ngumpet disini. Gibran mode ngambek emang se-random itu. Galaunya kaum milenial seperti dirinya kadang kalah random.


Nadia menghampiri Gibran "Sorry." Ucapnya pelan sembari menyusupkan kedua lengannya memeluk pinggang Gibran dari samping, "Nad nggak maksud." lanjutnya menyandarkan kepala di dada sang suami.


Gibran masih belum membuka mulut namun tangan kirinya sudah balas merengkuh sang istri membawanya berbagi kehangatan.


"Jangan ngambek ya, Nad bingung kalau om kek gini." Ujar Nadia menghirup wangi Gibran yang menenangkan. Gibran menunduk hingga dagunya menumpu di puncak kepala Nadia. Ia tidak ngambek hanya saja ada beberapa hal yang mengganggu pikirannya dan itu membuatnya jadi ribet sendiri.


"Nad gak pernah bosan sama Om Gi. Tidak ada hal lain di dunia ini yang Nad inginkan selain menua bersama Om Gi, se-surga bareng-bareng Om."


Gibran tersenyum tipis mendengar ucapan Nadia. Tanpa gadis ini bilang pun Gibran tahu bahwa Nadia mencintainya, sangat mencintainya walaupun terkadang entah iblis darimana yang membisikannya perihal umur mereka yang terbentang jauh perbedaannya. Insecure orang-orang menyebutnya. Ya, seorang Gibran Al Fateh insecure memikirkan dirinya yang semakin menua sedangkan Nadia makin mempesona. Gibran tidak tau saja bahwa makin berumur, lelaki itu makin meresahkan. Sulit sekali dipercaya.


"Nad berusaha jadi orang baik supaya Tuhan sayang Nad dan ngebiarin Nad bareng-bareng Om selamanya. Jadi please jangan pernah mikir kalau Nad udah bosan sama Om. Gak ada sama sekali Nad kek gitu. Om Gibran segalanya untuk Nad. Om Gi dunianya Nad." Nadia terus berbicara tanpa menyadari bahwa senyum Gibran kini sudah selebar bentangan timur dan barat. Lelaki itu bahagia, sangat bahagia.


"Nad sayang Om Gi. Om tau kan?!"


Gibran tak bergeming. Kedua tangannya merengkuh semakin erat tubuh mungil itu sembari mengecup rambutnya dalam-dalam. Iya, tapi sayang saya lebih banyak lagi.


Hap!


Nadia terkesiap saat ia tiba-tiba merasa dirinya melayang. Dengan entengnya Gibran mengangkatnya ala bridal style. Nadia mengalungkan tangan di leher sang suami dengan wajah khawatir, "Kan lagi sakit" ujarnya pelan namun Gibran tak menggubris. Laki-laki itu membawanya kedalam rumah tanpa kesulitan sama sekali. Setiap melewati anak tangga, Nadia menahan nafasnya. Ia takut Gibran hilang keseimbangan lalu mereka berdua jatuh.


Saat di depan pintu kamar Nadia hendak turun untuk membuka pintu namun Gibran menahannya dan tanpa kesulitan sama sekali membuka pintu kamar itu. Nadia yang harusnya sudah tak takjub lagi masih selalu terpukau dengan kekuatan Gibran. Kalau dalam keadaan sehat ia tak akan heran tapi bukankah seharian ini lelakinya mengeluh sakit?! Bahkan Gibran tak sanggup mengangkat sendok dekat mulutnya sehingga harus Nadia yang turun tangan untuk menyuapinya. Mode manja Gibran memang kadang separah itu.


"Om gak tidur?" Tanya Nadia saat Gibran kembali mendudukannya di kursi belajar.


Gibran mengelus puncak kepala Nadia yang sudah kembali duduk di kursinya. Wajah gadisnya itu sudah sangat kelelahan " Nad lanjutkan tugasnya, saya yang tidur." ucapnya lalu melabuhkan kecupan di kening Nadia, "Maaf sudah memotong waktu Nad."


Nadia menggeleng, "Nggak kok. Nad seneng ditemenin Om cuma kalau bisa jangan nempel bangat soalnya Om berat." ujarnya menyengir lebar.


"Punggung Nad enak di pake sandar." Aku Gibran lalu setelah mengecup pipi Nadia sekali ia langsung menuju ranjang, "Jangan terlalu larut tidurnya." pesan Gibran sembari masuk dalam selimut. Nadia mengangguk cepat. Senyum gadis manis itu sudah mulai cerah lagi. Ia beranjak dari kursinya lalu berjalan ringan menuju tempat Gibran.


"Have a nice dream sayang." Bisik Nadia setelah mengecup bibir Gibran sedetik. Gibran yang sudah memejamkan mata tersenyum tipis merasakan kehangatan cinta dari sang istri. Mimpiku selalu indah Nad karena ada kamu disana.


***


Gibran memeriksa beberapa laporan yang ada di depannya. Sore ini mereka akan kedatangan pesawat sukhoi baru yang baru saja di beli dari negeri gingseng. Saat menutup laporan terakhir, mata Gibran terpaku pada satu amplop putih yang berstempel resmi kesatuan mereka. Surat rekomendasi dari pimpinan untuknya yang belum ia baca sama sekali. Mimpinya ada dalam amplop putih itu tapi kenapa rasanya tak semudah sebelumnya membaca surat itu?! Gibran menghela nafas pendek lalu mengambil surat itu dan membuka segelnya. Tetap saja ia harus membuat keputusan secepatnya. Kalaupun tidak mengambil kesempatan ini ia harus segera mengusulkan orang lain untuk menggantikannya.


"KEJUTAAAAAAAAAN" Nadia muncul dengan wajah super ceria sambil menggendong Navia yang juga tak kalah bersemangat melihat ayahnya, "Terkejut nggak? Terkejut dooooong." tawanya begitu ringan dan renyah. Tipikal manusia yang tak pernah hidup susah.


Gibran tersenyum lembut melihat kehadiran dua gadisnya. Ia berdiri dari kursinya lalu menghampiri keduanya, "Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Gimana? Om terkejut nggak?" Tanya Nadia yang sudah berada dalam pelukan Gibran. Btw, Omnya siang-siang gini masih aja wangi semerbak padahal modal pewangi pakaian pas nyuci doang.


"Terkejut." Jawabnya pendek namun senyum belum lepas dari bibirnya. Ia mengambil alih Pia, "Selamat datang di kantor ayah sayang." sambutnya menyarangkan ciuman di pipi gembil si buah hati.


"Yayayayaaa"


"Pia aja nih yang diselamatin?"


Gibran mengacak rambut Nadia yang selalu tak mau kalah dari putri mereka, "Selamat datang Ibu."


Nadia cengengesan, "Makasih loh udah diselamatin. Btw ayah senang gak?"


"Senang." Ucap Gibran menusuk gemas pipi putrinya dengan telunjuknya. "Makin subur anak ayah."


"Iya dong kan Ibu kasi makan." Ucap Nadia yang tak kalah sumringah melihat kedua kesayangannya sayang-sayangan.


"Kami bawain bekal loh ayah." Lanjut Nadia melepas tas ransel di punggungnya.


"Oh ya? Wah, terima kasih." Gibran mengusap rambut Nadia yang sedang kerepotan mengeluarkan isi ranselnya. Selain keperluan Pia, ada kotak makanan didalam. Benar-benar ransel yang dipaksakan.


"Bentar yah, ini susah banget bukanya." Nadia duduk di kursi tamu agar lebih mudah mengambil kotak makanan itu.


Gibran dan Navia menyusul.


"Ibu masakin ayah telur gulung yang gak di gulung and sayur asem yang rasanya mantap ditambahin kecap dan saos." Jelas Nadia bangga sembari menata kotak makanan di atas meja.


Gibran yang mendengar penjelasan sang istri yang memamerkan menu barunya hanya bisa meringis diam-diam. Ia sudah bisa membayangkan rasa telur gulung yang tak di gulung sempurna itu akan sangat unik dengan taburan wijen dan kismis diatasnya. Belum lagi yang katanya sayur asem tapi warna kuahnya orange. Wow!


"Ayah makan dulu biar Pia sama Ibu. Yuk, Pia." Nadia mengulurkan tangannya meminta Pia sedangkan dua orang kesayangannya itu malah saling lirik-lirikan. Bikin iri aja nih ayah dan anak. Nadia membantin.


Navia si bayi gembul yang mungkin sadar nasib sang ayah hanya bisa mengusap wajah cinta pertamanya itu dengan jari-jari sehatnya. Sungguh menu makan siang yang meresahkan.


"Yuk, yuuuuk. Ntar makanannya dingin jadi nggak enak." Nadia menggerak-gerakkan tangannya meminta menggendong Pia.


Gibran yang tak punya pilihan hanya bisa menikmati berkah ini dengan hati yang lapang. Ah, kenapa ia tidak puasa saja hari ini ya.


"Ibu tidak makan?" Tanya Gibran basa basi sembari membolak-balik telur bertabur banyak warna itu.


"Ibu dan Pia udah makan. Kita kesini mau temenin ayah makan. Habisin ya yah. Buatan ibu loh hasil belajar youtube. Pia juga bantuin ngehias." Ujar Nadia penuh binar.


Gibran sontak mendongak dan bertemu mata dengan Pia yang menatapnya polos. Maaf ayah, gak sengaja. Si gembulnya itu sepertinya merasa sangat bersalah.


"Saos dan kecapnya juga?" Tanya Gibran menatap ngeri kuah orange itu.


Nadia menggeleng, "Kalau itu Ibu yang punya ide. Soalnya bosan kalau kuahnya bening dan keruh gitu. Kalau gini lebih bright dan menggugah selera." terang Nadia yang diangguki tak semangat oleh Gibran. Yah, sangat menggugah selera. Gibran membatin. Sebenarnya ia ingin mengatakan pada Nadia bahwa sayur asem sedari awal resepnya di temukan memang seperti itu modelnya. Tapi demi menghargai sang istri yang sudah bersusah payah memasak untuknya ia akan menyimpan komentar itu untuk hari lain.


"Telurnya cantik kan? Warna warni sesuai tema hari ini yang colorful penuh keceriaan." Lanjut Nadia masih menjelaskan menu diatas meja yang mulai di makan oleh Gibran, "Nasinya juga Ibu sengaja bikin bentuk love biar Ayah makin sayang sama Ibu dan Adek. Ya kan dek?"


"Bubububuuuu" Celoteh Pia menggerak-gerakkan kedua tangannya semangat.


"Liat tuh, Yah. Pia aja setuju." Ujar Nadia mengecup rambut putrinya.


Gibran mengangguk, "Terima kasih sayang." Ucapnya memberikan ciuman di pipi Nadia lalu pada Pia.


"Ayah makan ya. Bismillah." Gibran dengan senyum kecilnya mulai menyendokan makanan kedalam mulut. Yah, rasanya memang sudah bisa di tebak, nano-nano dalam mulut tapi tak mengapa, ia bisa menghabiskan satu kotak bekal lagi yang seperti ini jika dibayar dengan senyum kebahagian Nadia dan Navia.


"Enak?"


Gibran yang tengah mengunyah dengan tenang menyodorkan sendok pada Nadia, "Mau coba?" Tawarnya setelah menelan makanan di mulutnya.


"Boleh?" Tanya Nadia antusias.


Gibran mengangguk, "Boleh." senyum geli tersungging di bibirnya. Makanannya hampir habis jadi tidak mengapa jika Nadia mencobanya.


Gibran mengarahkan sendok di depan mulut Nadia. Istrinya itu membuka mulut tak sabar mencoba makanan yang dimakan lahap oleh suaminya. Lebih keren lagi karena mereka makan sambil suap-suapan, how romantic they are.


"Bismillah"


Satu.


Dua.


Tiga.


BYUUUUUUUUURRRR!!!


"UWEEEEEKKK!!!! KAYAK T*I?!!"


Gibran tergelak sembari memberikan segelas air pada Nadia. Nah kan yang masak saja sampai muntah begini. Ah, Nadia...Nadiaaa.


***


Ke kantor Ayah yuk dek!



Ayah yang sabar bangat sama istri dan anaknya 🤗