
Sudah tiga hari ini Nadia tidak bisa keluar rumah selain ke kampus. Setelah percintaan panas mereka malam itu, paginya Gibran langsung demam. Memang bebal saja suaminya itu, meskipun tahu diri sedang dalam kondisi tidak fit tetap saja menggempurnya semalaman dan sekarang saat sakit begini ia menjadi lebih menyebalkan.
"Pulang."
"Iya, sayang. Ini juga udah mau pulang kok."
"Jangan lama-lama."
Nadia memutar bola matanya. Orang menyebalkan di sebrang sana apa tidak tahu istilah macet ibu kota. Gampang bener ngomong jangan lama-lama.
"Iya sayangku. Udah ya, Nad tutup telfonnya. Assa--"
"Ciumnya mana?" Potong Gibran cepat.
Nadia lagi-lagi memutar bola matanya, "Muuuuachhh" setelah memberi ciuman jauh barulah bayi gorila itu mau menutup telfon.
"Manja bener laki gue." Nadia menggelengkan kepala heran, tidak biasanya nih Gibran manjanya sampe bikin mual. Biasa juga kalau sakit asal minun paracetamol saja langsung bisa koprol lagi.
"Nadia!"
Ah ****. Nadia menutup matanya sekejap berusaha menghalau kekesalannya. Ia menoleh, dibelakangnya Wati berdiri dengan tatapan memelas tapi juga menunjukkan kepercayaan diri sekaligus, cocoklah jadi artis ftv azab.
"Apaan?" Tanya Nadia ketus. Setelah memikirkannya dengan kepala dingin dan logis, ia menyimpulkan bahwa tak seharusnya lari malam itu. Meskipun membuatnya merinding, seorang Nadia tidak harusnya lari dari medan perang. Itu perasaan Wati, terserah dia mau apakan tapi yang Nadia tidak bisa maafkan adalah niat Wati yang mencoba menghancurkan rumah tangganya. Itu sama sekali tak bisa dimaafkan. Rumah tangganya yang sakinah mawadah warahmah terancam gagal hanya karena cinta seorang yang---Oh well, menyebutnya saja membuat Nadia merinding.
"Tolong jangan menghindariku. Kamu salah paham Nadia. Saya tidak bermaksud menghianati kepercayaanmu, saya hanya ingin bersama kamu." Ujarnya dengan suara pelan.
Ya ampun Watiiiii. Nadia merinding, "Perasaan lo ya terserah lo mau jadi apapun mau lo luapin ke siapapun tapi perasaan gue terserah gue juga. Mau ngacuhin lo kek, mau nganggap lo tak terlihat kek, mau apa kek, itu terserah gue juga dan--" Nadia menjeda kalimatnya untuk mendapatkan kata-kata yang pas untuk Wati, "Dan gue nggak harusnya peduli. Satu-satunya yang gue peduliin dan garis bawahi adalah lo yang coba ngehancurin rumah tangga gue. Lo yang fitnah suami gue dan lo yang nyerang keluarga gue. Gue gak bisa anggap itu wajar. Jadi jangan ganggu gue lagi. Lo terserahlah ya mau ngapain asal jangan gue dan keluarga gue. Lo gak bisa bayangin gue bisa se-iblis apa kalau keluarga gue yang lo usik. Jadi cukup sampai disini."
"Kamu salah paham Nad, Sa-"
"Stop. Lo gak usah ngomong. Itu aja yang perlu lo dengar dari gue." Nadia berbalik lalu meninggalkan Wati. Sudah cukup drama kampus ini, ia harus mengakhirinya.
"Saya minta maaf, Nad." Lanjut Wati lirih menatap punggung Nadia yang berlalu.
Baru juga beberapa langkah meninggalkan Wati, muncul lagi sosok putus asa lainnya, Orion. Nadia menghembuskan nafas kasar. Makin lama pulang ini sih. Ya ampuuuuun hidup gueeee.
"Nad, kita perlu ngomong."
"Apa lagi?" Tanyanya lelah.
Orion melirik sekeliling, beberapa pasang mata menatap keduanya penasaran.
"Di tempat lain. Di depan kampus ada tempat keren."
"Gak. Disini aja. Gue mau pulang. Suami gue lagi rewel." Jawab Nadia ceplas ceplos. Bukan rahasia lagi statusnya sebagai istri jadi masa bodoh dengan penilaian orang. Dan lagi Omnya memang sedang dalam mode Navia minta susu. Bawaannya nempel, bawel dan sebel.
Rahang Orion mengeras, "Jangan bohongi diri sendiri Nad. Kamu bisa capek sendiri."
"Gue gak lagi bohongin diri gue sendiri yang ada lo yang menutup mata dan telinga. Gue bahagia dengan kehidupan pernikahan gue jadi stop mikir kalau gue tersiksa. Gak benar tuh. Hoax." Jelas Nadia lelah. Ayolah, kenapa orang-orang disekitarnya sok tau semua. Dia bahagia, harus kah ia main kembang api agar orang-orang percaya dia sedang bahagia?!Haduh.
"Kamu bohong." Orion tak terima ucapan Nadia. Bisa saja Nadia berpura-pura bahagia karena dibawah ancaman senapan Gibran. Lelaki itu kan sangar.
Nadia menahan tangannya di udara, "Terserah ya Orion. Gue gak peduli lo mau percaya atau tidak tapi saran aja ya sebelum lo stres dan berakhir di rumah sakit jiwa karena terobsesi dengan gue, mending lo mundur. Terima kenyataan kalau gue bahagia. Jangan sampai lo kayak orang yang gue kenal. Obsesi berujung gila." Ujarnya bergidik ngeri.
Orion menatap Nadia sedih, "Lo yakin, lo bahagia?"
"Seratus persen. Tenang aja ntar gue letusin balon hijau kalau hati gue lagi kacau biar lo tau." Nadia melirik hpnya yang kembali bergetar. Si om yang tidak sabaran. Untung sayang bangat sama tuh om-om.
"Oke kalau gitu. Kalau ada apa-apa, kabarin gue. Gue akan selalu ada buat lo." Ujar Orion tulus.
Nadia mengangguk, "Thanks. Lo laki-laki yang baik, please jadi kayak dulu lagi meskipun galak dan nyebelin tapi itu lebih keren daripada jadi pelakor."
"Pebinor maksud kamu?"
Nadia menelengkan kepala tidak yakin, "Udah ganti ya?"
Orion terkekeh. Inilah salah satu alasan ia begitu menyukai gadis cantik di depannya ini, Nadia lucu dan menggemaskan meskipun tampilannya judes. "Pulang gih sebelum suami kamu datang kesini dan mecahin kepala gue."
Nadia mengangguk menyetujui, "Yah, akhir-akhir ini memang posesifnya agak mengkhawatirkan. Oke, then, gue cabut." Nadia melambaikan tangan meninggalkan Orion yang berdiri menatap punggungnya yang semakin menjauh.
"Gue harap kebahagiaan selalu ngiringin langkah lo, Nad walaupun bukan sama gue."
***
Tok tok tok.
"Masuk."
"Maaf, Pak. Di bawah ada Dokter Elsa."
"Dokter Elsa?" Gibran bangun sembari memijit kepalanya yang nyut-nyut, ia meletakkan hp yang sejak tadi mencoba menghubungi sang istri, "Sama siapa, Bik?"
"Sendiri, Pak. Ng itu pak--"
"Kenapa, Bik?" Tanya Girban melihat keraguan diwajah bibik.
"Dokter Elsa kelihatan kacau."
"Kacau?" Gibran menyibak selimut lalu turun dari ranjang, "Kacau bagaimana maksud bibik?" Ia mengikuti bibik keluar kamar menuju ruang tamu dimana Elsa menunggu.
"Bapak liat sendiri saja." Ujar Bibik berjalan dibelakang Gibran.
Laki-laki itu menapakkan kakinya disetiap anak tangga dengan hati-hati. Apa tujuan Elsa ke rumahnya? Kacau seperti apa yang bibik maksudkan?! Gibran terus kepikiran alasan Elsa mendatangi kediaman mereka. Bukannya dia sedang di rumah sakit ya?
Saat sampai di ruang tamu, Gibran melihat Elsa tengah duduk tak tenang di sofa rumah mereka. Mata Dokter muda itu langsung sayu saat melihat kehadirannya.
"Bang Giiii" Elsa berhambur hendak memeluk Gibran namun bibik yang sejak tadi mengikut dibelakang dengan sigap menghalau dokter muda itu.
"Maaf, Dokter. Bapak sedang tidak sehat." Ujar bibik sesopan mungkin. Ia melirik tuannya yang mengulas senyum terima kasih padanya.
"Maaf, Elsa hanya--" Elsa kelihatan bingung, tatapannya tidak tenang. Dokter muda itu benar-benar sedang sakit. Penampilannya juga berantakan masih mengenakan pakaian pasien seperti terakhir kali Gibran melihatnya. Hati Gibran cukup terenyuh melihat Dokter berbakat seperti Elsa berakhir seperti ini. Dulu Elsa adalah idaman para saudara seperjuangannya di militer. Elsa adalah gambaran sempurna sosok calon istri idaman para kaum berseragam loreng itu. Seorang dokter, pandai menjaga pergaulan dan putri tunggal dari petinggi di kesatuan. Tidak ada yang bisa menolaknya tapi sayang sekali satu-satunya laki-laki yang ia inginkan sampai membuatnya kacau seperti ini malah tak tertarik sama sekali. Hati memang punya caranya sendiri dalam mencari tambatannya.
"Silahkan duduk, Dok." Gibran mempersilahkan tamunya lalu membisik bibik untuk mengambilkan hpnya di kamar. Ia harus menelfon keluarga Elsa dan mengabarkan keberadaannya. Melihat dari kondisinya yang memprihatinkan, sudah jelas Elsa melarikan diri dari rumah sakit.
"Baaang, Mama jahat. Elsa tidak mau ke rumah sakit jiwa. Tolong Elsa bang. Elsa mau sama abang saja disini. Elsa gak gila." Elsa menangis tersedu-sedu. Wanita yang biasa berkerudung itu malah sekarang awut-awutan tak terurus. Gibran menghela nafas prihatin.
"Ini hpnya, pak." Bibik datang membawa hp majikannya.
"Makasih, Bik. Tolong buatkan minum."
"Baik, Pak."
Elsa langsung panik melihat Gibran hendak menelfon seseorang, "Abaaaang jangan telfon mama. Jangan baaang." Pintanya mengiba tapi Gibran tidak Memperdulikannya. Elsa tidak bisa dibiarkan berkeliran tidak jelas. Bahaya kalau sampai bertemu dengan orang jahat di luar sana. Terlalu banyak pelecehan pada wanita terlantar.
"Orangtua Dokter pasti khawatir." Ujar Gibran setelah mengabari orangtua dokter muda itu.
Elsa menggeleng, "Jangan bang. Elsa gak gila. Elsa gak gila baaaang." ia histeris membuat bibik dan mbak bergegas ke depan. Gibran yang melihat sikap agresif Elsa langsung menghampirinya dan menahan kedua tangannya.
"Ambil kain, Bik." Perintah Gibran mencekal kedua tangan Elsa yang terus memberontak.
"Bang Gibraaan, Elsa gak gilaaaaa." Elsa berteriak berusaha melepaskan diri namun kekuatan Gibran tentu bukan lawannya.
Bibik tergopoh membawa kain, "Ini, Pak."
"Elsa gak mauuuuu"
.
.
.
Terlalu banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini yang membuat Nadia sulit mencerna satu persatu drama yang menimpanya. Otaknya yang pas-pasan hampir korslet karena banyak hal tak terduga yang terjadi dalam hidupnya. Wati yang tersesat, Orion yang mendeklarasikan dirinya sebagai si sad boy, Lalita yang nyebelinnya gak sembuh-sembuh dan sekarang ia harus dihadapkan dengan pemandangan tak menyenangkan dimana suami kesayangannya sedang memeluk seorang wanita. Oh astagaaaa...
"Ada apa nih rame-rame?"
Semua orang dalam ruangan itu menyambut kehadirannya dengan ekspresi yang sama, kacau.
"Om?" Nadia meminta penjelasan saat tak seorang pun menjawabnya. Gio, Mama Elsa dan dua orang petugas berpakaian putih-putih tampak waspada, oh ya jangan lupakan ambulans yang terparkir di depan rumahnya.
"Els, pulang nak. Sama mama."
Antensi Nadia kembali tertaut pada sosok wanita yang tengah memeluk lengan suaminya, Elsa. Wanita itu tampak sangat kacau dan ketakutan tapi bukan berarti Nadia ikhlas suaminya disentuh-sentuh. Big No.
Gibran yang masih pucat tersenyum samar seolah mengatakan semuanya baik-baik saja. Tapi bagi Nadia yang super duper protektif pada Om Gibrannya tak berpikir demikian.
"Tante Els lepasin suami Nad deh. Nad gak suka." Nadia berujar santai tak peduli kondisi Elsa yang seharusnya menarik simpati semua orang.
"Bang Gibran." Elsa berujar lirih dengan mata berkaca-kaca.
Nadia menggeleng pelan. Kasian Elsa tapi kesal juga lama-lama.
"Dokter sebaiknya pulang. Sudah dijemput sama mama dokter." Bujuk Gibran. Hal itu sudah dilakukannya sejak tadi tapi selain obat bius, mungkin tak ada yang bisa melepas pegangan Elsa di lengannya.
"Elsa mau sama abang. Elsa gak mau pulang. Mama jahat, semua orang jahat." Elsa kembali menangis, meraung seperti orang tak normal.
"Sayang, mama gak jahat. Mama sayang sama Elsa. Pulang ya." Mama Elsa menangis melihat keadaan anaknya yang menyedihkan merasa bersalah karena abai dengan kejiwaan Elsa. Hanya karena ingin menjaga harga diri mereka sebagai orang terpandang, mereka mengabaikan kesehatan mental Elsa. Andai sejak awal ia dan suaminya memeriksakan Elsa pada psikiater mungkin kejadiaannya tak akan separah sekarang.
"Els, ayo sama aku. Aku akan menjaga kamu. Gak akan ada yang nyakitin kamu." Bujuk Gio yang sama terpukulnya melihat orang yang disayanginya dalam keadaan seperti itu.
"GAK! GAK MAU! ELSA CUMA MAU SAMA BANG GIBRAN!" teriak Elsa menatap tak suka Mamanya dan Gio.
"Pulang deh tan. Om Gi punya Nad, gak bisa sama tante." Ucap Nadia mendekati Elsa dengan kedua tangan terlipat angkuh di dada. Kalau dibujuk dengan lembut tak mempan, satu-satunya cara ya harus tega.
"Bang Giii" Elsa menatap Gibran dengan perasaan takut kehilangan tapi Gibran sama halnya dengan Nadia tak mau membiarkan Elsa larut dalam imajinasinya.
"Maaf Dok. Saya tidak bisa bersama dokter. Ini Nadia, istri saya." Jelas Gibran walaupun percuma saja menjelaskan pada seseorang yang sedang sakit.
"Gak. Bang Gi punya Elsa. Bukan dia." Tunjuk Elsa pada Nadia yang hanya menatap datar padanya.
"Maaf ya tan mengecewakan tante. Tapi saya istri Om Gi, udah punya baby juga."
"BUKAN! KAMU BOHONG! KAM--"
"Bawa ke mobil." Gio membantu dua petugas rumah sakit membawa Elsa yang sudah pingsan oleh obat bius yang diam-diam disuntikan saat berdebat dengan Nadia tadi.
Gibran menarik Nadia dalam rengkuhannya, mencium puncak kepala istrinya itu, "Thanks. Pintar bangat."
Nadia menyengir, "Kan istrinya kapten Gibran." ia sudah melihat obat bius itu disiapkan dan dengan inisiatifnya sendiri mengalihkan perhatian Elsa dari dua petugas dengan sengaja memancing Elsa untuk fokus padanya.
"Terima kasih Nak Gibran, Nak Nadia. Maaf merepotkan." Mama Elsa menyeka airmatanya dengan tissue yang di sodorkan oleh Nadia.
"Sama-sama tant. Semoga Tante Elsa lekas sehat dan bisa bareng-bareng kita lagi." Ujar Nadia tulus.
"Aamiin. Makasih sayang. Bantu doakan anak tante ya. Maaf kalau selama ini nyusahin Nak Nadia dan keluarga."
"Gak kok tan. Tante Elsa dasarnya orang baik, pasti banyak yang sayang dan doakan."
Mama Elsa menangis mendengar ucapan Nadia. Elsa memang putri kebanggannya, putrinya yang cerdas dan baik. Ini semua salahnya karena terlalu memanjakannya dan jarang memiliki waktu bersama putrinya.
"Sabar ya Tante." Nadia memeluk mama Elsa, memberikan dukungan dan semangat untuk wanita paruh baya itu. Dibelakangnya Gibran menatap keduanya dengan rasa lega juga bangga akan kedewasaan Nadia.
"Kami pamit. Nanti jenguk Elsa ya Nak." Mama Elsa mencium pipi Nadia, mengusapnya dengan lembut.
"Pasti Tan. Iya kan Om?" Nadia meminta persetujuan pada sang suami yang langsung menganggukinya.
"Terima kasih."
"Sama-sama, Tan."
Mama Elsa kemudian pamit diantar oleh Nadia dan Gibran di depan rumah.
"Jaga tante Elsa ya Om." Teriak Nadia pada Gio yang menjawabnya dengan anggukan. Mereka kemudian berpamitan meninggalkan kediaman Gibran dan Nadia.
"Kasian ya Om." Nadia menatap kepergian mobil ambulans itu dengan perasaan sedih. Bagaimanapun Elsa tetaplah sosok yang pernah baik padanya. Hanya karena jiwanya sakit saja makanya sedikit menyebalkan.
"Doakan saja semoga semuanya lekas membaik." Ujar Gibran. Sama halnya dengan Nadia, Elsa pun dimatanya adalah sosok dokter yang luar biasa terlepas dari apa yang terjadi belakangan ini.
"Saking cintanya tuh sama Om makanya gitu."
"Gitu gimana?" Gibran merangkul Nadia menghirup wangi lembut istrinya yang cukup ampuh meringankan sakit kepalanya.
"Ya gitu jadi pasien."
"Saya juga jadi pasien gara-gara kamu."
Nadia yang tadinya menatap jauh kepergian ambulans itu mendongak, "Hm?" keningnya mengerut.
Gibran mengambil salah satu tangan Nadia dan meletakkan telapak tangan Nadia dipipinya, "Saya masih sakit. Butuh di obati."
"Emang bibi gak ngasi obat?" Nadia memeriksa suhu badan Gibran, "Tapi udah gak panas kok."
"Gak. Saya masih sakit. Cuma kamu yang bisa obati." Ujar Gibran kembali menarik Nadia dalam pelukannya.
"Nad gak bawa-bawa obat kok." Nadia menjawab bingung membuat Gibran kesal sekaligus gemas. Umur memang sulit untuk berbohong. Otak polos Nadia kadang menyebalkan disaat-saat genting seperti ini.
"Ada" Gibran merenggangkan pelukannya tanpa benar-benar melepas. Ia menatap bibir Nadia lalu turun kebawah. Senyum liciknya langsung terbit. Nadia yang menyadari arti tatapan itu langsung menyilangkan tangan di dada.
"OM-OM MESUUUUUUM!"
***
Readeeerr maaf lamaaaaaa... Author udah mulai aktif kerja, bukan lagi WFH jadi agak ribet membagi waktu. Ini udah mau tamat kok jadi pasti diselesaiin.
Selamat membaca.
Nadia pusiiiiing.
Author: Siapa nih?
Navia : Itu, Pia di masa depan tante thooor.