Little Persit

Little Persit
Masa Tenang



"Ah brengsek bangat tuh orang. Ada masalah hidup apa sih sama gue? Perasaan ada aja manusia laknat di hidup gue. Dosa gue banyak bangat emang sampe dikenalin manusia-manusia modelan sampah gitu?" Nadia mendumel sampai asap mengepul di ubun-ubunnya. Gila saja orang modelan Wati ternyata menyimpan bangkai di hatinya. Tapi apa salah gue? Nadia mengusap wajahnya kasar. Seumur-umur ini kali pertama ia merasa dikhianati oleh orang yang hampir disebutnya teman. Kafe yang tak jauh dari kampusnya menjadi pilihannya untuk mendinginkan kepala. Nadia mengusap sudut matanya yang basah. "Nadia b*go.Jangan nangis dong. Cengeng bangat sih." Ia mengomeli dirinya yang cepat sekali melow. Nadia memang mendengar percakapan Orion dan Wati saat ia sakit di tenda tapi dirinya tak pernah berpikir akan berlanjut lama. Ia hampir memaafkan wanita itu dan menganggap ucapan Wati hanya sebagai bentuk ketidaktahuannya tapi makin kesini malah kelakuannya makin menjadi. Nadia yakin Wati benar-benar pelakunya karena jika itu Lalita, seniornya itu tak akan repot-repot menyebar rumor keji mengenai dirinya dan Gibran mengingat dia sudah pernah merasakan ribetnya berurusan dengan Gaudia Grup belum lagi Lalita tipe orang yang tidak bisa berpura-pura. Ia tidak akan menutupi ketidaksukaannya pada siapapun.


"Pesanannya, kak."


Nadia mengangguk mengambil dua cup es krim yang dibawa oleh pelayan. Ia butuh yang dingin-dingin untuk mendinginkan kepalanya plus yang manis-manis untuk memperbaiki moodnya.


"Eh, bu Gibran. Santai sekali sepertinya."


Nadia yang baru akan menyendok es krimnya mendongak dan mendapati istri salah satu rekan Gibran yang juga pemegang salah satu jabatan di kantor istri tentara berdiri angkuh di depannya. Tatapannya sama sekali tak ramah meski bibirnya menyunggingkan senyum.


"Selamat siang, Bu." Sapa Nadia berdiri menyalami sesama Garini itu.


"Siang." Balasnya menjabat tangan Nadia dengan enggan, "Pantas sering bolos kegiatan ternyata sangat sibuk. Sibuk ngafe." ujarnya sinis.


Nadia memaksakan senyumnya. Ibu di depannya ini salah satu spesies yang hidupnya penuh drama. Dengar-dengar ia memiliki dendam sendiri pada Gibran karena Gibran melaporkan kasus penyelewengan gaji prajurit yang diamanahkan pada suaminya.


"Iya, Bu. Sibuk bangat, gak sempat nyidak kehidupan orang lain." Nadia berucap sembari tertawa garing. Wajah Ibu itu seketika keruh.


"Ibu nyindir saya?"


"Mana berani, Bu." Nadia merendahkan suaranya.


Ibu itu mendengus lalu dengan sendirinya meninggalkan Nadia keluar dari cafe.


"Gak bisa bangat ngasi gue ketenangan." Dumel Nadia selepas Ibu itu pergi. Ia menyendok es krimnya lalu makan dengan lahap. Sebal sekali, tidak habis orang-orang menyebalkan di dunianya. Wati si munafik, ibu-ibu kepo tak tertolong, belum lagi tante-tante pencinta Omnya.


Hah, dunia. Akan selalu ada orang-orang yang mengusik hati dengan sesuatu yang tidak baik tapi tak apa, kunci utama ada pada diri sendiri, ikut larut mengotori hati atau memilih untuk berdamai. Dan Nadia selalu memiliki pilihan sendiri, menjauh dari drama.


***


"Are you ok??


"Totally ok." Nadia tersenyum lebar melalui pantulan cermin menatap mata Gibran tepat. Nadia mematut diri memastikan tak ada teguran terkait kostumnya. Baju dan rok lavender, rambut disanggul sederhana dan tak ada barang mewah yang melekat di badannya. Semua barang branded akan selalu dimuseumkan setiap kali ikut kegiatan istri-istri tentara karena bermewah-mewahan tak diizinkan disana. Semua sama rata membawa nama baik sebagai istri seorang prajurit.


"Nad selalu punya tempat untuk berbagi." Ujar Gibran, mengingatkan sang istri bahwa ia kapanpun siap menjadi tong sampah gadis kecilnya itu.


"Thank you, Om." Nadia berbalik lalu memeluk Gibran erat. Tak masalah semua orang diluar sana menjadi buruk atau melihatnya buruk, ia punya Gibran yang akan selalu menjadi guardian angel-nya, yang akan selalu menjadikannya little girl-nya.


"Kalau tidak sehat, tidak usah pergi. Saya akan sampaikan sama istri Komandan." Gibran mengecup rambut Nadia lembut. Hari ini saat ia menjemput gadis kesayangannya itu di kafe dekat kampus, Nadia tampak tak seceria biasanya. Matanya sembab dan makin meyakinkannya bahwa gadis manisnya ini sedang dalam mood jelek kala melihat lima cup es krim dengan berbagai rasa diatas mejanya.


"Gak apa-apa. Nad ok kok." Ujar Nadia melepas pelukan Gibran berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Wati tidak boleh mengusik hari-hari bahagianya. Terserahlah ia mau berbuat apa atau mau jadi orang jahat sekalipun Nadia sudah memutuskan untuk tidak peduli, tidak ada ruginya sama sekali. Malahan bagus untuknya bisa mengetahui buruknya Wati sebelum benar-benar masuk dalam hidupnya. Betapa bersyukurnya ia memiliki the girls, meskipun terkenal dengan image bad girl, biang rusuh di nusantara tapi mereka tidak memelihara penyakit hati di diri mereka.


"Kembaran sama Pia." Gibran mengeluarkan jepit rambut berbentuk kupu-kupu dari dalam sakunya yang sontak membuat Nadia berseru senang.


"Woaaaah cantik bangat, Om. Ini buat Nad?"


"Iya. Suka?"


Nadia memegang jepit rambut kupu-kupu itu sembari mengangguk semangat, "Bangat. Kok kepikiran sih?! Lucu bangat. Makasih ya sayang."


"Sama-sama. Sini saya pakein." Gibran mengambil lagi jepit rambut itu dan memasangnya di sanggul Nadia. Senyum kecilnya tersungging melihat jepitan kupu-kupu itu tampak cantik menghiasi rambut hitam lebat sang istri, "Cantik." Pujinya.


"Makasih." Nadia melihat pantulan dirinya di cermin, jepitan itu menambah manis penampilannya sore ini.


"Jangan sedih lagi."


"Gak. Nad gak pantas sedih dengan semua kebahagiaan yang Nad dapat." Ucapnya sekali lagi memeluk sang suami. Gibran membalas pelukan itu penuh kehangatan. Pribadi orang memang terkadang begitu rumit untuk dipahami. Tak sepenuhnya bisa memahami meskipun itu orang terdekat tapi Gibran tak mau berpikir banyak, ia cukup menyediakan bahu yang kokoh untuk Nadia bersandar dan memberikan pelukan yang menenangkan untuk tempatnya pulang serta menjadi pendengar yang baik saat Nadia butuh di dengarkan. Hal-hal sederhana itulah yang jarang seorang pasangan miliki dan Gibran diantara golongan orang-orang yang ingin menyediakan ketiganya itu baik untuk Nadia maupun Navia.


***


"Bro, gimana dengan Diklatnya?Ikut kan lo?Jarang sekali orang mendapatkan kesempatan emas ini. Jabatan tinggi menunggu." Dewa sore itu sengaja berlama-lama di kantor guna menemani Gibran menunggu istrinya tercinta sekaligus bermain bersama Pia yang juga ikut menemani ibunya kegiatan.


Gibran yang tengah memperhatikan Nadia dari kejauhan berdecak pelan. Ia belum membicarakannya dengan Nadia dan melihat kondisinya sekarang, berbicara mengenai hal ini bukanlah pilihan yang tepat.


"Nadia pasti ngizinin. Dia suporter utama lo, inget. Iya kan Pia?" Dewa menoel pipi gembul Navia membuat si bayi menggerutu, persis Nadia kalau sudah berhadapan dengan Gibran.


Itulah masalahnya, Nadia pasti mengizinkannya. Perhatian Gibran teralihkan pada Pia yang mengomel ala bayi dalam gendongan Dewa.


"Masih saya pikirkan."


"Jangan kelamaan mikir. Banyak orang yang nungguin lo mundur."


Gibran menghela nafas pendek. Entahlah, rasanya berat meninggalkan Nadia dan Pia untuk waktu yang lama. Satu tahun bukanlah waktu yang singkat terlebih Navia butuh sosok Ayah selama proses tumbuh kembangnya. Meskipun kesempatan ini sudah sejak lama ia tunggu-tunggu tapi ia pasti sangat egois jika mementingkan karir daripada keluarga.


"Bicarakan dengan istri lo. Gue yakin, istri lo cukup bijak untuk lo ajak diskusi."


Tentu saja. Gibran membenarkan dalam hati. Saking bijaknya, Nadia terkadang melupakan dirinya sendiri saat mengambil keputusan.


"Iya." Gibran menyandarkan punggung sembari kembali mengawasi sang istri dari jauh. Nadia tampak mulai bisa berbaur dengan ibu-ibu lain meskipun terkadang masih kelihatan salah tingkah. Bisa dimaklumi dengan umurnya yang begitu muda harus sudah memposisikan diri menjadi seorang panutan dalam kelompoknya. Senyum kecil Gibran tersinggung kala melihat sang istri merapikan jepit rambutnya sembunyi-sembunyi.


"Jangan diliatin mulu. Gak bakalan lari tu anak."


Gibran memincing tajam. Dewa yang menyadari kesalahannya berdecak pelan, "Maksud gue, istri lo gak bakal lari." ralatnya. Salah menyebut gelar Nadia saja bisa mengakhiri karirnya dimiliter. Ckckck buciiiin oh buciiiiin.


Sementara di tempat pertemuan Nadia di dapuk sebagai ketua divisi perencanaan kegiatan. Meskipun masih muda namun statusnya sebagai istri kapten Gibran mengharuskan ia memposisikan diri sebagai istri atasan. Tidak sulit sebenarnya hanya saja selalu ada orang-orang yang sulit diatur karena menganggap Nadia terlalu dini untuk jabatan ketua.


"Ibu-ibu, setelah ini kita ke studio untuk foto bersama. Masing-masing divisi menyiapkan anggotanya." Ujar Ibu Komandan yang langsung membuat bahu Nadia merosot. Rencananya setelah acara ini selesai ia, Gibran dan Navia akan jalan-jalan menikmati waktu bertiga tapi karena ada sesi foto-foto, mau tidak mau harus di undur dan kemungkinan besar gagal total.


"Bu Gibran bisa kan?"


"Baiklah ibu-ibu, sampai bertemu di studio. Jangan ada yang terlambat." Ujar Ibu komandan sebelum meninggalkan Aula.


Nadia segera mengarahkan anggotanya untuk bersiap-siapa.


"Ibu-ibu, kalau ada yang tidak punya kendaraan bisa ikut dengan saya."


"Sama kapten Gibran bu?" Tanya salah satu ibu antusias.


Nadia mengangguk, "Iya, sama suami saya."


Keriuhan tiba-tiba menggema. Beberapa saling berbisik dan berseru heboh akan ajakan Nadia itu. Kapan lagi bisa disopiri si Kapten kece badai idaman para ibu-ibu kan.


"Tidak apa-apa, Bu? Kapten tidak keberatan?" Tanya mereka lagi masih belum yakin. Meskipun sangat bersemangat tetap saja kenyamanan Gibran dan keluarga perlu di perhatikan.


"Tidak masalah, Bu." Jawab Nadia tersenyum kecil. Lagian Gibran tidak segalak yang orang pikirkan. Sekaku apapun sikapnya, ia tetap menghargai orang lain. "Jadi gimana? Ibu-ibu ada yang mau ikut?" tawar Nadia sekali lagi sambil melirik jam tangannya.


Ibu-ibu itu saling melirik dan memberi koda. Salah satu yang paling bersemangat kemudian berkata, "Gak usah aja deh, Bu. Makasih. Kami diantar suami masing-masing saja."


"Loh kenapa? Gak masalah kok. Seriusan."


"Terima kasih, Bu. Tapi beneran kami diantar suami aja biar Pak Gibran ada temannya di studio foto. Kasian kalau nunggunya sendiri. Iya kan ibu-ibu?" Ibu itu mencari dukungan teman-temannya.


"Iya." Jawab mereka serempak.


Nadia mengangguk maklum. Ya sudahlah tidak mungkin juga memaksakan orang. Padahal sebenarnya kalau alasannya agar Gibran punya teman di studio kurang kuat karena sendiripun suaminya itu tak masalah. Ia sudah terlatih menemani sang istri seharian di salon.


"Baiklah. Kalau gitu saya ke suami saya ya Ibu-ibu. Sampai ketemu di studio." Ujar Nadia lalu meninggalkan ibu-ibu anggotanya yang juga menyebar mencari suami masing-masing.


Nadia berjalan dengan bahu meluruh menuju anak dan suaminya berada. Ia menarik nafas berkali-kali dan menghembuskannya mencoba meringankan bete yang tengah ia rasakan.


"Muka lo kusut amat, Dek." Sambut Dewa yang langsung mendapat tendakan di tulang keringnya dari Gibran. "Sakit gila."


Gibran mendelik tajam, mengancam dengan tatapannya yang hanya dibalas dengusan mencemooh oleh Dewa. Pasangan bucin tak tertolong.


"Masa depan Om tuh yang kusut. Kasian, gak dapat jatah." Ledek Nadia yang membuat Dewa keki setengah mamp*s. Mau gimana lagi, Tuyulnya tidak punya rahasia dengan para kembar siamnya, urusan ranjangpun jadi konsumsi grup. Sedih amat nasib lo, Wa. Dewa meringis.


"Istri lo tuh, Gi." Adu Dewa nelangsa yang bukannya dapat simpatik dari Gibran malah menambah perih dengan tatapan jijik yang dilayangkan si manusia kaku disampingnya itu.


"Pia kok tumben mau sama Om Dewa. Gak jijik Dek?"


"Kampr*t si bocah, lo kira gue kudisan apa. Wangi gini ya nggak cantiknya Om, hm?" Dewa mengecup pipi Pia berkali-kali.


"Iiih Om! Bukan muhrim!" Pekik Nadia mengambil alih bayinya.


"Alah, lo juga masih bayi di cebokin Gibran kok."


"Bodo." Nadia membawa Navia jauh dari Dewa sembari memelet pada suami sahabatnya itu.


"Gimana? Langsung jalan?" Gibran yang menyimak kelakuan ajaib dua orang dewasa itu akhirnya bersuara.


"Gak bisa Om. Diajak foto sama Bu Komandan." Jawab Nadia sedih. Ia duduk di bangku kosong yang tersedia.


"Foto apaan?" Dewa menyahuti.


"Gak tau. Foto angkatan kalik." Jawab Nadia sekenanya. Yah kalau zaman sekolah pasti foto angkatan atau foto kelas.


"Jadi kita kesana?" Tanya Gibran sambil merapikan anak rambut Nadia.


"Iya. Gak apa-apa kan?"


Gibran mengangguk, tangannya kini berpindah mengusap-usap rambut sang istri. Dewa yang jadi penonton mengenaskan hanya bisa meratapi nasibnya. Di rumah Gendis masih belum jinak, di sentuh ujung kukunya saja langsung teriak. Yah itu juga semua salahnya karena sudah menakuti tuyul kecilnya itu.


"Bro"


"Hm??"


"Bagi reseplah."


Gibran mengernyit, "Resep?"


Dewa mengangguk, "Gimana caranya sampe istri lo gak histeris waktu ngeliat basoka lo."


Kerutan di dahi Gibran makin bertambah, "Basoka?"


Dewa mengangguk. Ia mendekat lebih rapat agar tidak di dengar Nadia yang tengah asik mengajak bayi gembulnya menghibah.


"Belalai lo. Ah elah, gitu aja gak paham." Dewa mulai kesal saat Gibran tidak juga memahami maksudnya, "OT*NG LO KAMPR--AARGGHHH." Dewa terjungkal diatas tanah setelah Gibran mendorongnya keras. Wajah kaku itu berubah semerah tomat. Bisa-bisanya Dewa membahas hal vulgar di tempat umum saat ada Nadia pula disampingnya


"Kampr*t, lo ngapain ngedorong gue?! Anjir sakit gilak!" Dewa meringis, tendangan Gibran meskipun tak sekencang saat latihan di lapangan tetap saja cukup sedap di badan.


"Ayo jalan." Gibran merangkul bahu Nadia mengajaknya pergi tak menghiraukan Dewa yang mengumpatinya dengan berbagai nama penghuni ragunan.


"Itu Om Dewa--?" Nadia menatap Dewa kasihan. Lelaki bermulut cerewet itu mengusap pantatnya yang baru saja menyalami tanah air.


"Jangan pedulikan." Ujar Dewa menggiring Nadia dan Navia pergi meninggalkan Dewa yang hanya bisa merutuki nasibnya. Ah Gibran kampret!


***