
Suara debur ombak memukul tebing-tebing curam yang kokoh adalah musik pengantar piknik Nusantara High school. Nadia dan ketiga sahabatnya tampak akur bergabung dengan teman-teman kelas mereka dan siswa dari kelas lain. Mereka-mereka yang tidak nyinyir dengan The Girls adalah orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan sekolah ataupun eksistensi. Lagipula mereka sadar diri, mereka bukanlah apa-apa jika di bandingkan dengan para The Girls yang merupakan para pewaris sekaligus donatur terbesar sekolah.
"Nad! Buat lo." Jeremi yang duduk di dekat Nadia memberikan sepiring ikan bakar ukuran paling besar untuk cinta pertamanya itu.
"Makasih, Jer."
"Sama-sama."
"Nadia doang?" Tanya Aleksis yang tidak kebagian ikan dari jeremi.
"Iya. Lo kan udah makan dua ekor tadi." Ujar Jeremi mengabaikan Aleksis yang mendumel di sampingnya.
"Sama gue aja, Leks." Nadia menyerahkan piringnya pada Aleksis yang langsung mendapat tatapan protes dari Jeremi.
"Kok di kasih?"
"Kenapa? Gak boleh? Ambil deh kalau gitu." Nadia memberikan kembali piring ikannya pada Jeremi membuat laki-laki itu jadi serba salah. Niatnya kan cuma buat Nadia kenapa si Aleksis ikutan sih. Jeremi membatin kesal.
"Boleh kok. Boleh."
Aleksis berseru senang, "Nah gitu dong."
"Makasih ya Jer. Lo baik."
Jeremi yang mendapat pujian dari pujaan hatinya langsung mesem-mesem tidak jelas. Hatinya berbunga-bunga hanya dengan kalimat manis Nadia.
"Sama-sama." Ujar Jeremi tersenyum lebar. Mungkin sebentar lagi Nadia akan membuka hati untuknya. Pikir Jeremi.
"Gue cari jaringan bentar ya. Mau kabarin Om Gi." Nadia beranjak dari tempatnya, menepuk celananya yang berpasir.
"Perlu di temenin?" Tanya Sandra. Nadia menggeleng.
"Gak perlu. Dah ya, bye." Nadia mengambil hpnya lalu meninggalkan kerumunan teman-temannya.
"Nad gue ikut!"
"Gak! Lo disini aja ." Sandra, Gendis, dan Aleksis menahan Jeremi yang hendak menyusul Nadia.
Nadia memilih tempat yang agak jauh dari keramaian untuk mengirim pesan pada Gibran. Suaminya pasti sedang sibuk mengawal dan tidak memiliki kesempatan untuk menelfon. Tapi sesuai janjinya, ia akan mengirim kabar dan foto sesering mungkin agar laki-laki itu tidak khawatir. Tentu saja ia tidak akan mengabarkan keberadaan Lionel yang juga ada di pulau bersama mereka.
To Om Gi
Assalamualaikum Om, Nad udah di TKP.
Nadia berseru senang saat melihat dua centang biru pesannya.
From Om Gi
No pict. Hoax.
Nadia terkekeh. Dasar Om-om kece, tau saja bahasa anak gaul.
To Om Gi
From Om Gi
Gak ada celana yang lebih panjang?
Hadeh. Untung bukan bikini, Om.
To Om Gi.
Udah yang paling panjang tuh.
Senyum Nadia melebar, melihat beberapa kaki pesan tertulis muncul namun tidak ada satupun yang Gibran kirim.
From Om Gi
😑
Nadia menyengir. Dia bisa membayangkan wajah kaku Gibran sekarang. Pasti masamnya kalah-kalah asam jawa.
To Om Gi
Kok bisa balas chat Nad?
Setahunya, Gibran akan sulit di hubungi ketika sedang mengawal seperti sekarang ini.
From Om Gi
Break. Nad udah makan? Adek rewel gak?
Nadia menyentuh perutnya. Kehamilannya kali ini lebih adem dari sebelumnya. Mungkin karena Gibran yang mengambil bagian ngidamnya.
To Om Gi
Pertanyaan Nad tuh. Om mual-mual?"
Nadia duduk diatas kayu yang dibawa ombak sambil menunggu balasan pesan Gibran. Pemandangan laut biru di depannya sangat memanjakan mata. Setelah ujian ia akan mengajak Omnya liburan ke hawai. Pasti sangat menyenangkan bisa menikmati pantai bersama Gibran.
From Om Gi
Sedikit. Om bawa sapu tangan disemprot wangi Nad.
Dasar bucin. Hihihi.
To Om Gi
😘 Sayang Om banyak banyak. Selamat bertugas.
From Om Gi.
Hm.
Nadia baru akan memasukan hpnya kembali saat bunyi pesan masuk terdengar.
From Om Gi
JELASKAN!!!
Asem. Lambe bangat si Jeremi. Nadia menghela nafas kesal. Foto ini diambil pasti saat dia sedang lengah. Nadia ingat, foto tersebut lokasinya di lobby vila, saat dia sedang menunggu sahabat-sahabatnya mengambil barang bawaan. Mana pesan yang Gibran kirim capslock-nya jebol lagi. Haduh, bikin perkara saja di Jeremi.
To Om Gi
Candid Om. Nad gak tau.
Tulis Nadia pendek. Ia paling susah menjelaskan kalau mode jauh begini. Kalau Gibran di depannya, pasti lebih mudah untuk membuat pembelaan. Lagian dapat dimana si Om foto ini. Duh, pasti kerjaan Jeremi ini.
Nadia menunggu balasan Gibran dengan cemas.
Satu menit.
Lima menit.
Tujuh belas menit.
Tidak ada balasan pesan sama sekali. Padahal pesan yang ia kirim sudah centang biru. Nadia menghentakan kaki kesal. Ini semua gara-gara Jeremi. Cowok itu harus bertanggungjawab.
Nadia berbalik hendak kembali ke vila namun langkahnya langsung terhenti ketika Lionel mendekat kearahnya. Nadia langsung panik. Ia tidak membawa tas kecilnya tempat ia menyimpan senjatanya. Langkahnya bergerak cepat mengambil dua batu karang yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Jangan mendekat atau batu ini mendarat di kepala lo!" Nadia mengarahkan dua batu di tangannya kearah Lionel.
"Saya tidak bermaksud jahat. Please, singkirin batunya."
"GAK! Tetap di tempat lo!" Teriak Nadia. Ia tidak mau mengambil resiko dengan sedikit saja melakukan kesalahan.
"Oke oke." Lionel mengangkat kedua tangannya diatas kepala. "Saya cuma mau minta maaf soal kejadian di club. Itu semua di luar kendali saya. Saya mabuk dan--"
"Terserah. Bukan urusan gue." Nadia bergerak pelan menjauh dari Lionel yang juga bergerak maju.
"Nad, please. Maafkan saya. Saya serius."
Nadia menggeleng. Ia tidak akan termakan omongan manis laki-laki macam Lionel yang otaknya tidak jauh-jauh dari ************. Idih, amit-amit ya sama orang kayak begitu.
"Nad, please. I am so sorry. Saya betul-betul tidak sadar waktu itu." Lionel terus memohon.
Nadia mendelik. "Bodo amat yak gue sama lo. Jangan berani lo deket-deket gue!" Nadia mengancungkan batu ditangannya. Lionel mengusap wajah frustasi.
"I just wanna be your friend." Ujarnya frustasi.
Nadia menggeleng "No, thanks. Gue gak butuh tambahan teman. Cari orang lain sono!"
"Tapi saya mau berteman sama kamu."
Nadia memutar bola matanya "Yeee bodo amat lo mau apa. Gue nggak ngurus."
"Nad--"
"Apaan sih bawel bangat jadi laki. Jangan paksa-paksa dong." Nadia berujar sewot. Aneh bangat, mau berteman kok maksa.
"Oke, tapi bisa kan Nad maafin saya? Tuhan saja memaafkan hambaNya yang--"
"Gue bukan Tuhan. Minggir lo!" Nadia semakin kesal saat Lionel bukannya menjauh malah terus berusaha mendekatinya.
"MINGGIR!!!" Nadia bersiap melempar batunya pada Lionel. Laki-laki itu mengangguk.
"Oke, saya mundur. Jangan lempar!"
Nadia menatap penuh waspada setiap gerakan Lionel. Lelaki itu memberi jalan untuknya yang dimanfaatkan dengan cepat oleh Nadia. Gadis itu berlari cepat meninggalkan bibir pantai saat berhasil melewati Lionel.
.
.
"Om Giiii!" Nadia berlari menghampiri Gibran yang menunggu di depan pelabuhan. "Kok jemput? Bukannya tiga hari ya kegiatannya?"
Gibran menangkap Nadia yang hampir saja jatuh gara-gara tersandung batu kecil, "Jangan lari-lari!" Tegurnya.
Nadia menyengir "Maaf. Nad terlalu bahagia di jemput Om." ujarnya menyerukkan kepala di dada Gibran.
"Om gak lama. Cuma mau ngecek Nad. Kebetulan para tamu sedang melihat pelabuhan di sekitar sini. Gimana pikniknya?" Ucap Gibran sembari mengelus puncak kepala Nadia. "Bau matahari."
Nadia terkekeh "Namanya juga dari pantai Om."
"Jangan lupa mandi yang bersih. Si puppy di kasi makan, kasian."
"Ck. si puppy mulu yang diperhatiin. Nad enggak."
Gibran menjetik kening Nadia "Mau tukaran sama puppy?"
"Gak!"
"Makanya." Gibran mengecup rambut Nadia. "Teman-teman kamu udah datang. Hati-hati pulangnya."
Nadia cemberut "Om gak ngantar?"
"Tidak Nad. Om mesti jaga."
"Tapi--"
Cup.
"Udah. Nanti ketemu di rumah." Ujar Gibran dengan sabar. Nadia mengangguk meski sebenarnya hatinya berat untuk jauh dari Gibran.
"Om hati-hati." Ucap Nadia disela cembetutnya.
"Siap. Om pergi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Salim dulu." Nadia menahan tangan Gibran lalu mengecup punggung tangan besar itu dengan khidmat. "Cepat pulang."
"Iya."
Gibran bergegas meninggalkan pelabuhan. Sesekali ia membalas perintah dari aerphonenya.Sementara itu Nadia terus melembaikan tangan sampai Gibran hilang dari pandangannya meskipun Gibran tak memperhatikannya.
"Itu Om lo kan?"
Nadia menoleh dan mendapati Jeremi melongokkan kepala mengamati Gibran dari jauh.
"Iya."
Jeremi bertepuk kesal "Aduh, gak sempat kenal gue. Padahal gue fans berat sama Om Gibran."
Nadia mengernyit "Fans berat? Lo kenal Om Gi?"
Jeremi mengangguk cepat "Kenal lah. Gue kan masuk fanbasenya."
"What? Kok bisa?"
"Kenapa gak? Gue fans berat Om Gi. Suatu saat gue juga bakal janji tentara hebat kayak beliau. Lo pasti seneng kan?"
Nadia mencibir. Mau jadi tentara gimana nih si badan cungkring? Jadi anak mami aja udah. Pas bangat. Pikir Nadia geli.
"Gue temenan loh di IG."
Wah si*alan. Pantas saja Gibran melihat fotonya. Pasti Jeremi sudah membagikan foto tersebut di story IGnya. Bener bener deh si anak mami. Gak bisa dibilangin. Ugh. Nadia gemas jadinya.
"Lo upload foto gue di IG kan?" Ini bukan pertanyaan tapi pernyataan.
Jeremi yang terciduk hanya menyengir kaku. "Kok tau?"
Nadia menghembuskan nafas kasar "Tau lah. Lo mention Om gue. Ah, gedek bangat gue punya temen kelas macam lo gini. Hapus gak?!"
"Ta-tapi--"
"Gak ada tapi-tapian. Gue kan udah bilang, gue gak suka foto gue terpajang di beranda orang apalagi cowok. Emang gue cewek apaan ada dimana-mana." Semprot Nadia. Ia tak peduli Jeremi mau menangis bahkan meraung-raung, ia sama sekali tak peduli. Jadi cowok lembek bangat.
"I-iya. Gue hapus." Jeremi mengambil hp dalam tas kecilnya lalu membuka akun IGnya.
"Padahal banyak love nya loh Nad."
"Gak peduli gue." Ucap Nadia. Ia bisa bernafas lega sekarang setelah fotonya sudah di hapus. "Kalau mau upload foto, pastikan gak cuma ada gue dan lo di dalam. Gue gak suka jadi bahan gosip." Tutur Nadia mengingatkan. Sebagai seorang istri, ada nama baik suami yang harus ia jaga. Sekalinya ia melakukan kesalahan, bukan saja dirinya yang kena tapi Gibran juga.
***
"Om, kata bang Jojon, dokter Elsa sakit ya?"
"Nad chat-an sama jojon?"
Nadia mengangguk "Iya. Kenapa emang? Gak boleh?"
"Gak boleh kalau cuma say hi gak jelas. Biar bagaimanapun Jojon laki-laki."
Nadia mendengus, "Cemburu juga pada tempatnya dong Om. Masa Om jo di curigai juga."
"Siapa yang curigai sih? Om kan cuma bilang kalau Jojon itu laki-laki."
Yang bilang Jojon cewek memangnya siapa? Haduh, untung sayang kalau tidak Nadia sudah lama membotaki Gibran saking kesalnya.
"Iya Om, Iya." Ikut sajalah. Nadia menaikan selimutnya hingga batas dada. Kepalanya berbantalkan lengan kekar Gibran.
"Tadi Nad nanyain Tante Elsa lho Om." Lanjut Nadia.
"Terus?" Gibran menautkan keningnya bingung.
"Katakan sesuatu atau apa kek." Jawab Nadia sewot. Ia mencubit dada Gibran yang menertawainya.
"Kenapa? Nad mau jenguk?"
"Emang Om pernah jenguk?"
Gibran diam. Ia sudah menemui Elsa saat Gio mengabarkan kondisi Elsa yang dilarikan ke rumah sakit. Tidak ada penyakit apapun, hanya sedikit stres dan kelelahan mengurus kuliahnya.
"Sudah sama Gio, Dewa dan yang lainnya." ujar Gibran jujur. Ia tak mau lagi ada kesalahpahaman dengan Nadia. Cukup foto itu menguras emosinya. Cemburu ternyata sangat menyebalkan. Ia tidak mau Nadia merasakan yang sama, jatuhnya nanti istrinya itu stres dan pasti akan memengaruhi kondisi janinnya.
"Seneng dong ya." Sindir Nadia.
Gibran terkekeh, ditariknya Nadia lebih dekat dengannya "Om lebih senang meluk Nad seperti ini. Nyaman. Om jadi ngantuk."
Nadia menahan mata Gibran agar tetap terbuka "Gak boleh. Om udah janji tidurnya nanti kalau Nad udah tidur."
"Ya udah, Nad tidur dong. Gak kasihan sama Om? Besok mulai UN kan? Gak boleh telat."
Nadia mengangguk "Tepukin bahu Nad." Pinta Nadia berbaring menyamping menghadap Gibran.
"Tapi tutup mata ya." Ucap Gibran sembari menepuk-nepuk bahu Nadia agar ia bisa tidur. Sesekali jemari telunjuknya menyentuh kening Nadia mengantarkan rasa kantuk gadis itu.
Gibran menghentikan tepukan di Punggung Nadia saat mendengar helaan nafas teratur Nadia di dadanya.
"Sleep well my princess. Mimpi indah." Gibran mendaratkan satu kecupan ringan di kening Nadia.
Dalam sunyinya kamar, Gibran terngiang ucapan Mama Elsa saat menjenguk salah satu orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga itu. Kesedihan tampak jelas di wajah istri Komandannya yang tidak sanggup melihat kondisi anak semata wayangnya, permata hatinya terbaring tak berdaya seperti itu.
Flashback On
"Gi, saya memohon sebagai seorang ibu, tolong jenguk Elsa sering-sering ya. Dia butuh kamu disini, Nak. Maaf saya lancang meminta ini tapi tolong kasihani Elsa. Dia sangat terluka karena harus kehilangan kamu. Tolong, sampai keadaannya membaik dan setelah itu saya tidak akan meminta apapun lagi."
Gibran tertegun. Ia tidak tega melihat Mama Elsa sampai harus memohon seperti padanya tapi bagaimana dengan Nadia? Anak itu pasti akan sangat kecewa jika ia harus menemani Elsa. Apalagi setelah kejadian di Aula. Gibran sudah tahu semua. Gio menceritakan pertemuan itu walaupun tidak menceritakan keseluruhannya tapi hanya dengan mendengar garis besarnya, ia tahu alasan tangisan Nadia sore itu pasti ada hubungannya dengan Elsa.
"Maaf, Bu. Bukannya saya tidak mau tapi ada istri saya yang harus saya jaga perasaannya. Dia mungkin tidak akan keberatan jika saya menemani kesembuhan Dokter Elsa tapi saya tahu, hati Nadia pasti terluka."
Mama Elsa menunduk. Airmatanya jatuh, "Maaf, maafkan saya karena sudah egois tapi Gi, saya hanya seorang Ibu yang menginginkan kesembuhan anaknya. Saya minta maaf pada kalian berdua terutama pada Nadia tapi tolong pikirkan hal ini dengan hati kamu, Nak. Elsa butuh pertolongan."
Gibran diam. Ia belum tahu apa yang harus ia lakukan tapi yang pasti, ia tak akan mengorbankan perasaan Nadia untuk siapapun karena bagi seorang suami, prioritas utamanya adalah menjaga hati pasangannya agar tidak terluka untuk alasan apapun.
"Tolong Ibu, Nak."
Flashback Off
Gibran tersedar dari lamunannya saat merasakan pergerakan Nadia dalam pelukannya.
"Om Kok belum tidur?" Nadia mendongak hanya untuk melihat wajah gusar Omnya. "Ada apa?" Tanya Nadia lagi. Dielusnya dagu bersih Gibran dengan lembut.
Gibran menggeleng "Tidak apa-apa. Ayo tidur lagi." Ucap Gibran sembari mengambil tangan Nadia, menggenggamnya dengan erat.
Apa yang harus Om lakukan Nad?
***